Senin, 08 Desember 2014

★ Rompi Antipeluru Bikinan Pelajar SMA 3 Semarang

Inovasi Anak Bangsa http://assets.kompas.com/data/photo/2014/12/05/1700013rompi-peluru780x390.jpgM. Iqbal Fauzi dan Aristio Kevin Ardyaneira Pratama membawa hasil penelitian tentang rompi antipeluru

Permainan perang-perangan menginspirasi duo peneliti muda asal SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah, ini untuk membuat rompi antipeluru. Bukan sembarang rompi antii peluru!

Memang, ini bukan rompi antipeluru konvensional yang beratnya bisa mencapai delapan kilogram. Rompi yang mereka ciptakan hanya seberat tiga kilogram. Menariknya, mereka berhasil mengganti material baja yang digunakan sebagai perisai peluru dengan bahan ramah lingkungan, yaitu serabut kelapa.

M. Iqbal Fauzi dan Aristio Kevin Ardyaneira Pratama, kedua pembuat rompi itu, membawa hasil penelitiannya tersebut pada ajang "2nd International Science Project Olympiad (ISPrO) 2014".

Penelitian diberi judul "Stab Resistant and Ballistic Vest Made From Coconut Fiber" itu berhasil meraih medali perak untuk bidang rekayasa teknologi. Idea awalnya, mereka berkisah, adalah keprihatinan melihat limbah serabut kelapa yang tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

"Setelah kami belajar dari literatur, ternyata diketahui bahwa serabut kelapa ini cukup kuat, termasuk dalam menahan peluru," kata Iqbal.

 Murah dan cepat 

Penelitian ini mereka lakukan selama enam bulan. Untuk menghasilkan lempengan kuat serabut kelapa ini, mereka mencampurkan bahan utama dengan fiber glass dan lem. Biaya yang dibutuhkan untuk menciptakan lempengan ini cukup murah dan dapat dibuat dalam waktu yang singkat, hanya satu hari.

"Setiap satu lempeng hanya membutuhkan biaya Rp 800.000. Bandingkan dengan rompi antipeluru konvensional yang dijual dengan harga lebih dari Rp 2 juta. Jika dibandingkan dengan rompi antipeluru baja memang produk kami lebih mahal, tetapi jauh lebih ringan," kata Iqbal.

Untuk menguji ketahanan lempeng serabut kelapa terhadap peluru, mereka mencoba menembakkan peluru menggunakan senjata jenis M-1911 Kaliber 0,45 inci dengan jarak 5 meter.

"Hasilnya, peluru terpantul," kata Kevin.

Iqbal dan Kevin mengaku, rompi antipeluru yang mereka ciptakan membutuhkan penelitian-penelitian lanjutan, karena masih dalam bentuk purwarupa 15 cm x 15 cm dengan ketebalan 1,35 cm. Iqbal mengatakan, dukungan pemerintah sangat diharapkan, sehingga pada saatnya nanti dapat dimanfaatkan oleh kementerian yang menangani bidang pertahanan dan kemiliteran.

Rompi antipeluru tersebut merupakan pengembangan dari penelitian yang mereka bawa dalam Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) yang berlangsung pada pertengahan Februari 2014. Saat itu lempengan serabut kelapa yang mereka ciptakan masih dapat tertembus peluru sedalam 2 cm yang ditembakkan dari senjata sejenis revolver. (RATIH)

Foto diposkan Vitawulandari

  ★ Kompas  

Penenggelaman Kapal Bukan Gagah-gagahan

Kapal ikan asing asal Vietnam diledakkan dan ditenggelamkan oleh TNI Angkatan Laut di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (5/12). (sumber: Antara/Immanuel Antonius)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, tindakan tegas pemerintah menenggelamkan sejumlah kapal asing di Kepulauan Riau dan Provinsi Sulawesi Utara bukan sebagai gagah-gagahan maupun display politik.

Penenggelaman kapal asing yang selama ini digunakan untuk mencuri ikan di perairan Indonesia merupakan wujud dari tindakan tegas pemerintah untuk mengangkat kesejahteraan nelayan dan melindungi sumber daya alam negeri ini.

"Penenggelaman kapal ikan asing yang mencuri ikan di wilayah RI bukan soal gagah-gagahan atau semacam display politik, tapi ini sudah masuk soal prinsip dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia," kata Presiden Jokowi seperti yang dilansir laman resmi Sekretariat Kabinet, Minggu (7/12).

Dia mengatakan, pemerintah akan mengukur secara objektif, sejauh mana efektivitas penenggelaman kapal asing itu, dari segi kesejahteraan nelayan pada sebelum dan sesudah penenggelaman kapal asing pencuri ikan.

“Kita akan ukur secara objektif apakah setelah penenggelaman kapal asing ini hasil tangkapan nelayan kita meningkat, ekspor kita meningkat, dan kesejahteraan nelayan meningkat?” katanya.

Presiden Jokowi menyatakan, langkah selanjutnya yang akan ditempuh pemerintah setelah penenggelaman kapal adalah menggelar patroli Angkatan Laut secara intensif untuk menjamin wilayah laut Indonesia bersih dari illegal fishing sehingga nelayan Indonesia dapat berdikari secara ekonomi.

“Ikan-ikan kita yang masuk ke pasar internasional, dijual nelayan Indonesia dengan harga yang berlaku di pasar internasional,” kata Jokowi.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah wajib menargetkan pemasukan dari sektor perikanan sebesar Rp 300 triliun per tahun, berdasarkan data Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Hasil tangkapan ikan harus Rp 300 triliun per tahun. Jangan seperti yang terdahulu dengan subsidi ke nelayan Rp 11 triliun, tapi hasilnya hanya Rp 300 miliar per tahun," jelasnya.

Presiden menyebutkan, apabila dana sebesar Rp 300 triliun per tahun masuk ke kas negara, maka akan tersedia anggaran sangat besar yang dapat digunakan untuk memperbaiki perkampungan nelayan dan membangun infrastruktur seperti galangan kapal, pasar ikan khusus, dan perluasan jaringan pemasaran dunia untuk ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Indonesia.

“Kita harus berpikir jauh ke depan, berpikir untuk memperbaiki kehidupan bangsa, jangan hanya terjebak zona nyaman lalu kita takut memperbaiki keadaan,” tutur Kepala Negara.

 Penenggelaman di Anambas 

Sebelumnya diberitakan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) telah menenggelamkan tiga unit kapal ikan berbendera Vietnam, yaitu KG 90433. ATS 005, KG 94366 TS. ATS 006, dan KG 94266 TS. ATS 012, di perairan Anambas, Kepulauan Riau, Jumat (5/12).

Prosesi penenggelaman kapal disaksikan Kepala Pelaksana Harian Bakorkamla Laksdya DA Mamahit, Kapuspen TI Mayjen Fuad Basya, dan sejumlah pejabat Pemkab Anambas.

Proses penenggelaman ketiga kapal itu dimulai pukul 10.20 WIB yang diawali penembakan menggunakan senjata mesin pada jarak 200 meter dari sasaran di atas Kapal Negara Bintang Laut milik Bakorkamla, Kapal Pemerintah Ketipas dan KP Napoleon milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksda Widodo menjelaskan, ketiga unit kapal Vietnam yang ditangkap pada beberapa hari lalu itu, didorong ke perairan yang berjarak sekitar 3 mil laut dari Pulau Tarempa.

“Kami mendorong kapal tersebut 3 mil jauhnya dari Pulau Tarempa. Kapal-kapal itu dieksekusi di wilayah laut dengan kedalaman 45-60 meter. Penembakan dari jarak 200 meter,” kata Widodo.

  ★ Berita Satu  

Minggu, 07 Desember 2014

[World] Aksi Penyelamatan AS Gagal, Dua Sandera Al-Qaeda Tewas

Fotografer asal AS Luke Somers tewas dibunuh kelompok Al-Qaeda. (sumber: bbc)

Dua sandera yang ditawan kelompok teroris al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) yakni wartawan foto asal Amerika Serikat (AS) Luke Somers dan seorang guru asal Afrika Selatan, Pierre Korkie tewas dalam operasi penyelamatan untuk mereka. Operasi penyelamatan itu dilakukan tentara AS dibantu militer Yaman di Provinsi Shabwa bagian selatan, Yaman.

Serangan ke lokasi persembunyian al-Qaeda itu merupakan perintah Presiden AS Barack Obama. Perintah itu keluar setelah adanya kabar bahwa adanya ancaman berbahaya terhadap Somers.

Setidaknya, 10 anggota al-Qaeda tewas dalam operasi pembebasan sandera itu.

Sebelumnya AQAP telah menayangkan video secara online yang berisi ancaman akan membunuh Somers. Video itu mendorong dilakukannya upaya penyelamatan oleh pasukan Amerika yang dibantu pasukan darat Yaman.

Pemerintah AS pertama kali mencoba untuk membebaskan Somers pada 25 November lalu. Saat itu, ada delapan tawanan lain yang diselamatkan, tetapi tidak termasuk Somers. Soalnya, para penculik telah memindahkan Somers ke lokasi lain sebelum serangan itu.

Somers (33 tahun) diculik pada pertengahan September 2013 lampau ketika ia tengah bekerja sebagai wartawan foto lepas untuk surat kabar Yaman Times. Dikabarkan, ia tewas karena luka selama upaya penyelamatan.

Lucy, adik Somers, seperti dikutip oleh kantor berita Assoicated Press mengatakan bahwa ia diberitahu oleh FBI soal kematian saudaranya itu.

Dalam serangan itu, Korkie juga tewas karena terluka. Sebelumnya, Gift of the Gifers, lembaga bantuan Muslim dari Afrika Selatan yang melakukan negosiasi pembebasan Korkie menyebutkan, Korkie dijanjikan akan dibebaskan pada Minggu (7/12). Namun, ternyata malah tewas saat penyerangan itu.

  ★ Brita satu  

[Foto] Berlayar Bersama KRI Todak 631

KRI Todak 631 diambil dari nama sebuah salah satu ikan laut yang banyak terdapat diperairan nusantara yang merupakan ikan ganas.
Sebagai satuan kapal cepat KRI Todak 631 dilengkapi dengan senjata meriam 57 mm MK 2 Bofor SAK 57/78 B, meriam 40 mm SAK 40/70 A, meriam 20 mm 20 RH 2012.

Panjang KRI TOdak 631 58,10 meter, lebar 7,64, berat 425 ton, kecepatan maksimal 27 knot, jarak jelajah 2200 mil.
KRI Todak 631 juga ikut menembakkan dan menenggelamkan kapal nelayan Vietnam pencuri ikan dengan menggunakan meriam 20 mm.
Tentara ini selama bertugas giat dalam beribadah dan mengaji.
KRI Todak di Komandani oleh Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan.
KRI ini diawaki oleh 41 tentara angkatan laut.

  ★ detik  

[World] Greece agrees to sell Zubr-class landing craft to China

China's first Zubr-class hovercraft purchased from the Ukraine. (Internet Photo)

Greece has recently agreed to sell four Zubr-class air-cushioned landing craft to China, reports the Islamabad-based Asia Defence News.

Kleftos Priapos, spokesperson for the Hellenic Navy, confirmed this decision in an interview with a reporter from the Philippines. "As the Zubrs were all constructed in either Russia or Ukraine, the sale of these hovercraft does not violate any current NATO rules against arms transfers to China," said Priapos. The Greek naval spokesperson said that the sale of the hovercraft to China is perfectly legal and that Greece needs the money.

The Hellenic Navy operates four Zubr-class hovercraft purchased from Russia and Ukraine. Built as the largest hovercraft in the world, a Zubr-class vessel can carry up to three tanks and at least 300 troops over hundreds of miles of ocean. The hovercraft can also be used to lay mines. China too purchased four Zubr-class landing craft from Ukraine, each equipped with an AK-630 cannon, a Type 364 search radar, and the locally produced OFC-3 optical fire control device.

China has not given any official statement regarding the purchase of the four Zubr-class landing craft from Greece. The People's Liberation Army Navy's first Greek Zubr-class vessel is likely to be Zakynthos, with 1337 as its hull number. With an additional four hovercraft from Greece, China's ability to launch an amphibious landing against Taiwan and the disputed Diaoyutai (Diaoyu or Senkaku) islands will gradually become more feasible.

  ★ wantchinatimes  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...