Kedepan perangnya adalah perang teknologi
ilustrasi
Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo mengatakan penguasaan teknologi persenjataan dan siber mutlak diperlukan oleh TNI.
"Karena kedepan perangnya adalah perang teknologi," kata Jokowi dalam pemaparan visi-misi capres dalam Debat Ke-4 Capres di Hotel Shangri-La, Jakarta pada Sabtu malam.
Menurut Jokowi, pembangunan alutsista di Tanah Air pun sangat diperlukan.
Mantan gubernur DKI Jakarta itu juga menjelaskan keterbukaan kerja sama dengan negara sahabat dalam pengembangan alutsista.
"Kalau kita belum mampu, kita bisa melakukan joint produksi dengan negara-negara lain," kata Jokowi.
KPU menyelenggarakan Debat ke-4 Pilpres yang mengangkat tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta hubungan internasional.
Terdapat dua pasang calon presiden dan wakil presiden yakni Joko Widodo dan Ma'ruf Amin dengan nomor urut 01 serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dengan nomor urut 02.
Pembaharuan dalam debat kali ini yakni berada pada sesi keempat dan kelima yaitu pengaturan waktu yang lebih tegas dan memberi kemudahan moderator pengaturan lalu lintas debat.
Divisi III Kostrad di Gowa, Komando AU di Biak dan Armada III AL di Sorong
Ilustrasi armada TNI AL
Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menilai pentingnya gelar pasukan yang terintegrasi. Menurut Jokowi, gelar pasukan dalam rangka pertahanan nasional memang tidak seharusnya hanya hanya terpusat di Pulau Jawa.
Karenanya, saat ini gelar pasukan terintegrasi sudah terealisasi di beberapa daerah di Indonesia. "Artinya kita tidak Jawasentris. Oleh sebab itu saya sudah perintahkan ke Menhan dan Panglima (TNI) untuk membangun divisi tiga yg telah mulai bekerja, Divisi III Kostrad di Gowa, kemudian Komando AU di Biak lalu Armada tiga AL di Sorong," kata Jokowi saat segmen ketiga debat keempat calon presiden Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3) malam.
Jokowi menyebut ketiga divisi tersebut sudah dalam proses pembangunan dan akan segera selesai. Menurutnya, ia juga telah memerintahkan melanjutkan dilakukan gelar pasukan terintegrasi lain di empat titik penting di Tanah Air.
"Dengan pasukan terintegrasi yakni di Natuna sebelah barat, kemudian di Morotai sebelah timur, kemudian di Saumlaki dekat Masela di sebelah selatan dan kemudian di Biak," kata Jokowi.
Jokowi menilai perlunya gelar pasukan di empat titik penting tersebut, karena berada di wilayah perbatasan Indonesia. Jokowi menerangkan, hal ini sebagai upaya menjaga wilayah Indonesia.
"Apa yang kita harapkan dari gelar pasukan ini, artinya titik-titik pinggir yang ada di negara ini semua terjaga," kata Jokowi.
Terlebih, menurutnya, pertahanan nasional juga sudah menguasai radar maritim maupun udara Indonesia. "Perlu saya sampaikan yang namanya radar maritim kita, radar udara kita ini sudah menguasai sluruh wilayah kita 100 persen, karena ada 19 titik radar kita yang sudah terkoneksi, ada 11 titik radar maritim yang tersambung," kata Jokowi.
Harga jualnya diperkirakan US$ 7 juta (Rp 99,6 miliar) per unit.
Tank medium Harimau [radar bandung]
Calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia sudah mulai memproduksi tank kelas medium untuk kemandirian dalam penyediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Hal tersebut diungkap Jokowi saat debat melawan Prabowo Subianto di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019) malam, yang salah satunya membahas pertahanan dan keamanan.
Jokowi mengungkapkan bahwa strategi anggaran pertahanan bukan hanya belanja, tetapi juga investasi, misalnya dengan memproduksi alutsista sendiri yang juga bisa dijual ke negara lain.
Tank Harimau melakukan debut publiknya pada 7 November 2018 dalam Indodefence di Jakarta.
Menurut keterangan PT Pindad selaku produsen, tank itu sudah berhasil melakukan uji lintas, uji ketahanan, main blast test, dan terakhir adalah uji tembak.
Pada ajang Indodefence, Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan masukan dari pengguna sudah diselesaikan dan ditindaklanjuti sehingga tank buatan lokal itu sudah siap diproduksi massal mulai 2019 ini.
Kapasitas produksi awal adalah 50 unit per tahun, dan akan ditingkatkan di tahun berikutnya hingga 80 unit per tahun.
Tank itu juga akan diekspor dan sudah mengikuti proses lelang di salah satu negara Asia Tenggara.
Tank Harimau diklaim memiliki kemampuan pertahanan balistik dan anti ancaman ranjau terkini. Dengan bobot 30 ton, tank generasi terbaru ini dilengkapi dengan kemampuan daya gempur yang luas mulai dari perlindungan jarak dekat untuk pasukan infantri hingga pertempuran antar kendaraan tempur.
Kecepatan maksimalnya lebih dari 70 km/jam, dapat menampung tiga kru yang terdiri dari komandan, penembak, dan pengemudi, serta memiliki senjata utama turret kaliber 105 mm yang memiliki daya hancur besar.
Menurut Pindad, Tank Harimau juga dilengkapi dengan berbagai teknologi terbaru, seperti sistem kewaspadaan mandiri, hunter killer system, perlindungan pasif (laser warning system), battle management system, serta proteksi hingga level 5.
Turret atau moncong senjata utama memiliki mekanisme autoloader dengan 12 butir peluru di turret dan 26 butir peluru cadangan di dalam hull. Di atas kubah ada senapan mesin kaliber 7,62 mm untuk daya gempur maksimum.
Proyek Tank Harimau ini dimulai awal 2015 melalui kerja sama teknologi dengan Turki. Purwarupa pertama dibuat di Turki, setelah itu dilanjutkan di Pindad sesuai spesifikasi TNI. Harga jualnya diperkirakan US$ 7 juta (Rp 99,6 miliar) per unit.
Pemerintah telah meningkatkan anggaran pertahanan sekitar 1,5 pesen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Ilustrasi pasukan Kostrad
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah tak bisa begitu saja langsung menaikkan anggaran pertahanan. Menurut Luhut, keseimbangan APBN bisa goyang bila menaikkan tanpa perhitungan.
"Itu kan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jadi enggak bisa dong main naikin saja, nanti goyang dong keseimbangan APBN kita," kata Luhut Binsar Pandjaitan usai debat ke-4 Pilpres 2019, di Hotel Sangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019) malam.
Dalam debat dengan tema ideologi, pertahanan dan keamanan, pemerintahan dan hubungan internasional, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto mengkritisi kecilnya anggaran untuk pertahanan. Indonesia hanya mengalokasikan Rp 107 triliun atau 5 persen dari APBN atau 0,8 persen dari pendapatan domestik bruto. Menurut Prabowo kecilnya anggaran membuat pertahanan Indonesia rapuh.
Luhut Binsar Pandjaitan menyebut pemerintah telah meningkatkan anggaran pertahanan sekitar 1,5 pesen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Namun, Luhut Binsar Pandjaitan mengakui, menaikkan anggaran, termasuk untuk pertahanan tak sesederhana yang dipikirkan. Perlu perhitungan matang dalam menyusun anggaran pertahanan, termasuk dengan mempertimbangkan masukan dari intelijen strategis TNI. "Seperti yang dibilang Presiden tadi semuanya itu adalah perkiraan intelijen strategis, dari TNI ,dan kami dulu membuat postur TNI itu berangkat dari perkiraan intelejen strategis," kata Luhut Binsar Pandjaitan.
Luhut Binsar Pandjaitan mengajak untuk mempercayai intelijen strategis yang dibuat TNI. Berdasarkan intelijen strategis TNI, sampai 20 tahun ke depan belum ada potensi invasi. "Jadi ya harus percaya juga dong dengan perkiraan intelijen strategis TNI, bahwa 20 tahun ke depan belum ada potensi, perkiraan ya, adanya invasi ke Indonesia," tutur Luhut Binsar Pandjaitan.
Dalam kesempatan ini, Luhut Binsar Pandjaitan yang juga Purnawirawan bintang empat membantah pernyataan Prabowo soal peristiwa di Timor-Timur, sekarang Timor Leste. Luhut, yang juga ikut terlibat dalam peristiwa tahun 1975 itu menegaskan, peristiwa di Timor Timur bukan invasi melainkan operasi keamanan dalam negeri. "Jadi perkiraan strategis kami pun tidak salah pada saat itu," kata Luhut Binsar Pandjaitan.
Bersama KRI Banda Aceh 593
KRI Halasan-630 mengikuti LIMA’19 Sea Exercise (TNI AL) ☆
KRI Halasan-630 bersama KRI Banda Aceh-593 mengikuti LIMA’19 Sea Exercise dalam rangkaian kegiatan Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition di Langkawi, Malaysia.
Latihan dibuka oleh Royal Malaysian Navy Western Fleet Commander, Laksamana Madya Dato’ Rusli bin Ramli dalam Opening Ceremony yang bertempat di Naval Regional 3 Headquaters, Langkawi Jumat (29/ 03).
Kegiatan ini terbagi dalam dua tahap ; harbour phase dan sea phase, yang dipimpin oleh Commander Task Group 66.1. Laksamana Pertama Khir Junaidi bin Idris dan diikuti 28 kapal perang dari 13 negara peserta.
Dalam tahap harbour phase, disusun perencanaan dari mulai penentuan jaring komunikasi, pembagian divisi, penunjukan komandan divisi serta pergerakan formasi. Setelah itu dilanjutkan dengan tahap pergerakan di laut (sea phase). Kegiatan Sea Exercise yang dilaksanakan di Perairan Langkawi ini, bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme kepelautan bagi negara-negara yang berpartisipasi dalam kegiatan LIMA’19.
Dalam amanatnya, Laksamana Madya Dato’ Rusli bin Ramli menyampaikan bahwa pentingnya persahabatan diantara negara-negara peserta, salah satu cara untuk mempererat nya adalah melalui latihan diantara navy. Beliau juga berharap latihan dapat berjalan dengan aman dan lancar tanpa ada hambatan apapun.