Minggu, 21 April 2013

Suku Cadang CN 295 Akan Diserahkan Tahun 2013

Jakarta • Suku cadang pesawat CN 295 akan diserahkan PT Dirgantara Indonesia pada tahun 2013 ke TNI AU. Saat ini, dua pesawat CN 295 yang diserahterimakan awal tahun 2012 lalu terbang tanpa suku cadang.

"Tahun ini, PT DI akan kirim suku cadangnya," kata Kepala Humas PT Dirgantara Indonesia (DI), Sonny S Ibrahim, Sabtu (20/4/2013).

Pengadaan CN 295 adalah salah satu program andalan Kementerian Pertahanan untuk meningkatkan industri pertahanan dalam negeri. Namun, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Sisriadi mengakui, pembayaran hingga kini belum dilakukan. "Soalnya kontraknya belum selesai. Tahun ini pembayaran akan kami lakukan," kata Sisriadi.

Ketiadaan suku cadang ini membuat pilot-pilot TNI AU harus menerbangkan pesawat dalam kondisi tanpa suku cadang. Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, mengatakan, saat ini, hanya satu pesawat yang beroperasi sementara yang satu dalam perawatan. Namun, menurut Sonny, pesawat sudah diserahterimakan dan itu berarti pesawat sudah memenuhi berbagai persyaratan administrasi, fungsi, dan memenuhi regulasi terbang militer Indonesia.

Pesawat sudah diterbangkan ke Langkawi Malaysia pada bulan Maret 2013 lalu untuk ikut static show di acara LIMA 2013. Saat ini pesawat sedang disiapkan untuk terbang road show ke negara-negara Asean pada bulan depan. "Saya tegaskan, pesawat-pesawat tersebut service-able," kata Sonny.

Sonny juga menyatakan, seperti sebelumnya PT DI akan tetap berkomitmen mengirimkan pesawat CN 295 sesuai jadwal. Tahun 2013 ini direncanakan ada 3 atau 4 unit CN 295 yang akan dikirimkan. PT DI juga berterima kasih pada Kementerian Pertahanan yang akan mengajak CN 295 dalam road show ke beberapa negara ASEAN pada awal bulan Mei mendatang.

  ● Kompas  

Indonesian Navy selects NAUTIS Class A FMB Simulators for SIGMA Class Corvette bridge training

For training of its Sigma Class Corvette bridge personnel, the Indonesian Navy and Ministry of Defence selected VSTEP to supply two Class A NAUTIS Full Mission Bridge (FMB) Simulators for its Kobangdikal marine training facility in Surabaya.

The Indonesian Navy is currently modernizing its fleet to more effectively combat maritime crime and piracy. Beginning 2012, the Indonesian Navy added several Sigma Class Corvettes to its active fleet. To allow realistic training of the Sigma Class bridge personnel, the Navy ordered two NAUTIS Full Mission Bridge Simulators, each with a 270 degree field of view projected on a cylindrical screen.

The simulator bridges match the actual SIGMA Class Corvette bridge, allowing efficient and true-to-life bridge operations and navigation training. The Indonesian Navy also ordered five custom built ports, and customised navigation screens. VSTEP cooperated with local development and implementation partners, to increase the local content.

The NAUTIS FMB simulators have been delivered by maritime simulator developer VSTEP in cooperation with its Indonesian partner Terravision. The Kobangdikal Marine Facility in Surabaya counts as one of the most important development, training and education facilities of the Indonesian Navy. In addition to the two Class A NAUTIS FMB Simulators, two NAUTIS Instructor Stations and two NAUTIS Desktop Training Simulators have also been installed at the premises.

VSTEP Director, Cristijn Sarvaas: “We are deeply honoured to have been selected as the simulation partner at this prestigious technology centre. The cooperation with our local partners has worked out really well and we look forward to working with them on other projects in the future. We are looking forward to the delivery and commissioning of these impressive simulators, and the training of the local instructors.

For more information about NAUTIS Maritime Simulation Solutions, visit: http://www.nautissim.com/

  ● Vstep  

Latgab Mulai Turun ke Lapangan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-2MLn1JL5wvkKUdURoVp630LGPcj48o6didq1U3QgyikIXN6uZXXVm_aU_hsAVDfM-vQMzscv9SOv3UN94WIs0Fu-vbHb7yqPW56XTeO0IloS94M6ueODDPz8fYNe_4M5IBhixfYBotsH/s1600/latgab-2013.jpg
Jakarta – Gladi posko Latihan Gabungan TNI yang dilakukan di Markas Komando (Mako) Divisi Infanteri 1 (Divif 1) Kostrad, Cilodong, Jawa Barat, berjalan sukses. Mulai Sabtu (20/4) ini, TNI akan langsung menggelar gladi lapangan yang akan berlangsung hampir satu bulan penuh.

"Kesiapan kami sudah lengkap untuk melanjutkan pada tahap gladi lapangan. Kami juga sudah mempersiapkan semua alat utama sistem senjata (alutsista) yang akan digunakan," kata Komandan Pasmar 1 selaku Komandan Pasukan Pendarat (Pasrat), Brigjen TNI (Mar) Siswoyo Hari Santoso, di Jakarta, Jumat (19/4).

Gladi posko yang berlangsung pada 15–19 April diisi dengan drama perang-perangan sebagai tahap awal menuju latihan sebenarnya. Sementara gladi lapangan yang terdiri dari latihan perang darat, perang laut, maupun perang udara, akan berlangsung di Situbondo, Jawa Timur, di Sangatta, Kalimantan Timur, dan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seperti diberitakan sebelumnya, 2.000 prajurit Korps Marinir TNI AL yang tergabung dalam Pasrat 13 melakukan pendaratan amfi bi di Pantai Banongan, Asembagus, Situbondo, yang merupakan latihan parsial menjelang Latgab TNI tahun 2013.[nsf/P-3]

  ● Koran Jakarta  

☆ Sersan Eka, Kowad Kopassus

  Model Cantik Ini Pilih Menjadi Kopassus   

Sersan Eka Kowad Kopassus
Sersan Dua Eka Patmawati
Imej Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah, kuat, hebat, dan berani. Melihat baret merah saja, orang sudah takut. Siapa sangka ada juga tentara Kopassus yang jelita.

Anggota Kopassus tersebut bernama Sersan Dua, Eka Patmawati. Dulunya wanita cantik ini adalah seorang model salah satu majalah di Jakarta. Demi menjadi tentara, Eka rela meninggalkan karirnya sebagai model.

"Saya sersan dua kurang lebih 2,5 tahun. Dari awal saya masuk pendidikan sekolah calon bintara (Secaba) umum. Lalu kita anggota Kowad, diseleksi dulu untuk menjadi Kowad (Korps wanita TNI AD) Kopassus," kata Sersan Eka kepada Merdeka.com di sela-sela HUT TNI, Selasa (16/4).

Eka bercerita, menjadi Kowad Kopasus dengan Kowad-Kowad yang lain sangat jauh berbeda. Namanya juga pasukan khusus, tentu latihannya juga jauh lebih berat. Prajurit wanita juga diperlakukan sama baik secara pendidikan maupun keseharian dengan Kopassus Pria.

"Jadi, dalam menempuh Baret, dari namanya saja, berani, benar dan berhasil dari baret merah itu sendiri jadi membutuhkan perjuangan yang sangat besar. Tidak hanya pria, kita Kowad Kopasus juga menunjukkan harus bisa seperti yang lainnya," tegas wanita berusia 24 tahun ini.

Eka mengaku betah berdinas. Sehari-hari dia bertugas sebagai staf pribadi Danjen Kopassus Mayjen Agus Sutomo. Sebagai tentara, disiplin pun jadi tuntutan.

"Meskipun hari libur atau di luar dari jam dinas kita dipanggil. Jadi, kita harus tetap standby. Tetap melaksanakan perintah atasan," katanya.

Siap Sersan Eka. Komando!(mdk/ian)

 Fotonya Beredar Luas di Jejaring Sosial   


Setelah kasus penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, beredar foto wanita anggota Kopassus. Tentu saja foto ini tak ada hubungannya dengan kasus penyerangan tersebut. Foto beredar melalui postingan di jejaring sosial, facebook, twitter, bahkan BBM.

Judul fotonya saja Kopassus cantik. Dalam foto ini tampak seorang wanita dengan pakaian loreng Kopassus darah mengalir, lengkap dengan baret merah dan semua brevet Kopassus. Tak lupa sebuah kacamata hitam menambah manis wajahnya yang ayu. Foto itu pun menimbulkan kehebohan di dunia maya.

Banyak orang bertanya benarkah ada anggota Kopassus secantik ini? Atau cuma model yang mengenakan pakaian Kopassus?

Ternyata wanita ini benar-benar anggota Kopassus. Namanya Sersan Dua Eka Patmawati.

"Saya kaget foto saya banyak di google, BBM, dan juga facebook. Saya juga nggak tahu itu foto itu bisa ada dan tersebar," ucap sersan cantik ini sambil tertawa saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (16/4).

Eka mengaku tidak tahu siapa yang menyebarkan foto itu. Tapi dia tidak marah fotonya jadi beredar luas. Dia cuma tertawa-tawa.

"Nggak marah kok," katanya.

Ketika sejumlah orang yang meminta foto saat HUT Kopassus, Eka dengan senang hati berpose. Komando!(mdk/ian)

 Mengaku Masih Jomblo 

Sersan Dua Eka Patmawati mungkin anggota Kopassus yang paling cantik. Di tengah pasukan baret merah yang gagah perkasa, sosoknya kerap menjadi perhatian. Lalu apakah gadis berusia 24 tahun ini sudah ada yang punya?

"Belum. Saya belum punya pacar kok," kata Sersan Eka sambil tertawa saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (16/4).

Eka mengaku terlalu sibuk menjadi tentara. Setiap hari dihabiskan untuk latihan atau menjalankan tugas sebagai asisten pribadi Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo. Kadang saat akhir pekan, dia masih harus menyelesaikan tugas.

"Nggak sempat, nggak ada waktu. Namanya tentara kalau Sabtu-Minggu dipanggil ya harus siap," kata wanita berdarah Makassar ini.

Eka sebenarnya punya rumah pribadi di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Karena jauh dia kemudian tinggal di mess wanita Kopassus bersama rekan-rekannya.

"Seminggu sekali biasa baru pulang. Tapi kalau banyak tugas ya tidak pulang," kata gadis manis ini tersenyum.(mdk/ian)

 Memilih jMenjadi Kopassus Daripada Model 

Sersan Dua Eka Patmawati memilih masuk Kopassus dan meninggalkan karirnya sebagai model. Dia memilih menjadi anggota pasukan baret merah yang dikenal sebagai pasukan elite. Rupanya Sersan Eka punya alasan khusus, ayahnya juga seorang anggota Kopassus.

"Mungkin awalnya saja juga tidak kebayang ya, mengapa saya jadi Kopassus. Kebetulan dari background keluarga saya juga yang dari Kopassus dan masih aktif. Mungkin awalnya saya ingin jadi peneruslah di keluarga saya. Apalagi saya kan anak pertama," ujar Sersan Eka saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (16/4).

Wanita berusia 24 tahun ini tak menyesal menjalani pelatihan berat untuk menjadi Kopassus. Kini Eka pun bangga mengenakan baret merah seperti anggota Kopassus yang lain. Menurutnya jadi Kopassus yang paling seru.

"Saya pernah jadi guru bahasa Inggris, lalu coba jadi sekretaris di perusahaan internasional," akunya.

Terakhir Sersan Eka berpesan untuk para remaja yang juga ingin menjadi seorang militer khususnya Kopassus agar terus melanjutkan cita-citanya dan jangan ragu.

"Bagi teman-teman sekalian, jangan takut jadi militer. Wujudkan cita-cita selagi ada kesempatan," tambahnya.(mdk/ian)

  ● Merdeka  

Kemhan Belum Membayar Dua Pesawat CN 295

Jakarta • Dua pesawat CN-295 yang diterima TNI AU pada akhir tahun lalu ternyata beroperasi tanpa suku cadang. Hal itu karena Kementerian Pertahanan belum membayar pembelian pesawat itu kepada PT Dirgantara Indonesia yang memproduksi pesawat itu bersama Airbus Military.

“Kami sudah serahkan dua pesawat, tapi belum dibayar,” kata Kepala Tim Hubungan Masyarakat PT DI Sonny S Ibrahim, Jumat (19/4). Menurut Sonny, kontrak dengan Kemhan suda ditandatangani, tetapi tidak ada tanggal terkait dengan efektivitas konreak tersebut.

Meskipun demikian, PT DI berkomitment untuk mengirim CN 295 sesuai jadwal. Jadwal pengiriman sembilan pesawat baru tersebut, yaitu dua unit pada tahun 2012, dua unit 2013, satu unit pada 2014, dan sisanya pada 2015.

Sonny mengakui, PT DI belum mengirim suku cadang awal kepada TNI AU. Ia mengatakan, biasanya PT DI mengirim suku cadang awal untuk kebutuhnan satu tahun pertama. Namun, karena belum ada pembayaran, suku cadang tidak dikirimkan. “Begitu bayar, kami akan kirimkan ke TNI AU sebagai pengguna,” kata Sonny.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus mengatakan, pihaknya punya suku cadang. Namun, saat ini hanya satu dari dua pesawat CN 295 yang beroperasi. “Yang satu lagi dalam perawatan,” katanya.

 Belum bayar 

Secara terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Sisriadi mengakui, Kemhan belum membayar pembelian pesawat itu kepada PT DI. Menurut dia, karena secara administrasi kontrak tersebut belum efektif, secara resmi kedua pesawat CN 295 itu seharusnya belum boleh terbang.

Kalaupun pesawat itu dibawa ke Pameran Dirgantara di Langkawi, Malaysia, beberapa waktu yang lalu, hal ini masih di bawah otoritas PT DI dan dimintakan bantuan kepada pilot TNI AU untuk menerbangkannya.

Sonny mengatakan, suku cadang yang belum diberikan adalah suku cadang habis pakai. Ia mencontohkan, ban hanya bisa dipakai sebanyak 60 kali pendaratan. Setelah itu, harus dibeli. Menurut Sonny, kalau untuk ban, bisa saja TNI AU membeli dari pihak swasta. Azman mengatakan, kalau pesawat TNI AU tidak punya suku cadang, setelah yang dipakai rusak, harus menunggu sampai ada suku cadang baru. “Ya (pesawat) tidak bisa beroperasi,” katanya.

Menurut catatan Kompas, CN 295 adalah salah satu program andalan Kemhan terkait dengan penguatan industri pertahanan. Kerja sama antara PT DI dan Airbus Military tidak hanya terkait perakitan pesawat, tetapi juga termasuk pemasaran untuk kawasan Asia Tenggara.

Namun, ketiadaan suku cadang itu tidak hanya membahayakan saat operasional, tetapi juga bagi penerbang. Dengan ketiadaan suku cadang, pengguna pesawat baru itu pun tidak maksimal. Menurut Sisriadi, tahun ini dijadwalkan Kemhan akan melunasi pembayaran CN 295 tersebut.

  ● Kompas cetax  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...