Kamis, 10 Februari 2022

Pindad Kerjasama Bikin Amunisi Besar

Dari kaliber 120 hingga 20 mmMBT Leopard 2RI @ Natuna [TNI AD] ★

D
irektur Utama PT Pindad, Abraham Mose beserta Nexter Sales Director Asia Pacific, Amaury de Poncins mewakili CEO Nexter Munitions & CEO Mecar menandatangani Nota Kesepahaman di bidang pertahanan, khususnya terkait Munisi Kaliber Sedang (MKS) dan Munisi Kaliber Besar (MKB) pada Kamis, 10 Februari 2022 di Kemhan RI.

Penandatangan MoU antara PT Pindad, Nexter Munitions, dan Mecar (Nexter Group) disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto dan Menteri Angkatan Bersenjata Republik Perancis, H.E Florence Parly.

Dalam pertemuan bilateral antara kedua belah pihak di Kemhan RI, kedua delegasi membahas peningkatan kerja sama pertahanan antara kedua negara, yang diharapkan dapat memperkuat hubungan pertahanan bilateral antara Indonesia dan Prancis di masa mendatang.

Pertemuan ini merupakan lanjutan dari Penandatanganan Persetujuan Kerja Sama Pertahanan / Defence Cooperation Agreement (DCA) di Paris, antara Menhan RI dengan Menteri Angkatan Bersenjata Perancis pada 28 Juni 2021, di mana perluasan cakupan kerja sama pertahanan disepakati.

Adapun lingkup kerjasama produk MKS dan MKB yang akan dilaksanakan meliputi munisi kal. 120 mm Main Battle Tank (MBT) , munisi kal. 105 mm medium tank Harimau, munisi kal. 20 mm Vector GI-2, munisi kal. 30 mm Rafale Gun dan munisi kal. 30 mm 6 & 7 barrel.

Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto dalam konfrensi pers mengatakan, hubungan bilateral di bidang pertahanan yang sudah terjadi antara Indonesia dan Prancis sejak lama sudah berada dalam status tertinggi sehingga butuh ratifikasi dari parlemen Indonesia untuk bisa di implementasikan dengan baik.

“Sebagai bentuk tindak lanjut telah berlangsung pendekatan kunjungan antara pejabat negara. Kerjasama ini perlu kita tingkatkan dengan adanya pelatihan - pelatihan bersama dan kami juga menyambut baik rencana pengembangan mekanisme 2+2 antara kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri kedua negara guna mempererat kerjasama bilateral.“ ujar Prabowo.

  ♞
Pindad  

RI Resmi Borong 6 Jet Tempur Rafale Prancis

Akan disusul dalam waktu dekat untuk 36 pesawat Tandatangani perjanjian pertahanan Indonesia dengan Prancis [ist] ☆

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Prancis secara resmi menyepakati aktivasi kontrak pembelian enam dari total 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation.

Kesepakatan itu merupakan satu dari empat kesepakatan yang diteken dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan RI Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto dan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly di kantor pusat Kemhan RI, Jakarta, Kamis (10/2/2022).

"Bidang alutsista merencanakan pembelian alutsista signifikan untuk multi role combat aircraft. Kita akan mengakusisi 42 pesawat Rafale. Mulai hari ini kontrak pertama untuk enam pesawat yang akan disusul dalam waktu dekat untuk 36 pesawat dengan dukungan latihan persenjataan dan simulator yang dibutuhkan," kata Prabowo.

Kapal selam scorpene [BUMN]

Selain terkait Rafale, MoU lainnya adalah sebagai berikut:

a. MoU kerja sama antara PT PAL dengan Naval Group untuk pembelian dua kapal selam Scorpene beserta persenjataan dan suku cadang serta pelatihan.

b. MoU kerja sama antara PT Dirgantara Indonesia dengan Dassault Aviation untuk maintenance repair dan overhaul pesawat Prancis yang akan dan sudah digunakan di Indonesia antara lain pesawat Rafale.

c. MoU kerja sama antara PT LEN Industri dengan Thales Alenia Space untuk pengadaan satelit pertahanan.

d. MoU kerja sama antara PT Pindad dengan Nexter System untuk produksi amunisi untuk persenjataan darat.

Dalam kesempatan yang sama, Parly mengatakan Prancis berkomitmen mendukung program strategis Indonesia di bidang industri pertahanan.

"Saya menyambut baik penandatanganan tadi. Kami senang Indonesia memilih Prancis untuk modernisasi alutsista dan saya yakin perusahaan Indonesia dapat menjadi mitra," kata Parly.

Menurut dia, Rafale terbukti memiliki keunggulan teknis dibandingkan jet tempur lain.

"Ini adalah tahap penting dalam tahapan pengadaan alutsista Indonesia," ujar Parly.

  ★
CNBC  

[Global] Sejarah dan Penyebab Rusia Invasi Ukraina di Crimea Tahun 2014

https://pict-b.sindonews.net/dyn/480/content/2014/03/07/41/841988/yOdDIaf15n.jpgDPR Crimea & Sevastopol pilih gabung dengan Rusia [ist]

Penyebab kenapa Rusia menginvasi Ukraina di Crimea pada 2014 adalah krisis domestik di wilayah itu.

Krisis Crimea kemudian mengundang konflik antara negara-negara Uni Eropa dengan Rusia.

Situasi diperparah dengan pengumuman presiden Ukraina kala itu, Viktor Yanukovych, bahwa negaranya mundur dari perjanjian Uni Eropa pada November 2013.

  Di mana Crimea ? 

Crimea adalah semenanjung di kawasan Laut Hitam. Selama 1921-1945 Crimea merupakan milik Uni Soviet dan selanjutnya dikuasi Ukraina.

Namun, letak geopolitik Crimea yang strategis ingin dimanfaatkan Rusia untuk memperkuat pengaruh di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah.

Dikutip dari BBC (11/3/2014), Crimea adalah pusat sentimen pro-Rusia yang saat itu dapat berubah menjadi separatisme.

Crimea dihuni 2,3 juta orang, mayoritas mengidentifikasi dirinya sebagai etnis Rusia dan berbahasa Rusia.

Rusia memang dominan di Crimea sejak mencaplok wilayah itu pada 1783. Saat semenanjung tersebut diserahkan Moskwa ke Ukraina tahun 1954, banyak etnis Rusia di sana yang memandangnya salah langkah.

Sementara itu, etnis Muslim Tatar Crimea yang merupakan minoritas terbesar di sana, mengeklaim pernah menjadi penduduk mayoritas tetapi sebagian besar dideportasi oleh diktator Soviet Joseph Stalin pada 1944.

Alasan Stalin mendeportasi bangsa Tatar Crimea adalah dugaan mereka bersekongkol dengan penyusup Nazi di Perang Dunia II.

Bangsa Tatar kembali ke Crimea setelah pecahnya Uni Soviet pada 1991, dan sejak saat itu hubungannya tegang dengan etnis Rusia atas hak kepemilikan tanah.

Pada pemilihan presiden Ukraina 2010 mayoritas warga Crimea memilih Viktor Yanukovych yang pro-Rusia, dan ketika lengser banyak orang di sana meyakini dia menjadi korban kudeta.

Separatis di parlemen Crimea kemudian memilih bergabung dengan Federasi Rusia pada 6 Maret 2014 dan melakukan referendum pemisahan diri yang dijadwalkan pada 16 Maret 2014.

Langkah itu dipuji oleh Rusia, tetapi dikecam secara luas oleh negara-negara Barat.

  Aneksasi Crimea oleh Rusia 
https://asset.kompas.com/crops/cffhqLkihQdxVaxXXxfcriJyxN8=/0x0:1023x682/750x500/data/photo/2022/01/19/61e7a051205ee.jpgSebuah konvoi kendaraan lapis baja Rusia bergerak di sepanjang jalan raya di Crimea, Selasa, 18 Januari 2022. (AP PHOTO)

Dikutip dari Encyclopaedia Britannica, ketika pengunjuk rasa pro-Rusia menjadi semakin keras di Crimea, sekelompok pria bersenjata yang seragamnya tidak memiliki tanda pengenal yang jelas mengepung bandara di Simferopol dan Sevastopol.

Orang-orang bersenjata bertopeng menduduki gedung parlemen Crimea dan mengibarkan bendera Rusia.

Anggota parlemen pro-Rusia kemudian membubarkan pemerintahan yang sedang menjabat dan mengangkat Sergey Aksyonov, pemimpin Partai Persatuan Rusia, sebagai Perdana Menteri Crimea.

Jaringan suara dan data antara Crimea dan Ukraina pun terputus. Pihak berwenang Rusia lalu mengakui mereka telah mengerahkan pasukan ke wilayah tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebutnya sebagai upaya melindungi warga Rusia dan aset militer di Crimea.

Aksyonov lalu menyatakan, yang memimpin pasukan polisi dan militer Ukraina di Crimea adalah dia, bukan pemerintah di Kiev.

Aneksasi Rusia di Crimea selesai pada 21 Maret 2014 setelah ratifikasi perjanjian oleh parlemen Rusia. Putin menandatangani UU yang secara resmi mengintegrasikan Crimea ke wilayah Rusia.

Perang Rusia Ukraina di Crimea menewaskan 14.000 orang, termasuk 298 penumpang pesawat Malaysia Airlines MH17 yang diduga jatuh karena salah ditembak separatis pada 17 Juli 2014.

Namun, aneksasi Crimea oleh Rusia tidak diakui oleh PBB yang menyebutnya ilegal.

 ♖ Kompas  

Rabu, 09 Februari 2022

TNI AL Berencana Perkuat Armada Tempurnya dengan Rudal Naval Strike Missile

 Berdaya Tembak 250 km https://www.tnial.mil.id/brt/img/IMG-20220209-190716.jpeg[TNI AL] ☆

TNI AL berencana akan memperkuat armada tempurnya dengan Rudal (Peluru Kendali) Naval Strike Missile yang sangat cocok untuk kapal-kapal perang milik TNI AL karena memiliki daya tembak sejauh 250 km.

Hal ini terungkap saat Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono mengadakan rapat paparan dengan PT. Lundin Industries Invest, Kongsberg Deffence & Aerospace AS dan PT. Datareka Integrasia di Wisma Elang Laut (WEL) Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Rabu (9/2).

Rapat yang memaparkan tentang Naval Strike Missile, Upgrade KRI Golok dan pengadaan Fast Missile Boat tersebut dihadiri oleh John Lundin (Presdir PT.Lundin), Lizza Lundin (Direktur PT. Lundin), Cecilia Siby (Presdir PT. Datareka Integrasia), Diny Rosyada (Managing Director PT. Datareka Integrasia), Coster Bjorn Verner (Managing Director-Kongsberg) dari Norwegia, dan Skorge Arild (Business Development Manager-Kongsberg) Norwegia.

Di hadapan Kasal, Wakasal, Aslog Kasal, Kadisadal dan Koorsmin Kasal yang hadir dalam rapat tersebut, Mr. Arild menjelaskan bahwa spesifikasi Naval Strike Missile sangat cocok untuk TNI AL karena bisa mencakup daya tembak 250 km, mudah digerakan ke tempat terkecil yang tidak terlihat dan misilnya dikendalikan dari kapal utama.

  120 Fast Missile Boat untuk TNI AL 
https://img.antaranews.com/cache/infografis/1140x2100/2021/09/30/20210930tank-boat-antasena-01.jpg?quality=100Tank boat Antasena, mempunyai panjang 19 meter dengan kecepatan tinggi [antara]

Misil-misil tersebut akan dibawa dengan Fast Missile Boat yang berukuran kecil, memiliki panjang 19 meter, lebar 4 meter dengan kecepatan 55 Knot sehingga lebih efektif jika digunakan dalam pertempuran karena kecil, taktis, sulit dideteksi musuh dan sulit diserang rudal exocet namun sangat mematikan.

Fast Missile Boat yang memiliki bobot 33 ton tersebut berkemampuan layar 500 miles dengan 6 awak kapal dan bekal selama 2 minggu. Hebatnya lagi, Fast Missile Boat tidak bersuara, tidak terdeteksi radar dan mampu bergerak cepat.

Sedangkan cara mengoperasikan rudal tersebut adalah dengan terlebih dahulu mengambil foto target dan lokasinya menggunakan infra merah, kemudian data infra merah tersebut dimasukan dalam data sistem persenjataan, lalu eksekusi penembakan dilaksanakan dari komando yang berasal dari kapal utama.

Fast Missile Boat tersebut bisa dimuatkan ke dalam kapal utama sejumlah 6 boat atau dapat berlayar secara mandiri.

Naval Strike Missile ini sudah digunakan oleh Amerika Serikat di Laut Cina Selatan dan selalu efektif mengenai sasaran tanpa bisa dicounter.

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2021/08/21/peluncuran-kri-golok-produksi-dalam-negeri-2_169.jpeg?w=700&q=90Kemenhan RI sangat tertarik dengan Fast Missile Boat ini dan berencana akan pengadaan sebanyak 120 Fast Missile Boat untuk TNI AL. Terkait hal itu, Kasal akan mengikuti arahan Kemenhan dalam pengadaan Fast Missile Boat tersebut.

Untuk menguji kemampuannya, Kasal berkeinginan agar Naval Strike Missile bisa diujicobakan ke KRI Golok di Laut China Selatan dengan jarak sasaran 250 km sesuai spesifikasi misil tersebut.

TNI AL akan membantu fasilitas pengamanan dan target sasaran penembakan dalam rangka latihan, sementara dari pihak PT Kongsberg menyediakan misil yang akan dites dan sistem penembakannya.

Oleh karena sistem persenjataan Fast Missile Boat ini belum pernah digunakan oleh TNI AL, maka Kasal meminta perwakilan PT Kongsberg dari Norwegia tersebut melaksanakan paparan kembali di hadapan Pangkoarmada RI, Pangkoarmada I, II dan III serta para Komandan Kapal pada esok hari (10/02) di tempat yang sama.

Hal tersebut diperlukan agar para generasi penerus, Pangkoarmada RI, Pangkoarmada I, II dan III serta para Komandan KRI dan perwira staf terkait dapat memberikan kritik dan masukan.

  ★
TNI AL  

Naval Group Siap Kerjasama Dengan PAL indonesia

Perkuat Armada Pertahanan Maritim Kapal selam yang ditawarkan kerjasama dengan PAL Indonesia [PAL] ⚓️

Dari website resmi PAL, diberitakan kunjungan CEO Naval Group Prancis, Mr. Pierre Eric Pommellet beserta rombongan disambut oleh CEO PT PAL Indonesia Bapak Kaharuddin Djenod, beserta jajaran Direksi.

Naval Group puji kesiapan fasilitas kapal selam milik PAL dan dalam meningkatkan pertahanan maritim negara, PT PAL Indonesia dan Naval Group akan melakukan kerjasama strategis, pada pertemuan pada Rabu (9/2) di Surabaya.

Kunjungan tersebut dalam rangka diskusi serta meninjau fasilitas kapal selam di PAL. Dalam kesempatan tersebut, CEO Naval Group memberi apresiasi terhadap kapasitas dan kapabilitas PAL dalam pembangunan kapal selam.

Bapak Kaharuddin Djenod dalam sambutannya menyampaikan "Kedepannya diharapkan ada kerjasama strategis antara PT PAL Indonesia dan Naval Group khususnya dalam mendukung pertahanan maritim Indonesia" terangnya.

Kunjungan dilanjutkan dengan on site visit ke lapangan untuk menyaksikan produk buatan PT PAL Indonesia.

Dengan kerja sama strategis ini, kemampuan PT PAL Indonesia serta kekuatan industri pertahanan maritim dan pertahanan Indonesia dapat mencapai titik koordinasi global.

  ⚓️ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...