Perkuat Skuadron 4
PT DI menyerahkan NC212i unit ke-8 kepada TNI AU (PT DI)
PTDI kembali melaksanakan pengiriman 1 (satu) unit pesawat NC212i dengan konfigurasi khusus untuk misi Troop Transport, Rainmaking & Camera sebagai bagian dari pemenuhan kontrak pengadaan 9 unit NC212i dengan Kemhan RI untuk end user TNI AU.
Pesawat NC212i unit ke-8 yang dikirimkan hari ini telah melaksanakan ferry flight dari hanggar Delivery Center PTDI, Bandung menuju Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Hal ini merupakan komitmen PTDI dalam mendukung penguatan kesiapan operasional TNI AU melalui penyediaan pesawat yang sesuai dengan kebutuhan misi.
Pesawat NC212i berkonfigurasi Troop Transport, Rainmaking & Camera dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional, mulai dari angkut personel, pelaksanaan operasi weather modification, hingga misi foto udara.
Konfigurasi khusus ini mencerminkan fleksibilitas platform NC212i yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, sehingga mampu menjalankan beragam misi secara efektif.
Guna meningkatkan performa dan kenyamanan operasional, pesawat NC212i ini juga telah dilengkapi dengan baling-baling MTV-27 produksi MT Propeller, Jerman, yang telah tersertifikasi oleh EASA.
Baling-baling tersebut menawarkan berbagai keunggulan, antara lain tingkat kebisingan yang lebih rendah, performa yang lebih stabil saat pesawat beroperasi dengan single engine pada ketinggian, serta proses engine start yang lebih halus tanpa menimbulkan hentakan. Didukung kompatibilitas yang telah teruji dengan mesin Honeywell TPE331, baling-baling MTV-27 mampu meningkatkan performa pesawat dengan tingkat getaran dan kebisingan yang lebih rendah, sehingga memberikan kenyamanan dan efisiensi operasional yang lebih baik.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Produksi PTDI, Dena Hendriana beserta tim program NC212i meninjau langsung persiapan pesawat dengan tail number AX-2135 yang selanjutnya akan dioperasikan oleh Skadron Udara 4, Malang. Pesawat yang diterbangkan oleh Letkol Pnb Andika Ardyagana sebagai Pilot in Command Ferry, serta Kapten Irvan Fajar sebagai Copilot.
🤝 Direncanakan kembali mengambil jatah AL Italia
Kapal PPA ketiga direncanakan akan mengambil jatah AL Italia. (Seaforces)
Indonesia dilaporkan berencana untuk mengakuisisi satu kapal fregat serbaguna PPA dan satu kapal selam U212 NFS dari inventaris Angkatan Laut Italia (Marina Militare), keduanya dibangun oleh Fincantieri.
Jika diselesaikan, kedua platform tersebut diharapkan akan dikirimkan pada akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028.
PPA adalah kapal perang multiperan yang sangat mumpuni yang dirancang untuk pertahanan udara, peperangan anti-kapal selam, peperangan anti-kapal permukaan, dan misi keamanan maritim.
Kapal selam U212 NFS dikenal sebagai Wiro Sableng (occar)
Sementara U212 NFS adalah salah satu kapal selam konvensional tercanggih di dunia, dilengkapi dengan Sistem Propulsi Independen Udara (AIP) untuk daya tahan bawah air yang lebih lama dan peningkatan kemampuan siluman.
Akuisisi yang dilaporkan ini menyoroti upaya berkelanjutan Indonesia untuk memodernisasi angkatan lautnya dengan cepat di tengah meningkatnya tantangan keamanan di Indo-Pasifik.
Latma Orruda 2026
(Dispenal)
Kapal perang TNI AL KRI I Gusti Ngurah Rai-332 merampungkan fase laut (sea phase) bersama armada tempur Rusia di perairan Vladivostok, Rabu (29/7). Kapal perang jenis fregat ini menguji kemampuan tempur dan pertahanan udara dalam latihan bersama Orruda 2026.
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 bergerak berdampingan dengan kapal perang Rusia Soversenny-333 usai bertolak dari pelabuhan. Kedua kapal perang tersebut menggelar formasi tempur di tengah cuaca ekstrem Samudra Pasifik.
Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II Laksda I Gung Putu Alit Jaya menegaskan latihan di Vladivostok ini mengasah kesiapsiagaan prajurit saat beroperasi di perairan Vladivostok.
“KRI I Gusti Ngurah Rai-332 bersama kapal perang Rusia Soversenny-333 sukses melaksanakan serial latihan tahap sea phase Orruda 2026 di perairan Vladivostok. Latihan ini memperkuat kerja sama dan interoperabilitas TNI AL dan Angkatan Laut Rusia melalui berbagai serial latihan di laut,” ujar Alit, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Kamis (30/7).
Selama dua hari latihan, pada 29-30 Juli, para pelaut melakoni sejumlah skenario pertempuran. Materi latihan meliputi penembakan senjata ringan di laut (small arms firing at Sea/SAFAS), uji tembak meriam (gunnery exercise), pergerakan kapal bersama (joint maneuver exercise), hingga pertahanan udara (air defence exercise).
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 juga menguji teknik penghalauan pesawat tanpa awak (counter action against UAV exercise) untuk mengantisipasi serangan drone pengintai maupun drone kamikaze musuh.
Tak hanya simulasi tempur, kedua kapal perang menggelar pertukaran kru (cross deck). Prajurit TNI AL menyeberang ke kapal Soversenny-333, sementara pelaut Rusia menjajal geladak KRI I Gusti Ngurah Rai-332.
“Selain latihan tempur, kedua angkatan laut menggelar pertukaran kru di masing-masing kapal. Langkah ini jadi sarana berbagi pengetahuan, pengalaman, serta memahami prosedur operasional masing-masing angkatan laut,” tambah Alit.
Latihan bersama ini turut melibatkan kekuatan udara dan pasukan khusus. TNI AL memboyong 145 prajurit, heikopter Panther HS-1310, serta satu tim Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) untuk berlatih bersama helikopter RN-Kamov (Ka-28) milik Angkatan Laut Rusia.
Rangkaian sea phase Orruda 2026 resmi berakhir lewat formasi perpisahan (farewell formation) di lepas pantai Vladivostok.
Oleh Curie Maharani
Pesawat tempur KF-21 Boramae kursi tunggal, kemungkinan yang akan dikirimkan ke Indonesia (Jetphotos)
Analis pertahanan dan hubungan internasional BINUS University Curie Maharani menilai kerja sama pengembangan pesawat KF-21 dapat menjadi ‘test of history’ bagi Indonesia dan Korea Selatan. Dalam konteks tersebut, Curie menjelaskan, proses renegosiasi yang berlarut-larut pada akhirnya memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana kedua negara mampu memulihkan komitmen serta kepercayaan terhadap program yang telah berjalan lebih dari 15 tahun tersebut, terutama dalam kerangka kesepakatan pengadaan.
Curie menegaskan bahwa skema pengadaan tidak dapat dilepaskan dari mekanisme IDKLO (imbal dagang, kandungan lokal, dan offset) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Karena itu, tantangan utama Indonesia bukan hanya terletak pada aspek partisipasi dalam kerja sama pengembangan bersama (joint development), tetapi juga pada kemampuan untuk mengubah kerja sama tersebut menjadi manfaat nyata melalui skema offset yang dapat memperkuat industri pertahanan nasional dan kemandirian TNI.
Peluang Kerja Sama
Pada dasarnya, Curie menilai bahwa kerja sama KF-21 tetap memiliki nilai strategis. Proyek ini dipandang dapat menjadi jembatan bagi Indonesia untuk memasuki ekosistem pesawat tempur generasi kelima. Hal tersebut diperkuat dengan rencana Korea Selatan yang diketahui tengah menyiapkan pengembangan generasi lanjutan KF- 21 bersama mitra internasional.
“Pilihan kita memang terbatas. Selain Rusia (yang terkena CAATSA) dan Turki (yang belum terbukti dan battle-proven), Indonesia tidak memiliki akses ke pesawat tempur generasi kelima lainnya. Amerika Serikat (AS) pun tidak bersedia melepas F-35,” jelas Curie dalam pernyataan tertulisnya kepada redaksi Indonesia Defense Magazine, Mei 2026.
Selain aspek strategis tersebut, ia juga menyoroti potensi penguatan kerja sama industri pertahanan kedua negara di masa depan, antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Korea Aerospace Industries (KAI). Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan prototipe lanjutan; peningkatan Technology Readiness Level (TRL) dan Manufacturing Readiness Level (MRL) pada produk komposit dan kualifikasi produk; serta program data untuk operasional, pemeliharaan, produksi dan upgrade.
Kemudian, dari sisi operasional, Curie menilai kerja sama dengan ‘Negeri Gingseng’ itu relatif lebih mudah diimplementasikan. Hal tersebut lantaran TNI Angkatan Udara (TNI AU) saat ini telah mengoperasikan pesawat latih produksi Korea Selatan, sehingga tingkat kompatibilitas sistem dan dukungan logistik sudah terbangun. “Lain halnya kalau kita akuisisi produk Turki ataupun Tiongkok, yang sama sekali belum pernah menyediakan teknologi pesawat. Juga, teknologi Korsel adalah turunan dari Amerika Serikat yang kita sudah familiar,” jelas dia.
Posisi Strategis Korea Selatan bagi Indonesia
Curie menganalisis bahwa Korea Selatan memiliki posisi strategis bagi Indonesia, meskipun keduanya tidak tergolong sebagai negara inovator utama dalam teknologi pertahanan. Pertama, Korea Selatan dapat menjadi sumber akses bagi Indonesia untuk memperoleh teknologi standar Barat dari tangan kedua, sekaligus negara dengan industri pertahanan yang berkembang pesat dan memiliki jejaring konsumen global.
Selain itu, Korea Selatan juga dipandang strategis sebagai penyuplai, mengingat Indonesia masih memiliki ketergantungan atas sembilan alutsista asal ‘Negeri Gingseng’ tersebut, antara lain kendaraan tempur Black Fox dan Barracuda; artileri KH-178 dan KH-179; kapal perang pesisir Mandau; kapal amfibi kelas Dr. Soeharso dan Teluk Semangka; pesawat latih T-50i dan KT-1B; serta rudal anti-pesawat Chiron.
Meskipun porsinya hanya sekitar tiga persen dari total jenis alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI, tetapi hubungan di antara kedua negara perlu tetap dipelihara dengan baik sehingga kebutuhan pemeliharaan dan peningkatan (upgrade) kapabilitas alutsista tersebut dapat dijaga secara berkelanjutan.
“Industri pertahanan Korsel sendiri bergantung pada 61% komponen dari AS, termasuk untuk air-to-surface missile, combat helicopter radar, tank chassis, aircraft electro-optical system, serta combat aircraft radar. Jadi, ketika kita membeli dari Korsel, kemungkinan ada kandungan komponen AS di dalamnya,” lanjut Curie.
Sementara itu, membahas perihal kerja sama sebagai rantai suplai, ia menyoroti tawaran dari KAI kepada PTDI untuk menjadi penyuplai strategis dengan syarat pengadaan 40 pesawat KF-21. Di sisi lain, LIG menawarkan pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dan lokalisasi produksi munisi berpemandu dan wahana nirawak, untuk memenuhi pasar domestik RI dan pasar global. “Salah satu kolaborasi yang diusulkan adalah PTDI manufaktur roket dan LIG menyediakan komponen pemandu,” pungkas Curie. (Nurhidayat Nasution dan Yuli Ari)
Pesawat Tanker Il-78MK-90A
Il-78MK-90A (Aleksandr Guk)
Pemerintah Federasi Rusia melalui agen eksportir senjata negara, ROSOBORONEXPORT, menyatakan telah menerima daftar permintaan resmi (official request) dari Pemerintah Republik Indonesia terkait pengadaan persenjataan dan peralatan militer untuk periode 2025–2030. Salah satunya adalah jet tanker Ilyushin Il-78MK-90A.
Laporan dari media Rusia, www1.ru, menyebutkan portofolio permintaan dari Indonesia mencakup berbagai sistem pertahanan udara dan darat, dengan salah satu item kunci berupa pesawat pengisi bahan bakar di udara tersebut.
Bedah Kemampuan Il-78MK-90A
Masuknya nama Il-78MK-90A dalam daftar belanja pertahanan Indonesia menarik perhatian para analis. Pesawat ini merupakan versi modernisasi mutakhir dari platform legendaris Il-78, yang dibangun berbasis pesawat angkut berat Il-76MD-90A.
Beberapa keunggulan teknis Il-78MK-90A meliputi berbagai hal, termasuk peran gandanya sebagai pesawat tankaer dan angkut berat untuk angkut personel maupun kargo.
Pesawat ditenagai mesin baru PS-90A-76, yang memberikan efisiensi bahan bakar lebih tinggi, jangkauan terbang lebih jauh, serta kapasitas angkut (payload) yang jauh lebih besar dibandingkan varian pendahulunya.
Pesawat Il-76MD-90A dilengkapi dengan sistem pod pengisian bahan bakar modern (UPAZ-1M) yang mampu melayani transfer avtur ke beberapa pesawat tempur secara bersamaan di udara.
Penguat Jangkauan Strategis TNI AU
Kehadiran pesawat tanker kelas berat sangat krusial bagi geografis Indonesia yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke. Pesawat mampu melakukan multiplikasi daya jelajah, yaitu menggandakan radius tempur armada jet tempur TNI AU tanpa perlu mendarat untuk pengisian bahan bakar.
Pesawat dapat digunakan untuk mendukung pengamanan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan alur laut kepulauan secara berkala dengan durasi loitering (bertahan di udara) yang jauh lebih lama.
Kerjasama Pertahanan Indonesia-Rusia
Menilik ke belakang, kerja sama teknis-militer antara Jakarta dan Moskow memiliki rekam jejak yang panjang. Indonesia sebelumnya telah mengoperasikan berbagai sistem kesenjataan buatan Rusia, mulai dari jet tempur Su-27SKM dan Su-30MK2, helikopter serang Mi-35M, helikopter angkut Mi-17, hingga kendaraan tempur amfibi BMP-3F untuk Korps Marinir TNI AL.
Langkah pengajuan daftar belanja periode 2025–2030 ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas-aktif serta kebijakan diversifikasi alutsista. Indonesia terus menjaga keseimbangan pasokan pertahanan dari berbagai produsen utama dunia demi memperkuat kedaulatan wilayah nasional.
Realisasi dari daftar permintaan ini diperkirakan akan melalui tahap negosiasi teknis, skema pendanaan, serta pembahasan kesepakatan imbal dagang (countertrade) dan transfer teknologi (ToT) sesuai dengan regulasi perundang-undangan pertahanan di Indonesia. (AF)
40 % lebih murah dari pesawat sejenis dari barat
Pesawat tempur KF-21 Boramae kursi tunggal, kemungkinan yang akan dikirimkan ke Indonesia (Jetphotos)
KAI menawarkan 16 unit KF-21 Block 2 seharga $2 miliar sebagai alternatif yang diklaim lebih murah, tetapi harga tersebut tidak termasuk persenjataan, sementara F-35 mencapai $208-225 juta dan Rafale $225 juta dalam kesepakatan terbaru.
Korea Selatan mempromosikan pesawat tempur terbarunya, KF-21 Boramae, ke Indonesia, dan untuk pertama kalinya ada kesempatan untuk setidaknya memperkirakan secara kasar berapa biaya pesawat tempur ini.
Korea menawarkan Indonesia pembelian 16 pesawat KF-21 Block 2 dengan harga sekitar $2 miliar — secara kasar, ini berarti $125 juta per pesawat, yang hingga saat ini mungkin merupakan harga ekspor pesawat tempur yang benar-benar demokratis.
Defense Express mencatat bahwa rincian proposal Korea Selatan untuk pesawat tempur KF-21 bagi Indonesia saat ini belum diketahui, sehingga tidak jelas apa saja yang termasuk dalam biaya ini — misalnya, jika ini hanya mencakup pesawat tanpa senjata, maka akan membutuhkan biaya yang cukup besar, atau apakah mesin termasuk dalam biaya dan sebagainya.
Jadi, 125 juta USD dapat dianggap sebagai titik awal, sementara biaya pesawat tempur sebenarnya secara komprehensif pada akhirnya mungkin lebih tinggi — dan ini bukan margin kecil tetapi kemungkinan jumlah tambahan puluhan juta dolar.
Pada saat yang sama, Korea Selatan mempromosikan pesawat tempur KF-21 terutama sebagai solusi dengan harga terjangkau, dan sebelumnya menekankan bahwa pesawat ini bisa hingga 40% lebih murah dibandingkan dengan pesaing Barat.
Sekarang, dengan mengetahui setidaknya perkiraan biaya ekspor pesawat tempur, kita dapat membandingkan apakah pesawat ini benar-benar semurah itu.
Pertama-tama, perlu disebutkan F-35 Amerika sebagai perwakilan khusus dari generasi kelima — dengan mempertimbangkan, sekali lagi, perbedaan biaya dari satu negara ke negara lain dan bergantung pada jumlah persenjataan, faktor lain termasuk seberapa besar jumlah pesawat yang direncanakan untuk dipesan.
Sebagai contoh, satu pesawat F-35 untuk Rumania pada tahun 2024 berharga sekitar $225 juta per pesawat tempur jika membeli total 32 pesawat. Dan ini tanpa persenjataan (tetapi ini bukan kesepakatan akhir, jadi ini mencakup biaya maksimum yang mungkin).
Untuk Republik Ceko dalam kontrak tetap, biaya pesawat tempur mencapai $208,3 juta. Dan ini mencakup harga beberapa tahun yang lalu, sementara saat ini biaya pesawat ini mungkin bahkan lebih tinggi.
Jumlah uang yang hampir sama dikeluarkan pembeli untuk satu pesawat tempur Rafale buatan Prancis — sebagai contoh, dapat disebutkan Serbia, yang pada tahun 2024 membeli 12 pesawat dengan harga €225 juta per unit.
Bahkan F-16 baru pun bisa berharga cukup mahal, bahkan lebih mahal daripada generasi kelima, contohnya di Filipina, yang tahun lalu menetapkan biaya maksimum hingga $279 juta per pesawat.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini dan jika mengambil biaya pesawat tempur modern dari $200 juta per unit, agar KF-21 40% lebih murah daripada para pesaingnya, biayanya seharusnya sekitar $120 juta per pesawat, sehingga pesawat Korea Selatan sudah tidak sesuai dengan indikator ini.
🎥 By Baltic Defence Review
Peluncuran FMP KRI BPD 322 (PAL)
Fregat Arrowhead 140 Rancangan Babcock International Diadopsi Inggris, Polandia dan Indonesia.
FMP (Fregat Merah Putih) pertama produksi PT PAL dengan panjang hampir 140 meter ini didesain sebagai fregat multimisi yang fleksibel dan berkemampuan tinggi untuk angkatan laut Indonesia, dan juga digunakan Inggris dan Polandia dengan spek yang berbeda.
Kapal fregat modern ini merupakan desain dasar dari fregat Type 31 milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy), serta telah dipilih untuk memperkuat Angkatan Laut Polandia dan Indonesia. Pemerintah Indonesia kembali memesan tambahan 2 unit pada tahun 2026, yang direncanakan akan diproduksi tahun 2027.
Berikut Video dari YouTube :
🎥 Youtube
Perkuat TNI AL
Helikopter AW 149 Multi mission (Leonardo)
Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI mulai menjajaki pengadaan helikopter multiguna AW149 buatan perusahaan pertahanan asal Italia, Leonardo, sebagai bagian dari upaya memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membenarkan bahwa komunikasi antara pemerintah Indonesia dan Leonardo telah memasuki tahap awal melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI).
Menurut Rico, penandatanganan LoI belum berarti kontrak pembelian telah dilakukan. Dokumen tersebut menjadi dasar penjajakan kerja sama antara kedua pihak sebelum memasuki tahapan pengadaan.
Ia menjelaskan ruang lingkup kerja sama yang dibahas tidak hanya mencakup pengadaan helikopter AW149, tetapi juga pengembangan dukungan teknis, pemeliharaan, pelatihan personel, hingga peningkatan kapasitas industri pertahanan nasional.
Kemhan menilai aspek transfer pengetahuan dan penguatan kemampuan industri dalam negeri menjadi bagian penting dalam setiap kerja sama pengadaan alutsista strategis.
Meski demikian, Rico belum mengungkapkan jadwal pasti pembelian maupun jumlah helikopter AW149 yang akan diakuisisi Indonesia.
Ia juga belum memberikan kepastian saat ditanya apakah helikopter tersebut diproyeksikan untuk beroperasi di kapal induk helikopter eks Italia, Giuseppe Garibaldi, yang belakangan santer dikaitkan dengan rencana penguatan armada TNI AL.
Berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah kelapa sawit
(Pindad)
Pindad mengembangkan teknologi pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi nitroselulosa, bahan baku utama propelan atau isian pendorong amunisi. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma, mengatakan riset yang dimulai pada 2022 kini telah memasuki tahap proyek percontohan.
Saat ini, PT Pindad mampu mengolah sekitar 50 ton tandan kosong kelapa sawit per tahun menjadi nitroselulosa untuk propelan.
"Tahun depan harapan kami dapat meningkatkan kapasitas menjadi 1.000 ton per tahun," ujar Prima dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).
Menurut Prima, peningkatan kapasitas tersebut dilakukan secara bertahap agar proses produksi dapat dioptimalkan sebelum memasuki skala industri. Ia menjelaskan, kebutuhan propelan nasional diperkirakan mencapai 2.500 hingga 3.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,5 miliar butir amunisi.
Sementara itu, kapasitas produksi propelan PT Pindad saat ini baru berkisar 800 hingga 1.000 ton per tahun sehingga masih terdapat kesenjangan pasokan yang cukup besar. Untuk menghasilkan 1.000 ton propelan, perusahaan membutuhkan sekitar 2.500 hingga 3.000 ton tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku.
Prima menilai kebutuhan tersebut masih relatif kecil dibandingkan jumlah limbah tandan kosong yang dihasilkan industri kelapa sawit di Indonesia.
"Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan pabrik kelapa sawit sehingga sangat memungkinkan untuk dipenuhi," ujarnya.
Selama ini, industri propelan dunia umumnya menggunakan selulosa yang berasal dari *cotton linter* atau serat kapas serta pulp kayu.
Menurut Prima, Indonesia menghadapi keterbatasan pasokan cotton linter sehingga pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan ketersediaan sumber daya dalam negeri.
Dalam proses produksinya, tandan kosong kelapa sawit dicacah, dibersihkan, dan dipisahkan untuk memperoleh serat selulosa. Selanjutnya, selulosa diproses melalui reaksi nitrasi untuk menghasilkan nitroselulosa sebagai bahan baku propelan.
Ramah lingkungan
Selain memanfaatkan limbah yang melimpah, penggunaan tandan kosong kelapa sawit juga dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik.
Prima mengatakan pengembangan bahan baku lokal menjadi semakin penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap propelan impor.
Menurut dia, hanya terdapat sekitar lima hingga enam pabrik besar di dunia yang memproduksi propelan sehingga pasokan global sangat terbatas. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga propelan.
Prima menyebut harga propelan yang sebelum perang Rusia-Ukraina berkisar 19 hingga 20 dollar AS per kilogram meningkat menjadi sekitar 40 hingga 50 dollar AS per kilogram.
Setelah konflik di Timur Tengah memanas, harganya kembali melonjak hingga sekitar 100 sampai 140 dollar AS per kilogram. Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan dari luar negeri juga dapat mencapai empat hingga lima tahun.
"Kalaupun kami memperoleh harga sekitar 80 hingga 90 dollar AS per kilogram, kami tetap harus menunggu empat sampai lima tahun hingga material tersebut dikirim ke Indonesia," kata Prima.
Ia menambahkan, ketergantungan terhadap impor juga meningkatkan risiko terganggunya pasokan akibat embargo maupun dinamika geopolitik.
Meski demikian, pengembangan propelan berbasis tandan kosong kelapa sawit masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena setiap pabrik kelapa sawit memiliki karakteristik limbah yang berbeda.
Melalui proyek percontohan tersebut, PT Pindad menargetkan seluruh standar mutu dan sertifikasi dapat dipenuhi sebelum fasilitas produksi skala industri mulai beroperasi.
Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027.
Menurut dia, jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.)