✈ Pesawat Jet Inggris yang Dipersiapkan untuk Serang ISIS
Inggris mempersiapkan pesawat jet pembom andalannya, Tornado GR4 untuk membombardir ISIS yang diletakkan di pangkalan udara RAF Akrotiri, Siprus, Turki, 3 Desember 2015. [dailymail.co.uk]
Dua pesawat Jet pembom Inggris, Tornado GR4 dipersiapkan di pangkalan udara RAF Akrotiri, Siprus, Turki, 3 Desember 2015. Inggris mempersiapkan 4 pesawat tempur Tornado GR4 dimana tiap pesawat mengangkut tiga bom Paveway seberat 500 pon atau sekitar 226 kilogram untuk membombardir ISIS. [REUTERS]
Dua pesawat Jet pembom Inggris, Tornado GR4 dipersiapkan di pangkalan udara RAF Akrotiri, Siprus, Turki, 3 Desember 2015. Tornado GR4 adalah pesawat tempur dua kursi yang telah dioperasikan selama lebih dari 30 tahun dan diproduksi terakhir pada 1998. [AP Photo]
Dua pesawat Jet pembom Inggris, Tornado GR4 dipersiapkan di pangkalan udara RAF Akrotiri, Siprus, Turki, 3 Desember 2015. Tornado GR4 yang memiliki panjang 17 meter dan dapat terbang secara otomatis ini dipersenjatai dengan bom Paveway IV, dan bom pandu laser. [REUTERS]
Petugas mempersiapkan pesawat Jet pembom Inggris, Tornado GR4 di pangkalan udara RAF Akrotiri, Siprus, Turki, 3 Desember 2015. Parlemen Inggris telah menyetujui untuk melancarkan serangan udara ke ISIS dengan menurunkan pesawat jet pembom Tornado GR4. [REUTERS]
Petugas mempersiapkan pesawat Jet pembom Inggris, Tornado GR4 di pangkalan udara RAF Akrotiri, Siprus, Turki, 3 Desember 2015. Usai diputuskan untuk melancarkan serangan ke ISIS, 4 pesawat Tornado GR4 langsung melancarkan serangannya dengan melepaskan rudal-rudalnya. [REUTERS]
✈ Tempo
Helikopter EC 725 pesenan TNI AU ☆
Judul di atas tak akan dipilih kalau saja sembilan unit helikopter AW101 buatan Agusta Westland yang sedang diakuisisi oleh TNI AU dipesan dalam konfigurasi standar semuanya. TNI AU memesan AW101 sejak pertengahan 2014 guna mengisi armada helikopter angkut berat yang selama hampir lima dekade kosong.
Ini bagian dari Rencana Strategis TNI 2015-2019 atau kerap dijuluki sebagai program pemenuhan minimum essential force (MEF) tahap kedua. Tiga helikopter berjuluk Merlin itu akan menggantikan AS332 Super Puma buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang dioperasikan Skuadron Udara VIP 45 TNI AU di Halim Perdanakusuma yang selama ini menjadi tunggangan presiden.
PTDI mempersoalkan keputusan TNI AU memilih produk dari pabrikan Italia-Inggris itu dibandingkan Helikopter EC725 Super Cougar yang merupakan varian Super Puma termutakhir. Adanya faktor VVIP dan presiden membuatnya menjadi kontroversi yang liar. Ketika petinggi TNI AU akhirnya balik menuding PTDI sebagai industri strategis dengan kinerja buruk, jelas ini bukan persoalan yang baru timbul kemarin sore.
Di media sosial marak beredar tulisan sindiran kepada TNI AU dengan menyebut militer Turki mengoperasikan pesawat CN235 ASW (antikapal selam) buatan PTDI-CASA yang justru belum dipakai Indonesia. Tak banyak yang ingat bahwa TNI AU baru menerima CN235 MPA (versi patroli maritim untuk memantau kapal permukaan) pada 2008 atau 12 tahun setelah kontrak pemesanan ditandatangani. Turki menerima CN235 ASW dari CASA Spanyol selaku mitra PTDI dalam pengembangan dan produksi bersama CN235 meskipun sistem pemburu kapal selamnya dipasang para insinyur Indonesia.
Helikopter EC725 yang ditawarkan PTDI sebagai lawan AW101 VVIP juga bermula dari tragedi keterlambatan pengiriman. TNI AU memesan 16 unit Super Puma ke PTDI kala masih bernama IPTN pada 1998. Sepuluh tahun kemudian, baru tujuh unit dikirimkan.
Dengan pertimbangan perkembangan teknologi, tiga unit helikopter yang masih dibangun di Bandung dinaikkan tarafnya ke versi SA532 Cougar atau Super Puma II. Kemudian, enam unit yang belum dibangun diubah ke varian tertinggi, yaitu EC725.
Tahun ini TNI AU seharusnya sudah mengoperasikan enam Super Cougar itu sebagai bagian dari program MEF tahap pertama (rencana strategis 2010-2014). Namun, PTDI baru akan melakukan pengiriman tahun depan.
Badan EC 725 pesenan TNI AU datang di PT DI, yang kemudian dirakit [defence.pk] ☆
Krisis keuangan hebat yang membuat PTDI harus melepas dua per tiga karyawan memang berdampak langsung pada kemampuan pemenuhan kebutuhan alat angkut udara bagi ketiga matra TNI. Ditambah lagi dengan berakhirnya lisensi pembuatan Helikopter NBO105 dan Bell 412 membuat TNI AD dan TNI AL sempat melirik Sokol dan Mi2 dari Polandia dan Rusia yang akhirnya bermasalah. Setelah menjalin kesepakatan baru dengan Bell Textron pada 2009, PTDI akhirnya kembali memasok helikopter Bell 412 versi terbaru untuk TNI AD dan TNI AL meskipun statusnya bukan lagi pemanufaktur. Komponen Bell 412 dikirim dari Amerika Serikat ke Bandung untuk perakitan akhir.
PTDI juga pernah memiliki lisensi untuk Puma dan Super Puma, dalam arti membangun helikopter dari pembuatan badan sampai memasang seluruh sistem secara utuh di Bandung. Beda kasus untuk Super Cougar. PTDI mendapatkan kontrak dari Airbus Helicopters (Eurocopter) untuk membuat 125 badan dan ekor (airframe dan tailboom) EC725 selama 10 tahun yang dikirimkan ke Prancis mulai 2013 guna memenuhi pesanan berbagai negara.
Jika ada pembeli dari Indonesia, PTDI mendapat jatah pekerjaan finalisasi. Enam EC725 dipesan TNI AU ke Airbus Helicopters pada April 2012. Helikopter pertama yang sudah hampir jadi, lengkap dengan mesin dan segala sistem utama terpasang, dikirim dari Prancis ke Indonesia pada November 2014. Setahun ini insinyur PTDI melakukan pemasangan perlengkapan misi, penyesuaian konfigurasi, dan uji terbang untuk dua unit EC725 yang sudah ada di Bandung.
Ketika TNI memulai program MEF sejak 2005 yang diwarnai belanja alat utama sistem persenjataan secara besar-besaran, pemerintah mensyaratkan prioritas buatan dalam negeri. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, disebutkan program pengembangan industri pertahanan dan pembelian produk pertahanan dalam negeri minimal 20 persen dari anggaran. Semua rencana itu akan menjadi indah jika industri pertahanan memiliki kemampuan memadai.
Asisten Direktur Utama PTDI Irzal Rinaldi Zailani pada November 2012 pernah mengatakan, di divisi helikopter sanggup membuat enam Super Puma, empat Super Cougar, dan delapan Bell 412 setiap tahun. Untuk pesawat, kapasitasnya bisa 12 unit C212, enam CN235, dan enam C295 yang merupakan pengembangan CN235 oleh CASA (Airbus Military). Hasil kajian Kementerian Riset dan Teknologi yang dirilis 2010 menyebut kemampuan produksi tahunan PTDI hanya delapan pesawat dan enam helikopter.
Jalan apa saja akan ditempuh untuk memenuhi target nilai 'produksi dalam negeri' meskipun industri pertahanan masih dalam tahap restrukturisasi. PTDI ingin mendatangkan komponen utuh Helikopter Panther buatan Airbus secara terurai untuk dirakit kembali guna memenuhi kebutuhan TNI AL akan helikopter pemburu kapal selam. TNI AD yang mencari pengganti NBO105 ditawari Helikopter Fennec buatan Airbus yang juga akan dirakit di Bandung.
Untuk menambah armada angkut medium, TNI AU telah memesan 14 unit C295. Sebagian besar pesanan C295 TNI AU masih akan dibangun di Spanyol meskipun PTDI tetap kebagian jatah membuat separuh airframe seperti kesepakatan kerja sama CN235.
Target 20 persen produksi dalam negeri sulit dicapai bila industri pertahanan sekadar menjadi pembuat komponen atau perakit. Namun, lisensi produksi yang akan mengembalikan status PTDI sebagai pemanufaktur dan pemasok utama hanya layak didapatkan kalau jumlah pesanan cukup banyak. TNI AU tentu bisa berdalih bahwa dalam rencana strategis 2015-2019 masih ada program pembelian 10 unit Super Cougar lagi untuk misi combat rescue. Namun, mereka masih butuh helikopter berdaya angkut lebih besar yang tak diproduksi PTDI agar mampu mendekati postur MEF tanpa khawatir bakal molor lagi.
Sekarang, semakin jelas ke mana kontroversi helikopter presiden ini sebaiknya dibawa. Masihkah kita terus berdebat mengenai lebih bagus mana helikopter VVIP buatan Italia-Inggris atau merek Prancis yang komponennya ikut dipasok Indonesia? Namun, mereka masih butuh helikopter berdaya angkut lebih besar yang tak diproduksi PTDI agar mampu mendekati postur MEF tanpa khawatir bakal molor lagi, misalnya, harus ambil nomor antrean di Airbus kalau kembali memesan Super Cougar.
Rahmad Budi Harto
Pemerhati teknologi militer alummnus Universitas Pertahanan
70 Tahun Angkatan Perang Indonesia
Ilustrasi dua perahu Madura. Gambar ini dijepret di Selat Bali, 2012. [Wenri Wanhar/JPNN.com] ☆
KISAH pertempuran laut pertama sesudah proklamasi 17 Agustus 1945. Pertempuran laut pertama yang dilakoni angkatan perang Indonesia.
=======
Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network
=======
Selat Bali, Minggu, 5 April 1946. Fajar menyingsing di ufuk timur. Hari baru tiba. Dua perahu Madura yang ditumpangi Pasukan M masih terkatung-katung di laut. Bergerak perlahan.
Pantai Penginuman, Jembrana, Bali sudah di depan mata, sekitar dua mil lagi. Di balik kabut pagi, dari arah Cupel, tiba-tiba muncul kapal yang cukup besar. Ternyata, dua LCM (Landing Craft Mechanized) milik Belanda yang sedang patroli.
Dua awak perahu yang masing-masing memuat 40 orang itu mendayung sekuat tenaga, agar lekas mencapai tepian. Apa hendak kata, LCM lebih kencang.
Pasukan M sedang mengemban tugas suci yang mulia. Antara lain mengabarkan proklamasi kemerdekaan ke Bali, bagian dari perjuangan mendirikan Republik Indonesia.
Anggota pasukan ini kebanyakan pelajar Sekolah Pertanian Malang. Pemimpin mereka bernama Kapten Markadi, anak muda berusia 18 tahun.
Tembaaak!
Sebelum LCM itu semakin mendekat, Kapten Markadi menyuruh pasukannya melepas seragam hitam-hitam yang mereka kenakan dan menyembunyikan senjata, biar dikira nelayan. Tapi tetap dalam posisi siap tembak.
Dua LCM itu mendekati perahu terdekat, perahu yang ditumpangi Kapten Markadi. Dalam jarak kira-kira 5 meter, 2 orang Belanda yang berada di LCM terdepan mengarahkan senjata Watermantel.
Dalam bahasa Belanda, mereka memberi perintah, "berhenti!". Kemudian meminta awak di perahu itu melempar tali.
Atas saran Sumeh Darsono, Kapten Markadi mengambil tali dan berdiri di ujung perahu. Laksana koboi, Sang Kapten memutar-mutar tali itu di atas kepalanya. Dia mengulur waktu.
Orang Belanda itu kembali berteriak meminta tali segera dilempar. Nampaknya mereka akan menarik perahu “nelayan” Kapten Markadi ke Gilimanuk.
Tali itu dilempar. Tapi saat akan diraih, Kapten Markadi menariknya. Sandiwara itu dilakukannya berkali-kali.
Kini, riak gelombang mendekatkan jarak mereka. LCM dan perahu nyaris menempel. Bahkan mereka saling mendengar percakapan. Waktu itulah seorang Belanda berteriak, “God, ze hebben spuiten! (mereka punya bedil!).”
Kapten Markadi yang mengerti bahasa Belanda langsung menceburkan diri ke laut, seraya memberi perintah, “tembak!”
Kemenangan Pertama!
Perang laut pertama pecah. Tidak semua awak di perahu itu ikut bertempur. Beberapa hanya tiarap, mereka ini umumnya tidak memiliki senjata.
Belanda membalas serangan Pasukan M dengan mitraliur berat jenis browning kaliber 12,7 mm. Namun, karena terlalu dekat, dan posisi LCM lebih tinggi dari perahu Madura, tembakan Belanda hanya mengenai tiang layar. Pasukan M menang posisi.
Kapten Markadi yang tadi terjun di lambung sebelah kanan perahu muncul di lambung sebelah kiri. Dia dibantu rekan-rekannya naik.
Belanda nyaris putus asa karena tembakan mereka tidak maksimal. Mereka lalu menabrak perahu Kapten Markadi. Beberapa orang jatuh ke laut. Tapi naik lagi dibantu pasukan lainnya.
LCM itu main tabrak lagi. Berkali-kali. Saat aksi tabrak-tabrakan itulah Kapten Markadi memerintahkan Pasukan M serempak melempar granat ke dua LCM Belanda.
Satu LCM meledak. Empat awaknya tewas. Satu LCM lainnya berhasil melarikan diri dengan keadaan terbakar pada bagian dek dan lambung kapal.
Sambil mundur ke arah Gilimanuk, LCM itu terus menembak. Tapi tak satupun mengenai sasaran.
Laporan Angkatan Laut Belanda mengabarkan, dalam perjalanan menuju pangkalannya di Gilimanuk, LCM itu tenggelam juga pada akhirnya. Awak kapalnya selamat.
Angkatan perang Indonesia mendapatkan kemenangan pertamanya di laut.
Tak mau larut dengan kemenangan kecil itu, Kapten Markadi segera memerintahkan kedua perahu Pasukan M untuk memutar haluan kembali ke Banyuwangi.
Dia menduga akibat pertempuran laut itu Belanda akan mengamuk dan mendatangkan pesawat-pesawatnya. Tak ada angin bertiup. Arus laut yang sangat deraslah yang menggiring dua perahu Pasukan M ke Banyuwangi.
Dokumen Bersejarah
Pertempuran laut itu diberitakan oleh kantor berita Antara, 17 April 1946. Judul beritanya “Pertempoeran Laoet di Selat Bali”. Naskah asli dokumen bersejarah ini awak temukan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Berikut cuplikannya...
Yogja,17/4 (Antara)
Pada tg 8/4 di Selat Bali terjadi pertempuran laut yang hebat antara kapal bermotor Belanda dan dua perahu layar Indonesia.
Perahu2 layar tersebut dalam perjalanan ke Bali. Sekonyong-konyong bertemu dengan dua kapal bermotor Belanda (satu kata tak terbaca) yang bersenjata lengkap dan memerintahkan supaya perahu-perahu layar Indonesia itu menyerah.
(satu kata tak terbaca) tetapi perahu2 layar tersebut tidak menghiraukan perintah tersebut. Salah satu dari perahu itu kemudian dikejar oleh kapal bermotor Belanda itu, dan setelah dekat pihak Belanda memerintahkan lagi supaya menyerah.
Perintah itu dituruti oleh nakhoda perahu layar yang dikejar tadi, tetapi tiba-tiba pihak Belanda memberi komando: “Tembak!”
Nakhoda perahu layar itu tidak menyangka bahwa akan terjadi peristiwa sedemikian dan dengan cepat diberikannya pula komando kepada anak buahnya: “Tembak!”
Pada saat itu juga pertempuran hebat lalu terjadi. Berkat ketangkasan anak buah perahu-perahu layar Indonesia itu, mereka berhasil mematahkan perlawanan Belanda tersebut.
Dari pihak Belanda tewas juru mudinya, penembak mitraliyurnya dan kapten kapalnya. Setelah itu kapal Belanda di atas melarikan diri. Dari pihak Indonesia kita: satu orang hilang satu orang luka.
Naskah berita disesuaikan dengan EYD tanpa merubah isi dan struktur penulisan. Perubahan hanya pada “oe” menjadi “u”, “jang” menjadi “yang”, dan seterusnya.
Antara memberitakan perang laut itu terjadi pada tanggal 8 April 1946. Setelah memeriksa dengan seksama, yang betul 5 April 1946. Ketidakakuratan ini bisa dipahami mengingat berbagai keterbatasan-keterbatasan masa itu. Masa perang, kawan!
Saudara sekalian...senarai kisah di atas diangkat dari buku Pasukan M--Pertempuran Laut Pertama dalam Sejarah RI yang ditulis oleh Iwan Santosa dan Wenri Wanhar.
Ya, 2012 lalu awak bersama Ketua Ong (sapaan awak pada Iwan Santosa, dia wartawan Kompas), berjibaku berburu dan meramu buku itu. Nah, cerita pertempuran di atas, bagian awak. Tanya saja Ketua Ong... (wow/jpnn)
KRI Spica 934 ☆
Indonesian naval Ship KRI Spica is visiting Kochi from 2 December to 6 December. Lt Cdr Anom Puji Hascaryo is the Commanding Officer of the visiting foreign ship.
During the visit, various interactions with Southern naval command have been planned. On 2 December 15, the Commanding Officer, KRI Spica accompanied by Col (N) Ardiansyah Muqsit, resident DA at New Delhi had called on the Rear Admiral RB Pandit Chief of Staff, Southern Naval Command.
Other interaction includes exchange of visits by specialist officers and men from both the navies with Indian Navy personnel visiting the Indonesian Naval ships and sports interaction.
KRI Spica is a follow-on multipurpose survey and research vessel built in France for Indonesian Navy. She is the second vessel, after KRI Rigel which had also visited Kochi in Apr this year. KRI Spica will depart Kochi on 6th December and is enroute passage to Sabang (Indonesia).
Helikopter Chinook [foxtrotalpha] ☆
Kementerian Pertahanan tidak mempermasalahkan batalnya pembelian helikopter VVIP Agusta Westland-101 buatan Inggris-Italia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Letjen TNI Ediwan Prabowo, mengatakan pemerintah tetap akan membeli helikopter angkut berat dari luar negeri, namun dengan jenis berbeda.
"Ya itu (beli helikopter) ada di rencana strategis kami untuk angkut berat. Tapi bukan tipe ini (AW 101), ini tipe VVIP kita nanti yang besar" ujar Ediwan di Kantor Kemenhan, Jakarta, Jumat, 4 Desember 2015.
Menurut Ediwan, pemerintah rencananya akan membeli helikopter angkut berat jenis Chinook buatan Amerika Serikat. Sebab, industri dalam negeri (PT. Dirgantara Indonesia) belum bisa memproduksi sendiri helikopter jenis tersebut.
"Kalau belum diproduksi maka kita beli. Yang dimaksud tuh yang besar untuk angkut barang, seperti Chinook-lah. Lokal belum bisa bikin itu," kata Ediwan.
Chinook merupakan salah satu helikopter andalan AS. Bermesin ganda, helikopter ini biasanya digunakan untuk memasok perlengkapan medan perang.
Ediwan mengatakan helikopter angkut berat ini dibutuhkan untuk misi kemanusiaan seperti Operasi SAR dan transportasi logistik.
"Helikopter angkut berat sangat dibutuhkan untuk mendukung misi kemanusiaan, bencana alam, operasi SAR, dan pemindahan logistik ke daerah. Ini masih dalam pembahasan," tuturnya.
Sebelumnya Presiden Joko Widodo memutuskan untuk membatalkan pembelian helikopter VVIP AW 101 buatan Inggris/Italia. Jokowi beralasan helikopter Super Puma yang digunakan saat ini dianggap masih layak.
Selain itu, harga yang terlalu tinggi juga menjadi alasan, di tengah ekonomi nasional yang belum pulih.