Batch kedua
Indonesia memesan 37 unit meriam artileri swagerak buatan Perancis.
Meriam kaliber 155 mm yang dikenal dengan nama Caesar ini akan digunakan 2 batalyon artileri medan TNI AD, yaitu Yon Armed 9 dan Yon Armed 12 sebanyak 18 unit per batalyon, sisanya satu unit digunakan Pusdik Armed.
Berikut penampakan ujicoba meriam Caesar diposkan Jakartans@def.pk.
Teknisi asing ikut partisipasi dalam persiapan ujicoba meriam swagerak Caesar TNI AD. [defence.pk]
Persiapan menjelang penembakan di lapangan. Satu dua unit dipersiapkan. [defence.pk]
Dalam MEF pertama, Indonesia memordernisasi alutsista dengan pengadaan baru. Diupayakan untuk mewujudkan modernisasi alutsista menuju "World Class Gunner" dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. [defence.pk]
Daya ledak meriam swagerak Caesar mampu mencapai 40 km. [defence.pk]
♜ Garuda Militer
Konga XXIII-J/Unifil
Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-J/Unifil yang beranggotakan 850 Prajurit TNI dari tiga Angkatan [Berita360] ☆
Sebanyak 850 prajurit TNI, yang terdiri atas 537 prajurit TNI Angkatan Darat, 231 TNI Angkatan Laut, dan 82 TNI Angkatan Udara, siap melaksanakan tugas negara untuk menjaga perdamaian di Lebanon. Mereka tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Infanteri Mekanis (Satgas Yonif Mekanis) TNI Konga XXIII-J/Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon) atau Indonesian Battalion (Indobatt).
Hal itu ditegaskan Komandan Satgas (Dansatgas) Indobatt Konga XXIII/Unifil Letkol Inf Dwi Sasongko saat memberikan pengarahan pada apel khusus di Marshaling Area Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/12).
Letkol Dwi Sasongko yang diberi tanggung jawab untuk memimpin misi perdamaian di Lebanon tahun ini merupakan lulusan Akademi Militer 1998. Dia adalah lulusan terbaik atau peraih Adhi Makayasa dan saat ini menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 305 Para Raider, Karawang, Jawa Barat.
Dengan tugas barunya itu, Letkol Dwi mendapatkan kehormatan sekaligus tantangan untuk menunjukkan profesionalisme prajurit TNI di masyarakat internasional. Ini merupakan tugas yang sangat berat, karena pasukan Kontingen Garuda sebelumnya, yang bertugas di tempat yang sama, telah melaksanakan tugas dengan baik.
Dwi menegaskan, para prajurit yang ada dalam Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-J/Unifil merupakan prajurit-prajurit pilihan. Mereka telah lulus seleksi untuk bergabung sebagai penjaga perdamaian dan siap ditugaskan selama setahun di Lebanon.
“Prajurit-prajurit pilihan ini telah melewati beberapa tahap, dimulai dari tahap seleksi sampai predeployment training yang bertujuan menyiapkan dan mengirimkan prajurit-prajurit profesional guna melaksanakan misi pemeliharaan perdamaian dunia dengan baik,” ujarnya.
Dikatakan pula, penugasan perdamaian merupakan implementasi dari cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.
Menurut rencana, Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-J/Unifil akan diberangkatkan ke daerah operasi di Lebanon dalam waktu dekat. Mereka akan menggantikan Satgas Konga sebelumnya serta memiliki pandangan dan tujuan yang sama, yaitu melaksanakan misi pemeliharan perdamaian dunia.
T-155 Fitrina adalah alutsista penggempur yang tergolong dalam howitzer swa gerak. Fitrina dibangun dari basis howitzer K9 Thunder buatan Korsel. T-155 diciptakan pada tahun 2001 dengan diperkuat meriam kaliber 155mm. Penggempur ini diawaki oleh 5 orang kru, terdiri dari komandan, pengemudi, penembak, dan pengisi peluru. Fitrina sanggup menembak sejauh 40 km, dengan daya jelajah mencapai 480 km. [carcaro.net]
Turki mengandalkan BMC Kirpi sebagai kendaraan angkut pasukan. Kirpi dilengkapi dengan baja anti peluru level 3 dan sanggup membawa 15 orang prajurit, dengan jangkauan operasional mencapai 1000 km. Kendaraan pengangkut pasukan ini mampu berjalan dengan kecepatan maksimum 60 km/jam. Kirpi hanya mengandalkan senapan mesin sebagai alat pertahanan diri dan secara desain Kirpi mampu menahan ledakan ranjau karena menganut desain MRAP. [wikipedia.org]
FNSS ACV-15 adalah kendaraan angkut tempur andalan Turki. Kendaraan tempur atau ranpur ini dibangun pada tahun 1992 oleh FNSS Defence Systems. Hebatnya ranpur ini dilisensi oleh Malaysia dan dijadikan kendaraan tempur andalan negeri Jiran. ACV-15 sanggup mengangkut 8 orang tentara, dan dipersenjatai dengan kanon kaliber 25mm sharpshooter. ACV-15 memiliki jangkauan operasional mencapai 490 km dengan kecepatan tempuh mencapai 65 km/jam. [wikipedia.org]
Turki dikenal sebagai negara yang memiliki jenis kendaraan tempur atau ranpur berbagai macam ragam, salah satunya adalah FNSS Pars. Ranpur ini didesain oleh FNSS dan diperuntukan sebagai kendaraan tempur garis depan, dengan sistem beladiri berupa kanon kaliber 25 mm dan senapan mesin kaliber 7.62mm. Daya jangkau Pars terhitung sangat jauh mencapai 1.000 km dengan kecepatan 100 km/jam. [wikipedia.org]
Peluncur roket T-122 Sakarya adalah peluncur roket mematikan buatan Roketsan. Turki mengandalkan roket multilaras untuk menggempur lawan secara cepat dan masif. Terhitung Sakarya sanggup menembakan 40 roket dan menghancurkan target hingga jarak 40 km. Penggunaan roket sebagai sistem ofensif pertama kali digagas oleh Rusia, dan kini sejumlah negara mempercayakan sistem roket multilaras sebagai penggempur, salah satunya adalah Indonesia. [military-today.com]
Otokar Cobra adalah kendaraan angkut dan intai buatan Otokar. Kendaraan tempur ini sudah mendapat cap combat proven atau teruji di medan tempur. Mulai dari perang Afganistan, Georgia, dan konflik antara Turki dengan pejuang Kurdi. Daya tempuh Cobra terhitung pendek hanya 752 km dengan kecepatan tempuh mencapai 155 km/jam. [reddit.com]
★ Tempo
Pasukan Peshmerga banyak yang dilatih oleh tentara Turki untuk melawan ISIS di wilayah Irak dan Suriah (The Guardian) ☆
Turki mengirimkan 130 tentara menuju wilayah Kota Bashiqa, Mosul di Irak, demi melatih pejuang yang akan menggempur ISIS.
“Satu batalion tentara Turki telah tiba di wilayah Mosul Bashiqa. Mereka disana untuk mengadakan latihan rutin untuk para pejuang,” kata sumber pasukan keamanan Turki, sebagaimana dilansir dari Reuters, Sabtu (5/12/2015).
Pada awalnya dikabarkan sumber tersebut menolak untuk memberi tahu jumlah total dari tentara Turki yang dikirimkan wilayah tersebut, namun tidak lama terungkap bahwa jumlah tentara dalam satu batalion tersebut adalah 130 orang.
Selain 130 tentara tersebut, 20 hingga 25 unit kendaraan lapis baja juga dikirimkan ke Kota Bashiqa tersebut.
Dilaporkan, para tentara ini juga dikirimkan untuk menggantikan tentara Turki lainnya yang selama 2,5 tahun berada disana untuk melatih pejuang Kurdi, yaitu pasukan Peshmerga.
Sebenarnya pemilihan waktu untuk mengirimkan tentara baru Turki ke Irak, cukup tepat, mengapa? Ini bisa dijadikan justifikasi Turki, untuk menghilangkan tuduhan Rusia, bahwa sedikit banyak Turki terlibat dengan ISIS.
Dengan ini, Turki ingin memperlihatkan bahwa mereka serius untuk ikut dalam usaha mengalahkan ISIS.
Irak Tuntut Turki Tarik Kembali Tentara di Mosul
ISIS menduduki wilayah Mosul di Irak (Foto: NBC News) ☆
Pemerintah Irak menuntut Turki untuk menarik kembali tantara yang mereka kirimkan ke wilayah Mosul.
Perdana Menteri Irak Haider al Abadi mengatakan bahwa tindakan Irak tersebut adalah sebuah pelanggaran berat terhadap wilayah kedaulatan Irak, sebagaimana dilansir dari BBC, Sabtu (5/12/2015).
Seperti pemberitaan sebelumnya, sekira 130 tentara Turki telah dikirimkan ke dekat Kota Bashiqa, Mosul, Irak untuk melatih pejuang Kurdi melawan ISIS.
Wilayah Mosul sendiri bisa dikatakan sebagai pusat ISIS di Irak, dan telah dikontrol oleh militan radikal tersebut selama hampir satu tahun.
Pada pernyataannya juga PM Irak mengatakan, “Untuk menghormati hubungan bertetangga yang baik, secepatnya mereka (Turki) harus menarik tentaranya dari wilayah Irak”.
Sebenarnya, jatuhnya Mosul ke tangan ISIS menjadi permulaan menyebarnya militan radikal tersebut di Irak dan hingga saat ini pemerintah Irak masih berusaha mengambil alih wilayah tersebut namun kerap dipukul mundur oleh ISIS. (hmr)
T-90 diturunkan setelah pasukan pemberontak Suriah mampu menghancurkan tank-tank Rusia lainnya dengan rudal yang mereka miliki. (Wikipedia) ☆
Pemerintahan Vladimir Putin meningkatkan keterlibatan Rusia dalam perang di Timur Tengah dengan menurunkan kendaraan tempur lapis baja paling canggih mereka, tank T-90, ke garis depan pertempuran Suriah. Rusia juga memperluas pangkalan udara mereka di negara itu.
Diberitakan The Telegraph, Jumat (4/12), informasi ini disampaikan kantor berita Iran, Fars, didukung oleh bukti-bukti foto tank yang beredar di sosial media pekan ini. Tank tersebut diduga telah berada di wilayah kekuasaan rezim Bashar al-Assa di selatan Aleppo.
T-90 disebut diturunkan setelah pasukan pemberontak Suriah mampu menghancurkan tank-tank Rusia lainnya dengan rudal yang mereka miliki. Tank T-90 dilengkapi dengan tameng peledak, membuat sebagian besar rudal tidak akan bisa mendekati kendaraan lapis baja ini.
Media pro-Assad mengatakan bahwa tank ini nantinya akan dikendarai oleh pasukan Suriah yang terlatih. Namun klaim ini diragukan karena tank tersebut memiliki spesifikasi tinggi sehingga tidak sembarang orang bisa menggunakannya.
Walaupun tank ini juga diturunkan dalam konflik di Ukraina dan Chechnya, namun ini adalah kali pertama T-90 digunakan di medan perang. Para ahli mengatakan, intervensi Rusia dalam perang Suriah malah justru akan memperpanjang konflik di negara itu yang saat ini telah memakan korban jiwa hingga 250 ribu orang.
Penurunan T-90 juga dianggap wujud rasa frustrasi Rusia setelah banyak tank mereka dengan spesifikasi lebih rendah mampu dihancurkan rudal pemberontak yang dipasok oleh negara-negara Teluk dan Turki.
Selain menurunkan senjata baru, Rusia juga memperluas pangkalan udara mereka di Homs agar bisa menampung lebih banyak lagi jet tempur. Pangkalan udara lainnya di timur Homs juga telah digunakan Rusia untuk markas helikopter tempur, seperti disampaikan oleh lembaga Syrian Observatory for Human Rights.
Memperkuat kehadiran Rusia di Homs dan Suriah tengah diharapkan bisa membantu merebut kota Palmyra dari ISIS. Sudah tujuh bulan ISIS menguasai kota tua itu dan menghancurkan banyak peninggalan bersejarah.
Cara ini juga diharapkan bisa mengamankan ladang gas alam yang penting bagi ketersediaan energi di Damaskus. (den)