Sehingga Lebih Efisien
Ilustrasi peluru produk Pindad
Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono meminta PT Pindad (Persero) melakukan modernisasi mesin-mesin di fasilitas Divisi Munisi yang diimiliki perusahaan plat merah itu di Turen, Malang, Jawa Timur.
“Pindad harus melakukan modernisasi fasilitas yang dimilikinya di Divisi Munisi agar bisa meningkatkan kapasitas produksi dan menurunkan harga satu peluru,” kata Sakti melalui keterangan resmi, Sabtu (7/3/2020).
Sakti Wahyu berkunjung ke Divisi Munisi PT Pindad, Jumat (6/3/2020). Dalam kunjungan tersebut, dia didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan Laksda TNI Agus Setiadji, Dirjen Renhan Marsekal Muda TNI Dody Tri Sunu, Kabaranahan Mayor Jenderal TNI Budi Prijono, Direktur Utama Pindad, Abraham Mose beserta jajaran Drireksi.
Menurut Sakti jika Pindad mampu melakukan modernisasi fasilitasnya dengan menerapkan otomatisasi dan integrasi, biaya produksi menjadi turun secara signifikan dan harga jual menjadi lebih terjangkau.
"Sekarang harga jual peluru sekitar Rp 4.200 per butir, jika mesin produksi dimodernisasi, maka akan terjadi penurunan biaya karena lebih efisien. Mesin produksi yang ada saat ini adalah mesin tahun 60-an, jadi sudah sangat tua. Kemhan memastikan seluruh kapasitas pindad akan diserap oleh TNI dan Polri," katanya.
Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan Pindad berencana meningkatkan kapasitas produksi Munisi Kaliber Kecil (MKK), Munisi Kaliber Besar (MKB) atau menengah, Roket/Rudal dan lain-lain yang juga menjadi Program pemerintah dalam rangka mendorong kemampuan industri lokal, menuju kemandirian Alpalhankam.
“Harapan Pindad agar dukungan penuh dari Kementerian Pertahanan ini segera terlaksana terhadap penambahan kapasitas produksi, serta peningkatan kualitas produksi Pindad untuk mendukung kemandirian Alpalhankam,” ujarnya.
Dalam kunjungannya kemarin, Wamenhan beserta rombongan mengunjungi berbagai fasilitas produksi Divisi Munisi Pindad yang memiliki luas 166 hektare dan terdiri dari fasilitas produksi MKK, MKB atau menengah dan fasilitas pengembangan serta laboratorium uji munisi.
Beberapa waktu lalu gedung fasilitas produksi MKK juga sudah diresmikan untuk menambah kapasitas dari kebutuhan TNI Polri yang masih belum tercukupi.
Adapun lahan pabrik Divisi Munisi masih banyak yang belum terpakai. Lahan itu disebut dapat dimanfaatkan untuk pembangunan pabrik-pabrik munisi baru maupun pabrik propellant yang merupakan bahan baku utama munisi dan belum tersedia di dalam negeri.
♖ Bisnis
Vice President Inovasi PT Pindad Windu Paramata mengatakan Pindad dan FNSS akan bekerja sama kembali mengembangkan jenis baru Harimau Medium Tank atau Kaplan MT, yakni kendaraan angkut personel dan juga tank amfibi
Proyek Inovasi Pindad, salah satunya medium tank APC [Pindad] ★
Perusahaan milik pemerintah Indonesia di bidang pertahanan, Pindad, dan Perusahaan Turki FNSS akan kembali melakukan kerja sama pengembangan alat utama sistem pertahanan (Alutsista).
Vice President Inovasi PT Pindad Windu Paramata mengatakan setelah sukses membuat medium tank, kedua perusahaan milik Indonesia dan Turki itu akan kembali bekerja sama mengembangkan jenis baru Harimau Medium Tank atau Kaplan MT, berupa kendaraan angkut personel dan tank amfibi.
Selain itu, Pindad dan FNSS akan melengkapi kendaraan itu dengan Unmaned Turret atau senjata khusus tank dengan kaliber 30 mm.
"Jadi turret 30 mm tanpa awak, berupa remote control weapon system yang digunakan untuk perlindungan atau menyerang kendaraan ataupun pertahanan musuh," kata Windu, kepada Anadolu Agency.
Diharapkan pada tahun ini Pindad rampung membuat desain senjata itu.
"Jadi skemanya hampir sama dengan pengembangan prototipe tank medium, dimana FNSS dengan pindad melakukan pertukaran informasi, pertukaran proses design kerja sehingga kita mendapatkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dari pengguna di Indonesia," tambah dia.
Sebelumnya, Pindad Indonesia dan FNSS Turki sepakat menandatangani kerja sama pembuatan purwarupa medium tank pada 2015 lalu. Perancangan tank ini dimulai Februari 2016.
Setelah selesai diproduksi di Turki, medium tank ini diberi nama Kaplan MT.
Kaplan MT sempat dikirim ke Indonesia dan dipamerkan pada hari ulang tahun TNI 5 Oktober 2017 lalu di Cilegon, Banten.
Indonesia pun memberi nama Harimau Medium Tank.
Tank ini dilengkapi dengan two-man turret kaliber 105 mm serta senapan mesin kaliber 7,62 mm.
Harimau Medium Tank didesain khusus untuk daerah operasi tropis seperti hutan karena memiliki bobot yang lebih ringan dari Main Battle Tank.
♞ Anadolu
Kepala Pengembangan Produk PT Pindad Windu Paramarta mengatakan saat ini hanya dua perusahaan dari Indonesia dan Korea Selatan yang berhasil lolos dalam tahapan selanjutnya, yaitu Pindad dan Doosan
Medium Tank hasil pengembangan bersama antara PT. Pindad dan FNSS Turki melakukan uji daya gerak di Pantai Bocor, Desa Setrojenar, Buluspesantren, Kebumen, Jateng, Sabtu (11/8). Medium Tank Pindad adalah kendaraan tank pertama produksi Indonesia yang ditargetkan menyelesaikan berbagai tahapan pengujian sebelum diproduksi secara massal pada 2020. [ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/wsj/18] ★
Indonesia bersaing dengan Korea Selatan dalam menjual kendaraan tempur tank kepada Filipina.
Kepala Pengembangan Produk PT Pindad Windu Paramarta mengatakan saat ini hanya dua perusahaan dari Indonesia dan Korea Selatan yang berhasil lolos dalam tahapan selanjutnya yakni Pindad dan Doosan.
"Pindad berkompetisi melawan dengan pabrikan dari Korea Selatan dengan Doosan, di mana Filipina sedang ada kebutuhan kendaraan kanon utamanya," kata Wndu kepada Anadolu Agency.
Pindad menawarkan paket kendaraan tempur senilai USD 171 juta atau sekitar Rp 2 triliun di antaranya Harimau Medium Tank, Panser 6x6 Kanon 90 mm atau Badak, kata Windu.
Sementara perusahaan Korea Selatan menawarkan kendaraan tempur infanteri (IFV) K21.
Windu yakin Harimau Medium Tank lebih unggul dari K21 tank yang ditawarkan oleh Korea Selatan.
"Design[Medium Harimau Tank] spesifikasinya, spesifik untuk wilayah regional di Asia Tenggara, yaitu perhutanan, perkotaan yang padat dan apabila terjadi perang, tank ini dirancang khusus untuk menghadapi situasi seperti itu," tambah dia.
Filipina akan membeli Harimau Medium Tank yang merupakan alat utama sistem pertahanan (alutsista) produksi Indonesia hasil kerja sama dengan Turki.
Presiden Joko Widodo mengatakan proses pembelian tersebut hingga kini masih dalam proses lelang.
Jokowi – sapaan Presiden – optimistis proses lelang tersebut akan dimenangkan oleh Indonesia.
"Filipina juga ini dalam rangka masih sedikit proses," kata Jokowi, Kamis.
♞ AA
Panser Badak pindad ★
PT Pindad, Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang industri pertahanan, telah menandatangani kerjasama dengan Timoney Holdings Limited yang mayoritas sahamnya 27,68% dimiliki oleh Singapore Technologies Kinetics (ST Kinetics). Penanda-tanganan ini pada Pameran pertahanan bergengsi IDEX 2017 di Uni Emirat Arab.
Kerjasama keduanya dimaksudkan untuk penyediaan sistem driveline, transfer case pada sistem transmisi, dan sistem pengendalian dan pengemudian panser kanon Badak 6×6.
Seperti diketahui, Timoney merupakan spesialis pembuatan hull alias lambung dan sistem otomotif untuk kendaraan tempur dan kendaraan antiranjau.
Produknya sudah digunakan lebih dari 10 pabrikan kendaraan tempur seluruh dunia. Jejak gubahan Timoney dapat dilihat di belahan bumi Selatan pada MRAP Bushmaster dari Australia, Bronco ATTC dan AV81 Terrex dari Singapura.
Timoney meminjamkan keahliannya pada desain Badak 6×6 dimana mereka mendesain sistem transfer box khusus yang ditempatkan pada posisi sejajar dengan sumbu roda pertama sehingga tersedia banyak ruang untuk penempatan kubah CSE 90LP.
Hal ini memungkinkan desain Badak 6×6 dijaga tetap kompak, membuat panser kebanggaan Indonesia memiliki dimensi lebih kecil dan stealthy dibanding pesaingnya, yang tentu merupakan satu faktor plus di lapangan.
Dengan menggunakan solusi dari Timoney, panser kanon Badak jadi bersaudara dengan AV81 Terrex dan Bushmaster.
Panser Badak 6×6 merupakan panser kanon yang didapuk untuk menjalankan fungsi intai dan pengamanan.
Dapur pacunya ditenagai mesin Diesel inline 6 silinder yang dilengkapi turbocharger, mampu menyemburkan daya sampai 320hp.
Proses pembuatan Panser Badak [military_buzz]
Dengan bobot hanya kisaran 11 ton, power to weight ratio mencapai 29hp/ ton. Tidak heran Badak bisa dipacu sangat kencang sampai 90km/ jam di jalanan aspal mulus.
Sekali isi penuh tangki solar, Badak bisa dihela sampai 600 km, cukup irit dan ekonomis tanpa harus tergantung truk pengisi bahan bakar.
Ini pula yang menjadi faktor plus menggelar panser kanon, mengingat alokasi anggaran BBM untuk TNI cukup terbatas.
Untuk escape dan undur diri dari pertempuran, Pindad sudah membekali keenam roda 1400-R20 dengan fitur run flat.
Jadi saat tertembak pun sang Badak masih dapat diajak berjalan sampai 80 km, cukup untuk keluar dari zona pertempuran.
Di tengah kendaraan terpasang kubah CSE90LP yang bermodal utama kanon 90mm bertekanan rendah Cockerill MkIII. Kanon 90mm L36 Low Pressure Cockerill MkIII memiliki varian amunisi cukup banyak.
Mulai dari HE, HEAT, dan bahkan APFSDS (Armor Piercing, Fin Stabilised, Discarding Sabot) dengan rating penetrasi 100mm RHA pada kemiringan 60o pada jarak 1.000m. Ini cukup untuk menghancurkan sasaran berupa perkubuan.
Konfigurasi awaknya (dari atas) komandan duduk di sebelah kiri, dan juru tembak duduk di sebelah kanan.
Komandan memiliki lima periskop prismatik dan satu periskop besar hadap depan, sementara juru tembak memiliki empat periskop dan satu periskop bidik besar yang bisa dilengkapi dengan beragam sistem mulai dari kamera pandang malam, kamera termal, sampai dengan kamera infra merah, tergantung opsi yang dipilih oleh pembeli.
Tersedia satu display LCD untuk komandan, yang memiliki kanal ke kamera termal sistem pembidik yang dioperasikan juru tembak, sehingga koordinasi komandan dan juru tembak dapat berjalan optimal.
➶ Dengan Taksiran Dana Mencapai Rp 13 Triliun
MLRS Vampire Marinir menembakan Rhan 122B pindad ★
Indonesia beberapa kali mendapat tawaran suplai alutsista yang mengiurkan.
Tawaran tersebut berasal dari Rusia, Prancis, hingga Amerika Serikat (AS).
Alutsista yang ditawarkan pun tak main-main.
Misalnya saja Scorpene, F-16 Fiper, dan Sukhoi Su-35.
Tak hanya itu, Indonesia juga diiming-imingi Offset beraneka ragam yang bisa mempercepat kemandirian alutsista dalam negeri.
Sampai sekarang tercatat negara Korea Selatan (Korsel) yang jor-joran memberikan proses Transfer of Technology (ToT) bagi Indonesia di bidang pertahanan.
Namun ada satu negara Eropa yang malah berani memberikan terobosan agar perkuatan otot militer Indonesia sehingga dapat tancap gas secepat mungkin.
Mengutip Kompas.com dan Tribunnews, negara Ceko melalui perusahaan konglomerasi pertahanannya Czechoslovak Group AS (CSG Ceko) pada tahun 2018 lalu menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan Czechoslovak Group Indonesia untuk pembangunan Private Defence Industry Park (PDIP) senilai USD 100 juta, di bidang industri pertahanan swasta di Indonesia.
Penandatanganan yang dilakukan pada 2018 lalu ini diteken oleh Norman Joesoef, CEO Czechoslovak Group Indonesia dengan Michal Strnad, CEO Czechoslovak Group AS di booth CSG di Pameran Indodefence 2018 PRJ Kemayoran, Jakarta.
"Kami selalu membuka peluang kemitraan dengan negara sahabat yang tulus dan terbuka dalam pelaksanaan alih produksi dan teknologi," ungkap Michal Strnad, CEO Czechoslovak Group AS.
"Kami sangat berharap financial pledge ini dapat meningkatkan kerja sama kemitraan dalam Level industri dan baik untuk kedua belah negara," sambungnya.
Gebrakan negara Ceko untuk mendukung regulasi pemerintah Indonesia terkait UU No.12 2012 tentang Industri Pertahanan.
Pandur II TNI AD disebut juga Cobra [istimewa]
Rencananya pabrik senjata swasta ini nantinya akan dibangun di lahan seluas 22 hektar di Batujajar, Bandung, Jawa Barat.
Ternyata angka 100 juta dolar AS ini hanya investasi tahap pertama.
Total CSG Ceko akan mengguyur dana senilai 1 miliar Dolar AS (Rp 13 triliun) selama lima tahun.
CSG Ceko adalah perusahaan holding dari Eropa Tengah, asal Republik Ceko, meliputi Slovakia, Slovenia, Rumania, dan Hungary, dengan lebih dari 100 perusahaan dan 10.000 karyawan yang bergerak di bidang manufaktur kendaraan baja, senjata roket, misil, dan radar.
Diketahui pula CSG Ceko berminat untuk melaksanakan alih produksi dan teknologinya di Indonesia.
Sebab, Indonesia bakal dijadikan basis produksi mesin perang CSG Ceko untuk kawasan Asia Tenggara.
"Selain di Indonesia, CSG Ceko juga ingin memperluas basis industri pertahanannya di Asia Tenggara. Kami melihat pertumbuhan pemenuhan kebutuhan alat pertahanan di Asia Tenggara pada tingkat yang cukup tinggi setiap tahunnya," papar Norman.
"Kami rasa dengan basis industri yang kuat dan relatif stabil di Indonesia, CSG Ceko mantap melanjutkan ekspansi bisnis pertahanan mereka ke Malaysia, Filipina, Timor Leste, Myanmar, dan Kamboja," sambungnya.
Indonesia sendiri sudah membeli produk dari CSG Ceko yakni Pandur II 8X8 dan MLRS Vampire.
Dengan dibuatnya segala macam produk CSG Ceko di Indonesia, maka akan menghemat anggaran pertahanan negeri ini sehingga perkuatan TNI dapat lebih cepat serta optimal. (Seto Aji/Sosok.ID)