Rabu, 11 April 2018
☆ Marsekal Muda Agustinus Adisutjipto
Penerbang Langka Pemrakarsa Sekolah Penerbangan
Marsekal Muda Agustinus Adisutjipto ★
Komodor muda udara Marsekal TNI Agustinus Adisutjipto merupakan satu dari sedikit barisan pemuda yang memiliki kemampuan menerbangkan pesawat di masanya.
Ia merupakan penerbang Vaandrig Kortuerban Vlieger yang meraih groot military brevet (GMB) kelas 1 dan brevet navigator pada masa penjajahan Belanda.
Sebelum perang pasifik, Adisutjipto ditugaskan di salah satu skadron dengan kekuatan armada pesawat bomber Glenn Martin (B-10). Selanjutnya ia dialihtugaskan ke skadron pengintai Curtiss Falcon.
"Semangat dan keberaniannya itu mengalahkan segalanya, termasuk risiko yang kemungkinan dihadapinya. Tekadnya hanya satu, menerbangkan pesawat-pesawat itu," demikian kutipan buku "Persitiwa Heroik 29 Juli 1947" terbitan Subdinas Sejarah Dinas Penerangan Angkatan Udara.
Adisutjipto kemudian diajak kawan lamanya, Mayor Tentara Keamanan Rakyat Tarsono Rudjito untuk membentuk TKR Jawatan Penerbangan. Tanpa ragu ia pun bergabung. Ia merasa jiwanya terpanggil untuk bisa berbuat lebih banyak dalam melawan imperialis Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Adisutjipto menyadari bahwa kemampuan yang ia miliki masih langka. Tenaganya sangat dibutuhkan untuk mempertahankan NKRI. Semangatnya terpompa untuk menghidupkan Angkatan Udara begitu sampai di Landasan Udara Maguwo, Yogyakarta.
Apalagi ia melihat rakyat Indonesia memiliki kualifikasi sebagai teknisi pesawat pada jaman Belanda dan Jepang. Hal tersebut bisa jadi modal untuk merebut dan menguasai lapangan terbang beserta pesawat-pesawat itu dari tangan penjajah.
"Ia menyadari beban ini dirasa berat, apalagi ia belum pernah menerbangkan pesawat buatan Jepang. Untungnya dia pernah belajar terbang dengan pesawat bersayap dua saat menjadi siswa penerbang jaman Belanda," dikutip dari buku tersebut.
Dirikan sekolah penerbangan
Awal baktinya bagi Angkatan Udara dimulai ketika dia menerbangkan pesawat Cureng buatan Jepang yang memakai tanda merah putih pada 27 Oktober 1945. Pesawat itu melintas di langit kota Yogyakarta.
Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penerbangan nasional karena pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, sebuah pesawat terbang beridentitas merah putih terbang di angkasa. Penerbangnya pun orang Indonesia.
Keberhasilan ini memompa semangatnya untuk menerbangkan pesawat lainnya. Namun, ia menyadari bahwa tenaga penerbang sangat kurang.
Adisutjipto berambisi negaranya bisa melahirkan penerbang-penerbang andal pasca Indonesia merdeka. Atas dasar itulah ia memprakarsai sekolah penerbangan pertama di Indonesia yang bermarkas di pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta.
Bandara ini yang kelak berubah nama menjadi Adisutjipto pada 17 Agustus 1947.
Siswanya terdiri dari beberapa orang yang sudah belajar menerbangkan pesawat, seperti Abdulrachman Saleh dan beberapa yang belum belajar sama sekali. Jumlah siswanya sekitar 30 orang. Tak hanya sebagai kepala sekolah, Adisutjipto juga berperan sebagai instruktur.
Bersama siswa lainnya, ia memperluas jaringan penerbangan ke pangkalan-pangkalan udara yang belum dibuka di Jawa maupun Sumatera bagian selatan.
Dalam waktu singkat, ia menghasilkan tenaga penerbang yang cukup andal. Pada akhirnya sekolah ini ditutup pada 21 Juli 1947 karena situasi dan hubungan dengan Belanda semakin memburuk.
Menerobos blokade Belanda
Adisutjipto dikenal bernyali besar menghadapi penjajah. Sewaktu kota Semarang diduduki tentara Inggris, penduduk dan pimpinan daerah mengungsi ke luar kota.
Adisutjipto langsung menemui pimpinan militer Inggris di Semarang untuk merundingkan masalah tersebut. Hasilnya, ia berhasil mengembalikan Gubernur Wongsonegoro ke Semarang dikawal para pemuda
Selama Jepang menjajah, Adisutjipto bekerja di Jodsja Jimukyoku, perusahaan angkutan bus pemerintah Jepang. Pasca Indonesia merdeka, ia berhasil merebut pimpinan Jodsja Jimukyoku dan mengganti bendera Jepang yang berkibar di depan kantor tersebut dan menggantinya dengan bendera merah putih.
Pada April 1946, Adisutjipto dijadikan Wakil Kepala Staf II Tentara Republik Indonesia. Ia masih menjalankan tugas penerbangan baik yang bersifat test-flight maupun tugas kemiliteran dan kenegaraan. Adisutjipto beberapa kali mendapat tugas menerobos blokade Belanda di Indonesia untuk mencari bantuan dan dukungan luar negeri. Ia menumpang pesawat luar negeri yang datang ke Indonesia untuk bisa ke luar.
Saat itu, bangsa Indonesia mendapat simpati dari negara-negara tetangga. Bahkan, mereka bersedia memberi bantuan berupa tenaga instruktur, obat-obatan, persenjataan, termasuk pesawat.
Perjalanannya ke Pakistan dan India pada Juli 1947 menjadi misi terakhirnya. Ia bertemu Ali Jinnah di Pakistan dan Sri Nehru di India. Ia pulang ke Indonesia membawa serta bantuann obat-obatan.
Saat itu, ia menggunakan pesawat VT-CLA Dakota bersama Abdulrachman Saleh dan beberapa penumpang lainnya. Belum masuk ke wilayah Indonesia, pesawat itu diberondong tembakan pesawat Kitty Hawk milik Belanda. Pesawat Adisutjipto pun jatuh dan awak pesawat gugur.
Marsekal Muda Agustinus Adisutjipto ★Komodor muda udara Marsekal TNI Agustinus Adisutjipto merupakan satu dari sedikit barisan pemuda yang memiliki kemampuan menerbangkan pesawat di masanya.
Ia merupakan penerbang Vaandrig Kortuerban Vlieger yang meraih groot military brevet (GMB) kelas 1 dan brevet navigator pada masa penjajahan Belanda.
Sebelum perang pasifik, Adisutjipto ditugaskan di salah satu skadron dengan kekuatan armada pesawat bomber Glenn Martin (B-10). Selanjutnya ia dialihtugaskan ke skadron pengintai Curtiss Falcon.
"Semangat dan keberaniannya itu mengalahkan segalanya, termasuk risiko yang kemungkinan dihadapinya. Tekadnya hanya satu, menerbangkan pesawat-pesawat itu," demikian kutipan buku "Persitiwa Heroik 29 Juli 1947" terbitan Subdinas Sejarah Dinas Penerangan Angkatan Udara.
Adisutjipto kemudian diajak kawan lamanya, Mayor Tentara Keamanan Rakyat Tarsono Rudjito untuk membentuk TKR Jawatan Penerbangan. Tanpa ragu ia pun bergabung. Ia merasa jiwanya terpanggil untuk bisa berbuat lebih banyak dalam melawan imperialis Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Adisutjipto menyadari bahwa kemampuan yang ia miliki masih langka. Tenaganya sangat dibutuhkan untuk mempertahankan NKRI. Semangatnya terpompa untuk menghidupkan Angkatan Udara begitu sampai di Landasan Udara Maguwo, Yogyakarta.
Apalagi ia melihat rakyat Indonesia memiliki kualifikasi sebagai teknisi pesawat pada jaman Belanda dan Jepang. Hal tersebut bisa jadi modal untuk merebut dan menguasai lapangan terbang beserta pesawat-pesawat itu dari tangan penjajah.
"Ia menyadari beban ini dirasa berat, apalagi ia belum pernah menerbangkan pesawat buatan Jepang. Untungnya dia pernah belajar terbang dengan pesawat bersayap dua saat menjadi siswa penerbang jaman Belanda," dikutip dari buku tersebut.
Dirikan sekolah penerbangan
Awal baktinya bagi Angkatan Udara dimulai ketika dia menerbangkan pesawat Cureng buatan Jepang yang memakai tanda merah putih pada 27 Oktober 1945. Pesawat itu melintas di langit kota Yogyakarta.
Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penerbangan nasional karena pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, sebuah pesawat terbang beridentitas merah putih terbang di angkasa. Penerbangnya pun orang Indonesia.
Keberhasilan ini memompa semangatnya untuk menerbangkan pesawat lainnya. Namun, ia menyadari bahwa tenaga penerbang sangat kurang.
Adisutjipto berambisi negaranya bisa melahirkan penerbang-penerbang andal pasca Indonesia merdeka. Atas dasar itulah ia memprakarsai sekolah penerbangan pertama di Indonesia yang bermarkas di pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta.
Bandara ini yang kelak berubah nama menjadi Adisutjipto pada 17 Agustus 1947.
Siswanya terdiri dari beberapa orang yang sudah belajar menerbangkan pesawat, seperti Abdulrachman Saleh dan beberapa yang belum belajar sama sekali. Jumlah siswanya sekitar 30 orang. Tak hanya sebagai kepala sekolah, Adisutjipto juga berperan sebagai instruktur.
Bersama siswa lainnya, ia memperluas jaringan penerbangan ke pangkalan-pangkalan udara yang belum dibuka di Jawa maupun Sumatera bagian selatan.
Dalam waktu singkat, ia menghasilkan tenaga penerbang yang cukup andal. Pada akhirnya sekolah ini ditutup pada 21 Juli 1947 karena situasi dan hubungan dengan Belanda semakin memburuk.
Menerobos blokade Belanda
Adisutjipto dikenal bernyali besar menghadapi penjajah. Sewaktu kota Semarang diduduki tentara Inggris, penduduk dan pimpinan daerah mengungsi ke luar kota.
Adisutjipto langsung menemui pimpinan militer Inggris di Semarang untuk merundingkan masalah tersebut. Hasilnya, ia berhasil mengembalikan Gubernur Wongsonegoro ke Semarang dikawal para pemuda
Selama Jepang menjajah, Adisutjipto bekerja di Jodsja Jimukyoku, perusahaan angkutan bus pemerintah Jepang. Pasca Indonesia merdeka, ia berhasil merebut pimpinan Jodsja Jimukyoku dan mengganti bendera Jepang yang berkibar di depan kantor tersebut dan menggantinya dengan bendera merah putih.
Pada April 1946, Adisutjipto dijadikan Wakil Kepala Staf II Tentara Republik Indonesia. Ia masih menjalankan tugas penerbangan baik yang bersifat test-flight maupun tugas kemiliteran dan kenegaraan. Adisutjipto beberapa kali mendapat tugas menerobos blokade Belanda di Indonesia untuk mencari bantuan dan dukungan luar negeri. Ia menumpang pesawat luar negeri yang datang ke Indonesia untuk bisa ke luar.
Saat itu, bangsa Indonesia mendapat simpati dari negara-negara tetangga. Bahkan, mereka bersedia memberi bantuan berupa tenaga instruktur, obat-obatan, persenjataan, termasuk pesawat.
Perjalanannya ke Pakistan dan India pada Juli 1947 menjadi misi terakhirnya. Ia bertemu Ali Jinnah di Pakistan dan Sri Nehru di India. Ia pulang ke Indonesia membawa serta bantuann obat-obatan.
Saat itu, ia menggunakan pesawat VT-CLA Dakota bersama Abdulrachman Saleh dan beberapa penumpang lainnya. Belum masuk ke wilayah Indonesia, pesawat itu diberondong tembakan pesawat Kitty Hawk milik Belanda. Pesawat Adisutjipto pun jatuh dan awak pesawat gugur.
♞ Kompas
Selasa, 10 April 2018
Dansatkor Koarmabar Survei Daerah Serbuan Amphibi
Dalam catatan sejarah Indonesia Kawasan Dabo Singkep memiliki peran strategis pada masa pemberantasan PRRI dan saat menghadapi konfrontasi dengan Malaysia merupakan pangkalan AJU bagi sejumlah KRI yang akan melakukan patroli di perairan Selat Singapura maupun sekitarnya yang saat itu kehadiran TNI AL di kawasan tersebut dalam bentuk Sional (Stasiun Angkatan Laut).Dihadapkan pada dinamika lingkungan strategis saat ini dan di masa mendatang, Koarmabar memerlukan daerah latihan yang memadai sebagai lahan penggemblengan prajurit guna menyiapkan dan membina prajurit profesional yang memahami dan menguasai pendaratan operasi Amphibi.
Daerah latihan di Pantai Todak Desa Batu Berdaun Kecamatan Lingga Kabupaten Dabo Singkep tersebut yang semula memiliki luas 180 Km persegi (180.000 HA), saat ini tersisa hanya tinggal 312 HA karena telah dihuni oleh sejumlah penduduk dan bahkan Pemda setempat dalam RUTR Pemda menyatakan bahwa kawasan tersebut merupakan Kawasan Ekonomi dan Pariwisata.
Di sisi lain TNI / TNI AL memerlukan daerah latihan yang memadai untuk menggembleng dan mengasah naluri tempur prajurit yang berada di garda terdepan dalam mempertahankan integritas NKRI maupun kepentingan Nasional Indonesia. Disinilah diperlukan kearifan seluruh komponen Bangsa untuk turut berperan serta meningkatkan Ketahanan Nasional melalui pembangunan kekuatan sistem pertahanan negara.
Menyikapi pentingnya daerah latihan pendaratan amphibi bagi Koarmabar, maka Pangarmabar Laksda TNI Yudo Margono, S.E., MM memerintahkan Dansatkor (Komandan Satuan Kapal Eskorta) Armabar Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T. beserta 4 Perwira dari Satkorarmabar, Satfibarmabar, Pasmar-2 dan Kopaska Koarmabar untuk survey daerah latihan pendaratan amphibi di Pantai Batu Berdaun Dabo Singkep, Kepri, Jum’at (06/04/18).
Hal tersebut untuk mendapatkan sejumlah data sesuai bidang dan keahlian masing-masing Perwira yang akan dijadikan referensi dalam penyelenggaraan latihan. Dari hasil survei, mendapatkan beberapa data diantaranya berhasil menentukan Beach Center untuk lorong pendaratan, analisa profile pantai yang terdiri dari skala perbandingan gradien pantai, pembuatan peta cartographi untuk mendukung pembuatan skema Daerah Serbuan Amphibi (DSA) serta ruang manuver Pasrat untuk merebut sasaran Pasrat serta ruang manuver Ranratfib. Selain itu data yang diperoleh juga berkaitan daya dukung wilayah yang dapat diberdayakan untuk mendukung operasi militer seperti Fasilitas Bandara, Pelabuhan, Rumah Sakit serta instansi Pemerintah lainnya baik sipil, TNI dan Polri.
Seluruh rangkaian survey yang dilaksanakan secara marathon berjalan lancar dan sukses berkat dukungan dari Lanal Dabo Singkep dan aparat Pemda setempat yang turut hadir saat pelaksanaan survey dan elemen pimpinan Pemda Kabupaten Dabo Singkep (Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD serta Kapolres) yang berdiskusi langsung dengan Tim Survey sesaat setelah Tim Survey tiba di Dabo Singkep.
Kegiatan Survei daerah latihan tersebut merupakan tahap pendahuluan untuk mendukung rencana penyelenggaraan latihan pendaratan amphibi yang akan melibatkan sejumlah KRI jajaran Koarmabar dan kekuatan Marinir yang direncanakan dan dipimpin oleh Pangarmabar dalam waktu dekat. (AS)
Pesawat Buatan Indonesia Diminati Negara Afrika
PTDI Tandatangani Kerangka Kesepakatan Penjualan CN-235 dan NC-212
CN-235 produksi PT DI pesanan Senegal [tempo]
PTDI menandatangani kerangka kesepakatan penjualan pesawat CN-235 dan NC-212 dengan mitra bisnis Angkatan Udara Senegal dan Pantai Gading senilai 75 juta dolar AS.
“Pasar Afrika itu menjanjikan karena terdiri dari banyak negara dan secara geografis sama dengan Indonesia jadi kebutuhan pesawat turboprop ringan dan medium itu masih banyak,” kata Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro di BNDCC Nusa Dua, Selasa (10/ 4).
Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Elfien Goentoro dan pemimpin perusahaan Perdagangan Pertahanan Udara dari Belgia, Gaby Peretz selaku mitra bisnis dari dua negara di Afrika itu di sela-sela Forum Indonesia Afrika (IAF) 2018 di Bali.
Kesepakatan penjualan itu antara lain dua unit pesawat NC-212 seri 200 yang digunakan untuk pengawasan maritim dan satu unit CN-235 seri 220 untuk pesawat patroli maritim Angkatan Udara Senegal serta satu unit CN-235 seri 220 untuk transportasi militer Angkatan Udara Pantai Gading.
Elfien Goentoro menambahkan penandatanganan kontrak lebih lanjut akan dilakukan pada Juli atau Agustus 2018 dan rencananya akan dikirim ke negara pembeli dalam waktu sekitar 1,5 tahun setelah melalui proses pengerjaan di Indonesia.
Sebelumnya pada 27 Desember 2017 PT Dirgantara Indonesia telah berhasil mengirimkan pesawat CN-235 seri 220 yang bisa dimanfaatkan multiguna untuk Angkatan Udara Senegal yang diterbangkan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung menuju Dakar.
Kemudian pada 08 Agustus 2017 mitra bisnis Senegal kembali menandatangani kontrak pembelian satu unit pesawat CN235-220 untuk patroli maritim untuk Angkatan Udara Senegal.
Selain Senegal, pesawat CN235 buatan PTDI telah digunakan oleh Burkina Faso dan Guinea.
Pihaknya saat ini tengah membidik potensi bisnis lain bekerja sama dengan perusahaan lokal di negara-negara Afrika tersebut terutama di bidang peningkatan pesawat, modifikasi, modernisasi dan perbaikan peralatan dan pemeriksaan (MRO) untuk CN-235 dan NC-212.
Dia menjelaskan di sejumlah negara Afrika masih mengoperasikan sekitar 53 armada yang sejenis dengan dua tipe pesawat buatan PTDI itu.
“Paling tidak lima tahun mendatang ada sekitar 50 juta dolar (potensi untuk MRO) karena sekitar 16 negara di Afrika menggunakan pesawat tersebut,” ucapnya.
Dalam melakukan penetrasi pasar di negara-negara Afrika, PTDI dibantu oleh KBRI atau Kantor Perwakilan Republik Indonesia di negara-negara yang menjadi target pasar dan membangun kerja sama dengan mitra bisnis luar negeri yang memiliki akses ke negara target.
CN-235 produksi PT DI pesanan Senegal [tempo] PTDI menandatangani kerangka kesepakatan penjualan pesawat CN-235 dan NC-212 dengan mitra bisnis Angkatan Udara Senegal dan Pantai Gading senilai 75 juta dolar AS.
“Pasar Afrika itu menjanjikan karena terdiri dari banyak negara dan secara geografis sama dengan Indonesia jadi kebutuhan pesawat turboprop ringan dan medium itu masih banyak,” kata Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro di BNDCC Nusa Dua, Selasa (10/ 4).
Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Elfien Goentoro dan pemimpin perusahaan Perdagangan Pertahanan Udara dari Belgia, Gaby Peretz selaku mitra bisnis dari dua negara di Afrika itu di sela-sela Forum Indonesia Afrika (IAF) 2018 di Bali.
Kesepakatan penjualan itu antara lain dua unit pesawat NC-212 seri 200 yang digunakan untuk pengawasan maritim dan satu unit CN-235 seri 220 untuk pesawat patroli maritim Angkatan Udara Senegal serta satu unit CN-235 seri 220 untuk transportasi militer Angkatan Udara Pantai Gading.
Elfien Goentoro menambahkan penandatanganan kontrak lebih lanjut akan dilakukan pada Juli atau Agustus 2018 dan rencananya akan dikirim ke negara pembeli dalam waktu sekitar 1,5 tahun setelah melalui proses pengerjaan di Indonesia.
Sebelumnya pada 27 Desember 2017 PT Dirgantara Indonesia telah berhasil mengirimkan pesawat CN-235 seri 220 yang bisa dimanfaatkan multiguna untuk Angkatan Udara Senegal yang diterbangkan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung menuju Dakar.
Kemudian pada 08 Agustus 2017 mitra bisnis Senegal kembali menandatangani kontrak pembelian satu unit pesawat CN235-220 untuk patroli maritim untuk Angkatan Udara Senegal.
Selain Senegal, pesawat CN235 buatan PTDI telah digunakan oleh Burkina Faso dan Guinea.
Pihaknya saat ini tengah membidik potensi bisnis lain bekerja sama dengan perusahaan lokal di negara-negara Afrika tersebut terutama di bidang peningkatan pesawat, modifikasi, modernisasi dan perbaikan peralatan dan pemeriksaan (MRO) untuk CN-235 dan NC-212.
Dia menjelaskan di sejumlah negara Afrika masih mengoperasikan sekitar 53 armada yang sejenis dengan dua tipe pesawat buatan PTDI itu.
“Paling tidak lima tahun mendatang ada sekitar 50 juta dolar (potensi untuk MRO) karena sekitar 16 negara di Afrika menggunakan pesawat tersebut,” ucapnya.
Dalam melakukan penetrasi pasar di negara-negara Afrika, PTDI dibantu oleh KBRI atau Kantor Perwakilan Republik Indonesia di negara-negara yang menjadi target pasar dan membangun kerja sama dengan mitra bisnis luar negeri yang memiliki akses ke negara target.
TNI AU Siap Membangun Koops AU III
Skuadron Angkut Baru dan Skuadron Tempur di Biak, Papua
Skuadron Angkut TNI AU [Angkasa Review]
TNI Angkatan Udara siap membangun Komando Operasi Angkatan Udara (Koops) AU III di wilayah Indonesia Timur tepatnya di daerah Biak, Papua.
Hal itu diungkapkan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Yuyu Sutisna usai memimpin upacara HUT TNI AU ke-72 di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (9/4/2018).
“Kita akan membentuk Koops AU III di wilayah Indonesia Timur karena wilayah Timur cukup luas. Sehingga kita tambah satu Koops AU dan mudah-mudahan prosesnya tidak terlalu lama untuk segera dibentuk,” ujar Yuyu Sutisna.
Menurut Kasau, daerah Biak di Papua dipilih untuk dibangun Koops III karena fasilitas infrastruktur di wilayah tersebut sudah memadai. “Sementara ini rencananya Makoops (Markas Koops) nya berasa di Biak karena fasilitas infrastruktur sudah cukup memadai sehingga tidak harus kita mengeluarkan terlalu banyak untuk pembentukannya,” terangnya.
Baru, Bukan Pemindahan Skuadron
Untuk persiapan pembentukan Koops III tersebut sudah diusulkan kepada Panglima TNI Hadi Tjahjanto dan tinggal menunggu keputusan dari komando atasan TNI AU.
Selain itu, TNI AU juga akan membentuk skuadron tempur dan skuadron angkut baru di Biak dan bukan memindahkan dari skuadron I dan II. “Tidak memindah, kita rencana akan pembentukan (skuadron) baru. Jadi di wilayah Timur yang pertama akan dibentuk satu skuadron tempur dan satu skjadron angkut sesuai dengan rencana strategis yang sudah kita rencanakan dari sebelumnya,” pungkas Kasau.
Skuadron III dibangun untuk menambah kekuatan TNI AU dalam menjaga wilayah NKRI bagian Timur khususnya di Papua.
Skuadron Angkut TNI AU [Angkasa Review] TNI Angkatan Udara siap membangun Komando Operasi Angkatan Udara (Koops) AU III di wilayah Indonesia Timur tepatnya di daerah Biak, Papua.
Hal itu diungkapkan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Yuyu Sutisna usai memimpin upacara HUT TNI AU ke-72 di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (9/4/2018).
“Kita akan membentuk Koops AU III di wilayah Indonesia Timur karena wilayah Timur cukup luas. Sehingga kita tambah satu Koops AU dan mudah-mudahan prosesnya tidak terlalu lama untuk segera dibentuk,” ujar Yuyu Sutisna.
Menurut Kasau, daerah Biak di Papua dipilih untuk dibangun Koops III karena fasilitas infrastruktur di wilayah tersebut sudah memadai. “Sementara ini rencananya Makoops (Markas Koops) nya berasa di Biak karena fasilitas infrastruktur sudah cukup memadai sehingga tidak harus kita mengeluarkan terlalu banyak untuk pembentukannya,” terangnya.
Baru, Bukan Pemindahan Skuadron
Untuk persiapan pembentukan Koops III tersebut sudah diusulkan kepada Panglima TNI Hadi Tjahjanto dan tinggal menunggu keputusan dari komando atasan TNI AU.
Selain itu, TNI AU juga akan membentuk skuadron tempur dan skuadron angkut baru di Biak dan bukan memindahkan dari skuadron I dan II. “Tidak memindah, kita rencana akan pembentukan (skuadron) baru. Jadi di wilayah Timur yang pertama akan dibentuk satu skuadron tempur dan satu skjadron angkut sesuai dengan rencana strategis yang sudah kita rencanakan dari sebelumnya,” pungkas Kasau.
Skuadron III dibangun untuk menambah kekuatan TNI AU dalam menjaga wilayah NKRI bagian Timur khususnya di Papua.
Langganan:
Postingan (Atom)