Selasa, 19 April 2016

Skuadron SU-35

Kekuatan Penggentar Baru TNI AU di Usia ke -70SU 35 Rusia ●

Sebagai kekuatan matra udara negara Republik Indonesia,TNI AU mempunyai visi yang mulia yaitu terwujudnya postur TNI AU yang professional, efektif, efisien, modern, dinamis dan handal dalam rangka menegakkan serta mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adapun misi TNI AU antara lain mewujudkan kemampuan dan kekuatan sistem, personel, materiil alutsista dan fasilitas untuk memenuhi postur TNI AU yang berkualitas agar siap untuk melaksanakan tugas dan fungsi. Meningkatkan kemampuan penyelenggaraan fungsi-fungsi intelijen dan pengamanan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi TNI AU. Melaksanakan pembinaan kekuatan dan kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas TNI AU baik dalam Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Tugas TNI AU dalam OMP maupun OMSP yang seabreg sepertihalnya TNI AD dan TNI AL, lebih-lebih dalam lingkungan yang amat strategis dan tantangan global yang semakin meningkat khususnya berbagai sengketa yang muncul akhir-akhir ini di kawasan Laut Cina Selatan, yang berbatasan langsung dengan RI, maka peningkatan pertahanan udara negara dan personel Angkatan Udara yang memadai dan tangguh adalah suatu yang tak bisa ditawar lagi.

Dalam suatu kesempatan setelah pelantikan sebagai KSAU, Marsekal TNI Agus Supriatna menegaskan, semua rencana strategis TNI AU 2015-2020 menjadi prioritas terutama meningkatkan pertahanan udara yang masih banyak mengalami kekurangan seperti radar dan pesawat. "Rencana strategis kita butuh 12 radar, ke depan radar lama diperbaiki," tandas KSAU. Dalam upacara serah terima jabatan dari KSAU lama kepada KSAU baru, yaitu Marsekal TNI Agus Supriatna, yang dipimpin oleh Panglima TNI waktu itu, Jenderal Moeldoko di Taxi Way “Echo” Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 15 Januari 2015 mengingatkan agar TNI AU aktif meningkatkan kedaulatan udara khususnya di wilayah Laut Cina Selatan. Menurut Panglima, hal ini penting karena selain berimplikasi langsung pada hubungan kerjasama keamanan dengan Negara sahabat, juga erat kaitannya dengan peningkatan ekonomi. “Tantangan TNI AU kedepan semakin besar, salah satunya terkait kompetisi kedaulatan wilayah udara dan akses ekonomi, khususnya di wilayah Laut Cina Selatan yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu," ujar Panglima, juga menegaskan agar TNI AU memperbesar kemampuan Operasi Militer untuk Perang (OPM) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dengan alutsista yang sudah hadir. Panglima berharap dengan adanya alutsista baru seperti pesawat tempur T-501 Golden Eagle, Sukhoi, Super Tucano, dan F-16, dapat mengoptimalkan peran dan tugas Angkatan Udara ke depannya.

Kini ini dengan akan hadirnya skuadron pesawat Sukhoi 35, seolah menyambut HUT TNI AU ke-70, TNI AU lebih percaya diri meskipun untuk itu negara mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Harga satu unit Su-35 diperkirakan US$ 65 juta atau sekitar Rp 951 miliar. Setidaknya meskipun masih jauh dari kebutuhan yang seharusnya, setidaknya dapat mendekati minimum essential force yang diterapkan TNI. Bandingkan dengan negara jiran seperti Malaysia atau Singapura, jumlah pesawat tempur TNI AU masih kalah jauh. Pada sisi lain TNI AU perlu memiliki SDM, pilot tempur yang siap untuk mengoperasikan pesawat super canggih tersebut. Dalam hal ini kepentingan atau urgensi pendidikan untuk menguasai teknologi baru super canggih harus segera disiapkan secara seksama dan matang, agar kejadian-kejadian jatuhnya pesawat Super Tucono buatan Brazil dan lainnya tak terulang. Apalagi TNI AU telah bertekad untu kzero accident.

Untuk mencapai zero accident dan peningkatan SDM TNI yang berkulitas, modern, dan professional, khususnya pilot tempur yang akan mengawaki pesawat super canggih dengan bobot teknologi yang mutakhir semacam SU-35 maka Sumber daya manusia atau SDM yang andal di semua lini kehidupan merupakan kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Tanpa SDM yang andal, maka Alutsista yang dimiliki TNI Angkatan Udara hanya akan menjadi pajangan belaka. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, setiap personel TNI Angkatan Udara memerlukan strategi pengembangan SDM di segala aspek. Oleh karena itu, setiap personel dituntut mengembangkan diri untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya. Peningkatan kualitas SDM adalah cara yang tepat dalam menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan khusus guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas di masa depan baik dalam keadaan damai maupun perang.Indonesia kini berencana membeli lagi skuadron Sukhoi jenis teranyar, Su-35, yang memiliki kemampuan serupa pesawat siluman.

Seperti diketahui Su-35 mampu melakukan manuver yang tak bisa diimbangi pesawat tempur biasa. Selain dapat menanjak vertikal, berhenti seketika di udara, dan berjungkir balik 180 derajat seperti yang dipamerkan pada MAKS 2015, jet itu juga bisa membawa banyak rudal dan lenyap dari radar.

Su-35 dapat hilang begitu saja di udara alias tak terdeteksi radar ketika pesawat mengubah kecepatan secara acak sehingga mengacaukan pendeteksian radar pesawat musuh. Su-35 juga dilengkapi peralatan jamming yang bisa menurunkan kemampuan deteksi radar musuh.

Lebih istimewa lagi, Su-35 mampu terbang “secepat siluman”. Jet ini memiliki kecepatan supersonik 1,5 mach atau dua kali kecepatan suara. Singkatnya, ini pesawat yang cukup mengerikan. Sukhoi Company mengklasifikasikan jet baru mereka ini sebagai pesawat generasi keempat dengan kecanggihan teknologi tepat di bawah pesawat siluman generasi kelima.

Meski demikian, Su-35 bahkan dianggap mampu menandingi jet tempur siluman generasi kelima buatan Amerika Serikat, yakni F-22 Raptor. Nilai tambah Su-35 adalah mampu berfungsi sebagai pengisi bahan bakar dan pemadam kebakaran. Ini pula yang membuat TNI menjatuhkan pilihan padanya. Akhirnya Dirgahayu 70 TNI AU, Swa Bhuwana Paksa. (Ahmad Fitri – Pengamat Teknologi Pertahanan).

  ★ pelita  

PTDI Libatkan Airbus dan Perusahaan AS Bikin Heli Pemburu Kapal Selam

Helikopter Panther ●

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tak bekerja sendiri dalam merancang dan merakit heli Anti Kapal Selam (AKS) atau heli pemburu kapal selam pesanan TNI-AL. Setidaknya ada 3 perusahaan helikopter dan teknologi dirgantara berkaliber internasional asal Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang digandeng oleh PTDI.

Mitra yang digandeng ialah Airbus Helicopter dalam penyediaan heli kelas medium jenis AS565 MBe Panther. Selain itu, PTDI melibatkan perusahaan teknologi penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Rotorcraft Services Group (RSG) dan L-3 Aerospace Systems.

"PTDI bersama Airbus Helicopter, RSG dan L-3 melakukan engineering kolaborasi dan rekayasa manufacturing untuk menghasilkan helikopter ini," kata Direktur Produksi PTDI, Arie wibowo kepada detikFinance, Senin (18/4/2016).

Meski menggandeng mitra internasional, PTDI bertugas sebagai kepala proyek.

"PTDI dalam kerja sama ini sebagai Lead Integrator Project dan Technical," sebutnya.

Arie mengaku Heli Panther pemburu kapal selam hasil kolaborasi ini terbilang spesial. Sebagai pemesan, TNI AL membutuhkan heli pemburu yang spesifik.

"Helikopter sekelas yang mampu membawa sonar dan terpedo belum ada di pasaran secara percise kebutuhan/request-nya TNI AL," sebutnya.

Meski ada beberapa varian heli pemburu yang tersedia di pasar namun tak ada yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan TNI AL.

"Ada beberapa helikopter Anti Kapal Selam di dunia ini namun tidak semuanya memenuhi kebutuhan secara keseluruhan, seperti budget, capability dan performance," sebutnya. (feb/ang)

  ★ detik  

RI Diminta Berperan Dalam Penyelesaian Konflik Azerbaijan-Armenia

Azebaijan meminta dukungan kepada Indonesia, sebagai bagian dari komunitas internasional untuk membantu menyelesaikan konflik dengan Armenia. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Tamerlan Qarayev.

Berbicara saat menggelar konferensi pers di salah satu hotel di bilangan Jakarta Selatan pada Jumat (8/4), dirinya mengaku sangat membutuhkan dukungan internasional untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Indonesia termasuk salah satu yang diharapakan terlibat dalam hal ini.

"Saya yakin Indonesia memiliki pengalaman untuk menjadi penengah dua negara yang berseteru ini," kata pria yang mengaku lahir dan tumbuh di kawasan Nagoromo-Karabakh tersebut.

Bukan hanya meminta dukungan untuk membantu menyelesaikan konflik, dirinya juga mengharapkan Indonesia mau mengirimkan pasukan penjaga perdamaiannya untuk memantau gencatan senjata dan stabilitas di kawasan konflik, yakni Nagorno-Karabakh.

Pasukan penjaga perdamaian ini dibutuhakan untuk memberi keyakinan pada Armenia agar mereka mau menarik mundur pasukan mereka dari kawasan Nagorno-Karabakh. Penarikan mundur pasukan merupakan syarat utama yang diajukan Azerbaijan dalam proses perdamaian dengan Armenia.

 Respon Indonesia 

Kementerian Luar Negeri Indonesia memberikan respon atas permintaan yang diutarakan Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Tamerlan Qarayev, terkait dengan konflik yang terjadi antara Azerbaijan dengan Armenia.

Saat menggelar konferensi pers di salah satu hotel di bilangan Jakarta Selatan, Qarayev meminta dukungan Indonesia untuk membantu menyelesaikan konflik dengan Armenia. Salah satu cara yang diusulkan Qarayev adalah, Indonesia mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Nagorno-Karabakh.

"Saya yakin Indonesia memiliki pengalaman untuk menjadi penengah dua negara yang berseteru ini," kata pria yang mengaku lahir dan tumbuh di kawasan Nagoromo-Karabakh tersebut.

Menanggapi hal ini, juru bicara Kemlu Arrmanantha Nassir mengungkapkan, pemerintah Indonesia selalu mendukung setiap upaya damai, dimanapun itu. Namun, untuk bisa mengirimkan pasukan penjaga perdamaian, Azerbaijan harus mengajukan permintaan kepada PBB.

"Indonesia selalu mendukung upaya perdamaian di berbagai pelosok dunia. Terkait pengiriman peace keeper, Indonesia selalu melakukan hal tersebut dalam rangka payung PBB. Sehingga, apapun yang dilakukan Indonesia selalu dalam kerangka PBB, dan bila ada keinginan dari suatu negara untuk pengiriman di kawasannya, harus melalui mekanisme di PBB," kata Arrmanantha pada Jumat (8/4).

  ★ sindonews  

[Foto] Pameran Dirgantara

Pameran Edu-Tech Expo 2016 di Lanud Halim Perdanakusuma

Antusias Pengunjung Pameran Dirgantara Edu-Tech Expo 2016

Pengunjung mengamati prototipe rudal disalahsatu stan ketika mengunjungi pameran Dirgantara Edu-Tech Expo 2016 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (16/4/2016). Pameran yang menampilkan sejumlah pesawat tempur, teknologi kedirgantaraan serta alutsista TNI AU dalam rangka Bulan Dirgantara itu berlangsung hingga 17 April mendatang. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Antusias Pengunjung Pameran Dirgantara Edu-Tech Expo 2016

Pengunjung mengamati salahsatu stan ketika mengunjungi pameran Dirgantara Edu-Tech Expo 2016 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (16/4/2016). Pameran yang menampilkan sejumlah pesawat tempur, teknologi kedirgantaraan serta alutsista TNI AU dalam rangka Bulan Dirgantara. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Antusias Pengunjung Pameran Dirgantara Edu-Tech Expo 2016

Pengunjung mengamati melintasi kokpit simulator pesawat tempur Hawk disalahsatu stan ketika mengunjungi pameran Dirgantara Edu-Tech Expo 2016 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (16/4/2016). Pameran yang menampilkan sejumlah pesawat tempur, teknologi kedirgantaraan serta alutsista TNI AU dalam rangka Bulan Dirgantara. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
  ★ antara  

Senin, 18 April 2016

Indonesia Memilih CIWS tipe 730 untuk KCR 60

Type 730 CIWS pada kapal Corvette TNI AL

TNI AL memilih persenjataan produk China untuk melengkapi persenjataan armada kapal KCR 60 meter.

Menurut laporan IHS Janes pada DSA 2016 di Kuala Lumpur, TNI AL memutuskan dua dari tiga kapal KCR 60 meter akan menggunakan senjata CIWS tipe 730 sebagai senjata kedua pengganti senjata kaliber 20 mm di buritan kapal.

Kapal tersebut adalah KRI Sampari dan KRI Tombak yang akan menggunakan senjata CIWS tipe 730. Kedua kapal akan di persenjatai di galangan kapal PT PAL Indonesia pada akhir 2016.

CIWS produksi China ini dikenal sebagai senjata anti rudal kapal yang persisi. Selain itu beberapa kapal perang China juga diyakini menggunakan senjata yang sama sebagai senjata utama pertahanan kapalnya.

Juga direncanakan pada bulan September 2016 akan menggunakan CMS produk China yang mampu mengintergrasikan sistem senjata meriam 57 mm, CIWS dan rudal. [IHS Janes]

  ★ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...