🛩 Diusulkan masuk Proyek Strategis Nasional
UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)
Lama tak terdengar kabarnya, Elang Hitam yang digadang-gadang menjadi drone MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) pertama karya anak bangsa, dipamerkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di ajang TNI Fair di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026.
Drone ini dipajang di area pameran luar ruangan di booth Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang menampilkan sejumlah industri pertahanan dalam negeri. Dari tampilan ukurannya, drone ini tampak lebih kecil karena yang dipajang adalah mockup 1:2.
VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan mengatakan, saat ini status drone MALE Elang Hitam sudah diusulkan masuk dalam proyek strategis nasional dan dalam tahap mengejar sertifikasi dari Kementerian Pertahanan di tahun 2027.
“Jadi drone MALE Elang Hitam ini baru kita usulkan masuk dalam proyek strategis nasional. Kita sudah uji terbang perdana pada Agustus 2025 lalu di Bandara Kertajati, Majalengka, tapi belum mendapatkan sertifikasi dari Kemhan. Targetnya sampai tahun depan,” ujar Heber kepada Airspace Review di lokasi pameran.
Heber menambahkan, proses pengembangan drone Elang Hitam menghadapi beberapa kendala, khususnya terkait anggaran. Sejauh ini pengembangan dan pemeliharaan drone ini menggunakan dana mandiri dari PTDI.
“Pengembangannya tetap berjalan, tapi tidak bisa gaspol. Kami telah memasukkan usulannya ke Danantara juga untuk tambahan investasi pengembangannya,” ungkap Heber.
Target Operasional Tahun 2028
Berbicara soal target operasional di tahun 2028, menyesuaikan dengan rencana strategis dari Kemhan, PTDI optimistis dapat mengejar sertifikasi drone MALE ini.
Namun, diakui memang, PTDI harus membangun prototipe lagi untuk uji terbang dan lain-lain sesuai dengan rancang bangunnya dan ini membutuhkan tambahan anggaran.
Saat ini PTDI baru membuat dua drone Elang Hitam. Yang pertama adalah drone mockup yang ditampilkan saat peluncuran (rollout) perdana pada tahun 2019, dan yang kedua adalah prototipe yang digunakan untuk uji coba terbang perdana pada 2025.
“Sampai sekarang kami tetap pelihara prototipe uji terbang ini. Mulai dari engine, flight control systemnya, ground control station, dan sistem onboard di drone tersebut,” urai Heber.
Mengenai isu bahwa pengembangan drone Elang Hitam telah dialihkan untuk pangsa pasar sipil, Heber mengatakan hal itu tidak sepenuhnya benar.
Ditegaskan bahwa spek MALE Elang Hitam yang dikembangkan PTDI adalah untuk kebutuhan militer.
Adapun pengembangan untuk kebutuhan sipil, merupakan peluang pasar yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut, misalnya dengan Kementerian Kehutanan atau badan-badan lain.
“Kebutuhan sipil ini adalah peluang dari pangsa pasar MALE yang ada, jadi tidak dialihkan dari kebutuhan militer ke sipil,” tegas Heber.
Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Drone Elang Hitam
Elang Hitam merupakan pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV) berkemampuan MALE yang dikembangkan oleh PTDI bersama konsorsium nasional guna memperkuat kemandirian teknologi pertahanan Indonesia.
Dirancang khusus untuk menjalankan misi Intelligent, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) serta dapat dilengkapi dengan persenjataan (weaponized), drone ini memegang peran strategis dalam mengawasi kawasan perbatasan, wilayah terluar, hingga pengamanan jalur maritim dari berbagai ancaman penyusupan dan kegiatan ilegal.
Dari segi desain dan ukuran, Elang Hitam hadir dengan dimensi yang tergolong besar untuk kelas drone tempur dan pengawas.
Wahana ini memiliki panjang 8,73 meter, tinggi 3,27 meter, serta bentang sayap mencapai 16 meter dengan luas area sayap sebesar 12,8 meter persegi.
Dengan bobot maksimum lepas landas (Max Gross Take-Off Weight) dan pendaratan sebesar 1.300 kg, drone ini mampu menampung kapasitas bahan bakar hingga 420 liter serta membawa muatan atau payload hingga 300 kg untuk mengangkut berbagai sensor radar maupun sistem persenjataan.
Kemampuan jelajah dan efisiensi terbang Elang Hitam juga sangat andal untuk mendukung operasi ketahanan panjang.
Drone ini sanggup bertahan di udara (endurance) hingga kurun waktu kurang dari 30 jam dengan radius operasional Line of Sight (LOS) mencapai 250 km.
Elang Hitam dirancang untuk beroperasi pada ketinggian jelajah 3.000 hingga 5.000 meter dengan ketinggian maksimum (ceiling) mencapai 7.200 meter.
Dalam hal kecepatan, drone ini memiliki kecepatan jelajah antara 50 hingga 180 km/jam serta mampu memacu kecepatan jelajah maksimum hingga 235 km/jam.
Untuk pengoperasian di landasan, Elang Hitam membutuhkan jarak lepas landas dan pendaratan kurang dari 1.000 meter pada kondisi bobot maksimum di permukaan laut.
Kombinasi spesifikasi unggulan ini menjadikan Elang Hitam sebagai simbol kemajuan sekaligus benteng pengawas kedaulatan wilayah Republik Indonesia di udara. (RNS).
UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI) Lama tak terdengar kabarnya, Elang Hitam yang digadang-gadang menjadi drone MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) pertama karya anak bangsa, dipamerkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di ajang TNI Fair di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026.
Drone ini dipajang di area pameran luar ruangan di booth Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang menampilkan sejumlah industri pertahanan dalam negeri. Dari tampilan ukurannya, drone ini tampak lebih kecil karena yang dipajang adalah mockup 1:2.
VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan mengatakan, saat ini status drone MALE Elang Hitam sudah diusulkan masuk dalam proyek strategis nasional dan dalam tahap mengejar sertifikasi dari Kementerian Pertahanan di tahun 2027.
“Jadi drone MALE Elang Hitam ini baru kita usulkan masuk dalam proyek strategis nasional. Kita sudah uji terbang perdana pada Agustus 2025 lalu di Bandara Kertajati, Majalengka, tapi belum mendapatkan sertifikasi dari Kemhan. Targetnya sampai tahun depan,” ujar Heber kepada Airspace Review di lokasi pameran.
Heber menambahkan, proses pengembangan drone Elang Hitam menghadapi beberapa kendala, khususnya terkait anggaran. Sejauh ini pengembangan dan pemeliharaan drone ini menggunakan dana mandiri dari PTDI.
“Pengembangannya tetap berjalan, tapi tidak bisa gaspol. Kami telah memasukkan usulannya ke Danantara juga untuk tambahan investasi pengembangannya,” ungkap Heber.
Target Operasional Tahun 2028
Berbicara soal target operasional di tahun 2028, menyesuaikan dengan rencana strategis dari Kemhan, PTDI optimistis dapat mengejar sertifikasi drone MALE ini.Namun, diakui memang, PTDI harus membangun prototipe lagi untuk uji terbang dan lain-lain sesuai dengan rancang bangunnya dan ini membutuhkan tambahan anggaran.
Saat ini PTDI baru membuat dua drone Elang Hitam. Yang pertama adalah drone mockup yang ditampilkan saat peluncuran (rollout) perdana pada tahun 2019, dan yang kedua adalah prototipe yang digunakan untuk uji coba terbang perdana pada 2025.
“Sampai sekarang kami tetap pelihara prototipe uji terbang ini. Mulai dari engine, flight control systemnya, ground control station, dan sistem onboard di drone tersebut,” urai Heber.
Mengenai isu bahwa pengembangan drone Elang Hitam telah dialihkan untuk pangsa pasar sipil, Heber mengatakan hal itu tidak sepenuhnya benar.
Ditegaskan bahwa spek MALE Elang Hitam yang dikembangkan PTDI adalah untuk kebutuhan militer.
Adapun pengembangan untuk kebutuhan sipil, merupakan peluang pasar yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut, misalnya dengan Kementerian Kehutanan atau badan-badan lain.
“Kebutuhan sipil ini adalah peluang dari pangsa pasar MALE yang ada, jadi tidak dialihkan dari kebutuhan militer ke sipil,” tegas Heber.
Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Drone Elang Hitam
Elang Hitam merupakan pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV) berkemampuan MALE yang dikembangkan oleh PTDI bersama konsorsium nasional guna memperkuat kemandirian teknologi pertahanan Indonesia.Dirancang khusus untuk menjalankan misi Intelligent, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) serta dapat dilengkapi dengan persenjataan (weaponized), drone ini memegang peran strategis dalam mengawasi kawasan perbatasan, wilayah terluar, hingga pengamanan jalur maritim dari berbagai ancaman penyusupan dan kegiatan ilegal.
Dari segi desain dan ukuran, Elang Hitam hadir dengan dimensi yang tergolong besar untuk kelas drone tempur dan pengawas.
Wahana ini memiliki panjang 8,73 meter, tinggi 3,27 meter, serta bentang sayap mencapai 16 meter dengan luas area sayap sebesar 12,8 meter persegi.
Dengan bobot maksimum lepas landas (Max Gross Take-Off Weight) dan pendaratan sebesar 1.300 kg, drone ini mampu menampung kapasitas bahan bakar hingga 420 liter serta membawa muatan atau payload hingga 300 kg untuk mengangkut berbagai sensor radar maupun sistem persenjataan.
Kemampuan jelajah dan efisiensi terbang Elang Hitam juga sangat andal untuk mendukung operasi ketahanan panjang.
Drone ini sanggup bertahan di udara (endurance) hingga kurun waktu kurang dari 30 jam dengan radius operasional Line of Sight (LOS) mencapai 250 km.
Elang Hitam dirancang untuk beroperasi pada ketinggian jelajah 3.000 hingga 5.000 meter dengan ketinggian maksimum (ceiling) mencapai 7.200 meter.
Dalam hal kecepatan, drone ini memiliki kecepatan jelajah antara 50 hingga 180 km/jam serta mampu memacu kecepatan jelajah maksimum hingga 235 km/jam.
Untuk pengoperasian di landasan, Elang Hitam membutuhkan jarak lepas landas dan pendaratan kurang dari 1.000 meter pada kondisi bobot maksimum di permukaan laut.
Kombinasi spesifikasi unggulan ini menjadikan Elang Hitam sebagai simbol kemajuan sekaligus benteng pengawas kedaulatan wilayah Republik Indonesia di udara. (RNS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.