PT Pindad memproduksi beberapa alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan. Meskipun diproduksi di dalam negeri, ternyata bahan baku alutsista masih didominasi produk impor.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagdja mengatakan produsen alutsista di Indonesia masih kategori industri hilir. Perusahaan produsen alutsista seperti Pindad dan PAL memproduksi alat siap pakai, sedangkan industri hulunya masih jauh tertinggal.
“Kalau ngomong bahan baku kita harus mengakui bahwa masih di atas 70% sangat bergantung ke luar negeri,” kata Ade di Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/4).
Permasalahan ini menurut Ade terletak pada jumlah minimal yang harus dipenuhi. Menurut dia, kebutuhan alutsista Indonesia tidak cukup besar untuk menutup skala ekonomi.
Sementara itu, Direktur Keuangan PT Pindad Wildan Arief menyatakan ada beberapa bahan baku dengan spesifikasi khusus yang dibutuhkan seperti bahan baku baja. Sedangkan produsen dalam negeri seperti Krakatau Steel belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
“Karena mungkin penggunanya hanya BUMN sehingga cost dari KS untuk produksi ini masih tinggi. Sehingga mau tidak mau kami sekarang harus impor,” ujar Wildan.
Padahal jika bahan baku bisa diproduksi dalam negeri, biaya produksi alutsista bisa lebih ditekan. Wildan berharap ke depan bahan baku bisa juga dihasilkan di dalam negeri.
“Walaupun sekarang pemerintah sudah membantu dengan tidak menetapkan bea masuk untuk bahan baku impor. Tapi ke depan harapannya bisa dihasilkan dari dalam negeri,” katanya.
10 negara yang sudah menyampaikan minatnyaUjicoba MMWT Harimau Hitam [hadimaulana] ★
Sejak diperkenalkan perdana pada perayaan HUT TNI ke-72 pada 5 Oktober 2017 di Dermaga Kiat Indah, Cilegon, tank medium besutan PT Pindad yang berkolaborasi dengan FNSS Turki mampu menarik perhatian mancanegara. Sejumlah negara menyatakan minatnya untuk membeli tank yang berfungsi sebagai kendaraan tempur itu.
"Beberapa negara sudah menunjukkan minatnya. Negara ASEAN ada, negara non-ASEAN juga ada. Mereka sudah mulai mengincar, bahkan mengundang kita (untuk presentasi)," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagdja dalam Press Gathering di Bandung, seperti dikutip Senin (16/4/2018).
Ade menolak menyebutkan negara yang dimaksud dengan alasan belum saatnya. Apalagi, kendaraan tempur itu belum melalui uji sertifikasi. Namun, ia menyebut kurang dari 10 negara yang sudah menyampaikan minatnya pada tank buatan dalam negeri itu.
Ade mengungkapkan uji sertifikasi tank medium direncanakan bakal dikerjakan pada pertengahan tahun ini. Uji itu di antaranya meliputi uji antiranjau untuk mengetahui ketahanan atas ledakan dan uji jangkauan.
Pengujian tersebut dilakukan secara internal yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan diperkirakan memakan waktu antara 6 bulan hingga 1 tahun.
"User kita, TNI, juga baru akan menerima produk kita bila sudah ada sertifikasinya. Rencananya batch pertama (produksi) itu pada 2019-2020," tutur Ade.
Pada tahun lalu, Kementerian Pertahanan menyampaikan akan memesan 100 unit medium tank dari PT Pindad. Bila proses sertifikasi berjalan lancar, TNI selalu pengguna berarti bisa menggunakan tank tersebut paling cepat pada 2020.
Ade juga mengatakan produk medium tank PT Pindad juga akan bersaing dalam tender produk pertahanan internasional di kawasan.
Meski belum disertifikasi resmi, spesifikasi medium tank yang dimiliki, dinilai memenuhi standar para pengguna dan dinilai bisa bersaing dengan produk buatan Eropa Barat dan Korea Selatan.
"Kita kan sudah menunjukkan performance-nya di parade di Cilegon kemarin. Hanya memang, detail spesifikasinya akan disampaikan dalam sertifikasi," kata Ade.
Lanudal Tanjugpinang akan Naik Menjadi Kelas ALanudal Tanjugpinang [kabarbatam] ★
Kemungkinan adanya ancaman pelanggaran batas wilayah utara Provinsi Kepulauan Riau di Laut Natuna mendapat perhatian dari Markas Besar TNI-AL. Komandan Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Tanjungpinang, Letkol Laut (P) Henoch Nasarius Virzawan, mengatakan eskalasi ancaman di sana meningkat.
“Untuk itulah pimpinan TNI sendiri ingin merencanakan dalam membangun kekuatan dan menambah serta meningkatkan kekuatan juga keamanan di Anambas, Natuna terutama pada Batam dan Kota Tanjungpinang sendiri sebagai penyanggah bahaya yang akan masuk,” terangnya, Sabtu (14/4) lalu.
Dari sekian upaya peningkatan kekuatan pertahanan dan keamanan itu adalah pembangunan landasan gelinding (taxi way) di Tanjungpinang. Landasan ini adalah adalah jalan penghubung antara landasan pacu dengan pelataran pesawat (apron), kandang pesawat (hangar), terminal, atau fasilitas lainnya di sebuah bandar udara. Karena itu akan mempermudah operasi pesawat-pesawat di Tanjungpinang untuk beroperasi di wilayah udara Kepulauan Riau.
Apalagi, sambung Letkol Henoch, dalam waktu dekat ini status Lanudal Tanjungpinang akan naik menjadi kelas A.
“Pembangunan akses pesawat ini sangat penting karena kita akan mendapat penambahan dalam waktu dekat. TNI AL juga akan menambah alutsita, setelah jadi dalam waktu dekat juga pesawat akan berdatangan,” ujarnya.
Agar rencana pembangunan fasilitas ini berjalan lancar, Letkol Henoch meminta dukungan dari masyarakat sekitar. Ia berjanji pembangunan ini tidak akan menggangu masyarakat dengan perencanaan yang matang dan baik. Pihaknya juga akan menyiapkan jalan sementara dan setelah jadi bisa dapat digunakan kembali dengan jalan yang sudah diaspal dengan sistem buka tutup.
“Jangan khawatir setelah dibangun meski dalam pengawasan tidak ada batasan bagi masyarakat dalam mepergunakan jalan tersebut,” tegasnya.
Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang Riono menyambut baik rencana tersebut. Riono menjelaskan jika yang berhubungan dengan pembangunan jalan tentunya berkaitan dengan kelancaran aksesbilitas.
“Dengan adanya hal demikian, kami ingin mengupayakan kelancaran akses ekonomi dan mempermudah akses orang dan barang. Akan tetapi jika itu kita buang karena faktor lain maka yang kita perhatikan adalah kemanan dan kenyamanan bagi penguna jalan tersebut,” paparnya.
Akan mendapat sertifikasi pada pertengahan 2018MMWT @ IDEF 2017 [sweeneygov] ★
PT Pindad kini tengah bersiap-siap memproduksi medium tank dengan nama sementara Kaplan MT. Saat ini sudah dua unit pengujian yang dibuat dan rencananya akan mendapat sertifikasi pada pertengahan 2018.
Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad Ade Bagja mengatakan, proses pembuatan medium tank untuk pengujian pertama dilakukan di Turki bekerja sama dengan FNSS dan yang kedua di Indonesia. Proses sertifikasi yang sedang dilakukan antara lain terkait dengan uji ledak atau uji anti-ranjau.
"Sekarang prototype kedua sudah jadi dan tinggal menunggu sertifikasi keluar. Kalau sudah keluar baru bisa diproduksi untuk jual," ujarnya saat bincang dengan awak media, Senin (16/4/2018) malam.
Ade menambahkan, Pindad tidak bisa menjual medium tank tersebut sebelum mendapatkan sertifikasi. Kendati demikian menurut dia, sudah ada pembeli yang menaruh minat.
"Kalau negaranya saya tidak bisa sebutkan, tapi kemarin kan pengujiannya ditunjukkan. Lalu setelahnya sudah ada yang melihat. Ada yg non ASEAN, ada yang ASEAN," sebutnya.
[Instagram winduparamarta]
Pindad berharap bisa mulai memproduksi medium tank tersebut pada awal 2019 setelah sertifikasi keluar. Atau paling lambat, pada awal 2020 mendatang.
Sebelumnya, pada akhir 2017 lalu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah meninjau kesiapan produksi medium tank pertama Tanah Air. Tank tipe ini dinilai sebagai yang paling tepat dioperasikan di Indonesia karena jembatan yang ada rata-rata tidak mampu menahan bobot sangat berat. Medium tank sendiri memiliki bobot di kisaran 35 ton.
Soal teknologi, medium tank ini dilengkapi dengan alat self awareness sehingga bisa memantau ancaman terhadap dirinya sendiri serta dilengkapi dengan proteksi terhadap ancaman level 5 NATO. Pada bagian turet senjata memiliki mekanisme autoloader, dengan 12 butir peluru dan 30 butir peluru cadangan di dalam pool.
Selain itu, medium tank memiliki kapasitas untuk 3 orang, kekuatan 20 tenaga kuda per ton, dengan kecepatan 70 km per jam. Ada juga kemampua anti ranjau yang didesain sesuai permintaan dari pemesan. Biasanya anti ranjau hanya diaplikasikan pada armoured personal carrier (APC).