Senin, 22 April 2013

Satgasmar Ambalat XV Tiba Dari Daerah Penugasan

Sidoarjo • Satuan Tugas Marinir Ambalat XV yang telah melaksanakan tugas didaerah perbatasan Indonesia – Malaysia selama kurang lebih enam bulan, tiba di Markas Brigif-1 Marinir Gedangan, Sidoarjo, Minggu, (21/4).

130 prajurit Korps Marinir TNI AL yang tergabung dalam Satgasmar Ambalat XV dengan Komandan Satgas Kapten Marinir Hendro Paat tersebut kembali dari daerah penugasan pulau Sebatik, Kalimantan Timur dengan menggunakan KRI Teluk Parigi-539.

Setelah sampai di Markas Brigif-1 Marinir Gedangan, Sidoarjo, dilanjutkan dengan pemeriksaan/sweeping yang dilakukan oleh personel dari Denprov-1 Mar dan jajaran Sintel Pasmar-1 yang dipimpin oleh Mayor Marinir Yosafat R.H. Usai pelaksanaan sweeping dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan/urikes di balai kesehatan Yonif-3 Mar dari tim kesehatan Rumah Sakit Marinir Gunungsari, Surabaya.

Sementara itu Komandan Satgasmar Ambalat XV Kapten Marinir Hendro Paat mengatakan selama melaksanakan penugasan di perbatasan Indonesia – Malaysia, personel yang tergabung dalam satgasmar Ambalat XV menempati beberapa pos yaitu Sei Pancang, Sei Taiwan, Balansiku, Sei Bajau, Tembaring, Bambangan dan Nunukan.


  ● Marinir  

Pabrik Senjata di Bandung (2)

Tentara AS & Australia Pakai Amunisi Buatan Bandung 

Bandung • PT Pindad (Persero) mampu memproduksi produk militer yang mengacu ke Eropa dan NATO (North Atlantic Treaty Organization). Dari standar yang dipakai, Pindad menghasilkan produk seperti senapan, amunisi dan kendaraan tempur militer berkualitas tinggi.

Kualitas produk Pindad, seperti senjata dan amunisi, telah diakui oleh militer di dunia. Seperti amunisi ringan buatan Pindad yang telah dijual ke negara ASEAN, bahkan hingga ke Amerika Serikat (AS) dan Australia.

“Peluru kebanyakan ke ASEAN semua sudah, 2012 kemarin sudah ke Australia dan Amerika tahun 2011. Itu untuk kaliber yang kecil-kecil saja. Itu artinya barang kita sudah ada yang mau pakai,” tutur Direktur Utama Pindad, Adik Soedarsono kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

Varian amunisi Pindad sangat beragam, mulai dari peluru kaliber kecil, peluru tajam, peluru kaliber besar, mortir dan granat. Selain amunisi, senapan Pindad juga telah diakui dunia. Bahkan senjata serbu buatan Pindad yakni SS1 berbagai varian telah digunakan di beberapa negara.

“SS1 Itu produk aslinya namanya FNC itu dari Belgia. Kalau mereka beli ke kita barangnya sama. Ada negara seperti Nigeria, itu sudah pakai FNC dari Belgia. Dia waktu mau nambah, dia minta tambahan dari kita,” tambahnya.

Saat ini, Pindad tengah menjajaki penjualan senjata ke beberapa negara termasuk ke Irak. Negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura juga berminat membeli Panser ANOA 6X6 dan kendaraan tempur Komodo 4X4.

“Semua sedang on proses. Kita contohnya mau ke Mozambik, kita ke Malaysia, ke Iran, Nepal,” tegasnya.

Pindad Mampu Produksi 40.000 Senjata Tiap Tahun

PT Pindad (Persero) telah mampu memproduksi puluhan tipe senjata. Dengan kapasitas saat ini, Pindad sanggup memproduksi 40.000 senjata api per tahun.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Departemen Produksi I Pindad, Diding Sumardi kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

“Kita bisa produksi senjata ekuivalen 40.000 SS2 per tahun. Itu bukan berarti SS2 saja,“ tambahnya.

Kapasitas produksi Pindad ini, didukung dari penambahan unit line mesin pembuat senjata. Kemampun ini diperoleh, pasca Pindad memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 300 miliar. Namun, Direktur Utama Pindad Adik Soedarsono mengaku, dari potensi tersebut sebetulnya belum digunakan secara maksimal.

“Pindad itu kemapuan besar kalau mau diberdayakan,” papar Adik.

Perlu diketahui, karena banyak pesananan, pembuatan senjata diproduksi selama 24 jam di pabrik Pindad yang terletak di tengah kota Bandung Jawa Barat. Dari Divisi Senjata, Pindad mampu memproduksi berbagai jenis atau varian senjata, antara lain: senapan serbu: SS1-V1, SS1-V2, SS1-V5, SS1-M1, SS1-R5, SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4, SS2-V5, PM2-V1, PM2-V2, SPG-1A.

Senapan sniper: SPR-1, SPR-2, SPR-3. Senapan mesin: SM-3, SM2-V2, SM2-V1. Meriam: ME-105 mm Howitzer. Senjata genggam: Revolver, Pistol G2 Combat, Pistol G2 Elite, Pistol P3-V1. Peluncur Mortir: MO-1, MO-2, MO-3

SS2, Senjata Made in Bandung Pesaing AK47 & M16


PT Pindad (Persero) sejak tahun 2006 telah meluncurkan senapan serbu terbaru, SS2. Dibuat dengan 4 varian, SS2 buatan Pindad di Bandung ini, dirancang dengan konsep andal dan akurat.

Konsep ini, mengadopsi pada keandalan senapan serbu AK47 buatan Rusia dan keakuratan senapan serbu M16 buatan Amerika Serikat (AS). Bahkan, dari konsep awal, SS2 merupakan senapan serbu yang lebih unggul dan memiliki kemampuan di atas senapan AK47 dan M16.

“Keunggulan SS2 itu lebih ringan. Kita adopsi dari senapan serbu AK(47) dan M16 dari AR15 Italia. Kita adopsi. Mana yang terbaik kita ambil. Secara akurasi kita di tengah-tengah AK dan M16,” tutur Kepala Departemen Produksi I Pindad, Diding Sumardi kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

SS2 buatan Pindad ini, mengadopsi dari komponen senapan yang dimiliki oleh SS1. Saat ini, di dalam senjata serbu ini, memiliki 135 komponen atau lebih dikit daripada komponen SS1.

“Tapi yang ngadopsi dari SS1 sekitar 30 komponen. SS1 itu lisensi. Itu lisensi Belgia tahun 1988 kalau SS2 itu full kita sendiri dan hasil karya kita. Kalau SS2 baru tahun 2006 dan diproduksi dengan 4 varian,” tambahnya.

Selain unggul dari sisi konsep dan desain, SS2 made in Bandung ini, terbukti mampu unggul di dalam kejuaraan menembak militer level internasional. Dengan SS2, TNI mampu menjadi juara umum menggalahkan negara-negara ASEAN dan negara lain yang rata-rata menggunakan senjata jenis AK47 dan M16.

“Kejuaraan AASAM (Australian Army Skill At Arms Meeting) tahun 2012 di Australia, kita juara umum. Kita (TNI) pakai SS2 dan pintol G2,” tegasnya.

Saat ini, dengan 4 varian,SS2 dijual dari harga Rp 8 juta per unit. Varian yang ditawarkan antara lain: SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4, SS2-V5.

Pindad Jual Senapan Sniper Ala Rambo

PT Pindad (Persero) mampu membuat senapan khusus untuk keperluan para penembak jitu alias sniper seperti yang tampak pada film Rambo IV. Penasaran seperti apa? Yuk, simak di sini.

Senjata tersebut muncul dalam film yang dibintangi aktor kawakan Sylvester Stallone dalam sebuah adegan operasi penyelamatan sandera. Salah satu anggota tim Rambo ada yang menggunakan senjata sniper jarak jauh.

Senjata jenis yang sama dipakai dalam film itu bisa ditemui di pabrik senjata milik Pindad. Dibuat di Bandung, SPR-2 buatan Pindad mampu menembak hingga jarak 2.000 meter atau 2 kilometer.

Kuatnya daya jangkau amunisi dan senjata SPR-2 ini karena menggunakan peluru kaliber 12,7 mm x 99 atau disebut kaliber 50 dengan kapasitas per magasin 5 peluru.

“Ini merupakan senjata Sniper terjauh buatan Pindad,” demikian disampaikan Kepala Departemen Produksi I Pindad, Diding Sumardi kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

Diding menuturkan, senjata ini dilengkapi dengan peredam dan mampu menembus baja setebal 2 cm. Harganya, dibandrol Rp 138 juta per unit.

Senjata ini, telah dijual sebanyak 110 pucuk kepada TNI termasuk untuk Kopassus TNI AD. Selain SPR-2, Pindad memproduksi varian lainnya yakni SPR-1 dan SPR-3, dengan daya tembak efektif 900 meter.(feb/ang)
 
  ● detixFinance  

Pabrik Senjata di Bandung (1)

Pabrik Senjata di Bandung

Bandung • Indonesia sudah punya pabrik pembuatan senjata dan amunisi sejak zaman kolonial Belanda. Pada tahun 1983, di bawah pengelolaan dan penugasan BJ Habibie kala itu, PT Pindad menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Akhirnya, Pindad menjelma menjadi prosuden senjata dan amunisi kelas internasional yang berkiblat ke Eropa dan NATO (North Atlantic Treaty Organization). detikFinance memperoleh kesempatan untuk melaksanakan wawancara khusus terhadap Direktur Utama Pindad, Adik Soedarsono serta berkunjung dan berkeliling untuk melihat proses produksi produk-produk unggulan di pabriknya yang terletak di tengah-tengah kota Bandung, Jawa Barat.

Saat ini, Pindad memiliki 2 lokasi pabrik yakni di Turen, Malang, Jawa Timur seluas 160 hektar yang memproduksi berbagai macam amunisi atau eksplosif, serta di Bandung seluas 66 hektar yang fokus di bidang mekanik.

Di Bandung, detikFinance memperoleh penjelasan dan melihat proses pembuatan berbagai jenis produk senjata dan kendaraan tempur unggulan Pindad seperti Panser ANOA 6X6, Mobil Tempur Komodo terbaru hingga berbagai jenis senapan serbu.

Namun untuk masuk ke area pabrik, prosedur ketat harus dilalui, yakni didampingi oleh seorang petugas keamanan dan dilarang mengambil gambar pada area tertentu. Hal ini disampaikan oleh Humas Pindad yang mendapingi berkeliling pabrik.

“Mas, di sini (proses perakitan) nggak boleh foto ya, nanti ambilnya waktu produknya sudah jadi dan mohon izin sama penanggung jawab bengkel dulu,” tutur Ami kepada detikFinance, di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

Saat masuk di area Divisi Kendaraan Khusus/KFK, tampak para pekerja sedang sibuk merakit kerangka Panser ANOA dari lempengan baja untuk dirangkai menjadi bodi utuh. Ketika berpindah ke gedung tempat ANOA diselesaikan, staf Divisi Kendaraan Khusus, Sena Maulana memaparkan tentang asal muasal produksi ANOA hingga produk terbaru dari divisinya yakni kendaraan tempur bernama Komodo atau Humvee versi Indonesia.

Dengan rinci dan tenang, pegawai muda Pindad ini, menjelaskan proses awal dari ide hingga produk kendaraan berhasil diproduksi di Pindad. Bahkan ia mengaku ada rencana Pindad untuk meluncurkan tank tempur pertama Indonesia.

“Kita akan luncurkan prototype tank jenis light (ringan), yakni pengembangan panser dengan roda rantai,” tambahnya.

Usai memperoleh penjelasan cukup panjang dari Sena, detikFinance dan staff Pindad yang mengiringi berkeliling pabrik, menggunakan mobil kemudian berlanjut ke gedung produksi dan ruang pamer senjata.

Setelah sampai di area Divisi Sejata, meskipun didampingi oleh pegawai Pindad dan petugas keamanan, kami harus melewati beberapa gerbang khusus berlapis dan pengecekan keamanan super ketat. Bahkan tidak sembarangan pegawai Pindad bisa leluasa lalu lalang memasuki area ini.

Pengamanan tertinggi memang berada di area Divisi Senjata. Namun prosedur tetap harus dilewati. Sesampainya di area Divisi Senjata, Kepala Departemen Produksi I, Diding Sumardi bertugas memberikan penjelasan dan mendampingi detikFinance melihat proses produksi.

Di bagian produksi senjata ini, Diding menjelaskan pegawai bekerja hampir 24 jam karena banyaknya pesanan. Hal ini terjadi juga, pada Divisi Amunisi yang terletak di Turen Malang. Pria paruh baya ini bertutur, Pindad telah mampu memproduksi puluhan jenis senjata mulai senjata serbu versi terbaru hingga senjata mesin berat, meriam dan sniper jarak jauh.

Dengan kemampuan mesin dan produksi terbaru dari dana suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 300 miliar, Pindad telah mampu memproduksi hingga 40.000 senjata per tahun.

“Kita bisa produksi senjata ekuvalen 40.000 SS2 per tahun. Itu bukan berarti SS2 saja, “ tambahnya.

Dirut Pindad menuturkan, saat ini, dengan 4.000 karyawan, Pindad telah memperoleh banyak pesanan dari TNI meskipun potensi dan kapasitas Pindad belum tergarap maksimal. Bahkan, secara bisnis dan keuangan, Pindad dipandang telah bankable oleh perbankan.

Terkait prosedur keamanan yang sangat ketat dan berlapis, Adik mengaku, prosedur ini ditempuh karena pihaknya belajar dari kasus pencurian senjata yang pernah dilakukan oleh oknum pegawai Pindad. Sehingga ini merupakan bentuk pencegahan.

“Habis itu, kita perketat. Ada orang yang bisa masuk ke darah mana dan ada yang nggak bisa. Dari pagar bikin berlapis-lapis. Pasang CCTV. Sekarang kunci dipegang beberapa orang. Kita pisahkan sekarang mana, spare part dan barang siap jual. Dulu kita samakan. Sekarang kita pisahkan. Peti kita segel. Dulu kita yang belum jelas, peti dibuka. Sekarang ada preventive,” tegasnya.

Peran Besar Habibie & JK Bangkitkan Pabrik Senjata RI

Kebangkitan pabrik senjata dan kendaraan tempur pelat merah, PT Pindad (Persero) tidak lepas dari pengaruh dua orang. Keduanya adalah mantan Presiden Republik Indonesia (RI) BJ Habibie dan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK).

Pada 1983, Habibie membangun dan meletakkan konsep pengembangan industri senjata dan produk non senjata. Hingga kemampuan Pindad lebih banyak berkiblat pada Eropa. Hal ini diakui oleh Direktur Utama Pindad Adik Soedarsono.

“Waktu kita dikembangkan oleh Pak Habibie tahun 1983, selain diberikan teknologi militer, kita juga diberikan teknologi komersial. Pak Habibie, itu pandangannya panjang, orang belum mikir ke sana dia sudah mikir. Nah, akhirnya, setelah kita rasakan sekarang, yang mampu hanya kita pak,” tutur Adik kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

Kemampuan merancang produk non militer atau senjata seperti peralatan kereta api dan generator listrik yang dipersiapkan oleh Habibie kala itu. Sekarang terbukti manfaatnya bagi Pindad.

Untuk komponen khusus seperti Brake Coupling untuk kereta atau generator listrik, di Indonesia hanya Pindad yang mampu memproduksinya. Di samping Pindad tetap unggul dalam memproduksi peralatan militer seperti kendaraan tempur, senapan ringan hingga berat dan amunisi.

“Teknologi kereta api juga, di kereta ada air brake, ada lintasan. Gerbong kereta api ada sisi remnya, itu hanya Pindad yang bisa bikin terus ada juga motor traksi di KRL. Itu yang bisa, kita juga,” tambahnya.

Selain Habibie, ada satu sosok satu lagi yang merupakan titik balik penyelematan dan pengembangan Pindad dari masa susah pasca krisis ekonomi 1998. Pasca krisis, selama kurang lebih hampir 10 tahun, kemampuan Pindad kurang diberdayakan padahal potensi sumber daya manusia dan kapasitas produksi Pindad sangat mumpuni.

Ketika Jusuf Kalla tahun 2007 masih menjadi Wakil Presiden Indonesia, datang ke kantor Pindad di Bandung. Di sana, JK melihat potensi Pindad yang besar namun kemampuannya tidak digunakan secara maksimal.

Akhirnya, JK kala itu, memberi order senilai Rp 1 triliun lebih untuk membuat Panser ANOA 6x6 bagi TNI. Disitulah titik awal kebangkitan Pindad pasca krisis ekonomi 1998.

“Di jaman susahnya, Pak JK datang ke sini tahun 2007. Memberikan pekerjaan ke kita yang mana TNI kala itu tidak memberikan. Itu proyeknya senilai Rp 1,129 triliun. Beliau ke sini lihat kemampuan kami, lihat ada satu peluang. TNI butuh produk (panser). TNI bilang butuh barang itu, tapi (JK) nggak bilang beli dari Pindad. Oke, saya beli kasihin ke TNI. Jadi waktu TNI dikasih perintah itu, TNI berpikir barangnya bagus atau jelek. Dia nggak tahu dan dia dikasih barang itu (Panser ANOA),” katanya.

Berawal dari pesanan sekala besar melalui perantara JK saat itu, dari awalnya TNI kurang percaya terhadap Panser ANOA, kemudian berujung pada kepuasan terhadap Panser ANOA.

“Ternyata setelah pakai itu suka. Sekarang sudah dipakai 150, serta total sudah 280 (pesan). Tapi sudah deliver 230 ANOA,” tegasnya.

Dulu Diragukan, Pindad Kini Hasilkan Senapan Standar NATO


Pasca begulirnya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 42 Tahun 2010, industri pertahanan tanah air seperti memperoleh angin segar. Salah satunya PT Pindad (Persero).

Dari produsen senjata dan amunisi yang kurang dipercaya kemampuannya selama puluhan tahun, serta di dalam negeri produknya dipandang sebelah mata, Pindad kemudian mampu menjelma menjadi produsen produk militer kelas dunia.

“Kalau dulu yang terkenal amunisi dan senjata tapi dia (TNI) nggak mau lihat lagi, Pindad bisa bisa bikin lebih dari itu,” tutur Direktur Utama Pindad, Adik Soedarsono kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

Dengan visi ingin melayani TNI dan Polri, Pindad mampu memproduksi senjata,amunisi hingga kendaraan tempur kelas ringan dan berat yang mengadopsi dan berkiblat ke industri militer Eropa dan NATO (North Atlantic Treaty Organization).

“Kita kualitas Eropa dan Standar NATO. Kita mengkualifikasikan dan mengikuti kaidah NATO. Tapi kita nggak disertifikasi nanti produknya mahal jadi kita nggak diujikan. Standar seperti itu, karena yang ngajarin kita itu orang NATO,” ujarnya.

Berkat kualitas dan standar tinggi yang dipakai Pindad, dampaknya pada pesanan yang diperoleh. Pindad sampai harus menolak berbagai order untuk produk tertentu.

Bahkan divisi senjata dan amunisi harus bekerja selama 24 jam setiap harinya untuk memenuhi permintaan dari dalam dan luar negeri. Karena kemampuannya ini, produk senjata dan amunisi Pindad diakui hingga negara ASEAN dan Amerika Serikat (AS).

“Tahun 2012 kemarin sudah ke Australia dan Amerika tahun 2011 (Amunisi). Itu untuk kaliber yang kecil-kecil saja. Setidaknya dia mengakui kualitas kita,” tambahnya.

Bahkan panser asli buatan Pindad ANOA 6x6 yang kini menjadi salah satu pilihan dan andalan TNI, mengadopsi teknologi dan konsep panser VAB buatan Prancis.

Sementara, senapan serbu SS2 buatan Pindad mengacu pada senapan M16 buatan Amerika Serikat dan AK 47 buatan Rusia. Serta PM2 versi Pindad mengadopsi senapan anti teror MP5, pasukan SWAT.

  ● detikFinance  

☆ Panglima Perdamaian Dunia

Israel menyetujui Rais Abin sebagai panglima pasukan PBB. Padahal dia dari negara yang tidak mengakui negara Israel.

Aryono

SETELAH lama mengalami masa diaspora, bangsa Israel berusaha kembali ke tanah yang dijanjikan. Mereka mendambakan rumah bagi bangsa Yahudi sendiri. Dan Palestina menjadi pilihan mereka, sebagai tanah yang dijanjikan. Dari sini, perang pun dimulai. Perang Arab-Israel pertama pecah pada 1948.

Israel menang meski dikeroyok enam negara Arab. Peperangan berikutnya terjadi pada 1956, 1967, dan 1973. Keadaan genting di Timur Tengah mendorong pembentukan pasukan perdamaian PBB (UNEF).

Indonesia mengirimkan Kontingen Garuda yang tergabung dalam UNEF. Suatu kali Rais Abin, kala itu pengajar Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, sedang bermain tenis dengan Himawan Sutanto, panglima Kodam Siliwangi. Mendadak datang tawaran untuk menjadi kepala staf UNEF II di Sinai, Mesir.

Pada Desember 1975, dia tiba di Kairo. Di tengah sergapan hawa dingin yang tengah melanda Mesir, dia segera menuju ke Ismailia, markas besar UNEF II, di tepian Sungai Nil. Dia diangkat menjadi kepala staf UNEF II pada Januari 1976. Dia menjadi perwira pertama Indonesia yang menjabat posisi penting tersebut.

Setahun kemudian, Rais Abin diangkat menjadi panglima UNEF II. Dukungan unik datang dari pihak Israel. “Suatu preseden yang unik bahwa kami menyetujui panglima pasukan PBB dari negara yang tidak mengakui Israel. Kami tidak keberatan, tetapi masih ada masalah politis,” ujar Shimon Peres, menteri pertahanan Israel, dalam biografi Rais Abin Mission Accomplished karya Dasman Djamaluddin.

Rais Abin selalu berpegang teguh pada asas diplomasi, terutama untuk mengatasi masalah Arab-Israel. Dia tak bosan bolak-balik dari Sinai (Mesir) ke Jerussalem (Israel). “Waktu itu saya seperti memiliki dua istri, bolak-balik Mesir-Israel, semata-mata supaya kedua belah pihak mau berdialog,” kata Rais Abin.

Anwar Sadat, presiden Mesir, akhirnya mengakui berdirinya negara Israel dan menghentikan perang.

Pasukan perdamaian yang dipimpin Rais Abin mendapat pujian dari Sekretaris Jenderal PBB Kurt Waldheim, menyebutnya sebagai pasukan perdamaian tersukses. Rais Abin menyelesaikan tugasnya sebagai panglima UNEF II pada 11 September 1979.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB Brian Urquhart menawarinya tugas baru di Namibia, Afrika. Rais Abin menerima tawaran tersebut asalkan PBB memberitahu pemerintah Indonesia.

Namun permintaan PBB ditolak Menteri Pertahanan dan Keamanan M. Jusuf karena tenaga dan pikiran Rais Abin dibutuhkan di tanah air.

Rais Abin lahir di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 15 Agustus 1926, menyandang pangkat terakhir sebagai letnan jenderal. Pada awal kemerdekaan dia bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Dia membangun biduk keluarga bersama mantan wartawati harian Pedoman, Dewi Asiah, dan dikaruniai tiga anak.

  ● Historia™  

[Foto] Perawatan Alutsista TNI AL


Sejumlah pekerja dan anggota TNI AL melakukan perawatan pada KRI Rencong di Dermaga Markas Komando Armatim, Surabaya, Jatim, Jum'at (19/4).

Perawatan rutin ini dilakukan secara rutin untuk mempersiapkan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). FOTO ANTARA/Dwi Agus Setiawan/EI/nz/13.



  ● Antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...