Minggu, 17 Februari 2013

Indonesia Harus Ambil Alih FIR dari Singapura

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTIHnXvH8jYAAXILOC0_hQzUFPJHoBJalfeJQqO3CURFgzJWsBQTc7HZkQdJakarta  Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, yang baru diresmikan bulan lalu, harus segera melakukan konsolidasi organisasi. Organisasi yang kuat akan memungkinkan LPPNPI bisa mengambil alih Flight Information Region (FIR) yang saat ini dikuasai oleh Singapura.

Demikian kesimpulan yang didapat dari seminar ”Harapan dan Tantangan Navigasi Penerbangan Indonesia” yang digelar Masyarakat Transportasi Indonesia di Jakarta, Kamis (14/2/2013).

”Wilayah kontrol udara di Indonesia saat ini dikuasai oleh Singapura. Mereka bisa mendapatkan hak untuk mengatur lalu lintas udara karena peralatan mereka lebih modern dan menggunakan satelit. Kini sudah saatnya Indonesia mengambil alih kontrol udara di atas wilayah Indonesia,” kata Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim.

Menurut Chappy, Indonesia mempunyai peluang untuk memegang kendali atas lalu lintas udara tidak hanya di atas Indonesia, tetapi juga untuk kawasan Asia Tenggara.

”Namun, hal itu baru bisa dicapai jika kemampuan dan fasilitas navigasi kita memungkinkan,” kata Chappy.

Direktur Keselamatan dan Standar LPPNPI Wisnu Darjono mengakui, saat ini peralatan radar masih menggunakan radar darat yang jangkauannya tak terlalu luas. ”Kami akan mengganti fasilitas yang lebih modern setelah pengambilalihan ini selesai,” kata Wisnu.

Risman Nurjadin, Ketua Persatuan Ahli Navigasi Penerbangan Indonesia, mengatakan, perlu dibuat rencana cadangan yang andal apabila ada gangguan pada sistem navigasi. ”Rencana ini penting untuk keselamatan,” kata Risman.



  ● Kompas  

Russia Akan Mengirim 2 Sukhoi ke Makasar Pekan Depan

Sukhoi TNI AU
 Moskow  Direktur Jendral Perusahaan “Rosoboronexport” Anatoly Isaikin menyatakan, "Kerja sama Indonesia-Rusia dibidang teknik militer berkembang sudah lama dan terus meningkat," kepada koresponden GATRAnews di Moskow, Svet Zakharov, saat jumpa pers di Kementerian Luar Negeri Rusia.

Isaikin menyatakan Indonesia-Rusia telah menandatangani kontrak untuk pasokan enam buah pesawat tempur jenis Sukhoi yaitu SU-30MK2. Pesawat tempur itu akan didatangkan ke Indonesia pada waktunya sesuai dengan kontrak. demikian pernyataan pers yang diterima Sabtu (16/2). Menurut informasi yang diperoleh oleh Gatranews dari Atase partahanan Indonesia di Moskow, Kolonel Andi Kustoro dua buah pesawat tempur Sukhoi akan diberangkatkan tanggal 21 Pebruari mendatang, dari pabrik pembuatannya ke Makasar dengan pesawat raksasa Antonov. "Di sana kemudian pesawat Sukhoinya akan dirakit," tutur Andi.

Lebih lanjut, Isaikin menyebutkan tak hanya Sukhoi, Indonesia-Rusia juga mengadakan kerja sama pasokan persenjataan lainnya. "Dengan Indonesia. seperti dengan negeri-negeri lainnya, kerjasama kita berkembang aktif dewasa ini pada dua jurusan: yaitu layanan setelah penjualan dan transfer teknologi tertentu," kata Isaikin.

Indonesia, lanjut Isaikin, sebagai kebayakan negeri yang ekonominya maju terus, sudah sewajarnya berkepentingan untuk mengembangkan industri sendiri, termasuk industri militer. "Maka saah satu syarat kerja sama kita adalah terjadinya transfer teknologi dibidang teknik militer. Dalam mempertimbangkan kontrak dan usulan dari pihak Indonesia kami pasti memperhitungkan dan mencantumkan dalam kontrak itu pekerjaan bersama dengan perusahaan-perusaaan industri militer Indonesia," tutur Isaikin.

Salah satu program kerja sama yang sekarang sedang digalakkan adalah program ”Rosoboronexort”. "Program ini mengirimkan delegasi-delegasi Rusia ke sejumlah perusahaan industri militer yang leading. Program ini juga termasuk di dalamnya produksi teknik, reparasi teknik angkatan udara, darat dan laut. Saya beranggapan, tegas Anatoly Isaikin, bahwa kerjasama teknik militer kami dengan Indonesia, berada pada tingkat yang sangat baik dan ada prospeknya kerjasama dengan perusahaan kompleks industri militernya adalah cerah.

  ● GATRAnews  

Ketika Pasukan Gerilya Pak Dirman Disergap P-51 Mustang

Ketika Pasukan Gerilya Pak Dirman Disergap P-51 MustangPada bulan Desember 1948 militer Belanda yang masih bercokol di Indonesia khususnya di Pulau Jawa melancarkan agresi militer kedua bersandi Operation Kraai. Serbuan militer yang dirancang oleh Kepala Staf Angkatan Darat Belanda yang berkuasa di Indonesia, Jenderal Simon Spoor, itu langsung menggegerkan rakyat Indonesia yang baru tiga tahun memproklamirkan kemerdekaan.

Agresi militer Belanda kedua yang disebut sebagai Aksi Polisional (Politionele Acties) yang dilancarkan pada 19 Desember 1948 itu diklaim militer Belanda sebagai upaya melumpuhkan aksi kekerasan yang terus berlangsung sejak Perjanjian Linggarjati di Istana Merdeka, Jakarta pada 15 Desember 1946 disusul kesepakatan damai melalui Perjanjian Renville. Salah satu poin Perjanjian Linggarjati adalah Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia yang meliputi Pulau Jawa, Sumatra, dan Madura.

Karena pada prinsipnya semangat Pemerintah Kerajaan Belanda adalah menguasai kembali seluruh wilayah Indonesia yang pernah dijajahnya, Operation Kraai pun memiliki semangat serupa. Operation Kraai yang dilaksanakan di Jawa dan Sumatra itu bertujuan melumpuhkan kekuatan militer Indonesia dan sekaligus menawan para pemimpin RI, Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, dan Perdana Menteri Sutan Syahrir. Ketiga petinggi itu berkantor di Yogyakarta yang telah dijadikan ibukota RI sejak 4 Januari 1946.

Sebagai ibukota negara dan markas Tentara Kemanan Rakyat (TKR) yang dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman, Yogyakarta menjadi sasaran utama Operation Kraai. Agresi militer Belanda II di Yogyakarta berdasar pada operasi intelijen yang cermat sehingga dalam operasi yang bersifat dadakan (blitzkrieg) itu sasaran musuh akan bisa dikuasai dalam tempo kilat dengan korban di pihak penyerang seminimal mungkin. Pasukan Belanda yang bertugas menyerbu Yogyakarta dipusatkan di Pangkalan Udara Andir, Bandung dan dipimpin oleh Jenderal Meyer. Kekuatan pasukan terdiri dari 800-900 pasukan Para Komando dan didukung oleh 23 pesawat transpor Douglas DC, sejumlah pesawat pembom B-25 Mitchell, pesawat tempur P-51 Mustang, dan P-40 Kittyhawk.

Serbuan udara terhadap Kota Yogyakarta dimulai pada waktu pagi hari tepat pukul 05.45 terhadap Lapangan Udara Maguwo yang minim pertahanan. Saat itu Badan Keamanan Rakyat (BKR) Udara baru terbentuk pada 5 Oktober 1945 dan dipimpin Komodor Udara Suryadarma. Kondisi BKR Udara saat itu masih minim sumber daya manusia serta peralatan terbang. Namun demikian di Lanud Maguwo telah berdiri Sekolah Penerbang yang berdiri sejak 1 Desember 1945 menggunakan pesawat-pesawat bekas Jepang yang sudah dimodifikasi.

Ketika berlangsung serbuan udara yang dilancarkan oleh pesawat-pesawat tempur Militaire Luchtvaart (ML)-KNIL, di pangkalan terdapat tiga pesawat Zero bekas Jepang dan sekitar 37 kadet (siswa penerbang) serta sekitar 150 pasukan pertahanan pangkalan yang dalam kondisi tidak siap tempur. Hanya ada beberapa senapan dan satu senapan antiserangan udara kaliber 12.7 mm.

Semua pesawat MI-KNIL terbang dari Lanud Andir. Dan agar penerbangan puluhan pesawat itu berlangsung rahasia, semua pesawat terbang di atas Lautan Samudra Hindia dan begitu berada di atas Pantai Selatan, Yogyakarta mereka langsung melesat ke utara menuju Maguwo. Dalam hitungan detik pesawat-pesawat Mustang dan Kitty Hawk langsung menghujani pangkalan udara dengan bom serta tembakan senapan mesin. Serangan udara militer Belanda itu sengaja menghindari kerusakan pada landasan agar bisa digunakan mendaratkan pesawa-pesawat transpor.

Sejumlah “pasukan Para” berupa boneka tiruan juga diterjunkan untuk mendeteksi asal tembakan yang dilepaskan pasukan BKR Udara di darat sehingga pesawat-pesawat tempur bisa menyapunya menggunakan senapan mesin. Serbuan udara yang berlangsung sekitar 25 menit segera melumpuhkan pertahanan yang berada di Lanud Maguwo. Pada pukul 06: 45 pasukan Para Komando mulai diterjunkan dalam dua gelombang dan untuk selanjutnya mengoperasikan Lanud Maguwo sebagai pusat pangkalan aju untuk menguasai Yogyakarta dan sekitarnya. Setidaknya 128 pasukan RI gugur dalam opersai serbuan kilat itu sedangkan dari pihak Belanda belum ada satu personel pasukan pun yang gugur.

 Perang gerilya

Operasi serbuan udara dilanjutkan serbuan darat oleh pasukan Belanda itu segera diketahui oleh Panglima Besar Sudirman (Pak Dirman) yang sedang berada di markasnya, Jalan Bintaran, Yogyakarta, sebelah selatan Keraton Yogyakarta. Pada saat itu Pak Dirman sedang dalam kondisi sakit setelah menjalani operasi paru-parunya akibat terserang penyakit TBC. Tindakan operasi itu memutuskan untuk tidak mengaktifkan salah satu paru-paru sehingga Sudirman hanya bisa menggunakan salah satu paru-parunya dan masih dalam kondisi sangat lemah.

Menanggapi serangan Belanda itu, Pak Dirman kemudian mengeluarkan Perintah Siasat agar semua pasukan BKR tetap melakukan perlawanan melalui perang gerilya. Sudirman juga sempat menghubungi presiden, wapres, dan para stafnya untuk segera meninggalkan Yogyakarta, tapi himbauan Pak Dirman itu ternyata ditolak. Presiden Sukarno dan para staf seperti sejumlah menteri memilih bertahan di kota dan akhirnya ditawan oleh militer Belanda untuk selanjutnya diasingkan di Sumatra serta Bangka.

Salah seorang anggota staf penting di lingkungan Sekretariat Markas Panglima Besar yang juga pengawal pribadi Pak Dirman, Kapten Tjokropranolo yang lebih akrab dipanggil Pak Nolly, segera mengontak Penasehat Politik Panglima Besar, Harsono Tjokroaminoto, yang juga mantan Menteri Muda Pertahanan semasa Kabinet Sjahrir III (1946-1947) untuk segera menghadap. Kebetulan Harsono waktu itu juga sedang terserang penyakit desentri dan selama seminggu hanya bisa terkapar di tempat tidur. Isteri Harsono yang menerima telepon dari Nolly kemudian menjawab bahwa suaminya belum bisa bangkit.

Tapi karena kondisi sedang genting Nolly tetap mengharuskan Harsono hadir di markas dan akan dijemput oleh sopir menggunakan mobil Panglima Besar. Harsono tak bisa menolak ketika mobil yang menjemputnya tiba. Dengan susah payah ia pun berangkat. Rute perjalanan yang ditempuh mulai dari Jalan Taman Yuwono - Jalan Malioboro - Istana Presiden – lalu belok kiri melintasi Kantor Pos-Pakualaman - dan Jalan Bintaran. Selama perjalanan menuju Bintaran bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur Belanda terutama di sisi timur kota di seputar kawasan Maguwo ledakannya terasa makin mendekat.

Tujuan bombardemen Belanda itu selain mencari sasaran yang bernilai militer juga bertujuan meruntuhkan moril tempur pasukan Indonesia agar tidak bisa memberikan perlawanan. Tapi karena Bintaran lokasinya masih dekat keraton dan militer Kerajaan Belanda masih sangit menghormati Keraton Yogyakarta sebagai wilayah netral, tak ada stu bom pun yang jatuh di seputar kawasan keraton. Ketika tiba di kediaman Pak Dirman, Harsono langsung menuju kamar tidur Pak Dirman yang waktu itu ditunggui oleh Nolly.

Dalam kondisi fisik yang lemah Pak Dirman menceritakan semua peristiwa yang baru saja terjadi di Yogya dan sebagai panglima besar yang juga menjadi incaran militer Belanda, ia memutuskan meninggalkan Kota Yogyakarta. Tujuan utama perjalanan Pak Dirman dan rombongannya adalah daerah Gunung Kidul, kawasan berbukit-bukit yang sangat efektif untuk bersembunyi sekaligus melancarkan perang gerilya. Namun untuk meninggalkan Yogyakarta yang mulai dikepung pasukan Belanda dan bombardemen yang terus berlanjut tidak mudah. Sebagai penasehat, Harsono lalu menyarankan agar rombongan Pak Dirman mencari tempat persinggahan di luar benteng Keraton Yogyakarta yang dikenal sebagai Mangkubumen.

Berdasarkan kesepakatan, rombongan Pak Dirman yang terdiri dari dokter pribadinya, Dr Suwondo, Tjokropranolo, ajudan Supardjo Rustam, dan Harsono lalu berangkat ke Mangkubumen yang saat itu ditinggali ibu-ibu dari Keraton. Sebagai bangunan milik Sultan Yogyakarta, Mangkubumen masih merupakan properti yang tidak diganggu oleh militer Belanda sehingga persinggahan rombongan Pak Dirman dijamin aman.

Untuk menghindari patroli militer Belanda yang saat itu sudah berada di daerah Kauman dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari Mangkubumen, rombongan Pak Dirman yang menggunakan sejumlah jip sengaja berangkat sore hari. Mobil jeep Pak Dirman yang dikemudikan sopir pribadinya, Ateng, ditumpangi Supardjo Rustam yang duduk di sebelah kanan pengemudi. Sedangkan Pak Dirman duduk di tengah diapit Dr Suwondo di sebelah kanan dan Harsono di sebelah kiri. Sedangkan Tjokropranolo yang bertugas sebagai penunjuk jalan duduk di atas spakbor.

Bagi Tjokropranolo kawasan selatan Yogya bukan merupakan daerah asing karena sewaktu masih bersekolah di Yogya, ia sering bermain di Bantul apalagi pamannya pernah menjabat sebagai Bupati Bantul. Semula Tjkropranolo berniat membawa Pak Dirman ke Pantai Parangtritis (Bantul) dan bersembunnyi di goa, tapi karena Pak Dirman sedang sakit rencana itu dibatalkan dan kemudian diputuskan untuk bersembunyi di kawasan Gunung Kidul.

  ● Angkasa  

Mengurai Java Centris

GDP Projections to 2050
Kunjungan KSAD ke markas Kodam I Bukit Barisan di Medan tanggal 13 Februari 2013 untuk melihat kesiapan operasional tentara dan alutsistanya disana tentu memberikan spirit bagi prajurit TNI AD. Spirit itu akan semakin bertambah lagi jika melihat rencana menempatkan sejumlah alutsista baru di wilayah itu, misalnya helikopter serang, rudal arhanud jarak pendek dan sedang termasuk panser Anoa. Kita tentu menyanbut gembira karena Sumatera meski tidak berbatasan darat langsung dengan jiran sebelah namun perkuatan alutsista TNI AD perlu disetarakan dan berkemampuan sengat lebah.

Penempatan 100 MBT Leopard di dua batalyon pada dua divisi Kostrad di Jawa bisa diterima sebagai perkuatan jantung Indonesia. Namun pengadaan MBT tahap berikutnya pada MEF tahap II periode 2015-2019 diharapkan tidak lagi ditumpuk di jantung Indonesia itu. Sangat pantas distribusi prioritasnya ada di bumi Kalimantan karena wilayah ini berbatasan darat langsung dengan Malaysia. Kehadiran MBT di Kalimantan diyakini akan memberikan efek gentar bagi negara sebelah kulon dan lor yang selama ini meremehkan kekuatan militer Indonesia.

Sebenarnya TNI AU sudah duluan menyebar skuadron tempurnya di luar Jawa. 2 skuadron Hawk 100/200 sudah mengambil tempat di Pekanbaru dan Pontianak lebih dari 1 dekade yang lalu. Demikian juga dengan skuadron Sukhoi, justru tidak di Jawa melainkan diletakkan pas banget di tengah-tengah Indonesia, Makassar. TNI AU juga sudah memastikan jika 24 jet tempur F16 setara blok 52 datang, 16 biji ditempatkan di Pekanbaru dan sisanya memperkuat skuadron Madiun yang sudah dihuni 10 F16 lawas. Jet blok 15 yang dimiliki TNI AU sejak tahun 1989 ini akan di upgrade juga untuk menyeimbangkan teknologi avioniknya dengan adik kelasnya yang mau datang.

Pemekaran armada tempur TNI AL menjadi 3 armada tempur adalah bagian dari upaya mengurai alutsista java centris. Selama ini pangkalan armada di Surabaya adalah segala-galanya. Dua pertiga KRI dimarkaskan disini termasuk pangkalan kapal selam, pusat perbaikan dan pemeliharaan. Dengan menyerahkan sejumlah KRI untuk dijelajahkan di ruang lautan NKRI sebelah timur yang luas, dipangkalkan di Sorong sebagai pusat armada Timur, akan memberikan ruang kendali keamanan laut yang efektif dengan jarak logistik tidak terlalu panjang di wilayah itu.

Dalam MEF kedua nanti, diharapkan kekuatan armada KRI bisa mencapai minimal 180-190 KRI termasuk 5-7 kapal selam. Nah, alokasi untuk armada Timur yang berpusat di Sorong bisa dibagi dan mendapat jatah KRI di kisaran 40-50 kapal perang berbagai jenis. Fasilitas perbaikan kapal perang juga bisa dilimpahkan ke Sorong atau Manokwari yang berdekatan. Manokwari sudah punya Fasharkan TNI AL, tinggal dikembangkan saja. Area pantau kawasan timur semakin tergenggam dengan kehadiran armada Timur yang kesiapan lantamalnya sudah ready for use seperti Kupang, Merauke, Ambon, Jayapura.

Untuk armada Barat pusat pangkalan belum bisa ditentukan. Tanjung Pinang yang secara de facto sudah penjadi pangkalan utama armada Barat sangat berdekatan dengan Singapura. Dari aspek hankam ini tidak ideal. Jika nantinya sudah ada lokasi yang sesuai dengan analisis strategis TNI AL maka alokasi KRI untuk perairan dangkal ini tinggal menambah sejumlah KRI. Saat ini armada barat sudah diperkuat dengan 30-40 KRI berbagai jenis termasuk satuan kapal cepat rudal (KCR). Idealnya dibutuhkan 30 KCR untuk mengawal perairan Natuna dan selat Malaka, sementara yang baru bisa dipenuhi saat ini 9 KCR.

Dalam waktu dekat diniscayakan teknologi rudal surface to surface dan surface to air sudah dikuasai dan dimiliki oleh ilmuwan militer Indonesia. Maka sudah tentu sebagian besar gelar peluncur rudal, radar dan operatornya ada di wilayah perbatasan yang nota bene di luar Jawa. KSAD sudah mengisyaratkan akan ada penempatan batalyon roket / rudal di Kodam I Bukit Barisan termasuk gelar Helikpter serang di wilayah itu. Tentu ke depannya wilayah Kalimantan, Natuna, Riau, Sumut akan menjadi basis penempatan sejumlah rudal buatan anak negeri ini. Dan ini pasti akan memberi kesan gahar. Dengan kesan ini tentu negara-negara jahil tidak lagi meremehkan Indonesia. Kekuatan militer itu diyakini menjadi kekuatan “iron dome” atau “tembok Cina” payung pelindung NKRI. Dengan itu negara yang merasa “bermuka tembok” mulai tahu diri dan berkaca diri sehingga makin terlihat berwibawalah, bermartabatlah, berharkatlah wilayah teritori RI yang luas ini. Bukan mau ngajak perang, tetapi sebagai benteng penguat teritori dari segala ancaman luar.

Dengan militer yang kuat negara lain akan berhitung jika hendak mengganggu atau mengancam negara kita. Dengan kata lain kekuatan persenjataan militer itu diyakini menjadi “sekat penghalang” untuk terjadinya perang. Makanya alutsista militer kita minimal harus setara dengan negara tetangga, dan itu hukumnya wajib. Jika masih ada orang yang menganggap tidak perlu memperkuat alutsista TNI maka orang tersebut perlu diajak jalan-jalan melintasi perairan luas di tanah air ini lalu diinapkan seminggu saja di pulau terluar Indonesia. Dijamin begitu pulang langsung sadar diri alias insyaf.

Penempatan alutsista TNI di seluruh Indonesia secara proporsional adalah bagian dari upaya menghapus jargon masuk dulu baru gebuk. Secara bertahap kita akan mampu mengumandangkan slogan : mau coba masuk saya gebuk duluan. Maka pembentukan Kogabwilhan merupakan upaya strategis yang harus didukung dalam rangka mengamankan seluruh teritori NKRI. Kogabwilhan juga merupakan strategi pemerataan alutsista alias mengurai java centris. Kogabwilhan merupakan komando gabungan darat laut dan udara dari wilayah pertahanan Indonesia untuk merespons cepat setiap ancaman yang tak bisa diprediksi. Meski begitu jangan dilupakan, Jawa merupakan jantung Indonesia. Jadi memelihara dan merawat jantung juga sangat penting utamanya menjaga “serangan kolesterol” yang bisa mengakibatkan stroke. Maka Jawa harus diperkuat dengan sejumlah rudal anti serangan udara jarak sedang, sejumlah jet tempur jelajah seperti Sukhoi dan rudal anti kapal berbasis di pantai selatan Jawa dan selat Sunda. Siapa tahu serangan kolesterol itu berasal dari pantai selatan dan kita pasti sudah tahu siapa sih yang ada di selatan kita.

******
Jagvane / 16 Feb 2013


  ● Analisis  

Helikopter Apache Diganti Battlehawk ?

http://www.jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/boeing_ah64d_longbow_l1.jpgPernyataan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo bahwa TNI AD akan membeli 20 helikopter UH-60 Black Hawk, menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat. Apakah rencana pembelian 8 helikopter serang AH 64 (AH=Attack Helicopter) Apache ditukar dengan 20 Helikopter UH-60 (UH=Utility Helicopter) Back Hawk  ?

Jika mendengarkan penjelasan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Mabesad beberapa waktu lalu, penggantian Apache dengan Black Hawk agaknya jauh dari kenyataan, walau bukan mustahil. Menurut KSAD, jika dana tidak mencukupi maka pembelian Apache AH 64 dialihkan ke Super Cobra AH-1W atau Black Hawk UH-60 yang dipersenjatai.

Namun KSAD memberikan catatan, pada intinya TNI AD menginginkan Apache dan akan memperjuangkannya di Komisi 1 DPR. Alasannya adalah military balance di kawasan. Lebih dari itu KSAD juga memegang prinsip, lebih baik memiliki sedikit senjata tapi mematikan daripada banyak namun loyo. TNI AD menginginkan persenjataan terbaik di kelasnya. Hal ini baru rencana di Angkatan Darat. Namun gayung bersambut, Menteri Luar Negeri AS kala itu Hilary Clinton menyampaikan rencana pembelian 8 Apache AH-64D Longbow blok 3 oleh Indonesia ke Kongres AS dan disetujui.

Tiba-tiba Selasa 12 Februari 2013 Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Bambang Hartawan mengatakan, rencana pembelian helikopter Black Hawk menjadi alternatif jika negosiasi harga heli Apache menemui jalan buntu. Yang membingungkan adalah mengapa jika heli serang Apache gagal didapat, alternatifnya jatuh ke heli angkut Black Hawk UH-60 ?.

 Kendala Helikopter Serang 

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2012/05/ah-64-apache-indonesia1.jpg

Banyak militer di dunia memang menginginkan helikopter serang seperti Apache AH 64, namun harga dan pemeliharaan yang mahal membuat mereka menjadi berpikir ulang. Sementara medan pertempuran tidak selalu masif yang harus menghancurkan ratusan tank dalam waktu bersamaan. Teknologi juga terus berkembang. Akibatnya munculah pertanyaan, apakah helikopter serang ringan atau multirole tidak bisa menangani situasi seperti itu, karena helikopter serbu ringan atau multi role memiliki harga dan biaya operasional yang lebih murah.

Ditambah lagi, semua helikopter membutuhkan biaya pemeliharaan yang mahal karena terkait dengan rebuild engine dan rotor secara berkala, maka akan efektif bila membeli satu tipe helikopter. Biasanya, pilihan jatuh ke helikopter serbu ringan atau multi-role.

 Metamorfosa Heli Serang Ringan 

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/AH-1Z-viper.jpg
AH-1Z Viper

Selain Apache AH 64, Amerika Serikat juga memiliki heli serang AH-1Z Viper, namun cikal bakalnya berasal dari helikopter angkut pasukan UH-1 Huey. Pada tahun 1967 Angkatan Darat AS mengembangkan helikopter serang ringan dengan mengadopsi turboshaft engine, transmisi dan sistem rotor dari UH-1 Huey. Helikopter serang ringan single engine yang diberinama AH 1G dan banyak terlibat dalam operasi militer di Vietnam.

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/Huey1.jpg
Bell UH-1 Iroquois (Huey)

Marinir AS tertarik dengan AH-1G namun meminta performanya ditingkatkan karena helikopter single engine dianggap berbahaya untuk operasi di laut. Tahun 1968 munculah varian baru dengan twin engine yang diberinama AH 1J Sea Cobra. Senjatanya pun dimodernisasi dengan senjata mesin gatling 3 dan 6 laras (M-61 Vulcan).

Helikopter ini terus dikembangkan hingga pada tahun 1980 muncul AH 1T dilengkapi sistem kontrol penembakan rudal AIM-9 Sidewinder dan AGM-114 Hellfire. Heli ini terus dimodifikasi dengan membuat baling baling komposit dengan sistem rotor yang baru dan diberinama AH 1W Super Cobra. Helikopter dengan 4 baling baling komposit ini mampu menekan kebisingan dan tidak cepat rusak.

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/ah-1w-super-cobra-1024x692.jpg
AH 1W Super Cobra

Angkatan Darat AS juga meningkatkan performa heli angkut pasukan UH 1 Huey tersebut dengan membangun UH 60 Black Hawk Sikorsky dengan spesifikasi: empat baling-baling, twine engine, daya angkut lebih besar dan menjadi helikopter serbaguna.

Sementara di jajaran helikopter Serang, Angkatan Darat AS mengembangkan Apache AH 64.

Pada pertengahan tahun 1990-an, keinginan Marinir untuk mendapatkan helikopter Apache versi marine ditolak oleh pemerintah AS karena disain AH 64 versi Marinir akan sangat mahal dan penggunanya pun hanya Marinir AS. Akibatnya pada tahun 1996 korps Marinir AS memutuskan untuk meningkatkan performa  AH-1W Super Cobra menjadi AH-1Z Viper.

Helikopter AH-1Z Viper memiliki dua wing stub yang di-redisign menjadi lebih panjang agar dapat mengangkut senjata lebih banyak yakni: rudal AIM-9 Sidewinder. 2 unit Hydra rocket pods 70 mm atau AGM-114 Hellfire quad missile launcher. Radar Longbow pun bisa dipasang di wing tip station.

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/AH-1Z-viper2.jpg
AH IZ Viper

Angkatan Darat AS juga terus memodernisasi UH 60 Black Hawk sehingga bisa mengangkut roket hydra 70 atau 16 Hellfire II Anti tank serta dilengkapi dengan senjata mesin M240G 7,62. Sistem avionik dan elektroniknya juga ditingkatkan, namun AS tetap saja memberlakukan UH 60 sebagai helikopter taktis pengangkut pasukan. Persenjataan yang dibawa lebih untuk pertahanan diri.

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/Blackhawk.jpg
UH 60 Black Hawk

Dari sejarahnya itu maka tidak heran bentuk dasar AH-1Z memiliki kesamaan dengan UH-60 Black Hawk. Lain halnya dengan helikopter Serbu AH 64 Longbow yang lahir merujuk kepada teknologi helikopter Comanche RAH 66 yang sudah digitalisasi tahun 1990-an, sehingga bentuknya pun mengalami perubahan radikal.

Melihat sejarahnya tersebut, AH 1Z Viper dengan segala model upgrade-nya masih di bawah generasi Apache AH 64 D. Apache memiliki airframe yang telah matang (sempurna). Sementara AH 1Z Viper kemungkinan menjadi varian terakhir dari keluarga helikopter Huey setelah 40 tahun mengudara dan masa produksinya akan berakhir tahun 2030. Sementara AH 64 Apache yang muncul di tahun 1990-an masih memiliki masa hidup yang panjang, begitu pula dengan perkembangan sistem elektronik dan senjatanya.

Untuk urusan persenjataan, Super Cobra AH 1Z Viper mampu mengangkat seluruh persenjataan yang dimiliki oleh Apache, namun tetap saja lemah di bidang proteksi. Apache mampu menahan tembakan beruntun dari anti-aircraft guns kaliber 23 mm, sementara AH-1Z Viper tidak bisa. AH 1 Z yang terus dikembangkan juga masih memiliki banyak bugs antara lain terkait: getaran dan handeling karena basic air framenya teknologi tua.

Dari kondisi tersebut tergambar teknologi Apache AH 64 lebih unggul dari AH-1Z Viper. Helikopter AH 1Z Viper atau AH 1 W Super Cobra menjadi alternatif karena biaya operasinya lebih murah. Perawatannya pun tidak sesulit Apache dan bisa ditangani oleh negera pembeli.

 Misi Helikopter 

Apache biasanya digunakan Amerika Serikat untuk operasi khusus, operasi pembuka serangan serta deep attack. Sementara AH-1Z Viper atau AH 1W Super Cobra untuk operasi pertempuran reguler maupun kawal pasukan di darat. Namun persoalannya helikopter ini akan berhenti berproduksi 17 tahun lagi.

Bagaimana dengan Helikopter Serba Guna UH-60 Black Hawk (S-70 versi eksport) ?. Tentu helikopter ini tidak bisa dibandingkan dengan Apache maupun AH 1Z Viper, karena peruntukanya memang berbeda. Namun teknologi terus berkembang dan para produsen helikopter tidak pernah kehilangan akal. Kini Sirkorsky telah melengkapi UH 60 Black Hawk dengan kemampuan reconnaissance maupun serbu dan diberinama S-70 Battlehawk.

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/s-70-battlehawk.jpg
S-70 Battlehawk

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/battlehawk-tni.jpg
S-70 Battlehawk

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/battlehawk3.jpg
S-70 Battlehawk

S-70 Battlehawk muncul menjembatani keinginan user untuk memiliki helikopter serang namun biaya dan perawatan yang murah dan bisa digunakan untuk berbagai misi.

http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/02/mil_S70i_AK_ovr_a.jpg
S-70 Battlehawk

 Persenjataan  S-70 Battlehawk : 

50 caliber machine guns, 7.62 caliber machine guns, 7/12/ 19 pod 70 mm rocket launchers, Air-to-ground laser missile system provisions,  Helmet-mounted sight, Internal Auxiliary Fuel (200/400 gallon capacity),  External Gun Mounting System, External Stores Weapon System.

Rencana pembelian Apache AH-64 digantikan dengan S-70 Battlehawk akan sempurna jika gap antara Apache dan Battlehawk, ditutupi dengan pembelian unmanned combat air vehicle (UCAV) di kemudian hari.

  ● JKGR  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...