Jumat, 11 November 2016

Perkembangan dan Halangan Program Prioritas Industri Pertahanan

Prioritas 7 Alapalhankamhttps://3.bp.blogspot.com/-HrCH_UWvbnk/WCP7l_LLcSI/AAAAAAAAJcU/0Wx4_AWiZ24lKPMxDbgYCUb42Z8z6TMdwCLcB/s320/orangeRKX200TJ.jpgRKX200TJ Si Orenj

Tujuh kelompok alat perlengkapan untuk pertahanan dan keamanan (alapalhankam) menjadi prioritas dalam pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Kini, Indonesia sudah punya beragam produk, dari roket hingga kapal selam.

Tujuh kelompok alapalhankam ini menjadi fokus pengembangan industri pertahanan dalam negeri karena dinilai punya peran signifikan sebagai proyek jangka panjang. Indonesia pun membeli dari luar negeri dengan sistem ofset.

Ofset merupakan sistem pembelian barang (pesawat terbang dan sebagainya) yang mewajibkan pabrik penghasil sebagai penjual untuk memberikan lisensi pembuatan sebagian komponennya pada industri di negara pembeli. Sistem ini dimanfaatkan untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

"Kalau kapal selam sudah berjalan, medium tank tahun depan sudah selesai prototype-nya," kata Ketua Bidang Alih Teknologi dan Ofset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Laksamana Muda Purn Rachmad Lubis di Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2016).

Tujuh program prioritas ini terdiri dari, roket, radar, rudal, propelan, kapal selam, medium tank, dan pesawat tempur. Beberapa industri pertahanan dalam negeri telah mampu memproduksi ini, meski masih diperlukan pengembangan dan penyempurnaan.

Rachmad mencontohkan roket yang diproduksi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). Roket itu sudah bisa diterbangkan, meski masih mengalami beberapa masalah teknis.

https://1.bp.blogspot.com/-EKWypIUbxN8/V9t804eaRjI/AAAAAAAAI_E/OdfuQko8udcUcGgDEDr4iXIiauCGIfLkwCLcB/s1600/Uji%2Bcoba%2Bpeluncuran%2BRudal%2BC-705%2Boleh%2BKRI%2BClurit%2B641%2Bdi%2BLaut%2BJawa%252C%2BRabu%2B%252814-9%2529.%2B%2528jawapos%2529.jpgPemerintah kata dia masih berusaha memperbaiki industri pertahanan dengan sistem ofset. Tiongkok, kata dia, telah menjanjikan memberikan ilmu pembuatan rudal secara cuma-cuma, asal Indonesia membeli 150 rudal buatan mereka.

Namun, keterbatasan anggaran menjadi penghalang mengambil kesempatan yang ditawarkan Tiongkok. Indonesia, kata Rachmad, hanya mampu membeli lima rudal dalam satu rencana strategis (renstra). "Berarti butuh 30 renstra, kalau kita beli teknologinya itu USD 250 juta, duit dari mana?" kata dia.

Tapi, pemerintah tak patah arang. Pemerintah mengakali dengan belajar sedikit-sedikit dari proyek pembelian dan pembangunan rudal.

"Di project ini kita titipkan avioninknya, di project yang itu kita belajar peledaknya, turbona seperti apa, begitu," kata dia. (REN)

 ♖ Metrotvnews  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...