Sabtu, 11 April 2026

Momen Pesawat Kepresidenan Dikawal 4 Unit F-16 dan 2 T50 Golden Eagle

Psawat kepresidenan yang membawa Presiden Prabowo Subianto dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Pangkalan Udara Adisutjipto, Kabupaten Sleman mendapat pengawalan udara dari TNI AU. (Foto/TNI AU)

Ada yang berbeda dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Magelang pada Kamis, 9 April 2026. Pesawat kepresidenan yang membawa Presiden Prabowo Subianto dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Pangkalan Udara Adisutjipto, Kabupaten Sleman mendapat pengawalan udara dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara ( TNI AU ).

Dalam penerbangan tersebut, pesawat kepresidenan mendapat pengawalan empat pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan dua pesawat KAI T-50 Golden Eagle. Pengawalan udara ini merupakan pengamanan VVIP yang dilaksanakan secara profesional oleh TNI AU, sekaligus mencerminkan kesiapsiagaan dan kemampuan pertahanan udara nasional dalam melindungi pemimpin negara.

Momentum pengawalan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, yang menjadi tonggak penting perjalanan panjang pengabdian TNI AU dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo turut menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh prajurit TNI AU dari dalam pesawat kepresidenan.

"Pertama-tama dirgahayu Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Swa Bhuwana Paksa. Selamat ulang tahun yang ke-80, semoga TNI AU terus jaya, selalu kuat mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di udara. Rakyat Indonesia bangga dengan saudara-saudara. Jaga Tanah Air kita, terima kasih, hormat saya kepada kalian semua," ujar Presiden sebagaimana dilihat dari video di akun resmi Sekretariat Kabinet.

Presiden juga menegaskan kebanggaannya atas dedikasi dan semangat prajurit udara Indonesia.

"Saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, sekali lagi atas nama rakyat seluruh Indonesia kami bangga dengan angkatan udara kami, kami bangga dengan elang-elang muda. Semangat terus, terima kasih," lanjutnya.

Ketika Dari kokpit pesawat pengawalan, penerbang TNI AU turut menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas dukungan terhadap penguatan dan modernisasi pertahanan udara nasional.

"Dengan penuh rasa hormat dan bangga, di hari ulang tahun yang ke-80 TNI Angkatan Udara, kami elang-elang muda mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan Bapak. Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan tahun 2019 hingga saat ini sebagai Presiden Indonesia, dalam memperkuat dan memodernisasi TNI Angkatan Udara."

Penerbang itu menambahkan, "Kami memohon doa restu agar senantiasa diberi kekuatan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara. Dengan semangat pengabdian tanpa batas, kami bertekad meneguhkan TNI Angkatan Udara yang ampuh menuju Indonesia maju. Dirgahayu TNI Angkatan Udara, salam Swa Bhuwana Paksa."

Pengawalan ini mencerminkan tingkat profesionalisme prajurit udara yang terus meningkat. Momentum HUT ke-80 TNI AU ini menjadi refleksi atas dedikasi dan kesiapsiagaan TNI AU dalam menjaga kedaulatan udara nasional, termasuk dalam menjamin keamanan Presiden dalam perjalanan kenegaraan. (zik)

  ✈️
sindonews  

Inggris Jual Kendaraan Penyelamat Kapal Selam ke Indonesia

⚓️ Senilai £ 128 juta Iluustrasi kapal selam penyelamat (@UK.gov)

UKEF mengumumkan dua kesepakatan ekspor bernilai jutaan poundsterling untuk memasok Angkatan Laut Indonesia dengan sistem kendaraan penyelamat kapal selam atau Submarine Rescue Vehicle System (SRVS) canggih, dengan total nilai £ 128 juta.

Sebagai hasil dari kesepakatan tersebut, lebih dari £ 67 juta kontrak pasokan telah diberikan kepada pemasok Inggris yang dipimpin oleh Submarine Manufacturing and Products Limited (SMP Ltd) yang berbasis di Bristol dan Forum Energy Technologies Ltd (FET) yang berkantor pusat di York.

SMP Ltd akan memberikan kontribusi lebih dari £ 39 juta untuk rantai pasokan Inggris dengan mengontrak beberapa perusahaan yang berbasis di Inggris untuk memasok barang dan jasa, termasuk pelatihan dan desain kapal.

Sebagai salah satu spesialis penyelaman komersial dan teknik bawah laut terkemuka di dunia, kontrak ini juga akan meningkatkan penciptaan lapangan kerja bagi karyawan perusahaan.

Berdasarkan kontrak terpisah, FET akan memasok sistem penyelamatan kapal selam kepada Angkatan Laut Indonesia, senilai sekitar £30 juta. Di seluruh rantai pasokan dan galangan kapalnya di York, FET telah mengalami peningkatan tenaga kerja sebesar 50% dalam 12 bulan terakhir, sebagian besar karena kontrak ini.

FET adalah perancang dan produsen kendaraan bawah laut terkemuka, dengan lebih dari 45 tahun pengalaman mendukung organisasi militer dan angkatan laut di seluruh dunia. Selama waktu ini, FET telah mengirimkan lebih dari 900 sistem berawak dan tanpa awak, termasuk empat kendaraan penyelamatan kapal selam.

 ⚓️  UK  

Jumat, 10 April 2026

SCYTALYS Bersama PTDI Meningkatkan Sistem Misi Taktis untuk Pesawat N219 dan CN-235

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5gtN99C5GEKN_PwdJRS_kl7oICsHAuZrQfCAMPdB0KgMbGbIfRX65lS3jqxMn9o-LfR4dWOpIkuO4rdqjKkSlFmBZ-nDyV4rJMuv4rHNr5V-eduIdQw0BxmMf618yndBSExhq-SYQnXAYNu-8ypfD9cUxKH3rdnc20t1r_TLqGV9i_Wf-vyU3w8tuY5g/s1920/FB_IMG_1775812223366.jpgSCYTALYS menandatangani MoU dengan PT Dirgantara Indonesia untuk mengintegrasikan sistem MIMS Airborne miliknya ke dalam pesawat N219 dan CN-235, meningkatkan kemampuan pengawasan maritim dan memperluas peluang di pasar Asia-Pasifik (Scytalys))
SCYTALYS
(bagian dari EFA GROUP) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), menandai langkah strategis penting untuk memperkuat kehadiran kedua perusahaan di sektor Pesawat Patroli Maritim. Kerja sama ini berkaitan dengan integrasi sistem SCYTALYS ke dalam varian pengawasan maritim pesawat N219 dan CN-235 milik PTDI.

Perjanjian tersebut mencakup integrasi Sistem Manajemen dan Integrasi Misi Udara (MIMS Airborne) SCYTALYS ke dalam pesawat N219 dan CN-235 PTDI, meningkatkan kemampuan pengawasan dan patroli maritim kedua platform tersebut dan membuka prospek baru di pasar Asia-Pasifik. Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani oleh Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, Bapak Moh Arif Faisal, dan Presiden SCYTALYS, Bapak Dimitris Karantzavelos, selama Singapore Airshow 2026.

MIMS Airborne adalah sistem C2 modular canggih yang berbasis pada desain arsitektur terbuka. Sistem ini mengintegrasikan dan mengelola secara real-time berbagai sensor dan subsistem penting termasuk radar, EO/IR, ESM/ELINT, navigasi penerbangan, dan komunikasi taktis/strategis menghasilkan Gambaran Operasional Bersama (Common Operational Picture/COP) yang terintegrasi. Dengan mengintegrasikan MIMS Airborne, N219 dan CN-235 menjadi node C4ISR yang sepenuhnya berpusat pada jaringan, sehingga secara signifikan meningkatkan efektivitas operasionalnya.

Moh Arif Faisal, Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, menyatakan: “Kerja sama ini akan meningkatkan kemampuan operasional pesawat N219 dan CN-235 dan akan menciptakan peluang baru bagi produk unggulan PTDI melalui solusi misi khusus yang kompetitif yang memenuhi persyaratan operasional pengguna.”

Bapak Dimitris Karantzavelos, Presiden SCYTALYS, menyatakan: “Penandatanganan MoU dengan PTDI menandai langkah penting menuju penguatan lebih lanjut kehadiran internasional SCYTALYS dan memajukan solusi misi inovatif. Integrasi sistem MIMS Airborne ke dalam pesawat N219 dan CN-235 menegaskan keunggulan teknologi kami dan kemampuan kami untuk memberikan solusi misi khusus yang andal, interoperabel, dan sesuai kebutuhan. Kerja sama kami dengan PTDI membuka prospek baru bagi ekspansi SCYTALYS di pasar Asia-Pasifik, dan kami berharap dapat melanjutkan kemitraan yang dinamis dan sangat menjanjikan ini.

 Tentang SCYTALYS

SCYTALYS adalah perusahaan pengembangan dan integrasi perangkat lunak pertahanan terkemuka, yang didirikan pada tahun 1993 di Yunani, yang mengkhususkan diri dalam desain, pengembangan, instalasi, dan pengujian. Perusahaan ini mempekerjakan 110 staf, sebagian besar adalah insinyur yang sangat terampil. Perusahaan ini memiliki kantor di tiga lokasi internasional (Yunani, AS, Singapura) untuk melayani pelanggan di 14 negara di seluruh dunia. SCYTALYS memiliki pengalaman luas dalam program domestik yang mendukung Angkatan Bersenjata Yunani, dan melalui sejarah panjangnya dalam inovasi teknik, keandalan, efisiensi, dan kualitas layanan, perusahaan ini telah menjadi mitra pilihan perusahaan dan organisasi multinasional di sektor Dirgantara, Pertahanan, dan Keamanan, yang menyediakan solusi interoperabilitas canggih. Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir yang telah teruji di lapangan, perusahaan ini merancang dan mengembangkan solusi dan produk canggih di bidang Tautan Data Taktis, Sistem Komando & Kontrol Misi dan Taktis, Sistem C4I, Pelatihan, Pengujian dan Simulasi, Pengawasan, dan Pengintaia.

  Scytalys  

TNI AU Kejar Target Pembangunan 30 Satuan Radar di Seluruh Indonesia

🛰 Menjaga Langit Indonesia(Dispenau)

Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Tonny Harjono mengatakan pihaknya sedang mengejar target membangun 30 satuan radar (satrad) di seluruh Indonesia.

Pembangunan satrad itu sampai saat ini masih terus berjalan dan ditargetkan dapat berfungsi secara maksimal pada 2029.

Tonny menjelaskan bahwa keberadaan satrad itu sangat diperlukan untuk memantau aktivitas udara Indonesia.

Menurut dia, dengan adanya satrad tersebut, TNI AU dapat mengantisipasi adanya pergerakan pesawat asing yang masuk ke wilayah udara Indonesia.

Hingga saat ini, TNI AU sudah memiliki 20 satrad yang tersebar di Indonesia. Namun demikian, sebagian dari satrad tersebut harus diganti karena sudah usang.

"Kita akan mendapatkan 25 radar baru karena kita ketahui bahwa radar yang kami miliki saat ini ada 20 satrad sudah usang tetapi masih berfungsi dengan baik," ujar Tonny.

Satrad baru itu akan ditempatkan lokasi yang dinilai sebagai titik buta atau blind spot wilayah udara Indonesia. Dengan adanya bantuan satrad tersebut, Tonny meyakini pertahanan udara Indonesia akan semakin kuat.
 

  📡
antara  

Kamis, 09 April 2026

Soal Pembelian Empat Pesawat A400M

 ✈️ TNI AU menunggu keputusan Kemhan Pesawat A 400M A-4002 TNI AU (Fanz Fighters) 

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono mengatakan TNI AU menunggu keputusan Kementerian Pertahanan (Kemhan) soal rencana menambah empat unit pesawat angkut A400M.

"Sebagai pengguna kekuatannya adalah Panglima TNI. Jadi saya siapkan, Panglima yang menggunakan," kata Tonny saat jumpa pers usai upacara perayaan HUT Ke-80 TNI AU di Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Menurut Tonny, pihaknya hanya bertugas sebagai pengguna atau operator dari setiap alat utama sistem senjata yang dibeli Kemhan.

Tidak hanya sebagai pengguna, TNI AU juga memegang peran dalam perawatan, pembinaan dan pembangunan infrastruktur pendukung alutsista.

Selain itu, TNI AU juga bertugas untuk memastikan awak pengguna alutsista mendapat pelatihan yang layak dan berkualitas.

Untuk itu, dia kembali menegaskan bahwa TNI AU siap jika Kemhan akan mendatangkan empat pesawat A400M.

"Jadi, pengembangan pesawat A400M, kami menunggu dari Kemhan sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami, tetapi Angkatan Udara bersiap," ucap Tonny.

Untuk diketahui, TNI AU pada 2026 ini sudah memiliki dua unit A400M baru buatan Airbus. Pemerintah pun berencana menambah pesawat A400M untuk mendukung operasi militer dan nonmiliter yang dilakukan TNI AU.

"Kita sudah aktif (kontrak pembelian pesawat A400M) dua unit. Kita sudah ada opsi empat unit. Kita mungkin negosiasi untuk kita tanda tangan (pembelian) empat unit lagi. Sementara itu," kata Presiden Prabowo Subianto saat menerima unit pertama A400M di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada November 2025 lalu.

Namun demikian, hingga saat ini pihak Kemhan belum mengeluarkan pernyataan resmi soal tambahan pembelian pesawat angkut A400M tersebut.

 ✈️ antara 
 

[Teror] Kendaraan UNIFIL Tertembak di Lebanon

  👹 Kemlu panggil dubes israelIlustrasi Kendaraan UNIFIL Italia (Ist) 🛡

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Italia memanggil duta besar Israel, Rabu (8/4), setelah insiden di Lebanon yang mengakibatkan kendaraan Italia untuk penjaga perdamaian Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) rusak akibat tembakan peringatan dari Israel.

Menteri Luar Negeri Antonio Tajani, dalam sebuah unggahan di platform X, mengatakan bahwa dia baru saja menginstruksikan duta besar Israel untuk Italia untuk dipanggil ke Kemlu Italia guna mengklarifikasi apa yang terjadi di Lebanon.

Tajani juga menekankan bahwa militer Italia tetap tidak akan "tersentuh".

Langkah itu diambil setelah Menlu Tajani mengatakan kepada parlemen Italia bahwa konvoi pasukan UNIFIL Italia terkena tembakan selama terjadinya peningkatan ketegangan.

"Tembakan peringatan Israel merusak salah satu kendaraan kami. Untungnya, tidak ada korban luka yang dilaporkan, tetapi konvoi itu (UNIFIL Italia) harus kembali," kata Tajani seperti dilaporkan Kantor Berita ANSA.

Semula, kata Tajani, konvoi tersebut membawa personel ke Beirut untuk repatriasi.

Dia juga memperingatkan tentang intensifikasi operasi Israel, dengan mengatakan bahwa telah terjadi pemboman Israel terdahsyat sejak dimulainya kembali perang dan 150 pesawat dilaporkan terlibat di seluruh Lebanon.

  👹 anews  

Nelayan Temukan Drone UUV di Perairan Gili Trawangan

⚓️ Akan Dikirim ke Mabes TNI AL Nelayan temukan drone bawah laut di perairan Gili Trawangan (Republika)

Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Mataram akan mengirim benda asing berbentuk silinder yang disebut mirip torpedo ke Markas Besar TNI AL di Jakarta. Benda seberat sekitar dua ton itu ditemukan di kawasan wisata Gili Trawangan.

Komandan Lanal Mataram Letnan Kolonel Laut Asep Tri Wibowo mengatakan, pengiriman dilakukan untuk kepentingan penelitian lebih lanjut. “Benda ini akan dibawa ke Jakarta untuk diteliti guna mengetahui asal-usul dan fungsinya,” kata dia, Rabu 8 April 2026.

Benda tersebut ditemukan nelayan pada Selasa 6 April 2026, sekitar 10 mil laut dari Gili Trawangan. Setelah dilaporkan ke petugas, benda itu dievakuasi ke darat dan diamankan di Lanal Mataram dengan pengawasan ketat.

Menurut Asep, secara kasat mata bentuk benda itu menyerupai torpedo, namun belum dapat dipastikan jenisnya. Ia menegaskan, penentuan fungsi dan asal benda menjadi kewenangan Mabes TNI AL setelah melalui pemeriksaan mendalam.

Yang berwenang menilai itu dari Mabes, kita menunggu hasil investigasi dari pimpinan,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan awal oleh tim Gegana Polda Nusa Tenggara Barat menunjukkan benda tersebut tidak mengandung bahan peledak maupun zat radioaktif. Meski demikian, aparat tetap memasang garis polisi dan membatasi akses selama proses pengamanan berlangsung.

Benda itu memiliki panjang sekitar 3,7 meter dengan diameter 65 sentimeter. Saat ditemukan, kondisinya mengapung di laut dan belum diketahui sudah berapa lama berada di perairan tersebut.

TNI AL menyatakan terus berkoordinasi dengan satuan terkait serta meningkatkan patroli di wilayah perairan Nusa Tenggara Barat. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi penggunaan perangkat bawah laut tanpa izin.

Kami tidak akan mentolerir segala aktivitas tanpa izin termasuk menggunakan perangkat bawah air yang tidak berkepentingan,” ungkap Asep.a

 ⚓️ RRI   

Rabu, 08 April 2026

Korsel Sepakat Serahkan Satu Prototipe Jet Tempur KF-21 ke Indonesia

 PTDI akan merakit dan memelihara pesawat yang dipesan
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI) 

Kabar gembira bagi pertahanan Indonesia. Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyetujui transfer satu unit prototipe jet tempur KF-21 Boramae (prototipe kelima) beserta data dan teknologi pengembangan ke Indonesia.

Kesepakatan bernilai total sekitar 600 miliar won (sekitar Rp 8,4 triliun) ini menjadi angin segar bagi penguatan armada TNI Angkatan Udara menjelang produksi massal pesawat tempur generasi 4.5 tersebut.

Menurut laporan dari parlemen Korea Selatan dan DAPA (Defense Acquisition Program Administration), transfer ini mencakup:

1. 350 miliar won untuk prototipe KF-21 single-seat yang telah digunakan untuk uji radar AESA dan pengisian bahan bakar di udara.

2. 174,2 miliar won untuk biaya partisipasi (gaji personel riset Indonesia) dan transfer teknologi.

3. 75,8 miliar won untuk penyediaan data pengembangan.

Total nilai transfer ini setara dengan kontribusi akhir Indonesia dalam proyek bersama senilai 600 miliar won.

Hingga saat ini, Indonesia telah membayar 536 miliar won, dan sisanya 64 miliar won akan dilunasi paling lambat Juni 2026. Setelah pelunasan penuh, transfer pesawat prototipe dan data teknis akan segera dilakukan.

Proyek KF-21 Boramae merupakan kerja sama pengembangan jet tempur antara Korea Selatan dan Indonesia sejak 2015. Awalnya Indonesia berkomitmen menanggung 20% biaya pengembangan (sekitar 1,6 triliun won), dengan imbalan transfer teknologi dan satu prototipe.

Namun karena kendala ekonomi, kesepakatan direvisi menjadi 600 miliar won pada 2025, disertai penyesuaian ruang lingkup transfer teknologi.

Jet tempur KF-21 Boramae dirancang sebagai pesawat tempur multirole generasi 4.5 dengan kemampuan supercruise, radar AESA canggih, dan senjata modern. Indonesia berencana memesan puluhan unit KF-21 untuk menggantikan armada tua dan memperkuat pertahanan udara nasional.

Kesepakatan ini juga membuka peluang lebih besar bagi industri pertahanan dalam negeri, termasuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam perakitan dan pemeliharaan.

Menteri Pertahanan RI (saat itu) Prabowo Subianto sebelumnya telah membahas penguatan kerja sama pertahanan dengan Korea Selatan, termasuk potensi pembelian 16 unit KF-21 Block 2.

Transfer prototipe ini diharapkan mempercepat adaptasi teknologi dan pelatihan pilot TNI AU. Pihak Kementerian Pertahanan RI belum memberikan komentar resmi terkait jadwal kedatangan prototipe tersebut.

Namun, langkah ini menandakan komitmen kuat kedua negara untuk melanjutkan proyek strategis KF-21 Boramae demi kedaulatan pertahanan udara Indonesia.

  ★ KBS World  

Selasa, 07 April 2026

Puspenerbal Uji Efektivitas Helikopter Bell 505

  Dalam misi pengintaian taktis Sejumlah penerbang TNI AL saat menguji efektivitas manuver helikopter Bell 505 Jet Ranger X, Sidoarjo, Senin (6/4). (Dok. Puspenerbal)

Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) terus memodernisasi kemampuan tempur para penerbangnya. Kali ini, helikopter Bell 505 Jet Ranger X dikerahkan untuk menguji efektivitas manuver perlindungan udara (air cover) serta pengintaian taktis di wilayah perairan Nusantara.

Latihan yang berlangsung di Sidoarjo, pada Senin (6/4) ini melibatkan sejumlah perwira menengah dan pertama, di antaranya Mayor Laut (P) Alfred, Kapten Laut (P/W) Utami, Lettu Laut (P) Dito, serta Letda Laut (P) Jovanda. Para penerbang tersebut fokus mengasah kemahiran dalam mengawal pergerakan unit kawan, baik yang berada di darat maupun di permukaan laut.

Komandan Skuadron Udara 200 Letkol Laut (P) Bani Safangat, menegaskan intensitas latihan merupakan kunci utama untuk mencetak kru pesawat yang andal. Ia berkomitmen meningkatkan standar kemampuan personel agar selalu siap menghadapi dinamika penugasan yang kian kompleks.

Latihan ini menjadi sarana pembuktian efektivitas helikopter Bell 505 dalam mendukung kurikulum pendidikan penerbang TNI AL yang modern. Kami ingin memastikan koordinasi dan kewaspadaan ruang udara tetap terjaga selama misi berlangsung,” ujar Bani, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal, Selasa (7/4).

Senada dengan itu, Komandan Wing Udara 2 Puspenerbal Kolonel Laut (P) Oscar Johanes Novie, mengingatkan kemahiran taktis bukan sekadar rutinitas di atas kertas. Sebagai praktisi penerbang, ia menekankan pentingnya penguasaan teknik secara mendalam bagi setiap perwira.

Penguasaan taktis secara mendalam adalah kebutuhan operasional demi menjamin keberhasilan tugas di masa depan. Kemahiran dalam manuver ini harus menjadi refleks bagi setiap penerbang,” tegas Oscar.

 Bell 505 Jet Ranger X: Helikopter Latih Berteknologi Tinggi

Helikopter Bell 505 Jet Ranger X hadir sebagai instrumen modern dalam sistem pendidikan penerbang TNI AL. Sebagai helikopter ringan bermesin tunggal, pesawat ini dirancang untuk menggantikan peran generasi lama dengan menawarkan efisiensi tinggi serta teknologi digital mutakhir. Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan dek penerbangan Garmin G1000H NXi, sebuah sistem navigasi terintegrasi yang menyajikan seluruh informasi instrumen dalam layar digital resolusi tinggi, sehingga memudahkan penerbang memantau situasi selama misi pengintaian.

Dapur pacu helikopter ini ditenagai oleh mesin Safran Arrius 2R yang sudah dilengkapi sistem kendali digital otoritas penuh atau Dual Channel FADEC. Teknologi ini memastikan kinerja mesin tetap optimal secara otomatis sekaligus mencegah risiko kelebihan beban saat bermanuver. Dengan kemampuan melesat hingga kecepatan 125 knot atau sekitar 232 kilometer per jam, Bell 505 mampu menjangkau jarak hingga 560 kilometer dalam sekali terbang.

Selain aspek teknis, Bell 505 menonjol karena desain kabinnya yang luas dengan lantai rata, memberikan fleksibilitas tinggi untuk berbagai konfigurasi misi taktis. Penggunaan material komposit pada struktur bodinya membuat helikopter ini lebih ringan namun tetap kokoh.

Kombinasi antara kelincahan dan teknologi radar yang presisi menjadikannya platform yang sangat efektif untuk melatih manuver sulit, termasuk memberikan perlindungan udara bagi pasukan kawan di darat maupun laut. (at)

  ⏁ 
 IDM  

TNI AL Mulai Transformasi Peta Laut Elektronik S-100

  Target Rampung 2032 Skema ekosistem standar global data hidrografi S-100 yang menjadi basis transformasi peta laut elektronik masa depan TNI AL. (Foto: Dok. IHO)

Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) memulai transformasi teknologi peta laut elektronik (Electronic Navigational Chart/ENC) standar S-100. Modernisasi sistem navigasi ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada enam tahun mendatang.

Langkah strategis ini ditegaskan Wakil Komandan Pushidrosal Laksamana Muda Bambang Irawan, saat memimpin apel khusus di Jakarta, Senin (6/4). Ia menyebut tahun 2026 sebagai titik awal implementasi teknologi tersebut.

Bambang menjelaskan, standar S-100 merupakan sistem data hidrografi universal masa depan yang lebih dinamis. Teknologi ini mengintegrasikan berbagai informasi kelautan, seperti prakiraan cuaca dan arus laut, dalam satu tampilan layar navigasi secara real-time.

Tahun 2026 menjadi tonggak awal transformasi teknologi ENC yang kita targetkan tuntas pada 2032. Seluruh personel wajib memahami sistem S-100 ini karena modernisasi merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Bambang, dikutip dari keterangan Pen Pushidrosal.

Selain pembaruan teknologi, Pushidrosal kini tengah memperkuat sinergi dengan Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ). Kerja sama ini bertujuan mendukung proyek strategis nasional pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall.

Peran Pushidrosal mencakup penyediaan data hidrografi dan batimetri, yakni pemetaan kedalaman laut yang akurat. Data tersebut menjadi acuan teknis agar konstruksi tanggul di utara Jawa efektif dalam memitigasi kenaikan permukaan air laut.

Di sisi lain, tim ahli Pushidrosal juga terus mengintensifkan survei serta pemetaan jalur pipa dan kabel bawah laut. Langkah ini diambil untuk menjamin keamanan instalasi vital di dasar samudera dari gangguan aktivitas pelayaran maupun faktor alam.

Kerja sama lintas sektor akan terus ditingkatkan. Efektivitas dan kualitas hasil kerja hidro-oseanografi nasional harus optimal demi mendukung pembangunan strategis pemerintah,” pungkasnya. (at)

  ⚓️  IDM  

Senin, 06 April 2026

Di Usia ke-46, PT PAL Perkuat Daya Saing Industri Maritim Indonesia

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

Memasuki usia ke-46, PT PAL Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat transformasi industri maritim nasional. Momentum ini sekaligus menjadi penanda arah baru perusahaan, dari galangan kapal menjadi pusat inovasi teknologi maritim terintegrasi.

Selama hampir lima dekade, PT PAL telah berkembang dari industri pembangunan kapal militer dan niaga menjadi penyedia solusi maritim yang lebih komprehensif.

Transformasi tersebut kini difokuskan pada penguasaan teknologi, penguatan rantai pasok, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia guna menghasilkan produk berdaya saing global.

Untuk mendukung arah tersebut, perusahaan terus melakukan modernisasi fasilitas produksi, memperkuat kapabilitas engineering, serta meningkatkan kemampuan integrasi sistem. Langkah ini ditempuh agar setiap produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional.

Dalam mendukung kemandirian industri pertahanan, PT PAL telah menghasilkan berbagai produk strategis, mulai dari kapal kombatan, kapal selam, frigate, kapal rumah sakit, hingga platform energi lepas pantai.

Produk-produk tersebut tidak hanya memperkuat postur pertahanan, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri pendukung dalam negeri.

Sejalan dengan itu, PT PAL juga memperkuat fokus pada riset dan inovasi teknologi pertahanan modern. Salah satu yang dikembangkan adalah Kapal Selam Otonom (KSOT), kapal selam tanpa awak yang dirancang sebagai sistem pengganda kekuatan untuk operasi bawah laut, dengan kemampuan pengawasan dan pengintaian di wilayah perairan strategis.

Pengembangan inovasi juga dilakukan melalui torpedo Piranha dengan sistem pemandu akustik presisi tinggi, serta teknologi laser weapon berbasis energi terarah yang dinilai lebih efisien dan adaptif terhadap dinamika ancaman modern.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyebut inovasi menjadi kunci dalam mendorong transformasi industri maritim nasional.

Kami percaya industri maritim nasional hanya dapat tumbuh jika didukung oleh penguasaan teknologi, kualitas SDM, dan keberanian untuk terus berinovasi.

Saat ini, PT PAL tidak hanya membangun kapal, tetapi juga membangun ekosistem industri yang mampu memperkuat pertahanan, menggerakkan ekonomi, dan menciptakan nilai tambah bagi bangsa,
” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah transformasi dan inovasi tersebut menjadi fondasi dalam menjalankan amanah sebagai National Consolidator industri galangan kapal nasional.

Sebagai National Consolidator, PT PAL tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga mengintegrasikan kekuatan galangan kapal nasional, mulai dari peningkatan kapabilitas industri, penguatan rantai pasok, hingga penguasaan teknologi, agar industri maritim Indonesia semakin mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.

  👷  PAL Indonesia  

Minggu, 05 April 2026

[Global] Rusia Akhirnya Lengkapkan Su-35 Dengan Radar AESA

Ilustrasi pesawat SU-35. (Ist)

Keputusan Rusia untuk akhirnya melengkapkan pesawat pejuang Su-35 dengan radar active electronically scanned array atau AESA menandakan program pemodenan paling penting terhadap pesawat itu sejak ia mula memasuki perkhidmatan operasi lebih sedekad lalu.

Naik taraf itu muncul ketika pertempuran udara jarak jauh, ketahanan peperangan elektronik dan panduan peluru berpandu luar jarak penglihatan semakin menjadi faktor penentu utama dalam perebutan penguasaan udara dari Eropah Timur hingga Indo-Pasifik.

Media negara Rusia menggambarkan sensor baharu itu sebagai radar AESA jalur-X yang dibangunkan khusus untuk Su-35, manakala beberapa laporan lain mendakwa ia menggunakan teknologi daripada seni bina N036 Byelka milik Su-57.

Pengumuman tersebut mempunyai kepentingan strategik luar biasa kerana radar N035 Irbis-E sedia ada pada Su-35 sejak sekian lama dianggap sebagai kelemahan paling besar pesawat itu berbanding pejuang berat Barat dan China.

Walaupun Irbis-E masih dianggap antara radar pesawat pejuang paling berkuasa di dunia dari segi jarak pengesanan, ketiadaan teknologi AESA semakin meletakkan Su-35 dalam kedudukan tidak menguntungkan.

Kelemahan tersebut menjadi semakin ketara apabila pesawat lawan kini menggunakan radar yang lebih sukar diganggu, lebih fleksibel, serta mempunyai keupayaan peperangan elektronik jauh lebih berkesan.

Pegawai Rusia masih belum mendedahkan nama rasmi radar baharu itu, spesifikasi teknikal lengkap, jadual pengeluaran atau kos pemasangan semula, sekali gus meninggalkan pelbagai persoalan mengenai pelaksanaannya.

Namun, sekiranya radar tersebut memasuki pengeluaran bersiri, ia berpotensi mengubah sepenuhnya nilai operasi Su-35 serta menghidupkan semula minat pembeli luar terhadap pesawat pejuang Rusia itu.

Kemunculan radar baharu tersebut juga mencerminkan pengajaran yang diperoleh Rusia daripada operasi tempur di Ukraine, apabila pesawat pejuangnya semakin bergantung kepada serangan peluru berpandu jarak jauh.

Dengan mengecilkan jurang teknologi antara Su-35 dan pesawat seperti F-15EX serta J-16, Moscow dilihat cuba memastikan Su-35 terus relevan sehingga lebih banyak Su-57 memasuki perkhidmatan.

Bagi negara-negara yang sudah mengoperasikan Su-35, radar AESA baharu ini mungkin menjadi faktor paling penting dalam menentukan sama ada pesawat tersebut masih mampu kekal relevan sehingga dekad 2030-an.

  Radar Irbis-E Menjadi Kelemahan Su-35  
Radar AESA baru SU 35 (ist)
Ketika Su-35 mula memasuki perkhidmatan Rusia pada 2014, radar N035 Irbis-E berasaskan passive electronically scanned array dipromosikan sebagai antara sensor udara paling berkuasa pernah dipasang pada pesawat pejuang.

Radar itu menggunakan antena berdiameter kira-kira 1,200 milimeter serta kuasa pancaran luar biasa tinggi, membolehkannya mengesan sasaran bersaiz pesawat pejuang pada jarak antara 350 hingga 400 kilometer.

Irbis-E juga mampu menjejak puluhan sasaran udara secara serentak serta menyerang beberapa sasaran pada masa sama, menjadikan Su-35 kelihatan amat berbahaya dari sudut teori.

Namun, radar itu masih terikat kepada seni bina passive electronically scanned array yang bergantung kepada satu pemancar berkuasa tinggi, bukannya ribuan modul penghantar dan penerima berasingan.

Reka bentuk tersebut membolehkan Irbis-E menghasilkan kuasa pengesanan sangat tinggi, tetapi pada masa sama mewujudkan jejak elektronik lebih besar serta lebih mudah diganggu musuh.

Menjelang awal dekad 2020-an, Su-35 semakin berdepan saingan daripada F-15EX, J-16 China dan versi terkini F-35 yang sudah dilengkapi radar AESA jauh lebih canggih.

F-15EX Eagle II dan Shenyang J-16 masing-masing menggunakan radar AESA yang mampu mengarahkan pelbagai pancaran secara pantas serta menukar frekuensi hampir serta-merta.

Keupayaan itu menjadikan radar mereka lebih sukar dikesan atau diganggu, selain mengurangkan kebarangkalian pesawat tersebut dikesan lebih awal oleh sistem amaran lawan.

Dalam keadaan sebenar, Su-35 sering berupaya mengesan pesawat lawan dari jarak jauh, tetapi pada masa sama turut mendedahkan kedudukannya melalui pancaran radar lebih jelas.

Ketidakseimbangan itu menjadi semakin serius dalam ruang udara dipertikaikan apabila pesawat peperangan elektronik, jammer jarak jauh dan platform halimunan beroperasi sebagai rangkaian bersepadu.

  Radar AESA Baharu Su-35 Berasaskan Teknologi Byelka Su-57 
Pesawat SU-30 T-3009 dengan camou baru menyerupai camouflage SU 35 (KERIS reborn)
Laporan Rusia masih belum memberikan nama rasmi radar baharu tersebut, namun pelbagai maklumat menunjukkan ia dibangunkan khusus untuk Su-35 menggunakan teknologi radar Byelka milik Su-57.

Sukhoi Su-57 menjadi pesawat pejuang pertama Rusia yang dilengkapi radar AESA apabila memasuki perkhidmatan terhad sekitar tahun 2020.

Bagaimanapun, rejimen Su-57 yang benar-benar beroperasi secara penuh hanya mula diwujudkan pada 2025, sekali gus menunjukkan pembangunan sistem itu mengambil masa panjang.

Keluarga radar Byelka mewakili perubahan teknologi paling besar dalam industri pejuang Rusia kerana ia menggunakan ribuan modul aktif penghantar dan penerima secara berasingan.

Seni bina itu membolehkan Su-57 menjalankan pengesanan, penjejakan, panduan peluru berpandu serta peperangan elektronik secara serentak dengan kecekapan jauh lebih tinggi.

Sekiranya radar baharu Su-35 mewarisi walaupun sebahagian daripada keupayaan tersebut, pesawat itu berpotensi memperoleh peningkatan besar tanpa memerlukan kerangka baharu.

Kelebihan paling penting radar AESA baharu itu terletak pada keupayaannya menghasilkan beberapa pancaran sempit serentak berbanding hanya satu pancaran berturutan.

Keupayaan tersebut boleh membolehkan Su-35 menjejak beberapa pesawat, mengawal pelbagai peluru berpandu jarak jauh dan mengekalkan kesedaran situasi ketika diserang secara elektronik.

Disebabkan radar AESA boleh menukar frekuensi serta corak pancaran dengan sangat pantas, ia jauh lebih sukar dikesan, dikenal pasti atau diganggu oleh pesawat lawan.

Kebarangkalian lebih rendah untuk dikesan itu sangat penting kerana Su-35 sering menjalankan rondaan dan pintasan jarak jauh yang bergantung kepada elemen kejutan.

Radar tersebut juga mungkin meningkatkan keupayaan Su-35 mengesan sasaran berprofil rendah, walaupun tiada bukti bahawa ia mampu mengatasi pesawat halimunan generasi terkini sepenuhnya.

  ✈️
DSA  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...