Senin, 09 September 2013

Cayman Capai 2000 JT dan King Bee 1000 JT

http://www.majalahpotretindonesia.com/images/--100015.jpgRAUT wajah Mayor Pnb Agung “Cayman” Indrajaya dan Kapten Pnb Dedi Andres ”King Bee” Saputra terlihat senang dan gembira tatkala Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Ir. Novyan Samyoga menyematkan bagde 2000 Jam Terbang (JT) dan 1000 Jam Terbang (JT) kepada masing-masing penerbang tersebut. Pencapaian prestasi yang membanggakan tersebut bukan hanya milik kedua penerbang tersebut namun bagi kesatuan dan seluruh personel Skadron Udara 1 Elang Khatulistiwa Lanud Supadio.

”Dengan memperoleh 2000 dan 1000 Jam Terbang berarti seorang penerbang mampu melaksanakan tugas dengan safe dan tingkat profesionalisme yang tinggi. Hal ini berarti skill sebagai penerbang Hawk meningkat dan jiwa airmanship-nyapun tinggi,” kata Danlanud Supadio pada upacara penyematan badge 2000 dan 1000 JT pesawat Hawk 100/200 di depan crew room Skadron Udara 1, Jum’at (5/9).

Dengan dilaksanakan upacara tradisi ini, lanjut Danlanud, tentunya akan memberikan kebanggaan dan motivasi bagi para penerbang yang belum meraihnya, dan hal ini tentunya dapat memacu semangat untuk dapat mencapainya. Keberhasilan seorang penerbang meraih prestasi tersebut tentunya tidak diraih dengan mudah, namun harus dengan kerja keras, dedikasi tinggi, kesehatan yang prima, dan selalu mengasah kemampuan terbang serta didukung oleh kesiapan pesawat.

Mayor Pnb Agung Indrayaja merupakan alumni TNI Angkatan Udara (AAU) tahun 1999 dan Alumni Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan 62 tahun 2002 sedangkan Kapten Pnb Dedi Andres Saputra alumni AAU tahun 2005 dan Sekbang Angkatan 74 tahun 2007. Turut hadir pada upacara penyematan badge 1000 jam terbang para Kadis, Komandan Satuan, para penerbang dan perwira teknik serta anggota Skadron Udara 1. Setelah upacara berakhir satu persatu peserta upacara memberikan ucapan selamat kepada kedua penerbang yang berhasil mencapai 2000 dan 1000 jam terbang.(pentak supadio)

  ● MPI  

Minggu, 08 September 2013

Indonesia Jadi Tuan Rumah Latihan Penanggulangan Teroris

Dalam latihan tersebut akan melibatkan anggota TNI sebanyak 405 dari personel TNI.

TAHUN ini, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggara Asean Defence Minister Meeting (ADMM) dan Amerika Serikat sebagai deputi penyelenggaranya. ADMM adalah pertemuan tahunan menteri-menteri pertahanan se- dunia yang rencanya akan diadakan 9 -13 September mendatang di Indonesian Peace and Security Center (IPSC), Sentul, Bogor.

Salah satu agenda dalam ajang ini adalah latihan antiteror atau penanggulangan terorisme.

"Indonesia bersama Amerika Serikat ditunjuk untuk melakukan latihan penanggulangan teroris," kata Direktur latihan Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo dalam jumpa pers di kantor Kemenhan, Rabu (4/9/2013).

Dalam latihan tersebut akan melibatkan anggota TNI sebanyak 405 dalam kesiapan simulasi penangkapan teroris dari personel TNI.

Terdapat 18 negara yang terlibat dalam kerja sama ini terdiri dari 10 negara Asean dan 8 negara mitra, yaitu Australia, Amerika Serikat, China, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia, India, dan Jepang.

Berikut Foto2 demonstrasi Pasukan Khusus Anti Teror diposkan gombaljaya (Kaskuser):


  ● Pelita Online 

TNI AL Siapkan Flagship

TNI AL, sebagai kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara dengan sejarah panjang dalam pengabdiannya.

AL Siapkan Flagship Kekuatan Militer
Kapal Flagship Indonesia dahulu
Menjaga keutuhan bangsa dari gangguan dan ancaman baik dari dalam maupun di luar wilayah kesatuan Indonesia. untuk mengantisipasi serangan laut, TNI telah mempersiapakn kelengkapan sebuah kapal perang.

Sebuah Negara bangsa yang memiliki kekuatan militer adalah sebuah keharusan. Khususnya Angkatan Laut yang bila memiliki flagship. Bila dicerna lebih dalam, flagship adalah kapal utama yang punya spesifikasi persenjataan paling mumpuni di suatu armada.

TNI AL, sebagai kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara dengan sejarah panjang dalam pengabdiannya, mengenal flagship dalam beberapa periode. Apalagi Indonesia disebut sebagai negara bahari. Sebuah negara bahari sudah jelas memiliki armada militer yang kuat.

Tentu saja Satuan kapal patroli (Satrol) TNI AL mengemban tugas yang tak ringan, di tangan satuan inilah dipecayakan operasi ‘ronda’ di sekitaran perairan dangkal NKRI yang padat aktivitas ekonomi kelautan.

Untuk menjalankan tugas patroli tersebut, Satrol di Armada Barat (Armabar) dan Armada Timur (Armatim) dilengkapi dengan kapal-kapal bertonase ringan, lincah bermanuver, dan relatif punya kecepatan tinggi.

  ● Pelita Online  

Indonesia Siap Kirim Pasukan Perdamaian

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhj6k7axWDj61K6Lpn3B-VGndksdr3shBj96bW5Q74sEEP6YkKT6GP53KM6k101XwcWxt_nB2hN-6Q-A7EucgrSDJtOzgJRTLHNMi7dJC4kdQq8POa_NJL8kZSGfbIQRWm2M-PjQ6I0ak/s200/lorengna.jpgIndonesia siap mengirimkan pasukan perdamaian ke Suriah bila PBB berhasil memaksa pihak berkonflik untuk gencatan senjata. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, gencatan senjata cara yang dapat ditempuh PBB untuk menyelesaikan konflik Suriah yang semakin memanas dan bisa tidak terkendali.

"Saya terus menjalin komunikasi dengan Sekjen PBB dan sejumlah kepala negara untuk mencari solusi mengakhiri konflik Suriah ini," kata Presiden SBY di dalam pesawat kepresidenan dari penerbangan St Petersburg menuju Dubai dan Jakarta, Sabtu.

Dalam pertemuan pemimpin dunia di G-20 Petersburg, Rusia, Presiden menyampaikan opsi penyelesaian konflik Suriah, di luar opsi yang kini berkembang, yakni opsi militer dan opsi diplomasi. Menurut Presiden, harus ada opsi alternatif, yakni gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan oposisi.

Di Petersburg, kepada Sekjen PBB, Ban Ki Moon yang didampingi utusan khusus PBB untuk Suriah dan Liga Arab, Lakdhar Brahimi, Presiden menyarankan DK PBB segera memutuskan gencatan senjata dan memberi mandat pasukan perdamaian. Setelah gencatan senjata dilaksanakan atas mandat PBB, dilanjutkan pengalokasian bantuan kemanusian, dan penyelesaian politik yang transparan oleh rakyat Suriah.

Presiden mengatakan, kemampuan Indonesia untuk menyelesaikan konflik Suriah ini terbatas. Indonesia bukan negara super power, bukan pula negara yang memiliki hak veto, juga bukan anggota DK PBB. Namun, sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menghindari tragedi kemanusiaan di Suriah.

"Saya terus bekerja, melakukan dialog, komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara berpengaruh. Namun perlu juga dipahami bahwa posisi Indonesia tidak cukup kuat untuk penyelesaian konflik ini, namun kita tidak berdiam diri saja," ujar Presiden.

Sehari sebelum kembali dari Rusia, Presiden SBY bertemu Sekjen PBB Bang Ki Moon di St Patersburg, Rusia. Presiden menegaskan penyelesaian konflik Suriah tidak tepat melalui kekuatan militer. "Tidak tepat aksi militer untuk tujuan menghukum atau mencegah senjata kimia di Suriah tanpa kesepakatan PBB. Kekuatan militer bukan solusi yang baik, kita tidak menghendaki solusi itu," ujar Presiden dalam jumpa pers usai KTT G-20 di St Petersburg.

Konflik Suriah menjadi perhatian besar pertemuan pemimimpin puncak G-20 di Petersburg. Apalagi, semua pemimpin negara yang memiliki hak veto PBB hadir dalam pertemuan tersebut, yakni Presiden AS, Presiden Rusia, Presiden China, PM Inggris, dan Presiden Prancis. Lima negara pemilik hak veto tersebut mempunyai pandangan berbeda dalam penyelesaian soal Suriah ini, ada yang setuju kekuatan militer, ada yang menolak.

Rusia salah satu penentang penggunaan kekuatan militer. Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, serangan terhadap Suriah tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB, sama artinya melakukan agresi militer. Putin juga menyebutkan, pemimpin Suriah Bashar al Assad tidak mungkin menginzinkan pasukannya menggunakan senjata kimia.

Para analis menduga, Presiden Barack Obama berupaya meyakinkan negara-negara G-20 untuk menyetujui rencana AS menyerang Suriah dengan alasan senjata kimia. Namun, upaya ini disambut dingin. Para pemimpin dunia yang hadir di KTT ini cenderung menyerahkan soal ini ke Dewan Keamanan PBB dan mendorong penyelesaian politik daripada kekuatan senjata.

Presiden Dewan Eropa, Herman Van Rompuy di St.Petersburg menyatakan, solusi memnyelesaikan persoalan Suriah bukan dengan kekuatan militer. "Jangan ada solusi militer, hanya penyelesaian politik yang dapat menghentikan konflik di Suriah," katanya.

Seruan serupa juga disampaikan Presiden Komisi Eropa, Jose Barroso. "Uni Eropa berkeyakinan bahwa harus ada upaya keterlibatan melalui solusi politik bagi konflik tersebut," kata Barosso.

  ● Jurnas 

☆ Kisah Sultan Hamid II, pemberontakan menteri pembuat garuda

Sultan Hamid II adalah seorang menteri di Kabinet Indonesia Serikat (RIS). Dia berjasa menciptakan lambang Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara Indonesia. Kenapa Sultan Hamid II akhirnya memberontak?

Banyak yang menilai Sultan Hamid II tidak puas dengan jabatan yang diberikan Soekarno. Dia hanya menteri tanpa portofolio yang bertugas menyiapkan acara kenegaraan dan lambang negara.

Hamid yang mantan opsir Belanda ini ingin menjadi menteri pertahanan RI. Alasannya, Hamid adalah perwira lulusan Akademi Militer Belanda. Dia kemudian diangkat menjadi jenderal mayor, pangkat tertinggi bagi perwira pribumi di Tentara Hindia Belanda atau KNIL.

Bandingkan dengan Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang yang 'cuma' dari Akademi Militer Belanda di Bandung. Atau Nasution yang 'cuma' lulusan Sekolah Perwira Cadangan Tentara Belanda. Sebagai lulusan Breda dan mantan tentara Hindia Belanda, tentu Hamid merasa lebih unggul.

Saat ditawari Westerling bergabung, Sultan Hamid II setuju. Westerling kemudian membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Anggotanya berasal dari Pasukan KNIL yang tak mau bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

APRA pimpinan Westerling menyerang Bandung. Mereka membunuh dengan kejam para prajurit Siliwangi. Namun aksi ini tak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, gerakan APRA bisa ditumpas oleh TNI. Niat mereka untuk melakukan kudeta ke Jakarta gagal karena suplai senjata yang mereka tunggu tak kunjung datang. Perlawanan ini dipatahkan di Cianjur dan Cikampek oleh TNI.

Maka Westerling dan Hamid menyusun rencana untuk menyerang sidang Kabinet RI di Jl Pejambon, Jakarta Pusat, tanggal 24 Januari 1950. Target yang akan dibunuh adalah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo dan Kepala Staf Angkatan Perang, TB Simatupang.

Penyerangan direncanakan pukul 19.00 WIB. Westerling bersama satu truk pasukannya telah siap. Namun saat dia hendak menyerang, ternyata Sidang Kabinet sudah bubar sekitar pukul 18.35 WIB. Sultan HB IX, Ali Budiarjo dan TB Simatupang serta semua pejabat penting RI sudah meninggalkan Jalan Pejambon.

Rencana pembunuhan ini gagal. Westerling kemudian melarikan diri. Sementara Sultan Hamid II berhasil ditangkap di Hotel Des Indes beberapa waktu kemudian.

Rencana membunuh Sultan HB IX adalah akhir petualangan Westerling di Indonesia. Dia kemudian dilarikan dengan pesawat Angkatan Laut Belanda ke Singapura, lalu ke Eropa dan akhirnya sampai ke Belanda.

Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.(mdk/did)

  ● Merdeka   
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...