Minggu, 10 Oktober 2021

Penampakan Pesawat Angkut A400M

Akankah diakuisisi TNI AU ?Pesawat A400 ini ramai dibicarakan para pencinta militer Indonesia.  


Kementerian Pertahanan dan Airbus Defence and Space (ADS) sejak beberapa bulan silam telah terlibat dalam diskusi intensif untuk membahas rencana akuisisi dua unit pesawat angkut A400M. (AP Photo/Achmad Ibrahim)


Rencana pembelian pesawat angkut yang memiliki payload 37 ton ini mungkin akan satu paket dengan pengadaan pesawat A330 bekas yang akan direkonfigurasi menjadi Airbus Corporate Jet. (AP Photo/Achmad Ibrahim)


Diskusi intensif antara kedua belah pihak merupakan upaya Kemenhan untuk segera membelanjakan alokasi Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) senilai US$ 5,8 miliar yang diberikan oleh Menteri Keuangan pada 26 April 2021 silam. (AP Photo/Victor R. Caivano)


Terdapat beberapa hal menarik mengenai rencana pengadaan pesawat angkut yang dikembangkan oleh lima negara Eropa ini sejak 1989 dalam program Future Large Aircraft. Mulai dari pendanaan, kemampuan, dan paket offset. (AP Photo/Miguel Angel Morenatti)


Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 860 km/jam, dengan kemampuan mengangkut 37 ton, kuat dan bisa berpindah-pindah. (AP Photo/Achmad Ibrahim)


A400M dapat melaju dan mendarat di landasan pacu yang telah disiapkan maupun medan yang cukup terjal. (Etat-Major des Armees via AP)


Pesawat ini pernah dilibatkan membawa bantuan kemanusiaan dan dalam upaya pemulihan pascagempa bumi dan tsunami di Palu pada Oktober 2018 lalu. (Etat-Major des Armees via AP)


Pesawat A400M ini memiliki desain yang inovatif dengan teknologi dan teknik yang sangat canggih yang dapat menjalankan beberapa tugas berbeda, seperti misi taktis jarak pendek, misi strategis jarak jauh, dan sebagai tanker. (Moritz Frankenberg/dpa via AP)


Pesawat angkut militer multi-nasional ini memiliki empat mesin turboprop, menjembatani kemampuan strategis C17 Globemaster yang lebih besar dan kemampuan taktis C130 yang lebih kecil. (Hauke-Christian Dittrich/dpa via AP)


Pihak Airbus mengklaim A4000M merupakan pesawat yang tergolong hemat bahan bakar.(AP Photo/Francois Mori)


A400M merespons misi taktis dan strategis Angkatan Udara di seluruh dunia, dan sangat cocok untuk mengangkut peralatan berukuran besar langsung ke titik sasaran. Pesawat ini memiliki sertifikasi untuk beroperasi di landasan pacu yang lebih kecil dan beraspal dan mampu beroperasi dalam infrastruktur yang tersedia. (AP Photo/Francois Mori)


Tak hanya bisa mengangkut pasukan, Airbus A400M juga bisa mengangkut truk semi-trailer seberat 25 ton dengan peti kemas berukuran 6 meter, perahu penyelamatan, ataupun peralatan pengangkut besar lain seperti mesin pengeruk atau penderek yang dibutuhkan dalam upaya penyelamatan pasca bencana alam. (AP Photo/Christophe Ena, Pool)

  ☆ CNBC  

[Global] AS Jual 12 Helikopter MH-60R ke Australia

 Senilai Rp 16 TriliunIlustrasi helikopter Sea Hawk multi-misi MH-60R menembakan rudal [ist] ☆

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui potensi penjualan 12 helikopter Sea Hawk multi-misi MH-60R ke Australia dalam kesepakatan senilai $ 985 juta atau sekitar Rp 16 triliun. Demikian pengumunan yang dikeluarkan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon.

“Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan Australia untuk melakukan misi perang anti-permukaan dan anti-kapal selam bersama dengan kemampuan untuk melakukan misi sekunder termasuk pengisian vertikal, pencarian dan penyelamatan, dan relai komunikasi,” kata Pentagon seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (10/10/2021).

Penjualanini terjadi di saat-saat sensitif setelah kemarahan Prancis bulan lalu atas pakta kapal selam AS dengan Australia. Kesepakatan itu merugikan Paris dalam kesepakatan multi-miliar dolar dengan Canberra.

AS dan Inggris pada 15 September lalu mengumumkan aliansi keamanan Indo-Pasifik baru yang akan melengkapi Australia dengan kapal selam bertenaga nuklir, yang secara luas dipandang sebagai langkah untuk melawan pengaruh China yang berkembang di kawasan itu.

Australia kemudian membatalkan kontrak multi-miliar dolar dengan Prancis untuk membangun 12 kapal selam diesel-listrik konvensional yang diteken pada tahun 2016.

Penjualan helikopter tersebut juga mengikuti serangkaian pembelian peralatan militer Australia dari AS tahun ini.

Pada bulan Juni, Australia membeli 29 helikopter serang Boeing AH-64E Apache senilai hingga USD 3,5 miliar. Sebelum itu, pada bulan April, Australia membeli 12 drone MQ-9B dan peralatan terkait dengan harga sekitar USD 1,6 miliar, USD1,6 miliar dalam bentuk tank dan kendaraan tempur lapis baja berat dan empat helikopter kargo CH-47F seharga USD 259 juta. (ian)
 

  🚁 sindonews  

Koarmada II Paparkan Kebutuhan Pangkalan dan Kapal Rescue Kapal Selam

 Ketika menerima kunjungan tim BappenasPembangunan kapal selam dinilai sebagai salah satu langkah strategis untuk mendukung sistem pertahanan nasional yang tangguh. [Foto/dok.SINDOnews] ⚓️

Kepala Staf Koarmada (Kaskoarmada) II Laksma TNI Rachmad Jayadi, M.Tr. (Han) mewakili Pangkoarmada II Laksda TNI Dr. Iwan Isnurwanto, S.H.,M.A.P.,M.Tr (Han), menerima Courtesy Call Tim Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Satuan Kapal Selam Koarmada II, tepatnya di Gedung Bramasta ,Kamis (07/10).

Kaskoarmada II didampingi sebagian Pejabat Utama Mako Koarmada II, mengucapkan selamat datang sekaligus ungkapan terima Kasih kepada rombongan Tim dari Bappenas sekaligus merasa bangga dan menyampaikan rasa hormat yang tinggi karena Koarmada II diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan tentang kebutuhan kedepan, permasalahan yang dihadapi saat ini dan juga kebutuhan Harwat Kapal Selam TNI AL khususnya di Koarmada II.

Dalam kesempatan tersebut Tim Bappenas yang diketuai oleh Bapak Fauzal Muslim Bidang Pertahanan Dithankam Bappenas didampingi oleh 6 orang Staf nya mengucapkan terimakasih atas sambutan hangat yang diberikan Kaskoarmada II beserta Staf di Koarmada II.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan paparan ruang lingkup kapal selam yang dipaparkan oleh Dansatsel Koarmada II Kolonel Laut (P) Wirawan Ady Prasetya, yang meliputi Kondisi terkini Kasel baik secara teknis dan operasional serta kebutuhan akan Pangkalan Kasel dan Kapal Rescue Kasel dihadapkan dengan kondisi strategis regional.

Usai mendengarkan paparan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata sebagai penutup paparan di ruang Rupat Satsel, serta tim Bappenas beserta rombongan berkesempatan untuk mengunjungi KRI Nagapasa-403 yang berada di pangkalan Surabaya.

Ditempat terpisah Pangkoarmada II berharap agar kunjungan Tim Bappenas di Koarmada II kali ini,dapat memberikan masukan yang besar dalam meningkatkan aspek pertahanan dan keamanan, dalam mewujudkan ketahanan nasional.

  ⚓️
TNI AL  

[Global] Rudal Jelajah Supersonik HD-1A China

➶ Mirip rudal Bliskavka UkrainaRudal HD1A China ★

Pembuat rudal China, Guangdong Hongda Blasting Co Ltd, dilaporkan telah mengkloning dan merekayasa ulang konsep rudal jelajah supersonik Bliskavka (Petir) Ukraina yang baru.

Perusahaan yang berbasis di Guangzhou itu telah meluncurkan tiruan sistem rudal barunya di Airshow China 2021 di Zhuhai.

Sistem rudal baru bernama HD-1A dan terlihat untuk semua maksud dan tujuan, tulis Defence Blog, seperti tiruan dari rudal Bliskavka yang dikembangkan oleh kontraktor pertahanan Ukraina Yuzhnoye.

Sebelumnya, di Airshow China 2021, Negeri Tirai Bambu memang melakukan promosi rudal ASCM/LACM supersonik HD-1A.

HD-1A-missile

Rudal ini kabarnya ditawarkan kepada Angkatan Udara Pakistan. Hal itu menjadi spekulasi karena rudal HD-1A dipasang pada model pesawat Mirage III dan JF-17.

Seperti diketahui, Angkatan Udara Pakistan mengoperasikan kedua pesawat tersebut.

HD-1A memiliki jangkauan 290 km. Kecdepatannya mencapai lebih dari Mach 3.

Rudal ini menggunakan sistem propulsi roket yang ditambah udara untuk kinerja dan jangkauan yang dioptimalkan. (RNS)

  ➶ Airspace Review  

Beda Pesawat Tanpa Awak dengan Drone

 ★ UCAV CH4 TNI AU [Adhityaaap]

Pesawat tanpa awak (nirawak) atau biasa disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV) seringkali dikaitkan dengan drone. Namun, sebenarnya terdapat perbedaan di antara keduanya.

Istilah drone belakangan popular dan menjadi perbincangan. Terutama ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyiapkan anggaran Rp12,2 triliun untuk penguatan keamanan laut di Kepulauan Natuna.

Kebijakan itu diketahui dari Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2021 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2022.

Dokumen itu menyebut salah satu upaya penguatan di Natuna dilakukan lewat pengadaan unmanned aerial vehicle (UAV).

Terdapat perbedaan antara drone dengan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Secara umum keduanya adalah pesawat tanpa awak, namun terdapat perbedaan fungsi antara drone dengan UAV.

Istilah UAV biasanya mengacu pada pesawat militer yang dioperasikan tanpa pilot yang dapat digunakan kembali. Definisi tersebut juga membuat UAV termasuk ke dalam salah satu jenis drone, karena drone tidak memiliki pilot di dalam pesawat.

Salah satu titik perbedaan antara drone dan UAV terletak pada ukuran dan bobot. Istilah drone merujuk pada perangkat quadcopters atau wahana dengan empat buah baling-baling sebagai penggerak yang digunakan buat kebutuhan hobi atau keperluan fotografi hingga video.

[Military buzz]

Drone sebenarnya dapat digunakan untuk menggambarkan atau mendefinisikan berbagai macam kendaraan tanpa awak. Kendaraan otonom di laut atau darat juga termasuk ke dalam definisi drone.

Meski demikian, penggunaan istilah yang paling umum mengacu pada pesawat yang dapat dipandu dari jarak jauh atau secara mandiri, seperti dikutip dari situs Drone Academy-Asia.

Definisi UAV justru mengacu pada pesawat tanpa awak yang digunakan untuk keperluan militer. Jadi dapat dikatakan UAV adalah drone, tapi tak semua drone adalah UAV.

Seperti dilansir Botlink, selain UAV ada pula akronim UAS (Unmanned Aircraft System). UAS memiliki definisi drone atau UAV beserta dengan pilot yang berada di darat termasuk dengan sistem pengendali UAV.

Jadi UAS merupakan komponen dari UAV yang mengendalikan UAV karena tak hanya mencakup UAV (pesawat), tapi juga pilot dan sistem pengendali kokpit.

Selain UAV dan UAS, ada pula akronim RPA (Remotely Piloted Aircraft). RPA merupakan definisi yang paling disukai oleh pilot ketimbang drone atau UAV.

Istilah ini muncul karena beberapa drone mengharuskan pilot memiliki kemampuan yang lebih lengkap yang diperoleh melalui latihan bertahun-tahun.

Misalnya saja kokpit UAV MQ-9 Reaper atau Global Hawk sangat mirip dengan kokpit pesawat komersial. Sedangkan sistem kokpit RPA berbeda dengan sistem kokpit drone yang digunakan hanya untuk keperluan foto dan video. (mrh/ayp)

  ✪ CNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...