Sabtu, 23 Mei 2026

Pembangunan Kapal LPD Hanya Enam Bulan, AHY Puji Transformasi Industri Maritim PT PAL

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina yang dalam 5 bulan sudah mulai terlihat bentuknya di Surabaya (ss PAL)

Menteri Koordinator (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau PT PAL Indonesia untuk memperkuat sinergi pengembangan industri galangan kapal nasional dan ekosistem maritim.

AHY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat mengapresiasi efisiensi produksi yang memangkas waktu pembangunan kapal secara signifikan. Kunjungan berlangsung di galangan kapal PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis (21/5/2026).

AHY menyoroti pemangkasan durasi pembangunan kapal jenis Landing Platform Dock (LPD), yaitu kapal pengangkut pasukan dan kendaraan tempur.

Dulu membangun satu LPD (Landing Platform Dock) memerlukan waktu kurang lebih dua tahun. Sekarang, berkat transformasi dan modernisasi yang dilakukan, bisa dikerjakan hanya dalam enam bulan. Artinya, dalam durasi yang sama, kita bisa membangun empat LPD,” kata AHY di PT PAL Indonesia, Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Ia menyatakan tujuan pemerintah sejalan dengan visi mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat.

Kami memiliki tujuan yang sama sesuai visi dan misi Presiden, yakni mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat melalui penguatan sektor industri yang berkelanjutan. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh insan PT PAL dan bangga melihat transformasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

AHY menyebut permintaan internasional terhadap produk PT PAL terus meningkat, baik untuk kapal perang maupun kapal niaga.

Penguatan industri galangan kapal dinilai memberikan efek gentar (deterrence effect) dalam menjaga keutuhan wilayah RI sebagai negara kepulauan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyebut kunjungan tersebut sebagai momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan industri maritim nasional.

PT PAL terus berkomitmen dalam menumbuhkan dan memperkuat industri maritim nasional. Tidak hanya kapal sebagai pendukung konektivitas, namun jembatan antar pulau merupakan infrastruktur industri maritim yang perlu diperkuat dan dikembangkan,” kata Kaharuddin Djenod di Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Kaharuddin menyatakan pengembangan industri maritim perlu didukung peningkatan teknologi, kompetensi sumber daya manusia, dan kolaborasi strategis.

Dalam kunjungan kerja ini, AHY juga merespons proyek tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) di Pantai Utara Jawa, yang cetak birunya ditargetkan selesai pada 2027.

  📝  Berita Jatim  

GMFI Bidik Laba Rp 621,8 Miliar

  Perkuat Bisnis Perawatan Pesawat dan Industri PertahananKetika Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto menginspeksi langsung proses upgrade pesawat C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara di Garuda Maintenance Facility (GMF), Tangerang, Banten (Humas Kemhan)

Anak usaha Garuda Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), menargetkan pendapatan tahunan sebesar 542,8 juta dolar Amerika Serikat (AS) pada 2026.

Nilai tersebut setara Rp 9,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.716 per dolar AS.

GMFI juga memperkirakan laba bersih mencapai 35,1 juta dolar AS atau setara Rp 621,8 miliar.

Sementara itu kinerja keuangan GMFI pada awal 2026 menunjukkan performa solid. Kinerja tersebut ditopang fundamental operasional yang semakin sehat.

GMFI membukukan laba berjalan sebesar 6,76 juta dolar AS pada kuartal I 2026. Pendapatan usaha perseroan pada periode yang sama mencapai 114,94 juta dolar AS.

Sektor perawatan pesawat komersial masih menjadi salah satu penopang bisnis. GMFI mencatat sejumlah pelanggan lama seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific. Perseroan juga memperluas basis pelanggan baru, seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air.

GMFI turut menyelesaikan reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari sinergi Garuda Indonesia Group untuk mengoptimalkan kesiapan armada penerbangan nasional.

Sektor pertahanan juga ikut menopang kinerja GMFI. Perseroan menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat dan dua pesawat VIP Boeing 737 800.

GMFI juga memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation. Kerja sama tersebut terkait implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) untuk pesawat Rafale.
 

  ✈️  Kompas  

Jumat, 22 Mei 2026

PT PAL Jadi Pilar Kemandirian Maritim dan Pertahanan Indonesia

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina yang dalam beberapa bulan sudah mulai terlihat bentuknya di Surabaya (ss Markicap)

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya peran PT PAL Indonesia mengambil peran sebagai pilar kemandirian maritim dan pertahanan nasional.

Hal tersebut dilakukan saat melakukan kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia, Jawa Timur, Surabaya, Kamis (21/05/2026).

Dalam kunjungannya, AHY menilai transformasi yang dilakukan PT PAL Indonesia telah membawa industri strategis nasional itu naik kelas hingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Menurutnya, sejak awal berdiri, PT PAL Indonesia menjadi simbol harapan bangsa untuk mewujudkan kedaulatan maritim Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Ia menilai penguatan industri maritim sangat penting untuk menjaga wilayah laut sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi nasional.

Lebih lanjut, AHY menyebut kemampuan PT PAL Indonesia kini tidak hanya terbatas pada desain dan manufaktur kapal, melainkan telah berkembang menjadi pusat produksi untuk kebutuhan sipil, komersial, hingga pertahanan negara.

Transformasi tersebut, lanjut AHY, turut tercermin dari meningkatnya kapasitas produksi perusahaan. Ia menyebut proses pembangunan kapal kini dapat dilakukan lebih cepat dibanding sebelumnya.

Dulu pengerjaannya membutuhkan waktu lebih lama, sekarang dalam waktu sekitar enam bulan sudah bisa dikerjakan lebih cepat dengan kapasitas yang semakin besar,” ujarnya. Menurut AHY, peningkatan produktivitas PT PAL Indonesia juga membawa dampak positif terhadap perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan industri dalam negeri.

AHY menegaskan bahwa penguatan PT PAL Indonesia menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan kemandirian maritim Indonesia di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.

  📝  Lentera  

Fasilitas MRO untuk Pesawat AS di Bandara Kertajati

 Berpotensi Jadi Pangkalan Militer TerselubungInfografis persetujuan Presiden (ist)

Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin meminta Pemerintah berhati-hati terkait persetujuan menjadikan Bandara Kertajati di Jawa Barat, sebagai fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) atau pusat perawatan pesawat C-130 Hercules. Sebagaimana diketahui, hal tersebut merupakan usulan Pemerintah Amerika Serikat (AS).

Menurut TB Hasanuddin, kerja sama tersebut tidak bisa dipandang sebagai sekadar proyek industri penerbangan biasa, melainkan memiliki dimensi strategis, pertahanan, hingga kedaulatan negara yang harus dikaji secara menyeluruh.

Keputusan menerima tawaran Amerika Serikat menjadikan Indonesia sebagai MRO hubs pesawat C-130 dan menetapkan Bandara Kertajati sebagai lokasinya harus dijalankan dengan sangat hati-hati dan transparan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Sebagai informasi, kabar mengenai Bandara Kertajati yang akan dijadikan fasilitas MRO untuk pesawat Hercules milik AS disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat bersama Komisi I DPR pada Selasa (19/5) lalu.

Dalam kesempatan itu, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth memberi tawaran menarik kepada Pemerintah Indonesia terkait pemusatan program pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO) hingga perbaikan pesawat C-130 Hercules di seluruh Asia.

Nantinya, MRO atau pusat perawatan dan perbaikan seluruh pesawat angkut andalan Angkatan Udara AS (USAF) tersebut dipusatkan di Indonesia. Niatan Hegseth itu disampaikan kepada Menhan Sjafrie Sjamsoeddin saat keduanya bertemu di Pentagon, AS pada April 2026.

Terkait hal ini, TB Hasanuddin menilai perlu ada kejelasan mengenai cakupan operasional MRO tersebut sebab apabila fasilitas itu hanya digunakan untuk pesawat-pesawat C-130 milik militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, maka hal itu berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan politik strategis.

Jika fasilitas tersebut eksklusif untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia, maka persepsinya bisa berkembang sebagai bentuk pangkalan militer AS di Indonesia,” tutur Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

Ini tentu harus dicermati karena dapat berbenturan dengan peraturan perundang-undangan serta prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia,” lanjut TB Hasanuddin.

Anggota Komisi Pertahanan DPR ini menegaskan, publik juga perlu memahami bahwa tawaran tersebut datang dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat, bukan dari pabrikan pesawat Hercules sebagai kerja sama industri murni. Karena hal itu, TB Hasanuddin memandang aspek kepentingan strategis militer AS sangat kuat dalam rencana tersebut.

Dan Bandara Kertajati saat ini berstatus bandara penerbangan sipil,” ucap Legislator dari Dapil Jawa Barat IX itu.

Menurut TB Hasanuddin, apabila digunakan sebagai pusat perawatan pesawat militer asing, maka perlu ada penyesuaian regulasi, tata kelola, serta pengaturan zonasi yang jelas lantaran status Bandara Kertajati yang merupakan bandara sipil.

Kalau nanti menjadi pusat perawatan pesawat militer, tentu harus ada pengaturan yang jelas agar tidak mengganggu fungsi pelayanan penerbangan sipil untuk masyarakat Jawa Barat,” tegas TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin menambahkan, di sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Filipina, kerja sama MRO dengan Amerika Serikat memang dilakukan untuk mendukung operasional pesawat militer AS di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, fasilitas tersebut umumnya ditempatkan di kawasan industri khusus atau fasilitas milik industri perawatan pesawat domestik,” jelasnya.

Oleh karenanya, TB Hasanuddin meminta Pemerintah memastikan adanya manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, khususnya PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Prinsip utamanya adalah menjaga kedaulatan negara, memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas, serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri,” tutup TB Hasanuddin. (rdn)
 

  ✈️  DPR  

Kamis, 21 Mei 2026

PAL Percepat Penyelesaian Frigate Merah Putih Pertama

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur di Surabaya (PAL)

PT PAL Indonesia mempercepat penyelesaian Frigate Merah Putih pertama, KRI Balaputradewa-322, sebagai bagian dari komitmen mendukung visi pertahanan maritim modern dan mandiri di era Presiden Prabowo Subianto.

Setelah resmi diluncurkan pada 18 Desember 2025, kapal tempur multirole ini kini memasuki tahap penyelesaian instalasi equipment dan uji fungsi sebelum siap berlayar memperkuat armada TNI AL.

Dengan panjang 140 meter, kecepatan hingga 28 knot, serta kemampuan Multi-Mission untuk Anti Air Warfare, Anti Surface Warfare, dan Anti Submarine Warfare.

KRI Balaputradewa-322 hadir sebagai simbol kekuatan industri pertahanan nasional karya anak bangsa.

PT PAL Indonesia terus berkomitmen menghadirkan Alutsista unggulan untuk menjaga setiap jengkal kedaulatan NKRI.

  📝  PAL Indonesia 

Rabu, 20 Mei 2026

Perancis Beri Keuntungan ke Indonesia

 Lewat pesawat tempur Rafale T-03017 TNI AU (Swidersk Maciejka; fb)

Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai kehadiran pesawat tempur Rafale di jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI menjadi bukti kuatnya hubungan strategis antara Indonesia dan Prancis.

Transaksi persenjataan seperti ini hanya akan terjadi di antara dua negara yang harmonis dan telah banyak menjalankan kerja sama,” kata Hanif di Jakarta, Selasa.

Menurut Hanif, hubungan Indonesia dan Prancis berkembang signifikan, terutama sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan. Kedekatan diplomatik tersebut dinilai memberi sejumlah keuntungan strategis bagi Indonesia dalam pengadaan jet tempur produksi Dassault Aviation itu.

Salah satu keuntungan yang dinilai istimewa adalah peluang transfer teknologi serta pelibatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri dalam pengembangan Rafale. Tidak semua negara pembeli memperoleh kesempatan tersebut. India, misalnya, sebagai salah satu pembeli terbesar Rafale yang sangat antusias terhadap jet tempur itu, sempat diberitakan tidak mendapatkan akses penuh terhadap source code maupun teknologi sensitif Rafale.

Peluang transfer teknologi ini membuka ruang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional, termasuk dalam mendukung kebutuhan suku cadang, pemeliharaan, hingga pengembangan sistem pendukung pesawat tempur tersebut.

Selain itu, Prancis menunjukkan komitmen dalam mendukung peningkatan kapabilitas pertahanan Indonesia, mulai dari pemenuhan kebutuhan operasional TNI, pengembangan sumber daya manusia, hingga dukungan teknologi dan infrastruktur pertahanan,” ujar Hanif.

Ia menilai, sikap Prancis berbeda dengan sejumlah negara lain yang biasanya membatasi negara pembeli untuk mengembangkan ataupun memperluas pemanfaatan teknologi dari alutsista yang dibeli.

Dengan peluang tersebut, Hanif meyakini Indonesia memiliki kesempatan besar mempelajari kemajuan teknologi industri pertahanan Prancis sekaligus memperkuat kemandirian sektor pertahanan nasional.

Kesempatan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakses teknologi pertahanan yang lebih maju serta memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negeri,” katanya.

Sebelumnya, TNI AU baru saja menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan secara simbolis dilakukan Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, lalu diteruskan kepada Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).

Keenam pesawat tersebut akan ditempatkan di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Sementara itu, Indonesia masih menunggu kedatangan 36 unit Rafale lainnya yang saat ini masih dalam proses produksi di fasilitas Dassault Aviation di Prancis.

 Seberapa Besar Untung Indonesia?

Pesawat Rafale T 0304 kursi tandem terbaru TNI AU (Malin J)

Pembelian jet tempur Rafale dari Prancis dinilai bukan sekadar transaksi pembelian alutsista biasa, melainkan bagian dari investasi strategis jangka panjang untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional. Salah satu keuntungan terbesar yang diperoleh Indonesia adalah peluang transfer teknologi (transfer of technology/ToT) yang jarang diberikan secara luas oleh negara pemasok senjata modern.

Melalui kerja sama dengan Dassault Aviation dan industri pertahanan Prancis, Indonesia berkesempatan mempelajari berbagai aspek teknologi penerbangan militer modern, mulai dari sistem avionik, pemeliharaan mesin, integrasi persenjataan, hingga sistem elektronik tempur. Kesempatan tersebut dinilai sangat penting karena penguasaan teknologi pertahanan merupakan fondasi utama menuju kemandirian alutsista nasional.

Keuntungan lain yang dinilai strategis adalah terbukanya peluang bagi teknisi, pilot, dan
engineer Indonesia untuk mendapatkan pelatihan langsung dari pihak Prancis. Dengan keterlibatan sumber daya manusia nasional dalam proses pengoperasian dan pemeliharaan Rafale, kemampuan SDM pertahanan Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Tidak hanya itu, kerja sama Rafale juga membuka peluang pengembangan kemampuan
maintenance, repair, and overhaul (MRO) di dalam negeri. Jika kemampuan pemeliharaan dapat dilakukan secara mandiri di Indonesia, maka ketergantungan terhadap pihak luar akan berkurang, sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang TNI AU.

Dalam jangka panjang, efek pembelian Rafale diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan industri pertahanan nasional, baik dari sisi teknologi, kualitas SDM, maupun keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok industri militer modern. Dengan kata lain, keuntungan Indonesia dari Rafale bukan hanya mendapatkan jet tempur canggih, tetapi juga kesempatan mempercepat transformasi industri pertahanan menuju level yang lebih maju dan mandiri.

 Rivalitas Rafale vs F-15EX dan Jet Tempur Lainn


Sepasang Rafale TNI AU (Skuadron 12)

Masuknya Rafale ke jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU menempatkan Indonesia di tengah persaingan besar industri pertahanan global. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara produsen senjata modern berlomba menawarkan jet tempur generasi terbaru kepada Indonesia, mulai dari Rafale buatan Prancis, F-15EX dari Amerika Serikat, Gripen dari Swedia, hingga KF-21 hasil pengembangan Korea Selatan.

Secara kemampuan, masing-masing pesawat memiliki keunggulan berbeda. Rafale dikenal sebagai jet tempur multirole yang fleksibel dengan kemampuan tempur udara, serangan darat, hingga misi maritim dalam satu platform. Sementara F-15EX unggul dalam daya angkut persenjataan, jangkauan tempur, serta kekuatan mesin yang besar. Di sisi lain, Gripen menawarkan biaya operasional yang relatif lebih murah dan efisiensi pemeliharaan, sedangkan KF-21 dipandang sebagai proyek masa depan dengan teknologi generasi baru yang masih terus dikembangkan Korea Selatan.

Di tengah banyaknya pilihan tersebut, Indonesia akhirnya memilih Rafale karena dinilai mampu memenuhi kebutuhan operasional TNI AU sekaligus menawarkan keuntungan strategis di luar aspek militer semata. Prancis dianggap lebih fleksibel dalam kerja sama pertahanan, termasuk membuka peluang transfer teknologi, pelatihan sumber daya manusia, hingga keterlibatan industri pertahanan dalam negeri. Faktor inilah yang membuat Rafale tidak hanya dipandang sebagai pesawat tempur, tetapi juga instrumen penguatan industri pertahanan nasional.

Selain faktor teknis, pembelian alutsista modern juga tidak bisa dilepaskan dari aspek politik dan geopolitik. Dengan membeli Rafale, Indonesia dinilai sedang memperkuat hubungan strategis dengan Prancis dan Eropa, sekaligus menerapkan kebijakan diversifikasi alutsista agar tidak bergantung pada satu negara pemasok saja. Strategi tersebut penting untuk menjaga fleksibilitas diplomasi pertahanan Indonesia di tengah rivalitas global yang semakin kompleks.

Keputusan Indonesia membeli Rafale juga memperlihatkan bahwa persaingan industri pertahanan dunia kini bukan sekadar soal kualitas senjata, tetapi juga soal siapa yang mampu menawarkan kerja sama paling menguntungkan secara politik, teknologi, dan jangka panjang. Dalam konteks itu, Rafale dinilai memberi kombinasi antara kemampuan tempur modern dan peluang strategis bagi pengembangan kekuatan pertahanan nasional.

 Seberapa Canggih Jet Tempur Rafale?


Sepasang Rafale terbang di atas Bekasi (Skuadron 12)

Rafale dikenal sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia saat ini. Pesawat buatan Dassault Aviation, Prancis, tersebut banyak diminati berbagai negara karena memiliki kemampuan multirole atau mampu menjalankan banyak jenis misi dalam satu platform. Rafale dapat digunakan untuk pertempuran udara, serangan darat, pengintaian, hingga operasi maritim tanpa perlu perubahan besar pada konfigurasi pesawat.

Salah satu keunggulan utama Rafale terletak pada sistem radar dan teknologi elektroniknya. Jet ini dibekali radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang mampu mendeteksi banyak target sekaligus dalam jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi. Selain itu, Rafale memiliki sistem peperangan elektronik SPECTRA yang disebut sebagai salah satu sistem pertahanan elektronik terbaik di dunia karena mampu mendeteksi ancaman radar musuh, mengacaukan sistem lawan, hingga meningkatkan kemampuan bertahan pesawat di medan tempur.

Dalam pertempuran udara, Rafale mampu membawa berbagai jenis rudal modern untuk menghadapi pesawat musuh maupun ancaman jarak jauh. Sementara untuk misi serangan darat, jet ini dapat membawa bom pintar presisi tinggi yang efektif menghancurkan target strategis dengan tingkat akurasi tinggi. Kemampuan tersebut membuat Rafale dinilai fleksibel dan efektif digunakan dalam berbagai skenario operasi militer modern.

Keunggulan lain Rafale adalah kemampuannya menjalankan banyak misi secara bersamaan. Dalam satu penerbangan, pesawat ini bisa melakukan patroli udara, menyerang target darat, sekaligus melakukan pengintaian. Kemampuan inilah yang membuat banyak negara melihat Rafale sebagai jet tempur yang efisien dan bernilai strategis tinggi.

Dari sisi rekam jejak tempur, Rafale telah digunakan Prancis dalam berbagai operasi militer di Afghanistan, Libya, Mali, Irak, hingga Suriah. Pengalaman tempur tersebut menjadi nilai tambah penting karena menunjukkan bahwa Rafale bukan hanya unggul di atas kertas, tetapi juga telah teruji dalam berbagai konflik nyata dengan kondisi operasi yang kompleks. Faktor itulah yang membuat banyak negara, termasuk Indonesia, tertarik menjadikan Rafale sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udara mereka
.

 
Republika  

Marinir Sukses Laksanakan Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 BMP-3F Asal China

  Amunisi alternatif   Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 asal China dibandingkan amunisi 3UOF17 dari Rusia pada Ranpur Tank BMP-3F (photos: Menkav 2)

Untuk mengetahui kondisi dan kemampuan Amunisi kaliber 100 mm BTE1 China, Batalyon Tank Amfibi 2 Marinir terpilih sebagai pelaksana dalam penyelenggaraan Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 asal China yang di aplikasikan langsung pada Ranpur Tank BMP-3F di Daerah Latihan (Rahlat) Puslatpurmar 5 Baluran, Kab. Situbondo. Selasa (12/05/2026).

Turut hadir meninjau langsung kesiapan material dan pelaksanaan Uji Fungsi Amunisi tersebut, Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar) Mayjen TNI (Mar) Suherlan, S.E., M.M., M.Sc., CHRMP., didampingi oleh Asintel Pangkormar Brigjen TNI (Mar) Nanang Saefulloh, S.E., M.M., Waaslog Pangkormar Kolonel Marinir Imron Safei, S.E., M.M., M.Tr.Hanla., serta Kadismat Kormar Kolonel Marinir Tommy Dwijanto, CRMP.

Disamping itu dalam Uji Fungsi Amunisi ini juga melibatkan Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AL sebagai lembaga utama TNI AL yang bertanggung jawab atas penelitian, pengembangan, pengujian, dan evaluasi material serta teknologi peralatan Angklatan Laut.


Uji Fungsi Amunisi diawali dengan pengecekan data dimensi amunisi kaliber 100 mm BTE1 China sebagai amunisi uji serta amunisi kaliber 100 mm 3UOF17 Rusia sebagai amunisi pembanding.

Kegiatan dilanjutkan pengecekan Sistem Kendali Senjata yang terintegrasi pada Ranpur Tank BMP-3F, kemudian pelaksanaan penembakan amunisi uji yang seluruhnya berfungsi dengan baik dan tepat sasaran dijarak 1000 m, 1200 m, hingga 4000 dalam rangka zeroing, uji Fuze (pemicu ledak) dan uji Safety Distance sebagai parameter jarak aman ledakan.

Komandan Batalyon Tank Amfibi 2 Marinir Letkol Marinir Hayat Tegar, M.Tr.Opsla., selaku Palak Uji menyampaikan bahwa, kegiatan Uji Fungsi Amunisi yang dilakukan saat ini merupakan langkah penting untuk menjamin keselamatan personel dan material yang dimiliki Korps Marinir dimasa yang akan datang.

Kesiapan kru pengawak Ranpur dan material tempur sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan Uji Fungsi Amunisi, di sisi lain dengan berhasilnya Uji Fungsi Amunisi ini diharapkan kedepanya dapat menunjang efektivitas operasional.


  ♞ Menkav II  

MoW AS Tawarkan Perbaikan Hercules untuk Asia di Indonesia

 Bandara Kertajati Akan Jadi Bengkel HerculesBeberapa teknisi tengah memperbaiki pesawat Hercules, di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Dispenau)

Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertahanan RI menerima tawaran Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth dengan menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) Pesawat Angkut Berat C-130 Hercules se-Asia.

Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN. Dia menawarkan, ‘Bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami?’. Saya lapor (ke) Bapak Presiden, ‘kasih Kertajati’. Nah kita sedang bekerja untuk itu,” ungkap Sjafrie.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kabar ini dalam Rapat Kerja (Raker) Bersama antara Komisi I DPR dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI pada Selasa (19/5/2026).

Kendati demikian, Sjafrie tidak menjelaskan lebih lanjut berkait hal tersebut.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membenarkan soal tawaran dari AS itu.

Terkait pernyataan Bapak Menhan tersebut, saat ini memang terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia,” ujar Rico saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).

 Indonesia akan jadi hub pemeliharaan Hercules Asia

Rico mengungkapkan bahwa pemilihan Bandara Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan sudah memadai.

Perwira tinggi TNI AD itu menjelaskan, pengembangan Bandara Kertajati sebagai MRO C-130 Hercules se-Asia dilakukan secara bertahap.

Diarahkan untuk mendukung Indonesia sebagai hub pemeliharaan Hercules di kawasan,” ucap dia.

Menurut Rico, hal ini sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional.
 

  ✈️
Kompas  

Selasa, 19 Mei 2026

Rafale TNI AU Harus Didukung Industri Pertahanan Dalam Negeri agar Tak Bergantung Asing

Pesawat Rafale T0304 TNI AU (Malin Jayasuriya)

Analis dan Pemerhati Pertahanan dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai kehadiran pesawat tempur Dassault Rafale harus didukung penguatan industri pertahanan dalam negeri agar Indonesia tidak bergantung pada pihak asing untuk suku cadang dan teknologi pendukung operasional.

"Penguatan kapasitas industri pertahanan nasional menjadi penting agar dukungan pemeliharaan dan sustainment armada TNI AU dapat berjalan secara konsisten, mandiri, dan berkelanjutan," kata Hanif di Jakarta, Selasa (19/5).

Menurut dia, pemerintah perlu memperkuat kemampuan pemeliharaan, perawatan, dan penyediaan suku cadang melalui industri pertahanan nasional guna menjamin operasional alutsista dalam jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian konflik global.

Hanif menilai konflik berkepanjangan berpotensi memengaruhi negara produsen sehingga dapat menghambat produksi maupun distribusi suku cadang Rafale ke Indonesia.

Karena itu, ia berharap kehadiran Rafale dapat mendorong industri pertahanan nasional meningkatkan inovasi dan kapasitas produksinya.

Selain menyoroti aspek industri pertahanan, Hanif juga menilai Rafale menjadi lompatan teknologi penting bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara karena merupakan pesawat tempur generasi 4,5 pertama yang dimiliki Indonesia.

"Akuisisi pesawat tempur Rafale, yang diproyeksikan menjadi backbone kekuatan udara Indonesia di masa depan, menghadirkan lompatan teknologi signifikan dalam pembangunan kekuatan TNI AU," ujarnya.

Hanif menjelaskan Rafale memiliki sejumlah kemampuan strategis, termasuk penggunaan rudal Meteor, rudal stand-off SCALP EG, serta rudal anti-kapal AM39 Exocet yang dinilai mampu meningkatkan daya gentar dan fleksibilitas operasi udara TNI AU.

Namun, ia mengingatkan TNI AU perlu segera mengintegrasikan Rafale beserta perangkat canggihnya dengan doktrin pertahanan yang dianut TNI, disertai penguatan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung.

"Pengadaan ini tetap menjadi langkah penting dalam memperkecil kesenjangan teknologi dan meningkatkan kapabilitas pertahanan udara nasional," kata Hanif.

Sebelumnya, Tentara Nasional Indonesia menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Agus Subiyanto, kemudian diserahkan kepada Kepala Staf TNI AU I Nyoman Suadnyana di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (18/5).

Enam pesawat tersebut akan ditempatkan di Skadron 12, Lanud Roesmin Nurjadin. Saat ini Indonesia masih menunggu pengiriman 36 unit Rafale lainnya yang diproduksi oleh Dassault Aviation di Prancis.

   ★  Koran Jakarta   

[Video] Menhan Menjawab Hoax di DPR

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan pembicaraan empat mata dengan Menhan AS, Pete Hegseth, dalam pertemuan ASEAN Defence Ministers' Meeting tahun 2025 saat rapat di Komisi I DPR pada Selasa (19/5/2026).

Dia bilang begini, ini empat mata, ‘Pak Menhan, boleh enggak Amerika itu melintas wilayah Indonesia tahun 2025?’” ujar Menhan Sjafrie.

Itu diucapkan secara lisan kepada saya. Tadi saya jawab, ‘Menteri, walaupun ada harapan, tapi saya akan lapor kepada presiden saya karena dia adalah panglima tertinggi Tentara Nasional Indonesia,’” lanjutnya.

Menhan Sjafrie mengaku kaget saat dirinya diundang ke AS oleh Pete Hegseth dalam pertemuan itu.

 Berikut video liputan KompasTV :  


  🎥 Youtube  

Radar GCI Buatan Bandung Perkuat Sistem Pertahanan Udara RI

🛰 LEN Industri📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)

Radar Ground Control Intercept (GCI) buatan PT Len Industri Bandung resmi mulai dioperasikan sebagai bagian dari penguatan sistem pengawasan udara nasional Indonesia, Senin (18/5/2026).

Radar ini merupakan unit kedua dari total 13 sistem radar yang disiapkan pemerintah untuk memperkuat pertahanan udara.

Peresmian dan pengoperasian radar tersebut dilakukan dalam rangka penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis nasional dari Kementerian Pertahanan kepada TNI di Apron Pandawa, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang turut disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa penambahan alutsista ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat daya tangkal atau deterrent pertahanan nasional.

"Kita ingin memastikan keamanan wilayah udara, laut, dan daratan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pertahanan yang kuat adalah syarat utama menjaga stabilitas dan kedaulatan bangsa," ujar Prabowo dalam keterangan resmi di Bandung.

Radar GCI tersebut dirancang untuk memperkuat sistem pengawasan udara nasional melalui kemampuan deteksi dini serta pengendalian intersepsi yang terintegrasi.

Penyerahan sistem radar dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Len Industri, Joga Dharma Setiawan, yang didampingi Direktur Bisnis & Kerja Sama Irwan Ibrahim.

Joga menyebut pengoperasian Radar GCI menjadi bukti nyata kontribusi industri pertahanan dalam negeri dalam memperkuat sistem pertahanan nasional yang modern dan terintegrasi.

"Radar GCI ini tidak hanya memperkuat kemampuan pengawasan ruang udara nasional, tetapi juga menunjukkan kemampuan industri dalam negeri dalam menguasai teknologi strategis pertahanan. Kami berkomitmen terus mendukung interoperabilitas sistem pertahanan nasional melalui pengembangan teknologi yang andal dan berkelanjutan," kata Joga.

Selain penguatan sistem radar, program modernisasi pertahanan juga mencakup pengadaan pesawat tempur Rafale yang turut meningkatkan kemampuan interoperabilitas komunikasi dan data link melalui program pelatihan dan offset industri pertahanan.

Sebelumnya, teknologi Link ID yang dikembangkan PT Len difokuskan untuk komunikasi antar kapal perang dan pesawat surveillance. Ke depan, teknologi ini akan dikembangkan untuk mendukung komunikasi data link antar pesawat tempur guna memperkuat integrasi sistem pertahanan udara nasional.

Selain Radar GCI dan Rafale, penyerahan alutsista strategis nasional pada hari yang sama juga mencakup sejumlah platform pertahanan modern seperti A400M MRTT, Falcon 8X, Meteor, dan Hammer. Seluruh perangkat tersebut diharapkan memperkuat kesiapan operasional TNI dalam menghadapi dinamika ancaman global di masa mendatang.
 

  📡
Harian Jogja  

Senin, 18 Mei 2026

Purbaya Ungkap Anggaran Pertahanan Jumbo pada 2027

Sàtgas dan rakor pengadaan alutsista baru TNI AU (Ist)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan anggaran pertahanan yang akan disiapkan untuk 2027 besarannya cukup signifikan.

Meski begitu, ia mengaku tidak bisa mengungkapkan nominal yang tengah dirancang. karena urusan pertahanan bersifat rahasia.

"Tahun depan anggaran juga cukup-cukup signifikan. Tapi kalo anda tanya jumlahnya kan rahasia juga," kata Purbaya di kawasan Pangkalan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Purbaya mengatakan, makin tingginya anggaran pertahanan pada tahun depan merupakan bentuk implementasi pemerintah dari keinginan Presiden Prabowo Subianto memperkuat pertahanan tanah air di darat, laut, hingga udara.

"Akan kita perkuat terus darat laut dan udaranya. Saya kan bagian bayar aja," tegas Purbaya.

Peningkatan drastis untuk total anggaran pertahanan ini pun ia sebut akan berlanjut hingga periode 2028.

"Tahun depan ada, tahun depannya lagi juga ada. Tahun depan sudah ada anggaran juga cukup besar, jadi kan di tengah uncertainty seperti sekarang yang dibilang presiden betul, kita harus jaga kemampuan pertahanan kita," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, dalam APBN 2026, belanja pertahanan pagunya telah mengalami kenaikan yang signifikan, dengan besaran yang ditetapkan senilai Rp 337,37 triliun.

Anggaran pertahanan itu naik dari outlook realisasi APBN 2025 yang sebesar Rp 245,2 triliun. Dibanding rancangan semula dalam RAPBN 2026, pagu anggaran belanja pertahanan juga naik karena mulanya dipatok sebesar Rp 335,2 triliun. (arj/arj

   ★  CNBC  

Penampakan 11 Pesawat Baru Dipamerkan Prabowo: Jet Rafale hingga Falcon

Sejumlah alutsista diserahkan Presiden ke TNI di Halim, Jakarta (Kompas)

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan menerima alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa jet-jet tempur, pesawat kargo, dan radar, Senin (18/5/2026).

Alutsista yang diterima meliputi 6 pesawat tempur Rafale yang dilengkapi dengan rudal Meteor dan Smart Weapon Hammer; 4 pesawat Falcon 8X; 1 pesawat A400M MRTT; serta Radar GCI GM403.

Presiden Prabowo Subianto memamerkan sejumlah alutsista yang secara resmi telah diserahterimakan ke TNI. Berdasarkan pantauan Kompas.com, deretan alutsista tersebut dipamerkan di apron Base Ops Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Susunan alutsista dibentuk menyerupai segitiga. Di posisi paling depan tampak pesawat tempur Rafale buatan Prancis. Kehadirannya menandai penambahan kekuatan baru TNI AU, terutama untuk kemampuan tempur udara ke udara dan udara ke darat.

Di sisi kanan Rafale dipajang rudal Meteor serta Smart Weapon Hammer yang menjadi persenjataan utama pesawat tersebut.

Tak jauh dari Rafale, empat pesawat Falcon 8X turut dipamerkan. Pesawat berbadan ramping itu disiapkan untuk mendukung mobilitas strategis, pelaksanaan misi komando, hingga pengawasan udara.

Sementara di dua sudut paling belakang ditempatkan dua pesawat angkut A400M, termasuk satu unit yang sebelumnya telah diserahterimakan pada November 2025.

Pesawat angkut ini diproyeksikan memperkuat kemampuan angkut strategis TNI, termasuk distribusi pasukan dan logistik.

Selain itu, A400M MRTT memiliki kemampuan pengisian bahan bakar di udara yang memungkinkan pesawat tempur beroperasi lebih jauh dan lebih lama.

Sementara itu, Radar GCI GM403 menjadi bagian lain dari alutsista yang diterima pemerintah.

Radar berkelir hijau itu berfungsi mendeteksi ancaman udara dari jarak jauh sekaligus membantu memandu pesawat tempur untuk menghadapi sasaran yang memasuki wilayah udara Indonesia.

Dalam serah terima dari Pemerintah ke TNI ini dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator (Menko) Politik dan Keamanan (Polkam) Djamari Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Seskab Teddy Indra Wijaya. Kemudian, Menteri Perhubungan (Mehub) Dudy Purwagandhi, Menlu Sugiono, Wakil Panglima Jenderal Tandyo Budi Revita, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Ketua Komisi I DPR Utut Adianto.

   ★ 
Kompas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...