Minggu, 01 Februari 2015

Pindad Targetkan Porsi Ekspor Capai 25%

Pasukan PBB menggunakan 44 unit Anoa untuk menjalankan misi perdamaiannya di Afrika APC Anoa Pindad★

PT Pindad menargetkan peningkatan jumlah ekspor produknya sebesar 25 persen dalam lima tahun mendatang. Target utama BUMN ini tetap memasok kebutuhan alutsista dalam negeri yang dipesan oleh Departeman Pertahanan RI untuk persenjataan TNI dan Polri.

"Saat ini ekspor produk baru lima persen, namun dalam lima tahun ke depan kami targetkan bisa mencapai 20-25 persen," kata Dirut PT Pindad Silmy Karim di Bandung, Kamis (29/1) saat menerima kunjungan Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo di Bandung.

Dengan peluang pasar ekspor yang cukup besar dalam beberapa tahun ke depan serta kian diperhitungkannya produk Pindad, Silmy optimistis bisa meningkatkan ekspor.

Ekspor produk saat ini, kata dia, adalah amunisi yang diproduksi di Turen, serta persenjataan seperti senjata genggam maupun laras panjang SS dan beberapa jenis lainnya.

Untuk merealisasikan proyeksi itu, pihaknya melakukan beberapa langkah dan upaya, antara lain menjalin kerja sama dengan industri pertahanan terkemuka. Kerja sama itu dalam hal pemenuhan pemesanan 120 juta butir peluru selama 5 tahun.

Selain itu menjalin kerja sama strategis dengan industri sejenis lainnya. Bentuknya, pemenuhan kebutuhan kendaraan taktis.

"Salah satunya dalam pengembangan kendaraan taktis 4x4, dimana Pindad akan memproduksi untuk pesanan ke luar negeri," katanya.

Kepercayaan terhadap produk Pindad juga, kata Silmy Karim, juga dari pasukan perdamaian PBB yang memesan 44 unit kendaraan taktis produk PT Pindad, yaitu Anoa.

"Pasukan PBB menggunakan 44 unit Anoa untuk menjalankan misi perdamaiannya di Afrika," katanya.

Upaya-upaya kerja sama itu, terangnya, sebagai jawaban tantangan sekaligus tindak lanjut UU 16/2012 tentang Industri Pertahanan Nasional yang berdaya saing tinggi.

"Pindad berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas produksi. Peningkatan itu tidak hanya kuantitas tetapi juga kualitas," kata Dirut Pindad menambahkan.
Kita Tak Mau Cuma Jago Kandang Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim★

Manajemen PT Pindad (Persero) menegaskan tak hanya akan fokus menjual produk alat utama sistem persenjataan (alutsista) di dalam negeri, namun juga bisa memperbanyak ekspor alutsista ke berbagai negara.

Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim menyatakan keinginannya memperbesar angka ekspor produksi alutsista Pindad. Target tersebut akan terbantu dengan adanya rencana suntikan modal dari pemerintah sebesar Rp 700 miliar melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

Hal ini disampaikannya disela-sela kunjungan jajaran Kopassus bersama Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo di Kantor Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Kamis (29/1/2015).

"Saat ini tengah dibahas, teman-teman DPR menaruh harapan yang sama," ujar Silmy saat menjelaskan soal PMN.

Dana PMN rencananya akan digunakan untuk modernisasi peralatan dan peningkatan kapasitas produksi di Pindad. Modernisasi peralatan dibutuhkan agar Pindad dapat memenuhi standar produk yang mampu bersaing dengan produk internasional.

"Kan saya jika TNI misalnya pesan keluar karena kita tak memiliki mesin yang modern," kata pengganti mantan Dirut Pindad Sudirman Said ini.

Saat ini dari total penjualan Pindad per tahun, hanya 5% yang berasal dari ekspor sisanya mayoritas untuk pemesanan domestik. Namun pada tahun-tahun ke depan, Pindad menargetkan pasar ekspor bisa dicapai hingga 20% hingga 25% dari total penjualan.

"Kita juga nggak mau cuma jago kandang," tutur Silmy.

Proyeksi ekspor alutsista yang sedang dijajaki yaitu kerjasama dengan sebuah perusahaan industri alutsista di luar negeri untuk ekspor 120 juta amunisi yang dipesan dalam 5 tahun.

"Produksi Anoa kita 44 unit telah beroperasi untuk misi perdamaian PBB. Ini bukti nyata produk kita bisa sampai beroperasi di daerah remote. Ditambah lagi saat ini sedang penjajakan 40 unit Anoa untuk di Afrika," sebutnya.

  ★ Berita Satu | detik  

[World] Israel dan CIA bersekongkol membunuh komandan Hizbullah

imageCIA dan badan intelijen Israel Mossad berada di belakang komplotan untuk membunuh komandan Hizbullah Imad Mughniyeh dalam satu serangan bom mobil tahun 2008 di Suriah, kata surat kabar Washington Post, Jumat.

Mengutip pernyataan para pejabat intelijen, surat kabar itu melaporkan bahwa CIA (Badan Intelijen Pusat) Amerika Serikat dan Mossad bekerja sama untuk membunuh Mughniyeh pada 12 Februari 2008 ketika ia meninggalkan satu restoran di ibu kota Suriah Damaskus.

Ia tewas seketika akibat satu bom mobil yang diletakkan di ban serap di belakang sebuah mobil yang parkir yang meledak dalam satu radius yang dekat sekali, kata surat kabar itu.

Bom, yang diproduksi oleh AS dan diuji di negara bagian North Carolina, dikendalikan dari jarak jauh oleh para agen Mossad di Tel Aviv berkomunikasi dengan para agen CIA di lapangan di Damskus.

Mughniyeh,seorang komandan Hizbullah diduga menjadi otak dari penculikan para sandera Barat di Lebanon pada tahun 1980-an dan serangan bom tahun 1992 terhadap kedutaan besar Israel di Argentina yang menewaskan 29 orang.

Ia juga terlibat dalam serangan bom terhadap barak-barak marinir AS di bandara Beirut tahun 1983, dan pembajakan pesawat TWA dengan nomor penerbangan 847 tahun 1985, di mana seorang penyelam dari angkatan laut AS tewas.

CIA menolak memberi komentar kepada Post tentang berita itu.

Mantan para pejabat yang berbicara dengan surat kabar itu mengatakan Mughniyeh terlibat langsung dalam mempersenjatai dan melatih para anggota milisi Syiah di Irak yang jadi target pasukan AS, dan terjadi di satu negara di mana AS tidak berada dalam perang, pembunuhannya dapat dianggap sebagai satu tindakan bela diri.

"Mereka melakukan serangan bom bunuh diri dan serangan bom-bom rakitan," kata seorang mantan pejabat kepada surat kabar itu, mengacu pada operasi-operasi Hizbullah di Irak.

Mereka menambahkan bahwa memperoleh izin dari para pejabat paling senior pemerintah AS untuk melakukan serangan terhadap Mughniyeh adalah satu proses "yang keras dan melelahkan" dan harus dibuktikan bahwa itu benar-benar satu ancaman.

Surat kabar itu mengatakan dalam perang Irak, pemerintah presiden AS George W.Bush (saat itu) telah menyetujui satu daftar operasi-operasi yang bertujuan terhadap Hizbullah, dan menurut seorang pejabat, ini termasuk persetujuan untuk membunuh Mughniyeh dan siapapun yang berafiliasi dengan dia.

Menurut surat kabar itu, para pejabat intelijen AS telah membicarakan kemungkinan cara-cara untuk menargetkan komandan Hizbullah itu selama beberapa tahun, dan para agen senior Operasi Khusus Gabungan AS menyeleggarakan satu pertemuan rahasia dengan kepala badan intelijen militer Israel tahun 2002.

Kendatipun tidak jelas kapan badan-badan intelijen itu mengetahui Mughniyeh tinggal di Damaskus, seorang pejabat mengemukakan kepada surat kabar itu bahwa Israel mendekati CIA bagi satu operasi gabungan untuk membunuh dia di ibu kota Suriah itu.

Badan-badan intelijen itu mengumpulkan informasi "pola didup" dia dan mengunakan teknologi pengenalan muka untuk memastikan identitasnya setelah berjalan ke luar dari satu restoran pada malam hari ia dibunuh.(Uu.H-RN)

  ♞ Antara  

[World] Kisah F – 15 Eagle Menembak Jatuh Mig – 23 Flogger Irak

http://jejaktapak.files.wordpress.com/2014/05/f-15-vs-mig-23.jpgF-15

Dikembangkan pada akhir tahun 1960-an untuk menjadi yang terbaik pesawat tempur superioritas udara di dunia, F- 15 terbukti menjadi pembunuh yang nyata bagi MiG selama Operasi Badai Gurun.

Setelah sepuluh hari operasi digelar Irak mulai frustasi dan menerbangkan pesawat mereka ke Iran. Untuk mencegah eksodus tersebut Angkatan Udara AS melakukan BarCap permanent. Semacam benteng udara dengan patroli berkelanjutan. Selama 24 jam pesawat melakukan patroli secara bergantian mengawasi langit di dekat perbatasan Irak-Iran.

Tugas ini diberikan kepada F-15. Empat F-15 terbang bersama-sama selama enam jam sebelum diganti tim yang lain. Pada 28 Januari 1991 salah satu BarCap diterbangkan empat F – 15 milik ”Wolfhounds” dari TFS -32 (Tactical Fighter Squadron) yang ada di Soesterberg.

Kapten Don ”Muddy” Watrous mengemudikan Eagle dengan nomor 004. Ketika tengah melakukan pengisian bahan bakar di udara mereka dikabari bahwa ada empat pesawat Irak mengudara. Usai pengisian itu pun mereka melesat ke titik yang dimaksud.

Empat eagle mendekat pesawat musuh dengan formasi sejajar. Saat memasuki area tembak, Watrous mengunci pesawat musuh terdekat dan menembakkan AIM – 7. Lima detik kemudian rudal lain juga ditembakkan. Namun keduanya meleset.
http://jejaktapak.files.wordpress.com/2014/05/mikoyan_mig_23_flogger.jpgMiG-23 Flogger

Saat itu F – 15 berposisi di atas Mig-23. Karena jarak yang masih jauh, Muddy masih belum bisa mengunci mereka. Maka dia memutuskan membuang tiga tangki bahan bakar untuk mengurangi beban dan sesaat kemudian melesat dengan kecepatan supersonik untuk mengejar MiG-23. Dia sempat merasakan hal aneh ketika melepaskan tangki bahan bakar. Karena terdapat seleret cahaya yang mengikuti proses pelepasan itu. Namun dia tidak sempat berpikir panjang dan terus mengejar musuh hingga akhirnya kembali bisa mengunci salah satu pesawat. AIM – 7 kembali dilepas dan akhirnya menghantam salah satu MiG-23 tersebut di bagian sayap kanan dan jatuh terbalik. Pilot tak sempat melakukan ejeksi kursi.

”Muddy” masih memiliki rudal AIM – 9 Sidewinder. Tetapi pesawat yang lain sudah diluar jangkauan rudal udara tersebut. Sementara mereka semakin mendekati perbatasan dengan Iran. Dan di titik lain, bahan bakar sudah menipis. Pada saat itulah salah satu F-15 yang lain melihat ada keanehan di sayap kiri pesawat Muddy. Rupanya ketika dia melepas tiga tangki bahan bakar menghasilkan hentakan yang memecah dua kaki dari ujung sayap kirinya.

Dia kembali lagi ke tanker untuk mengisi bahan bakar sebelum kemudian mendarat dengan selamat.

Tetapi ternyata Watrous harus menunggu beberapa hari sebelum kisahnya itu bisa dikonfirmasi sebagai MiG – 23 Flogger. Keterlambatan ini disebabkan oleh fakta bahwa selama pertempuran, ”Muddy” sendirian dan terpisah dari formasi hingga tidak ada bukti. Tetapi akhirnya kejadian itu dikonfirmasi bahwa memang yang jatuh adalah MiG-23 Flogger.

Dan beberapa bulan kemudian dia mendapatkan paket berisi foto sayap kiri pesawatnya yang patah yang diambil rekannya ketika mengisi bahan bakar. Hal itu sebagai pengingat kerja keras yang dia lakukan.[The Aviationist]
http://jejaktapak.files.wordpress.com/2014/05/normal_mig23_mike.jpg
Bangkai MiG-23 yang jatuh selama Operasi Badai Gurun

  ✈ Jejaktapak  

[World] Kuba Inginkan Guantanamo Kembali

Raul Castro Minta AS Kembalikan Guantanamo ke Kuba penjara guantanamo★

Hal itu disinyalir sebagai syarat untuk pulihkan hubungan diplomatik.

Presiden Kuba, Raul Castro menuntut Pemerintah Amerika Serikat untuk mengembalikan Teluk Guantanamo kepada negaranya. Sebab, sejak awal teritori tersebut hanya disewakan ke Pemerintah Negeri Paman Sam berdasarkan kesepakatan yang diteken oleh pemimpin Kuba terdahulu.

Harian Inggris The Guardian, edisi Kamis, 29 Januari 2015 melansir, tuntutan itu disampaikan ketika Raul menghadiri pertemuan tingkat tinggi Komunitas Amerika Latin dan negara-negara Karibia pada Rabu kemarin. Dia menyebut, jika permasalahan tersebut tidak dipecahkan, maka penyesuaian diplomatik yang tengah diupayakan AS tidak akan berhasil.

Selain itu, Raul bahkan menyampaikan daftar tuntutan lain yang menjadi penentu membaiknya hubungan diplomatik kedua negara. Tuntutan Kuba, ujar Raul, justru bisa saja sulit dipenuhi dalam waktu dekat oleh AS.

Tuntutan yang diminta Kuba, yakni pencabutan embargo perdagangan yang telah berlangsung selama 50 tahun dan memberikan kompensasi kepada warganya yang dirugikan oleh kebijakan yang diberlakukan oleh AS selama ini terhadap negara komunis tersebut.

"Pemulihan kembali hubungan diplomatik merupakan awal sebuah proses normalisasi hubungan bilateral. Namun, hal ini tidak akan mungkin terjadi, jika blokade masih tetap berlangsung, bahkan di saat bersamaan, mereka tidak mengembalikan area yang secara ilegal ditempati sebagai pangkalan militer," kata Raul.

Pada 17 Desember lalu, kedua pemimpin sepakat untuk mencairkan kebekuan dalam hubungan bilateral. Bahkan, keduanya setuju untuk memulihkan hubungan diplomatik.

Pada pekan lalu, sebuah delegasi dari Kongres AS tiba di Havana untuk memulai proses negosiasi yang bertujuan untuk membuka kembali Kedutaan Besar di Ibu Kota kedua negara.

Presiden Barack Obama sebelumnya juga telah menyerukan kepada Kongres supaya mengakhiri embargo perdagangan yang telah diberlakukan sejak tahun 1962 silam.

Pemulihan hubungan bilateral ini memperoleh persetujuan dari mantan Presiden Kuba, Fidel Castro. Dia mengirimkan sebuah surat ke media milik pemerintah dan diterbitkan pada Selasa kemarin.

"Kami akan selalu mendukung kerjasama dan persahabatan dengan semua orang di seluruh dunia, termasuk dengan lawan politik kami," tulis Fidel dan dikutip BBC.

Walaupun dirinya tidak mempercayai kebijakan AS sepenuhnya, namun bukan berarti Fidel menolak solusi damai untuk menyelesaikan konflik.

Namun, hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Departemen Luar Negeri AS.
AS Tak Ingin Serahkan Guantanamo ke Kuba Normalisasi hubungan Amerika Serikat (AS) dan Kuba bakal terhambat. Setelah Presiden Kuba Raul Castro meminta AS untuk mengembalikan Guantanamo. Namun, Gedung Putih menyatakan tidak mungkin memenuhi permintaan itu.

"Presiden tidak yakin bahwa penjara di Teluk Guantanamo harus ditutup," kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest seperti dikutip AFP, Jumat (30/1/2015).

"Tetapi sesuatu yang kami tidak ingin tutup adalah pangkalan angkatan laut," lanjut Earnest.

Teluk Guantanamo yang terletak di ujung tenggara Kuba itu, kini menjadi lokasi salah satu pangkalan Angkatan Laut yang luas serta sebuah penjara yang sangat kontroversial yang digunakan untuk menampung para tersangka teror tanpa pernah mereka dihadapkan di persidangan.

Sebelumnya, Presiden Kuba Raul Castro, pada Rabu (28/1), mengatakan penyerahaan kembali kekuasaan atas Guantanamo yang memiliki luas 116 km persegi itu adalah satu prasyarat bagi pemulihan hubungan dengan Amerika Serikat.

Castro dan Presiden AS Barack Obama telah sepakat pada 17 Desember tahun lalu mengumumkan niat mereka untuk mengakhiri permusuhan yang sudah berlangsung hampir setengah abad dan memulihkan hubungan yang terputus sejak 1961.

Sementara, AS menguasai Guantanamo setelah satu perjanjian dengan Kuba pada 1903. Bahkan Obama secara berulang-ulang menyatakan bahwa menahan para tahanan di Guantanamo adalah tempat bagi kelompok-kelompok teroris, namun gagal dalam menutup fasilitas di kawasan itu.(adiantoro)

  ☠ Vivanews | Harianterbit  

[World] Modernisasi Sistem Rudal Tor M1

Tor dirancang untuk mendeteksi dan merupakan senjata presisi tinggi yang modern, termasuk rudal jelajah. Tor-M1s dikerahkan untuk melindungi fasilitas negara dan militer Iran dari serangan udara. http://cdn3.img.sputniknews.com/images/101750/67/1017506754.jpg© AP Photo★

Sumber Militer Rusia mengatakan kepada RIA Novosti, Iran mengadakan pembicaraan untuk modernisasi sistem rudal jarak pendek Tor-M1 (SA-15 Gauntlet), sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara (SAM).

"Iran telah mengoperasikan sejumlah besar rudal Tor-M1s. Kami [Iran dan Rusia] mengadakan pembicaraan tentang kemungkinan modernisasi Tor-M1. Kami menyediakan [Iran] dengan suku cadang dan melatih personil. Pekerjaan akan berlanjut," kata Vyacheslav Kartashov.

"Peralatan ini dalam kondisi yang sangat layak tempur. Mungkin, ini adalah salah satu faktor yang menahan potensi diserang," katanya.

Tor dirancang untuk mendeteksi dan merupakan senjata presisi tinggi yang modern, termasuk rudal jelajah. Tor-M1s dikerahkan untuk melindungi fasilitas negara dan militer Iran dari serangan udara.

Rusia telah mengirimkan 29 rudal Tor-M1 ke Iran pada Januari 2007. Pada bulan September 2010, Moskow menghentikan pengiriman karena bergabung dengan sanksi PBB terhadap negara itu, yang melarang hampir semua perdagangan senjata, dalam menanggapi aktivitas nuklir Iran yang kontroversial.[Sputnik]

  ★ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...