Senin, 23 April 2012

Pabrik Amonium Nitrate di Kaltim Sudah Mulai Berproduksi

Jakarta, DMC - PT. Kaltim Nitrate Indonesia sebagai salah satu perusahaan industri strategis serta merupakan perusahaan baru dan terbesar di Indonesia yang memproduksi ammonium nitrate telah selesai pembangunannya di Bontang, Kalimantan Timur. Pabrik baru yang dibangun untuk melayani kebutuhan ammonium nitrate dari industri dalam negeri ini sudah memulai proses produksinya pada 19 April 2012 yang lalu.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT. Kaltim Nitrate Indonesia Ir. Antung Pandoyo, saat melaporkan perkembangan PT. Kaltim Nitrate Indonesia kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Senin (23/4) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut Direktur Utama PT. Kaltim Nitrate Indonesia sekaligus juga mengundang Menhan untuk meresmikan PT. Kaltim Nitrate Indonesia pada bulan Juni 2012 mendatang.

Lebih lanjut Direktur Utama PT. Kaltim Nitrate Indonesia menjelaskan, status dari proyek pembangunan PT. Kaltim Nitrate Indonesia sudah 100 % selesai. Proses dari pelaksanaan proyek pembangunan pabrik ini mencapai prestasi yang luar biasa dengan tingkat kecelakaan kerja yang sangat kecil.

Untuk selanjutnya, PT. Kaltim Nitrate Indonesia saat ini sedang berusaha memantapkan kualitas dan volume dari produksi. Dalam enam bulan, PT. Kaltim Nitrate Indonesia yakin dengan dukungan teknologi, mesin serta tenaga kerja terampil dari dalam negeri sebanyak 200 orang akan mampu memproduksi produk ammonium nitrate yang berstandar dunia.

Turut mendampangi Menhan dalam kesempatan tersebut antara lain, Staf Ahli Menhan Bidang Teknologi dan Industri Dr. Drs. Timbul Siahaan, M.M., Direktur Teknik dan Industri Pertahanan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso dan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin.(BDI/SR)

- DMC -

Kisah Pertempuran di Kamal

PERISTIWA perlawanan yang heroik dari Letnan Ramli di Kamal dan kawan-kawannya memberi kesan kepada Belanda bahwa semangat perjuangan Rakyat Madura sangat tinggi dan tetap bergelora, begiru juga perlawanan dari daerah -daerah lain juga meluap-luap.
 Gugurnya Letnan R. Mohammad Ramli

Pada hari Jum’at tanggal 5 Juli 1946, sekitar pukul 08:00 terlihat enam buah tank amphibi dan dilindungi oleh tiga buah pesawat udara jenis Mustang menuju Kamal, dan pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai, dan pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai yang diduga terdapat pos-pos pertahanan kita, yang kemudian 6 buah tank amphibi Belanda terbagi dua menuju sasaran daerah pelabuhan DKA dan pelabuhan Pier Timur.

Letnan R. Mohammad Ramli dengan kejadian yang dihadapinya memerintahkan kepada anggota Seksinya melalui Komandan Regunya untuk tetap mempertahankan pos-posnya sekuat mungkin jangan sampai tentara Belanda dapat mendarat.

Perlu diketahui Mohammad Ramli adalah seorang Perwira BKR dengan pangkat Letnan, yang dipercaya untuk memimpin Seksi I Kompi IV Batalyon III Resimen Madura Barat, dibawah pimpinan Mayor Mohammad Imbran dan bertugas untuk mempertahankan daerah pantai Kamal, Pier Timur dan Jungjate.

Tiga buah tank amphibi telah dapat mendarat dan menuju/melalui pelabuhan Pier Timur ke darat dengan mengeluarkan tembakan-tembakan dan dalam hal tersebut Letnam R. Mohammad Ramli memimpin Seksinya untuk menghadapi jangan sampai mendarat. Dengan kekuatan dua regu yang bersenjatakan campuran dan diperkuat satu pucuk PSU kaliber 7 mm dan satu pucuk MG kaliber 7,7 mm dapat membalas tembakan-tembakan dari tiga tank amphibi tersebut.

Karena kekuatan senjata yang tidak seimbang terpaksa sebagian regunya diperintahkan untuk mundur dan melindungi sebagian regu lainnya dibawah pimpinan Letnan R. Mohammad Ramli yang menpertahankan pintu masuk dari Pier Timur dengan bersenjatakan pistol, keris dan pedang.

Dalam mempertahankan pintu Pier Timur tersebut, Letnan R. Mohammad Ramli dengan sebagian anggota regunya tetap melakukan tembak-menembak dengan tank amphibi terdepan dan akhirnya Letnan R. Mohammad Ramli berusaha naik ke atas tank amphibi dan tertembak sehingga gugur.

Di lain pos-pos pertahanan di daerah Pelabuhan DKA sebelah Barat mereka masih dapat melakukan perlawanan-perlawanan sehingga pihak Belanda tidak meneruskan penyerangannya lebih jauh ke daratan di Kamal. Dan sekitar pukul 13:00 tentara Belanda kembali ke Surabaya.

Almarhum R. Mohammad Ramli telah gugur, atas permintaan keluarganya (Ayah dan Ibunya) dimakamkan di pemakaman Asta Tinggi Sumenep, makam keluarga raja-raja Sumenep.
 Kerugian dalam pertempuran Kamal

Personel yang gugur :

  1. Letnan Satu R. Mohammad Ramli
  2. Letnan Abdullah (Sampang)
  3. Letnan Singosastro (Bangkalan)
  4. Tamtama Timbang (Kamal)
  5. Tamtama Bunadin (Kamal)
  6. Tamtama Reken (Kamal)
  7. Tamtama Lawi (Kamal)
  8. Tamtama Jalal (Kamal)
  9. Tamtama Munir (Kamal)
Personel yang luka :

  1. Letnan Saleh (Sumenep)
  2. Letnan Haris (Sumenep)
  3. Tamtama Kasidin (Kamal)
  4. Tamtama Hanan (Kamal)
  5. Tamtama Junus (Kamal)
  6. Tamtama Na’im (Kamal)
  7. Pimpinan DKA Sarmani (Surabaya)
  8. Tamtama yang namanya tidak dikenal (Ketapang/Sampang)
Materiil yang dirampas :

  1. MG kaliber 7,7 mm, satu pucuk
  2. Mesin Tulis
  3. Kendaraan Sedan
  4. Barang-barang milik Kepolisian Kamal
Belanda dapat menangkap empat orang yang masing-masing bernama :

  1. Norimin, berasal dari Desa Baturubuh Kecamatan Kamal
  2. Marzuki, berasal dari agency Kamal
  3. Pak Ramjis, berasal dari Desa Kamal
  4. Pak Roji, bersak dari Desa Kamal
 Kerugian Tentara Belanda

Dari pihak Belanda tidak diketahui berapa jumlah yang jatuh korban, dan menurut keterangan beberapa orang korban, mereka diangkut dan dimasukkan ke dalam tank amphibi.
 Gugurnya Letnan Singosatro di Pelabuhan DKA Kamal

Stasiun Kamal tempo dulu
Batalyon III dari Resimen 35 (Resimen 5 Madura barat) yang berkedudukan di Kamal bermarkas di Rumah Dinas DKA Kamal, telah menempatkan senjata Mitraliurnya di pertigaan sebelah Barat Masjid Jamik Kamal. Senjata tersebut dipertanggungjawabkan kepada Letnan Hasiri dan anggotanya, antara lain Kopral Wani dengan beberapa anggota lainnya.

Mitraliur itu diarahkan ke Timur untuk menjaga kemungkinan datangnya musuh yang diperkirakan menyerang dari arah Timur. Letnan Singosastro yang dibantu oleh Kopral Buhari dan Amrun ditugaskan untuk penarikan bom-bom tarik yang ditanam sebelumnya, berada disebelah Barat pertahanan Letnan Hasiri tersebut, dan penanaman bom-bom itu telah menjadi siasat pertahanan pantai untuk mencegah sewaktu-waktu musuh mengadakan pendaratan atau pengintaian di pantai.

Sebelum pendaratan tentara Belanda dimulai, mereka telah mengeluarkan tembakan gencar dari laut. Dan saat terjadinya tembakan tersebut, Letnan Abdullah pada waktu itu berada di sekitar Stasiun DKA Kamal untuk pulang ke Pamekasan dan ia sempat menanyakan kepada Kopral Buhari yang sedang bersiap-siap untuk penarikan bom-bom. Dengan terjadinya serangan tersebut Letnan Abdullah masih berkeinginan untuk melihatnya dan tidak lama kemudian tentara Belanda telah berada di muka pertahanan dengan bergerak maju di dekat gerbong kereta api dengan mengeluarkan tembakan menuju ke pertahanan kita.

Dengan terjadinya serangan tersebut Mitraliur yang semula digerakkan ke Timur diubah arahnya ke Selatan dan terus mengadakan tembakan pembalasan terhadap serangan tentara Belanda sampai kehabisan peluru. Sedang Letnan Singosastro sendiri pada waktu itu sedang sibuk untuk meledakkan bom-bomnya, namun kesemuanya tidak meledak tanpa diketahui sebabnya. Letnan Singosastro dengan gagalnya bom-bom yang tidak meledak itu dengan segala upaya masih sempat minta sisa granat dari Kopral Buhari dan granat dilemparkan ke sasaran musuh namun granat itu tidak meledak juga, dan Letnan Singosastro dalam keadaan panik masih berteriak ke bagian Mitraliur yang sedang kehabisasn peluru untuk melanjutkan tembakannya sampai ia tertembak oleh musuh dan meninggal ditempat.

Letnan Hasiri sendiri selaku penanggung jawab dari Mitraliur masih sempat mengundurkan diri termasuk para anggotanya yang lain ke jurusan Utara untuk bergabung dengan Markas Batalyonnya. Tentara Belanda masih terus melanjutkan serangannya ke Utara disekitar rel kereta api untuk menguasai daerah pertahanan Kamal.

Adanya korban dipihak Indonesia sebagaimana tersebut diatas dan jenazahnya dikebumikan di Pongkoran dekat dengan Stasiun Kereta Api (sekarang dipindah di Taman Makam Pahlawan Jl. Soekarno Hatta Bangkalan).

Sehari setelah peristiwa Letnan Ramli dan Letnan Singosastro itu, Belanda datang kembali ke Kamal dengan Komandan Mayor Smith beserta stafnya dan sempat berunding dengan satu Tim yang diketuai oleh Kahar Sosrodanukusumo sebagai Utusan Pemerintah Madura dengan para anggota R.A. Ruslan Cakraningrat, Mr. Sis Cakraningrat, R. Abdul Rasyid dan Zainal Alim. Pemintaan Belanda untuk melakukan barter dengan Pemerintah Madura ditolak mentah-mentah oleh Tim.

Sejak itu Belanda memperhebat gangguan dengan provokasi dan memperkuat blokade ekonomi. Pada bulan Februari 1947, satu pleton tentara Belanda mendarat di Kamal lagi dan melancarkan tembakan-tembakan gencar terhadap Markas Tentara Nasional Indonesia setempat. Batalyon Imbran sejak itu bubar dan daerah Batuporron, Kamal dan Tanjung Piring diambil alih pertahanannya oleh Batalyon Hanafi (disebut Batalyon I Resimen 35).
Dikutip dari : Buku Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura
diposkan kolektorsejarah

BTR-80A

BTR-80A Marinir

BTR-80A merupakan panser amfibi dan menjadi pilihan Marinir TNI AL untuk menjadi kendaraan pengangkut personilnya. Tercatat Indonesia membeli 12 unit BTR-80A ini dari Cekoslovakia pada tahun 2002. Dan resmi memperkuat Korps Marinir TNI AL pada 15 November 2002, dari ke 12 unit panser ini ditempatkan di dua Resimen Kavaleri Marinir, yakni di Surabaya dan Jakarta.

Walau unit yang dimiliki Korps Marinir amat terbatas, BTR-80A Indonesia sudah mendapat penugasan dalam misi memperkuat Batalyon Mekanik pada pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon.

BTR-80A memiliki daya angkut sepuluh orang, terdiri komandan, pengemudi, penembak, serta tujuh orang pasukan yang bersenjata lengkap. Persenjataan di antaranya dilengkapi fasilitas perlindungan serangan senjata NBC (nubika), sistem penembakan senjatanya otomatis. Kelebihan lain BTR-80A adalah adopsi ban jenis KI-126 yang kebal ditembus peluru kaliber berat, 12,7 mm. Walau pun ban rusak parah, kabarnya tetap tidak kempes dan dapat berjalan selama 10 jam.

BTR-80A ditenagai oleh mesin diesel YAMZ-238M2 240 PK, kemapuan mesin dapat memacu panser dengan kecepatan maksimum 80 km/jam di jalan raya dan 40 Km/jam di medan off road. Sebagai panser amfibi, panser ini mempunyai sebuah jet air untuk melaju di perairan, secara teori kecepatan di air mencapai 9 km/jam. Saat menerjang gelombang laut, pandangan pengemudi tidak terhalang, dengan adanya alat pemecah ombak terpasang pada bagian depan. Dan pengemudi bisa tenang mengemudi di laut berkat adanya periskop jenis TNPO-165.
 Persenjataan

Persenjataan standar terdiri Mitraliur 2A72 coaxial (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit, yang dapat menembus baja tipis), senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru, jarak tembak 1.500 m). Amunisi yang dapat dibawa 500 butir untuk KPVT. Enam pelontar granat asap untuk kamuflase tempur.

Kubah dapat berputar 360° dengan sudut elevasi 60° guna melakukan pertahanan udara.
 Spesifikasi BTR-80A

Jumlah awak : 10 (3+7)
Berat : 13,600 kg
Mesin Diesel : 7403 four-stroke 8-cylinder, liquid cooled, 260 hp
Panjang : 7,65 meter
Lebar : 2,9 meter
Tinggi : 2,35 meter
Kecepatan Maksimum : 80 km/jam di jalan raya, dan 9 km/jam di air
Jarak tempuh di jalan raya : 600 km
Jarak tempuh medan off road : 200 – 500 km
Jarak tempuh amfibi : 12 jam
 Foto BTR-80A Marinir


.
- sumber info dan foto dari berbagai media -

★ Retina SRS-2000


JAKARTA, KOMPAS.com- Sehari setelah peringatan hari kemerdekaan, sejumlah tim dari Kementerian Pertahanan dan PT Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang diketuai Kasubdit Teknologi Pertahanan Kolonel (Laut) Taufik Arief berkunjung ke Pangkalan Udara (Lanud) Abdurahman Saleh untuk membicarakan secara umum rencana pengembangan kamera SRS Retina 2000.

Dalam siaran pers Dinas Penerangan Lanud Abdurahman Saleh, Minggu (21/8/2011), disebutkan, kamera ini merupakan produksi dalam negeri yang mulai dirintis pada tahun 2006 dan diujicobakan pada tahun 2007, dan kemudian mulai dioperasikan oleh Skadron Udara 4 serta memperkuat alutsista TNI AU pada tahun 2008. 

Selama empat tahun operasional, kamera SRS Retina 2000 telah banyak berkiprah dalam berbagai misi operasi, salah satunya dalam operasi Eyes In the Skies (EIS), yakni patroli maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura yang bekerja sama dengan pihak Malaysia dan Singapura. Di samping itu, juga dalam kegiatan latihan, baik latihan perorangan di Lanud Abd Saleh, Latihan antar satuan Garuda Perkasa, Sikatan Daya, Angkasa Yudha dan juga dalam Latihan Gabungan TNI tahun 2008 yang di gelar di daerah Sanggatta di Wilayah Kalimantan Timur.
SRS 2000 (foto Kaskus Militer)

Kamera produksi PT LEN yang kini dioperasikan oleh Skadron Udara 4 itu memiliki kemampuan menghasilkan foto udara vertikal, foto udara oblique, dan video streaming yang merupakan inti dari misi surveillance.

Kehadiran Tim Vertifikasi Kemhan kali ini memang bertujuan untuk menjajaki secara teknis rencana pengembangan kamera yang telah diproduksi sebelumnya. Adapun kemampuan yang akan dikembangkan lebih lanjut antara lain kemampuan operasional siang dan malam dengan meningkatkan kemampuan sensor video dan meningkatkan pergerakan kamera yang semula hanya mampu bergerak pada dua sumbu, menjadi mampu bergerak pada tiga sumbu dan mampu berputar 360 derajat. 

Di samping itu yang tidak kalah penting adalah penambahan kemampuan transmisi data dari pesawat secara real time yang dilakukan melalui satelit, sehingga kegiatan surveillance dan recognizance yang dilaksanakan dapat dimonitor on the ground.

- KOMPAS -

☆ Ryamizard Ryacudu

 Prajurit Profesional Sejati

Jenderal Ryamizard Ryacudu
Mantan Kepala Staf AD yang sempat dicalonkan Presiden Megawati menjadi Panglima TNI, ini seorang prajurit sejati yang memiliki kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual. Mantan Pangkostrad ini kelahiran Palembang, 21 April 1950, ini selain sangat irit bicara soal politik, juga dikenal taat menjalankan ibadah agama.

Mantan Pangkostrad ini senantiasa meminta kekuatan lahir dan batin agar mampu menjalankan amanah sebagai tentara yang bertaqwa dan dimuliakan Allah.

Prajurit pejuang ini selain sangat irit bicara soal politik, juga dikenal taat menjalankan ibadah agama. Sejak masa muda, ia bercita-cita dan bertekad menjadi prajurit yang baik, profesional dan bertakwa.

Ryamizard Ryacudu lahir dan dibesarkan dalam keluarga tentara. Ayahnya yang bernama Ryacudu (almarhum), adalah seorang brigadir jenderal TNI purnawirawan yang ketika berdinas aktif dikenal sebagai seorang pengagum dan kepercayaan Presiden Soekarno.

Keluarga ini juga dikenal sangat menekankan pentingnya pendidikan agama. Maka ketika kecil, Ryamizard dijuluki “Si Hadis” karena kepandaiannya menghafal sejumlah hadis Rasulullah. Panggilannya meningkat lagi menjadi “Pak Kiai” saat ia taruna militer.

Ia memang taat menjalankan ibadah agama, salat lima waktu dan puasa sunnah Senin-Kamis. Ketika menjabat Pangdam V Brawijaya pun, dengan pangkat jenderal bintang dua, dia sering mengikuti berbagai macam kajian keagamaan termasuk tasawuf dan tarekat dengan berpegang pada Al-Qur’an dan hadis Rasul.

Sehingga ia tersepuh menjadi seorang prajurit yang memiliki bekal kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, yang menuntunnya menjadi prajurit profesional yang baik dan bertaqwa. Selain dengan mengandalkan kedalaman kecerdasan dan keterampilan kemiliteran (intelektual) dan pengendalian emosi (kecerdasan emosional), dia senantiasa meminta kekuatan lahir dan batin (kecerdasan spiritual) agar mampu menjalankan amanah sebagai tentara yang bertaqwa dan dimuliakan Allah.

Kebanggaan akan figur ayah menjadi alasan utama Ryamizard memutuskan masuk tentara. Tidak ada unsur keterpaksaan. Kebanggaan akan figur itu disebabkan oleh sang ayah selain sangat menekankan pentingnya pendidikan agama dalam keluarga, sepanjang berkarir di militer pun si ayah mengabdikan seluruh hidupnya bagi bangsa dan negara. Pesan Sang Ayah kepada Ryamizard adalah agar menjadi tentara yang profesional.

Selain memedomani pesan tersebut, sikap keras ayah ikut pula diwarisinya. Dia melihat bahwa negara ini adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Karena itu, kalau ingin negara ini aman tenteram, maka seluruh bangsa Indonesia sendirilah yang harus membuatnya.

Dalam menjalankan tugas, ia selalu berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal itu didorong keinginannya menjadi prajurit yang baik, profesional dan bertakwa.

Ia pun telah menjadi seorang prajurit sejati yang profesional, sesuai keinginan sang ayah. Komitmen profesionalisme militer itu pernah ditunjukkannya bersama rekan-rekan seangkatannya lulusan AMN 1973, dalam buku “Indonesia Baru dan Tantangan TNI, Pemikiran Masa Depan.” Buku itu antara lain bicara soal doktrin Dwifungsi ABRI yang telah lama bercokol di pentas perpolitikan nasional. Inti sari isi buku itu adalah menganjurkan agar tentara kembali ke tugas profesionalnya sebagai militer.

Mantan Pangdam Jaya ini memperistri Nora Trystiana putri Jenderal TNI Try Sutrisno yang mantan Wakil Presiden RI. Dikaruniai tiga orang anak, Ryano Patriot, Dwinanda Patriot , dan Tryananda Patriot.

Nama alumni pendidikan militer Akabri Darat tahun 1973, ini mulai dikenal luas saat menjadi salah satu komandan Kontingen Garuda XII di Kamboja pada 1990-an, tatkala berpangkat kolonel. Ia banyak menjadi sumber berita. Dari Kamboja ia menjadi Komandan Brigade Infanteri 17 Kostrad, lalu Aspos Kasdam VII/Wirabuana, lalu Kepala Staf Divif 2/Kostrad, Kasdam II/Sriwijaya, Pangdif 2/Kostrad, Kepala Staf Kostrad, dan yang terbaru sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya (1999), Pangdam Jaya (1999-2000), Pangkostrad (Agustus 2000 - 2002), dan menjadi KSAD sejak 2002.

Jenderal berbintang empat, ini berasal dari daerah yang sama dan dekat pula dengan Taufiq Kiemas suami Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Maka saat diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), ia harus menghadapi isu bermacam-macam. Misalnya, isu dikatrol menjadi KSAD karena nepotisme dan koneksi Palembang. Tetapi, “Saya bukan Palembangisme,” bantahnya tegas.

Bintangnya mulai bersinar saat berpangkat kolonel. Namun, dia mulai diperhitungkan sebagai prajurit sejati saat melakukan gelar pasukan sehari sebelum Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyampaikan pidato pertanggungjawaban di Sidang Istimewa (SI) MPR, Minggu 22 Juli 2001. Itu adalah masa menjelang kejatuhan Gus Dur.

Sehingga, gelar pasukan itu dinilai berbagai pihak sebagai sinyal keberpihakan TNI terhadap masa depan bangsa yang lebih baik mengingat doktrin politik TNI adalah doktrin politik negara. Apa yang terbaik bagi negara adalah yang terbaik bagi TNI.

Gelar pasukan yang kata Ryamizard sudah seizin Presiden Gus Dur, bertajuk Apel Kesiapan TNI di Silang Monas tepat di depan Istana Merdeka diikuti tak kurang 2.000 personil TNI dan dipimpin langsung oleh Ryamizard Ryacudu, selaku Pangkostrad Jenderal berbintang tiga ketika itu. Antara lain disertakan 81 kendaraan lapis baja dari Kostrad dan Korps Marinir.

Yang menarik, sebelum sampai ke tempat upacara, kendaraan lapis baja itu telah lebih dahulu melintasi jalan-jalan utama di Jakarta dan menarik perhatian masyarakat. Unsur yang dilibatkan ketika itu adalah TNI Angkatan Darat (AD) yang terdiri dari Batalyon 323 dan 320 (420 personel), Yon Linud 328 (160), Kopassus TNI AD (180), Kodam Jaya yang terdiri dari Yon Kav 7 dan 9 (200), Yon 203 (225), Marinir TNI AL (535), Armada Barat TNI AL (206), dan Skuadron 461 Korpaskhas TNI AU (120).

"Tidak ada yang istimewa dalam apel ini. Apel ini adalah apel yang biasa dilakukan seluruh prajurit. Tujuan utama apel ini untuk kekompakan, karena dengan kekompakan yang ditunjukkan ke masyarakat diharapkan masyarakat merasa tenang, aman, dan terlindungi," kata Ryamizard waktu itu.

Apel serupa kembali digelar Ryamizrad menjelang akhir 2003 lalu, sudah dalam jabatannya sebagai KSAD. Namanya Gelar Juang Kartika TNI Angkatan Darat. Pesannya sederhana saja, memberi warning agar Pemilu 2004 tidak berdarah-darah. Namun, anehnya warning ini malah dianggap beberapa orang politisi dan pengamat politik sebagai pertanda masih adanya niat militer memasuki area pilitik. Hal yang kemudian dibantahnya dengan tegas.
 Profesional

Sikap profesionalisme Ryamizrad selalu tampak menonjol dalam memandang setiap persoalan konflik di daerah. Tentang keberadaan TNI di daerah konflik itu -- yang suka tidak suka, pasti menimbulkan ekses berupa korban jiwa maupun harta benda di kalangan tentara, gerakan separatis, dan rakyat sipil yang kadang lalu dimanfaatkan sekelompok orang tertentu untuk menyudutkan tentara -- Ramizard menyebutkan bahwa keberadaan militer di wilayah-wilayah konflik itu adalah atas kebijakan pemerintah.

Namun ia melihat, seringkali benturan-benturan yang terjadi di lapangan secara tidak langsung disebabkan oleh kebijakan politik yang tak pasti dalam penyelesaian konflik dan/atau separatisme di daerah.

Dia menggambarkan, tentara maunya tinggal “pithes” atau pencet saja jika ingin menyelesaikan persoalan di daerah konflik.

Namun, menurutnya, setiap konflik mempunyai akar persoalan dan cara penyelasaian yang berbeda terutama dari sudut pandang TNI. Daerah konflik Aceh, misalnya, sepanjang Gerakan Separatis Aceh (GSA) menginginkan merdeka dan tidak mau mengakui NKRI maka Ryamizard yakin perdamaian pasti tidak akan tercapai. Sebab TNI maunya Aceh tetap bagian dari NKRI. Karena itu, solusinya adalah GSA harus bergabung dan mengakui NKRI, baru persoalan akan selesai.

Tentang Papua, menurutnya, penyelesaiannya sudah lebih ke arah politis yang juga melibatkan negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Australia. Dan itu urusannya para politisi. Kata Ryamizard, di sini urusan tentara adalah dengan kekuatan senjata yang tinggal pencet saja sebab jaringan separatis sudah diketahui di mana-mana.

Di kalangan militer, Ryamizard memang dianggap benar-benar prajurit profesional dan tidak banyak melakukan politicking. Karir politiknya diperkirakan akan mencapai puncak, pada waktunya.
 Calon Panglima TNI

Presiden Megawati Soekarnoputri menjelang akhir jabatan, tepatnya 8 Oktober 2004, dalam surat kepada DPR mengajukan Ryamizard sebagai calon Panglima TNI menggantikan posisi Jenderal Endriartono Sutarto yang surat pengunduran dirinya telah disetujui.

Alasan Megawati mengajukan Ryamizard di ujung masa jabatannya sebagai presiden itu dikarenakan dua kepala staf TNI lainnya kala itu sudah memasuki masa pensiun. Sementara, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto sendiri sudah dua kali mengajukan pensiun. Makanya, Megawati merasa mengambil kebijakan yang tidak salah. DPR pun sempat memproses dan menyetujui Ryamizard menjadi Panglima TNI.

Namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menggantikan Mega bulan berikutnya, hanya sepekan setelah dilantik, mengirim surat ke DPR yang intinya mencabut surat pengajuan Presiden sebelumnya.

Surat pencabutan Presiden SBY itu menimbulkan silang pendapat di DPR dan kalangan masyarakat. DPR pun mengajukan hak interpelasi. Lalu Presiden ke DPR dan dicapai kesepakatan bahwa Presiden akan segera mengajukan nama calon Panglima TNI lagi ke Senayan. Untuk mendinginkan suasana, ditiupkan kemungkinan Ryamizard akan diajukan kembali.

Kemudian pada Februari 2005, Markas Besar TNI mengajukan kembali nama Ryamizard dalam satu paket dengan rencana pergantian kepala staf angkatan kepada Presiden. Sebagai orang paling senior di antara ketiga kepala staf angkatan itu, Ryamizard dianggap lebih berpeluang diajukan..

Sejumlah kalangan juga beranggapan Presiden akan mengajukan nama Ryamizard sesuai dengan ketentuan Undang-Undang TNI Nomor 34 Tahun 2004 yang mengharuskan Presiden mengajukan satu nama Panglima TNI ke DPR untuk disetujui.

Tapi anggapan dan perkiraan itu ditepis saat Presiden masih memperpanjang masa jabatan panglima hingga akhir 2005. Sebaliknya, Presiden mengganti tiga kepala staf angkatan, termasuk Ryamizard, KSAD waktu itu.

Terkesan Presiden SBY sengaja mengulur waktu untuk menghindari Ryamizard jadi Panglima TNI. Apalagi ketika itu umur Ryamizard sudah menjelang usia pensiun sebagaimana disyaratkan Undang-Undang TNI, 56 tahun.

Publik pun bertanya, apakah memang ada masalah pribadi antara SBY dengan Ryamizard, yang memengaruhi sehingga SBY tak menghendaki Ryamizard jadi Panglima TNI?

Ryamizard dan SBY satu angkatan di Akabri (masuk 1970). Ryamizard sebenarnya sudah diterima satu tahun sebelum SBY masuk Akabri. Tapi kecelakaan saat pelonco di Gunung Tidar, Magelang, mematahkan kaki Ryamizard. Akibatnya, setahun kemudian Ryamizard mencoba lagi dan lolos. Di situ ia bertemu SBY, menjadi kawan seangkatannya.

Namun, dalam perjalanannya, SBY duluan lulus (1973). Ryamizard baru lulus setahun kemudian, 1974. Tiga orang taruna kawan seangkatannya bernasib serupa, tertunda kelulusannya karena kena skorsing. Salah satu kawannya itu adalah Prabowo Subianto, putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo yang kemudian menjadi menantu mantan presiden Soeharto.

Hubungan Ryamizard dan SBY kembali berlangsung setelah keduanya dilantik menjadi perwira TNI-AD. Tahun 1993, tugas mempertemukan mereka di Markas Brigif Lintas Udara 17/Kujang 1 Kostrad, Jakarta. Saat itu SBY sudah Kolonel dan menjadi komandan menggantikan Kolonel Inf. Sugiono. Ryamizard sudah Letkol dan menjadi Kepala Staf Brigif Linud 17/Kujang 1. Satuan elite ini terdiri dari tiga batalion dan dikenal punya prestasi tempur legendaris. Tahun 1997, mereka bertemu lagi di Palembang. SBY menjadi Pangdam II Sriwijaya, Ryamizard menjadi Kepala Staf Kodam Sriwijaya.

Salah satu orang dekat SBY di Istana menceritakan, sebagaimana ditulis Tempo Edisi 23-29 Januari 2006, terlepas dari terjadinya politisasi Panglima TNI di DPR, Oktober 2004, sebenarnya SBY memang berniat mengajukan nama Ryamizard sebagai pengganti Sutarto. Konon, pada 27 Oktober 2004, sehari setelah SBY mengirimkan surat ke DPR, menurut sumber ini, Presiden bertemu dengan Ryamizard di Istana Merdeka. Pertemuan itu luput dari perhatian wartawan.

Dua jam pertemuan, hanya lima menit mereka bicara serius. Selebihnya, reuni sesama kawan lama. Intinya, Presiden, kata orang dekat SBY ini, minta Mizard membenahi TNI. ”Satu-satunya nama panglima di saku saya adalah Abang (Ryamizard),” kata sumber ini menirukan SBY.


SBY juga menyatakan ingin melakukan pertemuan berkala dengan Mizard. Pesan lainnya, Ryamizard diminta tak banyak bicara dan lebih aktif di kegiatan sosial. Setelah itu, Mizard pun memilih banyak mengerem bicara. Tugas-tugas sosial juga lebih banyak dilakukannya. Misalnya merancang TNI Manunggal Desa di sejumlah desa di Aceh. Bahkan program itu dinilai efektif memulihkan Aceh, pasca-tsunami.


Tapi sejak itu tak ada kabar lagi. Pertemuan itu adalah yang pertama dan yang terakhir kalinya. Selain acara formal, tak ada lagi pertemuan berkala seperti yang dimaksud Presiden. Sampai akhirnya, Presiden memutuskan memperpanjang masa tugas Panglima TNI dan mengganti tiga kepala stafnya, termasuk Ryamizard. ”Sejak itu, Pak Mizard tahu, pertemuan itu tak pernah akan ada,” kata mantan anggota tim sukses SBY ini.


Skenario Istana memang berubah. Sumber Tempo menyebutkan, atas sejumlah masukan, Presiden akhirnya memperpanjang masa tugas panglima demi mengulur waktu. Selain menyiapkan jago baru, juga membuat alasan kuat yang membuat Presiden tidak memilih Ryamizard. Salah satunya adalah karena usia mantan KSAD itu memasuki masa pensiun. ”Bukan cuma kurang sreg, tapi juga perlu adanya penggiliran angkatan untuk Panglima TNI sesuai dengan undang-undang,” kata pengamat politik Ikrar Nusa Bakti kepada Nuraini dari Tempo.


Tapi, yang jelas, kata orang dekat Presiden, Ryamizard tak disukai Amerika. Selain menganggap dia bertanggung jawab atas kasus Timika, Washington kabarnya menilai sosok Ryamizard sebagai Jenderal yang punya closed mind (kolot). Salah satu yang disoal adalah buku "Indonesia Terjebak Perang Modern" yang dilansir Seskoad, akhir Desember 2004. Isi buku itu sedikit-banyak memposisikan Indonesia sebagai pihak yang berseberangan dengan Amerika Serikat.


Buku itu, kata sumber Tempo, sempat dilarang Presiden. Malah dua hari sebelum peluncuran buku itu, panitia akhirnya meminta izin ke Wakil Presiden Jusuf Kalla. Acara berlangsung mulus. Dan jadilah buku itu tanpa ucapan terima kasih kepada Presiden. Ryamizard sendiri membantah ketika dikonfirmasi sikap Presiden soal ini. ”Tidak, kok. Dua hari sebelum peluncuran, Danseskoad sudah berbicara langsung dengan Presiden. Saya kira beliau setuju,” ujarnya.


Soal perdamaian Aceh juga jadi ganjalan. Sikap keras tanpa kompromi mantan KSAD ini dianggap bisa membahayakan perdamaian di Aceh yang sedang dirintis. Apalagi, mantan KSAD ini dianggap tak setuju dengan hasil MOU Aceh di Helsinki. Dan yang terakhir, intinya Istana menyoal loyalitas Ryamizard. ”Termasuk karena terlalu dekat dengan mantan presiden Megawati,” kata sumber Tempo ini.


Agaknya, Ryamizard sudah paham betul, ini adalah babak akhir dari perjalanan kariernya di TNI. Penjelasan Presiden melalui Panglima TNI pekan lalu sudah sangat terang-benderang. ”Presiden memilih KSAU Marsekal TNI Djoko Suyanto demi rotasi di TNI,” kata Sutarto. Tidak dipilihnya Ryamizard, kata Sutarto, karena mantan KSAD itu akan segera memasuki masa pensiun.


Menurut Indra Bambang Utoyo, sudah lama Ryamizard mengetahui babak akhir cerita Panglima TNI. ”Sudah lama ia menyatakan legowo. Yang penting kini baginya, pengabdian bagi negara bisa dengan apa saja,” ujarnya.

Seperti juga lakon Bima, tulis Tempo, tokoh wayang yang digandrunginya, begitulah babak akhir Jenderal Ryamizard. Karena terlalu lurus, Bima tak pernah menjadi Mahasenapati dalam Perang Baratayuda. Dan Jenderal ”Bima” Ryamizard pun demikian. Ia tak akan menjadi Mahasenapati Yudhoyono.► ti/crs-haposan tampubolon, dari berbagai sumber.
 10 Batalyon Raiders

TNI Angkatan Darat memesan senjata khusus produksi PT Pindad untuk 10 Batalion Pasukan Raiders yang akan diresmikan. Senjata tersebut, menurut Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu saat itu, mempunyai kelebihan kemampuan tempur jarak dekat dan tugas penyergapan. "Saya sudah pesan 8.000 pucuk," kata dia kemarin di Jakarta.

Senjata otomatis itu adalah Senjata Serbu Satu Varian Satu, yang memiliki kemampuan gabungan antara senjata SS-1 dan AK-47. Senjata itu, kata dia, disesuaikan dengan tugas pasukan Raiders untuk melakukan pertempuran jarak dekat dan antiteror. "Terendam selama dua pekan di lumpur pun senjata ini masih dapat berfungsi baik," kata Ryamizard.


Pasukan Raiders, Ryamizard menjelaskan, dibentuk untuk meningkatkan kemampuan tempur personel agar tidak kalah dibandingkan pasukan asing. Dia mengakui TNI AD kekurangan senjata modern dibandingkan negara-negara besar. Karena itu, ia menambahkan, TNI AD harus memiliki kemampuan tinggi agar tidak dilecehkan.


Menurut dia, kemampuan tempur pasukan itu tiga kali lipat dibandingkan pasukan dari satuan biasa. Ia mengaku membentuk pasukan itu tanpa bantuan pemerintah. Seragam, pisau, dan pelatihan disiapkan sendiri oleh TNI AD "Walau serba kekurangan dan negara banyak utang, TNI AD ingin menunjukkan kemampuannya membentuk pasukan khusus tanpa bantuan pihak lain, apalagi asing," ia menegaskan.

Pasukan Raiders TNI AD, kata Ryamizard, terbesar dalam sejarah pembentukan pasukan khusus di dunia. Kata dia, tidak ada negara lain yang memiliki pasukan khusus sebesar pasukan itu. Pasukan ini telah dilatih selama enam bulan dengan tingkat kedisiplinan tinggi dan memiliki kemampuan untuk melakukan penyerbuan dari udara dan darat.

Bertepatan dengan Hari Juang Kartika, TNI Angkatan Darat resmikan pembentukan 10 Batalion Pasukan Raider di Kemayoran, Jakarta, Senin (22/12/2003). Pasukan Raider yang dikhususkan untuk perang modern, antigerilya, dan perang berlarut itu dibentuk dengan membekukan delapan satuan Yonif pemukul Kodam dan dua satuan Yonif Kostrad.

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan, pembentukan dan latihan pasukan Raider ini merupakan kebutuhan yang mendesak. "Selain sebagai kekuatan penangkal, pasukan Raiders ini juga disiapkan sebagai pasukan penindak terhadap semua musuh negara," ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan, pasukan Raider juga mampu melakukan perang berlarut. Hal itu, ucapnya, sebagai jawaban untuk menghadapi kekuatan yang lebih besar dari negara-negara agresor, yang memiliki kekuatan senjata lebih tinggi.

Pasalnya, kata dia, sudah sejak lama, letak geografis dan sumber daya alam Indonesia telah menjadi daya tarik pihak asing untuk menguasainya. Menurut dia, penaklukan terhadap suatu bangsa dalam perang modern tidak lagi dalam bentuk pengerahan pasukan bersenjata sebagai pilihan utama. Bahkan, ia meyakini, sudah ada indikasi dari infiltrasi asing terhadap Indonesia. "Hal itu ditandai dengan masuknya intelijen yang mengadu domba TNI," ucapnya.

Pada kesempatan terpisah, Danjen Kopasus Mayjen Sriyanto saat itu mengatakan, untuk meningkatkan kekuatan pasukan Raiders, 50 orang dari setiap batalyon akan dilatih kembali, seperti antiteror. "Mereka akan dilatih lagi 3-4 bulan," ucapnya. Latihan itu, katanya, akan diberikan dengan frekuensi yang diperketat, sehingga Raiders mempunyai kekuatan khusus.

Seperti diketahui, pasukan Raider ini merupakan pasukan khusus yang dibentuk dari beberapa Kodam. Menurut Ryamizard, sebelumnya pasukan tersebut sudah dilatih dalam waktu enam bulan. Ia mengklaim, pasukan ini mempunyai kekuatan tiga kali lipat dibandingkan pasukan infanteri biasa.

10 batalyon Raider yang baru diresmikan itu, dibentuk dengan membekukan delapan satuan yonif pemukul Kodam dan dua satuan yonif Kostrad. Satuan yang dibekukan itu, yakni Yonif Linud 100 Bukit Barisan menjadi Yonif 100/Raider Kodam Bukit Barisan, Yonif 145/Bhakti Nagara menjadi Yonif 200/Raider Kodam Sriwijaya, Yonif 327 menjadi Yonif 300/Raider Kodam Siliwangi, Yonif 401 Banteng Raider menjadi Yonif 400/Raider Kodam Diponegoro, dan Yonif 507/Sikatan menjadi Yonif 500/Raider Kodam Brawijaya.

Selain itu, lima satuan lainnya yang dibekukan adalah Yonif Linud 612/Modang menjadi Yonif 600/Raider Kodam Tanjungpura, Yonif Linjud 700 Wira Yudha Sakti menjadi Yonif 700/Raider Kodam Wirabuana, Yonif 741/ Satya Bhakti menjadi Yonif 900/Raider Kodam Udayana, Yonif 323/ Buaya Putih Kostrad menjadi Yonif 232/Raider divisi 1 Kostrad, dan Yonif 412/Bharata Eka Sakti Kostrad menjadi Yonif 412/Raider divisi 2 Kostrad.

Akhirnya berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Skep/46/XII/2003 tanggal 15 Desember 2003 tentang pembekuan delapan Satuan Yonif  Pemukul Kodam dan dua Satuan Yonif Kostrad serta pengesahan pembentukan sepuluh Satuan Yonif Raider dijajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), yang dilaksanakan melalui upacara peresmian sepuluh Yonif Raider secara akbar di Kemayoran Jakarta oleh Kepala Staf Angkatan Darat dan dihadiri Presiden RI Megawati Soekarno Putri serta pejabat TNI dan Pemerintah.

Batalyon Raider ini terbentuk karena peristiwa pemberontakan yang terjadi di wilayah Indonesia itu sendiri seperti Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dengan dibentuknya satuan Raider ini, maka diharapkan dapat membantu pemerintahan untuk mempersempit dan mengurangi ruang gerak para pemberontak yang dapat mempengaruhi serta membahayakan kedaulatan NKRI, baik dari segi personel maupun materil.

Pasukan elit Angkatan Darat di Indonesia satu-satunya yaitu Kopassus jumlahnya masih terbatas. Melihat pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan wilayah yang luas dari propinsi NAD. Maka munculah ide dari Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu pada saat itu, untuk membentuk pasukan khusus yang handal yang mempunyai kemampuan lebih yang dapat beroperasi baik melalui darat, laut maupun udara.

Jumlah pasukan Raider secara keseluruhan adalah 8.000 personel, ditambah pasukan pendukung sebanyak 12.500 personel. Anggaran yang dikeluarkan untuk pembentukan pasukan ini sekitar Rp 50 miliar. Anggaran ini, menurut dia, jauh lebih murah dibandingkan pembeli senjata yang mencapai ratusan miliar.
  Biografi


Nama : Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
Lahir : Palembang, 21 April 1950
Agama : Islam
Jabatan Terakhir : Kepala Staf Angkatan Darat
Istri : Nora Trystiana
Anak-anak : Ryano Patriot, Dwinanda Patriot dan Tryananda Patriot
Ayah : Brigen (Purn) Ryacudu (Alm)
Pendidikan :

- STM Jurusan Mesin
- Akabri Darat, lulus 1973
- Suscapa (1985-1986)
- Seskoad, 1991
Karier militer :

- Komandan Peleton di Kodam XII Tanjungpura
- Komandan Kompi di Kodam XII Tanjungpura
- Komandan batalion di Kodam XII Tanjungpura
- Komandan Brigade Infanteri 17 Kostrad
- Aspos Kasdam VII/Wirabuana
- Kepala Staf Divif 2/Kostrad
- Kasdam II/Sriwijaya
- Pangdif 2/Kostrad
- Kepala Staf Kostrad
- Panglima Kodam V/Brawijaya (1999)
- Pangdam Jaya (1999-2000)
- Pangkostrad (Agustus 2000 - 2002)
- KSAD 2002 - 2005
- sumber dari berbagai sumber -


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...