Minggu, 07 September 2014

3 Kapal Selam Akan Perkuat Alutsista TNI AL

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/1b/ChangBogoSSK061Typ209Uboat.jpgIlustrasi Chang Bo Go

3 Kapal selam akan memperkuat alat utama sistem pertahanan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Ketiga kapal selam itu akan tiba di Tanah Air pada 2017 mendatang.

"Pada zaman jayanya dulu, Indonesia pernah memiliki 12 armada kapal laut. Saat ini, kita hanya memiliki dua. Di tahun 2017 akan datang 3 lagi. Sehingga nanti ke depannya akan kembali lagi ke arah 12," kata Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Chairul Tanjung usai mendapatkan penghargaan sebagai warga penghormatan dari TNI-AL di Pelabuhan indah Kiyat, Merak, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (6/9/2014).

Kapal selam merupakan alutsista strategis bagi sebagian besar negara di dunia, termasuk di Indonesia. Namun, kini keadaan alutsista bawah bawah laut ini sangat memprihatinkan.

Indonesia hanya memiliki 2 unit kapal selam jenis 209/1300 yang diberi nama KRI Nanggala 401 dan 402. Kapal selam ini merupakan produksi Howaldtswerke, Kiel, Jerman Barat tahun 1981.

Saat zaman kejayaan angkatan perang Indonesia, TNI AL sempat memiliki 12 kapal selam kelas Tjakra buatan Rusia (kelas Whiskey) yang dihapus tahun 1970-an. Kapal jenis ini pernah terlibat dalam penugasan perebutan Irian Barat agar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

"Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17 ribu lebih pulau. Di mana dua pertiganya merupakan lautan, maka dibutuhkan angkatan laut yang kuat," terang dia.

KRI Nanggala 402 memiliki berat selam 1,395 ton dengan panjang 59,5 meter, lebar 6,3 meter dan tinggi 5,5 meter. Kapal selam ini digerakkan oleh tenaga mesin elektrik 4 diesel dengan kecepatan laju maksimal 21,5 knot.

Meski tua, kapal selam andalan Indonesia ini pernah ikut serta dalam latihan tempur bersama dengan Angkatan Laut Amerika Serikat, US Navy, dengan sandi Cooperation Afloat Readiness and Training/CARAT pada 27 Mei-3 Juni 2002 di perairan Laut Jawa dan Selat Bali. Selanjutnya dalam Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) XV/04 di Samudera Hindia pada 8 April-02 Mei 2004.(Ali)

  ★ Liputan 6  

[World Article] 2 Pilot China Tewas Saat Uji Coba Penerbangan di Kapal Induk

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNzjABUuCiIPF0o5y8pSY71BfQ6eIt7E2gNGg4P13QOzFBC_902HNn2A_b0JaGnxqwgWAm02nY-JXbwHSfshSv19bCdHrYXJK1x3inHZkiBp7lY787jli5w2zGVE2X0s3OzqxWhf4Tm7s/s1600/liaoning.jpgDua pilot uji coba China telah tewas selama program pengembangan kemampuan pesawat tempur berbasis kapal induk negara itu, media pemerintah China melaporkan. Sebuah pengakuan yang cukup langka mengingat ini adalah program unggulan Angkatan Laut China (PLAN).

Pengakuan tersebut tertuang dalam sebuah laporan kantor berita resmi Xinhua yang mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping telah menandatangani perintah pemberian gelar kehormatan kepada kedua pilot skadron pertama yang melakukan lepas landas dan mendarat di kapal induk Liaoning, satu-satunya kapal induk milik China.

"Dua pilot itu telah mengorbankan hidupnya untuk pengujian," kata laporan itu. Namun laporan Xinhua yang bertanggal 27 Agustus (dilansir dari USNI) tidak memberikan rincian lebih lanjut. Tidak dilaporkan kronologis kejadiannya, siapa pilot yang tewas, bagaimana kondisi pesawatnya dan bagaimana kondisi kapal induk Liaoning. Laporan tersebut juga tidak mengungkapkan kemajuan atau kendala yang dihadapi program penerbangan kapal induk Liaoning. Namun yang pasti, kedua pilot ini menerbangkan pesawat tempur J-15, yang diproduksi sendiri oleh China berdasarkan Sukhoi Su-33 tanpa lisensi dari Rusia.

Laporan IHS Jane pada Jumat menyimpulkan bahwa kemungkinan sudah ada 2 pesawat tempur J-15 yang hilang karena uji coba lepas landas dan mendarat di kapal induk Liaoning ini.

 J-15 

Misi penerbangan dari dan ke kapal induk secara inheren sangatlah berisiko. Seorang analis kelautan Eric Wertheim - penulis U.S. Naval Institute’s (USNI) Combat Fleets of the World- mengatakan bahwa kecelakaan atau dua pilot China seperti itu bukanlah hal yang tidak biasa. "Hal ini tidak mengejutkan saya," katanya kepada USNI News pada Jumat. "Penerbangan di kapal induk adalah misi yang berbahaya, terutama ketika Anda baru memulai pertama kali."

China dilaporkan mempelajari penerbangan di kapal induk dari pilot Angkatan Laut Brazil - yang mengoperasikan kapal induk bekas Prancis era 1960 yang ukurannya sepertiga dari ukuran kapal induk Kelas Nimitz Amerika Serikat.

Pada akhir 2012, China mengumumkan telah memulai uji coba pesawat tempur pada kapal induk Liaoning, memacu gelombang kebanggaan patriotik negara itu. Televisi, surat kabar dan media-media internet China ramai mempublikasikan aksi-aksi pesawat-pesawat tempur mereka yang lepas landas dan mendarat di kapal induk Liaoning.

Meskipun baru, PLA tampaknya belajar lebih cepat dari dugaan AS. Pada tahun 2013, Vice Adm. Ted Branch - yang kemudian menjadi komandan U.S. Navy’s Atlantic Air Arm dan sekarang menjabat Director of Naval Intelligence - mengatakan bahwa: "China belajar dengan cepat dan mereka banyak mengambil pelajaran dari kita," ujarnya dalam sebuah simposium pertahanan pada 2013 lalu.

AS diketahui telah kehilangan ribuan kru dan pesawat demi mempelajari bagaimana mengoperasikan pesawat dari kapal induk. Dari tahun 1949-1988, Angkatan Laut dan Korps Marinir AS telah kehilangan hampir dua belas ribu pesawat dari semua jenis (helikopter, pesawat latih, pesawat patroli, dan pesawat tempur) dan lebih dari 8.500 kru (pilot dan kru udara di kapal induk), menurut buku "One Hundred Years of U.S. Navy Airpower" karangan Robert C. Rubel.

Liaoning hingga saat ini masih menjalani uji coba laut dan pejabat pertahanan China juga belum mengonfirmasi kapan kapal induk ini akan bertugas atau kapan kapal ini dilengkapi dengan pesawat tempur.

Sedikit mengupas Liaoning, China setidaknya telah menghabiskan waktu satu dekade untuk memperbaiki kapal induk terlantar era Uni Soviet yang dibeli dari Ukraina ini sebelum akhirnya diresmikan dengan nama Liaoning pada 2012 lalu. Dibandingkan dengan kapal induk AS, Liaoning masih kalah dalam urusan kecepatan, ukuran dan kapasitas pesawat yang mampu dibawa. Namun Liaoning adalah langkah awal dari ekspansi besar Angkatan Laut China untuk membangun kapal-kapal induk berikutnya.

  ★ artileri  

Meledakkan Borobudur

Sekelompok orang meledakkan Borobudur. Kasus ini masih menjadi misteri. http://historia.co.id/img/foto_berita/385140825_Bom-Borobudur-1985.jpgCandi Borobudur diledakkan. 21 Januari 1985. Foto: repro koran Kompas, 22 Januari 1985.

OLEH: HENDARU TRI HANGGORO


ANCAMAN peledakan Borobudur beredar di media sosial pada 15 Agustus 2014. Menurut laman The Jakarta Post, ancaman berasal dari akun Facebook bernama “We Are Islamic State”. Polisi menanggapi serius ancaman itu untuk menghindari peledakan Borobudur jilid II. Sebab, sekelompok orang pernah meledakkan Borobudur pada 21 Januari 1985.

Jarum jam menunjuk pukul 01.20. Dua satpam Borobudur bergerak meninggalkan pos I untuk berpatroli rutin. Baru sepuluh menit berjalan, mereka mendengar suara keras. Sebuah ledakan! Keduanya berlarian. Pada langkah kesepuluh, mereka mendengar ledakan lagi. Dan lagi. “Ledakan terakhir pukul 03.40 adalah ledakan yang ke-9,” tulis Naning Indrati dalam “Sembilan Ledakan di Borobudur,” termuat di Rangkaian Peristiwa 1985.

Petugas Garnisun Magelang tiba pukul 04.30 dan lekas menyisir candi. Mereka melihat batu-batu candi berserakan. “Ledakan ternyata telah merusak 9 stupa berlubang: 3 yang berada di sisi timur batur pertama Arupadhatu, 2 lagi yang terdapat di batur kedua dan 4 lainnya di batur ketiga,” tulis Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan sekaligus tokoh pemugaran candi Borobudur, dalam Borobudur.

Pagi pukul 09.00, masyarakat dan wartawan mulai berkumpul. Tiba-tiba kegemparan melanda lagi. Petugas menemukan dua bom aktif di lantai 8 dan 9 candi. Sersan Sugianto, ahli bom dari Yon Zipur IV Polda Jateng, berhasil mencegah bom meledak.

Siang pukul 14.00, Pangdam VII Diponegoro Mayjen Soegiarto menggelar konferensi pers. Dia berusaha menenangkan masyarakat, mengumumkan bahwa tak ada korban jiwa dan candi tak rusak berat. Tapi masyarakat tetap terkejut dan khawatir situs sakral bagi umat Budha itu hancur.

“How come?” tanya Daoed Joesoef. Dia marah dan malu bom bisa meledak di Borobudur. Indonesia seketika jadi sorotan internasional. “Ledakan yang menghancurkan itu pasti mencoreng muka Ibu Pertiwi yang beradab karena ternyata masih memiliki putra yang biadab,” tulis Daoed. Dia bilang sering menerima surat kaleng dan selebaran gelap. Isinya berupa makian, hujatan, dan kutukan; bahwa Daoed seorang kafir dan bertanggung jawab atas pembangunan berhala terbesar di tanah air.

Spekulasi pelaku peledakan pun bermunculan. Pemerintah mengarahkan kecurigaan pada kelompok Islam radikal. Ketegangan antara pemerintah dan kelompok Islam meningkat sejak peristiwa Tanjung Priok September 1984 dan penolakan asas tunggal Pancasila.

Kiai Haji Haman Djafar, pemimpin Pondok Pesantren Pabelan yang berlokasi 8 kilometer dari Borobudur, mencoba membedakan aksi peledakan dari ajaran Islam. “…Perbuatan itu tidak mewakili perbuatan sesuatu agama, tetapi perbuatan orang marah,” kata Haman, dikutip Naning Indrati. Dia juga mengajak semua pihak agar mawas diri dan saling tepa slira.

Empat bulan setelah peledakan, polisi menangkap para pelaku. Antara lain Abdul Kadir bin Ali al-Habsyi dan Husein bin Ali al-Habsyi, dua bersaudara. Di pengadilan jaksa penuntut menuduh mereka meledakkan Borobudur sebagai balas dendam atas peristiwa Tanjung Priok 1984. Mereka menolak tuduhan jaksa, tapi pengadilan tetap memutuskan mereka bersalah. Abdul Kadir mendapat hukuman 20 tahun penjara, sedangkan Husein seumur hidup. Tapi Husein mendapatkan grasi dari pemerintah Habibie pada 23 Maret 1999.

Peledakan Borobudur masih menyisakan misteri. Sebab Mohammad Jawad, yang dituding Husein sebagai otak peledakan, sampai saat ini belum tertangkap.

  ★ Historia  

Legenda Sang Jenderal

Brevet Komando Kehormatan KOPASSUS IMG_20140903_153520Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mendapatkan Brevet Komando Kehormatan dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan resmi menjadi keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap Jawa Tengah, Selasa (2/9/2014) setelah sang Jenderal bintang empat mengikuti seluruh rangkaian materi Pendidikan Komando yang diselenggarakan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) Batujajar.

“Kopassus harus mampu melaksanakan tugas yang tidak biasa dan sampai bertemu dimedan pertempuran,” ujar Kasad, saat berpidato di Pantai Permisan Cilacap.

Penyematan brevet kepada Kasad dilakukan oleh Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayor Jenderal TNI Agus Sutomo, S.E. Selesai disematkan, Kasad mengucapkan tiga butir Janji Prajurit Komando yaitu tetap setia dan menepati isi dan jiwa Sapta Marga, memegang teguh dan tetap berpedoman pada Sumpah Prajurit, menjunjung tinggi dan mempertahankan derajat, nama, kehormatan dan jiwa Kesatuan Para Komando pada setiap saat, tempat dan keadaan bagaimanapun.

Sejarah Kopassus mencatat kehadiran sang jenderal dalam mengikuti latihan komando baru terjadi pertamakalinya, melaksanakan tahap demi tahap telah di laluinya oleh Jenderal TNI Gatot Nurmantyo diantaranya mulai Tahap Basis, Tahap Gunung Hutan dan terakhir Tahap Rawa Laut. Dalam latihan tersebut sang jenderal mengikuti dengan sangat antusias dan semangat bahkan tidak segan-segan mengikuti senam pagi pukul 02.00 dini hari bersama Prajurit Komando. Dan yang lebih hebatnya sang Jenderal pun ikut berendam di kolam air suci danau Situlembang dengan cuaca ekstrim yang merupakan tradisi Prajurit Komando.[A.MUNIR]

  ★ Kopassus  

[World Article] Proyek Jet Tempur Siluman India-Rusia Alami Kendala

Ilustrasi T50 Pak Fa

India semakin khawatir dengan lambatnya kemajuan dari proyek Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA). FGFA adalah proyek bersama India dan Rusia untuk membangun pesawat tempur generasi kelima untuk Angkatan Udara India (IAF).

Salah satu yang menjadi kegundahan India adalah sikap Rusia yang tidak menjelaskan penyebab terbakarnya prototipe pesawat tempur siluman T-50 saat uji coba bulan Juni lalu dan juga terhadap beberapa keraguan teknis lainya yang juga tidak dijelaskan Rusia kepada India. Bahkan, Kementerian Pertahanan India memandang skeptis laporan Rusia yang menyatakan bahwa desain final T-50 sudah di tangan.

Dilaporkan, India sangat jengkel dengan kenyataan bahwa meskipun kedua negara ini setara dalam proyek FGFA dalam urusan keuangan, India enggan berbagi rincian teknis pesawat tempur siluman T-50, yang mana proyek FGFA akan berdasarkan desain pesawat ini. Soal pendanaan, bisa dikatakan bahwa pendanaan proyek FGFA juga menjadi sebagian dana pengembangan untuk proyek PAK FA (proyek untuk membangun T-50).

Versi T-50 untuk India, yang disebut sebagai Prospective Multi-Role Fighter (PMF), hampir sama persis dengan T-50, hanya terdapat sedikit variasi. Bahkan disebutkan juga bahwa uang India merupakan kunci keberlanjutan proyek PAK FA Rusia. Rusia dilaporkan telah membangun enam prototipe T-50, dan pada awal tahun lalu Rusia melakukan uji coba penerbangan untuk evaluasi teknis. Namun uji coba berakhir dengan terbakarnya T-50.

Yang cukup mengejutkan dan menambah kejengkelan India adalah dari tim India yang hadir pada saat uji coba, mereka tidak diperbolehkan berada di dekat T-50. India sangat ingin tahu penyebab terbakarnya T-50 tersebut, namun Rusia tidak pernah menjelaskan. India telah membayar USD 295 juta untuk desain awal PMF, yang mana desainnya telah diselesaikan tahun lalu, dan cukup logis jika pejabat India merasa khawatir dengan program FGFA yang terkesan merangkak pasca diselesaikannya desain awal. Dan satu hal, India juga dilaporkan belum puas dengan desain awal PMF dan juga mempertanyakan masalah pemeliharaan, mesin, fitur siluman, sistem senjata, keamanan dan keandalan. India menilai tidak akan ada kemajuan jika masalah-masalah ini belum dituntaskan.

Apa yang ada di benak India tetap tidak terjawab bahkan setelah kedua pihak berdialog di bulan ini. Hanya sebuah jawaban yang sangat umum mucul dari Rusia: "Jangan emosional. Setiap dorongan lebih lanjut mengenai masalah ini hanya akan melahirkan pembicaraan lagi untuk menaikkan biaya proyek," menurut sumber media India. Maksudnya seperti ini, misalnya, pada tahun lalu Angkatan Udara India telah menyatakan ketidakpuasannya dengan mesin T-50, yang mana masih berdasarkan mesin Su-30. Akhirnya Rusia bisa menjanjikan mesin baru namun India harus menambah biaya proyek.

Hingga saat ini, belum ada satupun ahli penerbangan atau pilot India yang mengenal dengan baik T-50. Menurut India, Rusia tidak mengizinkan pilot India menerbangkan T-50, alasannya pilot negara asing dilarang terbang di wilayah udara mereka. Tapi India menyangkal aturan pembatasan tersebut, mengingat sebelumnya pilot India sudah menerbangkan Sukhoi dan MiG di wilayah Rusia. India menilai posisi mereka dalam proyek FGFA sangat tidak menguntungkan, selain hanya sebagai mitra keuangan.

Kewajiban yang harus dijalankan India dalam usaha patungan ini adalah membayar 13 persen dari proyeksi biaya proyek yang senilai USD 10,5 miliar (disepakati pada 2011), tapi pada kenyataannya India sudah membayar hingga 50 persen dari dana itu, hal ini dilaporkan laman India Today. Memang India tidak hanya berkontribusi dalam proyek hanya untuk pendanaan, BUMN pertahanan India Hindustan Aeronautics Limited (HAL) juga berkontribusi pada pekerjaan pembangunan meskipun hanya sebatas ban, instrumen navigasi dasar VOR-DME, pendingin radar, laser designation pod dan head-up display.

Awalnya India menginginkan sekitar 30-40 PAK FA dua kursi pilot agar juga bisa digunakan sebagai pesawat pelatihan. Namun karena PAK FA adalah pesawat berkursi tunggal, Rusia meminta dana tambahan sebesar USD 8 miliar untuk mengembangkan varian kursi ganda. Niat ini kabarnya dibatalkan India, dan India lebih memilih pelatihan dengan simulator.

Setelah penandatanganan kontrak desain akhir, setidaknya akan memakan waktu 94 bulan untuk menyelesaikan program pembangunan. Artinya Angkatan Udara India kemungkinan baru akan memiliki pesawat tempur generasi kelima pada dekade depan.

  ★ artileri  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...