Rabu, 17 Oktober 2018

[Dunia] Dua Jet Tempur Myanmar Jatuh

2 Pilot dan Gadis Cilik Tewas Pesawat jet tempur F-7 Myanmar. Dua jet tempur F-7 Myanmar jatuh pada Selasa (16/10/2018) pagi. [Foto/airliners.net] ★

Dua pesawat jet tempur F-7 Mynamar jatuh di dua lokasi terpisah pada Selasa (16/10/2018). Dua pilot pesawat dan seorang gadis cilik berusia 10 tahun tewas dalam kecelakaan tersebut.

Para pejabat setempat mengatakan dua jet tempur tersebut merupakan pesawat buatan China dengan kursi tunggal. Cuaca buruk berupa kabut tebal diduga jadi penyebab kecelakaan tersebut.

Satu jet tempur jatuh ke sawah. Pesawat tempur lainnya sempat menukik di dekat sebuah pagoda Buddha di wilayah Magway, Myanmar tengah, sebelum jatuh ke tanah.

Menteri Utama Magway, U Aung Moe Nyo, mengatakan kedua pesawat tempur hancur berkeping-keping setelah jatuh sekitar pukul 07.30.

Kedua pilot tewas setelah tidak bisa mengeluarkan diri atau terlontar dari pesawat.

Gadis berusia 10 tahun yang ikut jadi korban tewas bernama Thwal Zin Nyein. Dia tewas setelah terkena serpihan dari salah satu jet yang hancur ketika dia sedang berada luar sekolah swasta.

"Dokter mengatakan dia meninggal tetapi saya masih tidak percaya putri saya meninggal seperti ini," kata ayah korban, U Khin Maung Phyu. "Dia akan selalu hidup di hati saya," ujarnya, seperti dikutip New York Times.

Menurut U Aung Moe Nyo, jasad dua pilot; Kapten Phyo Maung Maung dan Kapten Hein Thu Aung, ditemukan di antara puing-puing pesawat.

"Sangat memilukan untuk melihatnya," katanya, yang mengunjungi lokasi kecelakaan. Menurutnya, salah satu pilot mencoba mengeluarkan parasut. Namun, upaya penyelamatan diri tersebut gagal.

Angkatan udara Myanmar telah mengalami serangkaian kecelakaan fatal selama beberapa tahun terakhir, bahkan saat petinggi militer sudah belanja belanja peralatan tempur di luar negeri. Sekitar 13 persen dari anggaran negara tersebut dihabiskan untuk militer.

Pada bulan April, sebuah jet tempur F-7 jatuh selama pelatihan setelah mengalami "kegagalan teknis". Tahun lalu, 122 personel militer dan keluarga mereka, bersama dengan anggota awak pesawat, tewas ketika pesawat transportasi militer Y-8 buatan China jatuh ke Laut Andaman.

"Kami dapat melihat dari frekuensi kecelakaan pesawat yang kami miliki, beberapa masalah berkaitan dengan pesawat China," kata U Ye Myo Hein, direktur eksekutif dari Tagaung Institute of Political Studies di Yangon.

"Banyak jet tempur China di Myanmar tidak aktif terbang karena ada yang ketinggalan zaman dan beberapa membutuhkan perbaikan besar," ujarnya.

Mengutip keterangan di situs kantor Panglima Militer Myanmar, pada Selasa pagi ada empat pesawat jet tempur yang lepas landas dari pangkalan militer di Magway saat cuaca buruk. Dari empat pesawat, hanya dua yang kembali ke pangkalan.

Myanmar membeli sekitar 60 jet tempur F-7 dari China pada awal 1990-an. F-7 dianggap sebagai tiruan dari pesawat MiG-21 Soviet. Pesawat F-7 telah ekspor ke sejumlah negara termasuk Pakistan, Iran, Sudan dan Korea Utara.

  ♞ SINDOnews  

Selasa, 16 Oktober 2018

TNI AL Belum Berencana Pindahkan Pangkalan Kapal Selam

Dari Palu Kapal Selam KRI Nanggala-402 sandar di dermaga Sionban Kapal Selam Lanal Palu [Portal Komando] ★

Pembangunan pangkalan kapal selam TNI AL di Palu, Sulawesi Tengah merupakan bagian dari Rencana Minimum Essensial Force (MEF) untuk mewujudkan postur kekuatan pertahanan RI hingga tahun 2024.

Namun demikian, tahap pembangunan yang sudah dilakukan itu terkena imbas dari gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, pada 28 September lalu.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksma TNI Gig Jonias Mosez Sipasulta menyebut, hingga kini masih belum ada keputusan dari TNI AL untuk memindahkan pangkalan kapal selam dari Palu.

“Kalau itu biar nanti para pimpinan di TNI yang ambil keputusan untuk menjawab. Kalau sudah ada yang disampaikan dari atas pasti akan saya sampaikan,” ujar Gig di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Senin (15/10).

Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1988 itu menegaskan bahwa pangkalan kapal selam itu sudah masuk dalam program MEF dari tahun 2010. Dengan kata lain, pihaknya tidak menduga akan ada gempa dan tsunami yang berpengaruh pada tahap pembangunan.

“Pada waktu MEF dibuat kan kita tidak pernah berfikir kalau ada kejadian seperti ini,” imbuhnya.

Dia meyakini bahwa hal ini sudah dibicarakan dan dipertimbangkan di tingkat pimpinan bersama Kementerian Pertahanan. Sehingga ada saatnya mereka menyampaikan ke publik tentang keputusan dipindah atau tidaknya pangkalan kapal selam tersebut.

“Mungkin nanti langsung dari Bapak Kasal atau yang sesuai dengan bidangnya untuk menyampaikan,” pungkasnya.

  ♞ RMOL  

Senin, 15 Oktober 2018

TNI AL Akan Bentuk Komando Armada Gabungan

Setara Kostrad Kopaska [Bronfrogman]

M
abesal akan membentuk Komando Armada (Koarmada) gabungan yang nantinya membawahi tiga komando utama, yakni Koarmada I, Koarmada II dan Koarmada III.

“Ini masih dalam rencana yang tertuang dalam Minimum Essential Force (MEF), namanya armada besar. Mengenai kapan terlaksananya masih menunggu kebijakan pimpinan TNI. Doakan saja,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Gig JM Sipasulta usai acara pisah sambut Kadispenal, di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur.

Menurut dia, pembentukan Koarmada gabungan membutuhkan sarana, seperti kantor, anggaran, dan prajurit. Apabila direalisasikan, otomatis satuan tersebut pimpinan oleh perwira tinggi dengan pangkat bintang tiga atau laksamana madya.

“Nah, kalau tambah satu bintang tiga lagi di TNI AL, itu bagus. Dan rencana pembentukannya pun sudah dibahas di Mabes TNI dan Mabes TNI AL,” ujarnya.

Keputusan mengenai rencana pembentukan Koarmada gabungan itu, kata Kadispenal, berada di tangan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai penentu kebijakan bagi pengembangan organisasi TNI.

Koarmada gabungan TNI AL itu akan setara dengan satuan serupa di TNI Angkatan Darat, yakni Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad). Dalam strukturnya, Kostrad membawahi Divisi Infanteri I, Divisi Infanteri II, dan Divisi Infanteri III.

  ★ Okezone  

TNI AL Masih Butuh Alutsista

Buat Dukung OMP Dan OMSP Ilustrasi KRI TNI AL

K
ebutuhan alutsista TNI AL dalam menjalankan Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP) tidak bisa dilakukan secara tunggal.

“Angkatan laut itu mungkin dalam menjalankan operasi tidak bisa single fighter. Itu harus secara sistem,” kata Kadispenal Laksma TNI Gig Jonias Mosez Sipasulta.

TNI AL sejak tahun 2014 mencanangkan menjadi angkatan laut berkelas dunia. Maka dari itu kebutuhan operasi ditunjang dengan alutsista dan SDM harus yang mumpuni.

Jonias mencontohkan operasi yang dilakukan oleh US Navy memiliki daya dukung peralatan yang kuat. Setidaknya TNI AL bercita-cita untuk mendekatkan kemampuannya sesuai dengan US Navy yang menjadi World Class Navy dalam konteks operasionalnya.

“Operasi angkatan laut dalam setiap kegiatan harus ada kapal pendukung, itu ada macam-macam. Istilahnya dalam suatu pergerakan itu ada kapal pendukung, kapal bahan bakar, terus kapal Depo mungkin, dan kapal logistik,” bebernya.

Selain itu dia mencontohkan kebutuhan kapal rumah sakit saat ini, TNI AL perlu memiliki idealnya tiga unit. Hal tersebut untuk membantu korban bencana sekaligus pengobatan gratis di pulau-pulau terpencil.

“Jadi saya yakin dengan kemampuan keuangan pemerintah,” pungkasnya.

  ★ RMOL  

Penampakan Turangga APC Paskhas

Produksi PT Karya Tugas Anda Turangga APC Paskhas [def.pk]

D
alam gambar tampak telah rampung sebanyak 13 unit Turangga APC produksi PT Karya Tugas Anda untuk Korpaskhas.

Sebagian APC ini dilengkapi dengan RWS (Remote Weapon System). Dan telah diserahkan sebagian ketika pameran alutsista di Bandung. Turangga APC sendiri merupakan modifikasi kendaraan Ford 550 Super Duty.

  ★ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...