Jumat, 29 Mei 2026

Laba Bersih BUMN Industri Pertahanan Melonjak 430 %

 👷 💰  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEia519IVCSEIsIIkRG4DQSKhu37pvsZ2BjqCFRCVq4oRsZBaIw3tlbgA6FqsenAwyRhjqn2gZ8YE2-HK-clkTGDhBC51y-dYZuGd3ry37tOGiJtpMx2gPHCc2DzlUUIGqM-ZC_yxLSdmoDlUev5TsxXZATMBPOgQ1khfAHR-jSGOXH5gTuHgdgiYiVjJho/s1026/FB_IMG_1776325613789.jpgIlustrasi kapal produksi PAL (PAL)

DEFEND ID mencetak kinerja gemilang. Holding BUMN industri pertahanan itu, membukukan lonjakan laba bersih konsolidasian sebesar 430,1 persen pada tahun buku 2025 dengan nilai mencapai Rp 913,05 miliar.

Data yang ada menunjukkan pertumbuhan eksponensial dari laba tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 172,24 miliar ini dipicu oleh efisiensi operasional dan optimalisasi proyek strategis nasional.

Direktur Utama Len Industri DEFEND ID Joga Dharma Setiawan menyampaikan hal tersebut dalam keterangan yang dikutip Kamis (28/5/2026).

Capaian performa keuangan tersebut resmi ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) tahun buku 2025 di Bandung, Selasa (26/5/2026). Rapat dihadiri Badan Pengelola (BP) BUMN dan PT Danantara Asset Management selaku pemegang saham.

Sepanjang 2025, holding yang mengintegrasikan kapabilitas industri matra darat, laut, udara, amunisi, hingga elektronika pertahanan ini mengantongi total nilai kontrak raksasa sebesar Rp 113,85 triliun.

Jumlah tersebut ditopang oleh kontrak bawaan (carry over) senilai Rp 94,78 triliun dan perolehan kontrak baru sebesar Rp 19,07 triliun.

Bagusnya, struktur fundamental perusahaan juga mencatatkan penguatan signifikan. Nilai aset DEFEND ID melonjak 18,3 persen menjadi Rp 66,05 triliun, diiringi pertumbuhan ekuitas sebesar 8,2 persen ke angka Rp 15,23 triliun.

 Tingkat Kesehatan Keuangan Kategori BBB+

Sementara itu, berdasarkan hasil evaluasi, tingkat kesehatan keuangan holding berada pada kategori BBB+ dengan pendapatan usaha riil menyentuh Rp 20,71 triliun.

Kekuatan manufaktur holding ini didukung penuh oleh 11.022 sumber daya manusia, dengan porsi lebih dari 60 persen ditempatkan khusus di bidang produksi dan teknis (engineering).

Menyikapi tren positif ini, PT Len Industri (Persero) DEFEND ID menegaskan arah baru korporasi melalui cetak biru "Astacita Len Industri".

Fokus tersebut diarahkan pada penguasaan delapan teknologi masa depan, meliputi kecerdasan buatan (artificial intelligence), semikonduktor, sistem komando dan kendali (command & control system), radar, perang elektronik, siber, satelit, elektro-optik, hingga sistem otonom (autonomous system).

Joga Dharma Setiawan menyampaikan bahwa capaian perusahaan sepanjang tahun 2025 menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi Len sebagai perusahaan teknologi strategis nasional.

"Kinerja positif yang berhasil dicapai pada tahun 2025 merupakan hasil dari transformasi bisnis, penguatan sinergi ekosistem industri pertahanan, serta komitmen seluruh insan perusahaan dalam mendorong kemandirian teknologi nasional," kata Yoga Dharma Setiawan.

   Emiten News  

Kamis, 28 Mei 2026

Pemerintah Komitmen Beli Jet Tempur-Kapal Disertai Senjata dan Harwat

Sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru dalam upacara yang digelar di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Senin (18/5/2026) (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Pemerintah berkomitmen membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) disertai dengan senjata dan pemeliharaan dan perawatan (harwat).

Terbaru, komitmen itu dibuktikan dengan pembelian jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation, Prancis, yang dilengkapi dengan smart weapon hammer atau bom pintar AASM Hammer dan peluru kendali (rudal) meteor.

Senjata-senjata tersebut diperkenalkan saat Presiden RI Prabowo Subianto menyerahkan sejumlah alutsista kepada Markas Besar TNI dan TNI Angkatan Udara dalam seremoni di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).

Dalam rapat bersama Komisi I DPR RI, Selasa (19/5), Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengakui bahwa pemerintah pernah membeli alutsista dengan tidak disertai senjata dan harwat.

Memang kami mengakui, pada waktu yang lalu, kita itu hanya membeli alat, tapi tidak membeli harwat. Jadi pesawat tempur ada tapi tidak bisa menembak,” kata Sjafrie, dikutip Senin (25/5).

Sekarang, pembelian alutsista, baik jet tempur maupun kapal perang, harus disertai senjata dan harwat.

Sekarang tidak bisa (tanpa senjata dan harwat), kita beli sistem. Kita beli alat, Bapak-Bapak juga sudah melihat, bagaimana missile melengkapi peralatan itu. Terbang flypast tapi tidak punya alat, sekarang sudah dilengkapi dengan alat,” tutur Menhan RI.

Lebih lanjut, pembangunan Batalion Teritorial Pembangunan (Yon TP) juga dilengkapi dengan harwat.

Kita membangun batalion, itu dilengkapi dengan harwat. Kompi konstruksi sudah dilengkapi dengan ekskavator dan traktor,” kata Sjafrie.

   ★  IDM   

Rabu, 27 Mei 2026

Laba PT PAL Indonesia Melonjak 108,58% Berkat Transformasi Industri Maritim

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina dalam penyelesaian di Surabaya (ss PAL)

Kinerja keuangan PT PAL Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang tahun buku 2025 seiring percepatan transformasi industri dan efisiensi operasional yang dijalankan perseroan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Holding BUMN Industri Pertahanan Defend ID, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyampaikan laba bersih PT PAL meningkat 108,58% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Menurut Kaharuddin, peningkatan laba tersebut ditopang percepatan proses produksi, efisiensi operasional, serta akselerasi digitalisasi yang memperkuat efektivitas kinerja perusahaan.

Dia menyebut, capaian tersebut merupakan hasil dari transformasi perusahaan yang dijalankan dalam 5 tahun terakhir. “Capaian ini merupakan hasil transformasi yang telah kami jalankan selama 5 tahun terakhir,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/5/2026).

Transformasi yang dijalankan PT PAL Indonesia mencakup implementasi Industri Maritim 4.0 melalui perubahan model bisnis, budaya kerja, hingga arah strategi perusahaan.

Salah satu fokus utama perusahaan ialah transformasi digital yang mengintegrasikan manajemen proyek, pengelolaan sumber daya manusia, dan rantai pasok ke dalam sistem terpadu.

Perseroan juga melakukan modernisasi fasilitas produksi, reorganisasi alur kerja, serta peningkatan kapasitas fabrikasi untuk mempercepat penyelesaian proyek.

Kaharuddin mengungkapkan kapasitas produksi perusahaan kini mencapai 50 blok kapal per bulan. Selain itu, waktu pengerjaan di dock berhasil dipangkas menjadi 6 bulan dari sebelumnya mencapai 2 tahun.

Dia menambahkan produk pertahanan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pendapatan usaha perseroan. Kondisi tersebut sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan pemangku kepentingan terhadap kemampuan engineering dan kapasitas produksi PT PAL.

Di sisi lain, peningkatan aktivitas produksi PT PAL dinilai turut memberikan efek berganda terhadap industri penunjang nasional. Sejumlah sektor yang terdampak antara lain industri baja, manufaktur komponen, sistem kelistrikan, elektronik pertahanan, hingga teknologi maritim nasional.

Perseroan menilai keterlibatan industri domestik dalam proyek strategis perusahaan dapat memperkuat transfer teknologi, meningkatkan nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN), memperluas penyerapan tenaga kerja, serta memperkuat rantai pasok maritim nasional.

PT PAL saat ini bukan hanya produsen kapal, tetapi juga berperan sebagai lead integrator dan national consolidator ekosistem galangan nasional dengan melibatkan industri-industri pendukung dalam negeri agar dapat tumbuh bersama,” kata Kaharuddin.

Melalui sinergi dalam Defend ID, PT PAL optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan industri maritim regional sekaligus mempercepat pengembangan industri pertahanan nasional yang mandiri dan berdaya saing global.

  📝  Bisnis   

Selasa, 26 Mei 2026

[Teror] OPM Bunuh Delapan Pendulang Emas di Yahukimo Papua Pegunungan

Menuding para korban sebagai aparat keamanan yang menyamarTNI melakukan persiapan evakuasi 8 pendulang emas yang tewas dibunuh OPM di Yahukimo. (dok. istimewa)

Sebanyak delapan pendulang emas tewas dibunuh oleh anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Korowai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Rabu (20/5). Dilansir dari Detikcom, aparat gabungan kini tengah mempersiapkan langkah evakuasi menggunakan jalur udara untuk membawa seluruh jenazah korban dari lokasi kejadian.

Aksi pembunuhan tersebut dipicu oleh kecurigaan pihak OPM terhadap para pekerja tambang tersebut. Kelompok bersenjata itu menuduh para pendulang emas sebagai aparat keamanan yang sedang menyamar di area pendulangan.

"Kelompok tersebut menuding para korban sebagai aparat keamanan yang menyamar," ujar Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema.

Pihak TNI membantah keras tuduhan yang dikeluarkan oleh kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo terkait identitas para korban. Penegasan diberikan bahwa seluruh korban yang meninggal dunia merupakan murni warga sipil setempat.

"Delapan orang tersebut bukan aparat keamanan seperti yang dituduhkan kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo, melainkan warga sipil yang sedang melakukan aktivitas pendulangan emas di wilayah tersebut," kata Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema.

Guna menjangkau lokasi pembunuhan yang berada di daerah pedalaman, aparat keamanan mengerahkan armada helikopter. Langkah ini diambil agar proses pemindahan jenazah dapat berjalan lebih cepat dengan pengamanan dari personel gabungan.

"Saat ini, proses persiapan evakuasi terus dilakukan dengan dukungan personel gabungan dan armada heli guna menjangkau lokasi kejadian yang berada di wilayah pedalaman," ungkap Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema.

  💂 Viral Media  

Dua Kapal Frigate Turkiye Perkuat Indonesia Tahun 2027 dan 2028

 ⚓️ Akan dibiayai Qatar senile Rp 17,7 triliun. TCG Akdeniz (F-519) (Savanma Sanayi ST)

Tahap strategis dalam proyek MİLGEM Indonesia, telah tercapai. Menurut laporan, proses pembangunan dua fregat kelas İstif untuk Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) telah resmi dimulai. Hal itu menyusul nota kesepahaman yang ditandatangani antara Turki, Qatar, dan Indonesia pada periode sebelumnya.

TAIS Shipyards mewakili Turki, menandatangani kontrak akhir untuk ekspor dua fregat tersebut, yang akan dibiayai oleh Qatar. TAIS meneken perjanjian senilai 1 miliar atau sekitar Rp 17,7 triliun dengan perusahaan Barzan Holdings dari Qatar.

Pembiayaan kredit memainkan peran penting dalam model ekspor ini, dan "Kerja Sama Industri Pertahanan Turki-Qatar-Indonesia" telah ditingkatkan ke tingkat strategis. Saat ini, kegiatan konstruksi sedang berlangsung secara bersamaan pada hampir 50 kapal militer di galangan kapal Turki, termasuk tujuh fregat kelas İstif.

Kapal pertama dari kelas ini, TCG Istanbul (F-515), telah lama aktif bertugas di Angkatan Laut Turki. Sebelumnya, sumber industri melaporkan, kapal dengan nomor lambung F-516 dan F-517, yang saat ini sedang dibangun, akan dikirim ke Indonesia. Namun, menurut informasi yang diperoleh SavunmaSanayiST.com, rencana itu telah direvisi karena meningkatnya intensitas operasional Angkatan Laut Turki.

Sesuai dengan rencana baru, fregat F-516 (TCG Izmir), F-517 (TCG Izmit), dan F-518 (TCG Icel), yang berada di tahap akhir pembangunan dan pengujian, akan langsung dimasukkan ke dalam inventaris Angkatan Laut Turki. Kapal-kapal dengan nomor lambung F-519 dan F-521 diharapkan akan dikirim ke Indonesia antara tahun 2027 dan 2028.

Kapal-kapal lain dalam kelas yang sama, F-520 dan F-522, juga akan menambah kekuatan Angkatan Laut Turki. Pembangunan fregat baru akan segera dimulai untuk menggantikan kapal F-519 dan F-521 yang akan diekspor ke Indonesia. Rencana ini bertujuan untuk sepenuhnya mencegah potensi kesenjangan dalam kekuatan tempur Angkatan Laut Turki saat mengekspor kapal perang itu.

Sebagian besar anggaran yang dihasilkan dari ekspor ke Indonesia akan digunakan untuk membiayai pembangunan kapal perang generasi baru untuk Angkatan Laut Turki. Ekspor fregat pertama ke pasar Asia Tenggara yang dibiayai Qatar, menandai tonggak sejarah bagi industri pertahanan Turki.

Dengan kontrak itu, Turki akan mengekspor kapal perang permukaan besar skala fregat ke negara Asia-Pasifik untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ASFAT mengekspor empat korvet Kelas MİLGEM ADA ke Pakistan, dan STM mengekspor tiga unit ke Malaysia.

Selain ekspor platform, kapal-kapal tersebut akan mencakup fasilitas modern, seperti sensor canggih dan sistem lain yang diproduksi oleh Aselsan, sistem rudal nasional yang diproduksi oleh Roketsan, sistem senjata dan meriam angkatan laut yang diproduksi oleh MKE, serta sistem komando dan kontrol yang diproduksi Havelsan, akan disertakan dalam paket ekspor.

Dengan strategi ekspor baru itu, Turki sedang membangun model ekosistem yang mandiri secara ekonomi dan berkelanjutan dalam pembuatan kapal militer. Model tersebut mungkin dapat berkembang dengan menjadi "HUB Regional" untuk perbaikan kapal perang asing.

Fregat kelas Istif ini memiliki bobot 3.150 ton dan panjang 113 meter, yang dapat mencapai kecepatan maksimum lebih 29 knot. TCG-İstanbul yang sudah beroperasi dilengkapi dengan Radar AESA Aselsan Cenk-S, hingga dapat mendeteksi dan melacak target udara dari jarak yang jauh lebih panjang dengan presisi tinggi.

Kapal perang itu turut dilengkapi Roketsan MİDLAS, sistem peluncuran vertikal nasional pertama Turki. Dengan rudal pertahanan udara HİSAR-D yang dapat ditembakkan melalui MİDLAS dan rudal antikapal Roketsan ATMACA, yang terintegrasi untuk misi antikapal, kelas İstif memiliki kemampuan serangan yang sepenuhnya independen.

Empat kapal pertama sedang dibangun di bawah kepemimpinan STM. Dilengkapi dengan sistem sonar buatan dalam negeri dan tabung torpedo, platform itu menawarkan kemampuan bertahan hidup yang tinggi terhadap ancaman bawah laut.

 ⚓️  Republika  

Senin, 25 Mei 2026

Kapal Selam Scorpene Masuk Tahap Praproduksi

⚓️ Tonggak Sejarah Industri Pertahanan RI PAL Indonesia akan membangun dua unit kapal selam Scorpene Evolved berkonfigurasi LiB di Surabaya. (Naval Group)

Pembangunan kapal selam Scorpene Evolved oleh PT PAL Indonesia bersama Naval Group disebut menjadi tonggak penting sejarah industri pertahanan nasionale sekaligus penanda masuknya Indonesia ke era baru penguasaan teknologi strategis bawah laut.

Proyek strategis untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) tersebut kini telah memasuki tahap pra-produksi atau pre-production sebagai bagian dari persiapan teknis sebelum produksi utama dimulai.

Tahapan tersebut meliputi kesiapan desain, sistem produksi, penguatan sumber daya manusia, hingga pembangunan infrastruktur pendukung agar proses produksi berjalan sesuai standar internasional.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menegaskan proyek Scorpene Evolved memiliki arti strategis bukan hanya bagi sektor pertahanan, tetapi juga bagi masa depan industri teknologi nasional.

Indonesia tercatat sebagai negara pertama di ASEAN yang mampu membangun kapal selamnya sendiri, termasuk pengembangan kapal selam Scorpene Evolved dengan teknologi Advanced and Improved Propulsion (AIP). Kemampuan ini menegaskan kemajuan penguasaan teknologi strategis nasional sekaligus memperlihatkan kesiapan industri pertahanan Indonesia untuk bersaing di tingkat global,” ujar Kaharuddin.

Menurutnya, di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan dunia di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik, keberadaan industri pertahanan nasional yang kuat menjadi modal strategis bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat posisi sebagai negara maritim utama di regional.

Sebagai bagian dari penguatan kapabilitas nasional, puluhan engineer PT PAL telah diberangkatkan ke Cherbourg, Prancis, untuk mengikuti program transfer teknologi dan penguatan keterampilan bersama Naval Group.

Program transfer of technology (ToT) tersebut menjadi langkah penting agar tenaga ahli Indonesia mampu menguasai pembangunan kapal selam modern berstandar global secara mandiri.

Bahkan, proses fabrikasi qualification section untuk “pilot hull sub-section” pertama Scorpene Evolved telah dimulai dan ditandai secara resmi di Surabaya pada 12 Desember 2025.

Direktur Program SRI Naval Group, Vincent Vimont, menyebut kerja sama dengan PT PAL menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem industri pertahanan Indonesia secara berkelanjutan.

Dengan bermitra dengan Naval Group dalam program transfer keterampilan yang ambisius, Indonesia bertujuan meningkatkan ekonomi lokal dan memperkuat kemampuan ekosistem industrinya. Perjanjian dengan PT PAL sebagai galangan kapal berpengalaman akan mewujudkan ambisi ini,” kata Vincent.

Pembangunan Scorpene Evolved dinilai bukan sekadar proyek pengadaan alutsista, melainkan simbol transformasi besar industri pertahanan nasional menuju industri berbasis teknologi tinggi, riset, dan inovasi.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bahwa penguatan pertahanan negara dapat berjalan seiring dengan pengembangan SDM unggul, transfer teknologi, dan pertumbuhan industri dalam negeri menuju kemandirian strategis Indonesia.

  👷  Indonesia Inside  

Minggu, 24 Mei 2026

Kemampuan Link PT Len Meningkat karena Bisa Terhubung Antarpesawat Tempur TNI AU

 Berkat “Offset” Rafale Link ID dari PT Len (infographic: Len)

Kemampuan PT Len Industri (Persero) dalam hal interoperabilitas meningkat berkat pengadaan 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis.

Interoperabilitas merupakan kemampuan berbagai sistem, perangkat, atau aplikasi yang berbeda untuk berkomunikasi, bertukar data, dan menggunakan informasi tersebut dalam militer.

Sebelumnya, kemampuan link dari PT Len hanya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat
surveillance atau patroli.

Setelah ini, interoperabilitas Link ID yang dimiliki PT Len bisa terhubung ke komunikasi antarpesawat tempur TNI Angkatan Udara.

Sepasang Rafale TNI AU (Skuadron 12)

Kemampuan Link ID yang dimiliki Len sebelumnya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat surveillance. Ke depan, kemampuan tersebut akan berkembang hingga mampu mendukung komunikasi data link antarpesawat tempur, sehingga memperkuat integrasi sistem pertahanan udara nasional secara lebih menyeluruh,” tulis siaran pers PT Len, dikutip Rabu (20/5).

Peningkatan kemampuan interoperabilitas ini merupakan bagian dari program training
offset jet tempur Rafale.

Offset
merupakan kewajiban produsen senjata asing, dalam hal ini Dassault Aviation, untuk memberikan kompensasi atau investasi timbal balik seperti alih teknologi, produksi lokal suku cadang, atau pelatihan kepada negara pembeli.

Momentum ini juga menegaskan peran strategis PT Len Industri (Persero) sebagai induk holding industri pertahanan DEFEND ID dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguasaan teknologi dan penguatan interoperabilitas antarsistem pertahanan,” kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan dalam keterangannya..

  ★  
IDM  

Sabtu, 23 Mei 2026

Pembangunan Kapal LPD Hanya Enam Bulan, AHY Puji Transformasi Industri Maritim PT PAL

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina yang dalam 5 bulan sudah mulai terlihat bentuknya di Surabaya (ss PAL)

Menteri Koordinator (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau PT PAL Indonesia untuk memperkuat sinergi pengembangan industri galangan kapal nasional dan ekosistem maritim.

AHY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat mengapresiasi efisiensi produksi yang memangkas waktu pembangunan kapal secara signifikan. Kunjungan berlangsung di galangan kapal PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis (21/5/2026).

AHY menyoroti pemangkasan durasi pembangunan kapal jenis Landing Platform Dock (LPD), yaitu kapal pengangkut pasukan dan kendaraan tempur.

Dulu membangun satu LPD (Landing Platform Dock) memerlukan waktu kurang lebih dua tahun. Sekarang, berkat transformasi dan modernisasi yang dilakukan, bisa dikerjakan hanya dalam enam bulan. Artinya, dalam durasi yang sama, kita bisa membangun empat LPD,” kata AHY di PT PAL Indonesia, Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Ia menyatakan tujuan pemerintah sejalan dengan visi mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat.

Kami memiliki tujuan yang sama sesuai visi dan misi Presiden, yakni mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat melalui penguatan sektor industri yang berkelanjutan. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh insan PT PAL dan bangga melihat transformasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

AHY menyebut permintaan internasional terhadap produk PT PAL terus meningkat, baik untuk kapal perang maupun kapal niaga.

Penguatan industri galangan kapal dinilai memberikan efek gentar (deterrence effect) dalam menjaga keutuhan wilayah RI sebagai negara kepulauan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyebut kunjungan tersebut sebagai momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan industri maritim nasional.

PT PAL terus berkomitmen dalam menumbuhkan dan memperkuat industri maritim nasional. Tidak hanya kapal sebagai pendukung konektivitas, namun jembatan antar pulau merupakan infrastruktur industri maritim yang perlu diperkuat dan dikembangkan,” kata Kaharuddin Djenod di Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Kaharuddin menyatakan pengembangan industri maritim perlu didukung peningkatan teknologi, kompetensi sumber daya manusia, dan kolaborasi strategis.

Dalam kunjungan kerja ini, AHY juga merespons proyek tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) di Pantai Utara Jawa, yang cetak birunya ditargetkan selesai pada 2027.

  📝  Berita Jatim  

GMFI Bidik Laba Rp 621,8 Miliar

  Perkuat Bisnis Perawatan Pesawat dan Industri PertahananKetika Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto menginspeksi langsung proses upgrade pesawat C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara di Garuda Maintenance Facility (GMF), Tangerang, Banten (Humas Kemhan)

Anak usaha Garuda Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), menargetkan pendapatan tahunan sebesar 542,8 juta dolar Amerika Serikat (AS) pada 2026.

Nilai tersebut setara Rp 9,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.716 per dolar AS.

GMFI juga memperkirakan laba bersih mencapai 35,1 juta dolar AS atau setara Rp 621,8 miliar.

Sementara itu kinerja keuangan GMFI pada awal 2026 menunjukkan performa solid. Kinerja tersebut ditopang fundamental operasional yang semakin sehat.

GMFI membukukan laba berjalan sebesar 6,76 juta dolar AS pada kuartal I 2026. Pendapatan usaha perseroan pada periode yang sama mencapai 114,94 juta dolar AS.

Sektor perawatan pesawat komersial masih menjadi salah satu penopang bisnis. GMFI mencatat sejumlah pelanggan lama seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific. Perseroan juga memperluas basis pelanggan baru, seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air.

GMFI turut menyelesaikan reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari sinergi Garuda Indonesia Group untuk mengoptimalkan kesiapan armada penerbangan nasional.

Sektor pertahanan juga ikut menopang kinerja GMFI. Perseroan menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat dan dua pesawat VIP Boeing 737 800.

GMFI juga memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation. Kerja sama tersebut terkait implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) untuk pesawat Rafale.
 

  ✈️  Kompas  

Jumat, 22 Mei 2026

PT PAL Jadi Pilar Kemandirian Maritim dan Pertahanan Indonesia

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina yang dalam beberapa bulan sudah mulai terlihat bentuknya di Surabaya (ss Markicap)

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya peran PT PAL Indonesia mengambil peran sebagai pilar kemandirian maritim dan pertahanan nasional.

Hal tersebut dilakukan saat melakukan kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia, Jawa Timur, Surabaya, Kamis (21/05/2026).

Dalam kunjungannya, AHY menilai transformasi yang dilakukan PT PAL Indonesia telah membawa industri strategis nasional itu naik kelas hingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Menurutnya, sejak awal berdiri, PT PAL Indonesia menjadi simbol harapan bangsa untuk mewujudkan kedaulatan maritim Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Ia menilai penguatan industri maritim sangat penting untuk menjaga wilayah laut sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi nasional.

Lebih lanjut, AHY menyebut kemampuan PT PAL Indonesia kini tidak hanya terbatas pada desain dan manufaktur kapal, melainkan telah berkembang menjadi pusat produksi untuk kebutuhan sipil, komersial, hingga pertahanan negara.

Transformasi tersebut, lanjut AHY, turut tercermin dari meningkatnya kapasitas produksi perusahaan. Ia menyebut proses pembangunan kapal kini dapat dilakukan lebih cepat dibanding sebelumnya.

Dulu pengerjaannya membutuhkan waktu lebih lama, sekarang dalam waktu sekitar enam bulan sudah bisa dikerjakan lebih cepat dengan kapasitas yang semakin besar,” ujarnya. Menurut AHY, peningkatan produktivitas PT PAL Indonesia juga membawa dampak positif terhadap perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan industri dalam negeri.

AHY menegaskan bahwa penguatan PT PAL Indonesia menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan kemandirian maritim Indonesia di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.

  📝  Lentera  

Fasilitas MRO untuk Pesawat AS di Bandara Kertajati

 Berpotensi Jadi Pangkalan Militer TerselubungInfografis persetujuan Presiden (ist)

Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin meminta Pemerintah berhati-hati terkait persetujuan menjadikan Bandara Kertajati di Jawa Barat, sebagai fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) atau pusat perawatan pesawat C-130 Hercules. Sebagaimana diketahui, hal tersebut merupakan usulan Pemerintah Amerika Serikat (AS).

Menurut TB Hasanuddin, kerja sama tersebut tidak bisa dipandang sebagai sekadar proyek industri penerbangan biasa, melainkan memiliki dimensi strategis, pertahanan, hingga kedaulatan negara yang harus dikaji secara menyeluruh.

Keputusan menerima tawaran Amerika Serikat menjadikan Indonesia sebagai MRO hubs pesawat C-130 dan menetapkan Bandara Kertajati sebagai lokasinya harus dijalankan dengan sangat hati-hati dan transparan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Sebagai informasi, kabar mengenai Bandara Kertajati yang akan dijadikan fasilitas MRO untuk pesawat Hercules milik AS disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat bersama Komisi I DPR pada Selasa (19/5) lalu.

Dalam kesempatan itu, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth memberi tawaran menarik kepada Pemerintah Indonesia terkait pemusatan program pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO) hingga perbaikan pesawat C-130 Hercules di seluruh Asia.

Nantinya, MRO atau pusat perawatan dan perbaikan seluruh pesawat angkut andalan Angkatan Udara AS (USAF) tersebut dipusatkan di Indonesia. Niatan Hegseth itu disampaikan kepada Menhan Sjafrie Sjamsoeddin saat keduanya bertemu di Pentagon, AS pada April 2026.

Terkait hal ini, TB Hasanuddin menilai perlu ada kejelasan mengenai cakupan operasional MRO tersebut sebab apabila fasilitas itu hanya digunakan untuk pesawat-pesawat C-130 milik militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, maka hal itu berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan politik strategis.

Jika fasilitas tersebut eksklusif untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia, maka persepsinya bisa berkembang sebagai bentuk pangkalan militer AS di Indonesia,” tutur Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

Ini tentu harus dicermati karena dapat berbenturan dengan peraturan perundang-undangan serta prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia,” lanjut TB Hasanuddin.

Anggota Komisi Pertahanan DPR ini menegaskan, publik juga perlu memahami bahwa tawaran tersebut datang dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat, bukan dari pabrikan pesawat Hercules sebagai kerja sama industri murni. Karena hal itu, TB Hasanuddin memandang aspek kepentingan strategis militer AS sangat kuat dalam rencana tersebut.

Dan Bandara Kertajati saat ini berstatus bandara penerbangan sipil,” ucap Legislator dari Dapil Jawa Barat IX itu.

Menurut TB Hasanuddin, apabila digunakan sebagai pusat perawatan pesawat militer asing, maka perlu ada penyesuaian regulasi, tata kelola, serta pengaturan zonasi yang jelas lantaran status Bandara Kertajati yang merupakan bandara sipil.

Kalau nanti menjadi pusat perawatan pesawat militer, tentu harus ada pengaturan yang jelas agar tidak mengganggu fungsi pelayanan penerbangan sipil untuk masyarakat Jawa Barat,” tegas TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin menambahkan, di sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Filipina, kerja sama MRO dengan Amerika Serikat memang dilakukan untuk mendukung operasional pesawat militer AS di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, fasilitas tersebut umumnya ditempatkan di kawasan industri khusus atau fasilitas milik industri perawatan pesawat domestik,” jelasnya.

Oleh karenanya, TB Hasanuddin meminta Pemerintah memastikan adanya manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, khususnya PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Prinsip utamanya adalah menjaga kedaulatan negara, memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas, serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri,” tutup TB Hasanuddin. (rdn)
 

  ✈️  DPR  

Kamis, 21 Mei 2026

PAL Percepat Penyelesaian Frigate Merah Putih Pertama

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur di Surabaya (PAL)

PT PAL Indonesia mempercepat penyelesaian Frigate Merah Putih pertama, KRI Balaputradewa-322, sebagai bagian dari komitmen mendukung visi pertahanan maritim modern dan mandiri di era Presiden Prabowo Subianto.

Setelah resmi diluncurkan pada 18 Desember 2025, kapal tempur multirole ini kini memasuki tahap penyelesaian instalasi equipment dan uji fungsi sebelum siap berlayar memperkuat armada TNI AL.

Dengan panjang 140 meter, kecepatan hingga 28 knot, serta kemampuan Multi-Mission untuk Anti Air Warfare, Anti Surface Warfare, dan Anti Submarine Warfare.

KRI Balaputradewa-322 hadir sebagai simbol kekuatan industri pertahanan nasional karya anak bangsa.

PT PAL Indonesia terus berkomitmen menghadirkan Alutsista unggulan untuk menjaga setiap jengkal kedaulatan NKRI.

  📝  PAL Indonesia 

Rabu, 20 Mei 2026

Perancis Beri Keuntungan ke Indonesia

 Lewat pesawat tempur Rafale T-03017 TNI AU (Swidersk Maciejka; fb)

Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai kehadiran pesawat tempur Rafale di jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI menjadi bukti kuatnya hubungan strategis antara Indonesia dan Prancis.

Transaksi persenjataan seperti ini hanya akan terjadi di antara dua negara yang harmonis dan telah banyak menjalankan kerja sama,” kata Hanif di Jakarta, Selasa.

Menurut Hanif, hubungan Indonesia dan Prancis berkembang signifikan, terutama sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan. Kedekatan diplomatik tersebut dinilai memberi sejumlah keuntungan strategis bagi Indonesia dalam pengadaan jet tempur produksi Dassault Aviation itu.

Salah satu keuntungan yang dinilai istimewa adalah peluang transfer teknologi serta pelibatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri dalam pengembangan Rafale. Tidak semua negara pembeli memperoleh kesempatan tersebut. India, misalnya, sebagai salah satu pembeli terbesar Rafale yang sangat antusias terhadap jet tempur itu, sempat diberitakan tidak mendapatkan akses penuh terhadap source code maupun teknologi sensitif Rafale.

Peluang transfer teknologi ini membuka ruang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional, termasuk dalam mendukung kebutuhan suku cadang, pemeliharaan, hingga pengembangan sistem pendukung pesawat tempur tersebut.

Selain itu, Prancis menunjukkan komitmen dalam mendukung peningkatan kapabilitas pertahanan Indonesia, mulai dari pemenuhan kebutuhan operasional TNI, pengembangan sumber daya manusia, hingga dukungan teknologi dan infrastruktur pertahanan,” ujar Hanif.

Ia menilai, sikap Prancis berbeda dengan sejumlah negara lain yang biasanya membatasi negara pembeli untuk mengembangkan ataupun memperluas pemanfaatan teknologi dari alutsista yang dibeli.

Dengan peluang tersebut, Hanif meyakini Indonesia memiliki kesempatan besar mempelajari kemajuan teknologi industri pertahanan Prancis sekaligus memperkuat kemandirian sektor pertahanan nasional.

Kesempatan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakses teknologi pertahanan yang lebih maju serta memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negeri,” katanya.

Sebelumnya, TNI AU baru saja menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan secara simbolis dilakukan Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, lalu diteruskan kepada Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).

Keenam pesawat tersebut akan ditempatkan di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Sementara itu, Indonesia masih menunggu kedatangan 36 unit Rafale lainnya yang saat ini masih dalam proses produksi di fasilitas Dassault Aviation di Prancis.

 Seberapa Besar Untung Indonesia?

Pesawat Rafale T 0304 kursi tandem terbaru TNI AU (Malin J)

Pembelian jet tempur Rafale dari Prancis dinilai bukan sekadar transaksi pembelian alutsista biasa, melainkan bagian dari investasi strategis jangka panjang untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional. Salah satu keuntungan terbesar yang diperoleh Indonesia adalah peluang transfer teknologi (transfer of technology/ToT) yang jarang diberikan secara luas oleh negara pemasok senjata modern.

Melalui kerja sama dengan Dassault Aviation dan industri pertahanan Prancis, Indonesia berkesempatan mempelajari berbagai aspek teknologi penerbangan militer modern, mulai dari sistem avionik, pemeliharaan mesin, integrasi persenjataan, hingga sistem elektronik tempur. Kesempatan tersebut dinilai sangat penting karena penguasaan teknologi pertahanan merupakan fondasi utama menuju kemandirian alutsista nasional.

Keuntungan lain yang dinilai strategis adalah terbukanya peluang bagi teknisi, pilot, dan
engineer Indonesia untuk mendapatkan pelatihan langsung dari pihak Prancis. Dengan keterlibatan sumber daya manusia nasional dalam proses pengoperasian dan pemeliharaan Rafale, kemampuan SDM pertahanan Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Tidak hanya itu, kerja sama Rafale juga membuka peluang pengembangan kemampuan
maintenance, repair, and overhaul (MRO) di dalam negeri. Jika kemampuan pemeliharaan dapat dilakukan secara mandiri di Indonesia, maka ketergantungan terhadap pihak luar akan berkurang, sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang TNI AU.

Dalam jangka panjang, efek pembelian Rafale diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan industri pertahanan nasional, baik dari sisi teknologi, kualitas SDM, maupun keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok industri militer modern. Dengan kata lain, keuntungan Indonesia dari Rafale bukan hanya mendapatkan jet tempur canggih, tetapi juga kesempatan mempercepat transformasi industri pertahanan menuju level yang lebih maju dan mandiri.

 Rivalitas Rafale vs F-15EX dan Jet Tempur Lainn


Sepasang Rafale TNI AU (Skuadron 12)

Masuknya Rafale ke jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU menempatkan Indonesia di tengah persaingan besar industri pertahanan global. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara produsen senjata modern berlomba menawarkan jet tempur generasi terbaru kepada Indonesia, mulai dari Rafale buatan Prancis, F-15EX dari Amerika Serikat, Gripen dari Swedia, hingga KF-21 hasil pengembangan Korea Selatan.

Secara kemampuan, masing-masing pesawat memiliki keunggulan berbeda. Rafale dikenal sebagai jet tempur multirole yang fleksibel dengan kemampuan tempur udara, serangan darat, hingga misi maritim dalam satu platform. Sementara F-15EX unggul dalam daya angkut persenjataan, jangkauan tempur, serta kekuatan mesin yang besar. Di sisi lain, Gripen menawarkan biaya operasional yang relatif lebih murah dan efisiensi pemeliharaan, sedangkan KF-21 dipandang sebagai proyek masa depan dengan teknologi generasi baru yang masih terus dikembangkan Korea Selatan.

Di tengah banyaknya pilihan tersebut, Indonesia akhirnya memilih Rafale karena dinilai mampu memenuhi kebutuhan operasional TNI AU sekaligus menawarkan keuntungan strategis di luar aspek militer semata. Prancis dianggap lebih fleksibel dalam kerja sama pertahanan, termasuk membuka peluang transfer teknologi, pelatihan sumber daya manusia, hingga keterlibatan industri pertahanan dalam negeri. Faktor inilah yang membuat Rafale tidak hanya dipandang sebagai pesawat tempur, tetapi juga instrumen penguatan industri pertahanan nasional.

Selain faktor teknis, pembelian alutsista modern juga tidak bisa dilepaskan dari aspek politik dan geopolitik. Dengan membeli Rafale, Indonesia dinilai sedang memperkuat hubungan strategis dengan Prancis dan Eropa, sekaligus menerapkan kebijakan diversifikasi alutsista agar tidak bergantung pada satu negara pemasok saja. Strategi tersebut penting untuk menjaga fleksibilitas diplomasi pertahanan Indonesia di tengah rivalitas global yang semakin kompleks.

Keputusan Indonesia membeli Rafale juga memperlihatkan bahwa persaingan industri pertahanan dunia kini bukan sekadar soal kualitas senjata, tetapi juga soal siapa yang mampu menawarkan kerja sama paling menguntungkan secara politik, teknologi, dan jangka panjang. Dalam konteks itu, Rafale dinilai memberi kombinasi antara kemampuan tempur modern dan peluang strategis bagi pengembangan kekuatan pertahanan nasional.

 Seberapa Canggih Jet Tempur Rafale?


Sepasang Rafale terbang di atas Bekasi (Skuadron 12)

Rafale dikenal sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia saat ini. Pesawat buatan Dassault Aviation, Prancis, tersebut banyak diminati berbagai negara karena memiliki kemampuan multirole atau mampu menjalankan banyak jenis misi dalam satu platform. Rafale dapat digunakan untuk pertempuran udara, serangan darat, pengintaian, hingga operasi maritim tanpa perlu perubahan besar pada konfigurasi pesawat.

Salah satu keunggulan utama Rafale terletak pada sistem radar dan teknologi elektroniknya. Jet ini dibekali radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang mampu mendeteksi banyak target sekaligus dalam jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi. Selain itu, Rafale memiliki sistem peperangan elektronik SPECTRA yang disebut sebagai salah satu sistem pertahanan elektronik terbaik di dunia karena mampu mendeteksi ancaman radar musuh, mengacaukan sistem lawan, hingga meningkatkan kemampuan bertahan pesawat di medan tempur.

Dalam pertempuran udara, Rafale mampu membawa berbagai jenis rudal modern untuk menghadapi pesawat musuh maupun ancaman jarak jauh. Sementara untuk misi serangan darat, jet ini dapat membawa bom pintar presisi tinggi yang efektif menghancurkan target strategis dengan tingkat akurasi tinggi. Kemampuan tersebut membuat Rafale dinilai fleksibel dan efektif digunakan dalam berbagai skenario operasi militer modern.

Keunggulan lain Rafale adalah kemampuannya menjalankan banyak misi secara bersamaan. Dalam satu penerbangan, pesawat ini bisa melakukan patroli udara, menyerang target darat, sekaligus melakukan pengintaian. Kemampuan inilah yang membuat banyak negara melihat Rafale sebagai jet tempur yang efisien dan bernilai strategis tinggi.

Dari sisi rekam jejak tempur, Rafale telah digunakan Prancis dalam berbagai operasi militer di Afghanistan, Libya, Mali, Irak, hingga Suriah. Pengalaman tempur tersebut menjadi nilai tambah penting karena menunjukkan bahwa Rafale bukan hanya unggul di atas kertas, tetapi juga telah teruji dalam berbagai konflik nyata dengan kondisi operasi yang kompleks. Faktor itulah yang membuat banyak negara, termasuk Indonesia, tertarik menjadikan Rafale sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udara mereka
.

 
Republika  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...