Minggu, 13 Februari 2022

TNI AL Persiapkan KRI Golok Dipersenjatai Rudal NSM

⚓ Desain X-18 missile boat dipersenjatai rudal NSM [Lundin] ⚓

Pangkoarmada I, Laksda TNI Arsyad Abdullah mendampingi Pangkoarmada RI, Laksdya TNI Agung Prasetiawan, menerima presentasi produk peluru kendali yang akan menjadikan KRI Golok-688 sebagai salah satu Alutsista TNI AL yang ditakuti.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Staf Angkatam Laut meminta perwakilan PT Kongsberg dari Norwegia tersebut melaksanakan paparan kembali tentang Rudal (Peluru Kendali) Naval Strike Missile di hadapan Pangkoarmada RI, Pangkoarmada I, II dan III serta para Komandan Kapal pada hari kamis (10/02) di tempat yang sama.

Hal tersebut diperlukan agar para generasi penerus, Pangkoarmada RI, Pangkoarmada I, II dan III serta para Komandan KRI dan perwira staf terkait dapat memberikan kritik dan masukan.
 

  🔅
Koarmada I  

Indonesia Modernizes Airlifter Fleet

 An A400M in notional TNI-AU colors is depicted operating from the kind of rough strip that is common throughout Indonesia's more remote regions. (Photo: Airbus) ✈️

While defense analysts in Indonesia have naturally focused on what multirole fighter the nation will buy next—with the Boeing F-15EX and Dassault Rafale seen as the current front-runners—an equally important air force investment program already has gotten underway. A major recapitalization of the airlifter fleet has already seen the air force acquire Airbus C295 medium transports—assembled in-country by PT DI—to replace elderly Fokker F27s, and place orders for both the Lockheed Martin C-130J and Airbus A400M for service with the Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU, Indonesian air force).

Given Indonesia’s geography, airlift is a crucial task for the TNI-AU. The large nation extends across an archipelago of more than 17,000 islands spanning 3,000 miles from East to West. Moreover, the nation includes many of the world’s most active volcanoes and its tectonic setting results in numerous earthquakes and tsunamis. Airlift is not only vital for force deployment and support, but also for relief and supply missions following natural disasters.

For many years the Lockheed Hercules has served as the backbone of the TNI-AU’s transport fleet, with the service arm having operated 39 different aircraft. The manufacturer delivered the first batch of C-130Bs starting in 1960, and a number of them remain in service today. One of a pair of KC-130Bs included in the batch with inflight refueling capability remains active. C-130Hs and stretched C-130H-30s followed in the late 1970s, including one C-130H-MP outfitted for maritime reconnaissance, which crashed in 1985. The air force took over five L-100-30s from civilian operators.

KSAU (TNI AU)

In the 2010s the TNI-AU received from Australia nine C-130Hs rendered surplus by the delivery of the C-130J Super Hercules to the Royal Australian Air Force. Australia gifted four to Indonesia and sold five at discounted prices. Today, the mixed fleet flies with four squadrons: Skadron Udara 17 and 31 at Jakarta-Halim Perdana, SkU 32 at Malang-Abdul Rahman Saleh, and SkU 33 at Ujung Pandang-Hasanuddin.

A crash in 1991 that killed 133 of the 134 onboard plus two people on the ground marred the C-130's career in Indonesia. Another crash in 2015 (122 fatalities on board and 17 on the ground) sparked a national outcry at the state of the aging Hercules fleet, underlined by an accident in the following year that resulted in the loss of all 13 on board.

In response to those accidents, Indonesia began looking for more modern airlifters and ordered five C-130J-30 Super Hercules in 2019 from Lockheed Martin in a direct commercial sale. In September 2021 the order came to light during a visit by the Air Force Chief of Staff, Air Chief Marshal Fadjar Prasetyo, to the Marietta factory, where construction began on the first example.

“By obtaining an aircraft with modern engines, technology, and avionics systems, it is a big step for the Indonesian air force to adapt its air transport operations doctrine,” said Prasetyo, adding that the C-130J “will significantly improve the capabilities of the air force.” In November 2021 the country also announced that the C-130Hs will undergo upgrades with digital "glass" cockpits, based on Collins Aerospace Flight2 avionics.

A more public order came to light on November 18, when Indonesia announced it would purchase two A400M airlifters from Airbus, along with a maintenance and training support package. At the same time, Indonesia lodged a letter of intent to buy four more. Plans call for delivery of the aircraft in a multirole transport and tanker configuration, boosting the TNI-AU’s refueling capability, which currently relies on the sole remaining KC-130B. Indonesia shelved original plans for a commercial third-party operator to acquire A400Ms and then lease them to the TNI-AU as required in favor of a direct air force purchase.

A400M & Rafale, Portrait of the Indonesian Air Force fleet for the next few years

Disaster relief was a prime consideration in the decision to buy the aircraft for the nation. An effort to modernize and increase the TNI-AU’s transport capability got underway in 2018 in the aftermath of the magnitude 7.5 earthquake and subsequent tsunami that struck Sulawesi. During the relief effort, the A400M was the first airlifter that could land on the damaged and short runway at Palu, bringing in vital excavators, fuel trucks, food, clothes, and medical supplies.

“The A400M is a truly multi-role platform and will greatly enhance the Indonesian air force’s tactical air-to-air capabilities. This aircraft will play a key role in other key missions including paratrooping and heavy cargo transportation,” said Prabowo Subianto, Indonesia’s defense minister. “We are also looking at additional A400M acquisition in the near term, with future A400M developments such as firefighting an important capability we are exploring jointly with Airbus. The A400M will become a national asset and the cornerstone for human assistance and disaster response missions, beyond its tactical and air-to-air refueling capabilities.”

When its airlift modernization comes to fruition, Indonesia will join France, Germany, and the UK in operating both the C-130J and the larger A400M. For Airbus, the Indonesian order represents renewed hope for the A400M following an order for two from Kazakhstan and reports of discussions over additional contracts, possibly including a follow-on buy by the UK.
 

  ☆
AINonline  

Pembelian Jet Tempur oleh Kemhan untuk Seimbangkan Kekuatan Global

Rafale [Dassault] ☆

Pemerintah melalui Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto membeli 42 pesawat tempur canggih Rafale dari Prancis dan 36 jet tempur F-15 dari Amerika Serikat. Pembelian alutsista tersebut dinilai strategi yang tepat dan sesuai konstitusi.

”Pembelian alutsista merupakan bentuk nyata Kemhan RI melaksanakan fungsi untuk pembangunan kekuatan TNI. Fungsi ini merupakan amanah UUD NRI 1945 yang menyatakan tujuan nasional pertama adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta tujuan nasional keempat ikut melaksanakan ketertiban dunia,” ujar pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati, Minggu (13/2/2022).

Menurut Nuning, biasa disapa, pembelian pesawat tempur dari berbagai negara seperti Prancis dan Amerika Serikat merupakan strategi jitu untuk mengimplementasikan balancing of power pada tataran regional dan global. Selain itu, pembelian alutsista termasuk pesawat tempur dari negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB dinilai memiliki dampak penangkalan yang tinggi.

”Tidak semua negara bisa membeli meskipun anggarannya memadai. Kedua negara baik Prancis maupun Amerika Serikat pasti memiliki kalkulasi yang akurat dalam memproyeksikan kebijakan luar negeri masing-masing,” ujar mantan anggota Komisi I DPR RI ini.

Nuning menilai, urgensi pembelian pesawat tempur sangat dipengaruhi dengan situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini. Pembelian alutsista tidak bisa disamakan dengan pembelian barang-barang umum. Butuh proses dan waktu yang lama. Ditambah tingkat kepercayaan yang tinggi dari negara penjual kepada negara pembeli. Kemhan RI sangat gesit melihat peluang yang ada.

Selain pesawat tempur, kata Nuning, kapal Frigat dan kapal selam juga merupakan alutsista yang harus segera dilaksanakan peremajaan dan modernisasi. Doktrin operasi gabungan kekuatan laut dan udara saat ini merupakan strategi utama dalam perang modern di masa mendatang. Selain peremajaan alutsista, penggunaan teknologi unmanned system diyakini bisa lebih handal dengan biaya pengadaan yang bisa saja lebih murah.

”Sangat penting bagi Kemhan RI untuk lebih memberi peran penting penggunaan unmanned system. Apalagi dalam menghadapi ancaman cyber, maka unmanned system merupakan salah satu alternatif yang banyak dipilih negara-negara super power,” ucapnya. (cip)

  ★
sindonews  

Panglima TNI Dukung Koarmada I Pindah ke Tanjung Uban Kepri

⚓Ilustrasi KRI penjaga Natuna {TNIAL] ⚓

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mendukung rencana Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono memindahkan Komando Armada (Koarmada) I ke wilayah Tanjung Uban, Kepulauan Riau (Kepri).

"Silakan tindak lanjut terkait pemindahan Koarmada I ke Tanjung Uban. Untuk relokasi personel TNI AL adalah solusi untuk meminimalisasi prajurit yang tidak mendapatkan tugas," kata Andika dalam siaran resmi YouTube miliknya, Sabtu (12/2), dikutip Antara.

Menurut Andika, jika masih ada kekurangan saat pemindahan pasukan ini, hal itu tidak menjadi masalah. Ia menyebut segala persoalan ke depan nantinya akan dibenahi.

"Kita perbaiki pelan-pelan," ujarnya.

Sementara itu, Yudo menjelaskan rencana relokasi prajurit TNI AL Koarmada I yang saat ini bermarkas di Gunung Sahari, Jakarta ke Tanjung Uban, Riau.

Pemindahan dan relokasi prajurit TNI AL ke wilayah barat Indonesia itu dilakukan juga untuk mewaspadai kerawanan di Laut China Selatan saat ini.

"Kami ada rencana untuk memindahkan Koarmada I ke wilayah Tanjung Uban. Ini masih kami survei dulu di sana," katanya.

Menurut Yudo, melihat kerawanan di Laut China Selatan tersebut, lebih bagus Koarmada I digeser penempatannya ke wilayah barat Indonesia.

Rencana pemindahan markas Koarmada I tak terlepas dari terbentuknya Komando Armada RI. Komando yang baru terbentuk itu bakal bermarkas di Jakarta.

Mabes TNI juga sedang membangun Markas Komando Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I di Faslabuh Selat Lampa, Kabupaten Natuna. Saat ini pembangunan masih berlangsung. (Antara/fra)
 

  🔅
CNN  

Kisah PT DI Rumahkan 12.000 Karyawannya

Di balik kesuksesan pesawat CN235 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixRwlECbTw-VKH11I361AOgtqKs_Ap5f03AI2nSSOV615H5EpY3-k7xROAM4pko0FnDw5wduYb5PlzKsPXFXNfUOycMztx0Ug8gCnadjdpeM3d204EZmNDf_QcLEzV4JeLJG2K8xLoAIUf/s1600/N250-Gatotkaca.jpgN250 Gatotkaca, pesawat pertama IPTN yang tidak bisa di produksi massal [IPTN] 🛩
P
esawat CN235 produksi PT Dirgantara Indonesia atau PT DI (Persero) kini telah mendunia dan menjadi yang terlaris di kelasnya. Namun di balik kesuksesan pesawat buatan dalam negeri ini, ada cerita pedih dari PT DI yang sempat merumahkan belasan ribu karyawannya.

Cerita soal keterpurukan PT DI akibat hantaman krisis moneter pada tahun 1998 pastinya sudah banyak didengar. Kesulitan keuangan PT DI di awal tahun 2000-an pun, sudah menjadi pengetahuan umum.

Seperti diketahui, puncak kejayaan PT DI terjadi di kisaran tahun 1995-1996 saat prototipe pesawat N250 Gatotkaca yang dicanangkan Presiden ke-3 RI BJ Habibie berhasil melakukan terbang perdana.

Saat itu, PT DI masih bernama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). N250 Gatotkaca yang mulai dirancang bangun pada tahun 1986 sendiri merupakan buah dari mimpi BJ Habibie agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri.

Habibie yang pada era Orde Baru menjabat sebagai Menristek, ingin agar Indonesia bisa terkoneksi lewat udara mengingat wilayah Nusantara secara geografis berupa kepulauan.

"Pesawat ini adalah pesawat pertama di kelasnya, subsonic speed, yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan dengan komputerisasi)," ujar Kadiv SDM PT DI, Eko Daryono kepada Kompas.com, Rabu (10/2/2022).

Setahun usai prototipe pesawat N250 Gatotkaca mengudara pertama kali pada 10 Agustus 1995 dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, IPTN memulai proyek pesawat jet komuter berpenumpang 100 orang.

Proyek nasional itu bahkan diumumkan langsung oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan terbang perdana N250 Gatotkaca.

"Pesawat jet itu diberi kode N2130," kata Eko.

Kode "N" sendiri merujuk pada kata Nusantara yang artinya seluruh pengerjaan mulai dari desain, produksi, dan perhitungannya, dikerjakan sendiri oleh Indonesia. Kode "N" juga bisa berarti "Nurtanio" (Nurtanio Pringgoadisuryo) yang merupakan perintis industri penerbangan nasional.

Namun mimpi Indonesia bisa memproduksi pesawat sendiri kandas saat ketika krisis moneter melanda di tahun 1998. Proyek N250 dan N2130 gagal akibat ditempa badai perekonomian dahsyat kala itu.

Sementara, PT DI sedang membutuhkan dana yang besar untuk pengembangan N250.

Dikutip dari Harian Kompas, pesawat N250 Gatotkaca memerlukan investasi senilai 650 juta dollar AS (kini senilai lebih dari Rp 8 triliun) untuk sampai ke tahap produksi.

"Krisis moneter yang terjadi di tahun 1997 berimbas ke PT DI. Pada 1997, Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan sejumlah syarat jika Indonesia ingin memperoleh pinjaman untuk mengatasi krisis ekonomi. Salah satu klausul letter of intent berbunyi pemerintah tidak boleh lagi memberikan subsidi kepada IPTN," jelas Eko.

Artinya, pemerintah tidak lagi bisa membantu IPTN untuk menyelesaikan turboprop N250. Padahal, menurut Eko, pesawat kebanggaan bangsa itu sedang dalam proses akhir uji terbang.

"Proses tersebut diperlukan untuk mendapatkan sertifikasi layak terbang nasional dan internasional dari Federation Aviation Agency Amerika dan sertifikasi layak terbang dari Joint Airworthiness Agency Eropa," tuturnya.

  PT DI mengalami beberapa kali keterpurukan 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiw34pj8EVVXnhkv8HUKaQsj0Zke8lfdLHUzedrz1PDArPIzlLmDGRcllDuhHUUEDBI6XsEAqpegehPMpuI0BBEUhWUQMIrxTLAjPicou_b1jos3-eRrwioc6iNj6PQmKm2IucChNiYXwbb/s1600/N-2130.bmpDesain N2130 [ist]

Buntut dari persyaratan IMF, PT DI mengalami kemunduran. Eko Daryono mengungkap, PT DI harus melakukan pengurangan karyawan sebanyak total 5.854 orang dalam periode tahun 1999 sampai dengan 2022.

Sementara di masa kejayaannya, PT DI memiiliki sebanyak 15.492 orang karyawan.

"Perusahaan melaksanakan program pensiun muda atau pensiun dini secara sukarela. Jumlah Karyawan yang mengikuti program tersebut sebanyak 5.854 orang," kata Eko Daryono.

Setelah adanya pengurangan karyawan itu, jumlah karyawan PT DI menjadi 9.638 orang di tahun 2003.

Namun keterpurukan masih terus melanda PT DI. Pada tahun 2003, permasalahan internal terjadi dan membuat Direktur Utama PT DI saat itu, Edwin Soedarmo merumahkan seluruh karyawannya lewat SKEP/0598/030.02/PTD/UT0000/07/03.

Dalam pemberitaan Harian Kompas pada 13 Juli 2003, PT DI merumahkan seluruh karyawannya karena tidak mampu lagi membiayai operasional perusahaan.

"Pengrumahan ini bersifat sementara. Ketika perusahaan sudah memiliki lapangan pekerjaan yang cukup, mereka akan dipanggil lagi untuk masuk bekerja di perusahaan," ungkap Edwin Soedarmo pada Sabtu, 12 Juli 2003.

Keputusan pengrumahan tersebut menimbulkan gelombang protes besar-besaran dari karyawan PT DI. Bahkan akibat demo yang dilakukan karyawan, PT DI sempat dijaga ketat Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU.

"Perusahaan terancam mengalami keadaan tak mampu memikul biaya operasional perusahaan (insolvency)," tutur Eko menjelaskan alasan PT DI mengrumahkan banyak karyawannya di tahun 2003.

Selain itu, volume bisnis PT DI yang lebih kecil dari sumber daya yang tersedia membuat perusahaan tersebut berdarah-darah. PT DI juga beralasan, SDM produktif yang hanya 30% membuat keuangan perusahaan kebobolan.

"Dana untuk modal kerja terserap untuk membiayai operasional perusahaan sehingga penyelesaian project tersendat," ucap Eko.

PT DI pun terancam tidak dapat menjalankan usahanya di tahun 2003 karena sulitnya mendapatkan pinjaman modal kerja. Ditambahkan Eko, kesehatan unit bisnis strategis atau SBU (sertifikat badan usaha) serta anak perusahaan juga terancam bangkrut.

"Karena modal usahanya digunakan untuk biaya operasional korporat," tukasnya.

Meski begitu, menurut Eko Daryono, PT DI kemudian memanggil kembali sebagian karyawan yang terlibat dalam program-program terkontrak yang harus diselesaikan oleh Perusahaan.

Pada Februari 2004, karyawan PT DI hanya tinggal 3.347 orang. Hal ini berarti, terjadi pengurangan lebih dari 12.000 karyawan sejak masa keemasan PT DI sebelum tahun 1998.

"Program Pengrumahan Karyawan tersebut ditindaklanjuti dengan permohonan ke Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) untuk melakukan PHK karena restrukturisasi sebanyak 6.561," terang dia.

"Namun yang di-PHK sebanyak 6,291 orang. Putusan P4P Nomor: 142/03/02-8/X/PHK/1-2004, tanggal 29 Januari 2004, mengabulkan permohonan PTDI untuk melakukan PHK karena restrukturisasi," sambung dia.

Hanya saja, persoalan pemutusan hubungan kerja di PT DI tak berhenti sampai di situ. PHK massal menyebabkan terjadinya perselisihan hubungan industrial yang luar biasa.

Tak sekadar terjadinya gelombang demo yang sangat lama sampai 4 tahun, pemutusan hubungan kerja oleh PT DI terhadap sebagian besar karyawannya membuat perusahaan itu digugat bahkan hingga penyitaan aset.

Gugatan mantan karyawannya membuat PT DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 04 September 2007.

Namun Mahkamah Agung pada tanggal 22 Oktober 2007 membatalkan putusan pailit tersebut. Eko mengatakan, PT DI dan Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan (SP-FKK) saat itu membuat Perjanjian Perdamaian dengan bantuan mediasi dari pemerintah.

"Perjanjian Perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 23 November 2007 mengakhiri perselisihan hubungan industrial di PTDI yang sudah berlangsung selama 4 tahun lebih," tegas dia.

Per 31 Januari 2022, total karyawan PT DI berjumlah 3.661 orang. Sebanyak 52.72% karyawan PT DI saat ini merupakan kelompok milenial yang berusia di bawah 35 tahun.

  Bangkit kembali atas bantuan pemerintah 
https://cdn.jetphotos.com/full/5/71524_1630561770.jpgCN235 NG {Jetphotos}

Walaupun tak jadi pailit, pembukuan PT DI tak kunjung membaik setelah perselisihan hubungan industrial selesai.

Harian Kompas yang terbit pada 15 Maret 2014 menuliskan, modal PT DI masih negatif senilai Rp 442 miliar usai ramai-ramai permasalahan internal. Hal ini membuat pemerintah akhirnya turun tangan.

Lewat Perpres No 42 Tahun 2010 tentang Kominte Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), PT DI diminta untuk menjadi produsen yang memasok pesawat dan helikopter TNI.

Pemerintah pun menyuntikkan penyertaan modal negara sebesar Rp 2,075 triliun. Tentu saja keputusan pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dianggap seperti infus darah segar yang membangkitkan PT DI.

Pada tahun 2013, PT DI akhirnya berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp 10,27 miliar dengan penjualan Rp 3,51 triliun. Selain itu, PTDI juga masih memegang kontrak lama dan baru yang didapatkan PTDI hingga tahun 2013 sebesar Rp 10,83 triliun.

Kebangkitan PT DI juga dikarenakan utang besarnya hanya kepada pemerintah. Sementara utang kepada pihak ketiga sangat kecil.

”Utang yang besar ini berawal sejak zaman Habibie ketika pemerintah memberikan utang tetapi tanpa ada kejelasan kapan pengembalian dan berapa cicilannya. Kami pun akhirnya diaudit BPK sehingga terlihat dengan jelas kondisi keuangan PTDI,” ungkap Budiman Saleh yang pada tahun 2014 menjabat sebagai Direktur Komersial dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh.

Kini, PT DI mulai stabil dan menjadi perusahaan dirgantara nasional yang membanggakan negara. Pasalnya salah satu produksi PT DKI, yakni pesawat CN235 banyak dibeli oleh sejumlah negara.

Untuk memperluas pemasaran pesawat CN235 di pasar internasional, PT DI bahkan baru saja menandatangani kerja sama dengan Jet Investment Group SARL di Hanggar Fixed Wing Final Assembly Line, PT DI, Bandung, Jawa Barat, Rabu (2/2/2022).

Penandatanganan disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang juga telah memesan 10 unit pesawat CN235 untuk keperluan di dalam negeri.

Manager Komunikasi Perusahaan & Promosi PT DI, Adi Prastowo menyatakan, pesawat CN235 buatan Indonesia sudah digunakan oleh sejumlah angkatan bersenjata beberapa negara.

Sebut saja Nepalese Army, Korean Coast Guard (KCG) dan Republic of Korea Air Force (ROKAF), Royal Malaysian Air Force (RMAF), Royal Brunei Air Force (RBAF), Royal Thai Police (RTP), UAE Air Force, hingga Pakistan Air Force (PAF).

Pesawat CN235 merupakan kerja sama antara PT DI dengan Airbus Defence and Space (dulu bernama CASA atau Construcciones Aeronautica SA). Kerja sama sudah terjalin sejak tahun 1980-an.

"PT DI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan pesawat CN235 sebanyak 69 unit untuk customer dalam negeri maupun luar negeri, dari total sebanyak 286 unit populasi pesawat CN235 series di dunia," kata Adi Prastowo, Rabu (9/2/2022).

Sejak tahun 2013, PT DI pun sudah menjadi satu-satunya industri manufaktur pesawat terbang di dunia yang memproduksi pesawat CN235. Hal itu terjadi sejak Airbus Defence & Space memfokuskan produksi pesawat turboprop untuk seri C295.

  ✈ Kompas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...