Minggu, 20 September 2015

Sekilas Helikopter Anti Kapal Selam TNI AL

TNI AL akan akuisisi 11 unit Helikopter Panther buatan Prancis yang akan memperkuat TNI AL. ★

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memang berjanji akan memperkuat matra laut (TNI-AL) dan udara (TNI-AU). Hal itu akan dibuktikan dengan mendatangkan sebelas helikopter antikapal selam (AKS) jenis Panther. Helikopter buatan Prancis itu akan lengkap menambah kekuatan TNI-AL pada 2017.

”Pada 2016 sudah mulai tiba, hingga lengkap sebelas di tahun 2017,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AL (Kadispenal) Laksma Muhammad Zainudin saat dihubungi kemarin (19/9).

Menurut Zainudin, pembelian helikopter Panther merupakan salah satu rangkaian membangkitkan kembali Skuadron 100, pasukan helikopter AKS TNI-AL yang disegani di era 1960-an. Helikopter canggih akan melengkapi kedatangan armada tiga kapal selam kelas Chang Bogo.

Saat ini tiga kapal selam itu tengah diproduksi di Korea Selatan dan dijadwalkan selesai pada 2017. TNI-AL juga berencana memesan kapal selam kelas kilo buatan Rusia dalam waktu dekat.

Itu semua tertuang dalam revisi Rencana Strategis MEF (Minimum Essential Force) 2015–2019. Saat ini baru dua kapal selam yang dimiliki matra penjaga kedaulatan laut Indonesia tersebut.

Zainudin mengatakan, saat ini TNI-AL sudah memiliki beberapa helikopter. Antara lain helikopter Bell 412, helikopter BO-105, dan helikopter latih Colibri. Sayang, dia tidak bisa menjelaskan detail berapa jumlah untuk masing-masing tipe atau jenis.
Skadron 100 Penerbal ★

Ditambah helikopter Panther, kekuatan TNI-AL pun otomatis akan makin solid.

Helikopter Panther dilengkapi teknologi sonar DS-100 Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS). Alat tersebut mampu mendeteksi benda yang ada di kedalaman 500 meter dari permukaan laut.

Bukan hanya itu, dengan resolusi proses Doppler dan denyut yang panjang, alat tersebut juga bisa mendeteksi kapal selam meski melaju dengan kecepatan sangat rendah.

Bersama L-3, DS-100 bisa dipakai untuk mendeteksi, menetapkan target, dan meluncurkan senjata kepada target kapal selam di kedalaman atau perairan dangkal. (far/ttg)

 Video Eurocopter AS565 Panther : 


  ★ jpnn  

[World] Jepang Kini Boleh Kirim Militer ke Daerah Konflik

Tentara Jepang bisa dikerahkan bila Jepang atau negara sahabatnya diserang. Serdadu Jepang juga boleh menyerang musuh untuk melindungi keselamatan rakyat Jepang.Ilustrasi Pasukan Jepang ☠

Sebuah UU Pertahanan baru yang disahkan parlemen Sabtu (18/9/2015), membuat Jepang boleh mengirim tentara militernya ke kawasan konflik.

Reuters mengabarkan, PM Jepang Shinzo Abe menyatakan perubahan besar terjadi pada kebijaksanaan militer Jepang sejak dibentuk 1954. Menurut Abe, UU baru itu untuk memenuhi tantangan masa kini, seperti meningkatnya peranan Tiongkok dewasa ini. ''UU baru itu dirasa penting untuk melindungi kehidupan dan perdamaian manusia, dan mencegah peperangan,'' kata Shinzo Abe.

Pemerintah AS menyambut gembira peranan militer Jepang itu. Namun Tiongkok mengingatkan kembali pengalaman pahit saat dijajah Jepang. ''Kami perhatikan banyak suara-suara di Jepang yang menentang UU itu semakin nyaring,'' kata Hong Lei, jurubicara kementerian luar negeri Tiongkok. ''Kami menuntut agar Jepang mendengar secara jujur suara itu dan mengambil langkah-langkah penting demi keamanan dan stabilitas regional,'' lanjut Hong Lei.

Sementara itu ribuan demonstran unjuk rasa setiap hari di dekat parlemen. Selain meneriakkan agar ''UU itu dimusnahkan'', mereka juga menuntut Shinzo Abe turun jabatan. Mereka tak lupa mengingatkan Nobusuke Kishi, kakek Abe yang mundur 55 tahun lalu, karena dipaksa meneken perjanjian keamanan dengan AS.

Beberapa langkah militer Jepang yang termaktub dalam UU baru itu antara lain: Tentara Jepang bisa dikerahkan bila Jepang atau negara sahabatnya diserang. Serdadu Jepang juga boleh menyerang musuh untuk melindungi keselamatan rakyat Jepang.

Jepang juga bisa mengirim dukungan logistik ke Korsel bila diserang Korut. Jepang juga berhak menembak jatuh rudal yang ditembakkan Korut. Pasukan Jepang juga bisa terlibat dalam pembebasan sandera. Pada Januari 2013 lalu, 10 warga Jepang yang disandera terbunuh di pengeboran gas Amenas di Algeria. Sedangkan di kawasan regional, Jepang boleh mengirim tentaranya dalam jumlah terbatas membantu AS dan negara lain.


  ☠ inilah  

[World] Ada Apa dengan Pesawat F35 ?

Jenderal USAF berharap Raptor yang di produksi F22 Raptor [USAF] ☠

F-35 memiliki sejumlah masalah. Pesawat ini disebut tidak memiliki kekuatan dalam superioritas udara. Pengembangan mahal, pengunduran jadwal, software dan masih banyak lagi. Pertanyaannya kenapa Amerika ngotot untuk tetap memproduksi F-35? Kenapa tidak melanjutkan produksi F-22 Raptor saja yang sudah jelas merupakan pesawat terbaik dan belum ada tandingannya?

Seperti diketahui Raptor dihentikan produksinya pada 187 armada saja dari rencana semula 381 jet.

Berbicara kepada wartawan di konvensi Asosiasi Angkatan Udara di National Harbor, Md., di luar Washington, komandan Air Combat Command, Jenderal Eagle Carlisle mengatakan ia akan senang jika melihat Raptor kembali produksi. “Saya bermimpi tentang hal itu setiap malam,” kata Carlisle.

Memang, Raptor telah terbukti menjadi pesawat perang yang tangguh dengan kombinasi unik dari kemampuan siluman, kecepatan, manuver, ketinggian dan sensor. Ini adalah pesawat tempur superioritas udara terbaik yang pernah diproduksi Amerika Serikat dan dianggap sebuah kesalahan menghentikan produksi sebelum waktunya.

Tetapi meski Angkatan Udara Amerika begitu ingin Raptor kembali ke produksi, tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Kenapa? Karena Raptor sendiri juga tidak lepas dari masalah.

Masalah pertama adalah sulitnya perawatan dan perbaikan pesawat ini. Satu pensiunan resmi Angkatan Udara yang akrab dengan Raptor menceritakan bagaimana sulitnya memperbaiki Raptor yang rusak. Dalam satu kasus pengelola Angkatan Udara harus membangun komponen tertentu dari awal untuk mengganti bagian yang rusak parah untuk F-22. Kru pergi ke kotak Conex di mana perkakas dan instruksi untuk membangun bagian yang diduga disimpan, tapi mengejutkan dan menjengkelkan wadah itu kosong. Pola yang sama berulang beberapa kali -dan sebagai yang terakhir kalinya sumber diperiksa- isu tetap belum terpecahkan. Intinya adalah bahwa bahkan jika Angkatan Udara ingin memasukkan pesawat itu kembali ke produksi maka dibutuhkan tambahan investasi yang sangat besar dan waktu yang lama.

 Teknologi Usang 
F22 [USAF] ☠

Faktor kedua yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa avionik Raptor dibangun sebelum jet itu dinyatakan operasional pada bulan Desember 2005. Sementara Raptor adalah pesawat perang operasional paling maju di persediaan Angkatan Udara tetapi dengan arsitektur komputer awal 1990-an. Mereka menggunakan core pada 25MHz, sehingga butuh waktu lama mengembalikan jet ke tahap desain untuk produksi. Selain itu, software Raptor sangat tumpul dan sulit untuk di-upgrade. Hal ini yang menjadi penyebab mengapa mengintegrasikan AIM-9X dan rudal-120D AIM ke pesawat telah menjadi begitu bermasalah. Avionik jet harus dirombak jika ingin restart produksi, bukan hanya karena mereka usang, tetapi juga karena prosesor kuno jet dan komponen lainnya belum dibuat dalam beberapa dekade. Itu akan menjadi proposisi sangat mahal pada saat anggaran Angkatan Udara menyusut.

Faktor ketiga yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa badan pesawat didasarkan pada desain yang berasal dari tahun 1980-an. Raptor, pada tahun ini, telah dalam pelayanan selama satu dekade. Teknologi yang sudah tua -siluman, propulsi, avionik dan desain badan pesawat- telah ada jauh sejak F-22 dirancang. Angkatan Udara harus mau berinvestasi beberapa puluh miliar dolar ke dalam pesawat untuk memastikan bahwa teknologi tersebut masih relevan dengan ancaman dekade dari sekarang. Pada 2035, Raptor akan telah bekerja selama 30 tahun dan sebagian besar sistem akan benar-benar usang pada saat itu.

Jadi Angkatan Udara hampir tidak mungkin untuk restart lini produksi Raptor. Teknologi jet mungkin tidak relevan dengan lingkungan ancaman hingga 2030 apalagi dengan asumsi PAK FA dan J-20 memiliki teknologi yang lebih terkini atau setidaknya terbuka untuk menerima berbagai upgrade.

“Angkatan Udara sudah mulai meletakkan dasar untuk pesawat generasi berikutnya dengan kemampuan superioritas udara yang disebut FX. Kami belum tahu bagaimana hal itu akan terbentuk tapi itu pasti akan dirancang untuk melawan ancaman masa depan,” tulis Dave Majumdar editor pertahanan majalah The National Interest Kamis 17 September 2015.

 Akui Tidak Bisa 'Dogfight' 
F35 ☠

Angkatan Udara AS akhirnya mengakui jet tempur generasi kelima terbaru milik mereka F-35 Joint Strike Fighter tidak memiliki kemampuan manuver yang memadahi untuk bisa mengalahkan jet tempur tua dalam pertempuran udara. Tetapi Angkatan Udara tetap meyakini kemampuan siluman dan radar pesawat itu akan mampu memaksa pesawat lain untuk tidak melakukan pertarungan jarak dekat.

Dalam konferensi di Maryland pada 15 September 2015, Jenderal Herbert Carlisle, kepala Air Combat Command Angkatan Udara, mengakui F-35 memang tidak segesit pesawat pendahulunya.

“Memang bukan untuk itu pesawat ini dirancang,” kata Carlise sebagaimana dikutip The Daily Beast dari National Interest Jumat 18 September 2015. “Ini adalah pesawat multi peran dengan kemampuan yang sangat luas, avionik terpadu dan sensor suite.”

Kolonel Edward Sholtis, seorang juru bicara Air Combat Command, mengatakan F-35 akan mampu menutup kelemahan ini dengan kemampuan tersebut. “F-35 tidak dioptimalkan untuk manuver dogfighting, tapi ini untuk melawan dari jarak jauh.”

Lebih jelasnya pesawat ini akan mampu mendeteksi dan menembak jatuh pesawat musuh dari jarak jauh sehingga pertarungan jarak pendek tidak diperlukan. Selain itu Joint Strike Fighter akan bekerjasama dengan F-22, F/A-18, F-15, F-16, dan dogfighters AS lainnya. Setiap pesawat melakukan misi tertentu yang terbaik dan membantu menutup kelemahan pesawat lainnya.

Tetapi kekhawatiran lain ketika China dan Rusia sebagai dua negara yang dianggap sebagai musuh potensial secara maksimal mengembangkan dogfighters canggih yang jelas akan mengancam F-35.

Selain itu Joint Strike Fighter nantinya akan menggantikan sekitar 90 persen dari armada udara taktis Amerika. Itu berarti pesawat akan mengambil sebagian besar peran pesawat yang dipensiun. Dengan kata lain pesawat-pesawat yang akan melindungi dan menjaga Lighting II dalam pertarungan jarak pendek tidak akan ada lagi. [nationalinterest]


  ☠ jejaktapak  

[World] PAF to Get 2 New Lift Planes

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgorp9mB91_oT20EkzcF6CYvjUdJ838QV3C2mn93MsRL7TXQ8IZ6iZmTiTVPLLQtoqx0HUYvIFKgLuKdC1P4IR4TtqFjb2-o0DolNpz3d1UWn6LnSIDXY5kAKNRWLuzRbTmkMZkLJSBkkM/s400/NC-212i.jpgCN-212 for the PAF on progress (Kaskus Militer) ♣

T
he Philippine Air Force (PAF) is awaiting delivery of two brand new light lift planes that the Department of National Defense has purchased from an Indonesian aircraft manufacturer and defense contractor.

This is apart from the three new medium lift aircraft the government has already acquired.

Two CN-212s are now in the production line of PT Dirgantara Indonesia. They are expected to be delivered to the PAF either late this year or in the first quarter of next year.

The acquisition of the two new aircraft is in line with the DND’s P814-million Acquisition of Light Fixed Wing Aircraft Project. This is part of the ongoing modernization program of the Armed Forces of the Philippines (AFP).

Once delivered, the two aircraft would be working alongside the PAF’s Nomad and Islander planes in the conduct of airborne operations, medical evacuation, limited maritime patrol and search and rescue operations.

The planes can also be utilized by PAF to transport limited number of troops and cargo, making them ideal for deployment for air operations of the Western Command (Wescom) based in Palawan.

This is a task that is currently being performed by two ageing Nomad and Islander planes.

For now, the Nomad and Islander are alternately being used by the Air Force and the Philippine Navy to conduct airborne sovereignty and maritime patrol over the country’s regime of islands in the West Philippine Sea and the South China Sea.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioJkl583kFXvP6cFLWMusTz-WgQhxdweyfEA1tx3CfhtW_Pg4kbvVKLv43jwp7jCWrVkeMrw6zDXJtJinhmOvleWUUXPpPftwi8zbbCxvDRGXbh_vIxIge0p-vWyIMPJwSw-j0bHAQdwM/s400/NC-212i_2.jpgAside from maritime patrol, the two planes are also used in the conduct of emergency evacuation of troops and civilian residents from Kalayaan town in Pag-asa Island in the Spratlys.

On Tuesday, a second new medium lift aircraft, one of three C-295M military planes that the government has acquired for the Air Force worth P5.29 billion, touched down at Clark Air Field in Pampanga.

The plane is currently being subjected to inspection prior to its acceptance and commissioning into the service.

The first C295M, manufactured and supplied by Spain-based Airbus Defense and Space (ADS), had been delivered earlier and has joined the PAF’s flying assets.

Delivery of the three medium lift aircraft is expected to be completed with the arrival of the third C295M before yearend, ahead of its original schedule in the first quarter of next year.

The military, meanwhile, received equipment that would enhance its capabilities to address chemical, biological, radiological and nuclear (CBRN) threats.

The package, which included protective gear and detection equipment, was handed over by the United States Defense Threat Reduction Agency in a ceremony held in Camp Aguinaldo yesterday.

Armed Forces deputy chief Lt. Gen. Edgar Fallorina received the 501 pieces of CBRN response equipment in behalf of the military. The equipment arrived last Sept. 6.

The dismounted reconnaissance set kits and outfits package consisted of CBRN equipment that can be used for site assessment missions.

  ✈ Philstar  

[Foto] RIM-116 RAM

Sistem Pertahanan Udara Andalan Kapal Perang Jerman dan Amerika Serikat
Kapal LPD (Landing Platform Dock) Amerika Serikat, USS Green Bay meluncurkan rudal RIM-116 RAM (Rolling Airframe Missile). Rudal ini merupakan salah satu sistem pertahanan udara jarak pendek tercanggih saat ini, menjadi andalan Angkatan Laut Jerman dan Amerika Serikat. [seaforces.org]

RIM-116 RAM, Sistem Pertahanan Udara yang Canggih
Kapal induk Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt meluncurkan rudal RIM-116 RAM (Rolling Airframe Missile). Rudal ini dikembangkan oleh General Dynemics pada 1976, hasil merupakan perjanjian Denmark dengan Jerman Barat. Denmark kemudian keluar dari proyek ini dan digantikan oleh Amerika Serikat. [U.S. Navy photo/Released]
RIM-116 RAM, Sistem Pertahanan Udara yang Canggih
RIM-116 RAM didesain untuk menghancurkan rudal yang ditembakan musuh dan ancaman asimetris lainnya. Sistem pertahanan udara ini memiliki reaksi cepat dengan rudal yang memiliki daya penghancur tinggi, murah, serta berpola fire and forget. [seaforce.org]
RIM-116 RAM, Sistem Pertahanan Udara yang Canggih
Rudal RIM-116 RAM merupakan satu kesatuan dengan peluncurnya, Mk 49 Guided Missile Launching System. peluncur ini dapat memuat 21 rudal dan terintegrasi dengan Sistem Tempur Kapal. Mk-49 yang dipasang pada kapal Amerika Serikat terintegrasi dengan AN/SWY-2 dan Self Defence System Kapal. [seaforce.org]
RIM-116 RAM, Sistem Pertahanan Udara yang Canggih
Rudal RIM-116 RAM dimasukan ke peluncurnya Mk-49. Penyempurnaan rudal ini terus dilakukan, dimulai dari RIM-16 RAM blok 0, blok 1, dan sekarang blok 2. Rudal dengan jangkauan 9 km ini panjangnya 2,78 m, diameter 1,27 m, mampu melaju dengan kecepatan 2 mach lebih, dan membawa hulu ledak 11,3 kg. [seaforce.org]
RIM-116 RAM, Sistem Pertahanan Udara yang Canggih
Angkatan Laut Amerika Serikat dan Jerman memiliki 3.400 lebih rudal dan 180 peluncurnya untuk ditempatkan pada seratus lebih kapal perang, mulai kapal patroli hingga kapal induk. Kapal frigate terbaru Jerman, F125, mengandalkan RIM-116, sedangkan Amrika Serikat menempatkannya pada kapal-kapal terbaru (LHA6, CVN 78 and LCS). [seaforce.org]
  ★ Tempo  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...