Sabtu, 18 Februari 2012

Tim Aerobatik TNI AU

    Ⓓua Pesawat Terbang berlawanan arah, saling menyongsong, menyilang, meliuk - liuk dengan kecepatan tinggi, kemudian terlihat beberapa pesawat terbang dalam formasi "berlian" dengan kompaknya, dimana setiap pesawat secara berbarengan berputar pada porosnya sendiri sendiri, membuat jantung yang menyaksikannya berdebar - debar.     Atraksi - atraksi yang mengagumkan ini beberapa waktu yang lalu sering dilakukan oleh penerbang - penerbang kebanggaan Angkatan Udara yang tergabung dalam Tim Aerobatik TNI AU. Tercatat ada beberapa tim aerobatik yang pernah menjadi kebanggaan TNI AU , yaitu : 

    ▪    Tim Pionir
    ▪    Tim F-86 Sabre
    ▪    Tim Spirit 85
    ▪    Tim Jupiter
    ▪    Tim Elang Biru
    ▪    Jupiter Blue
    ▪    Thunder

    Memang menjadi ironis, kalau saat ini tim aerobatik TNI AU seakan menghilang, Dikarenakan keterbatasan Alutsista yang dimiliki TNI AU sekarang .
Namun kita berharap akan memiliki tim aerobatik kembali.dan menjadi tontonan yang menarik.

▪    Pionir sang Pelopor

    TNI AU memiliki tim aerobatik pertama kali tahun 1960an, yang terdiri dari formasi empat pesawat MiG 17, dengan para penerbang :     1.    Kolonel / Marsma TNI Roemin Nurjadin "Elang".
    2.    Letkol Pnb Ibnu Saputro "Scorpion".
    3.    Mayor Pnb Mannetihius Msidjan.
    4.    Mayor Pnb Sukardi.

Mereka bergabung dalam "Tim Pionir". Bertindak sebagai leader tim adalah Kolonel / Marsma Roesmin Nurjadin.


Tahun 1962 tim ini bertambah jumlahnya menjadi enam pesawat MiG 17 dengan tambahan penerbang Mayor / Letkol Roesman "Hell Cat", Sofyan Hamsyah, saputro dan Hashari Hasanuddin "Bison".


Tim ini pun mampu memukau penonton yang menyaksikannya pada peringatan HUT ABRI 5 Oktober dengan aksi jungkir balik udara seperti melakukan manuver manuver roll. loop, immelmann, cuban eight dan bomb burst.


      Sebelum melakukan atraksi dengan MiG 17, sebenarnya para penerbang TNI AU pernah melakukan terbang formasi dengan propeller seperti P-51 Mustang dari Skadron Udara (Skud) 3, dengan penerbang Kolonel Pnb Leo Wattimena, Roesmin Nurjadin, Dewanto dan Hadi Supandi, Hapid Adiningrat, Zainalan, Gunadi, Hashari dan Roesman. Namun tim ini belum sempat tampil di muka umum.


▪    *Sabre" yang Nekad

    Setelah lama tidak adanya tim aerobatik TNI AU lagi selama kurang lebih 10 tahun,maka dibentuklah tim baru dengan mempergunakan pesawat jenis beda dari sebelumnya, maka terbentuklah tim aerobatik baru yg bernama Tim F-86 Sabre.

    Tim F-86 Sabre merupakan tim aerobatik yang dibentuk sekitar tahun 1978. Meskipun para penerbangnya rata - rata memiliki jam terbang dibawah 200 jam dan waktu persiapan / belajar yang hanya 60 hari, tetapi mereka dengan gagah berani alias nekad tampil di depan umum.

Belajarnya pun hanya melalui brosur tim aerobatik Jepang, "Blue Impulse", belum ada instruktur. Ketika itu hanya Mayor Pnb Soeyitno yang sudah mengantongi 400-500 jam terbang dan bertindak sebagai leader.

Tim ini akhirnya tampil pada HUT ABRI ke 33, pada 5 Oktober 1978.

    Tujuh rangkaian manuver yang dilakukan oleh enam pesawat F-86 Sabre seperti: wing over, roll in box, closer, calypso pass, roll in trail, loop dan bomb brust.

Atraksi - atraksi yang yang begitu menarik dan beresiko ini memukau masyarakat ibukota Jakarta, khususnya atraksi "bomb brust" yang dilakukan oleh lima pesawat F-86 Sabre, dengan formasi menukik sebentar, lalu mengangkat hidung pesawat hingga mendaki tajam lurus keatas.


Kemudian 4 pesawat memencar sambil membuat lintasan melingkar kearah belakang masing - masing. Sementara itu pesawat kelima tetap terbang mendaki lurus sambil melintir - lintir.


Tim aerobatik F-86 Sabre ini adalah :


    1.    Mayor Pnb Soeyitno "Dragon" (sebagai Leader).
    2.    Mayor Pnb Budihardjo Surono "Bison".
    3.    Kapten Pnb Teuku Syahrial "Orca".
    4.    Kapten Pnb Suprihadi.
    5.    Kapten Pnb Zeky Ambadar "Jackal".
    6.    Kapten Pnb Lambret "Taurus".
    7.    Lettu Djoko Poerwoko "Beaver".

    Penampilan pertama ini ternyata sangat memukau masyarakat karena setelah itu tim aerobatik ini kembali menampilkan kehebatannya di Denpasar, Baucau, Ambon, Biak, manado, Ujung Pandang, dan Balikpapan.
Untuk menambah keindahan dalam melakukan aerobatik diudara, pesawat F-86 Sabre ini dilengkapi asap "smoke" berwarna putih, hasil buatan Dislitbangau.

    Kemudian hari dengan kedatangan pesawat tempur F-5 Tiger dan A-4 SkyHawk, tim F-86 sabre inipun praktis memudar, karena sebahagian para penerbangnya dikirim ke luar negeri.

▪     "Spirit 85" Mencontoh "Spirit 78"

    Tim Spirit 85 TNI AU ini muncul pada tahun 1985 dengan menggunakan pesawat MK-53 HS Hawk buatan Inggris. Tim Spirit ini berasal dari Skadron Udara 15 dengan para penerbang sebagai berikut :

    1.    Mayor Pnb Pieter Wattimena.
    2.    Mayor Pnb Toto Riyanto.
    3.    Kapten Pnb Basri Sidehabi.
    4.    Kapten Pnb Ida Bagus sanubari.

Keempat penerbang tersebut sehari - hari bertugas sebagai instruktur penerbang di Sakdron Udara 15.

    Pada penampilan pertamanya, Tim "Spirit 85" muncul pada peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1985 dengan manuver steep turn left, barrel roll left, loop / lazy eight, combination break, bomb burst, full configurtion, wing over split two, carousel cross dan straight over (fly pass).

    Setahun kemudian, tim ini muncul kembali dengan enam pesawat ditengah masyarakat dengan sebutan "Tim Hawk". Para penerbangnya terdiri dari gabungan penerbang "F-86 Sabre" dan "Spirit 85". sebagai berikut :

    1.    Letkol Pnb Agus suwarno.
    2.    Mayor Pnb Basri Sudehabi.
    3.    Mayor Pnb Teuku Syahrial.
    4.    Mayor Pnb Suminar Hadi.
    5.    Mayor Pnb Toto Riyanto.
    6.    Mayor Pnb Ida Bagus Sanubari.


Tim aerobatik "Hawk" ini melakukan akrobatik udara selama 12 menit dengan memukau dan kompak. Tim inipun tidak bertahan lama, karena setelah tampil memukau di hari penting TNI AU tersebut, tim aerobatik inipun menghilang. Para personilnya bertugas di tempat yang berbeda - beda.     Nama "Spirit 85" menurut salah satu anggota tim, mengambil contoh dari "Spirit 78", tim aerobatik yang menggunakan pesawat F-86 Sabre.

▪    Tim "Jupiter", Tim Instruktur Penerbang 

      Pada peringatan ke 52 Hari TNI, 5 Oktober 1997 di Lanud Halim Perdanakusuma, Tim aerobatik "Jupiter" muncul pertama kalinya dengan menggunakan enam pesawat MK-53 HS Hawk.
 
    Manuver yang dipertunjukan mulai dari delta loop opener, lead on pass, line abreast, loop , mirror, cater pillar, screw roll, right clover leaf, heart, knife edge, roll backs, four point, vertical roll hingga vixen break. Manuver - manuver yang indah tersebut semakin memukau karena disertai asap yang berwarna warni.

Pernebang "Jupiter" adalah :

    1.    Letkol Pnb Bambang Soelistyo.
    2.    Mayor Pnb Agus Haryadi.
    3.    Mayor Pnb Tri Budi.
    4.    Lettu Pnb Andis Solichin.
    5.    Lettu Pnb M. Dadang.
    6.    Kapten Pnb Donni Ermawan.
    7.    Kapten Pnb Fahru Zaini.
    8.    Lettu Pnb Yudhianto.
    9.    Lettu Pnb Budi Ramelan.
  10.    Kapten Tek Agus Risnadi.

Mereka tampil dengan memukau penonton dengan meliuk - liuk yang sangat indah dan mendebarkan.

 
     Manuver - manuver yang dilakukannya sama dengan sajian yang digelar oleh tim "Red Arrow" pada saat Indonesian Air Show (IAS) tahun 1996 di Bandara Kemayoran Jakarta. Kemudian tim ini kembali menunjukkan kebolehannya melakukan akrobatik udara di Bandung pada HUT Kodikau 15 Oktober 1997. Konon penampilan di Bandung ini menjadi catatan tersendiri, karena belum pernah ada tim aerobatik yang tampil di Bandung. Alasannya antara lain, faktor ketinggian yang banyak berpengaruh terhadap performance, dan faktor cuaca yang sering tidak mendukung acara akrobatik.

Nama "Jupiter" diambil dari callsign personil tim yang semuanya instruktur penerbang dari Skadik (Skadron Pendidikan) 103.

▪    "Elang Biru" yang legendaris

    Tim Elang Biru muncul pertama kalinya pada peringatan ke 49 HUT TNI AU, pada 9 April 1995 di Halim Perdana Kusuma dengan 6 pesawat F-16 Fighting Falcon. pembentukan tim Elang Biru dilaksanakan setelah ada instruksi KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi, yang menginginkan tim aerobatik ini muncul pada peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1995 dan untuk Indonesian Air Show (IAS) 1996. Pelaksanaan latihanpun dilakukan secara bertahap dan autodidak dan latihan formasi 2 pesawat hingga berlanjut menjadi 4 pesawat. Ternyata kesempatan baikpun datang, dengan adanya undangan dari negara Singapura untuk menyaksikan Air Show dalam rangka HUT Republik Singapura.

    Kehadiran para penerbang untuk menyaksikan air show tersebut tidak disia siakan. Ketika atraksi - atraksi digelar, merekapun menggambar satu satu atraksi - atraksi yang ditampilkan dan mencatat timing mapun sequence - nya.  Dari hasil pengamatan, catatan dan rekaman air show dari tim aerobatik berbagai negara seperti "Thunder Bird", "Blue Angel", dan "Black Knight" tersebut dievaluasi. Hasil evaluasi tersebut dicatat dan dijadikan bekal untuk latihan para tim aerobatik Elang Biru. Dan latihan - latihan yang dilakukan secara autodidak tersebut tim ini tampil kompak dan memukau di HUT TNI Angkatan Udara ke 49.

    Kemudian TNI AU mendatangkan pelatih yang merupakan pakar aerobatik "Thunder Bird" dari Amerika serikat;

    ▪    Kolonel Trent.
    ▪    Mayor Pieter Mc Caffrey.
    ▪    Kapten Mathew E Bryd.

Latihan dilaksanakan sesuai degan posisi para penerbang yang biasanya mereka latihkan, misalnya :

  • Kolonel Trent menurunkan ilmu leadernya kepada Letkol Pnb Rodi Suprasodjo. 
  • Mayor Pieter Mc Caffrey sebagai pelatih solo menularkan ilmnya kepada Mayor Pnb Bambang Samoendro dan Lettu Pnb Agung.
  • Kapten Matthew sebagai pelatih wingman menularkan ilmunya kepada Kapten Pnb Talang dan Kapten Pnb Anang.
    Tim ini berlatih dengan sungguh sungguh dan semangat yang tinggi. Kesungguhan ini mereka buktikan di setiap penampilan akrobatik Tim Elang Biru, seperti :

    ⁃    Peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1995.
    ⁃    Peringatan Hari Emas TNI Au 9 April 1996.
    ⁃    Pameran Indonesian Air Show (IAS) 1996.

Tim Elang Biru yang melenggeda inipun tampil sangat memukau dan sangat memuaskan .



Tim Aerobatik Elang Biru TNI AU (Foto Kaskus Formil)

    Letkol Pnb Rodi Suprasodjo "Cobra" bertindak selaku pemimpin tim aerobatik (team / fight leader), Kapten Pnb Tatang Harlyansyah "Phyton"  sebagai wingman kanan, Kapten Pnb Anang Nurhadi "Morgan" sebagi wingman kiri, Mayor Pnb Bambang Samoedro "Puffin" sebagai slot, Mayor Pnb Agus Supriatna "Dingo" sebagai lead solo, Mayor Pnb Muhammad Syangi sebagai opposing solo.


    Selain itu tim inipun masih diperkuat oleh Kapten Pnb Fachri Adamy "Oryx" sebagai safety officer, Kapten Pnb Arief Mustofa "Reindeer", Mayor tek Nugroho "Falcon Jack", Kapten Tek Hanafie dan Marsma TNI Hanafie Asnan "Scorpio" serta Marsma TNI Suprihadi "Vampire" sebagai commander.


Tim Elang Biru ini menjadi kebanggaan TNI Angkatan Udara karena tim ini dapat disejajarkan dengan beberapa tim aerobatik kelas dunia seperti tim Red arrow (Inggris), Roulette (Australia), Golden Dreams (Inggris).

▪    Jupiter Blue yang unik


    Pada saat kunjungan pimpinan TNI Angkatan udara ke Lanud Iswahjudi tahun 2001, Marsma TNI Djoko Poerwoko yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Lanud Iswahjudi ditantang oleh para pimpinan untuk menampilkan tim aerobatik pada HUT TNI AU. dengan adanya tantangan tersebut, Marsma TNI Djoko Poerwoko pun berdiskusi dengan beberapa penerbang dari Skadron udara 3, Skadron Udara 15 dan Skadron Udara 1. Akhirnya disepakati untuk mencoba tampilan baru dengan membentuk tim aerobatik yang melibatkan beberapa jenis pesawat MK 53, F-16 dan Hawk 100.


    Tim Jupiter Blue ini akhirnya tampil di HUT TNI AU ke 55. Tim ini berhasil melakukan formasi tiga jenis pesawat yang berbeda jenis yaitu MK-53 HS Hawk, Hawk 100 dan F-16 Fighting Falcon dalam formasi enam pesawat.


Formasi enam pesawat itupun adalah :


    ⁃    Letkol Pnb Fahru bertindak sebagai leader.
    ⁃    Kapten Pnb Andis sebagai right wing.
    ⁃    Mayor Pnb Donny sebagai left wing.
    ⁃    Kapten Pnb Dadang sebagai slot.
    ⁃    Mayor Pnb Fachri sebagai lead solo
    ⁃    Kapten Pnb MJ. Hanafie sebagai opposing solo.

 Formasi Arrow Head  dengan menggunakan asap warna warni (Foto Kaskus Formil)
Kemudian pada peringatan ke 56 HUT TNI, tim ini kembali muncul dengan memukau. manuver lighting take off, delta loop, figure eight, barrel left, diamond loop, inverted and inverted to inverted, kid roll, 4 & 8 point roll, box loop, aileron roll, hi G turn, pheasant roll, hi AOA, snake pass, tanggo loop, cross over break, srew roll, heart dan vixen break berhasil memukau masyarakat dan menjadi kebanggaan TNI Angkatan Udara.

 Formasi Aerobatik TNI menggunakan pesawat jenis MK-53 Hawk, Hawk 100 dan F-16 Falcon (Foto Kaskus Formil)
 Tim Aerobatik TNI AU (Foto Formil Kaskus)

▪    Tim Aerobatik Jupiter
 
Team Jupiter yang asli dibentuk kembali pada tahun 2008 menggunakan 4 buah Korean Aerospace KT 1 B Woong Bee dari Skuadron Pendidikan 102 di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta. Pertunjukkan pertama di depan masyarakat umum dilakukan pada tanggal 4 Juli 2008 di Yogyakarta dan yang kedua di Jakarta pada bulan November 2008.

Awalnya, tim ini hanya menggunakan 4 pesawat model Hawk MK-53. Namun, Jupiter Aerobatik Team sempat vakum sejak tahun 2002 dan mulai muncul kembali ke permukaan tahun 2008 dengan pesawat latih KT-1B Woong Bee buatan Korsel yang berjumlah 8 buah.



 Tim Jupiter Aerobatik TNI AU

▪   Tim Aerobatik Thunder

Tim Aerobatik Thunder merupakan tim aerobatik terbaru yang dimiliki oleh TNI AU atas prakarsa KASAU Marsekal TNI Imam Sufaat. Tim dibentuk pada tanggal 28 Februari 2011 di pangkalan udara Sultan Hasanuddin – Makasar yang terdiri dari 3 pesawat Sukhoi (Su-27/30). Tim yang dikendalikan langsung oleh Flight Director Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Agus Supriatna diawaki oleh the “Thunders”, sebutan bagi penerbang Skadron Udara 11 yang sampai saat ini telah mencapai urutan ke-146.

 Atraksi Tim Aerobatik Thunder
 
Pada penampilan perdana kali ini, sebagai Thunder 1 adalah Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb M. Tonny Haryono, dengan call sign Racoon. Thunder 2 adalah Letkol Pnb M. Untung Suropati dengan call sign Giant. Thunder 3 adalah Mayor Pnd Dedy Ilham Suryanto Salam dengan call sign Cruiser.
Atraksi dibuka dengan manuver Bomb Burst, pesawat melintas dari arah belakang podium dengan ketinggian 150 m di atas permukaan tanah dan dengan kecepatan 750 km/jam, pesawat akan pecah dari formasi dan membentuk sudut 45˚ seperti pecahan sebuah bom meledak.
 
Berikutnya dari belakang podium, Thunder 1 akan tampil dengan manuver Tail Slide. Pesawat akan terbang menanjak dengan sudut 70˚ sampai mencapai kecepatan nol. Pesawat akan kelihatan berhenti di udara dan dapat dengan segera berakselerasi tanpa banyak kehilangan ketinggian. Sebuah manuver yang sangat indah.
Selanjutnya, Thunder 2 dan Thunder 3 berbelok menuju point persiapan dan Thunder 1 melakukan manuver membentuk satu lingkaran penuh secara vertikal (loop).
Kemudian dari sebelah kanan podium, Thunder 2 melakukan terbang inverted (terbalik) melintas depan podium. Thunder 3 melanjutkan atraksi dari kiri podium dan melakukan manuver 4 point roll. Pesawat akan berputar pada sumbu longitudinal sebanyak empat kali, masing-masing dengan sudut 90˚.
 
Manuver berikutnya, pesawat datang dari arah kanan podium, setelah melakukan manuver loop, Thunder 1 melintas di depan podium dengan manuver maksimum performance Aileron Roll. Pesawat berputar pada satu poros sebanyak empat kali hanya dalam waktu 6 detik.
 
Dilanjutkan dengan manuver High G Turn. Dari arah kiri, Thunder 2 menampilkan manuver berbelok dengan kemiringan 90˚ dan membentuk lingkaran pada bidang horizontal dengan radius turn minimum. Manuver ini merupakan kelebihan yang dimiliki oleh pesawat Sukhoi yang berperan penting dalam pertempuran jarak dekat.
Knife Edge, Thunder 3 terbang horizontal dari arah kanan dengan posisi miring 90˚ namun tetap mempertahankan arah dan ketinggian. Manuver ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi, karena pesawat mengandalkan vertikal stabilizer yang memiliki penampang kecil untuk menghasilkan gaya angkat.
 
Selanjutnya, Thunder 1 menampilkan kemampuan Sukhoi terbang dengan kecepatan rendah. Pesawat yang memiliki daya dorong sebesar 55.000 lbf dan mampu melesat hingga 2 kali kecepatan suara (2386 km/jam). Namun pesawat ini juga dirancang untuk tetap stabil dalam kecepatan rendah. Thunder 1 melintas horizontal dengan kecepatan 150 kts dan membentuk sudut serang (angle of attack) sebesar 24˚.
 
Dari belakang pesawat low speed, Thunder 2 melakukan High Speed Pass dengan kecepatan 0,9 MN atau 1600 km/jam. Selanjutnya, untuk membuktikan kemampuan daya dorong yang dimiliki pesawat Sukhoi, setelah terbang dengan low speed, pesawat dapat langsung melakukan manuver Oblique Loop yang membutuhkan kecepatan tinggi. Pesawat membuat lingkaran vertikal dengan sudut 45˚ sehingga membentuk lingkaran pada bidang miring 45˚.
 
Selanjutnya dengan akselerasi yang di peroleh, Thunder 1 melakukan manuver Half Cuban yaitu menanjak dengan sudut 60˚ dan kemudian pesawat berputar satu setengah kali, dilanjutkan dengan membuat setengah lingkaran menuju ketinggian semula.
Callypso, ditampilkan oleh Thunder 2 dan Thunder 3. Thunder 2 sebagai leader Callypso akan terbang inverted (terbalik). Sehingga pesawat terlihat seperti pinang dibelah dua.
Kemudian dari arah kiri podium, Thunder 1 melakukan manuver Inverted to Inverted yaitu terbang dalam posisi terbalik lalu membuat satu lagi putaran dan kembali ke posisi terbalik tanpa merubah kecepatan atau ketinggian.
 
Kolaborasi antara Thunder 2 dan Thunder 3 kembali menampilkan manuver Cross Over Break yaitu dua pesawat terbang saling menyilang pada kecepatan 800 km/jam dengan ketinggian yang sama.
 
Manuver terakhir dari Thunder Aerobatic Team adalah Bomb Burst. 3 pesawat melintas dari arah belakang podium dengan kecepatan tinggi di ketinggian rendah, lalu menanjak dengan sudut 60˚ dan diakhiri dengan roll. Manuver yang terlihat indah sekali, ditambah dengan smoke trail yang mengiringi masing-masing sukhoi. Acungan 2 jempol untuk Thunder team.
Menjadi kebanggaan Bangsa
 
Dengan berakhirnya atraksi tim aerobatic TNI AU yang tampil memukau tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi TNI AU dan bangsa Indonesia. Manuver - manuver yang di tampilkan menunjukkan kepiawian, kedisiplinan dan kegigihan para pilot TNI AU. Atraksinya menunjukkan bahwa pilot-pilot TNI AU terlatih dengan baik. Bukan hanya para pilot, namun pesawat yang digunakan atau dimiliki TNI AU juga mendukung kemampuan para pilot.
 

Semoga tim ini tetap terus bertahan dan dapat meningkatkan penampilannya. Bukan hanya atraksi di udara saja yang bisa ditampilkan, namun atraksi crew di darat sebagaimana di tampilkan oleh tim-tim aerobatic kelas dunia seperti Thunderbird, Blue Angels dari negeri paman Sam, kita pun bisa menampilkan tim aerobatic berkelas dunia.



 Atraksi Pesawat Sukhoi TNI AU Diangkasa Ibukota


 
Sumber :
  •  Majalah Angkasa
  •  weaponstechnology

Rabu, 08 Februari 2012

DH 115 Vampire AURI

Kedatangan DH 115 Vampire menandai era pesawat jet di AURI. Di awal kedatangannya, Vampire ditempatkan di Kesatuan Pancar Gas Skadron Xl. Sayangnya pesawat ini tak lama memperkuat AURI karena mengalami kesulitan suku cadang. Kemudian hari Skadron ini menjadi rumah bagi jet tempur Soviet.

Ⓑukan secara kebetulan kalau Skadron Udara 11 yang diresmikan 1 Juni 1957 mempu­nyai makna khusus bagi Angkatan Udara Republik Indonesia. Pada masa itu kekuatan AURI berdasar Skep Kasau Nomor 28A/11/KS/1951 tertanggal 23 April baru terdiri dari lima skadron dengan sistem penomoran angka Romawi. Kedatangan delapan unit jet DH (De Haviland) 115 Vam­pire dari Inggris merupakan awal dari kelahiran skadron ini. Pesawat ini terlebih dulu ditempatkan di kesatuan khusus, yakni Kesatuan Pancar Gas (KPG).

Akan tetapi kesatuan yang diresmikan 20 Februari 1956 ini tidak berumur panjang. Setahun berikutnya, pada 20 Maret 1957, KSAU memantapkannya menjadi Skadron XI menyusul kedatan­gan pesawat tempur MiG. KPG DH 115 pun dilebur ke dalam skadron ini. Angka sebelas tak lain umur AURI ketika skadron jet tempur pertama kali dibentuk. Untuk itulah makna angka ini menjadi penting, terlebih karena sejak kelahiran Skadron 11, AURI mulai menata sistem penomo­ran skadron udaranya. Sebagai komandan skadron pertama Lettu Udara Leo Watimena.

Selain mengoperasikan DH 115 Vampire, skadron 11 ini juga merawat 30 MiG 15 UTI dan sejumlah MiG 17 Fresco. Pada awal berdirinya, MiG ­19 Farmer dan pembom IL-28 juga pernah dititipkan / digabung untuk sementara, karena skadronnya belum terbentuk. MiG 19 selanjutnya ditempatkan ke Skadron 12, sementara IL 28 di Skadron 21.

Selain perwira AURI seperti Leo Wattimena, sejumlah kadet penerbang ALRI yang tengah mengikuti pendidikan terbang di Inggris juga sempat mengecap pengalaman terbang di Vampire seperti Lmd REBO Tjokrodiredjo dan AHK Hamami. Ketika Skadron 11 mulai operasional, kedua penerbang ini sempat diperbantukan ke AURI untuk mengawaki skadron seka­ligus untuk memelihara kemam­puan kedua penerbang (ben).

Pesawat DH-115 merupakan pesawat sumbangan pemerintah Inggris kepada pemerintah RI, dan diserahterimakan pada tahun 1955. Sebagai home basenya adalah Pangkalan Udara Andir – Bandung (sekarang Lanud Husein S.).

Beberapa personel Angkatan Udara dikirimkan ke Inggris untuk belajar dan mengawaki pesawat Vampire. Di bawah pimpinan Kapten Udara Rusmin, para penerbang kita belajar bagaimana untk menerbangkan Vampire. Sedangkan mereka yang dikirim ke Inggris untuk belajar mengoperasikan pesawat Vampire adalah sebagai berikut Letnan Udara Sumitro, Letnan Udara Ignatius Dewanto, Letnan Udara Loely Wardiman, Letnan Udara Rusman, dan Letnan Udara Musidjan. Sedangkan rombongan personel teknisi dipimpin oleh Letnan Udara Satu Kamarudin.

Beberapa kejadian penting pernah dialami para penerbang saat menerbangkan pesawat Vampire ini. Misalnya pesawat dengan nomor registrasi J-702 pernah keluar landasan sewaktu latihan rutin. Pesawat J-707 mendarat darurat di sawah tanpa roda. Selain kecelakaan, ternyata masih banyak kejadian lain yang menjadi kenangan para penerbang dan ground crew pesawat Vampire. Diantaranya adalah pengalaman sewaktu pesawat Vampire terbang formasi dengan 7 pesawat pada suatu upacara kebesaran di tahun 1956. Hal tersebut merupakan pengalaman dan kenangan tersendiri bagi para personel, baik pada saat masih berbentuk KPG ataupun Skadron Udara 11.

Pesawat jet adalah hal baru bagi bangsa kita saat itu, sehingga dalam menangani pesawat Vampire diperlukan adaptasi yang baik. Bila sebelumnya Angkatan Udara hanya mengelola pesawat piston, sekarang sudah mulai mengelola pesawat jet tempur. Leo Wattimena menjabat komandan skadron sampai tahun 1961. Sampai tahun tersebut, Skadron Udara 11 masih berada di Pangkalan Udara Andir. Kekuatan total pesawat adalah 16 pesawat DH 115 Vampire.

Konon waktu itu Leo Wattimena menerbangkan pesawat DH 115 Vampire trainer jet terbang di bawah jembatan sungai Thames semasa belajar di Inggris dan bikin tuan rumah marah bukan kepalang.


Spesifikasi DH 115 Vampire :

  • Awak : 1
  • Mesin : De Haviland Goblin 2 Turbo jet 3.000 lb
  • Berat : 12.390 lb
  • Kecepatan : 548 mph di ketinggian 30.000 kaki
  • Jarak Tempuh : 1220 mil
  • Persenjataan : 2 Cannon 20mm di kedua sayap & bom 2.000 lb



Sumber :

  • sejarahperang

Selasa, 07 Februari 2012

Operasi Trisula

Mengenang Partisipasi Politik Banser 1965
Menumpas Makar PKI 1 Oktober 1965

Oleh Agus Sunyoto *

Ⓐksi sepihak yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) berpuncak pada pembunuhan atas Pelda Sudjono di Bandar Betsy. Dengan menggunakan cangkul, linggis, pentungan, dan kampak sekitar 200 orang BTI membantai perwira itu. Pembantaian terhadap anggota militer itu mendapat reaksi keras dari Letjen A Yani. Tokoh-tokoh PKI yang mendalangi kemudian diproses secara hukum. Namun hal itu makin menambah keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak.

PKI yang sudah merasa kuat, kemudian melakukan intervensi ke bidang politik dengan merekayasa suatu "kebulatan tekad" dari organisasise-aspirasi mereka. Tanggal 6 Januari 1965, organisasi se-aspirasi PKI seperti SB/SS Pegawai Negeri, Lekra, Gerwani, Wanita Indonesia, Pemuda Indonesia, Germindo, Pemuda Demokrat, Pemuda Rakyat, BTI dan sebagainya mengadakan pertemuan umum di Semarang guna menggalang "kebulatan tekad" untuk menuntut pembubaran Badan Pendukung Soekarno (BPS) dan mendukung sikap Indonesia keluar dari PBB (Pusjarah ABRI, 1995,IV-A:107-108).

Keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak, ditunjukkan dalam aksi yang lebih berani yakni menduduki kantor kecamatan Kepung, Kediri. Camat Samadikun dan Mantri Polisi Musin, melarikan diri dan meminta perlindungan Ketua Ansor Kepung yaitu Abdul Wahid. Untuk sementara, kantor kecamatan dipindah ke rumah Abdul Wahid. Dan sehari kemudian, sekitar 1000 orang Banser melakukan serangan ke kantor kecamatan untuk merebutnya dari kekuasaan PKI. Hanya dengan bantuan Gerwani, ratusan PKI yang menguasai kantor itu bisa lolos dari sergapan Banser.

PKI juga telah mulai berani membunuh tokoh PNI. Ceritanya, di desa Senowo, Kenocng, Kediri, tokoh PNI bernama Paisun diculik PKI desa Botorejo dan Biro. Keluarganya lapor kepada Ansor. Waktu dicari, mayat Paisun ditemukan di WC dengan dubur ditusuk bambu tembus ke dada. Banser dibantu warga PNI menyerang para penculik. Tokoh-tokoh PKI dari Botorejo dan Biro dibantai. Malah dalang PKI bernama Djamadi, dibantai sekalian karena menjadi penunjuk jalan PKI. Juni 1965, Naim seorang pendekar PKI desa Pagedangan, Turen, malang menantang Banser sambil membanting Al-Qur'an. Naim dibunuh Samad. Mayatnya dibenamkan di sungai.
KUDETA 1 OKTOBER 1965
Tanggal 1 Oktober 1965 mulai pukul 03.30 sampai 05.00, gerakan makar PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung menculik para Jenderal AD yang difitnah sebagai anggota Dewan Jenderal. Letjen Ahmad Yani, Brigjen DI Panjaitan, Mayjen Soetoyo, Mayjen Soeprapto, Brigjen S. Parman, dan Mayjen Haryono MT mereka culik dan bunuh (Puspen AD, 1965: 9-10).
Sekalipun aksi itu terjadi 1 Oktober 1965, PKI menamakan aksinya itu dengan nama "Gerakan 30 September". Tanggal 1 Oktober itu juga, Letkol Untung menyatakan bahwa kekuasaan berada di tangan Dewan Revolusi.
Untung juga menyatakan kabinet demisioner. Pangkat para jenderal diturunkan sampai setingkat letnan kolonel, dan prajurit yang mendukung Dewan Revolusi dinaikkan pangkat satu sampai dua tingkat.

Aksi sepihak Letkol Untung yang menculik para jenderal dan membentuk Dewan Revolusi serta mendemisioner kabinet, jelas merupakan upaya kudeta. Sebab dalam Dewan Revolusi itu tidak terdapat nama Presiden Soekarno. Kabinet yang didemisioner pun adalah kabinet Soekarno. Dan jenderal-jenderal yang diculik pun adalah jenderal-jenderal yang setia pada Soekarno. Bahkan Jenderal A.H. Nasution, adalah jenderal yang pernah ditugasi Soekarno untuk menumpas PKI dalam pemberontakan di Madiun 1948.

Menghadapi aksi sepihak Letkol Untung, tanggal 1 Oktober 1965 itu juga, PBNU mengeluarkan pernyataan sikap untuk mengutuk gerakan tersebut.
Pada 2 Oktober 1965, pimpinan muda NU, Subchan Z.E., membentuk Komando Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September disingkat KAP GESTAPU yang mengutuk dan mengganyang aksi kudeta 1 oktober 1965 itu.

Tanggal 2 Oktober itu pula Mayjen Sutjipto, Ketua Gabungan V KOTI, mengundang wakil-wakil ormas dan orpol yang setia pada Pancasila ke Mabes KOTI di Jl Merdeka Barat. Rapat kemudian memutuskan untuk secara bulat berdiri di belakang Jenderal Soeharto dan Angkatan Darat (O.G. Roeder, 1987: 48-49). Sementara di Kediri, tanggal 2 Oktober 1965 sudah tersebar pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa dalang di balik peristiwa 1 Oktober 1965 adalah PKI.
BENTROK BANSER VS PKI
10 Oktober 1965, sekalipun PKI menyatakan bahwa peristiwa 1 Oktober yang dinamai 'Gerakan 30 September' itu adalah persoalan intern AD dan PKI tidak tahu-menahu, anggota Banser di kabupaten Malang mulai menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga, tokoh - tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang Banser dan dibunuh. Di antara tokoh PKI yang terbunuh saat itu adalah Suwoto, Bowo, dan Kasiadi. Palis, kawan akrab Bowo, karena takut dibunuh Banser malah bunuh diri di kuburan desa Pagedangan.

11 Oktober 1965, Banser beserta santri dari berbagai pesantren di Tulungagung menyerang PKI di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung. Sekitar 3 ribu orang PKI yang sudah bersiaga dengan senjata panah, kelewang, tombak, pedang, clurit, air keras, dan lubang-lubang di dalam rumah, berhasil dilumpuhkan. Tanpa melakukan perlawanan berarti, pasukan PKI itu ditangkapi Banser dan disembelih. Para anggota Banser dan santri yang usianya sekitar 13 - 16 tahun itu, berhasil melumpuhkan para jagoan PKI.

Pada 12 Oktober 1965, sekitar 3 ribu orang anggota Banser mengadakan apel di alun-alun Kediri. Setelah apel usai, mereka bergerak menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya di sepanjang jalan yang mereka lewati. Di markas PKI di desa Burengan, telah siaga sekitar 5 ribu orang PKI dengan bermacam- macam senjata. Iring-iringan Banser yang dipimpin Bintoro, Ubaid dan Nur Rohim itu kemudian dihadang oleh PKI. Terjadi bentrokan berdarah dalam bentuk tawuran massal. Sekitar 100 orang PKI di sekitar markas itu tewas. Sementara, di pihak Banser tidak satupun jatuh korban. Dalam peristiwa itu, Banser mendapat pujian dari Letkol Soemarsono, komandan Brigif 6 Kediri karena kemenangan mutlak Banser dalam tawuran massal itu.

Pada 13 Oktober 1965, sekitar 10 ribu orang PKI di kecamatan Kepung, Kediri, melakukan unjuk kekuatan dalam upacara pemakaman mayat Sikat tokoh PKI setempat yang tewas dalam peristiwa di Burengan. Mereka menyatakan akan membalas kematian para pimpinan mereka. Dan sore hari, dua orang santri dari pondok Kencong yang pulang ke desanya di Dermo, Plosoklaten, dicegat di tengah jalan. Seorang dibunuh. Tubuhdicincang. Seorang dikubur hidup-hidup.

Kematian dua orang santri yang masih remaja itu, membuat Banser marah. Tapi mereka belum berani menyerbu ke desa Dermo, karena kedudukan PKI di situ sangat kuat. Akhirnya, Banser setempat meminta bantuan Banser dari pondok Tebuireng, Jombang. Dengan kekuatan lima truk, Banser Tebuireng masuk ke desa Dermo. Truk mereka diberi tulisan BTI singkatan dari Banser Tebu Ireng. Rupanya, PKI menduga bahwa BTI itu adalah Barisan Tani Indonesia yang merupakan ormas mereka. Walhasil, bagaikan siasat "kuda Troya", pertahanan PKI di desa Dermo dihancurkan dari dalam.

Pertarungan antara Banser dengan PKI yang berakibat fatal bagi Banser adalah di Banyuwangi. Ceritanya, Banser dari Muncar yang umumnya dari suku Madura dikenal amat bersemangat mengganyang PKI. Itu sebabnya, pada 17 Oktober 1965, di bawah pimpinan Mursyid, dengan kekuatan tiga truk mereka menyerang kubu PKI di Karangasem. Di Karangasem, terjadi bentrok berdarah setelah Banser tertipu dengan makanan beracun. Dalam bentrokan itu 93 orang Banser gugur. Sisanya melarikan diri ke arah Jajag dan ke arah Cluring. Ternyata, Banser yang lari ke Cluring dihadang PKI di desa itu. Sekitar 62 orang Banser dibantai dan dimakamkan di tiga lubang dekat kuburan desa.

Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan diadili sebagai penjahat. Seruan itu dimanfaatkan oleh PKI. Mereka melaporkan anggota Banser yang telah membunuh keluarga mereka. Dan jadilah hari-hari sesudah 27 Oktober itu penangkapan dan pemburuan aparat keamanan terhadap Banser.

PENUMPASAN PKI
Dalam bulan November-Desember, setelah sejumlah pimpinan PKI seperti Brigjen Supardjo, Letkol Untung, Nyono, Nyoto, dan Aidit diberitakan tertangkap, makin terkuaklah bahwa perancang kudeta 1 Oktober 1965 adalah PKI. Saat-saat itulah pihak ABRI khususnya AD mulai melakukan pembersihan dan penumpasan terhadap PKI beserta ormas-ormasnya. Dan tangan kanan yang digunakan oleh pihak militer itu adalah "anak didik" mereka sendiri dalam hal ini adalah Banser yang memiliki jumlah anggota puluhan ribu orang.

Dalam suatu aksi penangkapan dan penumpasan PKI di Kediri, misalnya, pihak AD hanya menurunkan 21 personil. Sedang Banser yang dilibatkan mencapai jumlah 20 ribu orang lebih. Dengan jumlah yang besar itu, diadakan operasi yang disebut "Pagar Betis" yakni wilayah kecamatan Kepung dikepung oleh Banser dalam jarak satu meter tiap orang. Dengan cara pagar betis itulah, PKI tidak dapat lolos. Sekitar 6000 orang PKI tertangkap (kisah lengkap terdapat dalam buku saya berjudul "Banser Berjihad Menumpas PKI" 1996).

Penangkapan besar-besaran juga terjadi di Banyuwangi, Blitar, Malang, Tulungagung, Lumajang dan kesemuanya melibatkan Banser. Mengenai keterlibatan Banser dalam menumpas PKI, itu Komandan Kodim Kediri Mayor Chambali (alm) menyatakan bahwa hal itu merupakan strategi ABRI yang ampuh. Sebab di tubuh Banser tidak tersusupi unsur PKI. Sementara jika dalam penumpasan itu hanya ABRI yang dilibatkan, maka pihak ABRI sendiri belum bisa menentukan siapa lawan dan siapa kawan karena banyaknya anggota ABRI yang dibina PKI.

OPERASI TRISULA
Tahun 1968, ketika PKI sudah dibubarkan dan pengikutnya ditumpas, terjadi aksi-aksi kerusuhan di Blitar Selatan. Aksi - aksi kerusuhan yang berupa perampokan, penganiayaan, penculikan, dan pembunuhan itu selalu mengambil korban warga NU dan PNI. Sejumlah korban yang terbunuh, misalnya, Kiai Maksum dari Plosorejo, Kademangan. Sesudah itu Imam Masjid Dawuhan. Tokoh PNI yang terbunuh adalah Manun dari desa Dawuhan, kemudian Susanto Kepala Sekolah Panggungasri, dan Sastro kepala Jawatan Penerangan Binangun. Puncaknya, 2 orang anggota Banser yang sedang jaga keamanan di gardu di bunuh.

Para pimpinan Ansor Blitar melaporkan kecurigaan mereka kepada Komandan Kodim akan bangkitnya kembali kekuatan PKI di Blitar. Namun laporan itu tak digubris. Akhirnya, mereka menghubungi seorang aktivis Ansor yang menjadi Danrem Madiun yakni Kolonel Kholil Thohir. Oleh Kholil Thohir disiapkan 3 batalyon yaitu 521, 511, dan 527 untuk operasi yang diberi nama sandi "Operasi Blitar Selatan" . Namun operasi berkekuatan 3 batalyon itu tidak mampu mengatasi gerakan gerilya PKI.

Operasi kemudian diambil alih oleh Kodam VIII/ Brawijaya yang menurunkan 5 batalyon yaitu 521, 511, 527, 513, dan 531 dengan Perintah Operasi No.01/2/1968. Namun operasi dari Kodam inipun kurang efektif. Akhirnya, setelah dievaluasi diadakan operasi besar-besaran dengan melibatkan semua unsur yakni kelima batalyon ditambah unsur-unsur lain termasuk 10 ribu orang hansip dan warga masyarakat Blitar Selatan. Surat perintah operasi itu bernomor 02/5/1968. Dan penting dicatat bahwa 10 ribu orang Hansip itu adalah anggota Banser
yang diberi pakaian Hansip.

Dalam operasi terpadu yang diberi nama sandi "Operasi Trisula" itu, sejumlah tokoh PKI berhasil ditewaskan. Di antara mereka itu adalah Ir Surachman dan Oloan Hutapea. Sedang mereka yang tertangkap di antaranya adalah Ruslan Wijayasastra, Tjugito, Rewang, Kapten Kasmidjan, Kapten Sutjiptohadi, Mayor Pratomo, dan beratus-ratus anggota PKI yang lain. Dan salah satu strategi operasi yang paling efektif dalam Operasi Trisula itu adalah "Pagar Betis" yang melibatkan 10.000 orang Banser ditambah warga masyarakat yang kebanyakan juga anggota Banser yang tidak kebagian seragam. Satu ironi mungkin terjadi dalam Operasi Trisula itu, yakni selama operasi itu berlangsung telah ditangkap sejumlah 182 orang anggota Kodam VIII/Brawijaya di antaranya berpangkat perwira yang ikut dalam operasi tersebut (Pusjarah ABRI, 1995, IV-B:101-108).

Berdasar uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa kelahiran Banser tidak terlepas dari peranan ABRI terutama AD dan Brimob yang ikut membidaninya. Itu sebabnya, keberadaan Banser sebagai paramiliter yang digunakan untuk membantu proses penumpasan PKI oleh ABRI memiliki nilai historis yang kuat, di mana semangat antikomunisme yang terkristalisasi dalam doktrin Banser itu dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu oleh pihak ABRI jika negara dalam keadaan terancam (habis).

Sumber :
  • Jawa Pos
*Artikel ini pernah dimuat di Jawa Post dalam 3 bagian pada 2 September 1996.

Senin, 06 Februari 2012

Cureng

Pesawat Cureng (Foto DispenAU)

Ⓟesawat yg melegenda di bumi pertiwi zaman kemerdekaan salah satunya adalah pesawat Cureng (aslinya bernama Churen).

Pesawat Cureng ini asli Jepang buatan Nippon Hikoki pada awal 1933, bertenaga 350 HP dan termasuk pesawat latih lanjut.

Sejarah pesawat ini pada tahun 1945-1948 dipergunakan AURI (sekarang TNI AU) sebagai pesawat latih, pesawat pengintai, pesawat pembom ringan, pemotret udara maupun digunakan sebagai pesawat Palang Merah.

Pada 27 oktober 1945 diterbangkan pertama kali oleh penerbang perwira kita Agustinus Adisutjipto di pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta dengan menggunakan tanda merah putih , bukti lambang / simbol negara kita.

Tahun 1946 Pesawat Cureng ini dipakai Operasi memperluas jaringan udara dari pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta ke daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatra Selatan.

Pada pagi hari, 29 Juli 1947 tiga kadet penerbang AURI masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Tanggal tersebut dijadikan menjadi Hari Bakti AURI berserta jatuhnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan gugurnya tiga perintis AURI masing-masing Adisutjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo. Pesawat Dakota yang jatuh di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta itu, bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa oleh pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya. Penembakan dilakukan oleh dua pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang merasa kesal atas pengeboman para kadet AURI pada pagi harinya.

Tahun 1948 Pesawat Cureng ini dipergunakan untuk Operasi menumpas pemberontakan PKI di daerah Madiun, Pati dan Purwodadi.

Setelah lama dipakai AURI menjaga Udara Bumi Pertiwi ini, Akhirnya Pesawat Cureng peninggalan Kerajaan Jepang setelah meninggalkan Indonesia, di pensiunkan tahun 1977 dan di simpan di museum ABRI Satriamandala, Jakarta.

Berikut Foto Pesawat Cureng :

Pesawat Cureng di Museum ABRI Satriamandala (Foto Ipenk 666)


Sumber :
  • indoflyer

Minggu, 05 Februari 2012

DANIEL MAUKAR : Pilot pesawat tempur MiG 17 yang menyerang Istana kediaman Bung Karno

Ⓐpakah Tiger mengamuk karena Bung Karno merebut pacarnya! Betulkah? Tiger adalah julukan buat Daantje, si pemuda Minahasa yang ganteng dan gagah berani itu. Dia disebut Tiger, karena itu adalah "call sign"-nya sebagai penerbang. Dengan menggunakan pesawat tempur MiG-17 dilengkapi kanon 23 mm, digempurnya istana Merdeka dan istana Bogor. Juga kilang minyak di Tanjung Priok.

Sidang Mahmil Sam Karundeng dan Daniel Maukar

Dia dikenal sebagai satu-satunya pilot Indonesia dalam sejarah yang berani menyerang istana presiden. Kejadiannya tanggal 9 Maret 1960. Di jamannya dia disebut sebagai pilot pesawat tempur terbaik di tanah air sesudah Leo Wattimena. Masih bujangan, waktu itu pangkatnya Letnan Udara II.

Serangan itu membuat pimpinan AURI malu sekali. Kontan Kepala Staf TNI-AU Soerjadi Soerjadarma mengajukan pengunduran diri yang kabarnya ditolak Soekarno. Bos AURI ini memang merasa tertampar. Bagaimana tidak? Soalnya serangan anak buahnya tadi ditujukan buat Sang Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Soekarno.

Walaupun begitu, Soerjadi sebagai pimpinan tidak begitu saja lepas tangan terhadap anak buahnya. Di kemudian hari orangtua Daantje sangat berterimakasih atas peran Soerjadi yang sangat membantu anak mereka dalam proses persidangan sampai dibebaskan. Komentar Soerjadi tentang itu, "Danny itu sudah saya anggap seperti anak sendiri".

Daniel Maukar (berdiri ke3 dari kiri).

Daantje atau Danny, nama lengkapnya Daniel Alexander Maukar. Lahir di Bandung 20 April 1932 dari pasangan Karel Herman Maukar dan Enna Talumepa. Meskipun tumbuh dan tinggal dengan orangtuanya di Menteng Jakarta, namun kultur Kawanua tetap kental dalam keluarga itu.

Kecintaannya pada tanah leluhurnya kemudian membuatnya bersimpati pada gerakan PERMESTA, gerakan separatis di Sulawesi Utara (orang-orang Permesta menolak Permesta dikatakan separatis). Ini juga sedikit banyak mempengaruhi kenekatannya yang akhirnya menghadapkannya pada vonis melakukan makar.

Makar artinya upaya menggulingkan pemerintah secara tidak sah. Daniel Maukar memang punya marga Menado "Maukar", tapi itu artinya bukan "makar". Orang Minahasa tahu, kata "Maukar" artinya "menjaga".

Walaupun demikian, si "Tiger" Daniel Maukar tak mampu "menjaga" luapan darah mudanya, sehingga akhirnya memborbardir istana dengan tembakan. Tak jauh meleset dari meja kerja Bung Karno. Untung saja Bung Karno luput dari serangan itu. Karena sedang berada di gedung DPA yang terletak di samping istana.

Danny sendiri mengaku tidak berniat ingin membunuh Bung Karno. Karena tahu Bung Karno itu idola. Buktinya, serangannya itu dilakukan setelah yakin Bung Karno tidak berada di tempat. Memang sebelumnya dia sempat bertanya pada petugas pangkalan yang baru kembali dari depan istana. Danny bertanya apakah ada bendera kuning berkibar di depan istana. Setelah dijawab tidak, Danny tahu itu artinya Bung Karno sedang tidak berada di istana. Yang menarik, walaupun berani memborbardir istana, tapi Danny dengan tegas menolak perintah menyerang markas AURI dan Lanud Halim Perdana Kusuma. "Itu rumah saya sendiri". Penolakan ini turut memberi andil untuk pembebasannya kemudian, setelah sempat divonis hukuman mati.

Sampai sekarang orang masih dibuat penasaran tentang apa sebetulnya motif di balik kenekatan Daniel 'Tiger" Maukar. Tidak banyak referensi yang mengungkap tentang itu. Mungkin satu-satunya tulisan lengkap tentang makar itu, ditulis oleh Jan S. Doward dalam buku Last Tiger Out: The True Story of Dan Maukar, Ace Pilot in The Indonesian Air Force.

Ketika masih kecil, saya sering mendengar rumor orang-orang dewasa tentang mengapa Danny ngamuk dengan pesawat jet-nya. Berani cari gara-gara dengan Bung Karno? Wah!Terdengar selentingan, pacar Danny direbut Bung Karno. Gadis Menado cantik pacar Danny yang kabarnya kerja di istana itu, namanya Molly Mambo konon digoda Bung Karno. Molly juga bekerja sebagai guru Bahasa Inggris, di samping mengajar senam.

Tapi rumor itu dibantah Daniel Maukar dalam wawancaranya yang dimuat di Majalah Angkasa. "Itu bohong!", tegasnya. Lalu kenapa bisa berhembus kabar bahwa serangannya itu gara-gara pacarnya diganggu Bung Karno? Danny mengutip dugaan, gosip itu mungkin sengaja disebarkan CIA. Karena orang gampang percaya pada gosip yang mengaitkan Bung Karno dengan wanita. Soalnya siapapun tahu reputasi Bung Karno tentang wanita.

Diduga issue itu sengaja disebarkan untuk mengaburkan peranan CIA yang sesungguhnya di balik kekacauan politik di masa itu. Ada bukti-bukti tentang "tangan CIA" di belakang gerakan-gerakan separatisme di Indonesia ketika itu, termasuk gerakan Permesta Sulawesi Utara.

Dalam pengakuannya Daniel Maukar mengungkapkan, dia merasakan adanya pendekatan yang sistematis dari orang-orang Permesta terhadap dirinya. Namun waktu itu belum disadarinya.

Diakuinya dia mulai termakan hasutan tentang kisah ketimpangan pembangunan di Sulawesi Utara. Ini tidak adil. Padahal Sulawesi Utara sudah banyak diperas untuk pembangunan negara. Di antaranya melalui hasil kopra. Provokasi itu semakin diperuncing dengan kisah tentang Soekarno yang mulai main mata dengan komunis.

Itu membuat para pejuang Minahasa di Permesta merasa dikhianati. Padahal tidak sedikit pejuang Minahasa yang ikut mempertaruhkan nyawa berjuang merebut kemerdekaan. Sebagai catatan, umumnya para pemberontak separatisme di berbagai daerah ketika itu (termasuk Permesta), adalah pejuang gagah berani di masa perjuangan mengusir Belanda.

Gejolak darah muda Danny mulai terbakar dengan semua kisah provokatif tadi. Rasa cinta pada tanah leluhurnya bangkit untuk memprotes ketidakadilan itu. Idealisme-nya sebagai pemuda Minahasa yang peduli akan nasib kampung halamannya membuat Permesta semakin bergairah untuk mendekati ke Danny.

Bisa jadi, kehandalan Danny sebagai pilot pesawat tempur MiG-17 plus darah Kawanua-nya, membuat Permesta melirik potensinya.
Danny memang sangat mahir bermanuver tajam dengan jet MiG-17. Bahkan dalam keadaan mati mesin, dia masih bisa mendarat dengan selamat.

Begitulah. Danny penerbang tempur handal. Pihak lain butuh kehandalannya. Maka provokasi pun semakin dilancarkan, yang bikin darah muda Danny semakin mendidih. Mungkin dengan cara begini Danny bisa direkrut. Beberapa kalangan menganalisis bahwa provokasi di masa itu adalah cara CIA memecah-belah. Soalnya Amerika takut kalau Indonesia semakin akrab ke Rusia, sang musuh bebuyutan AS (Era Perang Dingin).

Amerika dan Rusia memang bersaing sengit untuk merangkul Indonesia yang kaya sumber daya alam. Sehingga taktik memecah belah jadi cara ampuh untuk mengail di air keruh. Taktik divide et impera. Bikin dua bersaudara berduel. Setelah keduanya lemah, pihak luar masuk untuk menguasai. Bukankah lebih gampang menaklukkan dua kelompok yang sudah babak belur tak berdaya?

Kembali ke cerita tentang Molly tadi. Apa betul Molly Mambo itu pacarnya Danny? "Ya, memang betul kami sempat bertunangan, tapi kami tidak berjodoh sampai ke pernikahan", kata Danny. Lalu ditambahkannya dengan serius, "Walau begitu, penyerangan ke istana itu tidak ada sangkut pautnya dengan Molly. Sungguh. Tapi biarpun saya sudah berkali-kali bilang begini, masih banyak juga yang bilang saya bohong". Dikatakannya, dia merasa geli bahwa orang-orang percaya dengan rumor itu. Termasuk teman-teman kuliah Molly di IKIP Jakarta.

Sebelum melancarkan serangan itu, di Bandung dia sempat memberi kecupan mesra pada Molly yang ikut mengantarnya ke Lanud Hussein Sastra Negara. Lalu dari Bandung, dengan pesawat MiG-17 itu dia melesat ke Jakarta memulai misi rahasianya. Serangan itu akhirnya gagal karena tidak adanya koordinasi yang baik. Setelah kehabisan bahan bakar, pesawatnya mendarat darurat di persawahan Garut, Jawa Barat. Para ahli penerbangan sendiri heran, bagaimana dia bisa melakukan pendaratan darurat belly landing dengan begitu baik. Dan anehnya...selamat! Setelah mendarat itu, rencananya dia akan bergabung dengan pasukan Darul Islam. Tapi belum sempat, TNI sudah keburu menangkapnya. Danny terlihat sangat tenang ketika ditangkap.

Di balik serangan itu juga, diketahui keterlibatan Sam Karundeng, seorang tokoh Permesta. Serangan Danny diduga tercetus atas perintah Sam Karundeng. Daniel Maukar mengakui bahwa dia kecewa dengan cara Soekarno memberantas gerakan Permesta, yang di matanya mereka itu adalah pejuang-pejuang berjasa bagi negara. Permesta hanya ingin pembenahan otonomi,
separatis bukanlah tujuan.

Penyerangannya ke istana adalah ekspresi kekecewaannya sekaligus untuk "memperingatkan" Bung Karno. Daniel Maukar divonis hukuman mati. Tapi berkat lobby beberapa pihak, Presiden Soekarno mengampuninya. Akhirnya tahun 1968 di era Suharto, Daniel Maukar pun menghirup udara bebas di luar tahanan.

konon MiG 17 AURI no 1162 ini yg dipakai Danny Maukar

Ada cerita menarik di balik mendekamnya Danny di tahanan. Aktris Rima Melati yang nama aslinya Marjolein (Lientje) Tambayong, suatu hari menjenguk mantan pilot itu di LP Cipinang. Dia memang kadang menjenguk bersama Vivi Maukar. Sebagai dua gadis Kawanua di tanah rantau, Rima memang bersahabat baik dengan Vivi, adik Danny.

Dari seringnya menjenguk, Rima Melati mengaku kepincut dengan si Danny. Lalu Rima Melati (nama ini pemberian Bung Karno), yang memang akrab dengan Presiden pertama itu, memohon keringanan hukuman buat Danny. Bung Karno tanya, "Dia sudah menyesal nggak?". Bung Karno bilang dia bisa membebaskan Maukar asal ada surat pernyataan penyesalan dari yang bersangkutan. Maksudnya agar Bung Karno punya dasar tertulis untuk mengeluarkan putusan grasi. Saran Bung Karno ini disampaikan ke Daniel Maukar. Tapi dasar Tiger. Tetap sekokoh pesawat tempurnya. Danny tak pernah mau membuat surat penyesalan itu. "Saya jadi benci dia", kata Rima.

Bung Karno tahu, idealisme perjuangan Danny sebagai anak muda telah ditunggangi oleh beberapa kepentingan di baliknya. Dan Bung Karno sangat paham bahwa Danny tidak pernah berniat ingin membunuhnya. Di balik segala kontroversi tentang Daniel Maukar, tak sedikit perwira AURI yang diam-diam menyimpan kebanggaan pada pemuda ini.

Setelah mendapat pengampunan dari Soekarno, lepas dari penjara Danny harus melupakan karir penerbangan, tapi mendapat pensiun penuh. Lolos dari hukuman mati, dinilainya sebagai mukjizat. Karena itu Danny mengakui jadi lebih menghargai hidupnya. Sebagai tanda syukur, selepas dari penjara diabdikannya seluruh hidupnya untuk bekerja di ladang Tuhan sebagai pendeta. Pekerjaan kerohanian itu terus ditekuninya hingga tutup usia tahun 2007, dalam usia 72 tahun di Jakarta.

Hanya satu hal yang dibutuhkan untuk membuat hidup berubah haluan 180 derajat. Yaitu nekat. Hasilnya ditentukan oleh bagaimana cara melakukan kenekatan itu. Dengan jet MiG-17, tujuan Danny melesat cepat bak mustang. Begitu cepatnya, sehingga ketika mendarat di sawah, secepat itu juga Danny sadar bahwa dirinya telah tersesat.

Tersesat? Bukan hanya Danny. Itu bisa saja dialami oleh setiap orang. Tapi tidak setiap orang seberuntung Danny yang bisa membenahi hidupnya untuk tidak terus tinggal dalam kesesatan.


Sumber :
  • Walentina Waluyanti, Nederland, 28 Januari 2010
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...