Selasa, 12 Januari 2021

Yonif Mekanis Raider 411/Divif 2 Kostrad Uji Coba Senjata SS2 V5 A1

Sebanyak 67 pucuk senjata baru SS2 V5 A1https://www.divif2kostrad.com/wp-content/uploads/2021/01/Asah-Kemampuan-Yonif-Mekanis-Raider-411Divif-2-Kostrad-Latihan-Menembak-Uji-Coba-Senjata-SS2-V5-A1-1-1000x600.jpegYonif Mekanis Raider 411/Divif 2 Kostrad Latihan Menembak Uji Coba Senjata SS2 V5 A1

Yonif Mekanis Raider 411 Kostrad menggelar uji coba koreksi senjata dan latihan menembak senjata dalam rangka mengenal indeks senjata baru yang dimiliki oleh satuan Yonif Mekanis Raider 411 Kostrad, yaitu Senjata SS2 V5-A1 produk asli Indonesia dari PT Pindad bertempat di Lapangan Tembak Kembangsari, Salatiga. Selasa (12/01).

Diketahui, kegiatan Latihan Menembak Senjata Ringan merupakan kegiatan Triwulan Proglatsi dari Yonif Mekanis Raider 411 Kostrad dan juga untuk mengasah kemampuan prajurit TNI khususnya prajurit Kostrad guna menunjang tugas pokok.

Dalam kegiatan uji coba senjata terbaru tersebut turut hadir 4 orang dari PT Pindad yang dipimpin oleh Mayor (Purn) Zaenal Abidin guna memantau latihan dan memberikan penjelasan tentang karakteristik dari Senjata SS2 V5 A1 kepada prajurit.

https://www.divif2kostrad.com/wp-content/uploads/2021/01/Asah-Kemampuan-Yonif-Mekanis-Raider-411Divif-2-Kostrad-Latihan-Menembak-Uji-Coba-Senjata-SS2-V-2-1000x600.jpegDanyonif Mekanis Raider 411 Kostrad Mayor Inf Rizky Aditya S.Sos., M.Han., dalam keterangan rilisnya mengatakan, bahwa kegiatan latihan menembak uji coba dan koreksi menggunakan senjata SS2 V5-A1 produk dari PT. Pindad merupakan dukungan terbaru dari komando atas untuk Yonif Mekanis Raider 411 Kostrad.

“Jadi kegiatan latihan menembak dan koreksi senjata ini akan berlangsung selama tiga hari, pertama pengenalan senjata dilanjutkan ujicoba senjata, hari kedua nembak koreksi, hari ke tiga nanti akan dilakukan tembak penilaian,” ucap Danyon.

Lanjutnya, keunggulan senjata ini, efektinya 200 meter, senjata tersebut di proyeksikan untuk pertempuran jarak dekat (PJD) serbuan ruangan yang tentunya sangat mendukung prajurit Yonif Mekanis Raider 411 Kostrad yang memiliki kualifikasi Raider dan Mekanis dengan alutsista Ranpur M113 A1.

https://www.divif2kostrad.com/wp-content/uploads/2021/01/Asah-Kemampuan-Yonif-Mekanis-Raider-411Divif-2-Kostrad-Latihan-Menembak-Uji-Coba-Senjata-SS2-V-1000x600.jpeg“Mudahan-mudahan dengan dukungan senjata baru yang diberikan oleh komando atas kepada prajurit Pandawa ini akan meningkatkan kemampuan dan profesionalisme guna menghadapi tugas-tugas operasi yang akan datang,” tuturnya.

Ditemui usai latihan, Komandan Latihan (Danlat) yang sehari-hari menjabat sebagai Danki Senapan A/Pasopati Yonif Mekanis Raider 411 Kostrad Lettu Inf Kerti Dharma Sugita, S.T.Han., mengatakan bahwa kegiatan latihan uji coba dan koreksi menembak senjata baru ini dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Sebanyak 67 pucuk senjata SS2 V5 A1 buatan PT Pindad kita uji coba dan koreksi agar nantinya prajurit yang mengunakan senjata tersebut baik dalam tugas maupun latihan sudah memahami dan mengenal karakteristik senjata tersebut,” terang Danki.

 ♖ Divif 2 Kostrad  

Operasi Pencarian Diteruskan

Hingga Seluruh Korban DievakuasiFlight Data Recorder (FDR) pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang ditemukan oleh tim penyelam TNI di perairan Kepulauan Seribu selanjutnya akan dibawa KNKT untuk dilakukan pemeriksaan. [Tribunnews/Irwan Rismawan] ☆

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menegaskan tak akan menghentikan operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hingga seluruh korban ditemukan oleh tim penyelam.

Ia menuturkan ditemukannya blackbox yang berisikan Flight Data Recorder (FDR) tidak akan menghentikan operasi pencarian dari tim gabungan.

"Saudara-saudara sekalian operasi belum selesai karena terus akan kita lakukan evakuasi korban termasuk dengan seluruh potongan bodi pesawat juga akan kita upayakan diangkat dan body pesawat adalah dalam rangka melengkapi data yang diperlukan oleh KNKT," kata Marsekal Hadi di posko JICT II, Jakarta, Selasa (12/1/2021).

Ia menuturkan pihaknya juga masih tengah akan mencari Cockpit Voice Recorder (CVR) yang lokasinya telah dikantongi oleh tim penyelam. Dalam waktu dekat, pihaknya akan segera menemukan titik lokasi CVR.

"Saya yakin dengan kerja yang profesional dan didukung oleh peralatan yang mempuni dari KRI Rigel dan Baruna maka pencarian cockpit voice yang beaconnya sudah ditemukan hari ini juga bisa kita temukan," pungkasnya.

 Butuh Waktu 5 Hari untuk Membaca Flight Data Recorder

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, untuk membaca data pada Flight Data Recorder (FDR) yang merupakan bagian dari black box atau kotak hitam dibutuhkan waktu tiga sampai lima hari.

Menurut Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, pembacaan data FDR dalam waktu lima hari ini bisa mengungkap misteri kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

"Kami tentunya mengucapkan terima kasih untuk kerja sama yang baik dari berbagai pihak mulai dari TNI, Polri, Kementerian Perhubungan dan stakeholder lainnya yang berhasil menemukan FDR pesawat SJ 182," kata Soerjanto dalam jumpa pers di JICT Tanjung Priok, Selasa (12/1/2021).

Ia juga menjelaskan, penemuan bagian dari black box ini yaitu FDR kondisinya sudah terlepas dari pinger dan saat ini masih harus menemukan bagian lain yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR).

"Black box ini sangat penting dan menjadi kunci untuk melakukan investigasi kecelakaan pesawat SJ 182, dan tentunya diharapkan CVR ini dapat segera ditemukan," kata Soerjanto.

Menurut Soerjanto, investigasi yang dilakukan terkait kecelakaan pesawat SJ 182 tentunya untuk mengantisipasi kejadian ini terulang dan untuk masalah keselamatan juga.

Sebagai informasi, FDR sendiri merupakan alat yang dapat merekam data-data penerbangan. FDR dapat merekam data teknis pesawat, seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, termasuk autopilot.

Selain itu FDR memiliki kemampuan untuk merekam hingga 25-30 jam, dan setelah melewati waktu tersebut data pada FDR akan terhapus.

Dalam rangkaian black box pesawat terdiri dari dua komponen, yaitu FDR dan CVR. CVR dapat melakukan perekam suara kokpit sehingga data-data percakapan pilot di dalam kokpit dapat diketahui.

 CVR Sriwijaya Air SJ 182 Harus Dicari Tanpa Bantuan Deteksi Sinyal

Tim gabungan yang dipimpin oleh Basarnas telah menemukan bagian dari kotak hitam (black box) yakni Flight Data Recorder (FDR) pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun menjelaskan tahapan dari temuan tersebut.

Ia menyampaikan, pada pukul 14.00 WIB, dirinya memperoleh informasi dari Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Yudo Margono, bahwa ada temuan pecahan dan Underwater Locator Beacon (ULB) atau pinger di titik yang telah ditandai.

"Hari ini tepat jam 14.00 WIB, Kepala Sttaf Angkatan Laut menyampaikan informasi kepada saya, bahwa sesuai dengan perkiraan yang sudah ditentukan di wilayaj yang sudah ditandai, telah ditemukan bagian dari Flight Data Recorder jam 14.00. Bagian yang ditemukan justru adalah pecahan dan Underwater Locator Beacon yang fungsinya adalah memberikan sinyal," ujar Hadi, dalam konferensi pers di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021) sore.

Kemudian Hadi langsung meminta agar pencarian terhadap FDR itu terus dilakukan di titik tersebut.

"Saya meminta agar terus dicari FDR yang kemungkinan besar yang menjadi perkiraan kita sebelumnya," kata Hadi.

Selanjutnya, Kasal Yudo Margono kembali melaporkan temuan terbaru tim penyelam pada pukul 16.40 WIB, yakni ditemukannya FDR dan dua ULB yang ternyata terlepas dari Cockpit Voice Recorder (CVR).

"Pukul 16.40, Kepala Staf Angkatan Laut melaporkan kembali bahwa Flight Data Recorder sudah ditemukan dan dilaporkan pula bahwa Underwater Locator Beacon ditemukan sebanyak dua," jelas Hadi.

Sehingga saat ini tim penyelam harus mencari CVR tersebut tanpa dibantu sinyal atau bunyi dari ULB atau pinger.

"Artinya, satu lagi Cockpit Voice Recorder masih perlu dicari dengan tanpa adanya bantuan Beacon tersebut," tegas Hadi.

Kendati demikian, Hadi meyakini CVR itu tidak jauh dari lokasi ditemukannya ULB yang seharusnya juga melekat pada CVR.

"Namun kami meyakini semua bahwa karena Beacon yang ada di Cockpit Voice juga ditemukan di sekitar itu, maka dengan keyakinan yang tinggi Cockpit Voice juga akan segera ditemukan," pungkas Hadi.

Sebelumnya, hal ini sempat terjadi pada temuan black box pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh pada 2015 lalu.

Seperti yang disampaikan mantan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi dalam tayangan Kompas TV, Senin (11/1/2021) kemarin.

"Mudah-mudahan si pinger ini tidak loncat dari black box nya. Sehingga yang dicari, black boxnya ada di situ. Pengalaman AirAsia, ini lepas, si pingernya itu lepas, tidak dengan black boxnya," kata Tatang.

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dengan rute Jakarta (CGK) - Pontianak (PNK) telah kehilangan kontak pada Sabtu (9/1/2021), pukul 14.40 WIB.

Pesawat Boeing 737-500 ini jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Dalam pesawat naas ini, terdapat 6 kru aktif serta 6 kru tambahan, 40 penumpang dewasa, 7 anak-anak dan 3 bayi.

 KNKT Menduga Mesin Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Masih Hidup Sebelum Membentur Air

Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) tengah melakukan investigasi terkait kecelakaan yang meninpa pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Perairan Kepulauan Seribu, setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Supadio Pontianak.

Ketua KNKT Sorjanto mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan data radar (ADS-B) dari AirNav Indonesia.

Berdasarkan data tersebut, tercatat pesawat mengudara pada pukul 14.36 WIB, terbang menuju arah Barat Laut.

Pada pukul 14.40 WIB pesawat mencapai ketinggian 10.900 kaki. Selanjutnya, pesawat tercatat mulai turun dan dari data terakhir pesawat berada pada ketinggian 250 kaki.

“Terekamnya data sampai 250 kaki mengindikasikan bahwa sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data. Dari data ini kami menduga bahwa mesin masih dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air,” ujar Soerjanto dalam keterangan resminya, Selasa (12/1/2021).

Selain itu, lanjut Soerjanto, pihaknya juga mendapat data dari KRI Rigel terkait sebaran wreckage memiliki besaran dengan lebar 100 meter dan panjang 300 sampai 400 meter.

“Luas sebaran ini konsisten dengan dugaan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air,” kata dia.

Sorjanto menambahkan, temuan bagian pesawat yang telah dikumpulkan Basarnas salah satunya adalah bagian mesin, yaitu turbin disc dengan fan blade yang mengalami kerusakan.

“Kerusakan pada fan blade menunjukan bahwa kondisi mesin masih bekerja saat mengalami benturan. Hal ini sejalan dengan dugaan sistem pesawat masih berfungsi sampai dengan pesawat pada ketingguan 250 kaki,” ungkapnya.

Upaya pencarian black box berupa flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) telah menangkap sinyal dari locator beacon.

“Dari sinyal yang diperoleh sudah dilakukan pengukuran dengan triangulasi dan telah ditentukan perkiraan lokasi seluas 90 meter persegi. Sejak pagi hari tanggal 11 Januari tim penyelam sudah mencari di lokasi yang sudah diperkirakan. Sampai dengan sore hari, black box belum ditemukan dan pencarian masih dilakukan,” ucap dia.

Soerjanto menegaskan, hingga saat ini proses investigasi masih terus berlangsung dan akan melakukan beberapa kegiatan. Misalnya melanjutkan pencarian black box, pengumpulan data pesawat dan awak pesawat, serta melakukan interview dengan pihak terkait.
 

  ☆ Tribunnews  

Black Box Sriwijaya Air SJ 182 Ditemukan

  KRI 933 Rigel membantu mencari pesawat SJ 182 [tribunnews] ☆

Black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara ditemukan. Black box berisi data penerbangan yang bisa digunakan untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

Penemuan black box ini berdasarkan pantauan reporter CNN Indonesia yang sedang berada di lokasi pencarian di perairan Kepulauan Seribu. Black box diangkut menggunakan KRI Rigel ke Posko JICT, Tanjung Priok.

Sriwijaya Air SJ 182 jatuh pada Sabtu (9/1) lalu usai lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Sedianya pesawat nahas tersebut akan menuju Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

Data sementara mencatat, pesawat sempat berbelok dari jalur seharusnya sebelum turun tajam dari ketinggian.

Black box atau kotak hitam adalah istilah umum yang digunakan dalam industri penerbangan untuk merekam data selama pesawat diterbangkan. Walaupun disebut kotak hitam, nyatanya black box dibalut warna yang terang menyala atau cerah agar mudah teridentifikasi dalam operasi pencarian.

Black box terdiri dari dua kombinasi perangkat yaitu CVR (Cockpit Voice Recorder) atau percakapan dalam kokpit pesawat dan FDR (Flight Data Recorder) atau rekaman data penerbangan.

Infografis Black Box [sindonews] ☆

FDR terus merekam beragam data tentang semua aspek pesawat saat terbang dari satu tempat ke tempat lain. Sementara CVR merekam percakapan di dek penerbangan dan suara-suara seperti transmisi radio dan alarm otomatis.

Black box juga dilengkapi perangkat yang dikenal sebagai Underwater Locator Beacon (ULB). Perangkat tersebut akan aktif segera setelah perekam bersentuhan dengan air dan dapat mengirimkan sinyal dari kedalaman 14.000 kaki.

Fungsi alat tersebut adalah guna membantu menemukan black box setelah kecelakaan pesawat yang terjadi di laut.

Untuk mempermudah menemukannya, black box sebenarnya tidak berwarna hitam melainkan berwarna oranye terang.

Dengan penemuan black box Sriwijaya Air SJ 182 ini diharapkan penyebab kecelakaan pesawat nahas tersebut segara terungkap. (sur/sur)
 

  ☆ CNN  

KSAL Kerahkan 14 KRI Bantu Operasi SAR Sriwijaya Air

Tambah 6 Kapal Perang Ilustrasi KRI Semarang 594 [PAL]

K
epala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono memberikan semangat moril Prajurit TNI Angkatan Laut yang melaksanakan Search And Rescue (SAR) jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dengan meninjau langsung aktivitas prajurit di lokasi SAR menggunakan KRI Kurau-856, di perairan Kepulauan Seribu, Senin (11/1/2020).

Peninjauan langsung ke para penyelam di atas beberapa sea rider di sekitar area yang diperkirakan black box berada. Dalam tatap muka tersebut, Yudo menekankan agar tetap menjaga keselamatan, kesehatan, motivasi yang tinggi dan bekerja secara professional. Pada saat ini juga, Yudo memberikan dukungan logistik extra untuk menunjang kebugaran para prajurit.

Saat mengunjungi kapal survey KRI Rigel-933, Yudo menjelaskan kehadirannya di lokasi tersebut untuk memberikan dukungan moril kepada para prajurit khususnya TNI AL agar tetap semangat dalam melaksanakan SAR dan pencarian keberadaan black box.

Menurutnya, Panglima TNI kemarin telah menyampaikan area keberadaan black box sudah ditemukan, namun sampai sekarang masih dalam proses pencarian karena di bawah masih banyak puing-puing yang tertimbun. “Situasi laut tidak sama seperti kemarin, saat ini kondisi berombak dan dapat memengaruhi vacibility keadaan di bawah. Tentunya akan menjadi kendala, namun dengan profesionalisme mereka, saya tekankan harus dengan sabar mencari dengan kekuatan dan kemampuan profesionalisme yang mereka miliki,” ungkapnya.

Lebih jauh Yudo menyebutu sebanyak 14 KRI dilibatkan dalam operasi SAR tersebut, setelah ada penambahan 6 KRI dari jumlah sebelumnya yang hanya 8 KRI. Penambahan unsur tersebut merupakan unsur yang akan melaksanakan latihan di Natuna. Latihan tersebut dibatalkan untuk melaksanakan operasi kemanusiaan saat ini, sehingga untuk latihannya akan ditentukan setelah kegiatan SAR ini selesai.

Sementara itu, untuk pasukan Sea Rider dan penyelam dari Dislambair, Kopaska, Taifib dan Denjaka yang diterjunkan berjumlah 160 orang personel secara bergantian dan saat ini ada 88 orang yang berada di lokasi SAR.

Dengan didatangkannya KRI Semarang-594 yang dilengkapi dengan portable jumper diharapkan bisa digunakan sebagai markas agar para penyelam dapat beristirahat dan menghilangkan dehidrasi dengan masuk ke dalam jumper. “Kita berharap semoga Black Box segera ditemukan dan puing-puing tetap diangkut dinaikkan kepermukaan. Tentunya semua ini dikoordinasikan oleh Basarnas dan instansi terkait lainnya,” tambahnya.

  ★ sindonews  

Senin, 11 Januari 2021

3 Hari Operasi SAR

Sudah 40 Kantong Berisi Jenazah DikumpulkanKadispenal Laksma TNI Julius Widjojono menyampaikan hingga sore hari ini, tim belum mendapatkan black box pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di lokasi yang diduga tempat jatuhnya pesawat tersebut. [Foto/Ist] ☆

Kabasarnas Marsdya TNI (Purn) Bagus Puruhito mengatakan, operasi SAR pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 masih terus berlanjut.

Selama tiga hari proses pencairan terhitung sejak Sabtu, 9 Januari 2021 hingga hari ini Senin, (11/1/2020) pukul 17.00 WIB, sudah 40 kantong berisikan bagian tubuh korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air berhasil dikumpulkan.

"Sampai sore ini ada perkembangan. Yang tadinya 18 kantong jenazah yang sudah kita temukan, hari ini bertambah 22 kantong. Jadi total kita sudah kumpulkan 40 kantong jenazah (berisikan body part)," kata Bagus di JICT II, Jakarta Utara, Senin (11/1/2021).

Bagus menambahkan, di hari ketiga ini Tim SAR gabungan tetap memfokuskan pada korban selain mencari black box.

"Seperti saya katakan fokus kita pada operasi SAR ini kepada evakuasi korban. adapun material ada tambahan dua kantong. Saat ini operasi SAR masih berlangsung di area. Saya juga mohon doa dan supportnya kepada seluruh masyarakat agar operasi ini berjalan lancar dan kita bisa selesaikan dengan baik," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Sriwijaya SJ-182 route Jakarta-Pontianak dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 9 Januari 2021, sore sekitar pukul 14.40 WIB.

Pesawat yang bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta tersebut mengangkut penumpang sebanyak 62 penumpang, terdiri dari 6 awak aktif, 40 dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi dan 6 awak sebagai penumpang.

 Korsel Kerahkan Kapal dan Alat Pendeteksi Kedalaman
KN SAR 301 Wisnu [sindonews] ☆

Korea Selatan (Korsel) menyatakan, mereka mengerahkan kapal untuk membantu proses pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat proses pencarian pesawat nahas tersebut.

Menurut keterangan Kedutaan Besar Korsel di Jakarta yang diterima Sindonews pada Senin (11/1/2021), Seoul mengirimkan bantuan berupa kapal riset ARA dan alat pendeteksi keadaan bawah laut yang sedang dioperasikan oleh Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC), serta tenaga ahli yang mengoperasikannya untuk membantu proses pencarian pecahan pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

MTCRC adalah pusat penelitian yang dibangun pada September 2018 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Korsel dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Indonesia berdasarkan MoU Kerja Sama Bidang Kemaritiman yang ditandatangani pada Mei 2016 lalu.

Pusat penelitian tersebut menjalankan riset bersama, program pendidikan serta pelatihan di bidang kemaritiman.

Kedubes Korsel mengatakan, Seoul mengambil keputusan untuk menyalurkan bantuan tersebut, setelah adanya permintaan darurat dari Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Safri Burhanuddin.

"MTCRC telah menerjunkan 15 orang yang terdiri dari kapten kapal riset dan awak kapal tiga orang, lima orang tenaga ahli untuk mengoperasikan perlengkapan, tujuh orang tenaga ahli untuk pendataan, ke lokasi pencarian untuk bekerja sama dengan tim Indonesia," lanjutnya.

Kapal ARA yang dilengkapi dengan alat pendeteksi kedalaman, jelasnya, telah bertolak dari Pelabuhan Cirebon tempat kapal tersebut bersandar siang hari ini dan paling lambat besok sudah dikerahkan ke lokasi kecelakaan setelah melalui koordinasi secara mendetail, seperti bagaimana mengakses ke lokasi kejadian, dengan tim Basarnas Indonesia.

"Korsel, sebagai mitra negara yang memiliki hubungan Kemitraan Strategis Khusus (Special Strategic Partnership) dengan Indonesia, akan proaktif bekerja sama dengan Indonesia agar seluruh proses pencarian dapat berlangsung cepat dan aman," tukasnya. (esn)

 Black Box Sriwijaya Air Masih Belum Ditemukan
infografis blackbox [sindonews] ☆

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Julius Widjojono menyampaikan hingga sore hari ini, tim belum mendapatkan black box pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di lokasi yang diduga tempat jatuhnya pesawat tersebut.

Julius menyampaikan dalam proses pencarian black box ini, tim di lapangan telah menurunkan Remotly Operated Vehicle (ROV). Alat ini diharapkan bisa menemukan keberadaan dari black box pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

"Belum (ditemukan). (Saat ini) area nya makin diperkecil, butuh kesabaran ekstra," kata Julius saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin (11/1/2021).

Sayangnya, dia tak menjabarkan lebih lanjut tentang kendala yang dihadapi tim pencari black box hingga sore ini. Julius hanya menyebut, tim saat ini membutuhkan kesabaran mencari keberadaan black box tersebut.

"Mohon doanya agar para prajurit tidak lengah dan tetap memperhatikan keselamatan," ujar dia.


  ☆ sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...