Minggu, 08 Januari 2017

Uji Fungsi Flare Cartridge Pada Pesawat F-16

Pengujian flare pada pesawat F-16C/D [TNI AU] ★

D
isaksikan langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Andyawan M.P.,S.I.P.,M.Tr (Han), bersama Kasubdis Alpernika Diskomlekau Kolonel Lek Suyitno, Dandepohar 60 Kolonel Tek Dadan Supardan, Dandepohar 20 Kolonel Lek Teguh Dharmawan dalam pelaksanaan uji fungsi Flare Cartridge pada pesawat F-16 di main apron Lanud Iswahjudi, Kamis (5/1).

Pada pelaksanaan uji fungsi Flare CM 218 MK3 yang berlangsung aman tersebut diperagakan langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb M. Anjar Legowo menggunakan pesawat F-16 dengan nomor 1631.

Flare CM 218 MK3 type 1 ini digunakan sebagai bagian dari counter meassure defence system pada pesawat untuk menangkal rudal pencari panas pada pertempuran udara. Flare CM 218 MK3 type 1 telah memenuhi syarat dan ketentuan dari UK MOD (United Kingdom Ministry of Defence).

  ♞ TNI AU  

✮ CN235 Senegal Akhirnya Tiba di Dakar

CN235-220M pesanan Senegal [PT DI] ✮

S
etelah menempuh penerbangan selama 10 hari, ferry flight CN235-220M pesanan AU Senegal akhirnya tiba di ibukota Dakar. Pesawat mesin ganda buatan PT Dirgantara Indonesia yang lepas-landas dari Bandung, Selasa pagi, 27 Desember 2016 ini mendarat di Bandara Internasional Dakar, Jum’at sore, 6 Januari 2017 sekitar pukul 17.00 waktu setempat atau pukul 24.00 WIB.

Penerbangan lintas benua ini dilaporkan tak mengalami hambatan berarti, kecuali sedikit kendala perizinan saat melintas di atas India. Dari Bandung pesawat melakukan transit di Srilangka, Maladewa, Pakistan, Arab Saudi, Sudan, Chad, dan Burkina Faso. Di Dakar, tim ferry-flight yang dipimpin Capt. Esther Gayatri Saleh disambut hangat Kastaf AU Senegal Gen. Birame Diop, Dubes RI untuk Senegal Mansyur Pengeran dan sejumlah pejabat setempat.

Ini adalah CN235 kedua AU Senegal setelah pesawat pertama diantar pada 2007. Pesawat yang dirancang multiguna ini dipesan lewat perantara A.D. Trade – Belgia di ajang Indo Defence 2014.

Konfigurasi pesawat angkut pasukan seharga 22 juta dollar ini sewaktu-waktu bisa diubah jadi VIP, penumpang dan evakuasi medik. Pihak Senegal sendiri telah menyatakan minatnya untuk kembali memesan dua unit CN235 dari versi patroli maritim.

  ♞ Angkasa  

TNI Persiapkan Lahan Latihan Perang

Di BengkuluMBT Leopard 2RI @ Natuna [TNI AD] ★

K
odam II Sriwijaya menyiapkan lokasi seluas 150 hektare di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu untuk dijadikan kawasan pusat pelatihan perang darat Tentara Nasional Indonesia. Lahan ini merupakan hibah dari pemerintah Kabupaten Seluma yang diserahkan secara resmi pada Jumat, 6 Januari 2017.

Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Sudirman mengatakan kawasan yang disiapkan itu sangat representatif dengan medan latihan tempur di pedalaman Bengkulu.

Selain pasukan infanteri, kaveleri, dan Zeni tempur, lahan dengan medan berat ini juga sangat cocok untuk penggemblengan prajurit TNI yang dipersiapkan untuk berbagai misi.

"Yang jelas lahannya sudah ada, tinggal kita koordinasikan antarsatuan, bagaimana memanfaatkan, dan memaksimalkan aset yang ada ini," jelas Pangdam di Bengkulu.

Korem 041 Garuda Emas Bengkulu memiliki wilayah teritorial yang luas. Selain wilayah daratan, Bengkulu juga memiliki satu pulau terluar Indonesia bagian barat yaitu Pulau Enggano di Samudra Hindia. Kawasan ini merupakan perlintasan perairan internasional, banyak kapal berbendera asing yang berlayar.

Komandan Korem 041 Gamas Kolonel Inf Andi Muhammad mengatakan kemampuan para prajurit untuk menjaga kawasan dan teritorial memang harus terus ditingkatkan, terutama kemampuan tempur prajurit TNI.

"Kita sebagai prajurit harus siap dalam kondisi apapun. Kondisi stabilitas keamanan harus terpantau, jika ada bibit gangguan stabilitas, kita harus segera lakukan antisipasi," tegas Andi.

Selain di Seluma, TNI juga sedang membangun satu kawasan untuk penempatan satu Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) di Kabupaten Bengkulu Tengah. Sebanyak 350 orang prajurit Zeni Tempur akan ditempatkan jika pembangunan sarana untuk markas dan sarana penunjang detasemen sudah siap.

"Untuk Denzipur target kami 2019 sudah siap," tandas Andi.

  ♞ Liputan6  

Govt Explores Potential of Exporting Sukhoi Bombs

✈️ From East Java✈️ Prime product -- Coordinating Economic Minister Darmin Nasution inspects locally made bombs during a visit to weapons manufacturer PT Sari Bahari‘s factory in Malang, East Java, on Jan. 5. (JP/Wahyoe Boediwardhana)

The Indonesian government wants to export more locally manufactured weapons in an effort to boost the defense industry in the country.

In its latest measure, the government has explored the possibility of exporting bombs produced by a manufacturer in Malang, East Java, for Sukhoi jet fighters.

“If their products cannot be fully used domestically, they should export them. The problem is, exporting weapons is not purely a commercial matter. There are non-trade issues we must also settle,” said Coordinating Economic Minister Darmin Nasution during a visit to weapons manufacturer PT Sari Bahari‘s factory in Malang on Thursday.

Communications and Information Minister Rudiantara, Public Works and People’s Housing Minister Basoeki Hadimoeljono and East Java Governor Soekarwo were also present. During the visit, Darmin explored Sari Bahari’s business situation, including its production capacity.

With another weapons manufacturer, PT Dahana, PT Sari Bahari is now producing various primary defense systems (alutsista). They include the P-100 and P-250 bombs, which are for practice and to carry live warheads, the P-500 live bomb, 70 and 80 mm warheads for both smoke bombs and real explosives, the Petir missile target drone and the Rocketpod 7 tube launcher.

✈️ Local products -- A worker inspects bombs produced by weapons manufacturer PT Sari Bahari in Malang, East Java, on Jan. 5. (JP/Wahyoe Boediwardhana)

Sari Bahari president director Ricky Hendrik Egam said several parties were interested in buying the bombs produced by the company.

“They have conveyed their interest in buying bombs [for Sukhoi jet fighters],” said Ricky. He said Sari Bahari once exported hundreds of 70 mm smoke warheads to the Chilean Air Force.

Currently, Sari Bahari is focusing on producing up to 100 bombs per day to fulfil the needs of the Indonesian Air Force’s military exercises. Every year, Indonesian pilots conduct bombing exercises using thousands of P-100 bombs produced by Sari Bahari.

The bombs produced by the Malang company for the Sukhoi jet are sold at competitive prices and consist of 90 percent local components. (ebf)

  ✈️ The Jakarta Post  

Indonesia, Pakistan should cooperate in fighting terrorism

Mahmud Ali Durrani. (Reuters)

Indonesia and Pakistan, as two of the worlds most populous Muslim-majority countries, should join forces in countering global and regional terrorism threats, former Pakistani Ambassador to the US Major-General (Retired) Mahmud Ali Durrani.

Durrani, who is also Pakistans former National Security Adviser, believed that many members of extremist groups are inclined to carry out ill-advised acts, including suicide bombings, because they have been led to believe that they are fighting on behalf of Islam, and that they have been guaranteed a one way ticket to heaven, he stated in a panel titled Geostrategic Update: South Asia at Le Meridien Hotel Jakarta, Friday (Jan. 6)

With regard to this notion, Durrani thinks that Indonesia and Pakistan should work together in educating the public about the misconception, so that threats of terrorism can be eliminated, as it has increasingly become major concerns for both countries and the global community.

"Indonesia and Pakistan can cooperate in developing this idea, so that there are no militants growing in Indonesia and at the same time, Pakistan can get rid of the militants that are already growing in it," he said.

The dialogue themed Geostrategic Update: South Asia was held by the Embassy of Pakistan in Jakarta in cooperation with the Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

The event featured Major-General Durrani as its key speaker, during which he explained the strategic geographical importance of Pakistan in South Asia, as well as his views about prospects of the resolution of long ongoing conflicts.

Indonesian diplomat and founder of the Foreign Policy Community Dino Patti Djalal acted as the moderator for the discussion where a number of people from the diplomatic community, government officials and academics had the chance to ask questions related to the region.

  ⚓️ Antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...