Buka Peluang Bangun Pabrik Pesawat
CN235 MPA TNI AL hasil produksi PTDI, merupakan pesawat terbesar yang telah diproduksi. (Prime Kurniawan)
Produsen pesawat terbesar di Eropa, Airbus, menyatakan minatnya untuk ikut meningkatkan ekosistem industri dirgantara dan dalam jangka panjang memiliki pabrik di Indonesia. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pesawat domestik selama 20 tahun ke depan.
Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, menjelaskan selama ini Airbus hanya memiliki empat pabrik pesawat di Eropa, yakni di Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Di luar itu, produsen pesawat tersebut juga berencana membangun pabrik di kawasan Asia, yakni di China dan India.
"Airbus kan selama ini ekspor, jadi dia punya perusahaan itu sekarang ada di 4 yang besar tadi ada Spanyol, Prancis, Jerman, dan juga Inggris. Dia sudah mulai 2 tahun lalu, dia mulai mengembangkan juga, dibikin pabriknya nih, India sama China," kata Vivi usai acara penandatanganan JDI dengan Airbus di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Di sisi lain, pemerintah memperkirakan tingkat perjalanan udara masyarakat Indonesia saat ini berada di kisaran 0,4 perjalanan per kapita per tahun. Namun angka ini diproyeksikan meningkat signifikan menjadi 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam dua dekade.
Sejalan dengan hal itu, trafik penumpang udara diperkirakan tumbuh rata-rata 7,4% per tahun dan akan mencapai sekitar 477 juta penumpang. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,6%.
Berdasarkan proyeksi tersebut, kebutuhan pesawat Indonesia diperkirakan naik tiga kali lipat, dari sekitar 550 unit armada aktif saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada 2045.
"Nah karena kita juga secara domestik tadi ada hitung-hitungannya growing ya kebutuhan pesawat kita, dia juga ingin buat pabrik di Indonesia," ujarnya.
Meski begitu, menurutnya cita-cita Airbus untuk membangun pabrik di Indonesia masih memerlukan waktu panjang. Sebab, untuk memiliki pusat produksi pesawat sendiri, tidak hanya dibutuhkan investasi dan pembangunan fisik, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia serta teknologi produksi.
Atas dasar itulah Airbus sepakat untuk terlebih dahulu ikut mengembangkan industri dirgantara di Indonesia, mencakup pengembangan sumber daya manusia, sistem perawatan dan pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO), serta peningkatan kapasitas industri.
"Tentunya buat pabrik itu kan tidak cuma sekadar investasi bangun pabriknya, tapi kita perlu SDM-nya, perlu memperkuat komponennya, kemudian juga standarisasi gitu ya. Nah itu yang akan dikerjakan atau mendukung Indonesia untuk membangun ekosistem industri kedirgantaraan," jelas Vivi.
Melalui penguatan industri kedirgantaraan ini, Vivi berharap dalam 20 tahun ke depan Indonesia sudah siap untuk memiliki pabrik pesawat sendiri, atau setidaknya menjadi bagian penting dari rantai pasok komponen pesawat dunia, termasuk untuk Airbus.
"Ya mudah-mudahan 20 tahun ke depan kita sudah jadi bagian dari global value chain," ucapnya.
Sementara itu, Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley mengatakan kerja sama produksi komponen pesawat dengan Indonesia telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun sejak 1976. Saat ini, Indonesia sudah menjadi bagian dari rantai pasok komponen pesawat A320, A330, A350, dan H225.
"Komponen A320, A330, A350, H225 diekspor dari Indonesia. Anda juga telah membantu kami dalam mendukung pembangunan kapital manusia selama 50 tahun. Lebih dari itu, kami juga mendukung pembangunan kapital manusia, mulai dari pilot, engineer, hingga teknisi. Salah satu bagian besar dari perkembangan yang Airbus percaya adalah di daerah MRO," ujarnya.
Bersamaan dengan itu, Stanley kembali membagikan perhitungan terkait kebutuhan pesawat di Indonesia selama 20 tahun ke depan hingga 2045. Menurutnya, proyeksi ini menjadi peluang bagi Airbus dan pemerintah untuk mengembangkan industri pesawat di Tanah Air.
Untuk itu, perusahaan setuju membangun kerja sama strategis dengan pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas untuk ikut mengembangkan ekosistem dirgantara di Indonesia.
Airbus ingin Indonesia memperkuat industri dirgantara, termasuk pengembangan SDM dan teknisi pemeliharaan pesawat. Dengan begitu, perusahaan dapat meningkatkan lini produksinya di Indonesia.
"Kami, sebagai Airbus, di masa lalu telah menerapkan peta jalan seperti ini dalam 20-30 tahun terakhir di negara-negara seperti China dan India. Namun sekaranglah saatnya bagi kami untuk sepenuhnya memulai perjalanan ini dengan Indonesia," ucapnya.
"Visi kami adalah untuk menjadi warga negara Indonesia dalam 20 tahun ke depan, di mana kami dapat memiliki satu proposisi penerbangan Airbus di seluruh ekosistem, dan mampu mencakup tidak hanya pesawat komersial, tidak hanya pesawat militer, tidak hanya helikopter sipil, tidak hanya helikopter militer, dan tidak hanya satelit, tetapi juga sumber daya manusia dan ekosistem rantai pasok," jelas Stanley.
Simbol Kepercayaan Diri RI
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama delegasi terbatas tiba di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN. (Instagram/sekretariat.kabinet)
Presiden Prabowo Subianto tiba di The Mactan Cebu International Airport Authority (MCIAA) General Aviation (Gen-AV) Terminal, Cebu, Filipina, pada Kamis, (7/5/2026) pukul 13.45 waktu setempat (WS). Kehadiran Presiden Prabowo guna menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN yang berlangsung pada 7-8 Mei 2026.
Presiden memboyong mobil dinas kenegaraan dalam kunjungan luar negeri ini.
"Selama berada di Filipina, Bapak Presiden akan menggunakan kendaraan yang dikenal sebagai kendaraan taktis ringan yang tangguh ini," tulis Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan resmi.
Untuk pertama kalinya dalam kunjungan luar negeri, Kepala Negara dijemput menggunakan 'Maung', kendaraan taktis ringan hasil pengembangan industri pertahanan nasional Indonesia.
Menurut Teddy, kendaraan taktis tersebut dikenal tangguh dan telah digunakan dalam berbagai operasi serta kebutuhan nasional. Penggunaan Maung dalam agenda internasional Presiden ini sekaligus menunjukkan kemajuan industri pertahanan dalam negeri yang terus berkembang.
"Maung telah dikembangkan sejak Bapak Prabowo menjadi Menteri Pertahanan dan saat ini produksinya di Pindad telah mencapai 3.200 unit, dan telah digunakan dalam berbagai operasi dan kebutuhan dalam negeri. Presiden Prabowo pun telah menggunakan Maung, sejak dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024 lalu," katanya.
Teddy menyampaikan bahwa penggunaan Maung pada KTT ASEAN ke-48 tidak sekadar sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol kemandirian bangsa, kepercayaan diri nasional, dan kemajuan teknologi industri Indonesia.
"Penggunaan Maung di forum internasional ini bukan sekadar alat transportasi, tetapi sebagai simbol kemandirian, kepercayaan diri bangsa, dan kemajuan industri nasional Indonesia. Maung menjadi sebuah simbol diplomasi," tuturnya.
Diketahui, setibanya di Cebu, presiden disambut oleh Penasihat Keamanan Nasional Republik Filipina Eduardo Oban. Di bawah tangga pesawat, Presiden Prabowo juga menerima penyambutan kehormatan berupa jajar pasukan kehormatan dan penampilan tari-tarian tradisional Filipina. Selain itu, Presiden juga turut menerima buket bunga dari pihak tuan rumah. (hoi/hoi)
🛩 🤝 Dengan opsi tambahan menjadi 48 unit
Penandatangan kesepakatan pengadaan UCAV Kizilelma (Baykar)
Dari Expo Saha 2026: Indonesia Dikabarkan Membeli Drone Tempur Bayraktar Kizilelma Turki.
Diberitakan penandatangan kontrak pembelian Drone Tempur Bayraktar Kizilelma telah diteken di SAHA Expo 2026, Istanbul, Rabu (6/5/2026) hari ini waktu setempat.
Indonesia telah mengambil langkah besar dalam modernisasi alutsista udara melalui kerja sama dengan Turki.
Berikut adalah poin-poin penting terkait kerja sama Defenceturk (terkait industri pertahanan Turki) dan Indonesia, terutama mengenai pesawat tanpa awak (drone) Kizilelma:.
Baykar (produsen Turki) dan PT Republikorp (Indonesia) telah menandatangani kesepakatan untuk pengadaan 12 drone tempur Bayraktar Kizilelma.
Indonesia menyepakati pembelian 12 unit Bayraktar Kizilelma, dengan pengiriman direncanakan mulai tahun 2028.
Kontrak tersebut juga mencakup opsi tambahan sebanyak 48 unit Kizilelma.
Kizilelma adalah pesawat tempur nirawak (UCAV) jet pertama dari Turki yang dirancang dengan kemampuan stealth (jejak radar rendah), kecepatan tinggi, dan kemampuan manuver agresif.
🛩 Garuda Militer
KRI terbaru hasil produksi lokal
KRI Canopus 936 tiba di Indonesia disambut KRI Bung Tomo 357 (Dispenal)
Kapal perang terbaru milik TNI AL, KRI Canopus-936, resmi memasuki wilayah perairan Indonesia pada Selasa (6/5).
Kedatangan kapal Bantu hidro-oseanografi jenis ocean going atau penjelajah samudera tercanggih ini mendapat sambutan khusus melalui sinergi unsur laut dan udara di Selat Sunda.
Pesawat udara Casa 212-200 MPA P-8202 dari Wing Udara 1 melakukan flypast atau terbang rendah sebagai bentuk penghormatan saat kapal buatan Jerman tersebut melintasi batas laut kedaulatan nasional. Mayor Laut (P) Musmuliadi yang mengawaki pesawat tersebut juga melaksanakan komunikasi radio dan pengambilan foto udara (photo exercise) di atas dek kapal sepanjang 105 meter itu.
Sebelum menyentuh perairan nusantara, kapal hasil kolaborasi galangan Abeking & Rasmussen Jerman dengan PT Palindo Marine Batam ini telah menempuh misi panjang lintas benua sejak Maret 2026.
KRI Canopus-936 tercatat sukses menaklukkan ganasnya Samudra Atlantik Selatan sebelum menuntaskan etape terakhir di Mauritius pada akhir April lalu. Dalam pelayaran sejauh ribuan mil laut tersebut, seluruh sistem robotik dan perangkat riset bawah laut tetap berfungsi presisi.
Pesawat Casa 212-200 MPA P-8202 melakukan terbang rendah (flypast) sebagai penghormatan atas kedatangan KRI Canopus-936 di wilayah yurisdiksi Indonesia. (Dok. Wing Udara 1 Puspenerbal)
Komandan Wing Udara 1 Kolonel Laut (P) Dani Widjanarka, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas keterlibatan awak pesawat dalam penyambutan alutsista maritim tersebut. Beliau menekankan pentingnya profesionalisme prajurit dalam mendukung kehadiran armada riset masa depan Indonesia.
“Terima kasih atas pelaksanaan giat tersebut. Tetap perhatikan keselamatan terbang selama di daerah operasi,” tegas Dani mengapresiasi kinerja kru pesawat P-8202, dikutip dari keterangan Puspenerbal.
Kapal yang diawaki oleh 93 prajurit pilihan ini membawa teknologi mutakhir berupa kendaraan bawah air otomatis (Autonomous Underwater Vehicle) dan kendaraan bawah air kendali jarak jauh (Remotely Operated Vehicle) yang mampu memetakan dasar samudra hingga kedalaman 11.000 meter.
Kehadiran KRI Canopus-936 kini memperkuat tugas Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) dalam memetakan kekayaan bawah laut serta menjaga kedaulatan maritim nasional dengan akurasi data yang lebih tajam. (at)
✈
Jet tempur Chengdu J-10CE (Pakistan AF))
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memberikan klarifikasi resmi terkait kabar yang beredar mengenai rencana pembelian 42 unit jet tempur J-10 buatan China.
Pihak Kemhan memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar dan hingga saat ini belum ada kontrak maupun kesepakatan resmi terkait pengadaan alutsista tersebut.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Rico Ricardo Sirait, menegaskan hal itu saat dikonfirmasi.
"Isu tersebut tidak benar. Hingga saat ini tidak ada kesepakatan sebagaimana yang beredar," ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Muncul dari Unggahan Media Sosial
Isu ini mencuat setelah sebuah akun media sosial X bernama China Pulse mengunggah klaim bahwa Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian jet tempur tersebut.
Dalam unggahan itu disebutkan nilai kontrak mencapai 65 miliar Yuan atau sekitar USD 9 miliar untuk pengadaan 42 unit pesawat tempur J-10.
Namun, kabar serupa sebenarnya pernah muncul sebelumnya.
Pada pertengahan 2025, beredar rumor bahwa TNI Angkatan Udara telah memberikan persetujuan awal untuk mendatangkan jet J-10 guna memperkuat armada udara, termasuk mendampingi pesawat tempur Rafale asal Prancis.
Saat itu, Wakil Menteri Pertahanan RI, Donny Ermawan Taufanto, menegaskan bahwa pemerintah belum mengambil langkah ke arah pembelian tersebut.
Pertimbangan Ketat dalam Pengadaan Alutsista
Donny menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sejumlah kriteria ketat dalam menentukan pembelian pesawat tempur.
Selain mempertimbangkan kemampuan jarak tempuh dan daya angkut persenjataan, aspek integrasi dengan sistem pertahanan yang sudah ada menjadi faktor utama.
Hal serupa juga disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), M Tonny Harjono.
Ia menegaskan bahwa proses pengadaan alutsista tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan panjang yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Dewan Penentu Alutsista (Wantuwada).
"Penentuan pembelian alutsista perlu memerlukan proses matang dan waktu panjang yang juga melibatkan Dewan Penentu Alutsista atau Wantuwada," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keputusan pengadaan juga sangat bergantung pada dinamika lingkungan strategis kawasan serta kebijakan pertahanan nasional yang ditetapkan pemerintah.
🚀 Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida
Rudal Yildirimhan (Republika)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Nasional Turki meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Yildirimhan di Pameran Pertahanan dan Dirgantara Internasional SAHA 2026, Istanbul, Selasa (5/5/2026). Hal itu menandai pengenalan publik salah satu sistem rudal jarak jauh tercanggih di Turki.
Rudal antarbenua tersebut mampu mencapai kecepatan Mach 25 dan memiliki jangkauan yang dilaporkan sejauh 6.000 kilometer (km). Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh empat mesin propulsi roket.
Perusahaan pertahanan Turki dan lembaga publik memamerkan platform dan teknologi yang baru dikembangkan di pameran yang berlangsung pada 5-9 Mei 2026 itu. Dilaporkan Anadolu, peluncuran rudal terjadi ketika Turki terus memperluas kemampuan industri pertahanannya, termasuk drone, teknologi rudal, pertahanan udara, penerbangan, dan platform terkait ruang angkasa.
Produk baru
Beberapa teknologi Turki dipamerkan untuk pertama kalinya di SAHA 2026. Munisi keliling cerdas Mizrak produksi Baykar yang dikembangkan secara nasional dan orisinal, dengan jangkauan lebih dari 1.000 km dan kemampuan otonom berbasis AI, diluncurkan di pameran itu. UAV Kamikaze K2 dan munisi keliling Sivrisinek milik Baykar juga akan dipamerkan untuk pertama kalinya.
Aselsan juga memperkenalkan lima produk baru dan versi terbaru dari enam produk kepada ekosistem pertahanan global, termasuk kemampuan serangan baru untuk Blue Homeland Turkiye. Teknologi itu akan menambah kemampuan baru pada sistem pertahanan udara Steel Dome, serta sistem-sistem baru yang akan menjadi pengubah permainan dalam serangan udara.
Platform Sistem Senjata Energi Terarah Alka-Kaplan Hybrid, yang dikembangkan atas kerja sama Roketsan dan FNSS dan dikenal sebagai senjata laser, turut dipresentasikan di SAHA 2026 dengan kemampuan tambahan. STM memamerkan sistem udara dan angkatan lautnya yang dikembangkan untuk kebutuhan medan perang modern.
STM membawa UAV kamikaze jarak jauh, versi baru UAV kamikaze sayap tetap Alpagu dengan kemampuan yang ditingkatkan, sistem drone pencegat yang menghadirkan pendekatan inovatif untuk pertahanan udara. Juga, ada sistem pengintaian pengawasan mini yang dirancang untuk memberikan intelijen dan aliran data secara real-time. Pameran itu dihadiri lebih 140 delegasi negara..
Menindaklanjuti rencana modernisasi alutsista
Ilustrasi LVT7 Marinir (Wikipedia)
Korps Marinir menindaklanjuti rencana modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS). Fokus utama dalam pertemuan ini adalah memastikan kelanjutan pengadaan kendaraan tempur Amphibious Assault Vehicle (AAV) serta penjajakan teknologi militer terbaru.
Asisten Logistik Panglima Korps Marinir (Aslog Pangkormar) Brigjen (Mar) Efhardian hadir mewakili Pangkormar Letjen (Mar) Endi Supardi dalam ajang Modern Day Marine 2026. Pameran ini merupakan kiblat inovasi teknologi operasi pesisir yang digelar di Washington D.C., pada 28-30 April 2026.
Progres Pengadaan AAV
Dalam agenda tersebut, Efhardian mengadakan pertemuan khusus dengan Direktur Pengadaan Alutsista Korps Marinir AS (USMC), Brigjen Tamara Campbell. Diskusi ini membahas kepastian lini masa pengiriman dan teknis pengadaan kendaraan pengangkut personel amfibi tersebut.
“Kami hadir untuk memastikan kerja sama alutsista antara Korps Marinir Indonesia dan USMC berjalan lancar, termasuk keberlanjutan program AAV untuk memperkuat kesiapan operasional satuan,” kata Efhardian, dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Selasa (5/5).
Efhardian menambahkan, Indonesia menitikberatkan pada aspek peningkatan kapabilitas pengawak melalui pelatihan dan transfer teknologi. “Kerja sama ini bukan sekadar pengadaan unit, tapi mencakup transfer ilmu agar personel kami memiliki kesetaraan kemampuan teknis dengan mitra internasional,” tegasnya.
Pihak USMC melalui Campbell menyatakan komitmennya untuk mengawal proses ini agar berjalan sesuai jadwal yang telah disepakati kedua belah pihak.
Diplomasi Militer dan Hubungan Bilateral
Selain membedah teknologi dari 350 industri pertahanan, delegasi Marinir juga menyambangi Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington D.C. untuk bertemu Duta Besar RI Indroyono Soesilo. Pertemuan ini bertujuan melaporkan progres diplomasi militer yang sedang dilakukan di AS.
Indroyono menilai langkah Korps Marinir ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam kerangka kerja sama pertahanan Major Defense Cooperation Partnership.
“Pemerintah mendukung penuh komunikasi strategis ini. Selain urusan alutsista, ini adalah bagian dari penguatan interoperabilitas atau kemampuan untuk bekerja sama dalam operasi gabungan antara TNI AL dan USMC,” ujar Indroyono.
Pantau Teknologi Lintas Domain
Selama pameran, delegasi juga berdiskusi dengan Direktur Program Kerja Sama Material Internasional Angkatan Laut AS William Carty, serta Aslog USMC Letjen Stephen Sklenka. Pihak AS membuka peluang kerja sama seluas-luasnya, termasuk pada teknologi multi-domain operations yang menggabungkan kekuatan darat, laut, dan udara dalam satu sistem terintegrasi.
Langkah maraton di Washington ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi Korps Marinir untuk terus memperbarui sistem persenjataan sesuai dengan dinamika keamanan kawasan saat ini. (at)
♞ IDM
🤝
(detik)
Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menyatakan bahwa poin pembelian alutsista tidak termasuk dalam cakupan Defence Cooperation Arrangement (DCA) dengan Jepang yang ditandatangani Senin (4/5).
"Belum ada kesepakatan spesifik terkait pengadaan tertentu," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Menurut Rico, ke dua belah pihak fokus menjalin kerja sama di beberapa bidang strategis seperti pengembangan teknologi militer dan penguatan pertahanan maritim.
Dua poin kerja sama itu dianggap sangat menguntungkan Indonesia karena dapat memperkuat teknologi alutsista dalam negeri serta memperketat pengawasan wilayah laut ke dua negara.
Kendati demikian, Rico tidak menutup kemungkinan adanya potensi kerja sama di bidang pengadaan alutsista.
Dia memastikan seluruh bentuk kerja sama harus mempertimbangkan kepentingan Indonesia.
"Seluruh potensi kerja sama tetap mengedepankan amanah konstitusi, kepentingan nasional, serta kontribusi terhadap stabilitas kawasan," kata Rico.
Sebelumnya, terdapat beberapa poin kerja sama di dalam Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang telah ditandatangani Kemhan Indonesia dan Jepang.
Beberapa poin kerja sama tersebut di antaranya kerja sama pengembangan teknologi alutsista, pertukaran personel, pendidikan dan penelitian bidang militer, latihan bersama, kerja sama keamanan maritim, serta kerja sama dalam penanggulangan bencana.
DCA tersebut akhirnya ditandatangani oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, (4/5).
🤝
(detik)
Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Koizumi Shinjiro menyepakati kerja sama pertahanan atau defense cooperation arrangement (DCA) kedua negara. Indonesia dan Jepang akan kerja sama alutsista hingga latihan militer bersama.
Pertemuan tersebut digelar di kantor Kemhan, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026). Menhan Jepang Koizumi Shinjiro mengatakan kerja sama ini akan memberikan kontribusi besar bagi perdamaian, khususnya di tengah situasi internasional yang memanas seperti di Iran.
"Di tengah situasi internasional yang semakin kompleks dan tegang seperti di Iran, pendalaman kerja sama di bidang pertahanan antara Jepang dan Indonesia yang mempunyai kesamaan dalam sebagai negara maritim dan kesamaan dari nilai-nilai dasarnya akan memberikan kontribusi besar bagi perdamaian dan stabilitas, tidak hanya bagi kedua negara tetapi juga bagi kawasan secara keseluruhan," ujar Shinjiro saat konferensi pers bersama.
Shinjiro mengatakan kerja sama ini akan membahas kolaborasi Indonesia dan Jepang di bidang pertahanan. Hal tersebut meliputi latihan bersama hingga kerja sama pada alutsista dan teknologi pertahanan.
"Dalam pertemuan yang akan berlangsung setelah ini, saya ingin mendiskusikan secara mendalam dengan Bapak Menteri Sjafrie mengenai langkah-langkah kolaborasi konkret di berbagai bidang, termasuk keamanan maritim, latihan bersama, serta kerja sama alutsista dan teknologi pertahanan," katanya.
Shinjiro menyebut kesepakatan ini akan menjadi dasar arah kerja sama pertahanan kedua negara. Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi tonggak sejarah yang krusial bagi hubungan pertahanan RI dan Jepang.
"Bapak Menteri Sjafrie mengusulkan penyusunan defense cooperation arrangement sebagai kompas besar yang akan menunjukkan arah kerja sama pertahanan kedua negara di masa depan. Dan hari ini kita akan menandatangani kesepakatan tersebut. Hari ini merupakan tonggak sejarah yang sangat krusial bagi hubungan pertahanan antara Jepang dan Indonesia," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut pertemuan ini juga mendiskusikan bagaimana kedua negara melakukan pertukaran pandangan terkait pembangunan pertahanan. Dia menyebut kerja sama ini juga akan terjalin dalam hubungan kemanusiaan dan untuk mengatasi bencana alam.
"Kami akan melakukan pertukaran pandangan secara konstruktif mengenai pembangunan pertahanan kedua negara dan juga kita saling bekerja sama di dalam hubungan kemanusiaan dan untuk mengatasi bencana alam," kata Sjafrie.
(rfs/rfs)
Siapkan Unit Satuan Udara dan SDM
Ilustrasi KN Bakamla
Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dan satuan khusus untuk operasional kendaraan nirawak atau drone dari Australia.
Terbaru, Bakamla RI telah menggelar rapat pembahasan teknis terkait rencana hibah drone dari Australia melalui Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water (DCCEEW), pada Kamis (30/4).
Direktur Operasi Udara Maritim Bakamla RI Laksma Bakamla Toni menekankan pentingnya kesiapan teknis serta kesesuaian spesifikasi drone dengan kebutuhan operasional Bakamla RI dalam mendukung pengawasan keamanan dan keselamatan laut nasional.
Rapat tersebut merupakan lanjutan dari kunjungan delegasi Australia Border Force (ABF) di Kantor Bakamla Kalisari, Jakarta Timur, Selasa (28/4).
“Bakamla RI menyampaikan bahwa pengembangan unit satuan udara masih terus berjalan, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur pendukung,” tulis siaran pers Humas Bakamla.
Dalam pertemuan di Kantor Bakamla Kalisari, pemimpin tim ahli drone ABF Isaac Palmer menyampaikan pengalaman dan pendekatan Australia dalam pengembangan serta pemanfaatan sistem drone guna mendukung operasi keamanan laut.
Delegasi ABF juga memaparkan konsep program yang komprehensif, meliputi penyediaan platform drone, pelatihan SDM, dukungan peralatan, hingga pemeliharaan dan keberlanjutan jangka panjang.
Diketahui, Australia berencana menghibahkan drone ke Bakamla RI untuk keamanan laut. Rencana itu pertama kali dibahas saat Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla RI Laksda TNI Samuel H. Kowaas menerima courtesy call atau kunjungan kehormatan dari Deputy Commissioner National Operations ABF Tim Fitzgerald di Markas Besar Bakamla RI, Jakarta Pusat, 27 Januari 2026. (nma)
⚓️ 🚀 Latopslagab 2026
KRI GNR 332 menembakkan rudal Exocet B3 dalam Latopslagab 2026 menghancurkan target (eks KRI Teluk Hading) (Kodiklat)
Dalam
menghadapi era peperangan modern, TNI melaksanakan Latihan Operasi Serangan Gabungan (Latopslagab) secara masif di Perairan Karimun Jawa, Kamis (23/4).
Latihan ini melibatkan 20 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan pesawat tempur F-16 TNI AU yang berhasil menghancurkan sasaran eks-KRI Teluk Hading dengan cepat melalui serangan terintegrasi.
Kegiatan diawali dengan penembakan Rudal Exocet MM40 Block 3 oleh unsur KRI, dilanjutkan Operasi Udara Lawan Laut (OULL) oleh tiga pesawat F-16 yang menjatuhkan bom MK-12 dengan presisi tinggi.
Selain itu, dilaksanakan pula Artillery Duel oleh Striking Force TNI AL yang berhasil menghancurkan sasaran darat di Pulau Gundul.
Latihan ini merupakan demonstrasi kekuatan nyata (show of force) dan bukti interoperabilitas matra laut dan udara. Selain menguji kemampuan teknis, kegiatan ini juga berfungsi sebagai daya tangkal (deterrence) guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
🚀 Garuda Militer
🛩 🚀 🤝
Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. saat menerima audiensi Chairman ALIT China di Mabesau (22/4/2026) guna membahas pengembangan teknologi UAV dan kolaborasi ruang angkasa Indonesia. (Dispenau)
Perusahaan pertahanan terkemuka asal China, Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT), resmi menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada Rabu (22/4/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Markas Besar TNI AU ini fokus pada pengembangan teknologi dirgantara mutakhir, mencakup penguatan armada pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, hingga program ruang angkasa.
Langkah ini merupakan bagian dari visi strategis untuk memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) guna mewujudkan kekuatan TNI AU yang AMPUH.
Key Takeaways (Ringkasan Utama):
💥 Pertemuan Strategis: Audiensi antara Chairman ALIT China dengan Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. pada 22 April 2026 di Mabesau.
💥 Fokus Kolaborasi: Pengembangan pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, dan program ruang angkasa (space program).
💥 Visi TNI AU: Langkah memperkuat Alpalhankam menuju visi TNI AU yang AMPUH.
💥 Skuadron Baru: Pembentukan Skuadron UAV 53 di Lanud Anang Busra Tarakan yang direncanakan mengoperasikan drone CH-4.
💥 Kemampuan Alutsista: UAV CH-4B milik TNI AU telah dilengkapi kemampuan serang dengan rudal AR-2 dan sistem komunikasi satelit.
Pertemuan Pimpinan ALIT China dan Wakasau di Mabesau.
Chairman of Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT) dilaporkan TNI AU lewat rilis akun Instagramnya pada 23 April 2026, baru saja melakukan audiensi dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. di Ruang CC Wakasau, Markas Besar TNI AU, Rabu (22/4/2026).
TNI AU menyebut Pertemuan strategis ini membahas sejumlah peluang kerja sama antara TNI AU dan ALIT Co., Ltd. dalam pengembangan teknologi dirgantara, dengan fokus utama pada bidang pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara, dan space program.
"Audiensi ini juga merupakan kesempatan perkenalan pimpinan CEO yang baru, sekaligus menjadi langkah penting dalam membangun kolaborasi yang solid dan berkelanjutan guna memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) TNI AU, sejalan dengan visi mewujudkan TNI AU yang AMPUH," terang rilis akun Instagram @militer.udara dalam unggahannya.
Profil ALIT: Divisi Ekspor Teknologi Roket dan Rudal China
Dilansir dari rilis resmi Kemhan pada 20 Februari 2012, Aerospace Long March International Trade & co., Ltd. (ALIT), adalah salah satu perusahaan berada di bawah State Administration for Science, technology and Industry for National Defence (SASTIND), China yang memproduksi roket dan rudal serta ruang angkasa termasuk ICBM dan Roket peluncur satelit Long March.
Selain itu, ALIT merupakan divisi ekspor dari China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC).
Perbandingan Varian UAV CH-4 untuk Ekspor
Berdasarkan data operasional, ALIT menawarkan dua varian utama untuk pasar internasional:
💢Fitur Varian CH-4A Varian CH-4B
Konfigurasi Utama Pengintaian (Reconnaissance) Serang (Strike-Oriented)
💢 Daya Tahan Terbang 30 Jam 14 Jam
💢 Muatan Senjata - 760lb (345kg)
💢Kemampuan Khusus Pengamatan Jarak Jauh Penyerangan Presisi.
Rekam Jejak Produk ALIT di Indonesia
Sebelum melakukan penjajakan kerja sama terbaru ini, ALIT sebenarnya sudah menjual produk pertahanan udara kepada Indonesia.
Terkait operasionalnya, Asian Military Review edisi 16 September 2022 memberikan laporan mendalam sebagai berikut:
"Angkatan Udara Indonesia (TNI AU) mengakuisisi sejumlah UAV CH-4B yang tidak diungkapkan jumlahnya, yang telah dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit untuk memperluas jangkauan operasinya hingga 1.080 mil laut (2.000 km).
TNI AU diyakini sebagai angkatan udara Asia Tenggara pertama yang memiliki kemampuan UAV bersenjata, setelah menerima rudal berpemandu presisi AR-2 untuk armada CH-4B pada April 2021.
Sebuah pod peperangan elektronik, kemungkinan untuk misi komunikasi atau pengumpulan intelijen sinyal, juga telah diamati terpasang pada setidaknya salah satu UAV CH-4 milik TNI AU," terang Asian Military Review dalam artikelnya.
Persiapan Skuadron UAV 53 Tarakan dan Operasional CH-4
Antara edisi 10 Oktober 2025 lalu melaporkan Pangkalan Udara Anang Busra Tarakan akan membangun Skuadron Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau skuadron 53 dan naik status Lanud dari tipe B menjadi tipe A.
Skuadron 53, yang direncanakan diresmikan pada 2026 oleh pimpinan TNI AU, akan mengoperasikan drone militer jenis CH-4.
Terkait spesifikasi dan peran strategis drone ini, Komandan Lanud Anang Busra memberikan penjelasan detail:
“CH-4 dapat dipersenjatai dengan rudal atau bom, sehingga memiliki fungsi ganda, baik untuk intelijen, pengintaian, dan pengawasan (ISR) maupun sebagai drone serang,” kata Komandan Lanud Anang Busra, Marsekal Pertama TNI Andreas A. Dhewo.
Beliau menambahkan mengenai pentingnya penempatan unit ini di wilayah perbatasan:
“Dengan kemampuan drone ini, kami dapat memantau wilayah secara efektif dan memberikan respons cepat terhadap potensi ancaman,” tambahnya.
Keberadaan Skuadron 53 di Tarakan diharapkan dapat memperkuat pengawasan udara di wilayah Kalimantan Utara, khususnya untuk mencegah dan mengidentifikasi aktivitas penyelundupan di perbatasan.
Drone CH-4 ini dilaporkan memiliki jangkauan terbang hingga 5.000 kilometer dan mampu beroperasi di udara selama 30 hingga 40 jam negara.***