👷 Akan dirakit di Madiun
(Suara Surabaya)
TNI AU menerima dua unit pesawat latih tempur T-50i baru yang dikirim dari Korea Selatan. Pesawat tersebut tiba melalui kargo udara dan kini menjalani proses perakitan di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur.
Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, mengatakan kedatangan dua pesawat itu merupakan bagian dari paket pengadaan enam unit T-50i yang dibeli Kementerian Pertahanan dari Korea Selatan. Ia menegaskan, tahapan logistik kedatangan alutsista dilakukan secara terukur hingga siap dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara.
Dalam kesempatan yang sama, Rico merespons perbincangan warganet setelah sejumlah video pengiriman komponen pesawat viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan beberapa truk membawa bagian pesawat secara terpisah menuju lanud, dengan sejumlah komponen tampak tertutup kain berwarna hitam.
Rico menilai, metode pengiriman seperti yang terlihat pada video merupakan bagian dari prosedur yang lazim dan sudah sesuai standar. Menurutnya, proses pemindahan komponen pesawat menggunakan moda darat dilakukan dengan perhitungan keamanan, perlindungan material, serta ketentuan logistik yang berlaku.
Menurut dia, metode tersebut tidak akan menurunkan kualitas maupun fungsi pesawat saat telah dirakit dan siap digunakan. Ia meminta publik tidak menarik kesimpulan keliru hanya berdasarkan potongan visual di media sosial tanpa memahami mekanisme pengiriman alutsista.
“Kami tegaskan bahwa seluruh proses logistik dan pemindahan alutsista dilakukan melalui mekanisme resmi, aman, serta sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Rico seperti dilaporkan Antara, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, kedatangan dua unit T-50i ini menjadi penguatan tambahan bagi armada TNI AU. Rico menilai, pengadaan pesawat latih tempur tersebut akan berkontribusi terhadap kesiapan pertahanan udara Indonesia, termasuk dalam mendukung kebutuhan latihan dan pembinaan kemampuan personel.
Dengan masuknya dua unit terbaru ini, Kemhan memastikan tahapan berikutnya berjalan sesuai rencana hingga seluruh pesawat dalam paket pengadaan dapat diterima dan digunakan. Rico juga menekankan bahwa proses perakitan di Lanud Iswahjudi menjadi bagian krusial sebelum pesawat dapat difungsikan secara penuh.
Ia menyampaikan, penguatan alutsista bukan semata soal kedatangan unit baru, tetapi juga soal kepastian prosedur, keselamatan, dan kepatuhan pada standar agar setiap platform yang diterima dapat bekerja optimal sesuai perannya. Rico menutup penjelasannya dengan menyatakan kehadiran dua unit T-50i diharapkan menambah daya dukung TNI AU dalam menjaga kesiapsiagaan pertahanan udara nasional. (ant/iss)
Bisa pantau dasar laut hingga 11 ribu meter
KRI Canopus 936 hasil kolaborasi Indonesia Jerman. (Fasssmer)
Indonesia resmi menambah kekuatan maritimnya dengan kehadiran kapal riset canggih KRI Canopus-936, yang diluncurkan dan diserahterimakan di galangan Abeking dan Rasmussen, Bremen, Jerman, pada Kamis, 12 Februari 2026. Kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) berteknologi tinggi ini menjadi simbol nyata modernisasi pertahanan Indonesia, sekaligus tonggak penting kolaborasi strategis Indonesia–Jerman.
KRI Canopus-936 menghadirkan kemampuan riset kelautan yang belum dimiliki Indonesia. Dengan teknologi sensor bawah laut mutakhir, kapal ini mampu memetakan dasar laut hingga kedalaman 11.000 meter, menembus palung terdalam samudera. Kapal ini juga dilengkapi Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dan Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk misi pengumpulan data di area ekstrem yang sulit dijangkau manusia.
Selain kemampuan riset, kapal sepanjang 105 meter ini dirancang untuk operasi jarak jauh dan mampu berlayar hingga 60 hari nonstop, menjadikannya aset strategis dalam menjaga keamanan navigasi, perlindungan lingkungan laut, hingga mendukung strategi pertahanan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani, menegaskan KRI Canopus-936 bukan sekadar kapal riset, tetapi pusat integrasi data kelautan nasional yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim besar.
“KRI Canopus-936 adalah lompatan besar bagi Indonesia. Kapal ini bukan hanya memperkuat kapasitas TNI AL, tetapi juga membuka era baru kemandirian data kelautan Indonesia. Kolaborasi Indonesia–Jerman dalam proyek ini menunjukkan bahwa kemitraan strategis dapat menghasilkan inovasi nyata bagi keamanan dan masa depan bangsa,” ujar Abdul Kadir, dalam keterangannya, Kamis, 12 Februari 2026.
Pembangunan kapal ini berlangsung selama 36 bulan melalui kerja sama erat antara PT Palindo Marine (Indonesia) dan Abeking & Rasmussen (Jerman). Proyek ini tidak hanya menghasilkan kapal berteknologi tinggi, tetapi memastikan terjadinya transfer teknologi yang memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional.
KRI Canopus-936 memiliki nilai strategis berupa penguatan kapasitas dan kesiapan pertahanan TNI AL, peningkatan kemandirian industri pertahanan melalui alih teknologi dan peningkatan kapasitas SDM, serta pendalaman kerja sama strategis Indonesia–Jerman di bidang maritim dan teknologi.
Tingginya nilai strategis kapal ini tercermin dari kehadiran Wakil Kepala Staf Angkatan Laut RI dalam upacara serah terima, yang didampingi jajaran Kementerian Pertahanan RI, serta perwakilan tinggi Angkatan Laut dan Badan Hidrografi Jerman.
KRI Canopus-936 kini siap memperkuat kemampuan Indonesia dalam memahami, menjaga, dan mengelola ruang lautnya secara mandiri. Ini sebuah langkah penting menuju masa depan maritim yang lebih kuat dan berdaulat.
Untuk modernisasi alutsista di 2026
(Defend.id)
PT Len Industri (Persero)/ Defend ID, holding BUMN industri pertahanan memproyeksikan menyerap Rp 30 triliun di tahun 2026 untuk pengembangan alat utama sistem senjata (Alutista).
Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar Rp 337 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah postur fiskal Indonesia.
Direktur Utama PT Len Industri, Joga Dharma Setiawan mengatakan sebagian dari anggaran tersebut akan digunakan untuk modernisasi alutsista, peningkatan kapasitas fasilitas pendukung produksi, research & inovation, dan skema spend to invest untuk kemandirian industri pertahanan.
Dia menyebut bahwa anggaran modernisasi alutsista 2026 berada dalam kerangka Kementerian Pertahanan yang telah disetujui Rp 187,1 triliun dengan arahan pemanfaatan untuk modernisasi alutsista, penguatan organisasi, personel, serta dukungan industri nasional.
"Dalam konteks modernisasi alutsista Defend ID menargetkan kurang lebih Rp30 triliun di tahun 2026," katanya kepada Bisnis, Rabu (11/2/2026).
Di sisi lain, dalam rapat bersama Komisi VI, Joga membahas mengenai kinerja operasional dan keuangan BUMN industri pertahanan, rencana kerja dan roadmap industri pertahanan, riset dan pengembangan, serta kolaborasi antar ekosistem industri pertahanan.
Joga menjelaskan bahwa Defend ID akan memanfaatkan 30% dari anggaran tersebut yang digunakan untuk pengembangan peralatan dan investasi.
"Mungkin Defend ID di 30-an persen gitu. Tapi itu bukan untuk peralatan semuanya, ya. Itu termasuk untuk investasi," tuturnya.
Joga menegaskan akan menggunakan komponen dalam negeri agar menekan ketergantungan produk luar negeri atau impor. Nantinya Defend ID menunjang sekitar 60%-70% kebutuhan Kementerian Pertahanan.
"Jadi memang kita harus buat sendiri. Jadi tadi didukung kita memang harus buat sendiri. Misalnya untuk amunisi, propelannya harus kita buat sendiri," terangnya.
Joga menyampaikan guna memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri, Defend ID merencanakan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara intens.
Sebab, kata Joga, BRIN juga fokus melakukan riset di sektor pertahanan, tidak hanya di bidang energi hingga kesehatan.
"Strategi ke depannya kita harus lebih komprehensif pengembangan sumber daya manusia dan lebih banyak kolaborasi dengan BRIN. Karena BRIN sekarang mendukung kuat untuk preset-presetnya untuk pengembangan industri pertahanan," tandasnya..
Untuk gabung pasukan ISF di Gaza Palestina
Kapal BRS TNI AL (Dispenal)
Keberadaan pasukan TNI dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza, Palestina, akan diperkuat satu unit kapal bantu rumah sakit milik TNI AL.
Selain itu, Angkatan Laut Indonesia juga sudah bersiap mengirim pasukan bila dibutuhkan. Jumlahnya menyesuaikan dengan perintah Presiden Prabowo Subianto.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa secara keseluruhan instansinya memiliki tiga unit kapal bantu rumah sakit. Satu di antaranya bakal dikirim ke Gaza.
Namun, Ali belum menyebut secara jelas kapal rumah sakit yang akan dikirim.
”Jadi, kami akan mengirimkan kapal rumah sakit, yang jelas sementara yang masih didaftarkan satu (kapal). Tapi, mungkin bisa jadi lebih dari satu,” kata Ali usai meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Markas Komando Puspomal, Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut) pada Kamis (12/2).
Karena itu, selain satu kapal bantu rumah sakit yang didaftarkan, TNI AL juga menyiapkan satu unit kapal cadangan.
Ali memastikan seluruh kapal tersebut dalam keadaan siap untuk melaksanakan operasi di Gaza.
Selain kapal, TNI AL juga menyiapkan pasukan. Sejauh ini pasukan dari batalyon zeni dan batalyon kesehatan Korps Marinir yang sudah siap.
”Kemudian dari batalyon kesehatan lapangannya Marinir, batalyon zeni-nya Marinir, kemudian dari pendukung-pendukung kesehatan dari TNI AL. Itu yang kami siapkan,” ucap Ali.
Berkaitan dengan jumlah, orang nomor satu di TNI AL itu menunggu keputusan dari pemerintah. Persisnya perintah dari Presiden Prabowo Subianto.
Prinsipnya, Angkatan Laut siap mengirimkan pasukan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh negara.
”Sebenarnya sudah disiapkan sejak lama. Begitu presiden menyampaikan akan mengirim 20 ribu (pasukan) pada saat itu, kami sudah menyiapkan. Jadi, kalau (sekarang) ini jumlahnya lebih kecil, kami mungkin lebih siap untuk mengirimkan,” tegasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia memastikan pasukan TNI tidak akan melucuti Hamas atau pihak tertentu selama menjalankan misi di Gaza, Palestina.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan fokus prajurit TNI yang nantinya tergabung dalam ISF adalah menjaga stabilitas Gaza dan melaksanakan misi kemanusiaan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas dan Infohan) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyampaikan hal itu saat dikonfirmasi pada Rabu (11/2).
Menurut dia, pemberitaan yang menyebut bahwa pasukan TNI akan dilibatkan untuk melucuti Hamas di Gaza tidak benar.
”Terkait pemberitaan tersebut, dapat kami tegaskan bahwa fokus perencanaan Indonesia dalam kerangka dukungan stabilisasi dan kemanusiaan di Gaza adalah unsur rekonstruksi serta pelayanan kesehatan dan medis,” ungkap Rico.
Jenderal bintang satu TNI AD itu menyampaikan bahwa narasi yang menyatakan pasukan TNI akan dilibatkan untuk melucuti Hamas tidak sesuai dengan fokus personel yang disiapkan oleh Pemerintah Indonesia.
”Narasi bahwa pasukan Indonesia akan dilibatkan untuk melucuti pihak tertentu atau menjalankan disarmament seperti yang disebut dalam pemberitaan, tidak sesuai dengan fokus yang disiapkan Indonesia. Indonesia hadir untuk mendukung perdamaian dan kemanusiaan, bukan untuk memerangi atau berhadapan dengan pihak yang bertikai,” jelasnya.
Meski Indonesia sudah bergabung dalam Board of Peace (BoP) dan menyatakan niat secara terbuka untuk mengirimkan pasukan TNI ke Gaza, sampai saat ini belum ada keputusan final berkaitan dengan komposisi prajurit yang bakal diberangkatkan. Indonesia sebagai bagian dari BoP masih menunggu mandat.
”Hal-hal yang bersifat operasional, termasuk komposisi akhir unsur yang dikerahkan, tetap menunggu kejelasan mandat internasional, aturan misi, serta keputusan resmi pemerintah. Namun prinsipnya, kontribusi Indonesia akan tetap berada dalam koridor stabilisasi, rekonstruksi, dan pelayanan kesehatan,” terang dia.
Dalam keterangan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto di DPR kemarin (10/2), Indonesia disebut akan mengirim 600 pasukan ke Gaza. Namun, beberapa pihak di DPR dan pemerintahan telah menyampaikan bahwa pasukan yang disiapkan sebanyak 8.000 orang.
Menurut Rico, angka personel TNI yang disiapkan dan dikirim ke Gaza memang merujuk pada beberapa skenario.
Prinsipnya, TNI siap dikerahkan dalam jumlah yang nantinya diputuskan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Angka awal sebanyak 600 pasukan yang disampaikan Wamenhan adalah personel untuk tahap awal.
”Sementara 600 (pasukan) yang pernah disampaikan dapat dipahami sebagai tahap awal atau gelombang awal atau kebutuhan awal sesuai desain misi. Namun, sekali lagi angka pasti dan tahapannya belum ditetapkan karena masih menunggu kejelasan mandat internasional dan keputusan resmi pemerintah dan presiden,” ujarnya.
👷 Setelah menjalani proses pemeliharaan
(Depohar 30)
Pesawat EMB-314 Super Tucano dengan nomor registrasi TT-3116 resmi diserahkan kepada Skadron Udara 21 dalam sebuah upacara sederhana yang berlangsung di Sathar 32 Depohar 30, Lanud Abd. Saleh, Malang, Jumat (13/02/2026).
Penyerahan dilakukan oleh Kadisbin Depohar 30 Letkol Tek Angga Bayu Hapsara, S.T., M.Han. Setelah pesawat tersebut berhasil melewati serangkaian proses pemeliharaan intensif dan uji terbang yang ketat.
"Penyerahan pesawat Super Tucano TT-3116 merupakan hasil kerja keras dan profesionalisme tim. Pesawat ini diharapkan menjadi aset strategis yang mampu mendukung berbagai operasi udara demi menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia," ujarnya.
Pesawat EMB-314 Super Tucano dikenal sebagai pesawat tempur turboprop yang handal dan multifungsi. Tidak hanya unggul dalam misi tempur, pesawat ini juga kerap digunakan dalam pelatihan. Dengan kecepatan, efisiensi bahan bakar, dan daya tempur yang mumpuni, Super Tucano menjadi salah satu elemen penting dalam kekuatan udara TNI AU.
Dengan tambahan pesawat Super Tucano TT-3116 ini, Skadron Udara 21 semakin siap untuk menjaga stabilitas dan keamanan wilayah udara, khususnya di area Lanud Abd. Saleh dan sekitarnya. Kehadiran pesawat ini memberikan optimisme baru bagi personel Skadron 21 dalam menghadapi tantangan operasional di masa mendatang.
KRI Canopus saat uji coba laut. (Foto Fassmer)
Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) meresmikan KRI Canopus (936) dalam sebuah upacara yang diadakan pada 12 Februari di fasilitas galangan kapal Abeking & Rasmussen di Lemwerder, Jerman. Acara tersebut juga menggabungkan penyerahan kapal dan upacara penamaan.
Secara resmi memasuki dinas aktif, kapal sepanjang 105 meter ini kini menjadi kapal survei terbesar TNI AL, menggantikan KRI Dewa Kembar (932), bekas kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Hydra (A144) yang ikut serta dalam Perang Falkland sebagai kapal rumah sakit.
KRI Canopus berada di bawah komando Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), yang bermarkas di Jakarta. Menurut Pushidrosal, kapal ini akan melaksanakan berbagai misi, terutama survei dan penelitian hidrografi, oseanografi, geofisika, dan meteorologi. Selain itu, kapal ini dapat mendukung misi pencarian dan penyelamatan (SAR), patroli maritim, tugas-tugas terkait peperangan ranjau, dan upaya perlindungan lingkungan maritim.
Angkatan Laut Indonesia memperkirakan kapal tersebut akan tiba di Indonesia pada pertengahan April atau Mei.
Latar Belakang Proyek
KRI Canopus 936 (Foto Abeking & Rasmussen)
Peresmian KRI Canopus menandai puncak kolaborasi industri selama bertahun-tahun antara pembuat kapal Indonesia dan Jerman. Seperti yang dilaporkan Naval News pada bulan November, kapal tersebut dibangun oleh galangan kapal PT Palindo Marine di Batam, Indonesia.
Setelah penyelesaian lambung di Indonesia, kapal tersebut diangkut pada tahun 2024 dengan kapal pengangkut muatan berat ke Jerman untuk pemasangan akhir dan integrasi sistem serta uji coba laut di fasilitas Abeking & Rasmussen di Lemwerder.
Proyek ini mencerminkan kolaborasi terstruktur di mana lambung yang telah dilengkapi sebelumnya dibangun di dalam negeri sebelum menjalani pemasangan lanjutan di luar negeri.
Spesifikasi KRI Canopus 936 :
⍟ Panjang: 105 meter
⍟ Bobot: Sekitar 3.400 ton
⍟ Kecepatan Maksimum: 16 knot
⍟ Daya Tahan: 60 hari
⍟ Kapasitas: 90 personel
⍟ Persenjataan: Meriam 20 mm dan senapan mesin 12,7 mm
⍟ Kapasitas Muatan Tambahan: 200 ton
⍟ Dek Penerbangan: Mampu menampung 1 helikopter hingga MTOW 12 ton.
Ditargetkan KSAL tiba sebelum HUT TNI
Indonesia minati kapal ITS Giuseppe Garibaldi, dapat hibah dan diharapkan tiba sebelum HUT TNI. (Marina militare)
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Indonesia direncanakan mendapatkan kapal induk pertama yakni Giuseppe Garibaldi secara hibah dari pemerintah Italia.
Kapal buatan galangan asal Italia, Fincantieri itu sebelumnya telah dipakai untuk mendukung kekuatan angkatan laut Italia.
Rico melanjutkan, penerimaan secara hibah itu tidak berarti membuat Kementerian Pertahanan tidak mengeluarkan uang sepeserpun.
"Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia. Anggaran yang disiapkan pemerintah Indonesia dialokasikan untuk kebutuhan retrofit atau penyesuaian agar sesuai kebutuhan operasi TNI AL," kata Rico saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Hingga saat ini, proses negoisasi dan administrasi masih berlangsung antara Kementerian Pertahanan RI dan pihak Italia.
Setelah proses negoisasi dan kelengkapan administrasi selesai, barulah TNI AL akan melakukan penyesuaian teknologi kapal induk agar sesuai dengan kebutuhan TNI.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal induk pertama milik Indonesia buatan Italia, Giuseppe Garibaldi ditargetkan tiba di Indonesia sebelum HUT TNI yakni 5 Oktober 2026.
"Untuk Garibaldi, masih dalam proses ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI," kata Ali saat jumpa pers di Markas Pus Pom AL, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Ali menjelaskan hingga saat ini pemerintah melalui Kementerian Pertahanan masih melakukan negoisasi dengan galang kapal Italia Fincantieri selaku pihak yang memproduksi Garibaldi.
Dia melanjutkan, negoisasi antara Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut Italia selaku pihak yang sebelumnya menggunakan kapal tersebut hingga saat ini juga masih berlangsung.
Untuk diketahui, kapal induk ini memiliki kesamaan dengan dua KRI baru milik TNI AL yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yakni sama sama dibuat oleh perusahaan asal Italia Fincantieri.
Kapal induk dengan panjang 180,2 meter ini dilengkapi dengan mesin penggerak super yang dapat menggerakkan kapal dengan kecepatan 30 knot atau 56 kilometer per jam.
Kapal pengangkut pesawat tempur ini juga dilengkapi beberapa radar jamming hingga senjata seperti peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow / Selenia Aspide , Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, 324 mm tabung torpedo rangkap tiga dan Otomat Mk 2 SSM.
Opini by Sandy Juda Pratama
Kapal induk ringan Guiseppe Garibaldi, di targetkan akan tiba di Indonesia. (Fincantieri)
Fragmentasi tatanan global dan kompetisi geopolitik yang semakin memanas telah menciptakan berbagai tantangan yang kompleks. Indonesia dituntut untuk adaptif dan tidak lagi berorientasi ke dalam, tetapi juga keluar atau outward looking.
Dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PTTM) pada 14 Januari 2025, Menteri Luar Negeri Sugiono memperkenalkan doktrin dynamic resilience atau ketahanan dinamis. Doktrin kebijakan luar negeri tersebut didesain untuk mempertahankan kelincahan dalam menavigasi kondisi global yang tidak menentu, sembari menjaga daya tawar Indonesia dan melindungi WNI di luar negeri.
Pernyataan Menlu Sugiono menunjukkan adanya sinergi dan kebutuhan yang semakin jelas antara kebijakan luar negeri dan kebijakan pertahanan. Dalam hal ini, kekuatan militer-terutama TNI AL-menjadi pondasi penting dalam upaya diplomatik.
UU Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI mengamanatkan tugas kepada TNI AL untuk menjalankan diplomasi maritim sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan politik luar negeri negara. TNI AL diarahkan sebagai kekuatan yang bersifat damai dan bukan semata-mata untuk proyeksi kekuatan atau power projection.
Hal tersebut terlihat dari berbagai operasi TNI AL di luar negeri. Misalnya selama 16 tahun terakhir sejak 2009, TNI AL secara konsisten mengirimkan kapal perang ke Lebanon dalam misi Maritime Task Force UNIFIL. Penugasan tersebut baru berakhir pada 5 Januari lalu menyusul keputusan Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri mandat UNIFIL pada 31 Desember 2026.
Selain itu, pada 18 Januari 2024, Indonesia mengirimkan kapal rumah sakit KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat ke Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. TNI AL bahkan dilaporkan siap mengerahkan ketiga kapal rumah sakitnya untuk misi penjaga perdamaian di Gaza, sembari menunggu mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB.
Sejalan dengan komitmen kemanusiaan tersebut, kerja sama pertahanan juga menunjukkan peningkatan signifikan sejak tahun 2019. Latihan bersama dengan angkatan laut negara-negara sahabat terus meningkat.
Latihan bersama secara khusus menjadi instrumen penting dalam membangun kepercayaan strategis dengan mitra regional maupun global-seperti India, Pakistan, Amerika Serikat, Jepang, Prancis, China, hingga Rusia. Modal kepercayaan seperti ini menjadi sangat berharga di tengah ketidakpastian global seperti saat ini.
Meski aktif mendukung kebijakan luar negeri Indonesia, kapabilitas TNI AL selama ini masih dikategorikan sebagai green-water navy. Artinya, kekuatan laut Indonesia lebih dioptimalkan untuk operasi di wilayah pesisir dan perairan teritorial, dengan kemampuan terbatas untuk beroperasi di laut lepas.
KRI BPD 322, FMP pertama produksi PAL Indonesia kerjasama dengan Babcock (PAL)
Kondisi ini tidak terlepas dari arah pembangunan postur kekuatan sejak 2010 yang berlandaskan pada Minimum Essential Force (MEF). MEF dirancang untuk membangun kekuatan laut green-water yang kredibel melalui kombinasi unsur kapal patroli pesisir, kekuatan pemukul, dan dukungan logistik.
Ketika MEF secara formal berakhir pada 2024, program ini menghasilkan peningkatan kualitatif yang signifikan pada kemampuan green-water TNI AL. Data dari IISS Military Balance+ menunjukkan jumlah kapal patroli dan kapal cepat rudal meningkat hampir tiga kali lipat, dari 37 unit pada 2010 menjadi 115 unit pada tahun 2025.
Jumlah kapal selam juga meningkat dua kali lipat, dari dua menjadi empat unit. Sementara itu, jumlah Landing Platform Dock (LPD) dan kapal rumah sakit naik dari tiga menjadi tujuh unit dalam periode yang sama.
Namun demikian, data yang sama menunjukkan bahwa jumlah kapal korvet dan fregat relatif stagnan dalam 15 tahun terakhir. Pada 2010 Indonesia memiliki 23 korvet dan enam fregat, dan angka tersebut tidak banyak berubah pada 2025.
Laju pembangunan kapal kombatan utama yang mampu beroperasi di laut lepas selama program MEF belum sepenuhnya mampu mengimbangi kapal-kapal tua yang sudah purna tugas. Alasannya klasik, yaitu keterbatasan anggaran.
Sejak awal, MEF dirancang dengan pendekatan kapabilitas dengan kondisi ekonomi nasional. Belanja pertahanan dijaga pada kisaran 0,7%-1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) agar tidak membebani ruang fiskal secara berlebihan.
Asumsinya, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai sekitar 7 persen per tahun akan seiring waktu memperbesar anggaran pertahanan. Namun dalam kenyataannya, rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 5% dalam 15 tahun terakhir. Ruang fiskal yang lebih sempit dari perkiraan tersebut pada akhirnya membatasi anggaran pertahanan dan berkontribusi pada tidak tercapainya target kuantitatif MEF secara penuh.
Untuk menjawab berbagai keterbatasan tersebut, peningkatan kemampuan pertahanan Indonesia kini menjadi prioritas di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program modernisasi selanjutnya adalah Optimum Essential Forces (OEF), yang merupakan pengembangan dari master plan Perisai Trisula Nusantara-dirumuskan saat Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan (2019-2024).
Rencana ini lebih ambisius, dengan penekanan pada operasi militer multi-domain, network-centric operations, dan ditargetkan tercapai 100% pada tahun 2029. Dukungan anggaran pun meningkat signifikan.
MPCS KRI PBS 321, akan tiba bulan April perkuat TNI AL (Dispenal)
Belanja pertahanan kini mencapai Rp 335 triliun (sekitar US$ 20 miliar) atau sekitar 1,3% dari PDB. Skema pembiayaan pun menjadi lebih fleksibel karena membuka peluang pengadaan melalui pinjaman luar negeri penuh tanpa dukungan rupiah murni pendamping (RMP). Sehingga kondisi ini memperluas opsi pengadaan dan meningkatkan fleksibilitas pengambilan keputusan.
Seiring momentum tersebut, TNI AL secara bertahap berevolusi dari postur green-water navy menuju kapabilitas blue-water secara selektif dan mampu beroperasi jauh dari rumah secara efektif. Program pengadaan dan peningkatan berbagai kapal mencerminkan sebuah lompatan dalam daya jangkau dan kemampuan operasional.
Di antaranya adalah pengadaan kapal kombatan permukaan modern berukuran besar seperti Multipurpose Offshore Patrol Vessel dari Fincantieri, Italia, serta program mid-life upgrade fregat eksisting dengan sistem manajemen tempur, sensor, dan kemampuan persenjataan terbaru. Peluncuran fregat Merah Putih serta rencana pembangunan kapal selam Scorpene Evolved juga semakin memperkuat kemampuan Indonesia untuk beroperasi jauh di luar perairan teritorialnya.
Meski demikian, pertanyaannya adalah apakah peningkatan tersebut cukup untuk menjawab perluasan misi sekaligus mengamankan luasnya domain maritim Indonesia. Di dalam negeri, praktik penangkapan ikan ilegal, perompakan, penyelundupan, hingga aktivitas grey-zone di Laut Natuna Utara masih menjadi ancaman nyata hingga saat ini.
Di sisi lain, kebutuhan untuk melindungi warga negara di luar negeri, mengamankan jalur komunikasi laut atau sea lines of communication (SLOC), serta melindungi sumber daya lepas pantai dan infrastruktur kritis di bawah laut menegaskan besarnya risiko yang tak bisa diabaikan.
Terakhir, kemampuan untuk memberikan efek tangkal terhadap potensi lawan sekaligus mempertahankan kepentingan kedaulatan Jakarta merupakan pilar tak terpisahkan dari keamanan Indonesia di era penuh ketidakpastian ini.
Diskursus publik pun mulai mengemuka, termasuk mengenai kebutuhan pengadaan kapal kombatan berteknologi tinggi dan kapal selam tambahan-seperti Scorpene Evolved-perluasan kemitraan dengan mitra luar negeri yang kredibel, bahkan wacana untuk mengoperasikan kapal induk. Semua ini mencerminkan upaya TNI AL untuk menguji batas atas ambisi maritim Indonesia.
Pada akhirnya, kebijakan luar negeri Presiden Prabowo yang semakin aktif dan berorientasi keluar mencerminkan aspirasi Indonesia untuk terlibat secara konstruktif di panggung global. Konsekuensinya, wajar apabila Indonesia secara bertahap melampaui lingkup strategis tradisionalnya.
Dalam konteks tersebut, evolusi TNI AL menuju blue-water adalah keniscayaan, terutama karena ia menjadi bagian dari instrumen diplomasi. Namun, sebesar apa pun ambisinya, transformasi tersebut harus ditopang oleh perencanaan yang matang dan disiplin implementasi. Tanpa itu, peningkatan postur hanya akan simbolisme belaka-tanpa memiliki daya gentar dan pengaruh yang nyata. (miq/miq)
KRI Canopus 936 direncanakan hadir tahun ini berserta kapal selam rescue (A&R)
TNI AL melaksanakan Rapat Pimpinan (Rapim) 2026 di Mabes TNI AL (Mabesal), Cilangkap, Jakarta Timur (Jaktim) pada Rabu (11/2), yang salah satunya membahas alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Dalam rapim tersebut turut dibahas mengenai fokus Angkatan Laut tahun ini adalah pengadaan alutsista, khususnya memperbanyak kapal-kapal buatan dalam negeri.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa dalam rapim yang membahas alutsista tersebut hadir 147 perwira tinggi (pati) TNI AL.
Baik yang bertugas di Jakarta maupun daerah lainnya. Mereka akan menjabarkan arahan dari Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, serta Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
”Prioritas ke depan untuk TNI Angkatan Laut masih tetap di bidang alutsista. Karena Angkatan Laut itu ada karena ada kapal, kalau nggak ada kapal bukan Angkatan Laut namanya,” kata Ali kepada awak media.
Penambahan alutsista berupa kapal masih sangat diperlukan oleh TNI AL, mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia yang perlu diawasi.
KRI LRK 392, satu dari dua unit OPV produksi DRU akan diresmikan secepatnya. (Agus Triwahyudi)
”Jadi, penambahan kapal akan tetap dilaksanakan. Penambahan kapal ini dilaksanakan di industri galangan dalam negeri maupun luar negeri,” lanjut Ali.
Khusus kapal buatan dalam negeri, Ali menyampaikan bahwa pihaknya concern memberikan dukungan kepada galangan-galangan lokal.
Tujuannya agar industri pertahanan (inhan) bidang perkapalan terus berkembang. Sehingga nantinya mereka semakin mandiri dan mampu memproduksi kapal dengan kualitas yang lebih baik.
”Untuk beberapa kapal yang kita bisa bangun di dalam negeri, kita bangun di dalam negeri. Dan untuk yang belum bisa kita bangun sendiri, kita bangun di luar negeri tapi ada kerja sama transfer of technology, transfer of knowledge, dan nantinya kedepan diharapkan semua bisa dibangun di dalam negeri,” terang Laksamana Ali.
Meski ada beberapa kapal yang belum bisa diproduksi oleh galangan dalam negeri, Ali optimistis ke depan akan semakin banyak kapal yang diproduksi oleh perusahaan lokal.
Untuk itu, pengadaan kapal-kapal dari luar negeri disertai dengan transfer teknologi dan pengetahuan. Harapannya perusahaan lokal bisa belajar dari perusahaan dari luar negeri.
”Dan dari pihak luar juga bersedia untuk membangun di dalam negeri dengan bantuan mereka untuk awalnya, kemudian terakhirnya nanti kita bisa bangun sendiri dan 100 persen TKDN-nya dibangun oleh putra-putri terbaik dari bangsa ini,” kata orang nomor satu di TNI AL.
Bahas Pertahanan hingga KTT D8
KSAU Pakistan Air Chief Marshal Zaheer Ahmed Babar Sidhu menemui Presiden Prabowo di Istana. (Foto: Rolando/detikcom)
Dubes Pakistan untuk RI Zahid Hafeez Chaudhri mengungkapkan isi pertemuan Chief of the Air Staff Pakistan Air Force (CAS PAF) atau KSAU Pakistan Marshal Zaheer Ahmed Babar Sidhu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta. Pertemuan membahas penguatan kerja sama, termasuk di sektor pertahanan.
"Secara historis, kita telah menikmati hubungan bilateral yang sangat baik. Dan saya sangat senang mengatakan bahwa hubungan antara kedua bangsa kita ini telah ada bahkan sebelum kemerdekaan kedua negara kita," kata Chaudhri di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Chaudhri mengenang peristiwa pada 1942 tentang tentara muslim datang, meninggalkan harta keluarga untuk bergabung ke Indonesia dalam perjuangan melawan penjajahan kolonial.
"Kedua negara kita selalu bekerja sama di berbagai bidang, termasuk kerja sama sektor pertahanan, kerja sama keamanan, kerja sama sektor kesehatan, kerja sama pendidikan, kerja sama perdagangan dan investasi, kerja sama budaya. Dan kita menantikan era baru hubungan Pakistan-Indonesia," ujarnya.
Chaudhri kemudian mengulas, pada bulan lalu, ketika Prabowo mengunjungi Pakistan, yang menurutnya mengubah total hubungan bilateral yang sudah sangat baik. Selanjutnya, Menteri Pertahanan Indonesia mengunjungi Pakistan dua kali selama beberapa bulan terakhir.
Kemudian Menteri Investasi Indonesia dan CEO Danantara berada di Pakistan beberapa hari yang lalu. Sementara Menteri Kesehatan Pakistan berada di Jakarta beberapa minggu yang lalu. Rencananya segera diadakan pertemuan tingkat tinggi lainnya antara Pakistan dan Indonesia.
"Karena Indonesia dan Pakistan, bersama-sama, kita mencakup lebih dari seperempat dari seluruh populasi muslim di dunia," ujar Chaudhri.
"Oleh karena itu, sangat penting bagi kedua negara kita untuk bekerja sama secara bilateral, serta melalui semua platform yang tersedia, termasuk platform PBB, OKI, D8, ASEAN. Jadi kami berharap dapat semakin memperkuat kerja sama kami dengan Indonesia," sambungnya.
Chaudhri kemudian menjelaskan kembali soal pertemuan Sidhu dengan Prabowo. Chaudhri menegaskan kerja sama di segala bidang termasuk sektor pertahanan.
"Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Pakistan dan Indonesia memiliki kerja sama yang sangat baik di semua bidang, termasuk kerja sama sektor pertahanan. Kami telah melatih perwira Angkatan Bersenjata Indonesia dan kami akan terus meningkatkan kerja sama sektor pertahanan bilateral kami," sebutnya.
Apakah kerja sama pembelian alutsista seperti jet tempur dibahas Prabowo, Chaudhri menilai kerja sama pertahanan dibahas menyeluruh. "Kita telah membahas seluruh cakupan kerja sama sektor pertahanan, kerja sama sektor pertahanan yang sangat komprehensif, harus saya katakan," tegasnya.
Selanjutnya, Chaudhri membahas soal Pakistan dan Indonesia yang tergabung dalam D8. Pakistan menaruh harapan besar pada kepemimpinan Indonesia dalam organisasi tersebut.
"Dan kami berharap dapat bekerja sama dengan Indonesia untuk keberhasilan KTT mendatang di Indonesia, tetapi juga untuk keberhasilan D8 sebagai organisasi kerja sama di antara delapan negara berkembang," imbuhnya. (rfs/eva)
Ditargetkan tiba di tanah air sebelum HUT TNI 2026
Kapal induk ringan Giuseppe Garibaldi, diberitakan media Italia akan diberangkatkan ke Indonesia dengan kru dari Italia. (Navi Miltari Italiane)
Walau masih negosiasi, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali optimistis kapal induk pertama untuk TNI AL tiba di Indonesia sebelum peringatan HUT TNI tahun ini.
Kapal induk yang dia maksud adalah eks armada tempur Angkatan Laut Italia. Yakni Giuseppe Garibaldi.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Ali usai meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Markas Komando Puspomal, Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut) pada Kamis (12/2). Menurut dia, pengadaan kapal induk tersebut masih dalam proses.
”Kemudian untuk (Kapal Induk Giuseppe) Garibaldi, masih dalam proses ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” ucap Ali.
Menurut Ali, negosiasi pengadaan kapal induk tersebut dilakukan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama TNI AL dengan Angkatan Laut Indonesia dan Fincantieri sebagai pabrikan kapal induk tersebut.
Keinginan kuat Indonesia mendatangkan kapal induk sejalan dengan visi menjadi TNI AL sebagai blue water navy.
”Jadi, masih proses negosiasi antara TNI AL dengan Angkatan Laut Italia dengan Fincantieri, dan Kemhan,” ungkap dia.
Sebelumnya, Indonesia sudah membeli dua unit kapal perang baru dari Italia. Yakni KRI Prabu Siliwang-321 dan KRI Brawijaya-320. Kedua kapal tersebut juga dibeli dari Fincantieri.
KRI Prabu Siliwangi 321 (PBS) diberitakan telah berangkat ke Indonesia (Fincantieri)
KRI Brawijaya-320 sudah berada di Indonesia. Sementara KRI Prabu Siliwangi-321 akan menyusul pada awal April mendatang.
”KRI Prabu Siliwangi sudah berangkat kemarin ya (11/2). Karena melalui jalur Afrika, mengelilingi Afrika, jadi mungkin sampai di Indonesia awal April. Mudah-mudahan bisa langsung bergabung dengan jajaran (TNI AL),” jelasnya.
Dalam keterangan resmi TNI AL, KRI Prabu Siliwangi-321 memulai pelayaran dari Dermaga Base Navale Della Spezia, Italia. Di bawah komando Kolonel Laut (P) Kurniawan Koes Atmadja, kapal tersebut dilepas dengan penuh kehormatan dalam seremoni yang dihadiri sejumlah pejabat.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia untuk Italia dan Vatikan Junimart Girsang adalah salah seorang petinggi negara yang melepas langsung pelayaran kapal tersebut.
Selain itu, Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Laksma TNI Sumarji Bimoaji juga turut serta dalam seremoni itu.
Kehadiran para pejabat tinggi tersebut menegaskan dukungan penuh Pemerintah Indonesia terhadap modernisasi alutsista TNI AL.
KRI Prabu Siliwangi diproyeksikan menjadi unsur strategis dalam menjaga kedaulatan serta kepentingan nasional di wilayah perairan Indonesia.
”Momentum ini bukan saja pelayaran menuju tanah air, melainkan langkah besar dalam penguatan postur pertahanan maritim nasional. KRI Prabu Siliwangi-321 hadir dengan kesiapan personel yang tangguh dan sistem persenjataan yang telah melalui serangkaian pengujian ketat,” kata Kolonel Kurniawan.