Sabtu, 24 Oktober 2020

RI Beli Anti-Terpedo Kapal Selam

Ketika Prabowo ke Turki Zoka, Anti-Terpedo Kapal Selam [twitter @putut_reza] ★

Teka teki kunjungan Menhan Prabowo ke sejumlah negara belum banyak terungkap. Setelah berkunjung ke AS, Austria, dan Perancis, Prabowo masih sempat mampir ke Turki, bertemu Menhan Turki Hulusi Akar di Ankara, Jumat (23/10), seperti dilaporkan media Anadolu Agency.

Namun di tengah kunjungan itu, muncul kabar soal realisasi pembelian alutsista Indonesia ke Turki. Media lokal yang berbasis di Turki Daily Sabah pada Jumat malam, menyebut soal alutsista kapal selam yang diterima Indonesia dari Turki.

TNI AL dilaporkan mendapatkan alutsista fase pertama sistem anti terpedo kapal selam, mencakup sistem pengacau dan alat umpan torpedo produksi Turki. Alat dan sistem ini akan disematkan pada kapal selam Nagapasa Tipe 209/1400. Kapal selam ini merupakan satu dari 3 kapal selam racikan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korsel.

Sementara itu laporan Janes, mengungkap sistem pengacau dan alat umpan torpedo buatan pabrik pertahanan Aselsan Turki tiba di Indonesia Kamis (22/10). Sistem anti terpedo ini merupakan bagian dari ZOKA, dikembangkan oleh Aselsan.

Sistem ini juga dipakai oleh armada kapal selam Turki. Yang menarik, Indonesia menjadi negara pembeli pertama untuk sistem tersebut dengan perjanjian yang diteken pada tahun lalu.

  ♞ CNBC  

KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Banjarmasin 592 Uji Coba Embarkasi Debarkasi 3 Ranpur Yonkav 8 Kostrad

Proses embarkasi dan debarkasi Caesar, Astros dan Transporter pada LST 520 dan LPD 592 TNI AL [Kolinlamil] ★

KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Banjarmasin 592 yang berada dijajaran Satlinlamil 2 Surabaya mengadakan uji coba embarkasi dan debarkasi material tempur milik TNI AD, Kamis (22/10), di Dermaga E Selatan, Koarmada II, Ujung, Surabaya.

Material tempur milik Batalion Kavaleri 8 Divisi 2 Kostrad ini digunakan Satuan Tugas Darat (Satgasrat) dalam Latihan Antar Kecabangan Kartika Yudha 2020. Material tempur tersebut diantaranya : Transporter, Meriam Caesar dan Astros.

Kendaraan tempur yang diujicobakan embarkasi dan debarkasi menjelang dilaksanakan latihan puncak TNI AD yang akan diangkut KRI jenis LST dan LPD milik Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) 2 Surabaya yang mengendalikan kedua KRI untuk mendukung latihan antar kecabangan Kartika Yudha TNI AD tahun 2020. Sebagai salah satu satuan pelaksana Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), satuan ini akan mendukung latihan kecabangan AD tersebut sebagai Komando tugas pendaratan administrasi yang akan mengangkut dan pergeseran pasukan dari DSA (Daerah sasaran awal) menuju daerah pertempuran yang dituju.

Untuk itu, Komandan Satlinlamil 2 Surabaya Kolonel Laut (P) Elmondo Samuel Sianipar telah mempersiapkan keterlibatan satuannya dengan mengadakan Sinkronisasi dan Tactical Floor Game (TFG) rencana operasi pendaratan administrasi dukungan latihan Kartika Yudha TNI AD 2020, Rabu lalu (20/10).

Menurut Komandan Satlinlamil 2 Surabaya ujicoba ini dimaksudkan untuk menguji kemampuan KRI Teluk Bintuni 520 dengan mengangkut Tank Leopard 3 kendaraan tempur dalam melaksanakan operasi pendaratan ke pantai dengan aman dan lancar, serta keluar masuk kendaraan tempur pada kapal jenis LST dengan aman dan lancar sehingga diperolah data yang dibutuhkan saat embarkasi dan debarkasi.

"Meskipun KRI Bintuni 520 didesain untuk mengangkut Tank Leopard, tetapi juga harus tetap diujicobakan agar kita mengetahui kemampuannya" jelas Komandan.

KRI Teluk Bintuni-520 didesain mampu membawa 10 unit Tank MBT Leopard 2A4 milik TNI AD yang berbobot mencapai 62,5 ton. Sebelumnya LST TNI AL hanya mampu membawa tank ringan dengan berat per tank hanya belasan ton. Selain itu, KRI Teluk Bintuni-520 masih bisa membawa 2 unit helikopter, kapal ini telah dilengkapi helipad dengan fasilitas hangar.

Selain itu, KRI Teluk Bintuni 520, sebagai salah satu LST terbesar dimiliki TNI AL, kapal perang produksi dalam negeri ini juga memiliki turntable/meja putar dengan kapasitas hingga 90 ton.

Besarnya kapasitas turntable di KRI Teluk Bintuni 520 lantaran kapal ini memang didesain untuk membawa MBT (Main Battle Tank) Leopard 2A4 TNI AD yang bobot per tank mencapai 60-tonan.

Dan hebatnya, turntable yang terpasang di KRI Teluk Bintuni 520 adalah buatan BUMN PT Pindad. Turntable dikapal LST adalah meja/plat yang digunakan untuk memutar arah kendaraan lapis baja di dalam tank deck. Seperti diketahui, umumnya LST dirancang dengan satu pintu ramp (ramp door) pada bagian haluan, dimana ramp door digunakan untuk masuk dan keluar kendaraan ke dalam tank deck.

Kapal LST ini juga mempunyai panjang 120 meter, lebar 18 meter, dengan tinggi 11 meter. Kecepatannya maksimal 16 knot, dengan main engine 2 x 3.285 kw yang ditenagai dua mesin. Sedangkan kapal jenis LST lainnya yang berada dibawah pembinaan Kolinlamil yaitu KRI Teluk Manado-537, KRI Teluk Hading-538, KRI Teluk Parigi-539 dan KRI Teluk Lampung-540.

Sementara itu Panglima Kolinlamil Laksda TNI Irwan Achmadi, M.Tr (Han) mengatakan, kapal-kapal jenis LPD yang dimiliki jajaran Kolinlamil yang memiliki kemampuan angkut ranpur jenis tank adalah KRI Banjarmasin-592 dan KRI Banda Aceh-593. Sedangkan kapal lainnya yaitu KRI Tanjung Kambani 971 merupakan kapal bantu angkut personel.

Dilengkapi juga dengan 4 unit LCVP merupakan kendaraan angkut air dengan panjang yang mampu mengangkut pasukan, kendaraan tempur, kendaraan administrasi ataupun dukungan logistik lainnya pada saat Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dan Operasi Militer Perang (OMP). Panglima Kolinlamil juga menegaskan sesuai arahan Kasal agar dalam setiap melaksanakan operasi maupun latihan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

  ★ TNI  

[Dunia] China Tembakkan Lusinan Rudal

Di Laut China Selatanhttps://pict-c.sindonews.net/dyn/620/pena/news/2020/10/24/40/206718/china-tembakkan-lusinan-rudal-di-laut-china-selatan-efw.jpgSalah satu pilot jet tempur China menembakkan rudal ke atas Laut China Selatan. [Foto/CCTV/Weibo]

China mengklaim telah menembakkan lusinan rudal di atas Laut China Selatan. Senjata-senjata itu ditembakkan tentara Beijing selama latihan tembakan langsung (live-fire) pada Selasa dan Rabu lalu.

Media pemerintah, CCTV, melaporkan rudal-rudal air-to-air ditembakkan selama latihan militer dua hari yang dihadiri oleh hampir 100 tentara di area yang dirahasiakan di sebelah barat Pulau Hainan China.

Media itu membanggakan kemampuan militer Beijing sambil mengirimkan peringatan ke negara lain di tengah hubungan yang memburuk dengan AS dan Taiwan.

Presiden China Xi bulan ini memberi tahu tentara marinirnya untuk fokus pada kesiapsiagaan perang sambil tetap sangat waspada.

Latihan tembak rudal diselenggarakan oleh angkatan laut Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat. Hampir 100 pilot jet tempur menghadiri latihan tersebut dan meluncurkan lusinan rudal.

CCTV, melalui akun Weibo-nya,juga merilis rekaman tentara memuat beberapa rudal ke jet tempur tak dikenal dan senjata yang dikeluarkan dari pesawat perang. Manuver misil tersebut diklaim bertujuan untuk menguji "kinerja persenjataan" pasukan dalam lingkungan perang nyata.

Manuver militer China berlangsung pada saat ketegangan yang memanas antara China dan Taiwan—wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri, namun masih dianggap Beijing sebagai bagian dari China.

Beijing telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer sejak pemilihan Presiden Taiwan tahun 2016 yang dimenangkan Tsai Ing-wen.

Peningkatan jangkauan Washington ke Taiwan di bawah Presiden Donald Trump telah menjadi titik nyala lain dengan Beijing, ketika AS dan China bentrok karena berbagai masalah seperti perdagangan, persaingan teknologi, hak asasi manusia hingga pandemi virus corona.

Presiden China pada 13 Oktober lalu mengatakan kepada pasukan Angkatan Laut-nya; "Untuk memfokuskan semua pikiran dan energi (Anda) guna mempersiapkan perang dan menjaga tingkat kewaspadaan yang tinggi."

Beberapa hari sebelumnya, China mengancam akan mengambil alih Taiwan dengan merilis rekaman tentaranya "merebut sebuah pulau". Dalam video yang dirilis oleh CCTV pada 10 Oktober, pasukan dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) terlihat mensimulasikan serangan di pulau tak dikenal selama latihan militer skala besar.

Pada hari Senin, CCTV merilis rekaman seorang pilot jet tempur China yang memperingatkan "pesawat perang yang mengganggu" untuk meninggalkan ruang udaranya sebelum dilaporkan memaksanya pergi.

Perwira Beijing tersebut berbicara melalui radio dalam bahasa Inggris yang hampir tidak dapat dipahami saat mengikuti dari dekat di belakang pesawat perang yang diduga milik musuh.

Kementerian Luar Negeri China kemarin mengancam akan melakukan pembalasan setelah Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan tiga sistem senjata ke Taiwan dalam kesepakatan yang dapat bernilai total USD1,8 miliar.

"Penjualan tersebut sangat mengganggu urusan dalam negeri China, sangat merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan China, mengirimkan sinyal yang sangat salah kepada pasukan kemerdekaan Taiwan, dan sangat merusak hubungan China-AS dan perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian. (min)

 ♖ sindonews  

Used 'alutsista': Warships That Safeguard Indonesian Waters

Indonesia is the world’s largest archipelagic country with some 17,000 islands and a vast maritime territory.

The Office of the Coordinating Maritime Affairs and Investment Minister announced in 2018 that it had updated Indonesia’s total territory to span 8.3 million square kilometers, comprising 1.9 sq km of territorial land and 6.4 million sq km of territorial waters.

The latest data was calculated by the Geospatial Information Agency (BIG) and the Hydrography and Oceanography Center (Pushidrosal) of the Indonesian Navy (TNI AL).

The BIG and Pushidrosal calculated that Indonesian had sovereignty over 3.11 million sq km of archipelagic waters and 290,000 sq km of territorial sea. Indonesia also had sovereign right over 3 million sq km of exclusive economic zone (EEZ).

The two institutions also calculated Indonesian territory also covered 270,000 sq km of contiguous zone, the maritime zone that extends 12 nautical miles beyond the territorial sea, while it had a continental shelf that covered about 2.8 million sq km.

The United Nations Statistics Division, however, acknowledges that a country's area only covers its land territory and the total surface of inland freshwater bodies, such as lakes, reservoirs and rivers. The UN Statistics Division states that Indonesia's area is 1.91 million sq km.

With its strategic location between two continents and two oceans, having a strong navy is a must as part of Indonesia’s alutsista (national defense weaponry and systems) to secure and defend its maritime borders. The government decided in the past that it would take advantage of used warships from other countries that had been decommissioned.

The most controversial procurement of secondhand warships was in 1992, when Indonesia bought several warships formerly operated by the East German Navy, the Volksmarine. The controversy was over not only the warships’ technical specifications, which were not designed for operating in tropical waters, but also their value, with many suggesting that the price had been inflated.

The US$ 482 million deal procured 39 naval vessels consisting of three types: antisubmarine warfare (ASW) corvettes, landing ship tanks (LSTs) and minesweepers. All ships were constructed Peenewerft shipyard in Wolgast, Germany, facing the Baltic Sea.

 1. Parchim I class corvettes 
The TNI AL received 16 Parchim I-class ASW corvettes built between 1981 and 1985, or aged between 8 years and 12 years when Indonesia procured them.

This type of corvette is 72.5 meters long and weighs 1,200 tons, has a top speed of 24.7 knots and a range of 2,100 nautical miles (3,900 kilometers).

The Parchim I-class is also known as the Kapitan Pattimura-class after its lead ship, the KRI Kapitan Pattimura 371. One corvette, the KRI Imam Bonjol 383, has had President Joko “Jokowi” Widodo onboard. An iconic picture of Jokowi was taken on the vessel’s foredeck in June 2016, while it was sailing the Natuna Sea off Riau Islands province.

Most of corvettes are still operational, except two. The KRI Memet Sastrawiria 380 caught fire in 2008 during a routine patrol in Lampung waters, while the KRI Pati Unus 384 was decommissioned in 2017 after sustaining heavy damage during an accident in the Strait of Malacca in 2016.

In addition to sonar equipment to detect submarines, the corvette is fitted with one AK-725, a twin 57 mm gun, one AK-230 (twin 30 mm gun), two 9K32 Strela-2 man-portable air defense systems (MANPADS) and two RBU-6000 anti-submarine rocket launchers.

 2. Frosch landing ships, tank (LST) 
9 unit Frost Class [Foto Uwe zimmerman] ★

The second most numerous warship types procured from the former East Germany are the Frosch I- and Frosch II-class tank landing ships (LSTs) built between 1975 and 1978, which consist of 12 Frosch-1 and two Frosch-II LSTs.

In TNI AL service, the Frosch is known as the Teluk Gilimanuk-class LST after its lead ship, the KRI Teluk Gilimanuk 531.

The Teluk Gilimanuk-class LST can carry 11 amphibious tanks or 400 tons to 600 tons of cargo. It has a top speed of 18 knots and can carry 1 company of marines.

Three LSTs have been lost for different reasons. The KRI Teluk Berau was used as a target ship for a Yakhont anti-ship cruise missile during a naval exercise in 2012; the KRI Teluk Peleng 535 sank in 2013 after colliding with a concrete bollard while it was mooring at Pondok Dayung wharf in Jakarta; and the KRI Teluk Jakarta 541 took on water and sank in July 2020 after it was hit by high waves near Kangean Island, East Java.

The Frosch I is armed with one Bofors 40 mm gun, one 37 mm gun, and two twin 25 mm guns. The Frosch II has the same armament, excepting the Bofors 40 mm.

 3. Kondor II-class minesweeper 
Minesweepers TNI AL ★

The Indonesian Navy also has nine of the much older Kondor II-class minesweepers, built between 1971 and 1973. Eight of the vessels are still operational, while the oldest vessel, the KRI Pulau Rote 721 was decommissioned in 2019. Meanwhile, the KRI Pulau Raibu 728 and the KRI Pulau Rondo 725 were renamed respectively as the KRI Kala Hitam 828 and the KRI Kelabang 826, and were transferred to patrol duty after their mine-hunting equipment broke.

At 59.52 meters long, the Kondor II-class minesweeper has a top speed of 18 knots and a range of 1,900 nautical miles (3,500 km). The Kondor II is equipped with three 25 mm guns and 24 mines.

 4. Multirole Light Frigates 
For $ 380 million in 2013, Indonesia bought three Ragam Nakhoda-class corvettes that the Defense Ministry classified as multirole light frigates (MRLFs). The procurement of the MRLFs sparked controversy because they were used warships intended for the Royal Brunei Navy.

The corvettes were designed in 1995 based on BAE Systems Marine’s F2000 corvette under a 600 million-pound ($ 775.55 million) contract and were launched in 2001.

Another controversial point was that the purchase was not included in the government’s procurement plan. However, the government argued that the purchase would immediately expand the Indonesian Navy’s presence in safeguarding the vast Indonesian waters at a fraction of their original price.

The MRLFs arrived in June 2014 and were commissioned in July 2014. In Indonesian Navy service, the vessels are known as Bung Tomo-class corvettes after the first warship to arrive in Indonesia, the KRI Bung Tomo 357, formerly the KDB Jerambak 30.

The two other Bung Tomo corvettes are the KRI John Lie 358 (KDB Nakhoda Ragam 28) and the KRI Usman Harun 359 (KDB Bendahara Sakam).

Each light frigate is armed with one Oto Melara 76 mm gun, two 30 mm guns, two Exocet MM40 Block II quadruple missile launchers and two 324 mm triple torpedo tubes. The MRLFs also came with a 16-cell Sea Wolf vertical launch system (VLS) for deploying antiaircraft missiles, which is to be replaced with a newer VLS.

The vessels each carry one Eurocopter AS565 Panther medium-weight helicopter.

 5. LVTP-7A1 
LVTP-7A1 Marinir [kompas]★

Other than buying used weaponry, in 2010 the TNI AL also received 15 decommissioned armored vehicles, the Landing Vehicle, Tracked, Personnel-7A1 (LVTP-7A1), from the South Korean Marine Corps for its Marine Corps (Kormar).

The South Korean LVTP-7A1s were built in 1984 by Samsung Techwin, now Hanwha Techwin, under license from the original manufacturer, United Defense, formerly a division of the Food Machinery Corporation (FMC Corporation). Later models of the LVTP-7 were redesignated the Assault Amphibious Vehicle-7A1 (AAV-7A1).

The LVTP-7A1 comes in three variants: armored personnel carrier (APC), command and recovery. The APC variant has a crew of four and can carry 21 soldiers, double the capacity of the iconic M113 APC, which was also manufactured by the FMC Corporation.

The armored vehicle’s main armaments are a 12.7 mm machine gun and 40 mm automatic grenade launcher.

  ★ The Jakarta Post  

Jumat, 23 Oktober 2020

Indonesia Takes Delivery of Torpedo Countermeasures from Turkey

A consignment of acoustic torpedo countermeasure jammers and decoys meant for the Indonesian Navy’s (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL’s) Nagapasa (Type 209/1400)-class diesel-electric submarines has arrived in-country. An effector from Aselsan’s Zoka range of torpedo countermeasure jammers and decoys. (Aselsan) ⚓️

The equipment, which was delivered by Turkish defence company Aselsan as part of a contract signed in 2019, arrived in Indonesia on 22 October, Janes has confirmed with an industry source close to the matter.

Citing an official from Aselsan, Janes first reported in March 2019 that Indonesia had selected the Zoka range of jammers and decoys for the Nagapasa class.

The jammers work by emitting noises that saturate the acoustic operating frequencies of known torpedoes on the market, while the decoys can be programmed to simulate the acoustic and hydrographic characteristics of its host submarine.

These effectors are launched from Aselsan’s Zargana dispenser system, which can deploy up to 24 decoys or jammers in single-shot or salvo modes, without generating any air bubbles that may compromise the host submarine’s position.

This dispenser system is platform- and system-agnostic, and can be integrated into the host vessel’s existing combat management systems without the need for dedicated consoles.

State-owned shipbuilder PT PAL will be working with engineers from Aselsan to integrate the system onboard all three Nagapasa-class boats.

Indonesia signed for three Type 209/1400 boats with South Korean company Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) in 2011. The TNI-AL has inducted two boats in the class, Nagapasa (403) and Ardadedali (404), and is awaiting the commissioning of the final boat, Alugoro (405).

  ⚓️
Jane's  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...