Kamis, 06 September 2012

Latma “Kakadu Exercise 2012” Memasuki Tahap Manlap

Latihan bertujuan untuk mempererat kerja sama antara TNI AL dan negara-negara peserta latihan serta meningkatkan interoperability dalam maritime security regional pada operasi multilateral

Latma “Kakadu Exercise 2012” Memasuki Tahap Manlap
KRI Frans Kaisiepo-368 TNI AL
Darwin, -- LATIHAN bersama berskala multilateral Angkatan Laut delapan negara dengan nama sandi “Kakadu Exercise 2012” telah memasuki tahap manuver lapangan yang berlangsung di perairan sebelah utara Australia. Sebanyak 18 kapal perang dari delapan negara memenuhi perairan sebelah utara Australia itu untuk melaksanakan tahap sea phase dalam latihan bersama hingga tanggal 13 September 2012.

Dalam tahap sea phase ini, materi latihan yang dilaksanakan meliputi: Marine Skills, SAR Ex, Boarding Ex, CASEX, Gunnery Ex, Cross Deck Landing, RAS Ex, ADEX, Encounter Maritime Terror Ex, dan Multiwarfare Ex. Seluruh kapal perang yang terlibat bergerak dari pelabuhan Forth Hill Wharf Darwin, Australia menuju laut lepas dengan bentuk formasi yang telah ditentukan.

Latihan bersama “Kakadu Exercise 2012” yang diselenggarakan oleh Royal Australian Navy (RAN) selaku tuan rumah, merupakan latihan bersama setiap dua tahun. Latihan ini dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan hubungan kerja sama antarnegara di Asia Pasifik, sehingga diharapkan dapat mewujudkan stabilitas keamanan di kawasan. Latihan ini diikuti oleh Angkatan Laut 8 (delapan) negara, terdiri dari Australia, Brunei Darussalam, Indonesia, Perancis, Jepang, Selandia Baru, Singapura, dan Thailand.


Dari 18 kapal perang yang terlibat latihan, Angkatan Laut Australia mengerahkan 9 kapalnya, yakni HMAS Darwin, HMAS Dechaineux, HMAS Perth, HMAS Warramunga, HMAS Sirius, HMAS Bathurst, HMAS Ararat, HMAS Gascoyne, dan HMAS Huon; Angkatan Laut Brunei satu kapal yakni KDB Darussalam, Perancis satu kapal FNS Vendemiaire, Jepang satu kapal JS Shimakaze, Selandia Baru dua kapal yakni HMNZS Te Kaha dan HMNZS Endeavour, Singapura dua kapal RSS Stalwart dan RSS Valiant, Thailand satu kapal HTMS Rattanakosin, dan dari Indonesia TNI AL mengerahkan kapal perang TNI AL KRI Frans Kaisiepo-368 didukung satu unit helikopter TNI AL jenis Bolcow BO-105. Selain kapal perang beberapa negara mengerahkan juga beberapa pesawat tempur dan helikopternya.

Keikutsertaan TNI AL dalam latihan ini dimaksudkan sebagai ajang komparasi profesionalitas prajurit dalam menguasai berbagai problem latihan yang dilaksanakan, sekaligus untuk menguji kemampuan alutsista yang dimiliki dihadapkan pada kemampuan alutsista negara lainnya. Hal ini karena pada latihan “Kakadu Exercise 2010” yang dilaksanakan di Darwin, Australia dua tahun yang lalu, TNI AL hanya berperan sebagai observer. Sedangkan pada latihan Tahun 2012 ini TNI AL mengikuti semua rangkaian latihan yang dilaksanakan.

Sigapuran, Brunei & Indonesia
Dalam latihan “Kakadu Exercise 2012” ini masing-masing peserta akan diuji kemampuannya dalam mengaplikasikan dan mengembangkan doktrin, taktik serta prosedur operasi laut sesuai referensi yang telah ditetapkan, mengaplikasikan operasi tempur laut dalam kegiatan peperangan anti kapal permukaan, anti kapal selam, dan pertahanan udara, menguji kemampuan dalam mengaplikasikan prosedur Maritime Interdiction Operation (MIO) terhadap kapal-kapal yang dicurigai serta prosedur penanganan SAR, mengasah kemampuan dasar kepelautan (Marine Skill) bagi seluruh prajurit secara profesional, serta melatih komando dan pengendalian dan kerja sama taktis serta teknis antar unsur Angkatan Laut para peserta.

Latihan bertujuan untuk mempererat kerja sama antara TNI AL dan negara-negara peserta latihan serta meningkatkan interoperability dalam maritime security regional pada operasi multilateral. Sedangkan sasaran latihan yang ingin dicapai pada latihan “Kakadu Exercise 2012” ini antara lain: memelihara dan meningkatkan hubungan baik antara negara peserta latihan dalam rangka menjaga stabilitas keamanan regional, meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam pemahaman prosedur dan taktik operasi laut, memadukan pemahaman dan pengembangan dalam prosedur maritime security serta Standard Operational Procedure (SOP)  untuk pemeriksaan di laut dan SAR.
(Pelita Online)

Negara Asean Minati Panser Anoa

Irak dan Uganda sudah menyampaikan ketertarikan untuk memesan senjata-senjata buatan Indonesia. Bahkan pejabat Irak, pada hari ulang tahun TNI ke-67 Oktober 2012 nanti akan hadir dan melihat senjata-senjata buatan Indonesia.

Rupanya, selain dua negara dari Afrika dan Timur Tengah itu, negara-negara Asia Tenggara juga sudah menunjukkan ketertarikannya atas senjata-senjata dan alat angkut militer buatan Indonesia.


"Malaysia dan Brunei Darussalam sudah mengadakan observasi," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam perbincangan dengan VIVAnews di gedung DPR, Jakarta. Satu negara Asia lain yang juga berminat senjata buatan Indonesia, yakni Filipina.


Menurut Sjafrie, negara-negara lain berminat senjata buatan anak negeri karena teknologi yang diterapkan. Indonesia memberikan calon pembeli dengan opsi teknologi menengah.


"Seperti transportasi sedang, transportasi ringan Anoa, senjata ringan. Semua kaliber dan pistol," jelas Sjafrie. Khusus untuk Malaysia dan Brunei, kata Sjafrie, dua negara itu tertarik pada Panser Anoa buatan PT Pindad. "Untuk Filipina tertarik apda CN235 dan LPD (jenis kapal/Landing Platform Deck)."


Kemajuan industri juga sudah melebar ke Arab Saudi. Indonesia sudah mengirim sampel senjata sebagai tahap awal kerjasama. "Kita sudah memberikan contoh produk ke Arab Saudi, tapi baru penjajakan. Responnya belum," jelas Sjafrie.


Produksi senjata Indonesia yang terus dikenal di dunia internasional itu juga mendapat pujian dari Australia. Kementerian Pertahanan Australia, kata Sjafrie, melihat industri pertahanan Indonesia sudah maju pesat selama 5 tahun ini.
@ Viva.co.id

RI-Australia Saling Perkuat Industri Pertahanan, Ada Apa?

http://static.republika.co.id/uploads/images/square/menteri-pertahanan-australia-stephen-smith-kanan-bersama-menteri-pertahanan-_120904191730-110.jpgJAKARTA - Hubungan bilateral Indonesia Australia diperkuat dengan kesepakatan kerja sama pengembangan industri pertahanan antara kedua negara.

Dalam MOU yang ditandatangani Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Australia, Stephen Smith, disepakati kedua negara akan saling menjajaki kerja sama untuk saling memperkuat industri pertahanan di masing-masing negara.

Pembahasan kerja sama  yang berlangsung di Kementerian Pertahanan Indonesia Jakarta, dipimpin oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta dan Menteri urusan Alutsista sekaligus Menteri Dalam Negeri dan Hukum Australia, Jason Clare.

Menristek Gusti Muhammad Hatta mengatakan dalam diskusi, perwakilan kedua negara saling bertukar pengalaman mengenai perkembangan industri pertahanan masing-masing. Selanjutnya, kedua negara akan mengidentifikasi industri pertahanan yang memiliki potensial kerja sama jangka pendek maupun jangka panjang.

“Diskusinya bagus sekali, dan kita akan menindaklanjuti pertemuan ini. Ke depan akan ada pertemuan antar industri pertahanan Indonesia dan Australia,” tegas Menristek.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat sebelum penggelaran Indonesia Defence Expo akan ada pertemuan lanjutan untuk membahas lebih detail rencana kerjasama di sektor industri pertahanan.

Sementara itu, Menteri Urusan Alutsista sekaligus Menteri Dalam Negeri dan Hukum Australia, Jason Clare, mengatakan Australia sangat tertarik untuk menjajaki kerja sama di sektor pertahanan tersebut. Dalam pameran industri pertahanan Indonesia yang akan digelar 7-9 November 2012 nanti, akan ada 20 perusahaan industri pertahanan Australia yang akan ikut berpartisipasi.

Ini adalah peningkatan pesat dari pameran sebelumnya. “Pada Indo Defence Expo yang digelar 4 tahun lalu, hanya 1 perusahaan industri pertahanan Australia yang ikut. Kami sangat menanti tindak lanjut dari kerjasama ini,” Katanya dalam jumpa pers di Kementerian Pertahanan.

Kerja sama ini merupakan satu dari 3 MOU kerjasama yang ditanda tangani antara pemerintah Indonesia dan Australia pekan ini. Kemarin kedua delegasi telah menyepakati MOU kerjasama pertahanan dan kerjasama maritim dan SAR.
(Republika)

Antara F27 dan C295

Tidak ada seorang komandan yang menginginkan anak buahnya gugur. Demikian juga yang dirasakan oleh Danlanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI A. Adang Supriyadi. Kamis pagi 21 Juni 2012, Lanud Halim baru saja beres melaksanakan latihan puncak tingkat lanud bersandi Rajawali Perkasa 2012. Latihan tahunan yang diakhiri dengan manuver lapangan itu berlangsung lancar dan sukses hingga upacara penutupan.

Namun, kebahagiaan tak berlangsung lama. Siang hari pukul 14.42 WIB segenap jajaran Lanud Halim dikejutkan oleh berita jatuhnya pesawat Fokker F27 milik Skadron Udara 2 dengan registrasi A-2708. Danlanud segera meluncur ke lokasi jatuhnya pesawat di Jl. Branjangan, Kompleks Rajawali. Di sana api sudah membumbung tinggi, menghanguskan sembilan rumah, dua di antaranya tertimpa pesawat.

Danlanud terhenyak, amat tidak menyangka. “Saya ini paling sering turun ke bawah, mengingatkan kepada jajaran soal safety. Tapi toh musibah terjadi juga,” ujar Danlanud tercekat. Siang itu Mayor Pnb Heri Setyawan sebagai instruktur senior di Skadron Udara 2 tengah membimbing dua juniornya melakukan latihan profisiensi. Penerbangan dilakukan dua sorti siang hari karena pagi harinya ada upacara.

Siswa pertama Lettu Pnb Paulus berlatih on seat pada sorti pertama, dilanjutkan sorti kedua oleh Letda Pnb Syahroni. Mereka bertiga ditambah empat kru pesawat yang lain, yakni Kaptek Tek Agus Supriadi (Stukpa), Serma Simulahto (JMU-1), Serka Wahyudi (JMU-2), dan Sertu Purwo (LM). Setiap siswa melakukan latihan touch and go sekitar delapan kali. Latihan untuk penerbang pertama sudah selesai dilaksanakan. “Ini adalah latihan rutin, biasa dilaksanakan berulang kali tidak saja oleh Skadron Udara 2, tapi juga oleh Skadron Udara 31 maupun Skadron Udara 17,” tambah Danlanud yang pernah menjadi Komandan Skadron Udara 2 dan mengantongi 7.000-an jam di F27 ini.

Mengapa musibah bisa terjadi dan mengakibatkan gugurnya tujuh personel TNI AU serta empat warga sipil? Danlanud Halim menggelengkan kepala terdiam. Yang jelas, saat ini tim PPKPU (Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Udara) sedang bekerja melakukan penyelidikan. Tim diketuai oleh seorang perwira menengah berpangkat kolonel beranggotakan 19 orang yang ditunjuk meliputi lima bidang penyelidikan yaitu materiil, media, manusia, manajemen, dan misi atau biasa disebut 5M. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan tim akan melaporkan temuan dan rekomendasinya Kepada KSAU. Sebelum itu, hasil penyelidikan akan disidangkan di depan Dewan Lambangja, diketuai oleh Wakil KSAU beranggotakan perwira tinggi bintang dua dan pejabat yang ditunjuk.

Pesawat Fokker 27 yang dioperasikan oleh Skadron Udara 2 sejak tahun 1976 ada delapan pesawat. Sebanyak tiga unit jatuh, yaitu dengan registrasi A-2702, A-2703, dan A-2708. Sisa lima unit lagi sebenarnya tengah dalam proses perawatan dan penghidupan. Namun apakah apakah pesawat ini akan di-grounded permanen atau bersifat sementara hingga penyelidikan usai, belum ditentukan secara pasti.

 Akhir September

C-295 TNI AU (Airliners)
Saat ini Skadron Udara 2 sedang menunggu datangnya pesawat C295 buatan Airbus Military, Spanyol. Empat penerbang TNI AU telah dikirim sejak 9 Juli lalu ke Spanyol untuk melaksanakan ground school dan terbang konversi ke pesawat C295 di Airbus Military Training Center, Sevilla, Spanyol. Mereka adalah Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Elistar Silaen, Mayor Pnb Destianto, Mayor Pnb Trinanda, dan Kapten Pnb Reza Fahlefie.

Dari PT Dirgantara Indonesia juga turut diberangkatkan dua penerbang uji, yaitu Captain Esther Gayatri Saleh, dan Capt Novista Mafriando, serta flight test engineer Heru Riadi Soenardi. Dijadwakan, pada akhir September 2012 dua pesawat C295 akan datang dan bergabung dengan jajaran Skadron Udara 2. Fasilitas hanggarnya saat ini tengah dalam pembangunan di sebelah shelter Skadron Udara 31.

Tahun ini Skadron Udara 2 juga berencana menghidupkan sisa empat pesawat CN235. Skadron Udara 2 mengoperasikan enam unit CN235 buatan PT DI, satu di antaranya jatuh saat digunakan. Sementara satu lagi sedang dalam perbaikan. Empat penerbang Skadron Udara 2 saat ini juga tengah belajar simulator CN235 di Merpati Nusantara, Surabaya.(Roni Sontani)

Rabu, 05 September 2012

21 Program Pengadaan Alutsista TNI

Senayan - Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, Kemhan telah menyusun 21 kegiatan prioritas pengadaan alutsista bagi TNI. Lima program di antaranya secara pendanaan telah disetujui oleh Komisi I DPR atau tanda bintangnya telah dicabut.

"Untuk TNI AD pengadaan helikopter angkut, dari TNI AL untuk pengadaan Tank Amfibi BMP-3F. Dari TNI AU untuk pengadaan enam pesawat Sukhoi 30 MK2, pesawat pengganti MK-53, dan pesawat pengganti F-27 beserta dukungannya yaitu pesawat CN-295," ujar Menhan dalam raker dengan Komisi I, Rabu (5/9).


Lebih lanjut Menhan mengatakan, 16 prioritas dalam pengadaan alutsista yang belum mendapat persetujuan Komisi I DPR RI, masih ada dua kegiatan, dua kegiatan masih berada di Kemenkeu, dan 12 kegiatan lainnya masih dalam proses penyelesaian administrasi.


"Dua kegiatan yang masih di Komisi I DPR yaitu dari TNI AD untuk pengadaan heli serbu beserta persenjataannya dan amunisinya. Dari TNI AU, untuk pengadaan enam Helikopter Full Combat SAR Mission EC 725. Sementara dua kegiatan yang masih di Kemenkeu adalah pengadaan Rudal Arhanud ME-Armed 155," ujarnya


Sementara, kata Menhan, dari 12 kegiatan yang masih proses penyelesaian administrasi itu, dari Mabes TNI untuk pengadaan Rantis 2,5 ton 4X4, kendaraan angkut, dari TNI AD heli serang beserta persenjataan dan amunisinya, ranpur MBT, rudal MLRS. Sedangkan dari TNI AL adalah MLM KRI kelas korvet tahap I, kapal bantu hidro oseanografi, kapal latih pengganti Dewa Ruci, CN 235 MPA, Heli AKS antikapal selam dan suku cadangnya, panser Amfibi BTR 80-A, dan Multiple Launch Rocket System (MLRS).


Sementara itu Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq menambahkan, per 31 Agustus 2012, Komisi I telah menyetujui alokasi anggaran untuk pengadaan kapal selam elektrik tiga unit, yang pengadaannya dari Korsel dan pengadaan enam unit Sukhoi. "Sementara untuk pengadaan MBT Leopard dari Jerman, juga mendukungnya dan dalam proses administrasi soal persetujuannya," tegas Mahfudz
(Jurnal Parlemen)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...