Pengawasan Produksi Alpalhan Kunjungan Itjen Kemhan di Bandung (Pindad) ★
Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose menerima kunjungan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertahanan RI (Itjen Kemhan) yang dipimpin oleh Sesitjen Kemhan, Marsma TNI Sugiharto Prapto Waruju beserta jajaran pada Selasa, 7 Mei 2024 di Auditorium PT Pindad, Bandung. Kunjungan ini juga turut dihadiri oleh Direktur Teknologi dan Pengembangan Sigit P. Santosa, Direktur Komersil Atih Nurhayati, tim konsorsium RHAN 122B (PT Dirgantara Indonesia, PT Dahana, BRIN), serta jajaran VP dan GM divisi terkait.
Adapun tujuan kunjungan Itjen Kemhan adalah untuk melakukan pengawasan terhadap pengadaan Alat Peralatan Pertahanan (Alpalhan), diantaranya kendaraan operasional satuan Maung dan Roket RHAN 122B.
Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi hari ini diharapkan baik PT Pindad dan tim konsorsium dapat menyelesaikan seluruh kegiatan produksi tepat waktu dan sesuai dengan harapan Kementerian Pertahanan.
“Dalam rangka diskusi terkait pengadaan roket RHAN 122B dan kendaraan operasional satuan produksi PT Pindad, kami berharap dapat menghasilkan produk yang sesuai harapan Kemhan. Di masa mendatang PT Pindad akan terus berkomitmen untuk terus berkontribusi terhadap pertahanan negara dalam menjaga keutukan NKRI. Semoga Tuhan melindungi dan memberi petunjuk untuk segala usaha kita,” tutur Abraham.
Marsma TNI Sugiharto Prapto Waruju mengapresiasi peneriman yang diberikan Pindad. Ia mengungkapkan rasa bangganya terhadap PT Pindad sebagai salah satu perusahaan yang mendukung kebutuhan Alutsista bagi TNI dan Kementerian Pertahanan.
“Sebagai salah satu tugas inspektorat untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan oleh PT Pindad apakah sudah selesai, atau mengetahui kendala yang dihadapi. Di sisi lain, kami sebagai pengawas internal yang juga warga negara tentunya kami bangga kepada PT Pindad sebagai salah satu perusahaan yang mensupport kebutuhan alutsista TNI dan Kemhan. Kami akan ikut terus meninjau, diharapkan kedepannya PT Pindad dapat menjadi lebih baik. Dengan melihat situasi global, kebutuhan Alutsista dalam negeri ini mau tidak mau harus bergerak secara mandiri. Harapan kita semua Pindad bisa terus menghasilkan produk-produk strategis,” jelasnya.
Setelah sesi presentasi dan tanya jawab dari divisi-divisi terkait dan tim konsorsium, rombongan Itjen Kemhan kemudian melanjutkan peninjauan produksi ke PT DIrgantara Indonesia.
Badan pengadaan negara Korea Selatan pada hari Rabu (9/5) mengisyaratkan menerima proposal Indonesia untuk mengurangi pembagian biaya untuk program pengembangan jet tempur KF-21 Boramae.
Konsekuensi atas usulan itu, Indonesia akan lebih menerima sedikit transfer teknologi, dalam pengembangan pesawat generasi 4,5 tersebut.
Badan pesawat ini memiliki fitur siluman bila dibandingkan dengan pesawat generasi ke-4 lainnya, tetapi tidak membawa persenjataan secara internal layaknya pesawat generasi ke-5.
Dilansir oleh Yonhap News Agency, Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) mengatakan, Indonesia telah menawarkan untuk membayar total 600 miliar won (442,3 juta dolar AS) untuk proyek jet KF-21 pada tahun 2026, turun dari jumlah awal 1,6 triliun won.
Usulan terbaru pemerintah Indonesia muncul setelah polisi Korea Selatan menggerebek kantor pusat KAI pada Maret lalu terkait dua warga negara Indonesia yang dituduh membocorkan teknologi terkait proyek jet tempur KF-21.
"Kami mendorong langkah-langkah untuk menyesuaikan skala transfer teknologi ke Indonesia sejalan dengan pembagian biaya yang disesuaikan," ujar Direktur jenderal Grup Program KF-X DAPA, Noh Ji-man, dalam konferensi pers.
KF-21 Boramae sukses melakukan uji coba pengisian bahan bakar di udara (KAI/RoKAF) ★
Indonesia awalnya setuju untuk membayar 20 persen dari total biaya pengembangan sebesar 8,1 triliun won sebagai imbalan atas penerimaan satu model prototipe dan transfer teknologi yang memungkinkannya memproduksi 48 unit di Indonesia.
Sejauh ini Indonesia telah menyumbang sekitar 300 miliar won untuk proyek tersebut dan gagal memenuhi tenggat waktu pembayaran, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai komitmennya.
DAPA mengatakan, akan menyelesaikan keputusannya dalam tinjauan komite paling cepat akhir Mei agar tidak menyebabkan penundaan dalam proyek pembangunan, yang dijadwalkan selesai pada tahun 2026.
Jika disetujui, pemerintah dan Korea Aerospace Industries (KAI), produsennya, harus menambah beban keuangan mereka.
"Kita perlu menyesuaikan rasio pembagian biaya dan mengamankan dana tambahan agar tidak menyebabkan tertundanya program pengembangan KF-21," kata Noh.
KF-21 Boramae berhasil tembak target dengan rudal udara ke udara jarak jauh Meteor, selain itu DAPA juga mengonfirmasi keberhasilan uji coba rudal udara ke udara jarak pendek IRIS-T pada hari yang sama, yang semakin menunjukkan kemampuan senjata serbaguna KF-21. (DAPA/KAI) 🚀
Meskipun tawaran uang lebih sedikit dan transfer teknologi berkurang, rencana Indonesia untuk membangun 48 pesawat di pabrik lokalnya tetap efektif, kata seorang pejabat senior DAPA.
Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, Angkatan Udara Korea Selatan diperkirakan akan menerima KF-21 pertamanya pada paruh kedua tahun 2026 untuk menggantikan armada jet F-4 dan F-5 yang sudah tua. KAI berencana membangun 20 KF-21 tahun ini dan memproduksi 20 unit lagi tahun depan.
Proposal tersebut muncul pada saat yang sensitif karena penyelidikan sedang dilakukan terhadap dugaan upaya seorang insinyur Indonesia untuk mencuri teknologi jet di KAI, produsen KF-21.
Insinyur dari PT Dirgantara Indonesia tertangkap pada bulan Januari saat mencoba meninggalkan fasilitas KAI dengan perangkat penyimpanan USB yang berisi data tentang jet tempur tersebut.
Sebelumnya pada hari yang sama, prototipe KF-21 berhasil melakukan uji tembak pertama dengan rudal Meteor udara-ke-udara jarak menengah, yang menunjukkan kemampuan jangkauannya yang lebih luas.
Rudal Meteor mampu terbang dengan kecepatan lebih dari Mach 4, setara dengan empat kali kecepatan suara, dan dapat mencegat sasaran yang berjarak lebih dari 200 kilometer. Setiap KF-21 dapat membawa hingga empat rudal Meteor, dan penyebarannya dijadwalkan akan dimulai bulan depan.
⚓🚀 Latopslagab 2024 KSAL monitor operasi dari KRI dr Soeharso-990. (Dispenal)⚓
Kapal selam TNI Angkatan Laut, KRI Alugoro-405 berhasil menembakkan Torpedo Black Shark di Selat Bali. Penembakan senjata khusus itu dilakukan dalam Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) 2024 yang dilaksanakan di sekitar perairan Laut Bali pada tanggal 8 - 9 Mei 2024.
Selain KRI Alugoro, sejumlah kapal perang TNI AL lainnya juga berhasil menembakkan rudal atau senjata khusus miliknya dan berhasil mengenai target yang telah disasar secara bersamaan dari arah berbeda.
Rudal anti kapal Exocet MM40 Block 3 meluncur dari KCR 60M. (Dispenal)
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali yang menyaksikan secara langsung latihan penembakan senjata khusus mengaku sangat bangga dengan keberhasilan penembakan sejumlah senjata khusus kapal perang TNI AL yang dilakukan secara serentak tersebut.
"Selaku pimpinan TNI AL saya ucapkan “Bravo Zulu” kepada seluruh prajurit Jalasena yang tergabung dalam Latihan Operasi Laut Gabungan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Allah Subhanahu Wattaala selalu melindungi langkah pengabdian kita kepada TNI, TNI AL bangsa dan negara, dan tentunya terus kibarkan bendera kewajiban," kata Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali dari Kapal Markas KRI dr. Soeharso–990.
Rudal anti kapal C-802 meluncur dari KRI Yos Sudarso 353. (Dispenal)
Untuk diketahui, penembakan senjata khusus (rudal) dalam Latopslagab 2024 itu melibatkan sejumlah kapal perang TNI AL. KRI Halasan-630 dan KRI Kapak-625 menembakkan rudal Exocet MM40 Block 3, kemudian KRI Yos Sudarso-373 menembakkan rudal C-802, Kapal Selam KRI Alugoro-405 menembakan Torpedo Black Shark dan KRI Sultan Hasanuddin-366 menembakan torpedo A244S.
Objek sasaran penembakan rudal berjarak 35 NM dari unsur penembak. Penembakan dan rudal-rudal tersebut mengenai sasaran secara bersamaan dari arah yang berbeda, dan sasaran berhasil ditenggelamkan.
Korban keganasan rudal dan torpedo TNI AL. (Dispenal)
Dalam Latopslagab 2024 kali ini, TNI AL mengerahkan puluhan unsur Kapal Perang Republik Indonesia yang terdiri dari KRI Unsur Tugas Penembak, KRI Unsur Tugas Pengamanan, KRI Unsur Tugas Peperangan Elektronika (Pernika), serta Unsur Tugas Bantuan dan Pesawat Udara serta Helikopter.
Lebih dari 2.000 prajurit TNI AL dilibatkan dalam latihan tersebut. Selain itu sejumlah drone dari Pusat Penerbang TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) juga ikut serta dalam skenario latihan yang digelar secara besar-besaran tersebut.
"TNI AL menggelar latihan ini merupakan sebagai bentuk pembinaan, sekaligus wahana dalam mengukur kemampuan Alutsista maupun prajurit TNI AL, untuk mewujudkan kesiapsiagaan operasional dalam mengawal kedaulatan laut Indonesia," tegas Kasal.
Salah Satunya Sistem Pengawasan Bawah Air (@dittekindhan) ★
Indonesia dan India akan menjajaki kolaborasi dalam pembuatan dan pengadaan sejumlah alat perlengkapan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) dari produk industri pertahanan kedua negara.
Hal tersebut diungkapkan dalam working group kegiatan Joint Defence Cooperation Committe (JDCC) Indonesia-India ke-8 di New Delhi, India, pada 2-3 Mei dengan pimpinan delegasi Plt. Sekjen Kemhan RI Donny Ermawan Taufanto dan ketua delegasi Direktur Tekindhan Ditjen Pothan Marsma Dedy Laksmono.
“Dari sesi working group JDCC tersebut, Indonesia dan India menyepakati bidang kerja sama antara industri pertahanan kedua negara,” ujar Kabiro Humas Kemhan Brigjen Edwin Adrian ketika dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (8/5).
Edwin menjelaskan, berdasarkan keterangan Ditjen Pothan sejumlah bidang yang teridentifikasi berpotensi dalam kerja sama pembuatan dan pengadaan alpalhankam di antaranya sonar systems and electro optical system, cyber security and underwater surveillance system, 40 mm single barrel gun system, explosive dan propellant.
“Untuk mencapai balance trade yang sehat dan saling menguntungkan antara kedua negara dalam kerjasama industri pertahanan, Indonesia dan India sepakat akan menjajaki dan kolaborasi pembuatan dan pengadaan alpalhankam,” kata Edwin.
Tevra 40 mm naval gun akan digunakan di Bituni class (Istimewa) ★
Sebelumnya, beberapa waktu lalu Dirjen Pothan Mayjen Piek Budyakto mengungkapkan harapan terwujudnya kerja sama antara Indonesia dan India untuk menjalin kemitraan strategis industri pertahanan.
“Di sini memang kerja sama India dan Indonesia kita harapkan dengan beberapa industri pertahananan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta,” ujar Budyakto dalam acara seminar Defence India Expo 2024 di Jakarta, Selasa (30/4).
Budyakto mengatakan, Kemhan RI saat ini perlahan berupaya untuk menuju kemandirian industri pertahanan seperti India, melalui pemanfaatan alih teknologi saat menjalin kerja sama dengan negara produsen alutsista.
Hal itu dilakukan untuk menyerap teknologi dari negara lain agar industri pertahanan Indonesia bisa semakin mandiri, dan memproduksi alutsista sendiri. “Kita harus bisa menyerap teknologi yang ada di luar negara kita, sumber daya manusia harus kita tingkatkan untuk mengambil Transfer of Technology (ToT) tersebut,” jelasnya.
Menurut Budyakto, jika upaya pemanfaatan alih teknologi dari negara lain tersebut dilakukan lebih gencar, ia meyakini industri pertahanan dalam negeri dapat meningkatkan komponen lokal untuk mencapai 40 persen. (at)
BrahMos Aerospace – perusahaan patungan (JV) antara India dan Rusia – telah menguraikan rencananya untuk mengekspor rudal jelajah supersoniknya ke negara-negara Asia Tenggara pada pameran Defense Services Asia (DSA) 2024 yang diadakan di Kuala Lumpur pada tanggal 6 hingga 9 Mei.
Berbicara dengan Janes di acara tersebut, juru bicara BrahMos Aerospace mengatakan perusahaannya telah menawarkan rudal jelajahnya ke negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.
“Kami [BrahMos Aerospace] sedang melakukan pembicaraan dengan semua negara ini, dan mereka telah menunjukkan minat yang baik terhadap rudal tersebut,” tambah juru bicara tersebut.
Janes memahami bahwa Malaysia dan Indonesia sedang mencari varian rudal jelajah supersonik BrahMos yang diluncurkan dari udara untuk mempersenjatai jet tempur Sukhoi Su-30 mereka.
Vietnam berencana untuk membeli BrahMos versi rudal anti-kapal berbasis pantai untuk melawan agresi Tiongkok di Laut Cina Selatan.
Juru bicara tersebut mengkonfirmasi bahwa BrahMos Aerospace telah memulai pengiriman sistem BrahMos ke Filipina.