Jumat, 12 Oktober 2012

Orang-Orang "Penting" di Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia (1)

KRI Dewaruci berada di New York
Kesuksesan ekspedisi KRI Dewaruci keliling dunia hingga tiba kembali ke tanah air kemarin (1/10) tak bisa dilepaskan dari orang-orang "penting" di kapal latih TNI-AL itu. Salah satunya Serka Lis Supari. Wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO yang ikut dalam pelayaran bersejarah tersebut menceritakan peran besar Supari.
 Supari, si Tukang Listrik yang Ahli Tambal Kapal

SUPARI mengawali pendidikan di TNI-AL pada 1987. Sebagai orang desa, dia tidak pernah membayangkan akan menjadi prajurit matra laut.

Tapi, siapa sangka, lulusan STM YPP Bersubsidi Purworejo, Jawa Tengah, jurusan listrik itu akhirnya menjadi orang pertama di desanya yang diterima di TNI-AL. Dia benar-benar bangga. "Alhamdulillah, sekali daftar saya langsung katut (diterima)," kenangnya.


Ketertarikan Supari masuk TNI-AL sebenarnya bermula dari coba-coba. Sebab, selulus STM, dia menganggur tiga tahun. Saat itu dia "terdampar" di Jakarta dan tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dengan bekal ijazah sekolah kejuruan itulah, pria asal Desa Kledung, Kecamatan Banyuurip, Purworejo, tersebut ikut seleksi calon tamtama di Armada RI Kawasan Barat (Armabar) Jakarta.


Tapi, baru menyerahkan berkas saja, Supari sudah kena damprat panitia yang mendaftar. Waktu itu dia ditanya mengapa baru mendaftar setelah tiga tahun lulus sekolah. Supari menjawab sekenanya.


"Pas ditanya apa saja kegiatan saya sebelum mendaftar, saya bilang mblakrak dan dolan. Spontan saya langsung dibilang bego oleh petugas itu," ujar Supari, lalu terkekeh.


Pada masa itu persyaratan fisik atau postur yang proporsional, khususnya tinggi badan, belum ditetapkan minimal 165 cm seperti ketentuan sekarang. Karena itu, dengan tubuh kerempeng setinggi 162 cm, Supari tetap boleh ikut seleksi.


Dia sempat kurang percaya diri dengan kondisi fisiknya. Apalagi, jumlah pendaftar ketika itu lebih dari 6.000 orang. Sementara itu, siswa calon tamtama (catam) yang diambil hanya 60 orang. "Mungkin sudah takdir, saya yang kecil dan ndeso ini ternyata masuk di tahap pantukhir (penentuan terakhir)," imbuhnya.

Supari mengungkapkan, fisiknya kurus sebenarnya bukan karena kurang gizi. Tetapi, karena dia gemar berolahraga, khususnya lari jarak jauh (10 ribu meter dan maraton). Dia bahkan menjadi andalan sekolahnya dalam kejuaraan-kejuaraan lari tingkat kabupaten.

"Hampir tiap hari saya lari 5-10 km. Itu resep yang membuat tubuh saya selalu fit," terang pria yang genap 47 tahun pada 2 April lalu dengan bangga.

Pada Desember 1987 Supari menjalani pendidikan dasar militer di Pusdikdasmil Juanda, Sidoarjo, sekitar tiga bulan dan pendidikan kejuruan di Kobangdikal, Bumimoro, Surabaya, sekitar sembilan bulan. Ketika dinyatakan lulus dari pendidikan itu, dia dilantik sebagai anggota TNI-AL dengan pangkat kelasi dua di korps listrik.

Setelah itu, Supari langsung ditempatkan di KRI Dewaruci di bawah Satuan Kapal Bantu Armatim. Dia seangkatan dengan dua personel senior di kapal latih itu. Yakni, Bintara Utama Peltu SBA Johanes Satoro dan Sertu Bek Ainu Rofik. Johanes dan Rofik sejak dinas perdana di Dewaruci belum pernah bertugas di kesatuan lain.

Sementara itu, Supari pada 2006-2011 pernah mendapat kepercayaan memperkuat satuan lain. Dia bertugas di Divisi Pantai Satuan Kapal Amfibi Koarmatim Surabaya dan mengikuti proyek maintenance listrik kapal Sigma di galangan kapal Schadel, Flishingen, Belanda.


Di KRI Dewaruci, anggota korps listrik berada di bawah departemen mesin. Supari yang kini berpangkat sersan kepala menjadi bintara paling senior di departemen itu. Sudah 14 komandan kapal silih berganti menjabat sejak dia masuk kapal berumur 60 tahun tersebut. Selama menjadi awak kapal legendaris itu, dia pernah mengalami kejadian luar biasa yang hampir merenggut nyawanya.

Sehari menjelang berlayar ke Australia pada akhir 1997, dapur kapal di geladak tengah terbakar hebat. Penyebabnya, tungku pemanas dan penggorengan mengalami korsleting. Kebetulan Supari sedang jaga darat atau piket. Saking paniknya juru masak ketika itu, api yang berkobar disiram air laut. Kobaran api bukannya padam, melainkan malah tambah besar dan sulit dijinakkan.


"Kami berusaha mati-matian memadamkan kebakaran agar tidak merembet ke ruang lain," ungkap bapak Rifki Muhammad Yusuf, 16, dan Hanif Nur Ibrahim, 12, itu.


Setelah kebakaran bisa dikendalikan, tugas baru menantinya. Instalasi dan tungku listrik di dapur rusak berat. Supari dan juru listrik lain ketiban sampur harus melembur untuk memperbaiki peranti 10 ribu kilowatt itu. "Sebab, kapal dijadwalkan harus berangkat jam 10 esok paginya," tuturnya.


Supari tidak bisa membayangkan bagaimana jika perbaikan itu tak dapat selesai sesuai dengan harapan komandan kapal. Pasalnya, kegiatan Dewaruci dalam pelayaran selama empat bulan keliling Australia sudah terjadwal. "Beruntung, kami bisa menyelesaikan perbaikan ekstra itu satu jam sebelum kapal berangkat," cerita Supari.


Ekspedisi Dewaruci keliling dunia 2012 menjadi tantangan tersendiri bagi Supari. Sebab, kali ini Dewaruci berlayar dalam waktu sangat lama dan sangat jauh. Kapal latih TNI-AL itu melintasi jarak 27 ribu nautikal mil atau 50.000 kilometer selama 277 hari. Dalam pelayaran tersebut, Dewaruci mengarungi 24 pelabuhan di 13 negara dan 4 benua.

Supari sudah terbiasa bekerja dalam tekanan. Dalam kondisi darurat, dia tetap bisa tenang. Pasalnya, suami Ngatini tersebut memiliki banyak keahlian. Selain di bidang kelistrikan, dia ahli pertukangan, mekanik, bahkan tampil di mimbar untuk berdakwah.

Ketika lambung kiri Dewaruci bocor di Boston, AS, Juli silam, Supari dipercaya untuk "membereskan". Dia lalu membuat pelat baja guna menambal kebocoran. Keterampilan dia memotong besi, menggerinda, dan mengelas tidak diragukan. Hasilnya sangat memuaskan. Hingga tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Senin (1/10) lalu, Dewaruci tak bocor lagi.

Kelebihan Supari dalam memperbaiki pendingin ruang (AC) juga tidak kalah oleh juru AC/fresh room. "Jam terbang beliau paling tinggi," puji juru AC/fresh room Kelasi Kepala Lis M. Irfan.


Di bidang kerohanian, Supari tergolong mahir berkhotbah. Dia sering dipercaya kru kapal menjadi imam salat dan berceramah saat bintara rohani (baroh) Pelda Bah Reza Nevyansyah berhalangan karena sakit. Supari beberapa kali tampil sebagai khatib salat Jumat maupun tarawih pada Ramadan lalu. "Ini amalan saya untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat," imbuh jamaah majelis tafsir Alquran itu diplomatis.

Berkat berbagai prestasinya tersebut, Supari tak pernah tertinggal menjadi salah seorang kru andalan dalam berbagai misi pelayaran Dewaruci. Sebelum ekspedisi keliling dunia ini, dia pernah mengawal Dewaruci dalam pelayaran internasional perdana pada 1989 ke Malaysia dan Filipina; lalu keliling Australia (1991, 1998); Amerika (1999, 2000); serta Eropa (2003, 2005).

Dia berharap, seusai menyelesaikan tugas "penting" dalam ekspedisi Dewaruci kali ini, pangkatnya akan naik. "Mudah-mudahan naik menjadi sersan mayor," tutur tentara yang sudah mengabdi sekitar 24 tahun itu.(*/c10/ari)
© Jpnn

Dua Anggota TNI Ditembak OPM

Jayapura - Dua anggota TNI dari Batalyon 753 yang tergabung dalam pengamanan Pilkada Kabupaten Paniai, Kamis (11/10) siang, mengalami luka tembak akibat diserang TPN/OPM.

Kapolres Paniai AKBP Anthon Diantje kepada ANTARA, Kamis malam, mengakui insiden itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIT di sekitar sungai Kebo I, Distrik Kebo, Kabupaten Paniai, saat serah terima pasukan (serpas) personil yang tergabung dalam pengamanan pilkada di kabupaten yang terletak dipedalaman Papua.


Kedua anggota Yon 753 itu masing masing Praka Aris mengalami luka tembak di tangan dan kaki. Sedangkan Praka Arisoni Wembi mengalami luka tembak ditangan dan saat ini masih ditangani tim medis RSUD Paniai.


Dikatakan, insiden penyerangan yang dilakukan TPN/OPM itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIT saat pasukan pengaman yang berasal dari anggota Polres Paniai, brimob dan TNI yang dipimpin AKP Julius Bobi berangkat dari pelabuhan speed boat, Aikai, yang terletak diujung landasan lapangan terbang Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai menuju distrik Kebo dengan menggunakan speedboat.


Saat rombongan yang menggunakan tiga speedboat memasuki muara sungai Kebo, tiba-tiba TPN/OPM menyerang dengan menembaki iringan speedboat yang dinaiki anggota. Akibat serangan TPN/OPM, kata Kapolres Paniai, dua anggota TNI terluka serta satu speedboat tenggelam.


Menurutnya, serangan TPN/OPM itu dibalas anggota sehingga terjadi kontak senjata dan rombongan berupaya kembali ke Enarotali.


Ketika ditanya penyerang dari kelompok mana, AKBP Diantje mengakui, belum mengetahui dengan pasti yang melakukan penyerangan itu TPN/OPM dari kelompok mana.


Pilkada Kabupaten Paniai yang saat ini sudah memasuki tahapan pemungutan suara yang dijadwalkan berlangsung 13 Oktober mendatang.(Ant/DNI)
© MetroTv

Latma Gultor Trimatra VII 2012 dibuka

Kasum TNI, Dankormar, Dandenjaka Cek Material Latihan

Denjaka Korps Marinir TNI AL bersama Sat-81 Gultor Kopasus TNI AD dan Den Bravo Kopaskhas TNI AU melaksanakan Latihan Penanggulangan Teror dengan sandi “Latma Gultor Trimatra- VII tahun 2012”. Latihan bersama tersebut telah di buka oleh Kasum TNI Mayjen TNI Daryatmo di Markas Sat 81 Gultor Kopasus TNI AD tepatnya di lapangan Apel Ahmad Kirang Mako Kopasus TNI AD Cijantung ,Jakarta Timur (11/10/12).

Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) A Faridz Washington bersama dengan Danjen Kopasus, Komandan Kopaska serta Pejabat teras Mabes TNI dan pejabat teras ketiga Pasukan Khusus TNI hadir dalam acara pembukaan tersebut. Upacara ini dipimpin oleh Asops Danjen Kopasus Kolonel (Inf) Yusran Yusuf.


Dalam amanatnya , Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E yang dibacakan oleh oleh Kasum TNI mennyampaikan “ Latihan anti teror merupakan latihan untuk menghadapi kemungkinan gangguan anti teror di seluruh Tanah Air. Disamping itu juga guna meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bagi setiap satuan anti teror dilingkungan TNI.


Dengan tegas Panglima TNI mengatakan, “Kunci mencegah aksi terorisme adalah keterpaduan dan koordinasi antara matra dan intitusi terkait harus terjalin kuat,”


Sebagai pedoman dalam melaksankan latihan tersebut Panglima TNI memberikan beberapa penekanan.


Pertama : Laksanakan latihan ini sebaik-baiknya,guna menyempurnakan dokumentasi strategis yang bersifat operasional bagi TNI serta komunikasi saling mendukung diantara sesama satuan penenggulangan anti teror.


Kedua : Sebagai sarana untuk menguji prosedur dan mekanisme operasi terpadu, kembangkan TACTICAL FLOOR GAME (TFG),TABLE TO GAME DAN TACTICAL AIR MANOUVER GAME (TAGM).


Ketiga : Jadikan latihan ini sebagai aplikasi prosedur tetap dan tolak ukur terhadap kemampuan TNI dalam mengaplikasikan doktrin operasi penanggulangan teror.


Keempat : Jadikan media untuk menguji analisis data terkait kemungkinan variatifmodus aksi teror, serta menilai kemampuan teknis, taktis, respon dan naluri setiap personil.


Kelima : Jadikan latihan ini sebagai momentum semangat kebersamaan dan ketepaduan sesama satuan TNI dalam mendukung tercapainya tugas pokok TNI.

Latihan diawali dengan pelaksanaan gladi posko dan dilanjutkan dengan TACTICAL FLOOR GAME (TFG) di Maskas Sat- 81 Gultor Kopasus TNI AD. Latihan ini akan digelar hingga 17 Oktober 2012 dengan dengan menggunakan medan berpindah pindah sesuai dengan problem latihan darat, laut dan udara.
© Marinir

★ 5 Pesawat Tanpa Awak Buatan Indonesia

Pesawat tanpa awak yang duji dapat untuk kepentingan sipil / militer

5 Pesawat tanpa awak dipamerkan di Bandara Halim Perdanakusuma. Boleh berbangga karena pesawat-pesawat ini asli buatan Indonesia.

Pesawat-pesawat itu merupakan hasil riset Balitbang Kemenhan yang bekerjasama dengan BPPT. Pesawat-pesawat ini berfungsi antara lain sebagai pesawat pengintai, pemotretan udara pada area yang sangat luas, pengukuran karakteristik atmosfer, dan pemantauan kebocoran listrik pada kabel listrik tegangan tinggi. Pesawat-pesawat ini cocok digunakan di daerah perbatasan.

Kelima pesawat tanpa awak itu baru prototipe dan baru akan diproduksi.

"Setelah teruji kita akan serahkan ke industri. Bisa dimodifikasi tetapi kaidah desainnya harus sama. Saat ini ada PT DI dan LAPAN, yang akan memproduksinya," kata insinyur rekayasa di BPPT, Ir Adrian Zulkifli.

Adrian sangat berharap pesawat ini diproduksi oleh pabrikan teknologi BUMN dan bukan swasta. "Karena kita akan mengontrol pembuatannya," kata dia.

Berapa harganya? "1 Pesawat harganya kira-kira 2 miliar. Dan riset ini menggunakan dana DIPA. Untuk engine, kita ambil dari Jerman. Kalau kamera bisa pakai dari Taiwan," imbuh Zulkifli.

Prototipe pesawat itu dipamerkan dan 1 pesawat Wulung telah diuji coba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2012). Lima pesawat ini adalah:

 1. Puna Sriti


Pesawat ini berwarna putih. Sriti adalah wahana udara nirawak jarak dekat dengan konfigurasi desain playing wing menggunakan catapult (pelontar) sebagai sarana take off dan jaring sebagai sarana landing.


"Sriti untuk surveilance. Karena bisa take off dengan peluncuran dan landing di jaring maka bisa dipakai untuk melengkapi Angkatan Laut pada peralatan di KRI. Sriti ini bisa melihat ke depan sejauh 60-75 km. Jadi bisa dikatakan sebagai mata KRI," papar Chief Engineer BPPT, Muhamad Dahsyat di lokasi.

Yang kedua, imbuh Dahsyat, untuk memenuhi kebutuhan pengamanan lokal area seperti bandara. Bisa juga dipakai untuk tindakan SAR di gunung-gunung, jadi lebih efektif.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan  2.988 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 8,5 kilogram
- cruise speed 30 knot
- endurance 1 jam
- range 5 nautical mile
- altitude 3.000 feet
- catapult 4.500 mm
- catapult bungee chords.

 2. Puna Alap-alap


Pesawat ini bermotif loreng dengan warna hijau tua dan hijau muda tentara. Alap-alap adalah wahana udara nirawak jarak menengah dengan konfigurasi desain inverted V-tail dan double boom menggunakan landasan sebagai sarana take off.

"Alap-alap didesain long race. Untuk kebutuhan surveilance saja," kata Dahsyat.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 3.510 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 18 kilogram
- cruise speed 55 knot (101,86 km/jam)
- endurance 5 jam
- range 140 kilometer
- altitude 7.000 feet
- payload = gymbal camera video.

 3. Puna Gagak


Pesawat ini bermotif loreng dengan warna oranye dan putih.

Gagak adalah wahana udara nirawak jarak jauh dengan konfigurasi desain V-tail, low wing dan low boom, menggunakan landasan sebagai sarana take off - landing.

"Puna Gagak ini sama dengan Pelatuk tetapi berbeda misi. Kalau Gagak untuk misi rendah-naik-rendah lagi. Dan bisa digunakan untuk Angkatan Laut," tutur Dahsyat.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.916 mm
- MTOW (maximum take off weight) 120 kilogram
- cruise speed 52 - 69 knot (96,3 - 127,8 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 73 km
- altitude 8.000 feet
- payload=gymbal camera video.

 4. Puna Pelatuk


Pesawat ini bermotif loreng dengan warna putih, abu-abu dan krem.

Pelatuk adalah wahana udara nirawak jarak jauh dengan konfigurasi desain V-tail inverted high wing dan high boom, menggunakan landasan sebagai take off - landing.

"Kalau Pelatuk itu low-high-low, menukik ke bawah, kemudian naik lagi," jelas Dahsyat.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.916 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 120 kilogram
- cruise speed 52 - 69 knot (96,3 - 127,8 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 73 km
- altitude 8.000 feet
- payload=gymbal camera video.

 5. Puna Wulung


Pesawat ini bermotif loreng hijau tosca dan abu-abu.

"Wulung ini medium. Terbang bisa mencapai waktu 4 jam. Dan muatannya cukup hingga bisa dipakai untuk membuat hujan buatan maupun penyebaran benih," tutur Dahsyat.

"Kalau Wulung ini misi terbangnya itu high-high-high. Ke depan kita akan eksplorasi lagi untuk kebutuhan lain," imbuh dia.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.360 mm
- MTOW (maximum take off weight) 120 kg
- cruise speed 60 knot (111.12 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 120 KM
- length 4.320 mm
- height 1.320 mm
© Detik

Kamis, 11 Oktober 2012

Perang Pesawat Tanpa Awak di Asia Tenggara

 Indonesia menciptakan Wulung. Kata Menristek, suaranya masih berisik.

Pesawat udara nir-awak (puna) Wulung sukses menjalani uji coba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2012. Pesawat yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu berhasil unjuk kemampuan di langit Halim.

Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepincut dengan karya anak bangsa itu. SBY yang baru mendarat di Halim--setelah melawat ke Yogyakarta--menyempatkan diri melihat aksi Wulung. "Saya senang, sampaikan selamat kepada yang membuat, peneliti, dan yang mendesain ini," kata SBY saat berbincang dengan peneliti BPPT.

Saking senangnya, SBY yang hanya singgah sekitar sepuluh menit berjanji akan memperhatikan pengembangan pesawat tanpa awak buatan dalam negeri itu. "Masih ada dana pengembangannya? Nanti saya on top-kan pengembangannya," ujar SBY.

Rasa bangga juga ditunjukkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Usai uji coba itu, Purnomo menggelar jumpa pers. Dia mengatakan, pesawat ini akan terus dikembangkan, dan diupayakan oleh produsen dalam negeri, misalnya PT Dirgantara Indonesia. Sehingga, memajukan industri pertahanan dalam negeri. "Sesuai amanat UU Industri Pertahanan," kata dia.

Selain untuk keperluan sipil, wahana itu juga akan digunakan untuk kepentingan militer Indonesia. Dalam pengembangan selanjutnya, pesawat ini kelak dipersenjatai. Sehingga, bisa dikirim ke medan perang jika dibutuhkan. "Bahkan fungsinya dapat menggantikan pesawat tempur yang disebut dengan Unmaned Combat Aerial Vehicle," kata Purnomo.

Purnomo berharap, pengembangan puna disesuaikan dengan kebutuhan TNI Angkatan Udara. Sebab, dia menginginkan puna ini diproyeksikan ke dalam skuadron TNI AU. "Untuk sementara ini skuadron yang akan kita bangun memang untuk pengintaian atau pengamatan wilayah (surveillance)," ujarnya.


Kritik

Tak semua puas dengan Puna Wulung ini. Kritik justru datang dari Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta. Menurut dia, suara pesawat Wulung itu terlalu bising. "Seharusnya pesawat nir awak tidak mengeluarkan suara. Bisa-bisa ditembak musuh kalau pesawat nir awak kita suaranya seperti itu," kata Gusti dalam keterangan tertulisnya.

Untuk itu, dia berharap BPPT dan Kementerian Pertahanan bisa lebih baik lagi mengembangkan pesawat itu jika memang ditujukan sebagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.

"Awalnya, pesawat tanpa awak memang diprioritaskan untuk keperluan sipil seperti memantau wilayah di Indonesia. Namun dalam perkembangannya, pesawat tersebut bisa dijadikan sebagai alat utama sistem persenjataan TNI. Untuk itu pesawat ini harus canggih. Saya yakin BPPT bisa membuatnya," Menristek menambahkan.

Selain suara, Menristek juga mengkritik bahan dasar badan pesawat yang terbuat dari serat fiber. Ia berharap bisa diganti dengan bahan dasar lain yang lebih kuat. "Layaknya pesawat intai tanpa awak milik negara lain," ujarnya.

Di balik kritiknya itu, Gusti mengaku tetap bangga dan siap mempromosikan pesawat tanpa awak tersebut, tahun depan. “Dan saya berharap teknologi untuk pesawat intai tadi tidak menggunakan teknologi dari negara lain,” tambahnya.

Lima puna

Wulung bukan satu-satunya puna yang dikembangkan BPPT. Sejak 2002, BPPT telah membuat lima puna. Selain Wulung, BPPT telah membuat Puna Sriti, Puna Alap-alap, Puna Gagak, dan Puna Pelatuk. BPPT mengembangkan puna itu mulai 2002. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat lima pesawat ini sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 8 miliar.

Puna Sriti. Difungsikan untuk pengintaian. Puna Sriti bisa melihat ke depan sejauh 60-75 kilometer. Rentang sayapnya 2,988 meter. Memiliki bobot 8,5 kilogram. Kecepatan jelajahnya mencapai 30 knot. Endurance atau kemampuan terbangnya mencapai 1 jam. Sriti bisa terbang sejauh 5 mil dengan ketinggian maksimal 3.000 kaki.

Puna Alap-alap. Difungsikan untuk pengintai. Rentang sayapnya 3,51 meter. Beratnya 18 kilogram. Kecepatan jelajah mencapai 55 knot. Mampu terbang selama 5 jam dengan jangkauan 140 kilometer. Ketinggian maksimumnya 7.000 kaki. Pesawat ini dilengkapi dengan kamera video.

Puna Gagak. Memiliki rentang sayap 6,916 meter. Beratnya 120 kilogram. Kecepatan jelajahnya 52-69 knot. mampu terbang selama 4 jam dengan jangkauan maksimal 73 kilometer. Sedangkan ketinggian terbang maksimum mencapai 8.000 kaki. Pesawat dilengkapi kamera video.

Puna Pelatuk. Memiliki rentang sayap 6,916 meter. Berat 120 kilogram. Kecepatan jelajahnya mencapai 52 hingga 69 knot. Bisa terbang selama 4 jam dengan jangkauan maksimal 73 kilometer. Pesawat ini bisa terbang dengan ketinggian maksimum 8.000 kaki. Pesawat dilengkapi kamera video.

Puna Wulung. Terbuat dari bahan komposit Rentang sayapnya mencapai 6,360 meter. Panjang badan mencapai 4,32 meter, dan tingginya 11,32 meter. Berat 120 kilogram. Puna Wulung bermesin 2 tak. Untuk mendapatkan tenaga yang optimal, bahan bakar yang dipilih adalah jenis pertamax.

Wulung mampu terbang selama 4 jam tanpa henti. Jarak tempuh maksimalnya 70 kilometer, dengan kecepatan jelajah 52 hingga 69 knot. Pesawat bisa dikendalikan dengan jarak 73 kilometer dari remote control. Puna Wulung mampu terbang hingga ketinggian 12 ribu kaki. Namun, hingga sat iniyang sudah diuji baru pada ketinggian 8 ribu kaki.

ASEAN berlomba


Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) memang lagi getol memperkuat armada militernya. Mulai dengan senjata ringan hingga berat. Pesawat udara tanpa awak menjadi salah satu yang gencar dikembangkan oleh sejumlah negara di kawasan ASEAN.

Malaysia misalnya. Negeri jiran ini mengembangkan pesawat udara tanpa awaknya melalui Unmanned Systems Technology (UST), yang didirikan pada 2007. Tugasnya, khusus untuk menarik segala sumber daya untuk mengembangkan pesawat udara tanpa awak.

Malaysia telah menemukan momentumnya. Melalui UST, Malaysia berhasil mengembangkan pesawat udara tanpa awak dan sukses mengembangkan produksi dalam negerinya, baik untuk kepentingan sipil maupun militer. Bahkan, Malaysia saat ini telah menawarkan beberapa produk pesawat tanpa awak produksinya.

Produk yang telah ditelorkan oleh UST antara lain pesawat tanpa awak bersayap dan berbaling-baling menyerupai helikopter. Pesawat yang bersayap antara lain Aludra, Aludra SR-08, dan Aludra SR-12. Sedangkan yang menyerupai helikopter adalah Intisar 300 dan Intisar 400.

Produk utama yang dihasilkan UTS adalah Aludra. Pesawat ini memiliki berat 200 kilogram. Muatan maksimal yang bisa diangkut seberat 25 kilogram. Struktur bahan terbuat dari kaca, serat karbon, busa, dan epoxy. Pesawat ini memiliki panjang 14 kaki, rentang sayap 20 kaki. Aludra mampu melaju dengan kecepatan 220 kilometer per jam dengan durasi 3 jam.

Malaysia juga terkenal maju dalam bidang pembuatan pesawat tanpa awak ini. Sebab, mereka telah menjalin kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan teknologi ini, seperti Australia.

Berikutnya adalah Singapura. Wilayah negara boleh kecil. Penduduknya juga sedikit. Namun, Singapura tak mau kalah memperkuat armada pesawat tanpa awaknya. Pertengahan tahun ini, negara di Selat Malaka ini telah membeli satu skuadron pesawat tanpa awak dari Israel, Heron 1. Singapura harus mengeluarkan US$ 6 juta untuk satu unit Heron.

Heron 1 memiliki lebar sayap 16,6 meter, berat 1,2 ton, dan mampu membawa 250 kilogram beban. Pesawat ini mampu terbang selama 50 jam (tergantung beban yang dibawa).

Kecepatan jelajahnya sampai 100 kilometer per jam. mampu terbang setinggi 10 kilometer (32.000 kaki). Heron dapat dilengkapi dengan kamera yang bisa untuk melihat pada siang-malam atau radar pencarian angkatan laut. Kemampuan Pesawat ini mirip dengan pesawat Predator milik Amerika Serikat.

Armada ini didatangkan untuk menggantikan 40 pesawat udara tanpa awak Searcher yang telah digunakan selama satu dekade. Singapura juga telah memarkir 60 lebih pesawat tanpa awak Scout. Dalam segi ukuran, berat, dan kinerja, jenis Scout masih di bawah Searcher.

Singapura juga melibatkan National University of Singapura (NUS) untuk mengembangkan pesawat tanpa awak GremLion. Pesawat tanpa awak ini didesain mirip dengan helikopter dan mampu mengemban tugas khusus.

Vietnam tak mau kalah. Awal 2012 ini, negara yang pernah dilanda perang saudara pada 18 tahun ini menjalin kerja sama dengan Rusia untuk mengembangkan pesawat tanpa awak. Vietnam merogoh anggaran sebesar US$10 juta untuk program alih teknologi ini. Rusia-Vietnam akan membuat pesawat tanpa awak versi kecil Irkut 200. Berat pesawat yang dibuat ini mencapai 100 kilogram.

Sementara itu, negara-negara lain juga sama. Thailand mengembangkan The Aerostar. Thailan juga dikabarkan membeli sejumlah pesawat tanpa awak dari Israel. Langkah yang sama juga dilakukan Filipina.(np)
© VIVA.co
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...