Selasa, 16 Oktober 2012

Pejabat AL Jepang Kunjungi Koarmabar

http://www.jurnas.com/fototmp/detail/57545-73913-1489205-0-5b4181a9c10236d64f1b9dc8ad4ce13e.jpg?1350326784INSPEKTUR Komando Armada RI Kawasan Barat (Irarmabar), Kolonel Laut (S) Agus Haryono mewakili Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Sadiman, menerima kunjungan kehormatan (Courtesy Call) Commander Escort Division Five Captain Hirokazu Yamazaki di Ruang VVIP Markas Komando Koarmabar, Jalan Gunung Sahari No. 67 Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Captain Hirokazu Yamazaki didampingi oleh Komandan JS Ikazuchi (DD-107) Commander Masahiro Suzuki dan Komandan JS Sawagiri (DD-157) Commander Toshiki Nisizawa.

Kadispen Koarmabar, Letkol Laut (KH) Agus Cahyono mengatakan kunjungan tersebut bertujuan untuk menjalin hubungan kerjasama antara Angkatan Laut Indonesia dengan Angkatan Laut Jepang. Kunjungan diakhiri dengan tukar menukar cinderamata.

Kapal perang Jepang yang membawa rombongan Captain Hirokazu Yamazaki, sandar di Tanjung Priok selama tiga hari, 12-14 Oktober 2012. Kapal tersebut sebelumnya melakukan digunakan dalam melaksanakan misi anti pembajakan di Somalia.

Turut hadir pada kegiatan tersebut Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Pangarmabar, Asisten Personel (Aspers), Kepala Dinas Keuangan Koarmabar (Kadiskuarmabar) dan Komandan Satuan Komando Pasukan Katak Koarmabar (Dansat Kopaskaarmabar).
© Jurnas

Kisah Ayah Panglima, Komandan Peleton Serbu

Ayah Panglima
Ayah Panglima
Lhoksukon - Tentara Nasional Indonesia (TNI) genap sudah berusia 67 Tahun. Di usia yang sudah matang itu cukup banyak prestasi yang telah diraih. Namun, seperti apa nasib para veteran yang ada di Aceh dan sekitarnya? Adakah mereka bahagia?.

Senin, 09 Oktober 2012, disebuah warung kopi Kota Lhokseumawe, tibalah seorang kakek renta yang mengenakan pakaian ala militer lengkap dengan pangkat dan jabatan. Tinggi badannya hanya 160 cm, semua kulit tubuhnya mulai keriput, disertai dengan urat-urat hijau yang mulai terlihat. Di pinggang kakek yang renta itu, terselip rencong yang ukurannya sekitar 30 cm. Penasaran dengan gaya dan sikap si kakek yang unik penuh kreatif, The Globe Journal mengajaknya untuk berbincang sejenak mengenai pengalaman hidupnya. Ternyata ia mantan Komandan Peleton I di tahun 1942.

Nama lengkapnya adalah Abdul Aziz Mahmud, sebagian orang sering memanggil dengan sebutan Ayah Panglima. Beliau dilahirkan di Desa Tambon Baroh, Dusun 4, Kecamatan Dewantara, hari Kamis tanggal 29 Desember 1921. Ayah Panglima menyebut dirinya bahwa dimasa pertempuran antara RI dengan Belanda, tiga tahun sebelum kemerdekaan RI, ia berpangkat Letnan Dua Infantri (Letda. Inf), dengan jabatan Komandan Kompi 21, Danton I Kelas II, dan Danyon-VI.


Sembari menikmati kopi khas Aceh, Ayah Panglima menceritakan singkat kisah hidupnya sebagai pejuang dan veteran. "Masa itu, saya bergabung sebagai pejuang di usia 30 tahun," katanya dengan senyum sumringah tanpa gigi lagi. Mantan pejuang ini terlihat semangat, tak ada kelelahan yang terlihat dari raut wajahnya yang dimakan usia.

"Pertama kali saya tugas di Kuala Simpang. Disana, saya tidak sendiri, tapi ada satu kompi yang berjumlah sekitar 13 orang pada masa itu," katanya lagi.

Di Kuala Simpang itu, 13 personel atau satu kompi diserang habis-habisan oleh militer Belanda yang sedang melintas di jembatan Kuala Simpang. "Allah Maha Penyayang, kami tak ada yang gugur ketika diserang ratusan personel Belanda dengan senjata lengkap. Sebelum penyerangan, kami sudah menunggu militer Belanda di bawah jembatan. Alhasil, dua orang personel Belanda saat itu gugur ditempat". Meski tak ada yang gugur, namun tiga timah panas berhasil menembus tangan Ayah Panglima dan kedua paha kiri dan kanan.


Sambil bercerita, veteran ini menunjukkan bekas luka tembakan di kedua pahanya dan tangan. "Meski saat itu saya terkena tembakan, namun kami tetap melakukan penyerangan dengan senjata jenis Lee Enfield. Saya tidak peduli, walaupun darah mulai membasahi kedua paha dan tangan saya,". Penyerangan tersebut berlangsung selama setengah hari, kata Ayah Panglima. Usai penyerangan dilakukan tim Ayah Panglima yang masa itu dipimpin oleh Detasemen 3, Letkol. Inf. Tgk. Hanafiah Teupin Raya, bergegas meninggalkan tempat untuk beristirahat.


Sambung cerita, pada tahun 1944, Ayah Panglima bersama 13 personel lainnya bergerak pindah tugas di Kawasan Kota Langsa. Kemudian, mereka beristirahat di kawasan Geubang, perbatasan antara Aceh dengan Sumatera Utara, tahun 1945. "Setelah mendengar bahwa Indonesia telah merdeka, maka kami pun mulai istirahat tahun 1945," tutup Abdul Aziz alias Ayah Panglima.

Kini, veteran tersebut hanya berjalan setapak di panasnya terik matahari dan tak lekang dari pakaian militer lengkap pangkat dan jabatan. Ayah Panglima memiliki satu isteri (cerai) dan dua anak. Ayah kandung Aziz bernama Serda Mustafa Adam yang telah meninggal di usia 56 tahun saat masa penjajahan Belanda. Kini, Aziz tinggal dirumah semi permanen ukuran 9x6 yang merupakan bantuan dari mantan Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Supiadin AS, enam tahun yang lalu. Dan sampai sekarang, Aziz masih terima jerih keringatnya tiap bulan muda senilai satu juta tiga ratus.

Berikut ini, adalah rincian dari Ayah Panglima terhadap nama-nama personel veteran RI Detasemen 3 di masa penjajahan Belanda, yang ikut menyerang belanda di Kuala Simpang.

- Serka Cut Bang Geuchik Thaib Uteun Geulinggang (usia 96 tahun),
- Serka Hasan (almarhum, usia 78 tahun)
- Serka Cut Bang Ali Machan (almarhum, usia 88 tahun)
- Sertu Peutua Balu (almarhum, usia 64 tahun)
- Lettu Ben Puteh Tulot (masih ada, lahir 1912)
- Serma Yahya Blang Pala (almarhum, usia 88 tahun)
- Sertu T. M. Risyad (usia 70 tahun)
- Serka Tgk. Arfan Bin Buleun.

"Sebanyak 126 negara di dunia ini, yang merdeka di hari Jum'at adalah hanya negara Republik Indonesia, yaitu hari Jum'at, 17 Agustus 1945 tepat bulan Ramadhan," tutup Aziz.

Skadron Udara 5 Gelar Latma Albatros Ausindo

SKADRON Udara 5 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin mulai tanggal 15 s/d 19 Oktober 2012   melaksanakan kegiatan Latma (Latihan Bersama)  Australia dengan sandi Albatros Ausindo 12/2012   di Darwin AFB, Darwin-Australia.

Kegiatan ini merupakan latihan  bersama antara TNI AU dengan RAAF (Royal Australian Air Force) yang melibatkan pesawat intai dari kedua pihak yaitu Boeing 737 Intai Strategis dari Skadron Udara 5  dan AP-3C Orion dari 11 Squadron RAAF, tahun ini merupakan pelaksanaan kegiatan yang ke 12, untuk itu diberi sandi Albatros Ausindo 12/2012.

Saat memimpin briefing pemberangkatan, Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb Palito Sitorus selaku Exercise Director menyampaikan bahwa tujuan dari pelaksanaan kegiatan latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan pelaksanaan pengintaian maritim antara kedua awak pesawat termasuk di dalamnya melaksanakan koordinasi baik on the ground maupun inflight  bagi kedua angkatan udara, TNI AU dan RAAF, kegiatan ini merupakan agenda rutin yang bertujuan membangun dan meningkatkan kerjasama dan ‘mutual understanding’ yang merupakan fondasi pada level yang lebih tinggi.

Selanjutnya dikatakan,  kegiatan ini merupakan wahana untuk menggali pengalaman baru dalam berinteraksi dengan crew pesawat intai lain yang memiliki mission system dan peralatan penginderaan yang relatif berbeda dengan yang dimiliki oleh pesawat intai strategis Boeing 737.  Secara teknis kegiatan yang akan dilaksanakan adalah latihan pengintaian maritim di area yang merupakan perbatasan antara Indonesia dan Australia yaitu di perairan selatan Nusa Tenggara Timur dan bagian utara dari Northern Territory Australia.

Komandan Wing 5 berpesan agar crew Skadron Udara 5 yang dipimpin oleh Komandan Skadron Udara 5 Letkol Pnb Benny Arfan untuk senantiasa mengedepankan profesionalisme dan berpegang pada SOP yang ada dalam setiap kegiatan penerbangan latihan tersebut.

Disamping itu juga ditekankan perlunya memanfaatkan kegiatan ini untuk menambah pemahaman dan pengalaman dalam melaksanakan pengintaian maritim yang merupakan bagian dari tugas Skadron Udara 5.(red***)
© Majalah Potret Indonesia

Nelayan Rote Layani Penyeberangan untuk Marinir

Pos Marinir Di Perbatasan (Antara)
Rote - Nelayan-nelayan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, tak cuma mahir menangkap ikan. Mereka juga menyediakan jasa penyeberangan ke pulau-pulau di sekitarnya. Selain digunakan penduduk biasa, jasa penyeberangan ini juga dimanfaatkan anggota Korps Marinir TNI Angkatan Laut.

Menurut Nurun, salah satu nelayan penyedia jasa penyeberangan di Rote, marinir biasanya minta diantar ke Pulau Ndana di perairan perbatasan Indonesia-Australia. Di pulau itu, marinir memiliki pangkalan pemantau perbatasan yang dibangun pada 2009. Untuk menyeberangkan marinir ke pulau itu, Nurun mendapat upah Rp 500 ribu sekali jalan.

"Dalam sepekan biasanya dua kali, ada 10 marinir yang diangkut," kata pria 60 tahun itu kepada Tempo, dalam perjalanan dari Rote ke Pulau Ndana, Kamis, 4 Oktober 2012.

Untuk layanan ini, Nurun menggunakan kapal kayu bantuan pemerintah. Kapal motor itu dioperasikan bersama 11 anak buahnya. Sekali jalan, kapal itu membutuhkan 25 liter solar dengan harga per liter Rp 8 ribu.

Meski relatif mahal, layanan penyeberangan ini laris lantaran menjadi moda transportasi alternatif. Menurut Sersan Satu Marinir Heri Sutomo, anggota penjaga perbatasan di Pulau Ndana, penyeberangan nelayan sangat diperlukan untuk lalu lintas personel serta mengirim logistik.

"Kapal ini mengangkut semua kebutuhan seperti beras dan sayuran," kata pria 30 tahun ini.

Sersan Dua Marinir Nur Aziz, staf pangkalan TNI AL Pulau Ndana, menuturkan jasa penyeberangan itu kini menjadi sangat vital. Sebab, pangkalan TNI di pulau itu hanya memiliki dua perahu. "Yang satu kini bocor," ujarnya.
© Tempo.Co

Senin, 15 Oktober 2012

Armada Jaya XXXI/2012: Puluhan Roket Membumihanguskan Sekerat

Puluhan Roket Membumihanguskan Sekerat
Ratusan peluru yang terlontar dari meriam Canon 100 mm dan 30 mm di belasan tank amfibi menimbulkan suasana mencekam. Asap dan ledakan di mana-mana. Aroma tajam mesiu menyeruak di sepanjang garis pantai, mengiringi pendaratan ribuan marinir siap tempur dari kapal-kapal kokoh di pesisir.

Bengalon - Desa Sekerat membara. Pertempuran sengit kala fajar menyingsing membumihanguskan kawasan pegunungan kapur di sisi utara dari arah pantai. Serangan kilat artileri dan ribuan pasukan marinir melumpuhkan pertahanan musuh di gunung itu.

Ratusan peluru yang terlontar dari meriam Canon 100 mm dan 30 mm di belasan tank amfibi menimbulkan suasana mencekam. Asap dan ledakan di mana-mana. Aroma tajam mesiu menyeruak di sepanjang garis pantai, mengiringi pendaratan ribuan marinir siap tempur dari kapal-kapal kokoh di pesisir.


Eksotisme pantai Sekerat saat matahari terbit seolah tertutupi dengan kecamuk pertempuran. Deburan dan pecahan ombak seolah tak terdengar dikalahkan dentuman keras berbagai piranti tempur.


Situasi kian mencekam ketika roket RM 70 GRAD dimuntahkan secara bertubi-tubi. Lidah api yang panjang mengiringi hujan roket yang menembus sisi-sisi gunung dan menerjang pusat pertahanan musuh.


Suasana ini merupakan pelaksanaan rangkaian latihan puncak TNI Angkatan Laut (AL) bersandi Armada Jaya XXXI tahun 2012 yang digelar di Pantai Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Senin (15/10).


Latihan ini melibatkan semua unsur kesenjataan dan kekuatan TNI AL. Mulai dari kapal perang (KRI) dari berbagai jenis yang melakukan penyekatan dan pertempuran laut. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, menyaksikan langsung latihan tersebut.


Pertempuran juga didukung kapal Landing Platform Dock (LPD) dan Landing Ship Tank (LST) yang memuat ratusan prajurit marinir lengkap dengan seluruh kesenjataan infanteri, artileri dengan HOW 105 dan roket RM 70 GRAD, kavaleri dengan tank terbaru BMP 3F dari Rusia, serta LVT-7 dari Korea Selatan disamping tank lama.


Adapun kekuatan unsur yang tergabung antara lain 30 KRI dari berbagai jenis, pesawat udara berupa 4 unit cassa KMA, 2 unit heli bell, dan 2 unit heli BO-105. Untuk personel marinir, terdiri dari satu brigrat (2.681 personel), 17 tankfib, 33 RRF/BTR 50P, 8 KAPA, 2 RM 70 GRAD, 6 HOW 105, 3 MER 57, dan 2 truk TATRA.

Gladi lapangan Armada Jaya XXXI ini terdiri dari penembakan senjata strategis TNI AL dilaksanakan di Laut Sulawesi pada tanggal 12 dan 13 Oktober 2012. Serta pendaratan pasukan marinir di pantai Sekerat, Kecamatan Bengalon pada tanggal 15 Oktober kemarin. 

Saat penembakan rudal di Laut Sulawesi, terjadi peristiwa yang tidak terduga. Awalnya, target berupa LST akan dilumpuhkan dengan lima jenis rudal. Yaitu KRI OWA-354 ujicoba rudal Yakhont, KRI DPN 365 exocet MM 40 blok 2, KRI AHP 355 ujicoba rudal C 802, KRI 402 dan KRI AJK 653 ujicobaa TPO SUT, serta dari KRI FKO 368 Mistral-2.

"Namun ketika baru ditembak Yakhon saja, target sudah tenggelam. Awalnya ingin kita evaluasi dan dilihat hasilnya. Ternyata sekali ditembak habis. Kebetulan rudal yang lain sudah pernah dicoba. Hanya Yakhont yang belum pernah dicoba," kata KSAL, Laksamana TNI Soeparno.

Yang istimewa, rudal Yakhont itu ditembakkan dari jarak 185 kilometer dan langsung akurat menemui sasaran. "Memang 9 menit baru tenggelam. Namun ditembakkan dari jarak 185 kilometer. Anda bayangkan. Selama sejarah, baru ini yang menembak sejauh itu," katanya.


Dalam latihan ini dilakukan penembakan meriam maupun roket dengan skenario melindungi pasukan penyerang. "Dalam Armada Jaya XXXI ini, kita melaksanakan latihan secara lengkap. Mulai dari laut, pendaratan pantai, juga gerakan darat. Kita juga yakin senjata kita bisa digunakan dengan baik dan masih layak pakai," kata KSAL.


Serangan fajar dilaksanakan sejak subuh hingga sekitar pukul 07.00 Wita. Tembakan beruntun roket RM 70 GRAD menjadi pamungkas dari aksi tersebut. Lontaran berbunga api, dentuman yang keras, dan daya rusak yang kuat menjadi gambaran kualitas piranti tempur tersebut.


Pasca penembakan roket, pasukan infanteri masih terus melakukan perang darat, dan disimulasikan bergabung dengan TNI AD, untuk mengepung sarang musuh. Perang darat rencananya masih berlangsung hingga pukul 17.00 hari ini (16/10).


KSAL bangga dengan para prajurit yang dinilainya menjalankan misi latihan dengan baik. Ia pun berharap jajarannya bisa meningkatkan kualitas dan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini penting sebagai modal untuk dipadukan dengan piranti alutsista yang semakin canggih.


Rombongan KSAL meninggalkan lokasi sekitar pukul 08.30 Wita menuju bandara Tanjung Bara dengan helikopter. Setelah itu langsung menuju Balikpapan untuk seterusnya menuju Jakarta.(kholish chered)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...