Kamis, 09 Juli 2020

TNI AL Akan Gelar Latihan Perang di Laut Jawa Hingga Natuna

Melibatkan sekitar 2 ribu personel TNI AL dengan mengerahkan 24 KRI, 10 pesawat udara dan 18 kendaraan tempur lengkap dengan persenjataan artileri.https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2DshX3D31kaPgYn3TE657UDJXZcB-k2rKYagnOeg1-TEo9zgu_cPfXGuSfk-7N2IjElx3Cwk2mWPUn_zD6MDE4Txo-UP2-viP6BvGQyX-mhArkSq16j5cP5_e29QL7mZLwvqdqHC9htBc/s1600/Garuda+-+Gladi+Tugas+Tempur+Komando+Armada+1+-+YouTube%25282%2529.pngIlustrasi gugus tugas tempur [TNI AL]

Komando Armada I TNI Angkatan Laut akan menggelar latihan perang yang akan dilaksanakan pada 18 Juli mendatang di Laut Jawa hingga Laut Natuna dan wilayah Dabo Singkep, Kepulauan Riau.

Pangkoarmada I Laksda TNI Ahmadi Heri mengatakan latihan yang melibatkan beberapa unsur tersebut akan memberikan gambaran mengenai pengembangan taktik, teknik dan prosedur berbagai kemampuan tempur.

“Kegiatan Geladi Tugas Tempur diselenggarakan untuk mewujudkan, mempertahankan dan meningkatkan keterampilan perorangan maupun kelompok, yang pada gilirannya akan meningkatkan kemantapan komando dan pengendalian operasi, dukungan operasi dan pemantapan penguasaan doktrin, taktik, teknis dan prosedur secara tepat,” kata Ahmadi Heri.

Latihan ini kata dia akan melibatkan sekitar 2 ribu personel TNI AL dengan mengerahkan 24 KRI, 10 pesawat udara dan 18 kendaraan tempur lengkap dengan persenjataan artileri.

“Adapun latihan yang akan dilaksanakan yaitu pertempuran laut dengan beberapa doktrin peperangan seperti peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan kapal permukaan, operasi pasukan khusus dan pendaratan amfibi di Daerah Latihan TNI AL di Pantai Todak Dabo Singkep Kepri,” tegas dia.

Meski di tengah pandemi Covid-19, Pangkoarmada I kata dia seluruh peserta diwajibkan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai protokol.

 ♖ AA  

Progress 2 Kapal LST Buatan PT Bandar Abadi, Batam

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRsuNopLD90jxxzjWH59g8olEk4ti51rHrxQxuMsxDmPIAh-sGkSTUTENKnf4geVMoNnc5B2GTQQSp32tAD9BwB20xNGDeqbePqlWGm48lHzlXHusfbpjxQr_myPuDB61MD_tzkmy19p8/s400/103455212_1392215520964310_6780091215992087213_n.jpgProgress 2 LST buatan PT Bandar Abadi Batam pada Juni 2020 [Roni Arsyah]

Galangan kapal PT Bandar Abadi Shipyard Batam pada bulan Januari 2019 lalu telah ditunjuk untuk membangun kapal LST ke-8 dan ke-9 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI AL sebagai pengganti kapal-kapal amfibi yang telah tua.

Progress pembangunan dua kapal LST ini diunggah oleh Roni Arsyah pada 15 Juni 2020 lalu dan tampak bahwa konstruksi kedua badan kapal ini telah sampai pada top deck dan menampakkan perkembangan yang signifikan dibandingkan unggahan sebelumnya pada bulan Desember 2019. Sebagaimana diketahui mulai awal Maret 2020 di Indonesia telah muncul kasus virus Covid-19 dan aktifitas bisnis menurun drastis karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kementerian Pertahanan telah membangun 7 kapal LST di galangan kapal dalam negeri, Kapal LST dengan nomor lambung 518 dan 519 dibuat di galangan kapal PT Dok Kodja Bahari (DKB) Jakarta, nomor lambung 520, 521 di galangan kapal PT Daya Radar Utama (DRU) Bandar Lampung kemudian untuk nomor lambung 522, 523, dan 524 PT DRU mendapatkan kontrak lanjutannya.

Progress 2 LST buatan PT Bandar Abadi Batam pada Desember 2019 [Roni Arsyah]

Meskipun kapal LST 518 dan 519 mendapatkan kontrak terlebih dahulu, namun untuk komisioning kapal yang pertama kali justru dilakukan oleh kapal LST 520 KRI Teluk Bintuni buatan PT DRU, sehingga untuk selanjutnya kelas kapal ini dinamakan Bintuni Class.

Dua kapal senilai Rp 360 miliar ini penanda-tanganan kontraknya dilakukan pada bulan April 2019, berdasarkan kontrak LST batch pertama penyelesaian kapal LST membutuhkan waktu selama 16 bulan semenjak kontrak efektif. Bila proses pencairan down payment selama-lamanya sesuai kontrak internasional diberikan waktu hingga 130 hari maka kapal seharusnya selesai pada Desember 2020.

Sesuai tata cara penamaan kapal di TNI AL maka nama kapal LST ini akan menggunakan nama teluk yang ada di Indonesia. Kita tunggu saja kedua kapal LST ini akan dinamakan teluk apa di Indonesia, yang jelas dari Bintuni class belum ada pengulangan nama dari kapal amfibi yang telah pensiun.

 ♖ Defense Studies  

Antara Klaim Amerika, Pendekatan Rusia, dan Desakan Jokowi

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTc6NBuo2v4WyMh4lHg_OAjV-zEF8nw2SRrMOBWgeViIjdggxY3n2j6LpacBYfkIsJHvGJZ_w96IEsjI2PmwftTg6y4ky6EBIpnxAsE-pQhtQSKxemVXBMkB0VhRCUtMj8w8VzjHqTZvYB/s1600/V22+ID.pngDesain MV-22 dengan logo bendera Indonesia [Bellflight]

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah memberikan lampu hijau kepada Pemerintah Indonesia yang ingin membeli pesawat tiltrotor MV-22 Osprey Block C.

Pesawat besutan Boeing Bell, perusahaan joint venture antara Boeing dan Bell Helicopter, itu merupakan salah satu pesawat canggih yang selama ini digunakan oleh Korps Marinir AS.

Namun, rencana pembelian itu disebut hanya sebatas klaim yang dilontarkan oleh AS. Pasalnya, Kementerian Pertahanan RI hingga kini belum menentukan tipe pesawat apa yang hendak dibeli.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Djoko Purwanto menyatakan, Kemenhan memang berencana melakukan pengadaan pesawat angkut personel untuk memenuhi kebutuhan TNI.

Namun, pembahasan terkait rencana pembelian pesawat tersebut masih pada tahap spesifikasi teknis dan belum merujuk pada produk tertentu.

"Tapi, kita tidak merujuk pada satu produk tertentu," kata Djoko seperti dilansir Kompas.id, Rabu (8/7/2020).

 Pendekatan Rusia 

SU 35 Rusia [marina]

Munculnya klaim AS atas rencana pembelian MV-22 Osprey Block C hanya berselang dua pekan setelah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengunjungi Rusia.

Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan (DSCA) disebut telah mengirimkan notifikasi rencana penjualan Osprey ke Indonesia kepada Kongres AS.

AS menyebutkan, Indonesia telah mengajukan rencana pembelian pesawat yang dilengkapi kemampuan mendarat seperti helikopter itu sejak beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, Prabowo sudah dua kali mengunjungi Rusia dalam enam bulan terakhir.

Terbaru, ia bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Rusia Kolonel General Alexander Fomin di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Moskwa, Rusia, Selasa (23/6/2020).

Adapun kedatangan Prabowo ke Rusia juga dalam rangka menghadiri agenda nasional tahunan negara tersebut.

"Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membicarakan hubungan bilateral dan kerjasama diberbagai bidang, termasuk pendidikan, latihan bersama, serta kerjasama industri pertahanan," tulis Kemenhan melalui akun Twitter resmi mereka, @Kemhan_RI.

Salah satu kerja sama pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang telah disepakati, yaitu pembelian 11 unit Sukhoi SU-35 oleh Indonesia.

Hal itu pun diamini oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva.

"Seperti saya sampaikan sebelumnya, saya tahu dia (Prabowo) mendiskusikan rencana tersebut (saat bertemu Alexander Fomin). Saya berharap kontraknya segera diimplementasikan," ungkap Lyudmila seperti dilihat Kompas.com dari akun YouTube resmi Kedubes Rusia untuk Indonesia, Rabu.

Menurut dia, sejauh ini tidak ada rencana untuk membatalkan kerja sama pengadaan alutsista tersebut.

"Tidak, tidak ada rencana pembatalan. Sejauh yang kami tahu, kontrak telah ditandatangani dan diharapkan segera diimplementasikan," imbuh dia.

 Klaim AS 
MV22 [Bellflight]

Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Laksdya TNI (Purn) Agus Setiadji menilai, adanya informasi terkait pembelian delapan unit MV-22 Osprey Block C senilai 2 miliar dollar AS atau setara Rp 28,9 triliun kepada Indonesia hanyalah klaim Amerika.

"Berkaitan dengan informasi dari AS ini kan hanya sepihak," ujar Agus dalam diskusi virtual Jakarta Defence Studies, Selasa (7/7/2020).

Agus mengungkapkan, konsep perencanaan pengadaan alutsista tak semata-mata langsung melakukan pembelian.

Ada tiga aspek yang menjadi pertimbangan di dalam rencana pengadaan alutsista, meliputi pembangunan kekuatan, pengguna kekuatan dalam hal ini Mabes TNI, dan pembinaan kekuatan.

Namun, keputusan akhir dari perencaan pengadaan itu berada di tangan Menteri Pertahanan.

"Adapun (klaim) AS itu barangkali itu adalah peran informasi dan lain-lain. Tapi, dari Kementerian Pertahanan, pengadaan sesuatu alutsista tidak semata tiba-tiba jadi, prosesnya panjang," kata dia.

 Desakan Jokowi 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyg05OnUrYQ8YLGt7ha4RWNE2oRh7cmP-rH6QeKB0OZ8duK6MCxBYri23O-YKRHgUedZHUmismdAmtb8W1wO10g3d6aPqdVawOzRnFz-4HXCWbGpchiJAqU1Rsa6QXh3ep98QIio4a4OKK/s1600/KRI+GNR+332+Damen+03.pngKRI GNR 332 [TNI AL]

Sementara itu, Presiden Joko Widodo meminta Prabowo agar melakukan pengadaan alutsista dari perusahaan dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia, Pindad, dan PT PAL.

Hal itu untuk menggairahkan perekonomian dalam negeri di tengah pandemi Covid-19.

"Di Kemenhan, bisa saja di DI, beli di Pindad, beli di PAL. Yang bayar di sini ya yang cash, cash, cash. APBN, beli produk dalam negeri. Saya kira Pak Menhan juga lebih tahu mengenai ini," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Rapat tersebut digelar tertutup dari wartawan. Namun, Biro Pers menyampaikan siaran pers pada Rabu (8/7/2020).

"Saya kira belanja-belanja yang dulu belanja ke luar, direm dulu. Beli, belanja, yang produk-produk kita. Agar apa? Ekonomi kena trigger, bisa memacu growth kita, pertumbuhan (ekonomi) kita," ucap Presiden.

Jokowi lantas menyinggung Kemenhan yang memiliki anggaran paling besar di antara kementerian lain, yakni Rp 117,9 triliun.

Ia meminta kementerian dan lembaga dengan anggaran besar segera mempercepat belanja.

"Saya sekarang ini melihat belanja kementerian itu harian. Naiknya berapa persen. Harian, saya lihat betul sekarang," kata dia.

 ♖ Kompas  

Rabu, 08 Juli 2020

Kemenhan Belum Merujuk Merek Tertentu

Soal Pembelian Osprey Desain pesawat multiguna MV-22 dengan logo bendera Indonesia [Bellflight] ★

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Djoko Purwanto menyatakan, Kemenhan saat ini tengah berencana membeli pesawat angkut personil untuk memenuhi kebutuhan TNI.

Namun, rencana pembelian itu baru sampai pada spesifikasi teknis dan belum merujuk pada produk tertentu.

"Tapi kita tidak merujuk pada satu produk tertentu," kata Djoko seperti dilansir dari Kompas.id, Rabu (8/7/2020).

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah memberikan persetujuan rencana penjualan delapan pesawat Tiltrotor MV-22 Osprey Block C kepada Indonesia. Pengajuan rencana pembelian itu disebutkan telah disampaikan beberapa waktu lalu kepada Pemerintah AS.

Kepastian tersebut diketahui berdasarkan siaran pers Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan (DSCA) AS yang dikeluarkan di Washington DC, AS.

Helikopter Bila rencana penjualan itu mulus, Indonesia akan menjadi negara ketiga yang akan menggunakan pesawat jenis itu setelah AS dan Jepang. Di negara asalnya, pesawat yang diproduksi Boeing Bell itu digunakan oleh Korps Marinir AS.

Berdasarkan keterangan tersebut, DSCA telah mengirimkan notifikasi akan kemungkinan penjualan Osprey tersebut ke Kongres AS pada hari yang sama.

Adapun nilai total pembelian kedelapan pesawat ini mencapai 2 miliar dollar AS atau setara Rp 28,9 triliun.

  ♞ Kompas  

RI Mau Bikin 3 Kapal Selam Lagi

Nasibnya di Tangan Prabowo Ujicoba KRI Alugoro 405 [submarine.id] ★

Pembangunan 3 kapal selam baru di Indonesia sudah direncanakan akan dibuat kembali sebagai fase kedua pengadaan kapal selam di bawah pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Sempat direncanakan pembangunan kapal selam ke-4, 5 dan 6 yang akan dibangun di PT PAL Surabaya.

Kontrak pengadaan kapal selam yang ke 4, 5, dan 6 sempat diteken pada 12 April 2019 oleh menteri pertahanan sebelumnya. Bagaimana dengan kebijakan menteri pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto saat ini?

Sebelumnya dua kapal selam yaitu KRI Nagapasa-403 dan KRI Ardadedali-404 dikirimkan ke Kemenhan pada Agustus 2017 dan Mei 2018. Kedua kapal dibuat di galangan DSME, Geoje, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan. Sedangkan kapal selam ketiga Kapal Selam ALugoro-405 yang dibuat di PT PAL Surabaya sudah berhasil dibuat dan lolos tes menyelam, dan rencananya akhir 2020 akan diserahkan ke Kemenhan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Budiman Saleh sempat menyinggung soal nasib kontrak pengadaan kapal selam fase kedua sebanyak 3 unit, termasuk soal permasalahan anggaran.

"Pada 2020 ini kita fokus untuk menyelesaikan unit kapal selam ke 4, 5, dan 6, untuk itu kami berharap adanya kepastian tentang penambahan kekurangan dana PMN Rp 1,7 triliun," kata Budiman Februari 2020 lalu.

Selain akan memproduksi 3 kapal selam tersebut, PT PAL Indonesia masih akan memproduksi sekitar 6 kapal selam lagi, sehingga nantinya Indonesia punya 12 unit kapal selam buatan dalam negeri.

Rencana produksi kapal selam di Indonesia dalam jumlah besar sudah digariskan oleh Kemenhan sebelum era Menhan Prabowo. Dalam laporan tahunan Ditjen Potensi Pertahanan 2018 menunjukkan rencana tersebut.

"Program Kapal Selam akan dilanjutkan ke tahap kedua, dengan pembuatan kapal selam ke-4 hingga ke-6. Pada tahap ini, proporsi PT. PAL dalam proses produksi diproyeksikan untuk semakin membesar, di mana Kapal Selam ke-6 sudah dibuat sepenuhnya di PT. PAL," jelas laporan itu.

Dari sisi PT PAL Indonesia selaku perusahaan pembuat, sejak awal sudah bersiap. Mereka menegaskan pengembangan kapal selam bagian dari rencana perusahaan, termasuk kapal-kapal lainnya.

"Perusahaan ke depan akan terus berinovasi mengembangkan berbagai tipe kapal perang, termasuk pengembangan lanjutan dari Kapal KCR 60 M, Kapal PKR, Kapal LPD 124 M, dan Kapal Selam Nagapasa Class," jelas PT PAL dalam laman resminya.

  ♞ CNBC  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...