Waspada class merupakan fast attack craft (FAC) dan di bangun Vosper Thornycroft, Singapura untuk Royal
Brunei Navy. Brunei memesan 3 unit Waspada class pada tahun 1977 dan
mulai digunakan setahun kemudian. Tahun 2011 Brunei menghibahkan 2 unit
Waspada class ke Indonesia.
Pemerintah
Brunei secara resmi menyerahkan dua unit kapal hibah kepada Indonesia
pada tanggal 15 April 2011. Kedua kapal tersebut semula bernama "KDB
(Kapal perang Diraja Brunei) Waspada" dan "KDB Pejuang" merupakan
kapal-kapal armada Tentara Laut Diraja Brunei (TLDB). Dua kapal itu oleh TNI AL diberi nama KRI Salawaku 642 dan
KRI Badau 643. Keduanya jenis kapal
cepat rudal.
Salawaku
dalam bahasa Maluku, berarti perisai yang merupakan alat pelindung yang
digunakan oleh Pahlawan Nasional Pattimura dalam melawan penjajah
Belanda beberapa abad yang lalu.
Sementara nama Badau diambil dari nama parang dari daerah Bangka Belitung yang biasa digunakan sebagai senjata khas orang Melayu di masa lampau sekitar abad ke-14.
Sesuai dengan Surat Keputusan Panglima TNI, kepada eks "KDB Waspada" diberi nama "KRI Salawaku" dengan nomor lambung 642 dan kepada eks "KDB Pejuang" diberi nama "KRI Badau" dengan nomor lambung 643.
Sementara nama Badau diambil dari nama parang dari daerah Bangka Belitung yang biasa digunakan sebagai senjata khas orang Melayu di masa lampau sekitar abad ke-14.
Sesuai dengan Surat Keputusan Panglima TNI, kepada eks "KDB Waspada" diberi nama "KRI Salawaku" dengan nomor lambung 642 dan kepada eks "KDB Pejuang" diberi nama "KRI Badau" dengan nomor lambung 643.
KRI Salawaku dan KRI Badau Dipindah Ke Armatim
KRI Badau |
Perairan
Indonesia ditinjau dari kondisi geografis dan perkembangan lingkungan
dewasa ini kawasan perairan Indonesia memiliki nilai strategik yang
sangat penting, khususnya sebagai jalur perdagangan dan perekonomian
dunia. Demikian antara lain dikatakan oleh Panglima Komando Armada RI
Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Ade Supandi, SE. dalam amanat
tertulisnya, saat memimpin upacara penerimaan KRI Salawaku 642 dan KRI
Badau 643, di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya, Jumat (9/12/2011).
Dua KRI tersebut merupakan kapal perang hibah dari Pemerintah Brunei Darussalam, yang sebelumnya masuk jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat. KRI Salawaku yang semula masuk ke jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat di kelas kapal cepat setelah masuk ke Koarmatim, kapal tersebut masuk di jajaran kapal patroli. Perubahan kelas tersebut juga membawa perubahan pada nomor lambung kapal yang semula 642 menjadi 842. Di Koarmatim satuan Kapal patroli menggunakan nomor lambung dengan menggunakan angka kepala 8. Demikian juga dengan KRI Badau yang semula di Koarmabar dijajaran kapal cepat menggunakan nomor lambung 643 setelah masuk Koarmatim bergabung dengan satuan kapal patroli nomor lambungnya menjadi 843.
Saat ini KRI Salawaku 842 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Alfred Daniel Mathews dan KRI Badau 843 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Komaruddin. Kedua komandan ini merupakan Komandan pertama kapal hibah tersebut setelah resmi masuk dalam jajaran kekuatan TNI Angkatan Laut.
Dua KRI tersebut merupakan kapal perang hibah dari Pemerintah Brunei Darussalam, yang sebelumnya masuk jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat. KRI Salawaku yang semula masuk ke jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat di kelas kapal cepat setelah masuk ke Koarmatim, kapal tersebut masuk di jajaran kapal patroli. Perubahan kelas tersebut juga membawa perubahan pada nomor lambung kapal yang semula 642 menjadi 842. Di Koarmatim satuan Kapal patroli menggunakan nomor lambung dengan menggunakan angka kepala 8. Demikian juga dengan KRI Badau yang semula di Koarmabar dijajaran kapal cepat menggunakan nomor lambung 643 setelah masuk Koarmatim bergabung dengan satuan kapal patroli nomor lambungnya menjadi 843.
Saat ini KRI Salawaku 842 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Alfred Daniel Mathews dan KRI Badau 843 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Komaruddin. Kedua komandan ini merupakan Komandan pertama kapal hibah tersebut setelah resmi masuk dalam jajaran kekuatan TNI Angkatan Laut.
Spesifikasi
Awak : 7 Perwira dan 30 ABK
Panjang : 36,88 m
Berat kotor : 206 ton
Kecepatan : 28 Knot
Senjata : 2 MM38 Exocet, 30mm BMARC-Oerlikon GCM-B01 AA and 2 7.62 mm machine guns
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.