Senin, 07 Desember 2015

Jenderal Gatot Minta Peremajaan Radar TNI AU

Perkuat Poros Maritim Ilustrasi Radar

P
residen Joko Widodo menitik beratkan kekuatan poros maritim dalam kedaulatan wilayah Indonesia. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sependapat dengan hal tersebut.

Ia menegaskan mesti ada penambahan keunggulan di matra TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara untuk mendukung teritorial poros maritim. Salah satunya adalah penguatan yang dimiliki TNI AU yaitu diharapkan memiliki radar pendeteksi pihak negara asing yang masuk wilayah Indonesia.

"Kejadian di Maluku, Sulawesi, Kalbar (masuk pihak asing) itu makanya perlu pembangunan untuk TNI AU yang harus diprioritaskan. Kita harus memiliki kekuatan udara untuk mendukung poros maritim ini," tutur Gatot saat menjadi pembicara di acara Simposium Kebangsaan MPR di Nusantara IV, komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/12/2015).

Dia mengatakan kelebihan Indonesia di sektor maritim tak bisa diabaikan. Hal ini yang perlu menjadi perhatian yang disiapkan.

"Ini tak bisa diabaikan. TNI harus kuat dan cepat. Kemampuan udara diperkuat, maka akan dukung laut Indonesia yang luas," tutur eks Kepala Staf TNI AD (KSAD) itu.

Kemudian, ia menekankan intinya perlu dukungan dalam keberadaan teknologi alat utama sistem pertahanan (alutsista) untuk TNI. Dengan dukungan alutsista, TNI diyakini bisa lebih maksimal dalam menjaga kedaulatan wilayah.

"Ini sesuai dengan kondisi poros maritim internasional," ujarnya. (hat/Hbb)

  detik  

Pemerintah RI yang Putuskan Apa yang Harus Dilakukan

Akhir tahun 2015 diwarnai dengan dinamika politik global, khususnya terkait ancaman ISIS. Pada Selasa (1/12) lalu, RBTH Indonesia berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. Galuzin secara eksklusif. Kami bertanya kepada sang dubes, isu keamanan dan tantangan global apa saja yang akan dihadapi kedua negara di 2016, dan kerja sama apa yang harus disiapkan demi memperkuat keamanan nasional? Dubes Rusia [Fauzan Al-Rasyid]

S
erangkaian aksi teror tercatat mewarnai dunia sepanjang 2015. Dimulai dari tragedi teror di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis pada awal tahun ini, kemudian serangkaian perang di Timur Tengah, jatuhnya pesawat sipil Rusia di Mesir yang diklaim ISIS sebagai aksinya, hingga kembali teror ke Prancis pada November lalu, yaitu pengeboman yang juga diklaim sebagai aksi teror ISIS. Tahun depan, masyarakat dunia ingin melihat dunia yang lebih terkonsolidasi demi melawan ancaman terorisme global, demikian diungkapkan Dubes Rusia Mikhail Galuzin. RBTH Indonesia bertanya lebih lanjut kepada sang dubes mengenai isu politik dan keamanan dalam sebuah wawancara eksklusif.

RBTH (R): Apa rencana kerja sama Rusia-Indonesia lainnya di bidang militer? Apakah ada proyek menjanjikan lainnya seperti kontrak pembelian Su-35?

Mikhail Galuzin (M.G.): Kerja sama teknis-militer adalah bagian yang sangat penting dalam hubungan Rusia dan Indonesia. Saya membaca berbagai publikasi di media mengenai pernyataan beberapa pejabat Indonesia untuk membeli Su-35. Sebagai dubes Rusia, saya sangat mengapresiasi niatan ini. Saya anggap ini sebagai apresiasi terhadap kualitas tinggi senjata dan perlengkapan militer Rusia. Saya sangat bangga terhadap kepercayaan yang diberikan Indonesia kepada kami.

Karena itu, pihak Rusia siap untuk bekerja sama lebih lanjut di area yang sangat penting ini. Saya harap di masa depan, selama parade militer perayaan hari ulang tahun TNI, kita akan melihat lebih banyak perlengkapan militer Rusia, seperti bisa kita lihat di tahun ini pada Oktober lalu saat peringatan 70 tahun berdirinya TNI, kita melihat jet-jet tempur Su-30 di langit Indonesia, kita melihat helikopter-helikopter buatan Rusia, kita melihat kendaraan tempur infanteri tank amfibi BMP-3F korps marinir Indonesia, dan saya harap kita akan melihat lebih banyak (alutsista Indonesia buatan Rusia) di masa depan.
Dalam renstra TNI AL 2015-2019, Indonesia akan menambah 27 unit BMP3F [TNI AL]

R: Bagaimana prediksi Anda terhadap perkembangan politik dunia di 2016, dan apa pengaruhnya terhadap hubungan Rusia dan Indonesia?


M.G.: Saya pikir, komunitas dunia ingin melihat tahun depan sebagai tahun konsolidasi, tahun yang pada masa masyarakat internasional akan bersatu dalam menjawab tantangan dan ancaman global yang semakin tumbuh berbahaya, yaitu ancaman terorisme global. Jadi, kami ingin melihat konsolidasi lebih lanjut di antara komunitas internasional dalam menghadapi ancaman terorisme global.

Akhir-akhir ini, ada sinyal positif (terkait konsolidasi tersebut) karena mulai ada langkah-langkah konkret untuk mendirikan koalisi internasional demi melawan ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah dan Irak. Ini suatu hal yang sangat penting dalam hubungan internasional. Sayangnya, tren ini dirusak secara tidak bertanggung jawab oleh Turki dengan menembak jatuh salah satu pesawat pengebom Rusia yang sedang melaksanakan misi antiteroris di langit Suriah.

Sangat di sayangkan, ada negera-negara, seperti Turki, yang berusaha meyakinkan (dunia) melalui kata-kata bahwa mereka ingin melawan teroris, tapi kenyataannya mereka justru membantu terorisme. Tentunya dalam suasana seperti ini, kami akan tetap melanjutkan usaha kami untuk menuntaskan ancaman terorisme ini. Senin (30/12) lalu, Presiden Putin bertemu dengan Presiden Obama di Paris. Mereka berdiskusi tentang pendalaman kerja sama antiteror di Suriah. Pertemuan ini sangat penting, dan kami harap (kerja sama) ini akan berlanjut di tahun depan.

Selain itu, di tahun depan, masyarakat internasional akan menghadapi berbagai tantangan lainnya, seperti perubahan iklim, menjaga kestabilitasan dan keberlangsungan pertumbuhan positif ekonomi global, dan sejumlah masalah kesejahteraan sosial dan budaya lainnya. Hal-hal itu sangat kompleks di dunia, dan salah satu masalah bersama yang dihadapi juga terkait mitigasi bencana. Tahun ini, Indonesia menghadapi bahaya besar akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Jadi, komunitas internasional punya agenda pekerjaan yang sangat luas di tahun depan dan kita berharap bahwa Indonesia dan Rusia bisa bekerja sama dalam menghadapi berbagai isu tantangan ini.
Pesawat Be-200 Beriev akan dipesan Indonesia, termasuk dalam renstra TNI AU 2015-2019 [sooperboy]

R: Melihat kondisi dunia saat ini, seperti perang di Suriah, dan belum lama ini, tragedi Su-24 yang melibatkan Turki, sebagai seorang diplomat Rusia, peran seperti apa yang Anda harapkan dari Indonesia?

M.G.: Pertama, Pemerintah Indonesialah yang akan memutuskan apa yang harus dilakukan dan langkah apa yang perlu diambil. Namun, tentu saja, sebagai dubes Rusia di Indonesia, saya berharap bahwa Rusia dan Indonesia tetap bekerja sama dalam menghadapi ancaman terorisme global dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Kami telah bekerja sama dalam bidang ini sebelumnya dan saya harap kerja sama ini akan berlanjut atas dasar kepentingan bersama.

Kedua negara kita sama-sama menghadapi ancaman ISIS, karena itu sangat penting bagi kami untuk saling bertukar informasi dan pengalaman demi melawan kelompok teroris ini. Sangat penting bagi Rusia dan Indonesia untuk melatih personil milter kami. Tidak lupa, sangat penting bagi kami untuk mempromosikan diskusi antaragama dan antarbudaya demi mengeliminasi permusuhan antarumat dan antarkelompok etnis, dan sebagainya. Itulah kerja sama yang ingin kami lanjutkan dan kembangkan dengan Indonesia.

Tentunya, kami harap Pemerintah Indonesia akan merespons terhadap tantangan ancaman yang kita hadapi bersama ini. Sampai saat ini, saya melihat Pemerintah Indonesia sangat konsisten melawan ancaman teroris.

Terkait tragedi yang melibatkan pesawat Su-24 kami dengan AU Turki, kami harap pengertian dari sisi Pemerintah Indonesia, terhadap perasaan dan posisi kami atas apa yang terjadi di Turki, yang sayangnya terjadi di langit Suriah pada 24 November lalu, yaitu ketika Su-24 ditembak jatuh oleh AU Turki sekalipun mereka tahu bahwa pesawat pengebom kami tak memberikan ancaman apa pun ke Turki, sekalipun pesawat pengebom kami tak berada di ruang udara Turki dan tidak pernah berada di sana dan melanggar ruang udaranya, sekalipun pesawat pengebom kami sedang melaksanakan misi antiteroris — dengan membasmi target berupa objek-objek teroris, seperti markas kelompok teroris, gudang persenjataan, kamp-kamp teroris, dan bahkan kilang-kilang minyak ilegal yang berada di wilayah Suriah. Kini, kita tahu bahwa minyak-minyak ilegal ini dieksktrak oleh para teroris dalam jumlah besar dan dikirim ke Turki untuk perdagangan ilegal dan inilah yang sebetulnya menjadi sumber pendanaan utama teroris. Penembakan Su-24 oleh AU Turki ini kami anggap sebagai kejahatan yang sangat memalukan.

  RBTH  

[World] Aksi Prajurit Rusia di Kapal Perang

Provokasi Konflik Rusia-TurkiAksi personil Rusia di kapal perang LST [hurryetdailynews]

Pemerintah Turki pada hari ini menuding pihak Rusia kembali melakukan provokasi terhadap negaranya, setelah seorang anggota Angkatan Laut Rusia diyakini terlihat sedang memikul sebuah peluncur roket di kapal perang, ketika melintasi perairan dekat Istanbul, Turki.

Laporan dari Angkatan Laut Turki itu bahkan telah sampai ke telinga Menteri Luar Negeri (Menlu) Mevlut Cavusoglu. Menurutnya, tindakan itu bisa dinilai sebagai aksi balasan Rusia karena kasus ditembak jatuhnya Sukhoi pada 24 November 2015.

Untuk seorang prajurit Rusia yang sengaja menampilkan peluncur roket di sebuah kapal perang dan terlihat seperti sedang mengarahkannya, hal itu dapat dikategorikan sebagai provokasi,” ujar Menlu Cavusoglu, seperti diwartakan Reuters, Minggu (6/12/2015).

Jika kami melihat situasi yang mengancam seperti itu, maka jika diperlukan kami akan memberi respons yang sesuai,” sambungnya.

Pemerintah Turki sejatinya menganggap Rusia sebagai mitra strategis dalam pemasok sumber alternatif energy ke negaranya, meskipun Rusia-Turki memang memiliki perbedaan pandangan soal Pemerintah Suriah.

Sebagaimana diberitakan, Presiden Rusia Vladimir Putin awalnya telah bersitegang dengan Eropa dan AS (NATO) yang dampaknya dirasakan di seluruh dunia. Ketegangan dimulai ketika Rusia menganeksasi wilayah Krimea setelah memisahkan diri dari Ukraina. Baik Ukraina, Eropa maupun Amerika Serikat (AS) sampai saat ini tidak bisa menerima tindakan itu.

Ketegangan berlanjut dalam perang sipil di Suriah, ketika Rusia dan AS berada di dua kubu yang berlawanan. Rusia membela rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad sedangkan AS dan sekutunya membela pemberontak Suriah.

Ketegangan dikabarkan semakin memanas ketika Turki yang merupakan bagian dari koalisi pimpinan AS menembak jatuh pesawat jet tempur Su-24 Rusia dengan alasan pesawat itu melanggar kedaulatan wilayah udara Turki. (aji)
 

  Okezone  

[Foto] OPV Damen

Minggu ini TNI AL menyampaikan renstra pengadaan alutsista periode 2015-2019. Salah satunya tertulis pengadaan 2 unit kapal OPV (Offshore Patrol Vessel).Hubungan Indonesia dengan Belanda, khususnya perusahaan Damen yang saat ini bekerjasama dengan PT PAL Indonesia dalam pengadaan kapal light frigate PKR 10514, bisa menjadi kemungkinan pengadaan lanjut untuk kapal OPV (Offshore Patrol Vessel).

Atas asumsi asal tersebut bisa dikatakan hubungan kerjasama dan proses ToT tidak terlalu bermasalah kedepan.

Dari bentuknya kapal OPV Damen ini yang diperkenalkan pertengahan tahun 2015 ini bisa dikatakan hampir sama dengan konsep PKR 10514 ataupun SIGMA corvette Diponegoro class.

http://products.damen.com/~/media/Products/Images/Clusters%20groups/Naval/Offshore%20Patrol%20Vessel/OPV%202600/offshore_patrol_vessel_2600.ashx?h=767&w=1300

Dari Laman DAMEN, kapal OPV terbaru adalah tipe 2600, selain itu ada juga tipe 2400 dan lainnya yang lebih kecil, menariknya ada 2 penampakan dengan hull yang berbeda. Namun artikel ini memilih penampakan yang menyerupai konsep SIGMA. [Damen]
The Damen Offshore Patrol Vessel is specifically developed for navies and coastguards

OPV tipe 2400 diatas terlihat berbeda dari panjang, kapasitas maupun endurance nya di laut. Kapal dengan panjang 90 meter ini bisa menampung sekitar 60 kru. [Damen]
http://products.damen.com/~/media/Products/Images/Clusters%20groups/Naval/Offshore%20Patrol%20Vessel/OPV%202400/Gallery/OPV.ashx

Selain mempunyai MultiMission Hangar (MM Hangar) yang cukup luas, mampu menampung UAV sekelas Scan Eagle Boeing dan Helikopter kelas medium seberat 11 tons. [Damen]
http://img.nauticexpo.com/images_ne/photo-g/25691-7947842.jpg

Bridge kapal OPV terlihat cukup luas dan menariknya dibelakangnya terdapat ruangan khusus C2 Centre (Command and Control Centre) yang dinamai MM Bridge (Multi Mission Bridge). Dan untuk persenjataanya terlihat minim tanpa rudal, hanya berupa kanon meriam atau senjata mesin automatis kaliber 30 mm. [nauticexpo]
  Garuda Militer  

[World] Yordania Melengkapi Pesawat CN 235 Dengan Roket Canggih

BAE Systems telah menyerahkan roket Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) ke Yordania, roket presisi yang akan diinstal di pesawat CN235 light gunships.

Ini menandai penjualan pertama kali sistem persenjataan keluar negeri, yang sebelumnya hanya digunakan oleh pasukan AS.

Roket APKWS – yang awalnya roket curah 2.75 inchi telah diubah menjadi roket pandu presisi. 13 negara saat ini telah memesan roket APKWS, US Naval Air Systems Command (NAVAIR) menyatakan, pada tahun 2014 AS juga telah menandatangani perjanjian penjualan senjata roket APKWS dengan Irak, Belanda dan Tunisia.
Roket APKWS adalah senjata yang serbaguna, handal dan efektif yang akan meningkatkan kemampuan Angkatan Bersenjata Yordania di kawasan Timur Tengah,” kata Kapten Al Mousseau, Direktur dan Manajer penjualan senjata sensitif untuk NAVAIR.

Sistem roket ini telah digunakan pada Helikopter AH-1 Cobra Korps Marinir AS dan UH-1, dan juga memenuhi syarat untuk digunakan pada helikopter Sikorsky MH-60S dan MH-60R.

Pada bulan Oktober, Angkatan Darat AS memesan roket APKWS untuk helikopter Apache AH-64D. [Flightglobal]

  Jakarta Greater  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...