Senin, 15 Oktober 2012

Iran Menunggu Ketegasan Pemerintah RI Soal Tawaran Kerja Sama

Meutya Hafid
Senayan - Pemerintah Iran mengajukan tawaran kerja sama kepada Indonesia. Kerja sama itu antara lain di bidang pendidikan dan penelitian. Tetapi, Pemerintah Indonesia tak kunjung menyikapi tawaran tersebut. Ketidakjelasan sikap ini memicu pertanyaan dari kalangan DPR.

"Pemerintah itu maunya apa terhadap Iran. Jadi teman atau sebagai apa? Pemerintah tidak tegas!" kata anggota Komisi I DPR RI Meutya Hafid saat rapat kerja dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/10).

Bukan tanpa sebab jika ia bertanya demikian. Beberapa waktu lalu, anggota Fraksi Partai Golkar ini berkunjung ke Iran dalam rangka menjajaki kerja sama ekonomi. Di sana ia pun ditanya oleh pejabat Pemerintah Iran soal tawaran kerja sama yang selama ini disodorkan ke Pemerintah Indonesia.

Menurut mantan wartawati ini, Pemerintah Iran sudah beberapa kali menawarkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Namun, hingga kini belum ada tanggapan. Menteri Pertahanan Iran juga sudah lima kali berkunjung ke Indonesia. Tapi, tak ada pula tindak lanjutnya.

"Mereka juga memberi kesempatan untuk peneliti Indonesia untuk melakukan riset nuklir. Mereka gratiskan untuk Indonesia. Tapi itu juga tidak ditindaklanjuti. Padahal riset nuklir itu kan penting bagi Indonesia," kata Meutya.

Intinya, kata Meutya, mereka mengeluhkan Pemerintah Indonesia yang tidak tegas mendukung teknologi nuklir Iran. 

"Praktis Iran merasa sendirian. Mereka bilang kalau tidak mau berhubungan ya sudahlah. Padahal ini momentum untuk berkawan dengan Iran, mereka itu berpeluang jadi negara besar," katanya.
©  Jurnal Parlemen

Teluk Gilimanuk Class

KAPAL pengangkut personel dan tank atau landing ship tank (LST) tipe frosch TNI AL jenis Teluk Gilimanuk ini masuk ke Indonesia tahun 1993-1995, dan baru aktif tahun 1995 karena perlu perbaikan kembali di Indonesia. Kapal pertama yang sampai di tahun 1993 adalah KRI Teluk Peleng 535, kemudian disusul KRI 536 pada tahun yang sama di bulan Desember 1993.

 Spesifikasi Kapal Teluk Gilimanuk Class :

Berat kotor: 1.900 ton
Hull Dimensi: 90,70 x 11,12 x 3,4 meter
Mesin Diesel: 2 poros 2 persimpangan jalan
Tenaga: 12.000 bhp
Kecepatan: 18 knot Awak: 42
Kapasitas Angkut: 400-600 ton
Radar: Curve MR-302/Strut udara / surfing.
Persenjataan: Senjata Mesin
Negara pembuat: VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur

Konon, PT PAL Indonesia mendapat proyek perbaikan kapal-kapal bekas Jerman hanya sebagai subkontraktor. Menurut seorang perwira TNI AL, tender perbaikan armada bekas itu dimenangi oleh PT Mitra Bala Satya. Perusahaan rekanan Markas Besar (Mabes) TNI itu ternyata tidak memiliki peralatan yang memadai untuk me-repowering kapal sehingga kemudian disubkontrakkan ke PT PAL Indonesia.

Dari 39 unit kapal bekas Jerman yang dibeli Indonesia pada awal tahun 1993, 16 unit di antaranya berada di Armatim. Kapal itu terdiri dari 10 unit korvet atau kapal perusak kawal terpedo tipe Parchim, empat unit kapal pengangkut personel dan tank atau landing ship tank (LST) tipe Frosch, dan dua unit kapal penyapu ranjau (mine sweeper) tipe Condor. Parchim memperkuat Skadron Kapal Patroli, Frosch melengkapi Skadron Kapal Amfibi, dan Condor menjadi bagian Skadron Kapal Ranjau. Total jenderal kapal bekas Jerman yang masuk ke jajaran TNI AL terdiri dari 16 Parchim buatan tahun 1981-1985, 14 Frosch buatan tahun 1976-1979, dan sembilan Condor buatan tahun 1971-1973.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard Kent Sondakh kepada Kompas pertengahan September waktu itu menyebutkan, dari keseluruhan kapal bekas Jerman itu, enam korvet, dan empat LST telah mengalami penggantian mesin (repowering) dan sudah dapat beroperasi. Sisanya, enam korvet sedang dalam proses repowering sehingga pada Januari 2003 diharapkan sudah 12 korvet yang "hidup". Pada tahun yang sama, empat korvet dan lima LST dianggarkan untuk perbaikan tahap berikutnya. Dan diharapkan sudah dapat berpatroli di perairan Indonesia.

http://www.sciencetronics.com/geocities/bilder/images/ships/frosch02.jpg
9 unit Frost Class kapal pendarat waktu pensiun di Jerman Timur [Foto Uwe zimmerman]

Kapal yang melengkapi Skadron Kapal Amfibi ini termasuk dalam kelas Teluk Gilimanuk, antara lain :

 531 Teluk Gelimanuk  1976/94 PAC ex-611

Kapal KRI Teluk Gilimanuk (531) merupakan kapal kelas (Frosch-I - Type 108) perbekalan/logistik. KRI Teluk Gilimanuk berperan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. Ia dinamakan seperti sebuah teluk di Bali. KRI Teluk Gilimanuk dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1976.

KRI Teluk Gilimanuk pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1994. Kapal ini sampai pada tanggal 12 Juli 1994.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqMgEm0fcpbil_356at1WHjiRICOQHZ3T0Vyu8C4QOSQabJcuoZn3ZlQjjf21ZW7QTFxaThfL1CWQpPcnZkmYOtbM_WfCscFwP8FMTFSywObdXJ67UgHRGgvX0tzKVELvR-VmaOjes2D59/s400/KRI+TELUK+GILIMANUK+531.01.jpg
KRI Teluk Gilimanuk 531

 532 Teluk Celukan Bawang 1976/94 PAC ex-632

Kapal KRI Teluk Celukan Bawang (532) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Celukan Bawang dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1976.

KRI Teluk Celukan Bawang pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1994. Merapat Ke Indonesia pada tanggal 25 Februari 1994.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaUZLtTCoggWG2_yqOSg30wIcmHpN83t1wkHAjVlTHpVEzXUPHRblOR1emXUQHXUTGIKfr9NlZ_OZIdc9ZQayZCJFBskpz5GfWMcdu969v_zZKCJsdHU1vrC03GBHCgnhWaQ9wbWGt27Nn/s1600/532+KRI+TELUK+CELUKAN+BAWANGa.jpg
KRI Teluk Celukan Bawang 532

 533 Teluk Cendrawasih  177/94 PAC ex-613

Kapal KRI Teluk Cendrawasih (533) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Cendrawasih dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1977.

KRI Teluk Cendrawasih pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1994. Sampai Ke Indonesia pada tanggal 9 Desember 1994.

http://pbr26.photobucket.com/albums/c113/kopraljono/Kapal/KRI/KRITELUKCENDRAWASIH533.jpg?t=1242663283
KRI Teluk Cendrawasih 533

 534 Teluk Berau  1977/95 PAC ex-634

KRI Teluk Berau (534) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Berau dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1977.

KRI Teluk Berau pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada tanggal 10 Maret 1995.

KRI Teluk Berau dipensiunkan tahun 2012, kapal ini telah tenggelam di Perairan Laut Sulawesi pada tanggal 13 Oktober 2012, setelah hancur terbelah dua di hajar rudal Yakhont TNI AL dalam latihan Armada Jaya XXXI/2012.

http://i202.photobucket.com/albums/aa105/dsofandi/KRITelukBerau534.jpg
KRI Teluk Berau (dsofandi)

 535 Teluk Peleng  1978/93 PAC ex-632

Kapal KRI Teluk Peleng (535) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI ini dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1978.

KRI Teluk Peleng pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1993. KRI Teluk Peleng 535 ini sampai di Indoneisa tanggal 23 September 1993, dan merupakan kapal pertama dari kelas Teluk Gilimanuk ini yang sampai di Indonesia.

KRI Teluk Peleng 535 (foto ketika masih aktif di Jerman)

 536 Teluk Sibolga  1977/93 PAC ex-612

Kapal KRI Teluk Sibolga (536) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Sibolga dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1977.

KRI Teluk Sibolga pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1993. Sampai di Indonesia yang kedua pada tanggal 15 Desember 1993.


http://www.tnial.mil.id/Portals/0/Gallery/Album/1/KRI_TELUK_SIBOLGA_536.jpg
KRI Teluk Sibolga 536

 537 Teluk Manado  1977/95 PAC ex-633

Kapal KRI Teluk Manado (537) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Manado dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1977.

KRI Teluk Manado pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada tanggal 2 Juni 1995.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDqLtBPf0qWHNXJhnwkZd9pKZsLetrgjMEkBfYkozzcu5_zdIliJq1uvL-eM_2xRRSRzCFINVRgYUHX5nJmf0y7hyphenhypheniXycv84nLUuYgHAwCKaAu8qb-5popIX_4FAkPIplpUBhMPcz0B8E/s400/KRI+TELUK+MANADO+537.jpg
KRI Teluk Manado 537

 538 Teluk Hading  1978/94 PAC ex-614

Kapal KRI Teluk Hading (538) merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI ini berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Hading dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1978.

KRI Teluk Hading pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada tanggal 12 Juni 1994 dan merupakan kapal keenam dari Jenis yang sama sampai di Indonesia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhI8pHMQKmwt0ongAgR7BDeZza5L7O352hdQl8gc07fow5gnR8amllOKpR97BSKAhTkKs7Sl7IfgP_vbgJlzspYJ9HOsroZIUm4dk5V26_DafXo-hSgpFldGJE6UHJ35TxKSYQxBP7fxbk/s1600/KRI+TELUK+HADING+538.01.JPG
KRI Teluk Hading 538

 539 Teluk Parigi  1978/95 PAC ex-635

KRI Teluk Parigi (539) merupakan kapal kesembilan dari kapal perang jenis kapal pendarat kelas Teluk Gilimanuk milik TNI AL. Dinamai menurut nama sebuah teluk di Nusantara.

KRI Teluk Parigi dibangun oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur pada tahun 1978 untuk Angkatan Laut Jerman Timur dengan nomor lambung 635. Kapal berjenis Frosch-I/Type 108 ini kemudian dibeli pemerintah untuk TNI Angkatan Laut dan masuk armada pada tahun 1995. KRI ini termasuk dalam paket pembelian sejumlah kapal perang eks Jerman Timur pada masa pemerintahan Presiden Suharto.

KRI Teluk Parigi bertugas sebagai armada pendarat bagi pasukan Marinir TNI AL dan juga sebagai kapal pengangkut logistik. Sampai di Indonesia pada tanggal 21 Juli 1995,


http://info.tnial.mil.id/kolinlamil/Portals/0/KRI%20Teluk%20Parigi.JPG
KRI Teluk Parigi 539

 540 Teluk Lampung  1979/94 PAC ex-636

Kapal KRI Teluk Lampung (540) milik Indonesia merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI Teluk Lampung memenuhi keperluan Indonesia dan berperan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Lampung dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1979.

KRI Teluk Lampung pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1994.

Dalam waktu pengiriman ke Indonesia, KRI Teluk Lampung 540 mengalami kerusakan berat dihajar ganasnya laut di Bay of Biscay. Dan berhasil ditolong Kapal spanyol dan sampai tanggal 26 April 1994 di tanah air, merupakan kapal keempat yang sampai di Indonesia.

Fail:KRITLampung540.jpg
KRI Teluk Lampung 540

 541 Teluk Jakarta  1979/94 PAC ex-615

Kapal KRI Teluk Jakarta (541) merupakan kapal perbekalan/logistik milik tentera laut Indonesia. KRI Teluk Jakarta berperan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Jakarta dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1979.

KRI Teluk Jakarta pada asalnya merupakan kapal pendarat kelas 'Frosch-I' (611) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1994. Tepatnya tanggal 19 September 1994 dan merupakan kapal ke tujuh dari jenis Teluk Gilimanuk yang sampai di Nusantara.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD3fMkH3iX-Z96QL1Du81267TRVyZTUws31veoTgeUcFzO0d4O1o50Eses5ZbM1UpFgMvvlmbdg9lfnAuGssx7g5dHi_E5sC5wK4TlR5tJLIIuvEwTivhxfiBHUjZH1TG7epG5fNu9qps/s1600/KRI+Teluk+Jakarta.jpg
KRI Teluk Jakarta 541

 542 Teluk Sangkulirang  1979/94 PAC ex-616

Kapal KRI Teluk Sangkulirang (542) milik Indonesia merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI Teluk Sangkulirang memenuhi keperluan Indonesia dan berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Sangkulirang dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1979.

KRI Teluk Sangkulirang pada asalnya merupakan kapal pendarat serdahana jenis 108, kelas 'Frosch-I' (616) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan pembuangan persenjataan untuk dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1994. Merupakan kapal kedelapan yang sampai di Nusantara pada tanggal 9 Desember1994.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK4Y3OsAIzhFkQhwvax8f0n7Dm3oIOQMWB5dbmnQpBhOrru0Qo0OUu4_rUH9cNXDo393AJbe8Yl8fNJZIY1Lpl5OGg1jnGAAVZV-mwXzQ1gGIkhVEZOIKExL0lCcq6pRNyOfG8H-jzjrhT/s400/KRI+TELUK+SANGKULIRANG+542.01.jpg
KRI Teluk Sangkulirang 542
Fail:KRITelukSangkulirang542.jpg
KRI Teluk Sangkulirang 542

 543 Teluk Cirebon  1979/95 PAC ex-E35

KRI Teluk Cirebon (543) milik Indonesia merupakan kapal perbekalan/logistik. Kapal ini memenuhi keperluan Indonesia dan berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. Ia dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur dan diluncurkan pada tahun 1979.

KRI Teluk Cirebon pada asalnya merupakan kapal pendarat serdahana jenis 108, kelas 'Frosch-I' (E35) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan pembuangan persenjataan untuk dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1995. KRI Teluk Cirebon telah dilengkapkan dengan kren besar di bahagian hadapan kapal bagi pengendalian kargo.


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/6/66/Tni-kri-telukcirebon-543.jpg
KRI Teluk Cirebon 543

 544 Teluk Sabang  1980/95 PAC ex-E36

Kapal KRI Teluk Sabang (544) milik Indonesia merupakan kapal perbekalan/logistik. KRI Teluk Sabang memenuhi keperluan Indonesia dan berperanan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Sabang dibuat oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Ia diluncurkan pada 1980.

KRI Teluk Sabang pada asalnya merupakan kapal pendarat serdahana jenis 108, kelas 'Frosch-I' (E36) milik Jerman Timur. Ia telah dirubah dengan pembuangan persenjataan untuk dijadikan sebagai kapal perbekalan/logistik dan diletakkan dalam angkatan PAC pada 1995. Ia telah dilengkapkan dengan kren besar dibahagian hadapan kapal bagi pengendalian kargo.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6z1yNNQbjjZ-_PffXQo6ayVwUkTJABBzQVuGvfblQr-ZUAw9FtoJ1kRh_ImrZwnSNIbYU2mN6KZtWJaeKFIa-ds9PazpVj4yzspbSQSoqwlaQU-IHKTmqIGrJ4rTjDFmzkWrotkrBRW-r/s400/544+KRI+Teluk+Sabang.jpg
KRI Teluk Sabang 544
http://adiewicaksono.files.wordpress.com/2009/02/kri-teluk-sabang-544-angkut-lebaran.jpg
KRI Teluk Sabang 544 (adiwicaksono)
(♆)
© Wikipedia, Kompas

Menggagahkan Diri di Wajah Rakyat


Episentrum peringatan HUT TNI ke 67 di Air Force Base Halim Jakarta Jumat tanggal 05 Oktober 2012 yang lalu sesungguhnya ada dalam pernyataan lugas Presiden SBY yang menyebut perkuatan alutsista TNI dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang dijelaskan secara rinci. Episentrum ini semakin bergema manakala tampilan kemampuan personil dan defile brigade upacara melintas dan “menari” di hadapan seluruh hadirin di pagi yang cerah itu. Sementara berbagai alutsista sebagai background upacara memberi kesan pemandangan yang gagah dan gahar, belum lagi kemampuan berjoget Collibri Subang dan manuver lincah Tim Yupiter Yogya.

Harga diri berselendang dan bersemangat alutsista sepanjang Oktober ini memang sangat menghangatkan dan membanggakan. Mulai dari pernyataan Presiden di berbagai kesempatan termasuk di hadapan para veteran RI yang menyatakan bahwa pertambahan dan pertumbuhan alutsista TNI sedang menuju ke perubahan siginikan. Bahasa petaninya adalah sedang mengalami panen raya. Meski sedang memulai panen raya namun persemaian bibit-bibit baru berbagai genre alutsista tetap dipesan dan diadakan untuk panen raya berikutnya sehingga lumbung alutsista kita kelak menjadi sebuah keniscayaan bersamaan dengan makin berkilaunya kesatrian-kesatrian pengawal republik di seluruh Indonesia.


Selain pernyataan itu kenyataan di lapangan pun seia sekata. Pernyataan jelas, kenyataan jelas pula dengan kedatangan berbagai jenis alutsista baru seperti Super Tucano, Astross, Caesar, Mistral, Kapal Rudal buatan dalam negeri. Astross, Caesar dan Mistral ikut dipamerkan di Monas Jakarta tanggal 6-9 Oktober 2012. Bahkan yang tak terekspos sejatinya adalah produksi yang terus menerus dari Panser Anoa buatan Pindad yang sudah mencapai 250 unit, 40 diantaranya sudah wira wiri di perbatasan Libanon-Israel. Demkian juga produksi kapal rudal di Batam sudah masuk penyerahan kapal ketiga.


Bulan-bulan mendatang dan tahun-tahun mendatang kita akan disuguhkan berita yang mampu membusungkan dada berupa penyerahan beragam alutsista buatan dalam negeri seperti kapal rudal Palindo, kapal rudal PAL, kapal rudal Lundin, panser Anoa, panser Anoa Canon, UAV / UCAV, kapal LST, kapal BCM, pesawat CN235 MPA, roket Rhan, kendaraan Rantis, berbagai jenis senjata personil mulai dari satu laras sampai multi laras. Yang mengembirakan tentu saja dalam segudang proyek alutsista itu industri pertahanan dalam negeri ikut tersenyum dan berkeringat karena banyak mendapat order pengadaan alutsista baik produk murni maupun produk kerjasama.


Yang mau datang dari luar negeri misalnya pesawat latih Grob Jerman, jet tempur ringan T50 Korea, kapal selam Korea, kapal perusak kawal rudal Belanda, kapal latih pengganti Dewaruci Spanyol, berbagai rudal Cina, MBT Leopard Jerman, medium tank Marder Jerman, kapal light fregat ex Brunai, F16 AS, Sukhoi Rusia, Hercules Australia, CN295 joint product PT DI, Heli Cougar Perancis, Heli Mi17 Rusia, Heli Bell 412Ep joint product PT DI, Heli anti kapal selam, Heli serang AD dan lain-lain. Kenapa disebut “dan lain-lain” karena tentu saja ada beberapa jenis alutsista yang tak perlu disampaikan ke media untuk kepentingan strategi militer. Kan tidak semua rahasia dapur harus diketahui publik.


Setidaknya itu yang sudah jelas alamat pengirimannya, waktunya, dan sudah jelas kontraknya. Yang menarik tentu saja, masih adakah alutsista lain selain yang mau datang itu. Apakah masih ada alutsista yang mau dipesan lagi. Jawabnya pasti ada dong. Kalau mau diambil jangka waktu yang paling pendek saja dari pemerintahan SBY masih ada 2 tahun anggaran (2013, 2014) yang memberi ruang adanya kesempatan beli atau produksi bersama alutsista RI. Kemhan sebagaimana pernyataan Menhan beberapa waktu lalu sedang fokus untuk penambahan alutsista strategis selain yang sudah dipesan. Nah prediksi kita adalah sangat dimungkinkan adanya penambahan 1 skuadron Sukhoi atau 1 skuadron Typhoon bersamaan dengan tambahan minimal 2 kapal selam U214 Jerman. Tanda-tandanya kan sudah jelas, Kanselir Jerman pertengahan tahun ini berkunjung ke Jakarta, sementara Presiden kita mau berkunjung ke Inggris dalam waktu dekat. Ah masak masih gak jelas juga sih.


Kalau mau berasumsi lagi tahun 2014 itu baru 30 % target MEF TNI tercapai, artinya setelah itu pertambahan alutsista masih akan berlangsung terus. Target MEF yang selalu diberitakan adalah tahun 2024 dimana saat itu kita sudah masuk pada tahapan kemampuan milter yang memliki kekuatan pukul dan bantingan. Sekarang memang sudah punya kekuatan pukul tapi belum sampai bisa membanting. Makanya jika tahapan sudah sampai kesitu, istilah PPRC nya bisa tetap sama, cuma istilah pemukulnya diganti sehingga menjadi Pasukan Pembanting Reaksi Cepat.


Penambahan alutsista MLRS Astross II Mk6 buatan Brazil untuk 2 batalyon TNI AD, Howitzer Caesar Nexter Perancis untuk 2 batalyon TNI AD dan 1 batalyon rudal Mistral Perancis untuk Arhanud AD adalah contoh jelas pertumbuhan itu. Belum lagi penambahan batalyon tempur di Kalimantan, penambahan skuadron heli Penerbad, tambahan brigade Marinir di Batam dan Sorong, penyebaran skuadron tempur untuk F16 di Pekanbaru, skuadron UAV baru di Pontianak dan Pekanbaru, Berpuluh radar pantai di jalur ALKI sudah operasional, mau nambah pangkalan AL di selatan Jabar. Isian berita itu tentu sangat menghangatkan ruang dada dan mampu menyemangatkan olahpikir bagi kita yang menginginkan sebuah kebanggaan bertanah air yakni memiliki hulubalang yang tangguh dan gahar.


Bukan bermaksud menghiperbolakan sebuah tema tentang alutsista, namun pagar yang hendak dibangun dalam semangat berkebangsaaan adalah ketika semua menjadi nisbi, semua menjadi “sandiwara” di setiap pemberitaan yang menyangkut tawuran, kerusuhan, bakar membakar, hasut menghasut, pesta korupsi gugur satu tumbuh seribu, ghibah infotainment, kebanggaan sebagai anak bangsa tidak lantas harus tersungkur manakala menyaksikan semua harubiru yang di blow up sedemikian rupa. Maka membesarkan dan mendandani pengawal republik adalah sebuah kearifan dan kebijakan bernilai cum laude untuk meracik nilai gagah diri yang memberikan sebuah “rasa merdeka pada hati nurani”. Sekaligus agar tidak kualat pada pendiri republik dan pejuang kemerdekaan yang sudah menitipkan perjalanan bangsa ini pada kita.


Testimoni dari semua rasa bangga dan wibawa memiliki TNI yang gagah itu bisa dilihat dari kerumunan ribuan warga di Halim ketika menyaksikan HUT TNI ke 67 tanggal 5 Oktober 2012. Kemudian di Monas selama 3 hari berikutnya, ribuan orang menyemut menyaksikan pengawal republiknya memamerkan beragam alutsista, dan itu baru yang dimiliki TNI AD. Testimoni itu adalah gambaran rekonstruksi dari sebuah kebanggaan melihat postur tentaranya yang gahar dan berotot untuk mengawal eksistensi NKRI. Maka kita bisa melihat berjubelnya massa untuk menyaksikan, melihat, mengambil foto, menaiki, meraba, menanya, menggenggam beragam alutsista seakan itu menjadi miliknya. Dan memang itu miliknya, milik rakyat kita yang dititipkan pada hulubalangnya yang terlatih untuk mengawal republik ini. Testimoni kunjungan itu adalah evidence tak terbantahkan betapa sesungguhnya rakyat bangsa ini bangga dengan tentaranya. Apakah masih ada yang membantah ?

******
Jagvane / 13 Okt 2012
© Analisis Alutsista

Minggu, 14 Oktober 2012

Orang-Orang "Penting" di Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia (3-Habis)

Loka Gumilang diceburkan ke laut setelah naik pangkat. Foto : Suryo Eko Prasetyo/Jawa Pos

Banyak hambatan yang dihadapi KRI Dewaruci dalam ekspedisi kali ini. Terutama cuaca buruk di tengah laut. Namun, berkat perhitungan yang jitu juru navigasi Serma Nav Loka Gumilang dan Serka Nav Erik Sugianto, Dewaruci sukses keliling dunia hingga kembali ke Indonesia.

SURYO EKO PRASETYO, Belawan

 Juru Selamat dari Badai dan Ranjau Laut

PELAYARAN di laut lepas identik dengan perjuangan menaklukkan gelombang tinggi yang siap menghadang. Cuaca buruk dan hujan badai menjadi santapan setiap saat. Tak terkecuali yang dialami Dewaruci dalam jelajah di empat benua kali ini.

Berbagai hambatan hampir tak habis-habisnya terhampar di laut lepas. Mulai dari Surabaya, Januari silam, hingga Papua, lalu menyeberangi Samudra Pasifik menuju San Diego di pantai barat Amerika Serikat. Setelah menyisir pantai barat dan memutari Terusan Panama, Dewaruci melewati Laut Karibia dan Teluk Meksiko.


Kapal kemudian mengarungi Samudra Atlantik menuju Eropa. Di benua biru itu, Dewaruci melintasi Laut Mediterania melalui Selat Gibraltar. Berlanjut ke Laut Merah lewat Terusan Suez dan Laut Arab via Teluk Aden. Lalu, kembali ke tanah air menyusuri Samudra Hindia dan Selat Malaka.


Jalur pelayaran internasional itu lazim ditempuh kapal-kapal berbadan besar, berbobot ribuan bahkan puluhan ribu ton. Tapi, Dewaruci yang beratnya tak sampai seribu ton (874 ton) ternyata sanggup mengarunginya dengan selamat. Berkecepatan jelajah tidak lebih dari 11 knot per mil (17,402 km per jam; 1 mil setara 1,582 km), saat diterpa ombak besar, kapal terasa seperti sabut kelapa yang terombang-ambing gelombang.


Meski sudah dilengkapi teknologi radar dan pendeteksi posisi (global positioning system), di tengah laut, peranti itu tak bisa menjadi acuan. Yang lebih utama justru insting juru navigasi dalam membuat jalur pelayaran di atas peta yang akan dilalui kapal. Sebab, jalur tersebut dibuat juga berdasar kondisi terbaru di lapangan.


Mulus tidaknya kapal melaju melewati gelombang besar, salah satunya, berdasar insting juru plotter. Misalnya, yang dijalankan Kepala Bagian Navigasi Serma Loka Gumilang, bintara navigasi tertinggi di Dewaruci.


"Sebelum bertugas ke Dewaruci, saya belajar banyak menyusun track di kapal penyapu ranjau," ungkap Loka yang baru saja naik pangkat dari sersan kepala ketika Dewaruci tiba kembali di Indonesia pada 1 Oktober 2012.


Selama enam tahun pertama menjadi tentara melalui jalur bintara pada 1999, Loka mendapat tugas di KRI Pulau Rengat, Satuan Kapal Ranjau Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). Alumnus SMA Ta"miriyah Surabaya itu sering terlibat dalam aktivitas pembersihan ranjau laut sisa Perang Dunia II.


Ranjau-ranjau yang sebagian besar masih aktif sering sulit termonitor radar. Karena itu, butuh konsentrasi tinggi ahli plotter ketika kapal melintasi perairan yang banyak ditemukan ranjau.


Misalnya, di sepanjang wilayah utara Laut Jawa dan kawasan perairan timur Indonesia. Kawasan perbatasan tak luput dari operasi kapal ranjau dan kapal bantu untuk mengawasi alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) dari masuknya kapal-kapal asing ilegal. "Kalau tidak super hati-hati dan tidak tahu medan, kapal bisa hancur terkena ranjau laut," tuturnya.


Karir Loka melejit ketika dipercaya menjadi bintara utama di KRI Karang Tekok pada 2006-2010. Di satuan kapal bantu itu, suami Santi Pangesti Rahayu tersebut kerap terjun di berbagai operasi laut gabungan bersama Angkatan Laut Singapura.


Loka kembali dipercaya menjadi plotter utama ketika KRI Dewaruci menjalankan ekspedisi keliling dunia 2012. Sebab, tantangan melintasi alur pelayaran internasional lebih sulit karena kedalaman laut sering berbeda dari data di peta. Muhibah melintasi 12 negara di empat benua itu menjadi pelayaran terjauhnya.


"Walau sudah ada peta elektronik, masih banyak yang belum di-update. Apalagi peta hidro-oceanografi, banyak yang terbitan lama," kata kelasi yang genap 34 tahun pada 16 September lalu tersebut.


Juru plotter lainnya, Serka Nav Erik Sugianto, termasuk "orang lama". Dia ditempatkan di Dewaruci sejak lulus pendidikan pada awal 2000. Mantan Kabag navigasi (2005-2010) itu diandalkan dalam membuat jalur pelayaran dan menyusun hitungan terbit dan tenggelamnya matahari-bulan untuk jurnal laporan. Berkat insting dan perhitungannya, Dewaruci selamat dari badai dan insiden menabrak karang di perairan Okinawa, Jepang, 2004.


Kala itu, kapal usai berlayar dari Vladivostok, Rusia, dan dihadang badai saat mendekati Tokyo. Erik yang kebetulan piket di anjungan melihat awan cumulonimbus tidak jauh dari haluan Dewaruci.


Dia merekomendasikan kepada perwira navigasi dan komandan kapal Letkol Laut (P) Gig J.M. Sipasulta agar kapal cikar kiri (belok kiri frontal). Meski melawan track, langkah itu harus diambil untuk menghindari badai berkecepatan 65 knot (102, 83 kilometer per jam).


"Kapal sampai miring ke kiri terkena ekor badai. Itu kemiringan ekstrem selama saya di Dewaruci," kenangnya.


Di perairan yang sama, Dewaruci juga nyaris menabrak karang yang tidak terdeteksi radar dan peta. "Pengawas melaporkan ada karang tepat di haluan kapal berjarak 200 yard. Untung tidak sampai menggores lambung kapal," ujar suami kowal Serka Far Dewi Sulistyowati yang dinas di RS Marinir Gunungsari, Surabaya, dan ayah Al Araaf Bintang Albire, 5, itu.


Dari kejadian tersebut, Erik jadi makin mantap dalam memperhitungkan kondisi medan. "Kalau juru navigasi ragu, perwira navigasi dan komandan ikut bingung," lanjut bintara berumur 33 tahun yang juga pemeran pujangga anom reog ponorogo tersebut.


Erik menambahkan, selama 12 tahun mengawal Dewaruci, sudah 50-an negara pernah disinggahi. Bahkan, pelaut asal Tulungagung itu bisa umrah sampai lima kali ketika Dewaruci singgah di Jeddah.


Hanya Australia yang belum pernah dia singgahi. Erik berharap suatu hari nanti bisa mengunjungi Negeri Kanguru itu bersama Dewaruci. "Kalau Allah masih menghendaki, rencananya tahun depan Dewaruci ke Australia. Mudah-mudahan saya bisa ikut," harapnya.
(*/c5/ari)
© Jpnn

KRI Dewaruci Kembali Setelah 10 Bulan Mengarungi Samudra

Jakarta - Satu-satunya kapal latih bagi kadet Akademi TNI AL, KRI Dewaruci, telah kembali dari pelayaran keliling dunia kedua kalinya selama 10 bulan. Di tepi dermaga Komando Lintas Laut Militer TNI AL, Kamis, Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Soeparno, menyatakan, "Pengganti KRI Dewaruci nanti namanya juga Dewaruci."

Sebagai kadet pada masanya, Soeparno juga dilatih dan dididik di lambung kapal layar buatan galangan kapal HC Stulcken & Sohns, Hamburg, Jerman Barat, pada 1954 itu. Bersama puluhan kadet lain, dia digembleng habis-habisan selama beberapa bulan pada pelayaran rute keliling ASEAN pada saat itu.

"Memang beda, kami digembleng habis-habisan di sini. Banyak hal berkesan terjadi di sini. Ada teman satu angkatan saya, waktu itu mabuk laut berat dan tidak bisa makan. Ompreng makannya tetap dipegang… tapi pas ditarik, tidak juga dia lepas," kata Soeparno, yang kemudian banyak berdinas di kapal selam TNI AL.

Soeparno menerima kedatangan KRI Dewaruci, yang kini dipimpin Letnan Kolonel Pelaut Haris Bima Bayuseto. Kebetulan yang menarik, karena hikayat pewayangan Dewa Ruci berkisah tentang penemuan jati diri Bima dalam babak perjalanan dan pendewasaan dirinya. Kapalnya bernama Dewaruci dan komandannya kini bernama Bima, seperti ditulis di papan namanya.

KRI Dewaruci bertugas multi fungsi selain menjadi kapal pendidikan berkoordinasi dengan Akademi TNI AL yang bersesanti Hree Dharma Shanti, yang ditulis di atas tuas kemudi utamanya di buritan kapal. Di kapal itu, kadet-kadet, terutama dari korps pelaut, dididik berbagai ilmu kepelautan memakai instrumen minimalis dan alamiah (misalnya menentukan arah mengandalkan bintang-bintang dan sekstant).

KRI Dewaruci, kapal layar tipe Barkentin (Barquentine) satu-satunya yang tersisa di dunia, adalah goodwill ambassador sejati bangsa, yang menjadi ikon dunia karena reputasi kapal dan manusia pengawaknya.

Sentuhan dan komunikasi langsung warga negara-negara yang dikunjungi kepada insan TNI AL pengawak kapal itu begitu frontal dan tanpa tedeng aling-aling. Walhasil, keramahan dan keaslian wajah Indonesia tergambar dengan meninggalkan berjuta kenangan bagi warga yang ditinggalkan.

Pelayaran keliling dunia perdana KRI Dewaruci terjadi pada 1964, dengan komandan Mayor Pelaut Sumantri dan perwira pelaksana Kapten Pelaut Nasution. Berangkat dari Tanah Air ke arah timur, melintasi Samudera Pasifik, pantai barat, Terusan Panama, dan pantai timur Amerika Serikat, Samudera Atlantik, beberapa negara di sana, Laut Mediterania, Terusan Suez, Laut Arab, Samudera Hindia, dan finis di Pulau We untuk kemudian kembali ke dermaganya di Surabaya.

(Solo Pos)
Perintah datang langsung dari Presiden Soekarno melalui Kepala Staf TNI AL (saat itu), Laksamana Madya Soebiyakto, ayah dari pegiat seni kondang, Jay Soebiyakto. Hampir satu tahun misi dilaksanakan.

Pertengahan Januari lalu, rute yang mirip ditempuh lagi. Bedanya, generasi pelaut dan kadetnya sudah lama berganti. Namun semangat tetap dan KRI Dewaruci dengan segenap awak dan perwiranya kembali tanpa kekurangan apapun.

Hampir 60 mengabdi, akan diadakan kapal layar latih tiang tinggi pengganti. "Belum ditentukan pihak pembuatnya, namun sudah ada lima nominasi. Bisa dari Spanyol, Portugal, Belanda, atau negara lain. Yang jelas nanti tipe Bark dan namanya tetap Dewaruci," kata Soeparno.

KRI Dewaruci memang berbeda, yang bisa menggantikan dia cuma (KRI) Dewaruci juga...
© Antara
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...