Sabtu, 13 Oktober 2012

Orang-Orang "Penting" di Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia (2)

JARANG DI DARAT: Khoirul Saleh (kiri) mengecek tekanan darah Serka Supari menjelang lomba panjat tiang Dewaruci dalam peringatan kemerdekaan RI 17 Agustus 2012. Foto : Suryo Eko Prasetyo/Jawa Pos

Keberadaan Sertu Rum Khoirul Soleh sebagai bintara kesehatan (bakes) sangat penting dalam ekspedisi KRI Dewaruci kali ini. Dialah "dokter" yang harus selalu stand by untuk menangani awak kapal yang ambruk. Inilah laporan wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO yang ikut dalam pelayaran selama 9 bulan itu.

 Pontang-panting Tangani Diare Masal ABK

DI setiap satuan kapal TNI-AL yang hendak berlayar dalam waktu lama, pasti disertakan tenaga kesehatan. Apalagi bila kapal yang menjalankan misi khusus itu membawa banyak penumpang (awak kapal). Kehadiran dokter, perawat, atau tenaga kesehatan sekelas mantri sekalipun sangat dibutuhkan. Mau berobat ke mana lagi kalau tidak ke orang-orang "penting" itu saat sakit di tengah laut.

Dalam ekspedisi KRI Dewaruci keliling dunia 2012, Dinas Kesehatan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) menugaskan dua personel andal. Mereka adalah Letnan Satu Laut (K) dr Bangun Pramujo dan Sersan Satu Rum Khoirul Soleh.


Kendati bukan ABK (anak buah kapal) tetap di Dewaruci, Khoirul sudah malang melintang di berbagai penugasan militer di darat maupun laut. Jam terbangnya sudah tinggi. Karena itu, begitu mendapat tugas untuk mengikuti ekspedisi Dewaruci kali ini, dia langsung siap. Selain karena perintah komandan, pelayaran panjang kali ini sangat menantang profesionalitasnya sebagai tenaga kesehatan.


"Berlayar bareng Dewaruci adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Apalagi keliling dunia dengan waktu yang sangat lama," kata Khoirul.


Selama 25 tahun pengabdiannya di TNI-AL, dia tak pernah mengikuti pelayaran sampai lebih dari sembilan bulan seperti dalam ekspedisi Dewaruci kali ini. Khoirul ikut bertugas di kapal perang paling lama tidak lebih dari tiga bulan.


Dia lalu mencontohkan saat ditugaskan on board di KRI Pandrong pada Oktober"Desember 2011. Di atas kapal patroli itu, Khoirul berlayar mengelilingi perairan Indonesia wilayah timur untuk menjaga keamanan teritorial laut. Tanpa tenaga dokter, dia menjadi rujukan para awak kapal yang mengalami gangguan kesehatan.


"Alhamdulillah, waktu itu tidak ada kasus medis berat yang mengharuskan kapal sandar untuk merujuk pasien ke rumah sakit terdekat," ujarnya.


Hanya berselang dua minggu setelah tugas patroli KRI Pandrong selesai, Khoirul sudah mendapat perintah untuk ikut mengawal KRI Dewaruci sejak Januari silam hingga saat ini.


Memang, dalam tujuh tahun ini, Khoirul sering mendapat tugas "melaut". Setiap tahun dia dua hingga tiga kali berlayar dalam durasi yang lumayan lama. Praktis, waktunya lebih banyak dihabiskan di atas laut daripada di darat. Bapak tiga anak itu dalam setahun hanya punya waktu berkumpul keluarga sekitar tiga bulan.


"Sejak pindah ke Diskes Koarmatim pada 2005, saya lumayan bisa meluangkan waktu untuk keluarga. Sebelum itu, lebih sering di laut," ungkap pria asal Jombang tersebut.


Menjadi prajurit dengan pangkat kelasi dua pada 1987, Khoirul kali pertama berdinas di Yonkesmar, Karangpilang, Surabaya, sekitar tiga tahun. Kemudian, dia dipindah ke Yonif 2 Marinir, Cilandak, dan Diskes Detasemen Jala Mangkara, Jakarta, selama empat tahun.


Dia sempat kembali ke Jatim ketika dimutasi ke Yonif 3 Marinir, Gedangan, Sidoarjo, dan Yonif 1 Marinir, Tanjung Perak, Surabaya, sampai 2004. Selama itu, berbagai penugasan ke Nanggroe Aceh Darussalam dia peroleh. Misalnya, saat darurat militer, operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan tanggap militer.


Kala itu, Khoirul juga ikut turun ke medan perang, keluar-masuk hutan, serta naik-turun gunung selama 16 bulan. Dia tercatat empat kali mendapat tugas khusus di provinsi ujung barat Indonesia itu. "Tantangannya lebih berat dibanding masa pendidikan," kenang prajurit yang tidak menyangka akan diposisikan di korps kesehatan tersebut.


Kasus menonjol ditemui Khoirul ketika ada ABK yang gulung koming karena perutnya sakit. Rupanya, si ABK punya riwayat sakit usus buntu akut yang tidak dilaporkan ke tim medis. Puncaknya, saat kapal berada di kawasan utara Indonesia, sakit si pasien tak bisa dibendung lagi.

Khoirul pun melapor ke komandan kapal mengenai kondisi ABK yang kesakitan. Komandan lalu memutuskan agar kapal merapat ke lantamal (pangkalan utama TNI-AL) terdekat yang memiliki rumah sakit. Operasi wajib dilaksanakan untuk menyelamatkan jiwa anak buahnya.
"Sebelum sandar, pasien saya infus dan terapi ringan. Begitu sandar, dia langsung kami evakuasi agar penanganan apendiks (usus buntu)-nya tidak terlambat," beber Khoirul tanpa menyebut nama si pasien dan nama kapal yang berlayar dengan alasan etika.

Dalam ekspedisi Dewaruci kali ini, dirinya juga mengalami kejadian luar biasa. Dia dan tim medis lainnya bahkan sempat dibuat kelabakan. Yakni, kejadian pada Agustus lalu seusai seluruh ABK muslim umrah ke Makkah. Hampir separo di antara 69 awak kapal yang umrah mengalami diare masal. Diduga, penyebabnya adalah makanan katering yang dikonsumsi para ABK kurang memenuhi standar kesehatan.

Saking parahnya, sejumlah personel sampai terkapar dua hari. Beberapa ABK mengalami dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar. "Kami sempat panik karena pelayaran harus segera dilanjutkan. Karena itu, kami harus bekerja keras agar para ABK yang terkapar bisa segera pulih kembali," ujar suami Nusrotin Alfiyah itu.

"Beruntung, oralit dan obat yang diminumkan dengan cepat memulihkan kondisi para pasien. Jadwal perjalanan kapal pun tak sampai terganggu karena tidak ada pasien yang harus opname," imbuhnya.

Selain kasus diare masal itu, hampir tak ada kasus menonjol lain yang ditangani sepanjang pelayaran sembilan bulan tersebut. "Kalau hanya masuk angin, flu, sakit kepala, itu biasa. Namanya hidup di tengah laut," tuturnya.

Khoirul berharap, seusai menjalankan misi Dewaruci keliling dunia nanti, kehidupannya bisa lebih "normal". Dia ingin lebih banyak berkumpul istri dan tiga anaknya yang sudah gede-gede. Di antara tiga anaknya, tinggal si bungsu, Dani Saputra, 17, yang masih duduk di bangku SMA. Dua putra pertamanya, Muhammad Ade, 21, dan Muhammad Feri Rokhman, 19, sudah kelar pendidikan. Bahkan, Feri kini bekerja di dunia kesehatan sebagai asisten apoteker.


"Pokoknya, setelah (pelayaran) ini saya berharap bisa lebih sering kumpul keluarga," tegas Khoirul. (*/c5/ari/bersambung)
© Jpnn

Tingkatkan moril, personel Marinir TNI AL ber-"Haka-haka"

Jakarta - Latihan perang puncak di lingkungan TNI AL, Armada Jaya 2012, akan digelar pekan depan di Sangatta, Kalimantan Timur. Latihan perang itu dilaksanakan belasan ribu personel TNI AL, salah satunya dari unsur Korps Marinir TNI AL.

Mereka tergabung dalam Komando Tugas Amfibi Armada Jaya XXXI/2012, yang akan melakukan skenario operasi pendaratan amfibi di pesisir Sangatta, yang berdekatan dengan garis perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Pulau Kalimantan.

Jelas mereka harus mempertahankan kebugaran fisik dan memelihara moril agar pasukan itu tetap dalam kondisi puncak dalam kesertaan pada operasi itu.

Tidak usah sulit memelihata kebugaran tubuh sambil memelihara kekompakan pasukan. Mereka ber-"Haka-haka" di geladak kapal perang KRI Banjarmasin-592, yang juga kapal komando satuan tugas dari untuk Korps Marinir TNI AL itu. Haka-haka adalah tarian perang tradisional yang sudah dimodifikasi sesuai keperluan militer.

Ber-"Haka-haka" di perairan Selat Makassar, Jumat pagi, geladak kapal perang besar buatan bangsa sendiri itu menjadi arenanya di antara alunan gelombang sedang. Haka-haka dilakukan secara serius namun cukup menyenangkan pasukan.
 
Di laut kita jaya!
© Antara

Jumat, 12 Oktober 2012

Armada Jaya XXXI/2012: KRI Unsur Kogasgabfib diserang

Perairan Selat Makasar, 12 Oktober 2012…..Konvoi unsur kapal perang yang tergabung dalam Komando tugas gabungan amfibi (Kogasgabfib) dipimpin Pangarmabar Laksda TNI Sadiman, S.E selaku Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi (Pagkogasgabfib) mendapat ancaman kapal permukaan dan bahaya udara pada saat melaksanakan lintas laut di Pulau Jawa menuju perairan Sangatta Kalimantan Timur.

Ancaman tersebut terjadi saat unsur-unsur konvoi kapal perang membentuk manuver taktis lintas laut menuju Kalimantan timur mengangkut pasukan pendarat marinir di KRI Teluk Mandar 514, KRI Teluk Ratai 509, KRI Teluk Sampit 515, jenis Frosch KRI Celukan Bawang-532 dan KRI Teluk Cendrawasih 533, dan kapal markas KRI Banjarmasin 592 serta kapal bantu KRI Arun 903 dan Kapal rumah sakit KRI Dr. Soeharso- 990.


Simulasi ancaman dalam latihan Armada Jaya XXXI/2012 tersebut terjadi sejak konvoi unsur kapal perang melaksanakan peran pemanduan di alur perairan barat Surabaya (APBS) selanjutnya melalui perairan Pulau Jawa – Pulau Masalembo menuju perairan Sanggatta, Kalimantan Timur.


Dua unsur KRI jenis penyapu ranjau KRI Pulau Rengat 711, KRI Pulau Rupat 712 dan jenis parchim KRI Lambung Mangkurat-374 telah berada di depan unsur konvoi angkut pasukan yang mengangkut pasukan pendarat Marinir dan puluhan tank Amfibi PT-76, AMX-PAC, tank BMP-3F serta kelengkapan persenjataan berat roket multi laras RM 70 Grand Long.


Selama lintas laut Konvoi Unsur KRI mendapat perlindungan satuan tugas laut sebagai unsur tugas tabir dalam rangka menghadapi ancaman bahaya udara dan kapal permukaan antara lain KRI jenis Sigma Kelas Diponegoro 365, KRI Frans Kaisepo 367, KRI Sultan Iskandar Muda, KRI jenis perusak kawal tipe parchim KRI Untung Suropati 372, KRI Cut nyak Dien 375, KRI Wiratno 375.


Peran bahaya udara sedikitnya disimulasikan lebih dari enam kali pada siang dan malam selama lintas laut di sekitar perairan Pulau Masalembo dan memasuki perairan laut Jawa dan perann bahaya kapal permukaan saat mendekati perairan Pulau laut di Selat Makasar.


Sementara itu Unsur Komando Tugas gabungan laut dipawah komando panglima Komando Tugas gabungan laut (Kogasgabla) yang bertugas melaksanakan operasi tempur laut gabungan telah diberangkatkan beberapa hari sebelumnya untuk memutus Garis Perhubungan Laut serta merebut keunggulan laut di perairan Timur Kalimantan dan Laut Sulawesi terhadap unsur tabir dan badan utama konvoi musuh.


Unsur-unsur yang tergabung dalam dalam Kogasgabla diantaranya Kapal selam KRI Nanggala 402, dan jenis fregat KRI Slamet Riyadi 352, KRI Owalrd Siahaan, 354, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma 355, serta jenis FPB 57 KRI Ajak 653 serta KRI Hiu 804 dan KRI Layang 805.


Pada hari ketiga unsur Konvoi Kogasgabfib memasuki perairan di sekitar Pulau Sebuku Selat Makasar dalam rangka melaksanakan kegiatan latihan umum yang dilaksanakan unsur-unsur angkut pasukan pendarat marinir dan bekal ulang bahan cair terhadap beberapa unsur KRI yang tergabung dalam kogasgabfib dari kapal bantu KRI Arun 903.


Unsur KRI jenis angkut pasukan yang tergabung dalam Kogasgabfib melaksanakan lego jangkar, sedangkan unsur-unsur satuan tugas laut yang bertugas sebagai unsur tabir melaksanakan perlindungan selama digelar kegiatan di sekitar Pulau Sebuku Selat Makasar.

© Koarmabar

Armada Jaya Tingkatkan Kesiapan di Perairan

Banjarmasin – Unsur komando tugas gabunggan amfibi (Kogasgabfib) melaksanakan pengecekan kesiapan di daerah latihan umum perairan sebelah utara Pulau Sebuku Banjarmasin, Jumat (12/10) sore.

Kogasfib dibawah Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi Laksda TNI Sadiman,S.E yang sehari hari menjabat Pangarmabar melaksanakan tahapan kegiatan latihan umum, uji komunikasi dan naik turun jaring pasukan pendarat  marinir.

Unsur-unsur KRI angkut pasukan jenis LST dan Froch sebagai badan utama Kogasgabfib sejak tiba di daerah perairan latihan umum menempati sektor lego jangkar KRI Teluk Mandar 514, KRI Teluk Ratai 509, KRI Teluk Sampi 515, jenis Froch KRI Celukan Bawang 532 dan KRI Teluk Cendrawasih 533 dan kapal markas KRI Banjarmasin 592.serta kapal bantu KRI Arun 903 melaksanakan bekal ulang bahan bakar.

Dua KRI jenis penyapu ranjau yang lebih dulu berada di daerah latihan umum melaksnakan pembersihan medan ranjau penyapu ranjau KRI Pulau Rengat 711, KRI Pulau Rupat 712 dan jenis parchim KRI Lambung Mangkurat 374 serta Froch KRI Teluk Sibolga 536 .Selanjutnya unsur-unsur tersebut melaksanakan lego jangkar sesuai dengan posisi diagram serbuan di daerah latihan umum.

Sementara unsur tabir yang terdiri dari  delapan unsur  KRI yang bertugas melaksanakan perlindungan terhadap badan utama Kogasgabfib dengan kapal markas komando di KRI Banjarmasin 592.Sedangkan Satuan pelaksana Operasi Udara melaksanakan  intai udara taktis sepanjang route menuju daerah sasaran.

Kekuatan pemukul unsur KRI yang tergabung dalam unsur tabir yang terdiri kapal perang jenis perusak kawal rudal ,fregat, dan sigma kelas serta parchim  telah menempati posisi di sektor penyekatan di daerah latihan umum di sekitar perairan Sebuku, Banjarmasin. Kesiapan siagaan tersebut dilaksanakan dalam rangka menghadapi ancaman udara maupun kapal permukaan. Sementara di daerah sasaran operasi telah ditugaskan Unsur intai kapal selam KRI Nanggala 402 melaksanakan kegiatan pengintaian terhadap unsure-unsur lawan.

Guna meningkatkan kesiapan dan ketahanan fisik prajurit pasukan pendarat marinir dilaksanakan latihan naik-turun jaring di beberapa kapal perang jenis angkut pasukan tipe landing ship tank (LST). Sedangkan untuk latihan pendaratan dilaksnakan reembarkasi atau diluncurkan ranpur tank amfibi dari kapal angkut KRI Teluk Sampit 515. Pengecekan jaring komunikasi antar unsur KRI dilaksanakan pengecekan sesuai dengan jaring komando taktis.

Sebelumnya untuk meningkatkan moril prajurit pasukan pendarat marinir secara serentak dilaksanakan olah raga dalam rangka mempertahankan fisik daya juang yang disiapkan melaksanakan pendaratan amfibi di Sangatta Kalimantan Timur.

Unsur-unsur Kogasfib selama lego jangkar di daerah latihan umum melaksanakan  pertahanan udara dan lawan sabotase bawah air.


Kepala Dispenarmabar
Agus Cahyono
Letkol Laut (KH) NRP. 10881/P


Teks Gbr- KRI Teluk Sampit-515 : KRI Teluk sampit-515 melaksanakan reembarkasi dan embarkasi Tank Amfibi Marinir melalui pintu rampah KRI yang tergabung dalam Kogasgabfib latihan Armada Jaya XXXI/2012 di perairan Sebuku Banjarmasin,  Jumat (12/10) sore ini.
© Poskota

Tuntutan Kemandirian Alutsista

Mistral Komodo (Foto Berita HanKam)
Jakarta - Dihadapkan dengan alokasi anggaran Negara bagi pemenuhan kebutuhan pokok minimum hingga tahun 2014, maka pemenuhan Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) bagi TNI secara mandiri perlu diprioritaskan. Fokus pembangunan Alutsista dalam negeri untuk memenuhi berbagai kebutuhan persenjataan dalam negeri mendesak untuk direalisasikan. Karena kondisi riil alokasi anggaran yang tersedia, tidak memungkinkan jika kita hanya mengandalkan Alutsista buatan luar negeri.

Harus kita sadari bahwa kondisi Alutsista yang memadai baik dari segi kualitas dan kuantitas di samping sebagai show of force, juga merupakan sebuah tuntutan  yang melekat kuat dalam sistem pertahanan negara dan bahkan menjadi syarat mutlak dalam melakukan diplomasi internasional. Sehebat apapun cara kita berdiplomasi dengan negara lain, tanpa didukung kekuatan pertahanan negara yang kuat, maka kita akan cenderung diremehkan oleh bangsa lain. Apalagi hingga saat ini, belum ada kekuatan lain yang bisa menopang kewibawaan sebuah negara dan mampu menaikkan bargaining power, selain kondisi pertahanan negara yang kuat.


Belajar dari pengalaman masa lalu, ketika kita lebih banyak menggantungkan Alutsista buatan asing, ternyata begitu negara pemasok alutsista melakukan embargo, maka kita kalang kabut, akibat ketiadaan suku cadang. Oleh karena itu, Bangsa Indonesia secara bertahap harus berani mengurangi ketergantungan dan hanya mengandalkan Alutsista produk asing, serta menuju pada kemandirian Alutsista produk dalam negeri.

Walaupun kita tidak mampu mandiri sepenuhnya, dalam arti melengkapi seluruh Alutsista buatan dalam negeri, terutama jenis alutsista yang memang belum dapat di produksi dalam negeri, tetapi secara bertahap kita harus meminimalkan pengadaan Alutsista produk luar negeri.


Sudah waktunya bangsa ini memiliki kemandirian dalam pengadaan Alutsista. Apalagi kita telah memiliki sejumlah BUMN industri strategis dalam negeri seperti PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Pindad, PT LEN, PT Inti Komunikasi, yang semuanya telah siap dan berkomitmen untuk mendukung kepentingan TNI dalam rangka mewujudkan kemandirian di bidang Alutsista.


Komitmen untuk memprioritaskan produk Alutsista dalam negeri, dengan memberdayakan industri pertahanan dalam negeri dan BUMN industri strategis harus menjadi tekad kita semua.


Yang masih perlu menjadi perhatian kita bersama adalah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam penguasaan teknologi yang berkaitan dengan industri pertahanan serta mendorong para tenaga ahli kita yang masih bekerja di industri strategis asing untuk kembali ke tanah air.


Dengan demikian, pertahanan kita akan semakin kuat dan sekaligus kita mampu mandiri dalam industri pertahanan.


Oleh sebab itu kita berharap pembangunan pertahanan negara yang kuat harus dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan Alutsista yang memadai. Apalagi Negara kita adalah negara besar, yang memiliki wilayah yang sangat luas dan berada dalam posisi silang yang sangat strategis, sehingga tantangan, gangguan dan ancaman yang dihadapi baik dari dalam negeri maupun luar negeri juga besar.

© Bisnis
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...